Tampilkan postingan dengan label Museum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Museum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Maret 2014

Museum Probolinggo : Wahana Pengenalan Sejarah Kota Probolinggo

Malam pun semakin larut, namun acara penjelajahan museum di Kota Probolinggo pun belum berakhir. Kali ini para peserta diajak berkeliling ke sebuah gedung tua di kawasan Jalan Suroyo. Dari bagian depan nampak pesawat udara kuno, lokomotif tua, serta tank yang dipajang di halaman. Inilah Museum Probolinggo, salah satu wahana pengenalan sejarah Kota Probolinggo.


Museum Probolinggo merupakan salah satu wahana wisata yang cukup baru di Kota Probolinggo. Museum ini diresmikan pada tahun 2009 dengan menempati sebuah gedung tua yang dahulu bernama Gedung Panti Budaya. Dahulu bangunan ini merupakan sebuah gedung serba guna, kemudian dialihfungsikan sebagai museum sebagai wahana untuk memperkenalkan perkembangan sejarah Kota Probolinggo.



Museum Probolinggo memiliki koleksi yang cukup menarik di dalamnya. Di bagian pertama ruangan Museum Probolinggo ini kita akan menemui beberapa replika arca yang biasa kita temui di candi. Penemuan arca-arca ini barangkali mengacu pada bangunan Candi Jabung yang terletak di daerah Paiton barangkali. Entahlah, koleksi arca-arca tersebut mengacu pada penemuan arca di candi mana saya kurang paham.




Pada ruangan berikutnya kita akan melihat beberapa koleksi barang-barang kuno yang ditemukan di sekitaran Kota Probolinggo. Ada beberapa senjata yang digunakan oleh masyarakat Tengger di masa silam, ada pula beberapa peninggalan seperti guci dan keramik dari Tiongkok, alat musik kecapi, KWH meter di jaman perusahaan listrik yang dikelola oleh Belanda, sepatu dari China yang khusus digunakan oleh kaum perempuan agar memiliki bentuk kaki yang ramping, ada pula naskah-naskah kuno tersimpan rapi di dalam Museum Probolinggo ini.


Di bagian ruang berikutnya, kita akan melihat koleksi mata uang kuno dan bangku sekolah kuno peninggalan jaman Belanda yang sekilas bentuknya mirip seperti bangku yang digunakan untuk tempat duduk jamaat di gereja. Menurut penuturan pemandu museum, dahulu Kota Probolinggo akan dijadikan sebagai kota pendidikan di daerah Jawa Timur oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun, setelah ada beberapa pertimbangan, akhirnya Belanda memindahkan pusat pendidikan di Kota Malang. Mungkin karena Malang memiliki udara yang cukup sejuk menjadikan pertimbangan bagi Belanda untuk memindahkan pusat pendidikan ke kota tersebut.


Pada ruangan berikutnya lebih banyak ditampilkan diorama dan patung-patung yang menggambarkan kebudayaan yang ada di Kota Probolinggo. Ada kendaraan tradisional yang digunakan oleh masyakarat Probolinggo yang mungkin sampai sekarang masih digunakan, misalnya saja dokar (semacam delman yang ditarik oleh seekor kuda) dan ciker (gerobak kayu yang ditarik oleh dua ekor sapi). Ada pula patung yang menggambarkan kebudayaan tradisional dari Kota Probolinggo, di antaranya adalah Jaran Bodhak/Jaran Kencak atau bisa disebut dengan kuda menari, yaitu kuda yang diberi hiasan kemudian diberi iringan musik agar kuda tersebut berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik. Diperlukan latihan khusus memang begi kuda-kuda yang dipersiapkan sebagai kuda kencak ini. Budaya tradisional lain yang tak kalah menarik adalah karapan kambing yang biasa dilakukan oleh masyarakat Probolinggo.


Selain itu, di ruangan ini juga ditampilkan batik Tenggeran, beberapa patung yang menggambarkan kebudayaan Arab dam kebudayaan China. Sebagai sebuah kota yang terletak di pesisir utara Jawa, tak heran jika penduduk Kota Probolinggo cukup multikultural. Selain suku Jawa, Kota Probolinggo juga dihuni berbagai suku dan ras, di antaranya Madura, Arab, dan China.


Museum Probolinggo memang memiliki koleksi-koleksi yang terkesan sederhana. Walaupun memiliki display yang sedikit kaku, namun museum ini memiliki nilai edukasi yang cukup tinggi, terutama bagi mereka yang ingin mengenal sejarah Kota Probolinggo secara singkat. Bagi Anda yang menyukai wisata museum dan sejarah, tak ada salahnya mengunjungi museum ini ketika Anda sedang plesir di Kota Probolinggo :)


keterangan :
Museum Probolinggo buka setiap hari dari pukul 08-00 - 15.00 WIB
tiket masuk gratis 

Minggu, 16 Maret 2014

Nite at The Museum : Museum Dr Moh Saleh Probolinggo

Bukan Tour De Probolinggo namanya jika tidak ada kejutan di dalam acaranya. Usai meletakkan barang-barang di tenda yang berada di dekat pelabuhan, kami semua diajak untuk berkeliling mengunjungi museum yang ada di Kota Probolinggo. Biasanya museum hanya buka dari pagi sampai sore, kali ini panitia mempersiapkan acara yang menarik, lain dari biasanya. Yap, night at the museum ! Apa? berkunjung ke museum di malam hari? Iya ! Kami semua diajak berkunjung ke museum di malam hari oleh panitia Tour De Probolinggo !


Nama Dr Moh Saleh mungkin saja kurang kita kenal di dalam sejarah pahlawan nasional Indonesia. Nama beliau memang kurang banyak dibahas di pelajaran sejarah selama saya duduk di bangku sekolah dulu. Merujuk dari beberapa artikel yang saya baca di internet, beliau merupakan lulusan STOVIA, sekolah kedokteran di jaman penjajahan Belanda. Beliau juga seangkatan dengan Dr Sutomo, salah satu tokoh pendiri organisasi Budi Utomo.

