Selasa, 30 April 2013

Orang Solo Menyebutnya "Omah Lowo"

Terletak di sebelah timur perempatan Purwosari atau tepatnya di sebelah timur rumah makan cepat saji Jackstar di kawasan Solo Center Point, terdapat sebuah bangunan tua yang termasuk ke dalam bangunan cagar budaya. Mungkin saja bangunan ini terkadang sedikit luput dari perhatian para pengguna jalan yang melintasi sepanjang Jalan Slamet Riyadi.


Dikelilingi oleh pagar besi yang cukup tinggi, bangunan ini dikenal dengan sebutan Omah Lowo atau rumah kelelawar. Dari segi arsitekturnya cukup unik, memiliki cukup banyak pilar sebagai penyangga bangunan. Wajar saja jika bangunan ini terkenal dengan sebutan omah lowo, karena bangunan ini menjadi hunian para kelelawar. Pada siang hari suara cicitan para kelelawar ini terdengar sangat riuh dan seolah saling bersautan satu dengan lainnya.


Berbekal rasa penasaran, saya pun menyusuri trotoar jalan menuju arah selatan. Ada ornamen unik yang menghiasi sisi dinding bangunan. Patung kepala singa yang garang menyembul di salah satu sudut dinding bangunan seolah menjadi penjaga bangunan tua berwarna putih kusam tersebut. Di bagian belakang bangunan utama tersebut terdapat bangunan yang sekilas mirip seperti dinding kastil. Ah, tapi sial, di bagian ini bau kotoran kelelawar teramat menyengat menusuk indera penciuman. Jika tidak kuat dengan aromanya rasanya ingin muntah.



Di belakang bangunan tua tersebut terdapat sebuah rumah yang masih dihuni. Bangunan tersebut memiliki halaman yang menghubungkan ke bagian halaman Omah Lowo. Rasanya saya ingin nyelonong masuk agar dapat melihat bangunan Omah Lowo lebih dekat. Ah, sayang, tidak ada orang di luar rumah, hanya terdapat sebuah mobil yang sedang terparkir. Tak etis rasanya jika saya nekat memasuki halaman rumah tanpa izin dari si pemiliknya.

Saya pun hanya bisa mengagumi keindahan bangunan Omah Lowo dari luar pagar. Ah, andai saja saya datang di saat yang tepat, mungkin saja saya dapat bertemu dengan si lowo penghuni bangunan tersebut keluar dari rumah terbang bebas ke angkasa.

Senin, 29 April 2013

Benteng Vastenburg - Cagar Budaya di Atas Lahan Sengketa

Berbicara mengenai cagar budaya, pikiran kita pasti akan tertuju pada sebuah bengunan tua yang mempunyai nilai historis dan juga budaya. Mungkin, bagi sebagian besar orang kurang mengetahui keberadaan sebuah bangunan cagar budaya yang sangat menarik di Kota Solo ini. Bukan bangunan kraton, melainkan sebuah bangunan peninggalan jaman Kolonial Belanda yang berada di depan bangunan Kantor Pos Besar, bersebelahan dengan bangunan Bank Indonesia. Sebuah bangunan yang bernama Benteng Vastenburg yang didirikan pada tahun 1745 ini masih berdiri dengan kokoh dengan tembok-tembok tebal mengelilingi area kompleks bangunan.


Jika dilihat sekilas, bangunan gerbang Benteng Vastenburg ini hampir mirip dengan Benteng Vredeburg yang ada di Yogyakarta. Pembeda keduanya adalah Benteng Vredeburg di Jogja lebih terawat dan kini menjadi salah satu tujuan wisata yang cukup terkenal di kawasan Malioboro, sedangkan Benteng Vestenburg ini terkesan terbengkalai dan kurang terawat. Namun, kesan tidak terawat ini memunculkan kesan klasik pada bangunan.


Bangunan Benteng Vastenburg ini dahulu tertutup dengan semak belukar yang sangat tinggi, hanya terlihat beberapa sudut bangunan tembok yang berdiri kokoh. Bahkan di beberapa sudut bangunan sengaja ditutupi dengan seng, entah untuk apa fungsinya. Bangunan ini memang terkesan terbengkalai, mungkin karena konflik sengketa antara pemerintah Kota Surakarta dengan pemilik lahan Benteng Vastenburg yang konon kepemilikannya berada di tangan perorangan/swasta sehingga menjadi kurang jelas pengelolaannya. Namun, sekitar akhir tahun 2012, akhirnya kawasan Benteng Vastenburg ini dibersihkan dari semak belukar dan tanaman liar yang menutupi bangunan, sehingga kini setiap orang dapat melihat langsung wujud asli dari bangunan Benteng Vastenburg ini. Hingga kini pemerintah Kota Solo pun masih berusaha untuk melakukan proses akususi kepemilikan lahan di Benteng Vastenburg ini.


