Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Desember 2015

Gurihnya Sate Klopo Ondomohen, Surabaya

Geliat kuliner malam di Surabaya sepertinya semakin terasa semarak ketika larut tiba. Belum sah rasanya, jika tidak menikmati makan malam kedua jika berkunjung ke Kota Pahlawan ini.

Usai menikmati kuliner di Jalan Waspada, kami bergeser menuju daerah Ondomohen atau sekarang lebih dikenal dengan nama Jalan Walikota Mustajab. Lalu lintas malam itu cukup padat dengan lalu lalang kendaraan. Ada pula yang terlihat kebingungan mencari tempat parkir kendaraan untuk menuju warung sate klopo yang terletak di kawasan ini. Kali ini saya diajak mencicipi Sate Klopo Ondomohen Ibu Asih, salah satu warung sate yang cukup legendaris di Kota Pahlawan ini.


Kepulan asap dari tungku pembakaran seolah memanggil para pembeli untuk datang mencicipi kenikmatan sajian sate yang dijajakan di warung yang terlihat sederhana ini. Benar saja, ketika kami memasuki warung sate yang terletak di Jalan Walikota Mustajab No 36 ini, sudah terlihat pembeli yang memenuhi semua bangku yang disediakan di warung ini. Belum lagi pembeli yang berjbel di depan warung sambil menanti pesanan. Kami bertiga hanya bisa celingukan melihat kondisi di dalam warung, apakah masih ada bangku kosong untuk kami tempati. Sembari menanti ada kursi kosong, kami sengaja menunggu pesanan di bagian depan kios, mengambil kursi dan duduk di bagian trotoar jalan. "Awas lho mbak nanti kena garuk Satpol PP kalau makan di trotoar!", celetuk Bu Asih yang berada di bagian depan warung sembari menunggu bagian kasir. Kami bertiga pun berhamburan dan akhirnya memilih masuk ke dalam, lalu duduk di bagian pojok warung. Iya, kebetulan hanya di bagian pojok inilah ada bangku kosong yang dapat kami tempati bertiga.



Sate Klopo Ondomohen merupakan salah satu kuliner yang cukup legendaris di Kota Surabaya. Keunikan sate ini adalah baluran bumbu kelapa parut pada daging sebelum dibakar di atas arang. Kita dapat memilih menggunakan daging ayam ataupun daging sapi sebagai sajian. Namun, menurut penuturan mbak Yanti, daging sapilah yang menjadi ciri khas dari sate Ondomohen ini. Setelah balutan daging yang dibaluri bumbu parutan kelapa tersebut dibakar, kemudian disajikan dengan campuran sambal kacang. Sebagai pendampingnya, disediakan pilihan nasi atau lontong yang diberi taburan serundeng yang menambah selera. Berhubung kami bertiga sudah hampir food coma, kami memilih untuk menyantap satenya saja tanpa tambahan nasi maupun lontong.


Cita rasa sate klopo Ondomohen ini terasa gurih. Tambahan bumbu baluran parutan kelapa memberi tekstur sedikit "krenyes-krenyes" pada sajian satenya. Dagingnya pun cukup empuk dan tidak terasa alot. Ditambah dengan sambal kacangnya yang terasa pas, tidak terlalu manis. Kita pun dapat menambah potongan cabai segar jika ingin memberi rasa pedas. Walaupun sudah hampir menjelang pukul sepuluh malam, namun pengunjung yang berdatangan ke warung ini semakin terlihat ramai. Benar kata mbak Yanti, jika orang Surabaya akan kembali mencari makan malam kedua setelah pukul sembilan malam. Hehehe...


Suasana warung sate klopo Ondomohen memang terlihat cukup sederhana. Deretan meja dan kursi panjang tertata rapi di dalam ruangan. Beberapa kipas angin besar dipasang di dalam warung untuk menghalau asap dari pembakaran sate yang masuk ke dalam ruangan. Di bagian dinding warung ini juga dihiasi dengan foto-foto para public figure di Indonesia yang pernah mampir ke warung sate ini. Sebuah warung makan sederhana yang tak hanya menjual cita rasa namun juga menghadirkan nuansa noslagia bagi pengunjung yang bersantap menikmati sajian sate kloponya.

Warung sate klopo Ondomohen buka dari pukul 06.30 pagi sampai pukul 23.30 malam. Jika Anda tidak terlalu menyukai suasana ramai dan bingung mencari tempat duduk, saya sarankan datang kemari di luar jam-jam padat seperti jam makan siang, jam pulang kerja, maupun jam makan malam. Dijamin, jika Anda datang di jam-jam tersebut harus bersabar menanti tempat duduk yang kosong untuk bisa menikmati sajian sate klopo Ondomohen ini.