Beliau dikenal dengan sering berpindah-pindah tempat tinggal di berbagai kota sebelum akhirnya menetap di Kota Probolinggo. Beliau membaktikan diri dan mendarmakan ilmunya di bidang kesehatan kepada masyarakat. Praktik kesehatan yang dijalankan oleh beliau dapat dilihat dari kediaman rumahnya yang kini difungsikan sebagai museum oleh pemerintah kota setempat. Di rumah dengan arsitektur Belanda yang cukup kental ini terdapat ruang yang digunakan untuk membuka praktik kesehatan. Ada ruang kerja dokter, apotek, ruang rawat inap, hingga kamar mayat lengkap tersedia bak rumah sakit.



Museum ini memiliki koleksi yang tampak sederhana namun memiliki nilai sejarah di dalamnya. Lihat saja buku-buku kedokteran milik beliau yang berbahasa Belanda yang mungkin sudah langka, catatan medical record pasien beliau, kliping koran, serta catatan-catatan lainnya masih tersimpan rapi di lemari milik beliau. Ada pula alat-alat kesehatan, seragam yang digunakan untuk beliau praktik, catatan resep, hingga obat-obat untuk pasien masih tersimpan rapi di ruang kerja milik beliau. 


Di antara beberapa ruang di museum ini, ada sebuah ruang yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Ruangan tersebut disebut dengan "kamar petheng" alias kamar gelap. Kamar gelap bukan berarti ruangan tersebut gelap tidak ada cahaya. Kamar tersebut merupakan kamar tempat beristirahat Dr Moh Saleh. Kamar tersebut diberi garis pembatas agar pengunjung tidak masuk ke dalam ruangan tersebut. Mengapa demikian? Menurut penuturan petugas museum, sudah beberapa kali ada kejadian pengunjung yang kerasukan setelah memasuki ruangan tersebut. Seram kan? Tidak kok, asal kita sopan dan menaati peraturan tidak akan ada kejadian yang aneh-aneh.


Terlepas dari cerita seram yang beredar, tak ada salahnya menjadikan Museum Dr Moh Saleh sebagai agenda kunjungan ketika bertandang di Kota Probolinggo. Obyek wisata Museum Dr Moh Saleh memang masih tergolong obyek wisata baru di Kota Probolinggo. Penasaran ini mengenal lebih dalam sosok Dr Moh Saleh yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit di Kota Probolinggo? Silahkan mampir ke museum ini :)

Museum Dr Moh. Saleh
hari Senin : tutup
hari Selasa - Minggu mulai buka dari pukul 08.00 - 14.00 WIB
Libur pada hari besar nasional dan keagamaan 

Selasa, 29 Oktober 2013

Unik dan Mistiknya Museum Kesehatan Surabaya

Selain mendapat julukan sebagai Kota Pahlawan, Surabaya juga menyimpan banyak museum yang cukup menggiurkan untuk dikunjungi. Adalah Museum Kesehatan Dr Adyatma, sebuah museum yang memiliki koleksi yang cukup unik yang berada di kota dengan sebutan Ujung Galuh pada jaman dahulu. Saya mengenal museum ini dari tayangan Kick Andy Show, yang bertemakan "Merekam Jejak Negeriku". Tayangan tersebut menceritakan beberapa museum unik yang ada di Indonesia.


Adalah dr. Haryadi Suparto, seorang dokter dan juga ahli dalam bidang supranatural yang mendirikan Museum Kesehatan ini. Museum ini menempati bangunan bekas Rumah Sakit Kelamin yang dahulu merupakan rumah sakit kelamin terbesar di Asia Tenggara. Museum ini masih satu kompleks dengan Kompleks P3SKK Depkes RI dan Akademi Akupuntur Surabaya. Museum Kesehatan memiliki desain bangunan yang cukup sederhana. Keunikan dari museum ini adalah barang-barang koleksi yang dipajang di museum. Koleksi Museum Kesehatan Dr. Adyatma ini secara umum menggambarkan upaya manusia di dalam menjaga kesehatan serta alat-alat yang digunakan di dalam proses penyembuhan penyakit. Tak hanya peralatan medis saja yang dipamerkan, melainkan alat-alat non medis juga dipajang di museum ini. Alat-alat non medis yang digunakan merupakan hasil kebudayaan lokal dari beberapa suku bangsa yang menghuni negara Indonesia tercinta.




Museum Kesehatan Dr Adyatma ini memiliki tiga buah ruangan yang masing-masing memiliki koleksi yang cukup unik. Di ruangan pertama diberi nama ruangan "Kesehatan Sejarah". Di bagian ruang pertama ini kita akan disambut oleh patung ganesha serta boneka jailangkung dan nini thowok yang agak menyeremkan memang. Di ruangan ini dipamerkan beberapa barang-barang dan foto-foto yang mengggambarkan sejarah dari kesehatan medis di Indonesia, seperti tokoh-tokoh kesehatan Indonesia, ijazah dokter di sekolah kedokteran pada jaman STOVIA serta seragam yang dikenakannya, termasuk di dalamnya sejarah singkat pendirian Museum Kesehatan ini. Memasuki ruangan lebih ke dalam lagi, kita akan disuguhi barang-barang yang digunakan dalam prakik medis. Rasanya penasaran ingin masuk lebih ke dalam lagi, tapi apa daya, saya merasakan hawa yang sedikit tidak mengenakkan bagi saya. Walaupun tata lampu dan penerangan cukup terang, tapi saya pun mengurungkan niat untuk menjelajah lebih dalam lagi dan memutuskan untuk keluar menuju ruangan berikutnya. Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, tapi alangkah lebih baik jika berkunjung ke museum ini beramai-ramai bersama teman atau rombongan.

