Sabtu, 30 Juli 2011

Ada 600 Kitab Hikayat Aceh Hilang

Penulis dan kolomnis Nab Bahany AS mempertanyakan keberadaan 600 kitab hikayat Aceh yang pernah dibawa oleh sejarawan Indonesia Prof Dr Husein Jayadiningrat dari Aceh ke Jakarta pada tahun 1960-an. Padahal 600 kitab hikayat itu penting untuk dikembalikan ke Aceh, karena menyangkut keberadaan sejarah Aceh.

“Setelah Profesor Husein meninggal dunia, kabarnya keberadaan hikayat-hikayat itu ada pada sejarawan Muhammad Yamin di Jakarta pada tahun 90-an,” kata Nab Bahany pada The Aceh Post di Lampineung, Banda Aceh, Kamis (28/7).

Nab Bahany mengaku, secara pribadi dia juga pernah menelusuri keberadaan hikayat-hikayat itu, dan pernah menanyakannya ke perpustakaan HB Yasin di Jakarta, namun naskah hikayat tersebut tidak ada.

“Setelah itu, saya langsung menanyakan pada mantan Direktur Pusat Dokumentasi Aceh Bapak Adnan Hanafiah, beliau juga rupanya lagi mencari informasi yang sama,” jelas Nab Bahany.

Menurut Nabani, Adnan Hanafiah pernah mengunjungi rumah HB Jasin. Di rumah itu beliau melihat ada sebuah gudang yang berisi begitu banyak buku. Adnan Hanafiah malah sempat masuk ke dalam gudang dan membongkarnya.

“Beliau ada menemukan selembar kertas yang bertuliskan hikayat Aceh, namun apakah hikayatnya ada disitu, saya tidak bisa pastikan. Ketika itu sempat diajukan kepada pemerintah Aceh untuk mencari kembali hikayat itu, tetapi tidak dihiraukan sampai sekarang,” lanjutnya.

Sementara saat dihubungi, manuscrip Aceh Tarmizi A Hamid menjelaskan, dirinya pernah mendengar hilangnya 600 kitab hikayat Aceh. Bahkan dia pernah mendengar apabila Sejarawan Australia Raffes pernah mengambil hikayat-hikayat tersebut, namun Raffes kemudian menghibahkannya ke perpustakaan Negara.

“Padahal sekarang sejarah Aceh sedang diteliti oleh banyak ilmuwan, dan sayang sekali kalau hikayat itu tidak diketahui keberadaannya,” demikian kata Tarmizi.

Sumber : The Atjeh Post

Muhammad Nazar : Malaysia Beli 5000 Manuskrip Aceh Secara Ilegal

5000 manuskrip Aceh dibeli secara diam-diam oleh Malaysia dan sekarang Malaysia sudah membuat pusat manuskrip terbesar di Asia. Koleksinya mayoritas berasal dari Aceh, karena pada abad 15-19 Malaysia sendiri dikendalikan oleh Aceh.

Demikian dikatakan wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, disela-sela melaporkan kepada rombongan Komisi X DPR RI tentang perkembangan Aceh dibidang pendidikan, pariwisata, budaya, dan olahraga di Gedung Serba Guna kantor gubernur Aceh, Selasa (26/7).

“Saya memberi masukan ke DPR RI dan pemerintah pusat bahwa kita banyak kecolongan dibidang kebudayaan. Kita di Aceh dibidang kebudayaan dulu merupakan kerajaan terbesar dengan intelektualitas tulis menulis. 5000 manuskrip Aceh dibeli secara ilegal oleh Malaysia, jadi Malaysia sekarang membuat pusat manuskrip terbesar di Asia. Koleksinya banyak karya dari Aceh,”ungkap Nazar.

Di satu pihak Malaysia membeli secara mahal manuskrib-manuskrib itu, sementara pemerintah sendiri kurang membelinya. Biasanya orang Indonesia baru protes setelah diambil orang lain, seperti kejadian batik.