Bangunan gerbang Benteng Vastenburg ini memiliki ornamen yang cukup unik. Kita akan disambut dengan dua buah pohon besar yang tumbuh dengan rimbun di bagian depan gerbang. Lalu kita akan melewati sebuah jembatan kecil yang seolah menjadi penghubung sebelum akhirnya tiba di depan bangunan gerbang. Di bawah jembatan kecil tersebut terdapat bangunan seperti parit-parit yang mengelilingi kawasan kompleks bangunan Benteng Vastenburg ini. Di bagian kanan dan kiri jembatan terdapat patung sapi dengan pose duduk. Patung ini sekilas mirip seperti arca nandi seperti yang terdapat pada candi-candi bercorakkan agama Hindu.



Di bagian kiri dan kanan relung bangunan gerbang benteng ini juga terdapat dua buah patung ksatria, yang menurut saya mirip dengan reco gladak, yaitu patung ksatria yang membawa pentungan. Patung Reco Gladak ini dapat kita temukan di daerah Gladak, tepatnya gapura sebelum menuju alun-alun utara. Reco Gladak ini pula merupakan salah satu patung khas yang ada di daerah Surakarta. Jika saya buat kesimpulan, pembangunan bagian bangunan gerbang Benteng Vastenburg ini terdapat akulturasi budaya, memadukan gaya arsitektur kolonial dipadukan dengan ornamen-ornamen lokal pada beberapa sisi bangunan.


Melihat beberapa artikel di media massa, jika ke depannya proses akusisi lahan sudah selesai, Pemerintah Kota Surakarta berencana akan membangun taman terbuka hijau di sekitar area Benteng Vastenburg. Masyarakat pun dapat memanfaatkan lahan terbuka hijau di sekitar area Benteng Vastenburg ini untuk arena rekreasi dan kegiatan lainnya. Semoga saja rencana Pemerintah Kota Surakarta ini dapat segera terealisasikan.

Minggu, 28 April 2013

SATE GURITA : KULINER FAVORIT KOTA SABANG

Gurita adalah hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala), ordo Octopoda dengan terumbu karang di samudra sebagai habitat utama. Gurita terdiri dari 289 spesies yang mencakup sepertiga dari total spesies kelas Cephalopoda. Gurita dalam bahasa Inggris disebut Octopus (Yunani: Ὀκτάπους, delapan kaki) yang sering hanya mengacu pada hewan dari genus Octopus. (sumber : id.wikipedia.org)

Kali ini saya tidak ingin membahas lebih lanjut tentang Gurita secara biologi, namun saya ingin memperkenalkan Gurita dalam porsi dan bentuk yang bisa disantap yaitu Sate Gurita. di Kota Sabang, keberadaan sate gurita telah menjadi salah satu makanan khas yang cukup mudah dijumpai. Bila Anda ingin membeli gurita segar (hasil tangkapan nelayan), Anda bisa mencarinya di Simpang Garuda, biasanya banyak dijual sore hari (kalau tangkapan nelayan lagi banyak). Namun bila anda malas memasak sendiri dan ingin santap saja, maka pilihannya Anda dapat mencarinya dalam bentuk Sate Gurita yang dijual pedagang dan tersebar di beberapa tempat.

Salah satu tempat yang menjual sate gurita adalah lokasi jajanan PUJASERA. Pujasera sendiri berarti Pusat Jajanan Selera Rakyat. disini banyak dijual makanan dan masakan, salah satunya sate gurita. Harga per porsi pun cukup merakyat yaitu cuma Rp. 10.000,- perporsi. Karena semalam datang dan makan disini lupa bawa hape yang bercamera, jadinya yang muncul gambar dibawah hanya gambar guritanya saja. mudah-mudahan lain kali saat makan sate gurita lagi sempat foto-foto. 
Salam Kompak dari Ujung Barat Pulau Sumatera. Salam SAntai BANGet (SaBang).

PESONA PANTAI PASIR HITAM DI UJUNG TIMUR PULAU WEH

Alhamdulillah cuaca mendukung sehingga hari ini bisa jalan-jalan lagi bawa keluarga menikmati keindahan Kota Sabang tercinta. Kali ini arah perjalanan ke Bagian Timur pulau Weh tepatnya ke Anoi Itam. Anoi Itam merupakan sebuah Gampong (Desa), istilah anoi itam sendiri merujuk kepada keadaan pasir laut yang ada di kawasan ini yang banyak didominasi oleh warna itam. Anoi dalam bahasa Aceh berarti Pasir dan Itam dalam bahasa Aceh bermakna Hitam, jadi Anoi Itam tidak lain kaau terjemahan kasarnya adalah Pasir Hitam. Kali ini saya tidak membahas pasirnya, tapi saya ingin membahas pemandangannya.