Ruangan kedua dinamai ruangan Kesehatan IPTEK. Di ruangan ini dipamerkan beberapa inovasi alat kesehatan seperti alat untuk mensterilkan air. Ada pula beberapa benda hasil daur ulang yang berhubungan dengan kesehatan. Namun ada juga beberapa alat yang cukup aneh, seperti peralatan pemulung dan juga kotoran manusia (tinja) yang dibuat tepung kemudian dibuat menjadi kue yang konon dijual di salah satu restoran di Jepang. Memasuki ruangan lebih dalam lagi kita akan disuguhi dengan anatomi flora dan fauna. Bagian ini dikenal dengan sebutan sasana flora dan fauna. Di bagian ruangan ini dipamerkan beberapa flora dan fauna yang sudah diawetkan.



Beranjak menuju ruangan ketiga atau yang disebut dengan "Sasana Kesehatan Budaya". Nah, di sinilah dipamerkan barang-barang yang bersifat non-medis namun berhubungan dengan kesehatan. Banyak yang bilang jika ruangan ini menyimpan barang-barang klenik. Di ruangan ini pula ada penjelasan mengenai santet termasuk juga foto rontgen korban santet yang berisi banyak paku pada bagian dalam perutnya. Karena inilah museum ini lebih dikenal oleh orang-orang sekitar sebagai museum santet daripada Museum Kesehatan. Ada juga kain-kain tradisional dari beberapa daerah yang bisa digunakan untuk mengusir penyakit. Ada pula beberapa jenis air yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit, termasuk air yang dicelupkan dengan batu ajaib milik Ponari yang sempat booming di media beberapa tahun yang lalu. Selain itu masih banyak disimpan alat-alat tradisional lainnya yang berhubungan dengan kesehatan. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah adanya kurungan ayam yang terbuat dari bilah bambu. But so far, selama berkeliling di ruang ini menurut saya tidak terlalu menyeremkan seperti pada ruangan pertama. Padahal, di ruangan ini banyak disimpan barang-barang yang konon katanya berbau magis/klenik.


Secara keseluruhan, Museum Kesehatan memang memiliki daya tarik tersendiri seiring dengan cerita seram yang hadir menyelimuti. Koleksi-koleksi yang dimiliki oleh museum ini cukup menarik, walaupun memiliki display yang sederhana. Satu hal yang perlu dijadikan catatan adalah perlu ditambah lagi keterangan pada masing-masing barang yang dipamerkan serta kegunaan dari masing-masing alat yang dimaperkan tersebut sehingga semakin menambah wawasan bagi pengunjung. Satu lagi, untuk mengurangi hawa seram pada Museum Kesehatan ini, akan lebih baik jika diberikan pendamping atau guide untuk menemani pengunjung yang ingin berkeliling di Museum Kesehatan ini.


Museum Kesehatan Dr. Adyatma, MPH
Jalan Indrapura no 17 Surabaya
telp (031) 3528748 ext 105
harga tiket Rp 1.500,00
jam buka :
Senin - Jumat mulai dari pukul 08.00 - 15.00 WIB
Sabtu - Minggu mulai dari pukul 09.00 - 14.00 WIB
museum tutup pada Hari Libur Nasional

cara menuju ke sana :
dari arah terminal Bungurasih/Purabaya silahkan naik bus kota ke arah Jembatan Merah Plaza (JMP)
lalu turun di halte Kompleks P3SKK Depkes RI atau Rumah Sakit Kelamin Surabaya

Sabtu, 13 Juli 2013

Museum House of Sampoerna Surabaya

Sebuah destinasi perjalanan, terkadang tak selamanya seperti apa yang telah kita rencanakan.


Hujan gerimis menyambut kedatangan saya di Terminal Bus Probolinggo. Satu jam perjalanan menuruni daerah Bromo menggunakan bison yang cukup sesak dengan penumpang. Saya berencana melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Malang, namun tawaran mengunjungi Museum House of Sampoerna pun merubah rute perjalanan saya, hingga akhirnya saya memilih untuk singgah ke Kota Surabaya.

Gedung-gedung tua seolah menyambut kedatangan saya di salah satu sudut Kota Surabaya. Letak Museum House of Sampoerna ini tak jauh dari kawasan Jembatan Merah, kawasan "kota tua" di Surabaya. Di kawasan ini masih banyak bangunan peninggalan jaman Kolonialisme Belanda yang hingga kini masih dimanfaatkan keberadaannya. Salah satu bangunan yang cukup terkenal di kawasan ini adalah Penjara Kalisosok yang kini sudah tidak digunakan lagi.


Becak yang saya naiki pun tiba di sebuah pintu gerbang. Gedung tua yang terlihat masih megah dengan taman-taman yang tertata rapi pun seolah menyambut saya di kompleks gedung House of Sampoerna ini. Setelah bertanya kepada petugas, saya pun dipersilahkan masuk ke bangunan tengah yang memiliki empat buah pilar yang cukup megah berbentuk seperti rokok. Di sanalah kita dapat melihat koleksi barang yang dipamerkan di dalam Museum House of Sampoerna. 



Penjaga museum yang berusia masih muda akan membukakan pintu menyambut setiap tamu yang hadir dengan senyuman. Aroma cengkeh dan tembakau pun menyerebak di ketika kita memasuki ruangan Museum House of Sampoerna ini. Museum House of Sampoerna menempati bangunan tua buatan tahun 1864 yang memiliki dua buah lantai. Lantai pertama berfungsi sebagai ruang pamer dan lantai kedua berfungsi sebagai tempat penjualan souvenir. Bangunan di lantai pertama terdiri dari tiga buah ruangan. Ruangan pertama berisi replika sebuah warung sederhana bernuansa ndeso milik pendiri PT Sampoerna, yaitu Liem Seeng Tee dan istrinya, Siem Tjiang Nio. Replika warung sederhana tersebut lengkap berisi stoples makanan, keranjang buah-buahan, serta cengkeh dan tembakau sebagai cikal-bakal perusahaan rokok ini. Di depan replika warung teronggok tembakau dari berbagai daerah, mungkin inilah sumber bau yang menyerbak ke seluruh ruangan. Tembakau-tembakau terbaik dari berbagai daerah inilah yang kemudian akan diolah menjadi produk rokok keluaran Sampoerna. Salah satu onggokan tembakau tersebut berasal dari daerah Temanggung yang memang terkenal dengan kualitas tembakaunya yang super.