“Saya pikir manuskrip itu lebih penting dari apapun karena ini peradaban, dan banyak sekali kitab-kitab kuno Aceh tentang agama, kesehatan, ilmu perang, bela diri, dan politik diseludupkan ke Malaysia,”tambahnya.

Lanjut Wagub, Ada 600 judul diselundupkan ke Brunei Darussalam. Namun untuk dikembalikan lagi ke Aceh sangat sulit, pasti diperiksa secara ketat di bandara. Apalagi pemerintah kekurangan uang. Kalaupun ada uang, dikirim agen kekampung-kampung, karena manuskrip itu ada di pusat kerajaan dipedalaman. “Saya

kata Nazar, di bidang Arkeologi, Aceh juga masih kurang perhatian, baik dari risetnya maupun promosinya sebagai bagian dari pariwisata di Aceh. Dapat dicontohkan seperti Turki, mereka sukses dalam menjual sejarah mereka. Untuk mengkapitalkan sejarah dan budaya untuk para turis, ini yang belum berhasil dilakukan di Indonesia.

Yang selalu dikampanyekan selama ini hanyalah Bali, seolah-olah pariwisata Indonesia itu hanya di Bali. Ini jadi suatu masalah. Aceh telah mempersiapkan kunjungan pariwisata tahun depan, dan tahun lalu juga sudah dilakukan yaitu Visit Banda Aceh Years 2011, memang dibidang pariwisata di Aceh trennya naik, meskipun belum seperti di Bali.

Nazar juga memberitahukan kepada Komisi X bahwa saat ini di Aceh juga sedang berlangsung Aceh Internasional Festival Folklore. Aceh sendiri yang menjadi tuan rumah ajang yang bergengsi itu padahal kata Wagub, festival itu dibuat dalam kekurangan anggaran, tetapi tetap jalan.

“Ini untuk memperkuat perdamaian di Aceh, bahwa Aceh selalu terbuka untuk cosmopolit dan tidak ada masalah dalam komunikasi dalam kebudayaan,”ujarnya.

Selain itu pemerintah Aceh sedang menghidupkan perpustakaan di masjid-masjid, dan sedang merancang cafe library (warung kopi pustaka). Warung kopi di Aceh meskipun buka Rukun Iman yang ketujuh, tetapi jadi satu tradisi, apabila ada yang larang untuk tutup, akan menimbulkan konflik, dan yang perlu pihaknya lakukan adalah mentransformasikan warung kopi tersebut.

Pelanggan warung kopi sambil minum kopi bisa membaca, “Dan ini harus kita mulai dari warung-warung kopi yang besar dulu,”katanya.

Sumber :The Globe Journal

Meugang Warga Aceh di Denmark Sembelih Kambing

Ratusan warga Aceh yang menetap di Denmark tetap merayakan hari meugang dalam meyambut bulan suci Ramadhan 1432 H.Warga Aceh disana menyembelih kambing dan ada juga yang membeli daging siap di gulai. Untuk Sabtu (30/7) sebagian warga memfaatkan hari libur berkunjung ke destinasi-destinasi wisata bersama keluarga dan teman-teman.

Warga Aceh sedang memilih kambing di lokasi pemeliharaan kambing, Sabtu (30/7). Kambing tersebut kemudian disembelih sebagai ujud merayakan hari meugang di Denmark. Foto (ist)

Menurut Tarmizi Age, pria kelahiran Alue Sijuek (Blang Geulanggang) Peucoek Alu Rheng, Peudada, Kabupaten Bireuen yang sudah 25 tahun menetap di sana, warga Aceh di Denmark membeli kambing di lokasi-lokasi pemeliharaan kambing, kemudian menyembelihnya.Ada juga yang melakukannya secara pribadi ada juga melakukan secara bersama-sama.

"semangat keacehan masih nampak sangat kental dalam kehidupan masyarakat Aceh di denmark, namun untuk hari ini, sabtu ramai juga yang memanfaat kan sebagai hari berlibur bersama keluarga misalnya berkunjung ke destinasi-destinasi wisata mengunjungi teman-teman dan lainnya, ukwah tetap terjaga,"ungkapnya.