Gurihnya cita rasa sate klopo Ondomohen yang unik ini menjadi penutup perjalanan rasa saya di Kota Surabaya. Ternyata, cukup banyak sajian yang memanjakan lidah di Kota Pahlawan ini yang bisa dicoba satu per satu. Mungkin suatu hari nanti saya akan kembali ke kota Pahlawan ini untuk mencoba kuliner-kuliner lain yang ciamik soro !

keterangan :
Lokasi sate klopo Ondomohen berada di Jalan Walikota Mustajab No. 36 Surabaya
buka dari pukul 06.30 pagi sampai pukul 23.30 malam
range harga : Rp 20.000,00 sampai Rp 30.000,00 (data bulan November 2015)

Senin, 28 Desember 2015

Es Kacang Ijo Goyang Lidah, Surabaya

Es bubur kacang ijo atau orang Surabaya biasanya menyebutnya es kacang ijo merupakan salah satu sajian kuliner yang cukup mudah ditemui di mana saja. Namun, apa yang menjadikan sajian es kacang ijo di Jalan Waspada, Surabaya ini istimewa dibandingkan dengan sajian sejenis di kota lainnya?

Usai menyantap sajian nasi cumi di Jalan Waspada, mbak Yanti mengajak kami untuk memesan es kacang ijo yang berada persis di sebelah warung nasi cumi ini. Warung es kacang ijo ini juga terlihat cukup sederhana, namun pengunjung yang datang kemari tak kalah ramainya seperti di warung nasi cumi. Pedagang es kacang ijo di Surabaya biasanya berasal dari Madura. Bahkan, saking terkenalnya, banyak warung es kacang ijo di daerah tempat saya tinggal yang memberi embel-embel es kacang ijo Madura di warung milik mereka. Lalu apa sih keistimewaan es kacang ijo di warung Goyang Lidah ini?


Jika di daerah saya tinggal, penjual bubur kacang ijo biasanya dapat ditemui ketika pagi dan menjelang malam hari. Menu bubur kacang ijo bisa digunakan sebagai menu sarapan maupun camilan menjelang malam. Jika di pagi hari, penjual bubur kacang ijo biasanya menghidangkan menu ini yang terdiri dari kacang hijau yang dicampur ketan hitam dan diberi campuran santan encer sebagai kuah. Sedangkan pada malam hari, hidangan es bubur kacang ijo ini terdiri dari campuran kacang hijau, ketan hitam, bubur mutiara, potongan roti tawar, diberi santan sebagai kuah dan dicampur dengan sirup coco pandan. Nah, yang rasa manis pada sajian es bubur kacang hijau di daerah Solo ini didapatkan dari kuah santan dan juga campuran sirup pada sajian. Cukup kontras dengan es kacang ijo yang saya coba di warung Goyang Lidah, Surabaya ini.


Bagaimana tampilan es kacang ijo di warung Goyang Lidah ini? Jika dilihat sekilas memang terlihat mirip dengan sajian es kacang ijo di kota lain yang pernah saya coba. Apa sih yang membedakannya? Setelah saya kulik-kulik isinya, ternyata es kacang ijo di warung ini hanya terdiri dari bubur kacang ijo yang diberi serutan degan (kelapa muda) lalu disiram dengan santan encer. Rasa manis didapatkan justru dari si bubur kacang ijonya, tektur kacang ijonya sendiri terlihat utuh dan tidak pecah, kuah santannya cenderung gurih, bukan manis, ditambah dengan serutan degan (kelapa muda) semakin membuat sajian es kacang ijo di warung Goyang Lidah ini semakin terasa istimewa.

Cita rasa manis dan gurih yang pas, membuat sajian es kacang ijo ini terasa nikmat dan tidak eneg. Pantas saja banyak orang rela antri datang kemari untuk bisa menikmati sajian es kacang ijo ini. Satu porsi es kacang ijo di warung ini dihargai Rp 6.000,00 saja dengan porsi yang lumayan banyak menurut saya. Cukup murah bukan? Warung es kacang ijo Goyang Lidah ini mulai buka dari pukul 17.30 WIB sampai dengan habis. Saya sarankan sih jangan datang terlalu malam jika tidak ingin kehabisan 

Sabtu, 26 Desember 2015

Nasi Cumi Jalan Waspada, Surabaya

Keberadaan kuliner malam memang selalu menggoda untuk dicoba. Nasi Cumi di Jalan Waspada Surabaya misalnya, warung kaki lima yang tidak pernah sepi oleh pembeli ini menyajikan masakan cumi yang menggoda untuk dicoba. 

Suasana Jalan Waspada di malam hari terlihat tak sepadat ketika siang hari. Jalan kecil yang terletak di samping Pasar Atum Surabaya ini memiliki sebuah spot kuliner menarik untuk dicicipi. Nasi Cumi Jalan Waspada, sebuah warung kaki lima yang cukup familiar bagi masyarakat Surabaya. Warung kaki lima ini terlihat selalu ramai oleh para pembeli yang ingin menuntaskan rasa lapar atau pengunjung dari luar kota yang ingin menuntaskan rasa penasaran.