Beranjak ke koleksi selanjutnya terdapat dua buah sepeda tua yang digunakan pendiri Sampoerna untuk berdagang ketika masih muda. Sepeda tersebut memang memiliki nilai historis yang tinggi bagi pemiliknya. Merekalah saksi bisu perjuangan Liem Seeng Tee kecil yang memulai hidup mandiri dengan bekerja keras semenjak masih kecil. Di ruangan ini juga dipamerkan replika tempat penyimpanan tembakau, alat pengolah tembakau sederhana. Di bagian kanan ruangan menampilkan properti ruang kerja, properti ruang keluarga Liem Seeng Tee selama menjalankan perusahaannya. Ada pula koleksi kebaya serta foto keluarga dari masa ke masa.



Ruangan kedua lebih banyak berisi koleksi foto-foto keluarga serta direksi PT HM Sampoerna dari masa ke masa. Di ruangan ini juga dipamerkan sebuah buku mengenai tembakau. Ada pula barang-barang seperti koleksi alat pemantik rokok dengan berbagai macam bentuk. Lanjut ke ruangan ketiga, kita akan diperkenalkan dengan alat dan bahan untuk meracik rokok. Campuran bahan untuk membuat rokok memang cukup rumit sehingga dapat dihasilkan sebuah rokok dengan aroma serta cita rasa yang enak. Ada pula replika warung rokok yang sering kita temui di pinggir-pinggir jalan pada jaman tahun 90-an sampai awal tahun 2.000-an. Merekalah ujung tombak penjualan rokok keluaran pabrik Sampoerna. Di ruangan ini kita juga diperkenalkan dengan produk-produk rokok produksi Sampoerna, baik yang dipasarkan di Indonesia maupun yang sudah mendapatkan lisensi di beberapa negara.


Koleksi unik lainnya adalah peralatan marching band yang dipamerkan di museum ini. Marching band binaan Sampoerna ini memiliki prestasi hingga dunia internasional. Namun sayang, semenjak Desember 1991 kegiatan marching band binaan Sampoerna ini resmi dihentikan. Kita dapat menikmati rekam jejak marching band  binaan Sampoerna ini lengkap dari layar monitor sentuh yang disediakan.

Lantai kedua Museum House of Sampoerna merupakan tempat penjualan marchendise Sampoerna. Dari ruangan ini kita juga dapat melihat kegiatan para pekerja pabrik yang sedang melinting rokok, di mana rata-rata pekerja pelinting rokok adalah kaum perempuan. Kecepatan mereka dalam melinting rokok sangat luar biasa. Dalam waktu satu jam mereka dapat melinting sekitar 325 buah batang rokok. Bisa dibayangkan kecepatan mereka dalam melinting batang rokok? Namun sayang, di lantai dua ini kita tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar.

Secara keseluruhan Museum House of Sampoerna ini memang sangat recomended untuk dikunjungi. Selain memiliki koleksi yang menarik, tata ruang, hingga display museum pun dibuat cukup apik. Well, Museum House of Sampoerna merupakan salah satu museum milik swasta yang menarik selain Museum Batik Danar Hadi di Solo yang pernah saya kunjungi. Keunikan lain dari museum ini adalah jam bukanya yang setiap hari bahkan hingga malam hari. Bagi Anda yang sedang berkunjung di Kota Surabaya, tak ada salahnya untuk mampir sejenak ke Museum House of Sampoerna ini.

keterangan :

  • Museum House of Samperna buka dari hari Senin sampai Minggu dari pukul 09.00 sampai 22.00 WIB dengan tarif masuk gratis
  • alamat museum : Taman Sampoerna No 6, Krembangan, Pabean Cantikan, Surabaya
  • telepon : +6231 353 9000 fax : +6231 353 9009 
  • website : www. houseofsampoerna.museum
  • fasilitas : toilet umum, ruang pamer galeri seni, rumah makan (a cafe)
  • Cara menuju Museum House of Sampoerna ini cukup mudah. Dari Terminal Purabaya langsung cari bus kota tujuan Jembatan Merah Plaza. Dari Jembatan Merah Plaza dapat dilanjutkan dengan becak maupun berjalan kaki. Tarif bus kota Purabaya - Jembatan Merah Plaza : Rp 4.500,00 sedangkan becak dari Jembatan Merah Plaza menuju Museum House of Sampoerna : Rp 10.000,00 (data Juni 2013)

Selasa, 23 April 2013

Pura Mangkunegaran - Menikmati Bangunan dengan Perpaduan Nuansa Arsitektur Istana Jawa dan Eropa

Perjalanan menyusuri Kota Solo tidak hanya berisi agenda untuk memanjakan rasa dengan kuliner khasnya, pun demikian pula dengan wisata belanja yang terkenal dengan ragam batiknya yang murah. Julukan Solo sebagai Kota Budaya tidak dapat dilepaskan dengan keberadaan Kraton sebagai tempat terciptanya sekaligus simbol eksistensi budaya Jawa yang hingga kini masih sangat kental dalam kehidupan keseharian masyarakat di kota ini.


Solo sendiri memiliki dua buah kraton, yaitu Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Saya pun tertarik untuk mengunjungi Pura Mangkunegaran terletak tidak jauh dari pasar barang antik Triwindu.  Bangunan ini didirikan oleh Raden Mas Said atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyawa pada tahun 1757 Masehi. Pura Mangkunegaran memiliki keunikan dari segi arsitekturnya. Eksterior bangunan menggunakan gaya bangunan Jawa dipadukan dengan nuansa Eropa pada bagian interior maupun ornamen-ornamen yang menghiasi beberapa sudut bangunan.


