Selasa, 23 Juli 2013

Mengelilingi Tempat-Tempat Bersejarah ala Surabaya Heritage Track

Tidak lengkap rasanya mengunjungi Museum House of Sampoerna tanpa mengikuti tour yang diselenggarakan oleh Surabaya Heritage Track. Surabaya Heritage Track merupakan fasilitas yang diberikan oleh House of Sampoerna secara gratis untuk berkeliling menikmati tempat-tempat bersejarah di Kota Surabaya menggunakan sebuah bus khusus. Siapa pun dapat menikmati tour ini secara gratis, dengan terlebih dahulu mendaftar di Tracker Information Center yang terletak di sebelah A Cafe di kompleks House of Sampoerna.


Beruntung sore itu saya dan Kak Anna dapat mengikuti tour yang diadakan oleh Surabaya Heritage Track. Pukul 14.35 kami bergegas untuk mendaftar di bagian Tracker Information Center untuk mengikuti tour pada pukul 15.00. Seorang pemandu yang cukup ramah menemani kita sepanjang perjalanan sambil menceritakan sejarah tempat-tempat yang kita lewati sepanjang tour. Pada saat weekend, tour yang diadakan termasuk ke dalam long trip dengan durasi waktu sekitar 1.5 sampai 2 jam perjalanan. Dari House of Sampoerna, bus melaju menyusuri bangunan penjara Kalisosok yang terkenal cukup menyeramkan. Bangunan yang berdiri sejak tahun 1850 ini dahulu digunakan untuk tempat para tahanan sejak jaman penjajahan Belanda. Namun, sejak tahun 2001, penjara tersebut dikosongkan dan para tahanan dipindahkan ke Lapas Porong. Bangunan ini pun kosong dan hanya terlihat grafiti-grafiti yang menghiasi dinding pagar bangunan penjara ini.


Rute berikutnya adalah melewati Jalan Rajawali hingga daerah Jembatan Merah yang terkenal dengan gedung-gedung tua peninggalan jaman Belanda yang hingga kini beberapa dari bangunan tersebut digunakan sebagai gedung perkantoran. Hal unik yang saya ingat adalah bangunan hotel Ibis yang sebagian menggunakan bekas gedung peninggalan Belanda yang dahulu merupakan kantor perusahaan perkebunan terbesar di Indonesia, sehingga kesan bangunan klasik modern terlihat dari eksterior bangunan tersebut.


Pemberhentian pertama adalah Kantor Polwiltabes Surabaya. Dahulu gedung ini merupakan Kantor Dinas Intelijen Politik pemerintah Belanda. Kemudian pada masa pendudukan Jepang dialihkan menjadi markas Pasukan Polisi Istimewa Kotabesar Surabaya. Menurut penuturan sang guide, konon bangunan Kantor Polwiltabes Surabaya ini memiliki lorong bawah tanah yang menghubungkan dengan penjara Kalisosok. Perjalanan kemudian dilanjutkan menyusuri jalan-jalan protokol di Kota Surabaya yang penuh dengan bangunan-bangunan tua. Saya tidak terlalu mengingat semua, hanya satu bangunan yang cukup mudah saya ingat, yaitu bangunan Hotel Majapahit di daerah Tunjungan. Dahulu hotel yang berama Oranje dan berubah nama menjadi Hotel Yamato pada masa pendudukan Jepang ini menjadi saksi perjuangan arek-arek Suraboyo pada insiden bendera di menara gedung untuk mempertahankan kedaulatan kemerdekaan Indonesia.




Di tengah-tengah perjalanan, sang pemandu pun menjelaskan bahwa dahulu Surabaya juga memiliki daerah-daerah kraton. Hingga kini peninggalan kraton yang masih bisa dinikmati adalah deretan perkampungan dengan bangunan tua juga sebuah gang kecil yang diberi nama gang "kraton". Laju bus Surabaya Heritage Track pun menuju ke arah gedung Balaikota Surabaya. Di sini peserta pun dipersilahkan turun untuk berkeliling menikmati bangunan gedung ini selama kurang lebih 15 menit. Tidak banyak sudut bangunan yang saja jelajahi, hanya saja bagian lorong-lorong ruangan kantor Balaikota Surabaya ini sekilas mirip dengan gedung rektorat kampus biru di Jogja sepengamatan mata saya.