Oiya, di Anoi Itam, selain terdapat pantai yang berpasir hitam juga terdapat beberapa villa yang layak dikunjungi dan terdapat sebuah bukit yang diatasnya ada Benteng Jepang yang dulu digunakan pada saat Perang Dunia ke II, Penasaran bagiaimana penampakan Benteng jepang tersebut silahkan baca postingan kami terdahulu di Panorama di Benteng Anoi Itam. Jadi kalau ingin ke Sabang, jangan lupa singgah ke sini. Penasaran bagaimana rupanya pemandangan disini? berikut foto-foto yang sempat saya abadikan dengan kamera Hape saya.

 
Gimana Pemandangannya? Lautan yang jernih dan hamparan pepohonan yang masih rindang turut menjadikan pantai ini layak dikunjungi.

PANTAI SUMUR TIGA : PESONA PASIR PUTIH DAN PEMANDANGAN LAUT LEPAS YANG EKSOTIS

Apa rencana Anda minggu ini? Bila ingin berlibur ke pantai bersama keluarga jangan lupa singah ke Pantai Sumur Tiga. Pantai Sumur Tiga terletak di Gampong Ie Meulee Kota Sabang yang dapat diakses 3-5 menit dari pusat kota. Dengan pasir putihnya yang cantik dan keadaan alam disekelilingnya yang masih alami, membuat suasana pantai jadi sangat menawan. 

Pantai adalah sebuah bentuk geografis yang terdiri dari pasir, dan terdapat di daerah pesisir laut. Daerah pantai menjadi batas antara daratan dan perairan laut. Panjang garis pantai ini diukur mengeliling seluruh pantai yang merupakan daerah teritorial suatu negara (sumber : id.wikipedia.org)

Bicara masalah Pantai, di Kota Sabang tersedia beragam pantai yang sangat indah, namun bila Anda ingin punya pengalaman yang menawan berenang di pantai dengan pemandangan ke depan tak terhingga alias tidak Nampak pulau lain disinilah tempatnya. Hamparan pemandangan di depan mata adalah Samudera Hindia yang banyak berlalu lalang kapal-kapal besar. 

Bagaimana keadaan Pantainya? Penasaran bukan? Simak cuplikan foto-foto hasil jepretan kamera hape berikut ini. Bila ingin lebih detail silahkan berkunjung sendiri ke Lokasi, Gratis Tak Perlu Bayar.

 
 
Nah bagaimana? cantik kan? Jadi jangan lupa cantumkan dalam daftar list pantai yang layak dikunjungi bila Anda singah di Kota Sabang. Selamat Berlibur. Salam Santai Banget

Selasa, 23 April 2013

Pura Mangkunegaran - Menikmati Bangunan dengan Perpaduan Nuansa Arsitektur Istana Jawa dan Eropa

Perjalanan menyusuri Kota Solo tidak hanya berisi agenda untuk memanjakan rasa dengan kuliner khasnya, pun demikian pula dengan wisata belanja yang terkenal dengan ragam batiknya yang murah. Julukan Solo sebagai Kota Budaya tidak dapat dilepaskan dengan keberadaan Kraton sebagai tempat terciptanya sekaligus simbol eksistensi budaya Jawa yang hingga kini masih sangat kental dalam kehidupan keseharian masyarakat di kota ini.


Solo sendiri memiliki dua buah kraton, yaitu Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Saya pun tertarik untuk mengunjungi Pura Mangkunegaran terletak tidak jauh dari pasar barang antik Triwindu.  Bangunan ini didirikan oleh Raden Mas Said atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyawa pada tahun 1757 Masehi. Pura Mangkunegaran memiliki keunikan dari segi arsitekturnya. Eksterior bangunan menggunakan gaya bangunan Jawa dipadukan dengan nuansa Eropa pada bagian interior maupun ornamen-ornamen yang menghiasi beberapa sudut bangunan.


Memasuki kompleks Pura Mangkunegaran, kita akan disambut dengan hamparan lapangan hijau yang cukup luas. Lapangan ini disebut dengan alun-alun Mangkunegaran oleh masyarakat setempat. Lihatlah di sisi kanan alun-alun ini, maka kita akan disuguhi sebuah bangunan tua dengan arsitektur yang bercorakkan bangunan gaya kolonial. Bangunan yang bertuliskan "Kavallerie-Artillerie" berangka tahun 1874 ini masih terlihat kokoh berdiri walaupun di beberapa sudut terlihat rapuh. Bangunan ini dahulu berfungsi sebagai markas besar pasukan Legiun Mangkunegaran yang merupakan cikal bakal Pasukan Khas Samber Nyawa. Namun, bangunan ini sekarang tampak kurang terurus dan beralih fungsi sebagai pemukiman penduduk yang cukup padat.

Untuk memasuki kompleks utama Pura Mangkunegaran ini, lewatlah bangunan yang ada di sebelah kiri gerbang utama. Bangunan tersebut berfungsi sebagai lobi sekaligus pintu masuk ke dalam bangunan utama Pura Mangkunegaran. Setelah membeli tiket masuk, kita pun akan ditemani berkeliling oleh seorang guide yang berasal dari abdi dalem kraton. Abdi dalem di sini memang sedikit berbeda dengan abdi dalem di Kraton Yogyakarta dilihat dari gaya berpakaian mereka yang sudah lebih modern, yaitu mengenakan batik dan bawahan bahan layaknya orang yang pergi ke kantor.