Memasuki kompleks Pura Mangkunegaran, kita akan disambut dengan hamparan lapangan hijau yang cukup luas. Lapangan ini disebut dengan alun-alun Mangkunegaran oleh masyarakat setempat. Lihatlah di sisi kanan alun-alun ini, maka kita akan disuguhi sebuah bangunan tua dengan arsitektur yang bercorakkan bangunan gaya kolonial. Bangunan yang bertuliskan "Kavallerie-Artillerie" berangka tahun 1874 ini masih terlihat kokoh berdiri walaupun di beberapa sudut terlihat rapuh. Bangunan ini dahulu berfungsi sebagai markas besar pasukan Legiun Mangkunegaran yang merupakan cikal bakal Pasukan Khas Samber Nyawa. Namun, bangunan ini sekarang tampak kurang terurus dan beralih fungsi sebagai pemukiman penduduk yang cukup padat.

Untuk memasuki kompleks utama Pura Mangkunegaran ini, lewatlah bangunan yang ada di sebelah kiri gerbang utama. Bangunan tersebut berfungsi sebagai lobi sekaligus pintu masuk ke dalam bangunan utama Pura Mangkunegaran. Setelah membeli tiket masuk, kita pun akan ditemani berkeliling oleh seorang guide yang berasal dari abdi dalem kraton. Abdi dalem di sini memang sedikit berbeda dengan abdi dalem di Kraton Yogyakarta dilihat dari gaya berpakaian mereka yang sudah lebih modern, yaitu mengenakan batik dan bawahan bahan layaknya orang yang pergi ke kantor.


Bagian bangunan pertama yang kita kunjungi adalah bagian Pendopo Ageng. Menurut penuturan sang guide, pendopo dengan atap bangunan berbentuk joglo ini  merupakan bangunan pendopo paling luas di Indonesia. Nuansa Eropa pun langsung terasa di setiap ornamen yang menghiasi bangunan tersebut seperti patung singa berwarna emas, lampu hias, lantai marmer, maupun lukisan yang ada di bagian langit-langit. Ornamen-ornamen tersebut didatangkan dari beberapa negara di Eropa. Untuk berkunjung ke area ini kita dipersilahkan untuk melepaskan alas kaki yang kita kenakan. Sang pemandu pun sudah menyiapkan tas plastik untuk tempat membawa alas kaki yang kita lepas. Bangunan Pendopo Ageng ini biasanya digunakan untuk tempat pertujukan tari maupun seni musik, khususnya gamelan. Di beberapa sudut pendopo, kita dapat melihat tiga set gamelan. Ada satu buah gamelan yang dimainkan secara rutin dan lainnya hanya dimainkan dalam upacara tertentu saja.


Beranjak ke ruangan berikutnya kita diajak memasuki sebuah ruangan yang diberi nama Pringgitan. Ruangan ini sekarang lebih difungsikan seperti museum untuk menyimpan barang-barang peninggalan milik Kraton Mangkunegaran. Dari luar bangunan, kita akan disambut dengan patung-patung bercorakkan nuansa Eropa dan juga beberapa foto anggota keluarga kerajaan. Memasuki bagian dalam ruangan, kita akan disuguhi barang-barang milik kraton seperti peralatan serta pakaian yang dikenakan oleh para penari Bedoyo Ketawang, salah satu tarian yang dianggap sakral. Ruangan ini juga memamerkan beragam uang logam kuno, perhiasan-perhiasan kuno, senjata-senjata hadiah dari beberapa negara, koleksi keris, peralatan makan dan minum yang terbuat dari perak maupun kristal, serta beragam pernak-pernik lain yang berbahan dasar emas maupun perak. Dari sekian barang yang dipamerkan, ada satu barang yang menarik perhatian saya. Ada sebuah alat yang dinamakan "badong". Alat yang terbuat dari emas ini dipasangkan di alat vital raja yang akan pergi berburu guna menghindari terjadinya perselingkuhan. Alat ini dipakaikan oleh permaisyuri dan terdapat sebuah kunci khusus. Selain untuk raja, "badong" ini juga dikenakan pula oleh sang permaisyuri untuk menghindari perselingkuhan ketika sang raja sedang pergi keluar istana. Ada pula pring pethung/pring pethuk, yaitu bambu yang memiliki pertumbuhan ruas yang tidak normal. Benda ini konon memiliki khasiat yang berhubungan dengan hal magis. Selain itu di ruangan ini terdapat sebuah kamar khusus yang digunakan raja untuk bermeditasi. Sayang, di ruang Pringgitan ini wisatawan tidak dikenakan untuk mengambil gambar.


Memasuki ruangan berikutnya, kita menyusuri ruangan keputren yang digunakan untuk tempat tinggal para putri kerajaan. Di ruangan ini kita diperkenankan kembali untuk mengenakan alas kaki. Di bagian teras tertata rapi meja kursi yang menghadap langsung dengan taman yang indah di depannya. Hiasan-hiasan seperti patung dan cermin-cermin berukuran cukup besar menghiasi beberapa sudut ruangan. Bagi saya, ruangan ini adalah ruangan yang sangat sempurna untuk bersantai dan dijamin siapapun akan betah berlama-lama untuk tinggal di ruangan ini karena suasana dan pemandangannya yang begitu nyaman.



Kembali kami melangkahkan kaki memasuki sebuah ruangan yang dijadikan sebagai tempat pertemuan keluarga dengan kursi-kursi yang ditata rapi sedemikian rupa. Ruangan yang diberi nama bangsal Pracimoyoso ini memang tampak sederhana namun terkesan cukup mewah dan elegan. Ruangan berikutnya adalah ruang makan. Ruangan ini memiliki atap dari kaca dan terdapat sebuah hiasan yang unik, yaitu sebuah gading gajah yang diukir dengan cerita Ramayana. Trip pun berakhir dengan menyusuri bagian teras yang dihiasi barang-barang antik serta foto keluarga besar Pura Mangkunegaran.