Tour pun berlanjut menuju Taman Budaya Jawa Timur, atau biasa disebut dengan Gedung Seni Cak Durasim. Cak Durasim merupakan tokoh seniman asal Jawa Timur yang menggeluti seni ludruk. Sore itu banyak anak-anak yang sedang berlatih seni tari di bagian bangunan pendopo. Saya pun mencoba memotret anak-anak tersebut. Lucu saja setelah saya melihat hasilnya, ada seorang anak yang cukup sadar dengan kamera. Ya, senyum anak-anak memang selalu terlihat tulus, pun demikian ketika senyuman tersebut dibidik dengan sebuah kamera.

Setelah sejenak berhenti di Taman Budaya Jawa Timur, perjalanan pun berakhir. Saya beserta rombongan kembali ke dalam bus untuk kembali ke House of Sampoerna. Satu hal yang menjadi perhatian saya dalam perjalanan pulang sore itu, yaitu tata kota Surabaya yang sangat bagus, bangunan peninggalan jaman kolonial yang masih terjaga dengan baik serta kebersihan Sungai Kalimas yang membelah Kota Surabaya yang patut diacungi jempol. Ya, hampir jarang saya menemukan sungai dengan aliran airnya yang bebas dari sampah. Bahkan, ada sebuah taman bermain yang dibangun tepat di pinggir sungai. Baik sungai maupun tamannya nampak bersih sehingga tak heran jika banyak warga Surabaya yang terlihat menghabiskan sore mereka bersantai di taman tepi sungai ini.

keterangan :

  • Surabaya Heritage Track beroperasi dari hari Selasa sampai dengan Minggu, hari Senin libur.
  • hari Selasa - Kamis diadakan tour pendek dengan durasi waktu 1 - 1,5 jam perjalanan.
  • hari Jumat, Sabtu, Minggu diadakan tour panjang dengan durasi waktu 1,5 - 2 jam perjalanan.
  • jadwal tour Surabaya Heritage Track pukul 09.00 ; 13.00 dan 15.00

Jumat, 19 Juli 2013

SUASANA MALAM PUNCAK HUT KOTA SABANG KE 48 TAHUN 2013

Sudah lama rasanya tidak memposting lagi artikel maupun info tentang Kota Sabang. Nah kali ini saya ingin berbagi video yang sempat direkam oleh kawan saya saat peragaam Malam Seni pada HUT Kota Sabang yang ke 48 yang berlangsung di Lapangan Playground di Depan Sabang Plaza Kota Sabang.

Mudah-mudahan kedepan bisa lebih ruitin memposting tentang Kota Sabang agar kota tercinta ini lebih dikenal di dunia maya. Salam Kompak dari Blogger Pemula untuk Pembaca sekalian.Silahkan disimak Video Berikut :

Rabu, 17 Juli 2013

Legomoro - Jajanan Berfilosofi dari Kotagede

Kotagede memang dikenal sebagai sentra kerajinan perak di Yogyakarta. Selain perak, tempat ini juga dikenal sebagai "kota tua"nya Jogja karena masih menyimpan banyak bangunan kuno yang memiliki corak khas arsitektur Jawa yang hingga kini masih terjaga keberadaannya. Tak hanya perak dan juga bangunan tuanya, Kotagede juga memiliki beberapa makanan tradisional yang hingga kini masih dapat kita temukan.


Tak hanya kipo yang rasanya manis gurih, Kotagede juga memiliki jajanan pasar yang bernama legomoro. Melihat komposisi bahannya, legomoro ini hampir serupa seperti lemper, namun memiliki ukuran yang lebih kecil. Bahan pembuatan legomoro terdiri dari campuran beras ketan, santan, dan cacahan daging. Beras ketan yang sudah dimasak dengan santan kemudian dibungkus dengan daun pisang dan diberi cacahan daging di bagian tengah adonan. Adonan tersebut kemudian dibungkus dengan daun pisang, dibentuk segi empat memanjang, dan diikat dengan tali bambu, lalu dikukus sampai matang. Di dalam penyajiannya, satu ikat tali bambu ini biasanya terdiri dari tiga atau empat buah legomoro.