Bagian bangunan pertama yang kita kunjungi adalah bagian Pendopo Ageng. Menurut penuturan sang guide, pendopo dengan atap bangunan berbentuk joglo ini  merupakan bangunan pendopo paling luas di Indonesia. Nuansa Eropa pun langsung terasa di setiap ornamen yang menghiasi bangunan tersebut seperti patung singa berwarna emas, lampu hias, lantai marmer, maupun lukisan yang ada di bagian langit-langit. Ornamen-ornamen tersebut didatangkan dari beberapa negara di Eropa. Untuk berkunjung ke area ini kita dipersilahkan untuk melepaskan alas kaki yang kita kenakan. Sang pemandu pun sudah menyiapkan tas plastik untuk tempat membawa alas kaki yang kita lepas. Bangunan Pendopo Ageng ini biasanya digunakan untuk tempat pertujukan tari maupun seni musik, khususnya gamelan. Di beberapa sudut pendopo, kita dapat melihat tiga set gamelan. Ada satu buah gamelan yang dimainkan secara rutin dan lainnya hanya dimainkan dalam upacara tertentu saja.


Beranjak ke ruangan berikutnya kita diajak memasuki sebuah ruangan yang diberi nama Pringgitan. Ruangan ini sekarang lebih difungsikan seperti museum untuk menyimpan barang-barang peninggalan milik Kraton Mangkunegaran. Dari luar bangunan, kita akan disambut dengan patung-patung bercorakkan nuansa Eropa dan juga beberapa foto anggota keluarga kerajaan. Memasuki bagian dalam ruangan, kita akan disuguhi barang-barang milik kraton seperti peralatan serta pakaian yang dikenakan oleh para penari Bedoyo Ketawang, salah satu tarian yang dianggap sakral. Ruangan ini juga memamerkan beragam uang logam kuno, perhiasan-perhiasan kuno, senjata-senjata hadiah dari beberapa negara, koleksi keris, peralatan makan dan minum yang terbuat dari perak maupun kristal, serta beragam pernak-pernik lain yang berbahan dasar emas maupun perak. Dari sekian barang yang dipamerkan, ada satu barang yang menarik perhatian saya. Ada sebuah alat yang dinamakan "badong". Alat yang terbuat dari emas ini dipasangkan di alat vital raja yang akan pergi berburu guna menghindari terjadinya perselingkuhan. Alat ini dipakaikan oleh permaisyuri dan terdapat sebuah kunci khusus. Selain untuk raja, "badong" ini juga dikenakan pula oleh sang permaisyuri untuk menghindari perselingkuhan ketika sang raja sedang pergi keluar istana. Ada pula pring pethung/pring pethuk, yaitu bambu yang memiliki pertumbuhan ruas yang tidak normal. Benda ini konon memiliki khasiat yang berhubungan dengan hal magis. Selain itu di ruangan ini terdapat sebuah kamar khusus yang digunakan raja untuk bermeditasi. Sayang, di ruang Pringgitan ini wisatawan tidak dikenakan untuk mengambil gambar.


Memasuki ruangan berikutnya, kita menyusuri ruangan keputren yang digunakan untuk tempat tinggal para putri kerajaan. Di ruangan ini kita diperkenankan kembali untuk mengenakan alas kaki. Di bagian teras tertata rapi meja kursi yang menghadap langsung dengan taman yang indah di depannya. Hiasan-hiasan seperti patung dan cermin-cermin berukuran cukup besar menghiasi beberapa sudut ruangan. Bagi saya, ruangan ini adalah ruangan yang sangat sempurna untuk bersantai dan dijamin siapapun akan betah berlama-lama untuk tinggal di ruangan ini karena suasana dan pemandangannya yang begitu nyaman.



Kembali kami melangkahkan kaki memasuki sebuah ruangan yang dijadikan sebagai tempat pertemuan keluarga dengan kursi-kursi yang ditata rapi sedemikian rupa. Ruangan yang diberi nama bangsal Pracimoyoso ini memang tampak sederhana namun terkesan cukup mewah dan elegan. Ruangan berikutnya adalah ruang makan. Ruangan ini memiliki atap dari kaca dan terdapat sebuah hiasan yang unik, yaitu sebuah gading gajah yang diukir dengan cerita Ramayana. Trip pun berakhir dengan menyusuri bagian teras yang dihiasi barang-barang antik serta foto keluarga besar Pura Mangkunegaran.