Tarmizi menyebutkan untuk saat ini warga Aceh di Denmark mencapai 250 orang lebih, namun ada juga beberapa keluarga Aceh dan anak muda yang sudah kembali ke Aceh setelah damai GAM - RI pada tahun 2005.

Sumber : The Globe Journal

Jumat, 29 Juli 2011

Rekam Jejak Heroik Cagee : Mantan Panglima Penyandang Empat Jabatan

Bergabung dengan GAM

Tahun 1998, seiring dengan reformasi yang digulirkan di Indonesia, Amiruddin pun telah memasuki babak baru kehidupannya. Dia mencatatkan diri sebagai anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Tahun itu merupakan tahun yang penuh dengan catatan penting sejarah, selain reformasi yang diperjuangkan oleh mahasiswa mencapai klimaks, di Aceh sendiri pada 7 Juli Panglima ABRI Jenderal Wiranto mencabut status Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) setelah 10 tahun diterapkan.

Amiruddin alias Saiful alias Cage merupakan salah seorang pelaku sekaligus saksi sejarah pergolakan Aceh melawan dominasi Jakarta. banyak kisah yang telah ditorehkan oleh lelaki kelahiran 42 tahun yang lalu di Gampong Pulo Panyang dusun Cot Kala Peusangan Selatan. Lalu bagaimanakah lika-liku kehidupannya sampai ajal menjemput? The Globe Journal mencatat kembali beberapa nukilan kisah yang dituturkan oleh Yusnaidi alias Mirik pada hari Senin (25/7), orang kepercayaan almarhum sampai ajal menjemput.

Awal perkenalan dengan Mirik, Saiful alias Cage masih sebagai prajurit biasa di kamp 09 (kosong sikureung) Palu Beueh Awee Geutah. Saat itu yang menjadi pembesar dikawasan itu masih para desertir polisi seperti Husaini Franco, Razali dan beberapa orang lainnya. Saat masih sebagai tentara kecil di gerakan yang dia bela, Cage sudah dikenal berani dan nekat.

Tahun 2001 GAM Daerah III wilayah Batee Iliek membentuk pasukan operasi khusus. Pasukan ini dibentuk oleh Teungku Batee yang bernama asli Husaini. Setelah pasukan itu dibentuk, eskalasi konflik semakin meningkat. Saat menjadi komandan pasukan operasi pada tahun 2002, kiprah Cage semakin dikenal karena kesukaannya bertempur. Ibarat kata, dia menyukai pertempuran melebihi kesukaan pada dirinya sendiri. Pada tahun yang sama dia membentuk kamp Gurkha di Gampong Darul Aman Peusangan Selatan.

Kondisi semakin genting. Dimana-mana aparat keamanan Indonesia sudah tersebar. Untuk mengefektifkan pergerakan dan memperkuat pertahanan pasukan, Cage kemudian memecah anggotanya menjadi tujuh regu. Dua diantaranya bernama regu Singa Bate yang dikomandoi oleh Mirik dan regu Geubina yang dipimpin oleh Obeng (almarhum). "Saat kondisi semakin genting, Cage memecah kami dalam tujuh regu. saya sudah lupa nama-nama regu tersebut selain Singa Bate yang saya pimpin dan Geubina yang dikomandoi oleh Obeng. DIa sudah alrmarhum,"kata Mirik mengenang masa lalu.

Regu-regu tersebut terus bertempur melawan tentara pemerintah Republik dengan cara mandiri. Hidup semakin sulit. Logistik masih tersedia, namun terkadang makan beras mentah menjadi pilihan, karena tempat persembunyian tidak boleh berasap.

Tahun 2003 Zona Damai hadir di Aceh. Perwakilan GAM dan RI yang difasilitasi oleh Hendry Dunant Centre (HDC) meresmikan Zona Damai pertama di Indrapuri Aceh Besar. Kejadian itu terjadi pada tanggal 13 Januari 2003. Pasukan Cage yang sempat terpecah disatukan kembali. Mereka kembali dikumpulkan di Kamp Gurkha. Ada persyaratan bahwa pasukan GAM tidak ada yang boleh berserak.