Legomoro sendiri memiliki cita rasa yang dominan gurih, perpaduan antara campuran santan dan cacahan daging yang diberikan bumbu-bumbu khusus. Makanan ini memiliki filosofi yaitu ketika kita datang ke sebuah acara harus dengan hati yang ikhlas / lega. Filosofi ini diambil dari nama makanan tersebut yaitu dari penggalan kata lego (lega/ikhlas) dan moro (datang). Maka tak heran jika makanan ini biasanya disajikan di dalam acara-acara khusus seperti upacara adat maupun dalam acara hajatan. Tak harus menunggu adanya acara hajatan karena jajanan legomoro ini kini dapat Anda temukan di Pasar Kotagede, terutama di lapak-lapak penjual jajanan pasar. Satu tangkup legomoro dijual dengan kisaran harga Rp 2.000,00 sampai Rp 3.500,00, cukup murah bukan?

Sabtu, 13 Juli 2013

Museum House of Sampoerna Surabaya

Sebuah destinasi perjalanan, terkadang tak selamanya seperti apa yang telah kita rencanakan.


Hujan gerimis menyambut kedatangan saya di Terminal Bus Probolinggo. Satu jam perjalanan menuruni daerah Bromo menggunakan bison yang cukup sesak dengan penumpang. Saya berencana melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Malang, namun tawaran mengunjungi Museum House of Sampoerna pun merubah rute perjalanan saya, hingga akhirnya saya memilih untuk singgah ke Kota Surabaya.

Gedung-gedung tua seolah menyambut kedatangan saya di salah satu sudut Kota Surabaya. Letak Museum House of Sampoerna ini tak jauh dari kawasan Jembatan Merah, kawasan "kota tua" di Surabaya. Di kawasan ini masih banyak bangunan peninggalan jaman Kolonialisme Belanda yang hingga kini masih dimanfaatkan keberadaannya. Salah satu bangunan yang cukup terkenal di kawasan ini adalah Penjara Kalisosok yang kini sudah tidak digunakan lagi.


Becak yang saya naiki pun tiba di sebuah pintu gerbang. Gedung tua yang terlihat masih megah dengan taman-taman yang tertata rapi pun seolah menyambut saya di kompleks gedung House of Sampoerna ini. Setelah bertanya kepada petugas, saya pun dipersilahkan masuk ke bangunan tengah yang memiliki empat buah pilar yang cukup megah berbentuk seperti rokok. Di sanalah kita dapat melihat koleksi barang yang dipamerkan di dalam Museum House of Sampoerna. 



Penjaga museum yang berusia masih muda akan membukakan pintu menyambut setiap tamu yang hadir dengan senyuman. Aroma cengkeh dan tembakau pun menyerebak di ketika kita memasuki ruangan Museum House of Sampoerna ini. Museum House of Sampoerna menempati bangunan tua buatan tahun 1864 yang memiliki dua buah lantai. Lantai pertama berfungsi sebagai ruang pamer dan lantai kedua berfungsi sebagai tempat penjualan souvenir. Bangunan di lantai pertama terdiri dari tiga buah ruangan. Ruangan pertama berisi replika sebuah warung sederhana bernuansa ndeso milik pendiri PT Sampoerna, yaitu Liem Seeng Tee dan istrinya, Siem Tjiang Nio. Replika warung sederhana tersebut lengkap berisi stoples makanan, keranjang buah-buahan, serta cengkeh dan tembakau sebagai cikal-bakal perusahaan rokok ini. Di depan replika warung teronggok tembakau dari berbagai daerah, mungkin inilah sumber bau yang menyerbak ke seluruh ruangan. Tembakau-tembakau terbaik dari berbagai daerah inilah yang kemudian akan diolah menjadi produk rokok keluaran Sampoerna. Salah satu onggokan tembakau tersebut berasal dari daerah Temanggung yang memang terkenal dengan kualitas tembakaunya yang super.