Yak, Pura Mangkunegaran ini secara keseluruhan memang memiliki konsep arsitektur yang unik, memadukan unsur Jawa dan juga unsur Eropa di dalam ornamen interior bangunan. Bangunan Pura Mangkunegaran ini masih sangat terawat dan cukup bersih. Kesan sebuah bangunan istana yang sederhana pada bagian eksteriornya namun terlihat mewah dan elegan pada bagian interiornya dapat Anda rasakan di Pura Mangkunegaran ini.

keterangan :
Pura Mangkunegaran buka setiap hari dari pukul 08.30 sampai dengan pukul 14.00
Tiket masuk wisatawan domestik Rp 10.000,00
untuk biaya guide kita beri seikhlasnya

Senin, 22 April 2013

Es Kapal - Es Klasik dengan Cita Rasa Unik

Satu lagi sajian kaki lima pelepas dahaga yang tak boleh dilewatkan ketika kita berjalan-jalan di area Solo City Walk yang terletak di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, jalan utama yang membelah pusat Kota Solo. "Es Kapal Tempoe Doeloe, Resep Leluhur Cita Rasa Khas Solo", begitulah kata-kata di spanduk yang terpasang di gerobak tempat es ini dijual. 


Lapak Es Kapal ini bersebelahan dengan lapak milik Es Potjong Solo. Walaupun bersebelahan, namun lapak milik Es Kapal ini memang terlihat tidak begitu ramai seperti lapak di sebelahnya. Berdasarkan rasa penasaran saya akan kuliner-kuliner jadul, saya pun mendatangi lapak sederhana tersebut dan memesan segelas es kapal.


Jika dilihat sekilas, tampilan es kapal ini memang cukup sederhana. Sebuah cairan berwarna putih bercampur dengan warna cokelat, diberi pecahan kecil es batu, disajikan ke dalam gelas yang cukup jadul, kemudian diberi campuran roti tawar yang disiram dengan susu kental manis cokelat sebagai pemanis tampilan sekaligus menambah rasa. Bagaimana dengan rasanya? Setelah saya rasakan, es kapal memiliki cita rasa  maupun aroma yang hampir mirip seperti es puter tapi versi cair. Perpaduan rasa manis dan gurih sangat terasa, ditambah dengan aromanya yang khas sangat menggugah selera. 

Pemberian nama "es kapal" memang sedikit menggelitik pikiran saya. Saya pun kemudian bertanya kepada si penjual kenapa es ini dinamakan es kapal. Sebutan es kapal bukan berarti es yang disajikan berbentuk kapal ya ! Sejarahnya pun cukup sederhana, pemberian sebutan es kapal ini konon karena dahulu gerobak es yang digunakan berbentuk seperti kapal, atau tepatnya moncong perahu. Lambat laun orang-orang lebih familiar menyebutnya es kapal karena bentuk dari gerobak yang digunakan untuk berjualan. Cukup sederhana dan unik memang !


Satu gelas es kapal ini dijual dengan harga Rp 2.500,00 per-gelasnya, cukup murah bukan? Anda dapat menemukan lapak es kapal ini di Solo City Walk, tepatnya di sebelah barat pintu utama Taman Hiburan Rakyat Sriwedari. Lapak es kapal ini mulai buka sekitar pukul 10.00 pagi sampai dengan habis. Bagi Anda yang merasa haus di siang hari karena teriknya sengatan sinar matahari di Kota Solo, es kapal ini dapat dijadikan pilihan untuk pelepas dahaga Anda !

Rabu, 17 April 2013

Pulau-pulau kecil yang unik dan ajaib milik Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak pulau besar maupun kecil. Kali ini kami akan membahas pulau-pulau kecil Indonesia. Pulau-pulau kecil di Indonesia tidak kalah menarik bahkan beberapa diantaranya memiliki keunikan dan keajaiban tersendiri. Berikut pulau-pulau tersebut:

Pulau Bungin, Pulau buatan yang luasnya terus bertambah


Pulau Bungin terletak di Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa NTB. Pulau ini merupakan pulau kecil buatan terpadat di dunia melebihi kepadatan pulau Jawa. Pulau ini unik karena merupakan pulau buatan manusia yang terus meluas dengan semakin bertambahnya penduduk di pulau ini. Penduduk memperluas pulau itu dengan menggunakan tumpukan batu-batu karang yang dianggap sudah mati. Di pulau ini ada Hukum adat yang mewajibkan setiap ada pasangan yang ingin menikah harus membangun rumah dengan membuat pondasi dari batu karang mati di atas air laut sebagai tempat membuat rumah baru. Inilah yang menyebabkan luas pulau karang buatan itu terus bertambah dengan bertambah penduduknya yang semakin padat.