Masa Darurat Militer

Menjelang penerapan Darurat Militer di Aceh, kondisi keamanan dan perpolitikan semakin memburuk. Para petinggi GAM dilapangan sudah tidak bisa lagi mengendalikan keadaan. Saat itulah Cage kembali tampil kedepan dengan menyandang empat jabatan sekaligus yaitu sebagai Panglima Daerah, Panglima Muda, Panglima Sagoe serta Komandan Operasi GAM.

Satu hari menjelang Darurat Militer (DM) disahkan (17/10/03) pasukan TNI bergerak ke Ule Jalan Peusangan Selatan. Mengetahui informasi pasukan pemerintah semakin mendekat, Cage memanggil semua pasukannnya. Dalam rapat, mereka memutuskan untuk menghadang tentara yang datang dari seberang laut itu. Mereka kemudian menunggu kedatangan Tentara Nasional Indonesia di ujung jembatan Ule Jalan (seberang sungai).

Tak lama kemudian pecahlah perang yang maha dahsyat. Pertempuran kedua belah pihak anak manusia yang berbeda ideologi itu memakan waktu 8 hari 8 malam. Jumlah pasukan GAM bersenjata dalam pertempuran itu sekitar 80 orang. Hari kedelapan penerapan DM pasukan GAM mundur dan bergerak ke Blang Mane Kecamatan Peusangan Selatan. Hari ke 9 DM, Cage kembali memecah pasukannya menjadi 2 kelompok yaitu Gurkha dan Singa Batee.

Sejak awal DM, pasukan Cage sudah terisolir dan kehilangan kontak dengan GAM yang berada di bawah. Satu bulan DM, Cage kembali memecah pasukan menjadi tujuh regu. Kembali dipecahnya pasukan tersebut untuk terus memaksimalkan kekuatan dan meratakan pertahanan. Menurut analisa Cage waktu itu, taktik gerilya yang dimainkan tidak memungkinkan pasukan seluruhnya dikonsentrasikan pada satu titik pertahanan.

"Sejak awal penerapan Darurat Militer, pasukan Kamp Gurkha sudah terputus hubungan dengan GAM yang berada di bawah. Sebab pasukan keamanan Pemerintah sudah berhasil mengisolasi kami dari hubungan luar. Sejak saat itu informasi tentang kami semakin tidak banyak yang tahu," Kata Mirik sambil menghisap asap rokok dalam-dalam. Kemudian dengan berat asap perusak kesehatan itu dihembuskan kembali ke udara.

Setahun darurat, Mualim (Muzakkir Manaf) beserta Sofyan Daud, Nek Tu Peureulak, Cut Manyak dan petinggi GAM lainnya tiba di daerah basis pertahanan Saiful Cage. Mereka dengan susah payah melalui jalan-jalan hutan menuju ke basis Kamp Gurkha untuk mencari perlindungan. Saat itu kondisi para petinggi itu rata-rata kurus dan kurang sehat. Bukan saja para petinggi GAM yang mencari selamat ke wilayah Cage, GAM lain seperti pasukan dari Linge Aceh Tengah dan Pase juga merapat ke wilayah pegunungan tersebut.

Sejak kedatangan para petinggi GAM, perjuangan Cage untuk mempertahankan wilayahnya dari serbuan TNI semakin berat. Untuk memperkuat perlindungan, Cage membuat dua tim lagi. Saat melakukan upaya perlindungan terhadap Mualim, Cage tidak memberitahukan kepada khalayak. Bahkan banyak diantara pasukan GAM sendiri yang tidak tahu bahwa sang pimpinan berada didalam garis pertahanan mereka.

Setelah tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 menerjang dan meluluhlantakkan Aceh, kehidupan gerilyawan Aceh Merdeka semakin sulit. Sebab hampir semua wilayah pertahanan sudah diduduki oleh tentara pemerintah. Hampir setiap gampong yang ada di Aceh sudah didirikan pos-pos pertahanan satuan non organik baik dari unsur TNI maupun Polisi.