Beranjak ke koleksi selanjutnya terdapat dua buah sepeda tua yang digunakan pendiri Sampoerna untuk berdagang ketika masih muda. Sepeda tersebut memang memiliki nilai historis yang tinggi bagi pemiliknya. Merekalah saksi bisu perjuangan Liem Seeng Tee kecil yang memulai hidup mandiri dengan bekerja keras semenjak masih kecil. Di ruangan ini juga dipamerkan replika tempat penyimpanan tembakau, alat pengolah tembakau sederhana. Di bagian kanan ruangan menampilkan properti ruang kerja, properti ruang keluarga Liem Seeng Tee selama menjalankan perusahaannya. Ada pula koleksi kebaya serta foto keluarga dari masa ke masa.



Ruangan kedua lebih banyak berisi koleksi foto-foto keluarga serta direksi PT HM Sampoerna dari masa ke masa. Di ruangan ini juga dipamerkan sebuah buku mengenai tembakau. Ada pula barang-barang seperti koleksi alat pemantik rokok dengan berbagai macam bentuk. Lanjut ke ruangan ketiga, kita akan diperkenalkan dengan alat dan bahan untuk meracik rokok. Campuran bahan untuk membuat rokok memang cukup rumit sehingga dapat dihasilkan sebuah rokok dengan aroma serta cita rasa yang enak. Ada pula replika warung rokok yang sering kita temui di pinggir-pinggir jalan pada jaman tahun 90-an sampai awal tahun 2.000-an. Merekalah ujung tombak penjualan rokok keluaran pabrik Sampoerna. Di ruangan ini kita juga diperkenalkan dengan produk-produk rokok produksi Sampoerna, baik yang dipasarkan di Indonesia maupun yang sudah mendapatkan lisensi di beberapa negara.


Koleksi unik lainnya adalah peralatan marching band yang dipamerkan di museum ini. Marching band binaan Sampoerna ini memiliki prestasi hingga dunia internasional. Namun sayang, semenjak Desember 1991 kegiatan marching band binaan Sampoerna ini resmi dihentikan. Kita dapat menikmati rekam jejak marching band  binaan Sampoerna ini lengkap dari layar monitor sentuh yang disediakan.

Lantai kedua Museum House of Sampoerna merupakan tempat penjualan marchendise Sampoerna. Dari ruangan ini kita juga dapat melihat kegiatan para pekerja pabrik yang sedang melinting rokok, di mana rata-rata pekerja pelinting rokok adalah kaum perempuan. Kecepatan mereka dalam melinting rokok sangat luar biasa. Dalam waktu satu jam mereka dapat melinting sekitar 325 buah batang rokok. Bisa dibayangkan kecepatan mereka dalam melinting batang rokok? Namun sayang, di lantai dua ini kita tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar.

Secara keseluruhan Museum House of Sampoerna ini memang sangat recomended untuk dikunjungi. Selain memiliki koleksi yang menarik, tata ruang, hingga display museum pun dibuat cukup apik. Well, Museum House of Sampoerna merupakan salah satu museum milik swasta yang menarik selain Museum Batik Danar Hadi di Solo yang pernah saya kunjungi. Keunikan lain dari museum ini adalah jam bukanya yang setiap hari bahkan hingga malam hari. Bagi Anda yang sedang berkunjung di Kota Surabaya, tak ada salahnya untuk mampir sejenak ke Museum House of Sampoerna ini.

keterangan :