Pulau Anak Krakatau, Pulau yang terus tumbuh



Pulau Anak Krakatau berada di selat Sunda. Pulau ini merupakan pulau vulkanik yang unik karena pulau ini terus tumbuh. Pulau ini muncul di bekas letusan Gunung Krakatau yang meletus dahsyat tahun 1883 lampau. Awalnya pulau ini muncul sekitar tahun 1927 berupa kepulan asap hitam di permukaan laut. Hanya dua tahun setelah kepulan asap di laut itu, kemudian muncul tumpukan lava dari kawah Gunung Krakatau ke permukaan laut dengan ketinggian satu meter dari permukaan laut.  Tumpukan kawah itu semakin besar dan bertambah tinggi, membentuk sebuah pulau kecil berupa gunung yang akhirnya diberi nama Anak Krakatau. Hingga kini, Gunung Anak Krakatau masih aktif dan sering meletupkan pasir dan lava panas. Setiap tahun, Gunung Anak Krakatau terus bertambah tinggi.


Pulau Gili Ketapang, Pulau yang berpindah tempat


Pulau kecil ini terletak di Selat Madura, tepatnya 8 Km di lepas pantai utara Probolinggo. Gili Ketapang adalah pulau yang unik dan penuh mitos. Pulau ini konon dulu dihuni banyak kucing. Mitos tersebut bisa dilihat dengan keberadaan Gua Kucing. Namun sekarang nyaris tidak dijumpai kucing sama sekali. Pulau yang berlokasi 8 Km lepas pantai Probolinggo ini juga punya mitos lain, yakni bisa berpindah tempat. Konon dulu sebenarnya pulau ini berada dekat dengan daratan pulau jawa. Setelah gempa dahsyat pasca letusan gunung Semeru, desa Ketapang terlepas dengan sendirinya dari Pulau Jawa.


Pulau ular, pulau habitat ular-ular jinak


Pulau ular terletak di kecamatan Wera kabupaten Bima propinsi NTB tepatnya di desa Pai. Pulau ini terletak dekat dengan daratan Pulau Sumbawa dengan jarak sekitar 400-500 m. Keunikan pulau ini karena merupakan habitat ular-ular yang jinak. Pulau ini merupakan habitat bagi populasi ular laut dengan warna putih silver dan kombinasi hitam kilat. Bentuk ekor ular ini pipih menyerupai ekor ikan. Ular-ular ini mencari makanan di dalam laut dan beristirahat di atas pulau di antara celah-celah bebatuan, atau bergelantungan pada tebing-tebing terjal. Ular-ular ini jinak dan bersahabat dengan wisatawan yang mengunjunginya sehingga bisa didekati dan disentuh.


Pulau Satonda, pulau dengan danau purba


Pulau Satonda terdapat di Desa Nangamiro, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Pulau ini terbentuk akibat letusan gunung api bawah laut. Pulau Satonda unik karena memiliki danau purba. Uniknya air danau ini tidak tawar melainkan asin, bahkan lebih asin dari air laut disekelilingnya dan lebih basa dari air laut sehingga stromatolit dapat hidup di danau ini. Stromalit merupakan bakteri yang hidup dalam lingkungan ekstrem yang muncul pada zaman purba. Hanya di Satonda stromalit dari zaman purba ini ditemukan masih dapat hidup. Danau di tengah pulau ini juga membuat bentuk pulau ini unik, seperti cincin.

Pulau Kakaban, pulau tempat ubur-ubur tak menyengat


Pulau Kakaban terletak di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Keunikan pulau ini karena memiliki danau berisi air payau yang dihuni beragam biota laut yang mengalami evolusi selama terkurung di dalamnya, hingga memiliki sifat dan tampilan fisik yang berbeda dengan spesies sejenisnya yang berada di laut. Di danau Kakaban ini terdapat 4 jenis ubur-ubur yang tidak menyengat. Disamping memiliki keunikan berupa danau dengan ubur-ubur yang tidak menyengat, Pulau Kakaban ternyata berbentuk seperti angka 9, pada bagian yang melingkar di sebelah utaranya merupakan atol atau batu karang berbentuk cincin.

Pulau-pulau kecil ini merupakan pulau milik Indonesia yang tidak boleh diabaikan. Apalagi pulau-pulau tersebut memiliki keajaiban yang jarang ditemui hal yang serupa di tempat lain di dunia.

Senin, 15 April 2013

Air Terjun Bah Biak di Tengah Perkebunan Teh Sidamanik

Air Terjun Bah Biak

Salam Petualang...

Ternyata di Tengah perkebunan teh Sidamanaik ini, terdapat sebuah Air Terjun yang sangat indah, Nama Air Terjun tesebut adalah Air Terjun Bah Biak. Inilah yang menjadi Plus dalam Touring Telapak Sumut 14 April 2013, sekaligus menjadi tujuan terakhir kami di hari ini.

Nah, biar enggak bingung baca cerita kali ini, silahkan baca dulu artikel yang berjudul Panorama Alam di Kebun Teh Sidamanik. 