Yak, Pura Mangkunegaran ini secara keseluruhan memang memiliki konsep arsitektur yang unik, memadukan unsur Jawa dan juga unsur Eropa di dalam ornamen interior bangunan. Bangunan Pura Mangkunegaran ini masih sangat terawat dan cukup bersih. Kesan sebuah bangunan istana yang sederhana pada bagian eksteriornya namun terlihat mewah dan elegan pada bagian interiornya dapat Anda rasakan di Pura Mangkunegaran ini.

keterangan :
Pura Mangkunegaran buka setiap hari dari pukul 08.30 sampai dengan pukul 14.00
Tiket masuk wisatawan domestik Rp 10.000,00
untuk biaya guide kita beri seikhlasnya

Kamis, 04 April 2013

Tersihir Kecantikan Museum Ullen Sentalu


Udara sejuk siap menyambut kedatangan kita di Museum Ullen Sentalu ini. Museum yang terletak di kawasan Kaliurang ini memiliki keunikan baik dari segi arsitektur bangunan maupun dari koleksi yang ada di dalamnya. Perpaduan konsep arsitektur gothic ala Eropa pada bangunannya, dipadukan dengan koleksi peninggalan dari Dinasti Mataram yang memiliki nuansa budaya Jawa yang kental pasti membuat decak kagum bagi siapa saja yang datang mengunjungi Museum Ullen Sentalu ini.


Memasuki pintu masuk museum, kita serasa diajak untuk merasakan salah satu scene adegan dalam film The Chronicles of Narnia, di mana kita akan merasakan adegan seolah-olah masuk ke dalam sebuah almari kayu, kemudian keluar di dalam sebuah hutan yang sangat lebat dan terasa cukup lembab.
Seorang pemandu mengantarkan kita menyusuri jalan setapak bebatuan menuju ruang pertama yang diberi nama Goa Selo Giri. Goa buatan ini memiliki keuinikan sendiri dari segi desain arsitekturnya. Menerapkan bangunan yang ramah terhadap lingkungan, pembuatan bangunan ini sama sekali tidak menebang pohon yang sudah tumbuh dengan rindang. Alur bangunan pun sengaja dibuat mengikuti alur pepohonan sehingga tidak mengganggu habitat mereka. Di bangunan bawah tanah ini kita akan disuguhi koleksi seperangkat gamelan, lukisan-lukisan, serta foto-foto dan juga silsilah keluarga dari keluarga Dinasti Mataram yang kini pecah menjadi empat kerajaan, meliputi Yogyakarta, Surakarta, Pakualaman, dan Mangkunegaran. Ada sebuah koleksi lukisan yang cukup menarik di Goa Selo Giri ini. Lazimnya koleksi lukisan yang dimiliki oleh kraton pasti ada sebuah lukisan tiga dimensi di mana pada bagian mata jika kita amati dengan penuh konsentrasi seolah-olah sedang mengamati gerak-gerik kita saat berjalan.


Memasuki ruangan berikutnya, kita akan diajak memasuki ruangan Tineke yang berisi sajak, syair, dan beberapa surat dari Tineka yang ditulis dengan tangan, baik menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa Belanda. Koleksi ini menggambarkan perkembangan syair dan sastra dalam Dinasti Mataram. Beralih ke ruangan berikutnya, kita akan diajak memasuki sebuah ruangan yang berisikan koleksi kain batik yang bercorakkan gaya Yogyakarta, Surakarta, bahkan batik pesisiran yang berkembang di kawasan utara Jawa. 


Museum Ullen Sentalu ini memiliki sebuah ruangan khusus yang menyimpan koleksi barang-barang milik Gusti Nurul Koesoemawardhani yang diberi nama Ruang Putri Dambaan. Gusti Nurul merupakan putri tercantik keturunan Dinasti Mataram. Beliau memiliki hobi berkuda, hobi yang tidak lazim bagi perempuan pada zamannya. Gusti Nurul merupakan orang pertama dari Dinasti Mataram yang menolak adanya poligami di dalam sebuah rumah tangga. Menurut pandangan saya, kecantikan dan sikap tegas yang dimiliki oleh Gusti Nurul ini seolah sebagai inspirasi setiap sudut dari bangunan Museum Ullen Sentalu ini. Hal ini dapat saya simpulkan dari penjelasan sang guide yang sedari awal tour selalu menampilkan sosok Gusti Nurul dalam setiap penjelasan koleksi yang ada di Museum Ullen Sentalu ini.



Di tengah-tengah tour, sang guide mempersilahkan kita untuk beristirahat di dalam sebuah ruangan. Kita akan disuguhi segelas minuman herbal dengan ramuan yang dirahasiakan. Konon, minuman yang memiliki  rasa manis dan memberikan rasa hangat pada tenggorokan ini berkhasiat mengembalikan stamina dan membuat awet muda. Usai beristirahat dan mencicipi minuman tradisional dengan resep yang dirahasiakan, pengunjung kembali diajak untuk memasuki ruangan yang diberi nama Sasana Sekar Buwana. Ruangan ini berisi lukisan prosesi tarian Bedhoyo Ketawang yang dianggap sebagai salah satu tarian sakral dalam Kerajaan Mataram. Ada pula sebuah patung wanita dengan tata rias pengantin Jawa yang terlihat sangat anggun. 