  • Museum House of Samperna buka dari hari Senin sampai Minggu dari pukul 09.00 sampai 22.00 WIB dengan tarif masuk gratis
  • alamat museum : Taman Sampoerna No 6, Krembangan, Pabean Cantikan, Surabaya
  • telepon : +6231 353 9000 fax : +6231 353 9009 
  • website : www. houseofsampoerna.museum
  • fasilitas : toilet umum, ruang pamer galeri seni, rumah makan (a cafe)
  • Cara menuju Museum House of Sampoerna ini cukup mudah. Dari Terminal Purabaya langsung cari bus kota tujuan Jembatan Merah Plaza. Dari Jembatan Merah Plaza dapat dilanjutkan dengan becak maupun berjalan kaki. Tarif bus kota Purabaya - Jembatan Merah Plaza : Rp 4.500,00 sedangkan becak dari Jembatan Merah Plaza menuju Museum House of Sampoerna : Rp 10.000,00 (data Juni 2013)

Jumat, 05 Juli 2013

Bromo, Lukisan Pagi dari Sang Hyang Widhi

Lembabnya udara pagi yang berkumpul menjadi embun, berpadu dengan syahdunya desiran suara angin gunung yang menggema. Aktivitas di Bromo memang bisa dikatakan sedikit tidak biasa. Kehidupan dimulai ketika waktu menunjukkan pukul tiga pagi, di mana setiap orang mulai terlelap dalam tidur nyenyaknya. Di saat itulah justru kehidupan di Bromo mulai menggeliat, di mana orang-orang bersiap keluar menembus dinginnya udara gunung demi mengejar terbitnya matahari dari ufuk timur.


Menjelang pukul tiga pagi suasana homestay yang saya tinggali pun terdengar cukup riuh. Suara bapak-bapak mengetok-ngetok pintu kamar dibarengi seruan dengan suara yang cukup nyaring mencoba membangunkan setiap tamu yang sedang menikmati peraduan. Suara panggilan tersebut tidak saya hiraukan, walau sempat mengganggu ketenangan istirahat saya. Sengaja memang, kedatangan saya ke Bromo kali ini khusus untuk menikmati acara jazz gunung, bukan untuk memburu sunrise di penanjakan.


Pukul 06.00 pagi saya pun terbangun karena sorotan sinar mentari yang masuk dari balik kaca jendela kamar. Saya pun bergegas bangun dan merapikan jaket yang saya kenakan. Tak perduli dengan muka bantal karena belum cuci muka maupun sikat gigi. Boro-boro cuci muka, membayangkan dinginnya air saja sudah membuat saya bergidik terlebih dahulu. Saya bergegas keluar dari penginapan untuk menuju view Gunung Batok dan Gunung Bromo.

Langit biru, embun pagi, udara segar khas pegunungan, serta hawa dingin yang mencoba menembus kulit menyambut saya pagi itu ketika keluar dari penginapan. Ah, menyenangkan sekali kembali dapat menikmati udara pagi khas pegunungan seperti ini. Tak berapa lama berjalan saya pun tiba di lokasi untuk melihat pemandangan Gunung Batok dan Gunung Bromo yang saling bersebelahan.


Sungguh sempurna lukisan Sang Hyang Widhi pagi ini. Gunung Bromo yang terlihat mengeluarkan asap, Gunung Batok yang terlihat menghijau, kabut pagi yang tebal menutupi bagian lautan pasir pada bagian bawah, dipadu dengan birunya langit. Sungguh indah, sebuah pemandangan yang begitu sempurna dari Gunung Bromo memasuki musim kemarau.


Usai mengambil gambar, pandangan saya pun tertuju pada pohon cemara yang berada tak jauh dari tempat saya berdiri mengamati keindahan Gunung Bromo pagi ini. Terlihat embun pagi yang membeku perlahan mencari terpapar hangatnya sinar matahari pagi. Cantik ! Sulit untuk saya ungkapkan dengan kata-kata lukisan dari Sang Hyang Widhi pagi itu.


Tak lama memang saya mengamati keindahan Gunung Bromo dari samping penginapan. Saya pun bergegas kembali ke penginapan untuk membereskan barang-barang. Lalu lalang kendaraan cukup ramai melintasi jalanan di depan penginapan. Ada hal yang unik di antara ramainya kendaraan yang lalu-lalang. Sekumpulan bapak-bapak satu per satu menuntun kuda, menuruni bukit melalui jalan setapak menuju lautan pasir untuk mencoba peruntungan menyewakan jasa kuda-kuda kesayangan mereka. Tidak bisa saya bayangkan betapa curamnya bukit tersebut untuk dituruni. Entah, sepertinya jalan setapak tersebut memiliki jarak tempuh lebih dekat untuk segera menuju lautan pasir barangkali.