Saat ini Kami masih berada di tengah-tengah kebun Teh, Lusi lah yang menjadi ranger hari ini untuk sampai ke air terjun tersebut. Dengan berboncengan dengan bang Muis, ia pun menunjukkan jalannya kepada Kami untuk bisa keluar dari tengah kebun teh menuju air terjun Biak tersebut. Ada sedikit hal yang membuat saya, bg Abay dan Pay berhenti. Ternyata Air minum di tas Pay bocor sehingga harus dipindahkan. Karena hal tersebut, kami ketinggalan oleh bg Muis dan Lusi. sehingga kami bingung untuk keluar dari kebun teh ini. Setelah berkeliling-keliling mencari jalan keluar, malah membuat kami semakin jauh dari kata Jalan keluar. Dan akhirnya Kami pun dinyatakan "Tersesat di Kebun Teh".

Beruntung kami menemukan seorang warga di tengah kebun Teh.  Kami pun bertanya untuk bisa keluar dari kebun teh, menuju jalan Besar. Alhamdulilah, kami pun bisa keluar dari kebun teh dan akhirnya bertemu kembali dengan Bang Muis dan Lusi. Tanpa berlama-lama lagi, Tepat pukul 17.45, kami bergerak menuju Air terjun yang berada di perkebunan Teh Unit Bah Butong, tidak sampai 15 menit kami sampai di tempat tujuan yaitu Air Terjun  Bah Biak.

Kami pun memarkirkan sepeda motor di sebuah warung yang emang khusus menjadi tempat parkir bagi pengunjung yang ingin melihat air terjun ini. setelah itu, kami pun harus turun melewati puluhan anak tangga agar bisa sampai ke bawah untuk menikmati keindahan Air terjun Biak tersebut.

Tibalah kami di depan air Terjun tersebut, Sangat dan begitu indah Air terjun ini, debit air yang mengalir dari atas cukup deras dan Jernih. Kami pun tidak menyia-nyiakan moment ini.begitu juga dengan Pay, yang langsung mengeluarkan kamera digital miliknya untuk berfoto bersama Tim Telapak Sumut.

Karena Hari semakin gelap, kami pun bergegas untuk pulang,tepat pukul 19.00, kami bergerak dari kebun teh Sidamanik menuju Medan.Dalam Perjalanan Pulang kami harus menghadapi hujan yang deras selama perjalanan.

Ini lah cerita akhir touring Telapak Sumut pada tanggal 14 April 2013. Sungguh Menarik dan Menyenangkan..:)

Nah buat Sobat yang ingin bergabung dengan Telapak Sumut dalam menjelajah serta mengexplore wisata alam Sumatera Utara, Silahkan Bergabung DISINI, dan tunggu perjalanan kami selanjutnya.

Lestari..!!

by : Rudi

Minggu, 14 April 2013

Panorama Alam di Kebun Teh Sidamanik

Panorama Alam di Kebun Teh Sidamanik

Salam Petualang...!!!

Sudah baca pada artikel sebelumnya kan? saat Telapak sumut berada di Air Terjun Sampuran Widuri. Kali ini saya akan melanjutkan cerita sebelumnya saat touring pada tanggal 14 April 2013 bersama Telapak Sumut.

sekitar pukul 13.00 Wib, kami pun melanjutkan perjalanan untuk sampai pada tujuan selanjutnya yaitu Kebun Teh Sidamanik Pematang Siantar. Ada 3 perkebunan teh yang ada di 2 kecamatan di daerah sidamanik ini.  ketiga kebun teh itu yaitu kebun teh Toba Sari, Sidamanik, dan Bah Butong. Dulu ketiga kebun tersebut termasuk dalam kecamatan sidamanik. Tapi sekarang secara administratif telah dimekarkan menjadi 2 kecamatan, yakni kecamatan Sidamanik dan Kecamatan Pematang Sidamanik. Secara administratif daerah Sidamanik masuk dalam wilayah kabupaten Simalungun.

Sekitar pukul 14.30 kami sampai di perkebunan Teh Unit Bah Butong. Begitu indah pemandangannya disini, sejuk dan waww deh..:) Panorama Alam yang begitu luas nan indah dimata. Berhubung salah satu anggota Telapak Sumut yang ikut touring hari ini tinggal di dekat perkebunan teh. Sebut saja Lusi, nama yang akrab dipanggil di Komunitas ini. Dan akhirnya, ia pun mengajak kami untuk singgah kerumah nya untuk beristirahat sejenak. Tiba dirumah Lusi, kami pun disambut hangat oleh nenek, ibu dan keluarganya. Kami disuguhkan minuman untuk menghilangkan dahaga selama perjalanan yang cukup melelahkan. Tak disangka, Lusi pun menyuguhkan makanan kepada kami,berupa nasi putih, ayam goreng, sayur bening dan tidak  ketinggalan Sambal Kecapnya. Begitu nikmat terlihat. Akhirnya kami makan sore bersama dirumahnya. :D

Pukul 16.00, kami pun berpamitan pulang kepada Seluruh keluarga lusi serta berterima kasih karena telah memberikan kami tempat istirahat beserta hidangan sore yang cukup mengenyangkan..:)
Sebelum balik ke Medan, kami pun menyempatkan lagi untuk berjalan" sejenak di kebun teh serta berfoto bersama. Diawali oleh Pay, kami pun memasuki  kebun teh dengan sepeda motor kami.