Warung nasi cumi ini dahulu buka menjelang tengah malam, namun kini warung tersebut siaga 24 jam. Tapi, tetap saja pengunjung yang datang kemari lebih ramai pada malam hari dibandingkan siang hari. Maka tak heran, jika pada malam hari si penjual akan menambah jumlah meja dan kursi sehingga terkesan memakan sebagian badan jalan. Ya, itu juga demi kenyamanan para pengunjung agar mendapatkan tempat duduk untuk bersantap di warung sederhana ini.


Ada empat pilihan menu yang ditawarkan di warung nasi cumi ini. Ada nasi biasa, nasi campur, nasi komplit, dan menu terbaru adalah rawon cumi. Setelah memperhatikan komposisi pada sajian yang ditawarkan, saya memesan nasi campur, sedangkan kawan saya mencoba rawon cumi. Nasi campur terdiri dari nasi putih dengan lauk cumi masak tinta, empal, mie goreng, telur masak balado, dan peyek udang. Ketika menu yang saya pesan datang, saya pun cukup kaget dengan tampilan menu yang disajikan. Ini sih, terlihat lauk diberi nasi, karena lauk yang disajikan benar-benar melimpah. Cita rasa cumi masak tinta di warung ini memang juara. Cuminya empuk, rasanya gurih, dan sama sekali tidak terasa bau amis. Padahal, biasanya saya tidak terlalu gemar sajian cumi karena bau amis yang cukup tajam ketika disajikan. Namun, sajian cumi masak tinta di warung Nasi Cumi Waspada ini benar-benar berbeda dari sajian cumi di warung lainnya. Sajian telur dan empal dagingnya juga gurih dan empuk. Perpaduan yang pas, ditambah dengan peyek udang semakin menambah tekstur chruncy pada sajian. Benar-benar sajian sederhana dengan rasa yang istimewa.


Menu rawon cumi juga memiliki rasa yang cukup menggoda. Jika biasanya rawon disajikan hanya dengan campuran daging sapi sebagai lauknya, di warung ini, selain menggunakan daging sapi, ditambahkan pula dengan cumi masak tinta. Rasa rawonnya gurih, tidak terlalu asin dan tidak terasa pedas. Ditambah dengan lauk cumi dan taburan srundeng semakin menambah nikmat cita rasa rawon cumi ini. Memang sih, menyantap sajian nasi cumi ini harus siap-siap dengan kolesterol yang mengintai. Tapi jika sesekali menyantap sajian masakan ini tak apalah ! Hehehe.


Untuk pelayanan di warung ini memang terkesan kurang ramah dan terkesan jutek, apalagi jika pengunjung sedang banyak-banyaknya. Berbeda dengan warung-warung tenda lainnya, di warung nasi cumi ini pelayannya cukup sigap untuk membereskan piring, walaupun masih tersisa makanan di atas piring tersebut. Sesuatu yang kontras saya temui di warung makan kaki lima lainnya, piring bekas makanan biasanya baru dibereskan setelah pembeli selesai membayar pesanan dan keluar dari warung. Tapi bagaimana juga, warung ini memang memiliki magnet tersendiri. Benci tapi membuat rindu. Walaupun pelayanannya kurang ramah, tapi tetap saja warung ini selalu ramai diburu oleh pembeli karena cita rasa sajian nasi cuminya yang ciamik soro ! Bagaimana, tertarik untuk mencoba sajian nasi cumi di Jalan Waspada ini? Jika berkunjung ke Surabaya jangan lupa untuk mengagendakan menyantap sajian nasi cumi di warung ini ya !

keterangan :
harga seporsi nasi cumi berkisar dari Rp 15.000,00 sampai dengan Rp 25.000,00 tergantung menu yang dipesan (data bulan November 2015)

Jumat, 25 Desember 2015

Empuk dan Gurihnya Bebek Palupi, Surabaya

Belum lengkap rasanya berkunjung ke Kota Surabaya tanpa mencicipi olahan sego bebeknya. Bahkan, saking terkenalnya menu sego bebek ini, rasa-rasanya hampir di tiap sudut kota Surabaya dapat dengan mudah kita jumpai menu yang satu ini.