Kamis, 04 Juli 2013

Solo Batik Carnival 2013 - Meriah, Namun Kurang Greget

Bulan Juni 2013 cukup banyak festival yang digelar di beberapa kota, bahkan dengan waktu penyelenggaraan yang hampir serentak. Tanggal 29 Juni kemarin terdapat dua buah event yang diadakan bersamaan di dua tempat yang berbeda, yaitu Solo Batik Carnival dan Dieng Culture Festival. Well, berhubung jarak Jogja dan Solo cukup dekat, kali ini saya memilih untuk menikmati sajian Solo Batik Carnival.


Solo Batik Carnival merupakan acara budaya yang diselenggarakan setiap tahun dan menjadi salah satu agenda wisata Kota Surakarta. Acara ini menampilkan kreativitas terutama di dalam bidang fashion. Mengambil lokasi menyusuri sepanjang Jalan Slamet Riyadi sebagai arena catwalk untuk memamerkan rancangan busana bernuansa batik yang terlihat wah. Solo Batik Carnival tahun 2013 mengambil tema "Memayu Hayuning Buwana", yang terdiri dari empat unsur utama yang ada di dalam bumi ini, meliputi air, api, tanah, dan udara. Hal ini tercermin dari warna-warni kostum yang dikenakan peserta pada saat pawai Solo Batik Carnival.

Cukup lama saya dan kawan-kawan bercengkrama di sekitar Solo City Walk yang berada tepat di depan Taman Sriwedari menanti jalannya pawai Solo Batik Carnival. Menunggu dari pukul 12.30 siang hingga pukul 15.00 sore, belum ada tanda-tanda pawai akan segera dimulai. Kendaraan pun masih lalu-lalang melewati Jalan Slamet Riyadi. Menjelang sore warga masyarakat pun mulai berdatangan memadati sepanjang Jalan Slamet Riyadi menanti jalannya pawai Solo Batik Carnival.


Sekitar pukul 16.30 pawai pun mulai melewati depan Stadion Sriwedari dari arah Solo Center Point. Iring-iringan pawai dibuka oleh pasukan Kraton Surakarta, mengenakan seragam berwarna merah yang menyala, kemudian dilanjutkan iring-iringan peserta Solo Batik Carnival yang mengenakan pakaian yang dirancang khusus untuk acara ini. Acaranya cukup meriah, peserta didominasi sebagian besar oleh anak-anak dan remaja. Sesekali terlihat peserta yang kelelahan, mungkin karena jarak tempuh pawai dan juga panasnya kostum yang harus mereka kenakan sore itu.


Akan tetapi ada beberapa hal yang cukup disayangkan. Penonton seolah kurang diberi kesempatan untuk memotret peserta pawai dengan leluasa. Seharusnya setelah berjalan dalam jarak tertentu peserta pawai diberhentikan sebentar, mungkin sekitar 5 menit untuk memberikan kesempatan kepada para penonton yang ingin memotret. Walhasil, sore itu banyak penonton yang nekat berebutan untuk dapat memotret para peserta. Bahkan ada pula yang memaksa masuk ke dalam barisan peserta pawai untuk dapat berfoto bersama. Saya tidak menyalahkan mereka sih, karena pasti semua orang ingin mendapatkan foto yang terbaik yang mereka bisa dapatkan.


Penyelenggaraan Solo Batik Carnival tahun ini memang terkesan tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Banyak penonton yang kecewa karena arak-arakan pawai hanya berlangsung sekitar 30 menit. Peserta Solo Batik Carnival tahun ini memang jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Walhasil banyak penonton yang cukup kecewa karena mereka sudah berlama-lama menunggu pawai, namun pawai hanya berlangsung secara singkat. Kurang terasa gregetnya, pulangpun kurang memberikan kenangan yang mendalam dengan adanya event budaya ini.