Di akhir tour, kita diajak untuk menyusuri taman-taman cantik yang semakin menambah keanggunan bangunan. Selain keunikan koleksi dan juga arsitektur bangunan, menikmati koleksi Museum Ullen Sentalu terasa tidak membosankan karena adanya seorang guide yang interaktif menjelaskan setiap display dari koleksi yang dipamerkan. Sebagai akhir perjumpaan, pengunjung akan diajak untuk memasuki toko souvenir yang berada di dalam kompleks museum. Anda dapat berbelanja batik dengan segala macam pernak-perniknya atau hanya sekedar melihat-lihat koleksi yang dijual. Bagi Anda yang gemar berwisata kuliner, di Museum Ullen Sentalu ini terdapat sebuah restoran yang bernama Beukenhof yang menyediakan masakan ala western yang siap memanjakan lidah Anda. So, siapa bilang berkunjung ke museum itu adalah hal yang membosankan?

keterangan :
  • Museum Ullen Sentalu terletak di Jalan Boyong, Taman Wisata Kaliurang, telp (0274) 895161, 895131
  • Jam buka : hari Selasa sampai dengan hari Minggu dari pukul 09.00 – 16.00 WIB
  • Tiket masuk Rp 25.000,00 untuk wisatawan domestik dan 5 USD untuk wisatawan mancanegara
  • Tidak semua bagian di dalam Museum Ullen Sentalu ini diperkenankan untuk dipotret, hanya beberapa tempat saja yang diperbolehkan


Minggu, 20 Januari 2013

Museum Manusia Purba Sangiran - The Homeland of Java Man

Deretan koleksi fosil tengkorak manusia yang tertata rapi dengan umur ratusan tahun, menimbulkan decak kagum sekaligus kesan mengerikan bagi siapa saja yang melihatnya. Museum Manusia Purba Sangiran, siap mengajak Anda berpetualang menikmati era pra-sejarah dari masa silam.



Sepasang gading raksasa yang menjulang ke atas siap menyambut kita di pintu gerbang pintu masuk  Museum Manusia Purba Sangiran ini. Museum Manusia Purba Sangiran merupakan sebuah museum yang memiliki koleksi fosil manusia purba yang lengkap, baik di Asia bahkan di dunia. Museum yang memiliki moto the homeland of java man ini memberikan sajian informasi yang sangat lengkap mengenai kehidupan manusia purba, mulai dari habitat tempat mereka tinggal, pola kehidupan pada masa itu, binatang yang hidup pada jaman purba, hingga peralatan yang digunakan pada masa berburu dan meramu. Museum ini juga memaparkan proses terjadinya bentang alam dari masa Pliosen Akhir hingga akhir Pliestosen Tengah atau sekitar 2 juta tahun yang lalu.



Museum Manusia Purba Sangiran sendiri terletak di dalam kawasan Kubah Sangiran. Kawasan Kubah Sangiran sendiri terletak di kawasan Depresi Solo, memiliki luas sekitar 56 kilometer persegi di kaki Gunung Lawu, di sekitar lembah Sungai Bengawan Solo. Secara administratif, Museum Manusia Purba Sangiran ini berada di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Memiliki jarak tempuh sekitar 40 km dari arah Kota Sragen, atau sekitar 17 km dari arah Kota Solo. Museum Manusia Purba Sangiran sendiri memiliki koleksi fosil lebih dari 13.809 fosil, di mana sekitar 2.934 di antaranya dipamerkan di ruang pameran museum, dan sebagian lainnya masih disimpan di dalam gudang penyimpanan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. Sebagian fosil-fosil manusia purba Sangiran ini disimpan di Museum Geologi Bandung dan juga Museum Palaenthropologi Yogyakarta. Tak heran jika koleksi fosil pada jaman purba yang sebanyak ini menjadikan Museum Manusia Purba Sangiran merupakan salah satu museum manusia terlengkap di Asia bahkan di dunia. Keunikan dan kelengkapan koleksi di museum ini menjadikan Museum Manusia Purba Sangiran dinobatkan menjadi salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO sebagai World Heritage List (nomor 593, dokumen WHC-96/Conf.201/21) pada tahun 1996.



Kawasan Sangiran sendiri memiliki keistimewaan. Menurut para ahli geologi, dahulu wilayah Sangiran merupakan kawasan lautan yang cukup luas. Namun, karena proses geologi dan juga akibat dari letusan beberapa gunung seperti Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu, kawasan Sangiran akhirnya berubah menjadi daratan. Hal ini mengakibatkan Sangiran memiliki lapisan tanah yang berbeda dengan kawasan-kawasan di sekitarnya. Secara ilmiah dapat dijelaskan dengan ditemukannya fosil-fosil binatang laut yang berada di lapisan tanah paling bawah yang menandakan bahwa dahulu kawasan ini memang berupa lautan. Tak heran jika Sangiran menjadi salah satu situs yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang antropologi, arkeologi, bologi, palaentologi, geologi, dan juga dalam bidang kepariwisataan. Keberadaan Sangiran sebagai salah satu tempat ditemukannya fosil manusia purba tidak bisa dilepaskan penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli paleoantropologi yang bernama Gustav Heinrich von Koenigswald pada tahun 1934. Penemuan pertama adalah fosil manusia purba berjenis Pithecanthropus Erectus atau biasa disebut dengan manusia Jawa.



Museum Manusia Purba Sangiran ini memiliki arsitektur bangunan yang cukup modern dan sentuhan gaya tradisional pada beberapa sudut bangunannya. Museum ini memiliki beberapa fasilitas, antara lain adalah ruang pameran (ruang display), ruang laboratorium untuk melakukan kegiatan konservasi terhadap fosil-fosil yang ditemukan, ruang pertemuan, ruang display bawah tanah, ruang audio visual, serta ruang penyimpanan. Ruang pameran sendiri terdiri dari tiga ruangan, yaitu ruang pamer kekayaan Sangiran, ruang pamer langkah-langkah kemanusiaan, dan ruang pamer masa keemasan Homo Erectus.