Selain terkenal dengan rujak cingurnya, Surabaya juga terkenal dengan kuliner sego bebeknya. Menu sego bebek sepertinya cukup melekat dengan keseharian orang Surabaya. Rugi rasanya jika berkunjung ke Kota Surabaya tanpa mencicipi menu sego bebeknya. Salah satu warung sego bebek yang cukup ternama di Surabaya adalah Sego Bebek Palupi. Warung sego bebek Papupi berlokasi di Jalan Raya Rungkut Asri Tengah nomor 10 Surabaya. Jika dilihat sekilas, lokasi warung bebek Palupi menempati sebuah tempat yang tidak seberapa luas dan terkesan cukup sederhana. Namun pengunjung yang datang terlihat selalu ramai, bahkan kadang harus antri untuk mendapatkan tempat duduk. 


Setelah mendapatkan tempat duduk, kami pun langsung memesan menu yang disedikan. Menu yang kami pilih adalah bebek goreng dan bebek goreng krispi. Tak lama kemudian pesanan kami pun datang. Sajian sego bebek terdiri dari sepiring nasi putih hangat, potongan bebek goreng, sambal, dan lalapan. Sedangkan bebek krispi penyajiannya hampir sama dengan bebek goreng biasa, hanya saja ditambah dengan taburan tepung krispi pada sajian bebeknya. Potongan daging bebeknya lumayan besar, berbeda dengan sajian bebek goreng yang pernah saya coba di kota lain.


Bebek Palupi memiliki tekstur yang garing dan krispi di bagian kulit luar, namun bagian dagingnya sangat empuk dan sama sekali tidak terasa alot.  Daging bebeknya pun gampang terurai ketika digigit. Aroma rempahnya cukup terasa dan sama sekali tidak terasa bau amis. Cita rasanya pun sangat gurih, bumbu bebeknya meresap sampai ke dalam daging, cocok disantap dengan nasi putih hangat, ditambah dengan sambal yang tidak terlalu pedas terasa semakin nikmat. 

Bagi orang Surabaya, menyantap sego bebek tidak lengkap jika tidak menggunakan bumbu minyak bebek. Bumbu minyak bebek disediakan terpisah. Jika dilihat sekilas, bumbu minyak bebek ini terlihat seperti sajian sambal hijau. Tapi setelah dijelaskan oleh Mbak Yantie, ternyata minyak bebek ini menjadi sajian favorit ketika menyantap sego bebek. Saya mencicipi sedikit minyak bebek tersebut. Saya kira cita rasanya pedas, namun ternyata rasanya gurih, sama sekali tidak pedas. Pantas saja banyak orang yang begitu menikmati minyak bebek ini ketika menyantap sego bebek.


Jalan-jalan ke Surabaya memang tidak lengkap jika belum mencicipi sajian sego bebek. Warung Sego Bebek Palupi bisa menjadi salah satu refrensi lokasi untuk mencicipi gurihnya sajian sego bebek khas Kota Pahlawan ini. Bagaimana, terterik untuk mencicipi sajian sego bebek jika bertandang ke Surabaya?

harga:
satu porsi bebek Palupi berkisar dari Rp 18.000,00 sampai Rp 25.000,00 (data bulan November 2015)

Senin, 21 Desember 2015

Kuliner di Pasar Atum Surabaya yang Ciamik Soro

Lalu lalang kendaraan cukup padat di Jalan Waspada yang terletak di samping Pasar Atum, Surabaya. Kami bertiga turun dari taksi dengan sedikit terburu-buru karena bunyi klakson dari mobil di belakang kamu seolah mengisyaratkan jika pengemudinya tak sabar menunggu. Mbak Yanti pun bergegas mengajak kami memasuki sebuah lorong di salah satu sudut Pasar Atum untuk memulai petualangan rasa siang ini. Apa saja kuliner yang ciamik di Pasar Atum yang wajib dicicipi?

1. Bubur Madura
Perburuan kuliner siang itu kami mulai dengan makanan bercita rasa manis gurih. Mbak Yanti mengajak kami untuk mencicipi bubur Madura yang banyak dijual di salah satu lorong Pasar Atum. Lorong ini seolah menjadi lokasi khusus untuk berjualan bubur Madura. Ada banyak penjual bubur Madura di sini dan semua penjualnya adalah perempuan yang biasa dipanggil "buk", sebutan untuk perempuan Madura.


Satu porsi bubur Madura terdiri dari campuran bubur sumsum, bubur mutiara, bubur ketan hitam, bubur candil (jenang grendul). Campuran bubur tersebut disajikan diatas pincuk kertas minyak yang dilambari daun pisang. Untuk menambah rasa manis, campuran bubur tersebut diberi santan kental dan kicir gula jawa cair atau orang Surabaya biasa menyebutnya kinca.

Bubur Madura memiliki cita rasa gurih, manis dan legit. Rasa gurih berasal dari campuran bubur dan santan, sedangkan rasa manis berasal dari campuran kicir gula jawa. Tekstur jenang grendulnya membuat sensasi grenjel-grenjel ketika masuk ke dalam mulut. 