Tanggal 27 Desember 2004 GAM secara sepihak menyatakan gencatan senjata dengan alasan demi kemanusiaan. Sebab hampir semua elemen baik sipil maupun militer sedang memfokuskan perhatiannya pada tindakan emergensi untuk menolong korban bencana.

Menjelang MoU Helsinki

Ketika dialog antara GAM dan RI yang difasilitasi oleh Crisist Management initiative (CMI) semakin menunjukkan hasil positif, pertempuran sengit pecah antara pemerintah dengan pasukan Cage di daerah Gampong Darul Aman Peusangan Selatan. Pertempuran itu terjadi mulai jam 05.00 WIB (subuh) sampai menjelang magrib. Saat maghrib tiba, pasukan TNI mundur setelah seharian bertempur.

Pasukan GAM sendiri saat itu sudah berserak-serak karena bertempur. Cage sendiri terpisah dengan pasukannya. Saat itu 19 butir peluru sukses menembus tubuh sang panglima. Peluru-peluru itu menembus pantat, bahu, paha, tangan dan tempat-tempat lain. Melihat tubuhnya telah dipenuhi lubang bekas bersarangnya peluru, Cage dengan pengalaman bertempur gerilya yang matang, mengikat dan menutup lukanya dengan tumbuhan hutan yang menjalar. Darah yang sempat keluar dipaksakan berhenti dengan ditutupi lubang tubuh yang penuh luka itu.

Dengan tubuh penuh luka, kemudian Cage merangkak ke rumah warga yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi pertempuran. Saat sedang merangkak, seorang gadis melihat dan kemudian membawa pulang kerumahnya untuk diobati. Tiga hari bersama si gadis, TNI datang lagi dan melakukan penggerebekan. namun beruntung, Cage berhasil diselamatkan dengan didandani seperti perempuan dan dibonceng dengan sepeda. Saat itu pasukan pemerintah tidak mengenalinya lagi.

Setelah disembunyikan ditempat yang lebih aman, disitulah Cage diobati sampai sembuh. Pasukan GAM sendiri saat itu tidak mengetahui kabar tentang sang panglima. Tidak ada yang bisa memastikan apakah dia hidup atau mati. Apakah terkena tembakan atau tidak.

Setelah sembuh, Cage kembali ke pasukannya. Saat itu isu akan terjadinya perdamaian semakin gencar. Cage sempat membangun komunikasi dengan Bakhtiar Abdullah yang saat itu masih berada di luar negeri. Disaat itu dia baru tahu bahwa lobi-lobi perdamaian semakin instensif dilakukan oleh para pihak. Cage merasa bahagia mendengar berita itu. Tak menunggu lama dia langsung mengumpulkan kembali pasukan Gurkha untuk memberitahukan berita gembira itu sekaligus mempersiapkan hal-hal yang diperlukan.

Kemudian, tanggal 15 Agustus 2005 ditandatanganilah perjanjian damai di Helsinki Finlandia antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka.

"Saat itu wajah bang Saiful memancarkan rona kegembiraan. Padahal saya tahu dia sangat menikmati peperangan ini, namun karena kecintaannya pada perdamaian lebih besar, maka dia gembira luar biasa," kata Mirik mengenang.

Beberapa hari setelah MoU Helsinki, Cage diangkat menjadi Panglima Wilayah Bate Ilik yang membawahi empat daerah, mulai D-I sampai D-IV. Dua bulan sesudah damai, Cage baru turun ke kota. Saat itu Muzakkir Manaf selaku mualim menghadiahkan satu unit sepeda motor Ninja untuk Cage sebagai bentuk apresiasi terhadap konsistensinya dalam berperang dan bertahan dengan ideologinya.