Saat berkeliling di kebun teh, hujan pun turun namun tidak terlalu deras dan hanya sebentar. Karena hujan tersebut, membuat jalanan menjadi licin, sehingga kami pun terjatuh saat melewati tanjakan di tengah-tengah kebun teh tersebut.

Sesampai di atas di tengah kbun teh, kami pun menyempatkan diri untuk berfoto bersama dengan mengibarkan spanduk Telapak Sumut.

Setelah puas berfoto kami pun melanjutkan kembali untuk berkeliling di kebun teh Sidamanik ini. Saat asyik berkeliling, kami mendengar suara air bergemuruh, dan ternyata terlihat Sebuah Air Terjun yang begitu Indah dan Amazing..  Ini spontan membuat Aniz dan Pay ingin turun ke air Terjun itu. Karena Lusi yang mengerti daerah disini, Ia pun menjelaskan cara untuk sampai ke air terjun tersebut. Ini lah yang menjadi Plus dalam touring Telapak Sumut kali ini, adanya sebuah Air terjun di tengah perkebunan teh Sidamanik..

Masih ingin tahu kelanjutan touring hari ini sampai selesai? silahkan baca kelanjutannya DISINI.

Nah, buat sobat yang ingin bergabung dengan Telapak Sumut  dalam menjelajah serta mengexplore wisata alam Sumatera Utara, silahkan bergabung DISINI dan tunggu perjalanan kami selanjutnya..

Lestari....!!!

by : Rudi



Kesejukan di Bawah Air Terjun Sampuran Widuri

Air Terjun Sampuran Widuri

Salam Petualang...

14 April 2013., Kali ini Telapak Sumut melakukan touring kebeberepa tempat wisata alam. adapun tujuan tim kali ini adalah Air Terjun Sampuran Widuri, Kebun Teh Sidamanik Plus Air Terjun Biak. Tim akan melakukan perjalanan dengan Rute sebagai berikut

Medan - Tj.Morawa - L.Pakam - Perbaungan - Tebing Tinggi - Siantar.

Hari ini tim yang berangkat beranggotakan 8 orang saja yaitu Saya , Pay, Aniz, Abay, Suci, Lusi, Muis, dan Fadil. Cuaca hari ini cukup cerah dan bersahabat. Menggunakan Sepeda Motor, tim start pada pukul 08.00 Wib. sekitar 2,5 jam perjalanan, kami sampai pada tujuan pertama yaitu Air Terjun Sampuran Widuri. Air terjun ini terletak di Desa Dolok Merawan kecamatan Dolok Merawan Kabupaten Serdang Bedagai Propinsi Sumatera Utara. 

Sesampai di lokasi, kami beristirahat sejenak untuk makan siang di sebuah warung yang dekat dengan lokasi air terjun tersebut. setelah setengah jam kami beristirahat, kami segera turun untuk melihat air tejun sampuran Widuri tersebut. 

Menurut Seorang ibu pemilik warung tempat kami istirahat dan makan, di tempat ini terdapat 7 air terjun dengan jarak yang cukup berjauhan. Namun Air Terjun Sampuran Widuri lah yang paling indah, karena memiliki ketinggian sekitar 35 meter dengan deburan air yang jernih serta pemandangan hijau di sekitar air terjun yang menambah kesejukan di sekitar tempat ini. Tanpa berlama-lama lagi kami segera turun untuk melihatnya. Untuk dapat melihat air terjun itu, kami harus turun melalui puluhan anak tangga.

Akhirnya sampai juga kami di depan Air Terjun Sampuran Widuri, sungguh Indah dan Sejuk melihatnya. 

Tanpa berfikir lama, Pay pun Langsung mengeluaran kameranya untuk mengabadikan tempat ini, serta kami pun berfoto besama dengan mengibarkan spanduk Telapak Sumut

Pay selaku ketua tim Telapak Sumut , ingin melakukan explorasi untuk menemukan ke 7 air tejun itu, namun dikarenakan waktu dan seiring masih panjangnya perjalan kami, akhirnya ia pun mengurungkan niatnya dan kami pun kembali ke atas untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan.

Sekitar Pukul 13.00, Kami melanjutkan perjalanan untuk sampai di tujuan selanjutnya, yaitu Kebun Teh Sidamanik Pematang Siantar.

ingin tahu kelanjutan touring hari ini, silahkan baca tulisannya DISINI.

Dan Buat Sobat yang ingin bergabung dengan Telapak Sumut dalam Menjelajah dan serta mengexplore wisata alam Sumatera Utara, silahkan gabung DISINI dan tunggu perjalanan kami selanjutnya.

Salam Lestari....!!

by : Rudi