Selain menjual bubur Madura, para buk ini juga menjajakan jajanan pasar seperti lopis, ketan putih, klanting, jongkong, talam, tiwul, dan sebagainya. Satu porsi bubur Madura dijual dengan harga Rp 8.000,00 saja. Walaupun dijual di lapak sederhana, jangan khawatir dengan kebersihan tempat dan dagangannya ya !

2. Kue Bikang Peneleh
Aroma pandan dari kejauhan terasa cukup tajam terasa di indera penciuman. Sebuah kios sederhana menjajakan kue bikang dan kue lumpur fresh from the open. Jika saja kami datang lebih pagi, kami bisa melihat proses pembuatan kue bikang dan kue lumpur secara langsung. Om Hengky, pemilik kios Kue Bikang Peneleh ini menyambut kami dengan ramah. Beliau menjelaskan satu per satu jajanan tradisional yang dijual di gerainya.


Jajanan tradisional yang banyak menjadi incaran adalah kue bikang dan kue lumpur. Kue bikang adalah kue yang berbahan dasar tepung beras, santan dan gula. Bentuknya mekar seperti bunga dan memiliki cita rasa manis. Kue bikang yang dijual di gerai Peneleh ini memiliki dua rasa, yaitu pandan dan cokelat. Sedangkan jajanan lain yang menarik perhatian saya adalah kue lumpur. Kue yang berbahan dasar kentang, tepung terigu, telur, dan santan ini terlihat begitu menggoda. Ukurannya sedikit lebih besar daripada yang biasa saya temui di toko roti lainnya. 


Baik kue carabikang maupun kue lumpur di kios Peneleh ini terlihat begitu menggoda. Jika dilihat tampilannya sekilas mirip seperti kue-kue sejenis yang dijual di tempat lain, Namun, dari segi rasa cukup beda. Rasanya sangat gurih, teksturnya begitu lembur di bagian atas, dan cukup garing di bagian bawah. Campuran santan kental membuat tekstur kue ini terasa "maklegender" ketika masuk ke dalam mulut karena saking lembutnya. Tak perlu banyak dikunyah, ketika ditelan pun rasanya langsung seperti meluncur ke kerongkongan. 


Karena menggunakan santan kental, kue bikang dan kue lumpur Peneleh ini kurang tahan lama. Paling hanya bisa bertahan sehari saja, sehingga setelah membeli harus segera disantap agar tidak basi. Selain kue bikang dan kue lumpur, di kios Peneleh ini juga menjual beberapa jajanan tradisional seperti kue usus ayam (kue yang berbentuk seperti usus ayam), bakcang, ote-ote Porong dan sebagainya. 

3. Cakue Udang Peneleh
Bergeser menuju sebelah kios Kue Bikang Peneleh. Kami menemui sebuah kedai yang menjual beragam jajanan. Dari berbagai macam jajanan yang dijajakan, cakue lah yang menjadi incaran para pembeli. Kedai ini menurut saya benar-benar heboh, ruangan kedainya cukup luas dibanding yang lain serta memiliki pegawai yang sangat banyak untuk sebuah kedai cakue. Saya dan Mbak Yanti iseng menghitung jumlah pegawai yang mengenakan kaos seragam berwarna merah. Mungkin ada sekitar 20 orang pegawai di kedai tersebut dan semuanya terlihat begitu sibuk dengan tugas masing-masing. Maklum lah, pembeli yang berdatangan pun cukup banyak dan lumayan antri. Dari semua jajanan yang dijual, cakue isi udang adalah must buy item di kedai ini. Pembuatan cakuenya hampir sama dengan warung-warung lain yang kita temui. Yang membedakannya adalah isian udang pada cakue ini.



Cakue udang di sini memiliki rasa gurih, semakin nyamleng jika dimakan dengan mencocolkan saus yang sudah jadi satu paket ketika membeli cakue.Rasa sausnya tidak pedas, melainkan ada rasa sedikit manis dan kecut dari cuka. Selain cakue, di kedai ini juga menjual jajanan lain seperti ote-ote, roti goreng, angsle dan masih banyak lagi jajanan lainnya.

4. Lontong Mie Ny. Marlia
Puas menikmati jajanan pasar yang beragam, saatnya untuk mencicipi makanan berat yang ada di Pasar Atum. Salah satu kedai yang menjual makanan berat di Pasar Atum adalah kedai lontong mie Ny Marlia. Kedai yang terletak di lantai dua ini memiliki nuansa semi terbuka, tidak ada sekat yang membatasi ruangan, sehingga pengunjung dapat bebas berlalu-lalang di kedai tersebut.