Masalah Keuangan Kombatan

Lima bulan kemudian, Cage mendapatkan proyek yang diberikan oleh pasangan Bupati Bireuen saat itu Mustafa Geulanggang-Amiruddin Idris. Proyek yang diberikan itu berupa pembangunan jalan Pulo Panyang Kecamatan Peusangan Selatan. Kemudian olehnya, proyek itu dijual kepada kontraktor lain. Uang hasil penjualan proyek itu dibelinya mobil Estrada Double Cabin warna merah.

Perpecahan di tubuh GAM mulai terjadi saat cairnya dana reintegrasi yang diluncurkan oleh Badan Reintegrasi Aceh (BRA), tahun 2006. Cage selaku panglima membagikan uang tersebut kepada seluruh jajarannya. Namun dalam pembagian uang tersebut, dia membedakan antara GAM yang bertahan dipusaran konflik dengan GAM yang melarikan diri keluar daerah. Untuk yang bertahan, jatah yang diberikan lebih besar. Sedangkan yang lari ke luar daerah diberikan lebih sedikit. Sehingga GAM yang mendapatkan jatah sedikit marah dan memberontak pada barisan Cage.

Ekses dari kejadian tersebut, Amiruddin Husen dicopot jabatannya sebagai panglima wilayah. Sebagai penggantinya diangkatlah Dedi bin Hamzah. Setahun setelah itu, GAM pecah kembali. Mereka sudah tidak lagi sefaham. Melihat situasi ini, kalangan cerdik pandai agama dan petinggi GAM meminta Cage kembali naik sebagai Panglima. Namun Cage menolak tawaran itu.

Tak hilang akal, cerdik pandai agama dan Irwandi kemudian kembali membujuk Saiful untuk menerima tawaran itu. Akhirnya Cage luluh juga. Namun Cage membuat persyaratan yaitu dia akan bersedia jadi Panglima kembali, dengan dibantu oleh cerdik pandai agama sebagai penasehat. Setelah mendapatkan kata setuju, diapun kembali ke "tahta" yang sempat dicopot paksa. Diantara cerdik pandai agama yang bersedia menjadi penasehat Cage adalah Abu Kuta Krueng, Waled Mudawali dan Tumin Blang Blahdeh.

Saat Cage kembali ke puncak wilayah, semua lapisan pasukan mendukungnya. Setelah GAM bersatu kembali, mereka pun semakin mantap mendirikan partai politik tersendiri sebagai wadah perjuangan mantan kombatan. Setelah berproses dari Partai GAM, Partai Aceh Mandiri yang kesemuanya ditolak oleh Kemenkumham, akhirnya dengan nama Partai Aceh (PA) mereka bisa merajai dunia "persilatan" politik ditataran Aceh.

Selain sangat tegas dalam bertindak dan menahkodai wilayah Batee Iliek, Cage tidak pernah melupakan janda dan anak yatim korban konflik. Setiap meugang, dia selalu membagikan daging gratis untuk anak yatim korban konflik diseluruh wilayah Batee Iliek. Bahkan ada yang disekolahkan olehnya sampai perguruan tinggi.

Menolak Zikir dan Dukung Irwandi

Cage menolak perintah komando saat pencalonan Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf (Zikir) sebagai sebagai Cagub dan Cawagub Aceh. Dia dengan lantang menolak pencalonan itu karena dianggap tidak demokratis dan petinggi dikomando pusat telah berbuat sesuka hati dengan asal tunjuk. Cage beserta KPA di 13 wilayah secara bersama-sama menolak pencalonan duet "Zikir" yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai keterbukaan dan putusan bersama. Hanya empat wilayah yang mengakui dan mendukung putusan komando, dua diantaranya adalah Sigli dan Pase.

Setelah berdiskusi dengan beberapa kalangan, akhirnya Cage memutuskan untuk mendukung Irwandi sebagai calon gubernur. Jabatan panglima Wilayah Bate Iliek dikembalikan ke komando beserta dengan stempel. Pasca mendukung Irwandi, hubungan Cage dengan pihak komando semakin memanas.