Sejak awal penyelenggaraan Solo Batik Carnival 2013 ini mungkin saja kurang persiapan yang matang. Publikasi acara pun terkesan mendadak tidak dari jauh-jauh hari sebelumnya (atau mungkin saya yang kurang update informasi). Banyak kerancuan informasi yang saya dapat, mulai dari kerancuan rundown acara  antara di website resmi Solo Batik Carnival dengan artikel website surat kabar lokal di pagi hari sebelum diselenggarakannya acara. Kerancuan yang saya dapatkan mengenai perbedaan waktu dimulainya acara dan juga rute start dan finish karnaval. Demi mencari aman, akhirnya saya putuskan untuk berangkat ke Solo menggunakan kereta Prameks pada pukul 10.56. Pukul 12.00 kereta pun tiba di Stasiun Purwosari, dan akhirnya saya harus menunggu cukup lama hingga diselenggarakannya acara.


Ya, semoga saja acara Solo Batik Carnival tahun depan lebih meriah dan well organized lagi. Sayang jika acara budaya yang cukup dinantikan ini jika kurang berjalan dengan baik di dalam penyelenggaraannya.

Rabu, 03 Juli 2013

Merdunya Gunung ala Jazz Gunung 2013

Tak hanya keindahan alamnya saja yang mempesona, Bromo pun memiliki event musik tahunan yang menyajikan nuansa lain dari sebuah pagelaran musik.

Panggung musik terbuka dengan hiasan rentetan bambu sebagai latar belakangnya, dipadu dengan pemandangan perbukitan khas daerah pegunungan menyambut kedatangan para penonton yang ingin menikmati alunan musik jazz sore itu. Sinar matahari pun perlahan sirna diterjang kabut yang sesekali datang menyambut. Udara dingin yang menusuk kulit pun seolah tak menjadi penghalang bagi penikmat musik jazz untuk datang ke acara dengan suasana panggung terbuka. Semakin malam, kursi penonton di tribun pun semakin dipadati oleh para penikmat musik. Tua, muda, bahkan hingga anak-anak pun datang membaur demi menikmati alunan jazz bernuansa etnik yang dilantunkan oleh musisi ternama tanah air. 


Jazz Gunung, sebuah pagelaran musik jazz tahunan yang mengambil lokasi di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut dengan latar belakang keindahan perbukitan daerah pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Bayangkan betapa dinginnya lokasi tersebut, namun alunan musik jazz seolah menghangatkan suasana panggung di Java Banana Bromo sore hingga malam itu. Jazz Gunung tahun ini diadakan selama dua hari berturut-turut, mulai dari tanggal 21 - 22 Juni 2013. Gelaran musik Jazz Gunung tahun ini sudah menginjak tahun kelima penyelenggaraannya.

Tidak seperti pagelaran musik jazz kebanyakan dengan kesan kaku dan eksklusif, Jazz Gunung menawarkan nuansa lain dari sebuah kemasan pagelaran musik bergenre satu ini. Kesan kaku dibuat mencair dengan balutan humor dari guyonan yang dilontarkan oleh pembawa acara seperti Alit, Gundi, dan juga mas Butet Kertaradjasa. Well, walaupun saya mendapat tiket terusan dua hari, namun saya baru bisa menikmati acara di hari kedua karena ada tugas kampus yang tidak bisa saya tinggalkan.


Sebagai penampilan pembuka sore itu diisi oleh Tahez Komez, sebuah band dari Rompok Bolong Malang Jazz Community. Lagu-lagu syahdu pun mereka dendangkan, kemudian beralih membawakan lagu-lagu daerah seperti "Jaranan" yang mereka aransemen ulang. Lagu "Jaranan" mereka bawakan dengan cukup interaktif dengan penonton, menjadikan suasana cukup semarak sore itu. Penampilan selanjutnya adalah Grup Kramat Madura, sebuah grup musik tradisional asal Madura. Penampilan mereka meriah, mulai dari seragam hingga musik tradisional yang mereka bawakan.