Lontong mie merupakan makanan yang terdiri dari potongan lontong yang diletakkan di bagian dasar piring, kemudian diberi tambahan potongan tahu goreng, mie kuning, tauge rebus. Campuran bahan makanan tersebut kemudian diberi kuah berwarna kecokelatan. Sebagai pelengkap, diberi taburan bawang goreng dan ebi kering. Lontong mie memiliki citarasa gurih dan sedikit manis yang berasal dari kuah yang dicampurkan tersebut. Jika ingin pedas, bisa menambahkan sambal dan petis yang ditempatkan terpisah. Sebagai pelengkap, biasanya disajikan makanan pendamping seperti lentho, sate telur puyuh dan sate kerang. Sayang, ketika saya datang hanya ada sate kerang saja. Sate kerangnya memiliki tektur yang "kenyil-kenyil" dan bercita rasa gurih, cocok jadi pendamping makan lontong mie ini. Untuk minumannya, kami memesan es blewah. Campuran serutan blewah yang dipadu dengan sirup coco pandan memang cocok untuk menutup santap siang hari itu.

5. Warung Kopi & Jajan Pasar Kartiko
Nah, lelah berkeliling Pasar Atum, paling enak ya nyantai di Kartiko. Pasat Atum memang memiliki kuliner yang beragam, hanya saja tidak ada tempat yang nyaman untuk duduk sambil menikmati suasana sambil ngemil jajanan yang sudah kita beli. Nah, yang pengen duduk santai sambil mencicipi jajanan sambil ngopi bisa mampir ke Kartiko ini. Kartiko berada di lantai tiga Pasar Atum, memiliki suasana warung kopi sederhana tetapi nyaman untuk duduk berlama-lama. Interior ruangannya pun cukup unik. Bagian lantai di menggunakan tegel kunci dari Jogja yang memberikan kesan jadul. Pun juga dengan detail-detail lain seperti hiasan dinding, meja dan kursi kayu yang bertekstur dan keliatan jadul, pun juga dengan gelas yang digunakan. Eiitt, walaupun kesannya jadul, tapi bukan berarti menggunakan barang-barang lama ya, hal ini sekedar untuk branding tempat saja.


Memasuki kedai Kartiko memang harus bisa tahan diri, kalau tidak ya bakal dijamin kalap. Karena tempat ini menyediakan berbagai macam pilihan jajan pasar yang menggoda iman. Konsepnya seperti berbelanja di convenience store, jadi pembeli akan langsung membawa nampan, lalu memilih jajanan yang kita suka, kemudian antri untuk membayar di kasir. Berhubung saya datang pas akhir pekan, jadi cukup sulit untuk mencari kursi yang kosong karena selalu penuh digunakan oleh pengunjung. Beruntung ada tiga kursi kosong yang menghadap keluar. Tanpa babibu saya pun langsung mendudukinya bersama kawan.



Siang itu kami memesan beberapa menu makanan, antara lain ote-ote dengan sambal petis, lemper special Kartiko, dan wedang ronde ketan hitam. Ote-ote sambal petis memiliki cita rasa manis gurih. Ote-ote (bakwan) cukup kesat, tidak terasa berminyak di mulut. Jika kurang pedas, disediakan pula cabai rawit utuh dalam sajiannya. Untuk wedang rondenya sendiri terasa cukup unik. Jika wedang ronde yang biasa saya temu di Solo dan Jogja kuahnya terasa manis, tidak demikian dengan wedang ronde ketan hitam ini. Rasa manis justru diperoleh dari ketan hitam yang dibentuk bulatan kecil, sedangkan kuahnya tidak terlalu manis, lebih terasa rasa jahenya. Jajanan lain yang kami coba adalah lemper spesial Kartiko. Lemper di sini berwarna kuning, dengan isian daging ayam yang melimpah.


Sebenarnya masih ada beberapa makanan yang masih wajib untuk dicoba. Namun rasanya siang itu saya sudah hampir food coma. Daripada terus dipaksa makan malah nanti tidak bisa menikmatinya, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan petualangan rasa mencicipi kuliner di Pasar Atum, Surabaya. Pasar Atum merupakan salah satu pasar tekstil yang ada di Kota Surabaya. Walaupun komoditas utama yang diperdagangkan adalah tekstil, namun Pasar Atum juga memiliki pilihan kuliner yang beraneka ragam. Oh iya, jangan sungkan untuk mengeluarkan kamera jika ingin memotret makanan di Pasar Atum ini. Rata-rata para pedagang sudah terbiasa dengan wisatawan yang sengaja untuk berburu makanan di sini kok. Rata-rata mereka cukup terbuka kok dengan wisatawan yang memotret makanan yang mereka jual, ya itung-itung bisa promosi gratis bagi mereka bukan?

Jika ingin memanjakan lidah di Pasar Atum, jangan lupa untuk menyiapkan perut ya, bisa-bisa Anda food coma  karena terlalu kalap ingin mencicipi semua kuliner yang ada di pasar ini !

Happy culinary !