Akhirnya pada Jumat (22/7) sekitar pukul 23.00 WIB, Cage menghembuskan nafas yang terakhir setelah timah panas dari senjata api jenis AK menembus bahu dan kepalanya. Dia menghembuskan nafas yang terakhir di depan warung kopi miliknya yang diberi nama sama seperti kamp-nya dulu: GURKHA.

Sumber : The Globe Journal

Tujuh Hari Cagee, KPA Sembelih Enam Kerbau

Kalangan orang dekat dengan alrmarhum Cage mengharapkan polisi bisa mengusut tuntas dan menangkap pelaku pembunuh sang mantan panglima. Diharapkan kasus kematian Saiful tidak mengendap dikepolisian dan kemudian hilang tanpa jejak. Harapan ini disampaikan oleh Yusnaidi alis Mirik, yang disampaikan kepada The Globe Journal, Jumat (29/7) sekitar pukul 18: 02 WIB

Mirik meminta aparat jajaran kepolisian untuk serius mengungkap kasus pembunuhan yang kental aroma politik itu. Selain itu, Mirik juga membantah kalau cage dibunuh karena motif lain, dia merasakan tragedi itu erat sekali kaitannya dengan sepak terjang Cage di dunia politik

"Kami baik pihak keluarga maupun rekan almarhum meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Kami menduga bahwa pembunuhan abang erat kaitannya dengan politik," Kata Mirik.

Mirik juga mengatakan, peringatan tujuh hari meninggalnya Amiruddin Husen alias Saiful Cage mendapatkan sumbangan 6 ekor lembu dari rekan-rekannya di jajaran KPA. Sejak pagi hingga menjelang sore, para tamu yang datang masih sangat ramai untuk berkunjung ke rumah duka.

Sumber : The Globe Journal

Kamis, 28 Juli 2011

Dicurigai Komplotan Penembak Cagee, Warga Paya Bakong Diamankan

Seorang warga asal Paya Bakong, Aceh Utara, diamankan polisi karena dicurigai bagian dari komplotan penembak Saiful Husen alias Pon Cagee. Namun, sejauh ini polisi belum menemui titik terang terkait insiden yang menewaskan mantan Ketua KPA Wilayah Bate Iliek itu.

Informasi yang diperoleh Harian Aceh, warga Gampong Tanjong Beuridi, Kecamatan Peusangan Selatan, pada Senin (25/7) malam sekitar pukul 23.00 WIB, menangkap seorang lelaki mencurigakan. Lelaki yang diketahui warga Paya Bakong, Aceh Utara, ditangkap masyarakat setelah melompat dari sebuah mobil Kijang Kapsul. Setelah ditangkap, orang yang dicurigai itu langsung diserahkan ke pihak keamanan terdekat.

“Memang ada orang yang ditangkap warga dan telah diamamkan karena dicurigai. Tapi sejauh ini belum ada laporan secara resmi dari lapangan,” kata Kapolres Bireuen AKBP HR Dadik Junaedi SH kepada Harian Aceh usai menghadiri lepas sambut Dandim Bireuen, Rabu (27/8) malam.

Menurut Dadik, sejauh ini pihaknya masih mengumpulkan sejumlah barang bukti. “Handphone milik korban yang hilang saat kejadian juga belum ditemukan. Sedangkan handphone yang ada di keluarganya, sejauh ini masih pada kami guna penyelidikan,” katanya.

Dari sejumlah saksi yang dimintai keterangan terkait penembakan Pon Cagee, lanjut dia, sejauh ini belum ada yang mengaku mengenali pelaku termasuk saat diperlihatkan sketsa wajah yang dicurigai. “Seksa wajah sudah didapatkan, namun para saksi yang dipanggil belum berani mengatakan. Mereka masih bimbang dan trauma, sehingga butuh waktu,” katanya.