Kulkul Band, menjadi penampil pertama pada termin berikutnya. Band yang memadukan musik jazz dengan alat musik tradisional Bali ini tampil cukup memukau dan interaktif. Ring of Fire, grup yang digawangi oleh Djaduk Ferianto, Idang Rasjidi, dan musisi cantik asal Amerika, Jen Shyu menjadi penampil berikutnya. Grup ini memadukan musik jazz dengan musik tradisional, khususnya musik tradisional Jawa, mengingat domisili grup ini berasal dari Yogyakarta. Bulan purnama perlahan datang seolah sedang mengintip keadaan, namun perlahan sirna tertutup oleh kabut gunung yang tiba-tiba datang. Alunan musik modern berpadu dengan musik tradisional yang dimainkan menghasilkan sebuah alunan harmoni yang apik dan memberikan nuansa yang segar di dalam bermusik. Seolah memberikan energi baru bagi siapapun yang berada di panggung Java Banana malam itu.


Pada termin terakhir, Rieka Roslan and band membawakan lagu-lagu dengan beat yang cukup cepat seolah "memanaskan" suasana malam yang semakin terasa dingin. Rieka Roslan membawakan lagu dengan sangat interaktif dengan penonton. Lagu-lagu baru maupun lagu lama seperti "Khayalan" seolah membius penonton untuk bernyanyi bersama. Sebagai penutup, Barry Likumahuwa Project, menampilkan musik yang tak kalah interaktif. Musik dengan hentakan beat yang asyik berhasil membius penonton untuk berdiri menari bersama mengikuti alunan musik yang dimainkan.


Well, Jazz Gunung 2013 sukses membius ratusan penonton yang memadati arena tribun. Semakin malam penonton pun semakin memadati arena festival. Tak perduli dengan dinginnya udara pegunungan Bromo-Tengger-Semeru malam itu. Semua orang pun larut dalam alunan musik Jazz Gunung 2013. Salut untuk seluruh panitia dan pemusik yang tampil dalam acara Jazz Gunung 2013 ini.


keterangan :

  • Acara Jazz Gunung ini biasanya diselenggarakan setiap tahun. Selain menikmati alunan musik jazz, Anda pun dapat menikmati keindahan alam pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Tahun depan acara Jazz Gunung direncakan akan diselenggarakan pada bulan Juni atau Juli.
  • Untuk informasi lebih lanjut dapat membuka website Jazz Gunung di sini
  • Atau Anda bisa mengikuti informasi Jazz Gunung melalui twitter @jazzgunung dan @GoProbolinggo
Thanks To :
Terima kasih kepada @jazzgunung dan @GoProbolinggo untuk tiket terusan gratis melihat acara Jazz Bromo 2013 selama dua hari :)


Selasa, 02 Juli 2013

Trip Jelajah 7 Juli 2013 - Sampuren Edelweiss


Salam Petualang,

Telapak Sumut akan kembali melakukan Trip Jelajah Alam yang ada di Sumatera Utara. Adapun Trip Jelajah pada Minggu, 7 Juli 2013 adalah sebagai berikut :

Nama Tempat   : Sampuren Edelweiss
Lokasi             : Desa Deleng Gerat, Kec. Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, Deli Serdang
Waktu             : 08.00 Wib
Titik Kumpul    : Jl. Delitua Komp.Ardagusema ( Rumah Abay dan Andika)
Contact Person : Andika (083197864730)
Dana               : Rp. 5000,-/orang (Free Stiker Telapak Sumut)

Peralatan/Perlengkapan :
  • Makanan/Minuman
  • Pakaian Ganti
  • Jas Hujan/Ponco/Mantel
  • Obat-obatan
  • dan lain-lain yang dibutuhkan

Ini bukan pertama kalinya Tim Telapak Sumut mengunjungi tempat ini. Liat kisah perjalanan sebelumnya DISINI. Bagaimana? Menarik bukan?

Tunggu apalagi, Segera Gabung dan rasakan sensasi jelajah Alam bersama Telapak Sumut.

Come Join Us

Salam Lestarii..!! ..^_^..