Senin, 25 Mei 2015

Kue Bagiak, Teman Ngopi dari Banyuwangi

Meneguk secangkir kopi sambil ditemani beberapa kudapan menjadi kenikmatan tersendiri dalam menikmati hari. Mungkin, kudapan khas dari Banyuwangi ini bisa menjadi pilihan cemilan untuk menikmati secangkir kopi Anda.

Buah tangan memang selalu menjadi buruan bagi wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata. Ada berbagai macam bentuk buah tangan, entah itu souvenir maupun barang kerajinan, maupun dalam bentuk makanan. Salah satu oleh-oleh khas dari Kota Banyuwangi yang terkenal adalah kue bagiak. Kue kering berbentuk lonjong seukuran jari tangan orang dewasa ini selalu menjadi incaran pendatang yang sedang singgah di Bumi Blambangan.


Kue bagiak merupakan kue kering berbahan dasar tepung garut, tapioka, gula, susu, dan garam. Adonan tersebut kemudian diberi campuran parutan kelapa yang sudah dikeringkan dan bumbu-bumbu lain sehingga membuat kue bagiak ini memiliki cita rasa manis dan gurih. Tekstur kue bagiak sekilas terlihat keras, namun terasa lembut ketika dikunyah.


Seiring dengan perkembangan jaman dan permintaan pasar, kue bagiak pun memiliki beberapa pilihan rasa, seperti rasa kacang, susu, cokelat, stroberi. Di antara pilihan rasa yang ditawarkan, saya memilih rasa keningar (kayu manis) sebagai pilihan. Aroma kayu manis yang lembut membuat kue bagiak jenis ini menjadi kue terlaris yang sering dibeli oleh pengunjung.


Menikmati secangkir kopi atau teh memang cocok jika ditemani dengan kudapan ringan. Nah, kue bagiak ini bisa Anda jadikan pilihan kudapan untuk menikmati secangkir kopi yang Anda sajikan. Jika sedang berkunjung ke Banyuwangi, jangan lupa sempatkan diri untuk mampir ke pusat oleh-oleh yang tersebar di beberapa lokasi di Bumi Blambangan untuk membeli dan mencicipi kue bagiak ini.

keterangan :
Kue bagiak ini dapat Anda temukan di beberapa gerai oleh-oleh yang tersebar di daerah Banyuwangi. Kebetulan saya kemarin membeli kue bagiak ini di gerai oleh-oleh yang terletak di depan hotel saya menginap di daerah Genteng. Untuk kue bagiak kemasan 300 gram dihargai Rp 11.000,00 per-bungkusnya (data Mei 2015).

Minggu, 17 Mei 2015

Rujak Soto Mbok Mbret Banyuwangi

Mungkin orang Banyuwangi memang gemar mencampurkan dua jenis makanan sekaligus untuk dinikmati bersama. Tengok saja sajian pecel rawon maupun rujak soto. Namun, sajian rujak soto sepertinya masih menjadi primadona bagi penggemar kuliner yang sedang singgah di Bumi Blambangan ini.

Bagi masyarakat Jawa Timur, rujak merupakan makanan yang menggunakan bumbu kacang yang dicampur dengan sayuran segar, potongan tahu dan tempe, di mana sekilas mirip seperti sajian pecel, lotek atau gado-gado. Hal yang sedikit membedakan rujak Jawa Timuran adalah adanya campuran bumbu petis yang khas. Hal ini sedikit berbeda apabila kita menyebut rujak di daerah Jawa bagian tengah dan barat yang mengidentikan rujak berupa campuran buah-buahan segar yang disiram dengan sambal yang dicampur dengan gula merah.


Kota Banyuwangi memiliki makanan khas yaitu rujak soto. Rujak soto merupakan campuran dari dua buah masakan, yakni rujak sayur yang disiram dengan kuah soto babat. Perpaduan dua buah makanan yang sedikit "nabrak", namun menciptakan cita rasa yang nikmat.


Hari ini saya diajak mas Dendy, driver yang akan mengantar kami keliling daerah Banyuwangi untuk mencicipi sajian rujak soto. Mobil kami pun diparkirkan di sebuah warung makan kecil yang terletak di samping bekas bangunan bioskop Sylva yang terletak di kawasan Benculuk yang tidak jauh dari daerah Jajag. Warung makan Mbok Mbret, begitulah nama warung makan sederhana yang menjajakan sajian rujak soto yang kami singgahi siang ini.

Asisten mbok Mbret menyambut kami dengan ramah. Sepertinya beliau memang sudah cukup akrab dengan Mas Dendy, driver yang mengantar kami. Kami dipersilahkan untuk duduk di dalam warung sembari menunggu Mbok Mbret yang belum datang. Katanya sih, jika yang menguleg sambel bukan dari si empunya langsung, rasanya kurang nikmat. Sembari menunggu kedatangan Mbok Mbret, saya pun berkeliling melihat dagangan di warung sederhana ini.