Untuk itu, Kapolres meminta masyarakat dapat berperan memberikan informasi bila ditemukan orang-orang mencurigakan. “Kami tetap akan merahasiakan setiap informasi warga,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Saiful Husen alias Pon Cagee tewas ditembak, Jumat (22/7) sekitar pukul 22.30 WIB. Mantan Ketua KPA Wilayah Batee Iliek itu ditembak di depan warung kopi Gurkha miliknya di Jalan Medan-Banda Aceh, Matangglumpangdua, Kecamatan Peusangan, Bireuen.(job)

Sumber : Harian Aceh

Pengakuan Istri Cagee Sesaat Sebelum Penembakan Pon Cagee

"Abang Sempat Telpon Saya"

Kabut tebal terus menyelimuti kasus almarhum Saiful alias Cage (42), yang tewas ditembak OTK. Polisi pun seakan tak berdaya, untuk menyibak tabir gelap tersebut. Sementara istri korban menyatakan, Eks Ketua KPA Batee Iliek itu sempat menelpon dirinya, sebelum peristiwa berlangsung. Apa gerangan?

Saat ditemui Metro Aceh di kediamannya, Selasa (26/7) siang di Desa Lueng Danun, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Nurmasyitah (35) mengaku masih diliputi kesedihan teramat dalam. Apalagi istri mendiang Cage ini harus mengurus anak-anaknya seorang diri, tanpa kehadiran suami tercinta di sisinya. Ia berharap agar pembantai orang yang dicintai keluarga, harus segera ditangkap dan dihukum berat.

"Supaya tidak terus-menerus jadi tanda tanya kami. Keluarga mengharapkan polisi dapat mengusut tuntas. Apabila pelakunya sudah ditemukan, kami juga berharap dapat diproses sesuai hukum,” ungkap Nurmasyitah didampinggi Nurjannah (50) orang tuanya dan Muhajir (27) berserta anggota keluarga lainnya.Nurjannah menambahkan, selama dua tahun terakhir mereka menempati rumah sendiri di kawasan Lueng Danun, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Atas kesepakatan pihak keluarga, jenazah almarhum suaminya dikebumikan dipemakaman Desa Ule Jalan, Kecamatan Peusangan Selatan tak jauh dari rumah orang tua dari suami.

Dikatakan juga, buah perkawinannya dengan almarhum telah dikaruniai empat orang anak. Diantaranya Nur Safitri (10) masih duduk dikelas III Madrasah Ibtidayah Negeri setempat. Anak keduanya, Hayutullah Khamaini (5), ketiga Soraya Nuzula (3.5) dan terakhir Nazila Sahira sudah menjelang berusia 10 bulan.
Dikisahkan sebelum musibah terjadi, Amiruddin alias Saiful alias Cage Kamis malam (21/7) sekira pukul 20.00 WIB, tiba di rumah sepulang dari Banda Aceh.

Kondisi suaminya saat itu biasa-biasa saja, tidak ada menyampaikan keluh kesah berkaitan hal apapun. Bahkan Nur pun tak merasakan firasat apa-apa. Sedangkan kejadian di Jumat malam (22/7), dari rumah Cage pergi ke doorsmer mencuci mobil.Masih sebagaimana kebiasaannya, almarhum setiap pergi dan sebelum kembali ke rumah sering membeli makanan seperti nasi dan buah-buahan, untuk isteri dan anak-anaknya.

Cage juga sempat menelpon dirinya untuk menanyakan makanan, yang akan dibawa pulang ke kediaman mereka. Namun selang 15 menit kemudian, malah sudah menerima kabar penembakan. Terkait kejadian ini, Kapolres Bireuen AKBP H.R Dadik Junaedi S.H melalui Kasat Reskrim Iptu Novi Edyanto dikonfiormasi metro aceh mengatakan, pihaknya masih terus melakukan pengembangan di lapangan dan pengejaran terhadap pelaku.

“Saya berharap kepada masyarakat untuk melaksanakan aktifitas sebagaimana biasa. Jangan merasa khawatir dan takut, karena situasi keamanan di Bireuen masih kondusif. Untuk mengungkap kasus penembakan ini, kami juga mengharapkan adanya dukungan dan peran serta masyarakat untuk dapat memberikan informasi sekecil apapun yang bisa disampaikan,” ujar Kasat Reskrim.(rah)

Sumber :Rakyat Aceh Online