Secara umum, Museum Manusia Purba Sangiran memiliki koleksi fosil seperti fosil manusa purba yang terdiri dari berbagai jenis seperi Australopithecus Africanus, Pithecanthropus Mojokertensis, Meganthropus Palaeojavanicus, Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis, Homo Neanderthal Eropa, Homo Neanderthal Asia serta Homo Sapiens. Data yang menarik adalah mengenai manusia purba jenis Homo Erectus yang ditemukan di wilayah Sangiran ini berjumlah sekitar lebih dari 100 individu. Angka ini mewakili sekitar 65% dari seluruh fosil manusia purba jenis Homo Erectus yang ditemukan di Indonesia atau sekitar 50% dari total fosil manusia purba sejenis di dunia. Tak heran jika kawasan Sangiran sangatlah penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, baik dalam kancah nasional maupun internasional. Selain koleksi fosil manusia purba, museum ini juga memiliki koleksi fosil-fosil binatang yang hidup pada jaman purba baik hewan verteberata hingga cangkang molusca. Beberapa fosil hewan verteberata antara lain adalah fosil gajah purba, harimau, babi, badak, sapi, banteng, rusa serta domba. Ada pula fosil binatang air seperti buaya, ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, kuda nil, dan juga kura-kura serta berbagai macam molusca. Selain itu ada pula beberapa batuan yang ditemukan seperti batuan meteorit/taktit, kalesdon, diatome, agate, dan ametis.



Salah satu koleksi Museum Manusia Purba Sangiran yang membuat saya berdecak kagum adalah alat-alat yang digunakan oleh manusia purba pada jaman berburu dan meramu. Koleksi alat-alat tersebut berupa serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu, dan juga kapak perimbas-penetak. Kenapa saya tertarik dan kagum? Alat-alat untuk berburu dan meramu pada masa manusia purba ini mengingatkan saya pada pelajaran sejarah sewaktu masih duduk di sekolah dasar dulu, dan kini ketika saya duduk di bangku kuliah barulah saya melihat benda tersebut secara langsung.



Hingga saat ini Museum Manusia Purba Sangiran masih terus melakukan tahap pembangunan. Rencana ke depan, Museum Manusia Purba Sangiran ini akan mengintegrasikan bagian display museum dengan kawasan lapangan tempat dilakukannya penelitian serta pencarian fosil-fosil manusia purba, sehingga untuk ke depan setiap pengunjung yang selesai mengelilingi museum dapat melanjutkan perjalanan menuju lapangan untuk melihat secara langsung bagaimana proses pencarian fosil-fosil manusia purba ini. Berbeda dengan rata-rata museum yang ada di Indonesia yang memiliki kesan menyeramkan bahkan juga membosankan, Museum Manusia Purba Sangiran ini memiliki sarana dan prasarana yang sangat lengkap dan juga modern. Display pada museum dibuat secara interaktif dengan memanfaatkan teknologi masa kini sehingga tidak menimbulkan kesan membosankan dan juga menyeramkan.


Walau lokasinya cukup terpencil, namun museum yang satu ini cukup ramai oleh kunjungan wisatawan, baik turis domestik maupun turis asing. Bahkan, ada beberapa kawan dari luar negeri yang berasal dari komunitas seperti couchsurfing maupun mahasiswa asing yang belajar di Indonesia merelakan waktu mereka jauh-jauh untuk berkunjung ke Museum Manusia Purba Sangiran untuk melihat langsung penemuan fosil manusia purba yang sangat bersejarah ini. Tidak diragukan lagi jika keberadaan Situs Sangiran ini sangat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya yang mempelajari kehidupan manusia pada jaman pra sejarah karena situs ini memiliki koleksi yang sangat lengkap, mulai dari fosil manusia purba, hasil-hasil budaya manusa pada jaman pra sejarah, fosil-fosil flora dan fauna, hingga gambaran stratifikasinya. Situs Sangiran memang sebuah warisan sejarah, baik bagi Indonesia maupun bagi dunia.




Bangunan Menara Pandang
Eitss. . . selesai menjelajahi koleksi Museum Manusia Purba Sangiran jangan lupa untuk sejenak mampir di  menara pandang yang lokasinya tidak jauh dari museum. Dari menara pandang ini kita dapat melihat pemandangan alam yang membentang di sekitar museum, mulai dari pemandangan persawahan, deretan hutan dan perbukitan, serta bagian dari bangunan museum yang sekilas mirip seperti tumpeng. Di bagian depan menara pandang ini terdapat bangunan berbentuk joglo khas rumah adat Jawa Tengah. Tempat ini merupakan Wisma Sangiran yang biasanya digunakan oleh para peneliti yang membutuhkan tempat penginapan. Pilihan kamar pun cukup beragam, mulai dari duluxe room hingga standart room. Bagi Anda yang tertarik untuk menginap, penginapan yang berada persis di depan menara pandang ini dapat Anda jadikan pilihan untuk menginap.

keterangan :

Jam kunjung museum :
hari Selasa - Minggu pukul 08.00 - 16.00 WIB
hari Senin libur/tutup
hari Jumat istirahat mulai pukul 11.30 - 12.30 WIB

Harga Tiket :
wisatawan domestik : Rp 5.000,00 / orang
wisatawan mancanegara : Rp 11.500,00 / orang
pemutaran film : Rp 60.000,00 / rombongan
(data bulan Desember 2012 - Januari 2013)

Fasilitas :
selain ruang display untuk memamerkan koleksi, Museum Manusia Purba Sangiran sudah dilengkapi beberapa failitas seperti toilet umum, mushola, kios makanan, serta kios cindera mata.

cara menuju Museum Manusia Purba Sangiran :

  1. Jika Anda menggunakan kendaraan umum, dari Kota Solo cari saja bus tujuan ke Purwodadi, lalu turun di pertigaan Kalijambe, lanjut menggunakan jasa ojek motor untuk sampai ke lokasi museum.
  2. Pintu gerbang kedua adalah melalui Kota Sragen, karena jalur ini merupakan jalur yang paling mudah untuk dapat sampai ke lokasi. Anda dapat menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil/motor. Jika menggunakan kendaraan umum, cari saja angkutan menuju daerah Gemolong, dilanjutkan dengan bus kecil tujuan ke Solo, turun di pertigaan Kalijambe, lanjut menggunakan jasa ojek motor.