Tak lama kemudian Mbok Mbret pun datang. Dengan cekatan beliau pun segera membuat pesanan kami. Sekilas, cara pembuatan rujak soto ini mirip seperti pembuatan rujak cingur. Campuran bumbu-bumbu seperti kacang tanah yang sudah digoreng, garam, cabai, air asam, gula jawa, petis dan potongan pisang klutuk (pisang batu) muda dihaluskan di atas cobek. Untuk ukuran rasa pedas, Anda dapat meminta jumlah cabai sesuai dengan selera. Menurut Mbok Mbret, pisang batu ini adalah bumbu wajib untuk membuat rujak soto karena akan memberikan cita rasa yang khas dan mantab pada sajiannya.


Usai bumbu-bumbu tersebut dihaluskan, kemudian dicampur dengan sayuran seperti kacang panjang rebus, bayam rebus, tauge dan mentimun. Tak lupa ditambahkan potongan tahu dan tempe goreng serta potongan lontong lalu diaduk di atas cobek hingga tercampur rata. Terakhir, tinggal sajikan rujak sayur ini di atas piring kemudian disiram dengan kuah soto yang dicampur dengan potongan babat dan tetelan daging. Sebagai pelengkap, rujak soto ini kemudian ditambahkan taburan bawang goreng, telur burung puyuh dan kerupuk udang yang menambah nikmat sajian.

Jika diamati, pembuatan rujak sayur pada sajian rujak soto ini hampir mirip seperti pembuatan rujak cingur. Bedanya, rujak sayur ini tidak menggunakan campuran cingur, namun cingur diganti dengan potongan babat dan tetelan daging sapi dari kuah soto. Bagaimana dengan cita rasa rujak soto sendiri? Rasa pedas dari cabai, manis dari bumbu kacang, dan gurih dari kuah soto berpadu nikmat dalam setiap suapan.


Untuk satu porsi rujak soto dan teh botol dihargai Rp 20.000,00 (data bulan Mei 2015). Cukup terjangkau untuk menikmati seporsi kuliner rujak soto ini. Bagi Anda yang sedang berada di Kota Banyuwangi, jangan lupa menuntaskan rasa penasaran Anda untuk mencicipi kuliner rujak soto yang unik nan nyentrik ini.

Kamis, 12 Februari 2015

Pecel Ndeso Khas Kutho Solo

Menyambangi pasar tradisional, bagi saya seperti menikmati langsung denyut kehidupan perekonomian masyarakat lokal. Ada transaksi jual beli berbagai macam barang kebutuhan, termasuk sajian kuliner lokal yang menggiurkan. Perjalanan kali ini membawa saya kembali menyambangi Kota Solo, sebuah kota yang terkenal dengan tradisi budaya Jawa yang masih kental, serta kuliner tradisionalnya yang beraneka ragam.

Pagi ini saya menyambangi Pasar Gede untuk mencari kuliner tradisional yang mungkin sedikit mulai sulit ditemukan. Salah satu sajian lokal yang saya cicipi pagi ini adalah pecel ndeso. Bagi masyarakat Jawa, sajian pecel cukup mudah kita temukan dan biasa dijadikan sebagai menu sarapan. Campuran aneka sayuran segar yang direbus kemudian disiram dengan bumbu sambal kacang memberi cita rasa pedas, manis dan gurih yang khas. Namun, pecel ndeso ala Kota Solo ini sedikit berbeda dibandingkan dengan pecel-pecel pada umumnya yang biasa kita temukan.


Letak perbedaannya adalah pada sambal pecel yang digunakan untuk menyiram campuran sayur mayur yang telah direbus. Sambel pecel ala pecel ndeso Solo ini menggunakan campuran bahan cabuk, yaitu ampas dari proses pembuatan minyak wijen. Campuran dari bahan cabuk inilah yang memberikan warna hitam pada sajian sambal pecel ndeso ini.


Pecel ndeso ini biasanya disajikan di atas pincuk yang terbuat dari daun pisang yang menambah kesan tradisional. Sajian pecel ndeso terdiri dari seporsi nasi merah yang disajikan dengan suwiran ayam serta sayuran yang direbus seperti daun bayam, daun singkong, daun pepaya, kacang panjang, kembang turi, kecipir, kecambah, petai cina (melanding) kemudian disiram dengan sambal pecel bertekstur kental dan berwarna hitam. Untuk menambah aroma ditambahkan daun kemangi segar dan juga potongan mentimun yang menambah kesegaran. Tak lupa ditambah dengan karak/kerupuk lempeng (olahan kerupuk dari bahan beras) yang menambah rasa gurih dan kriuk sajian pecel ndeso ini. Sebagai tambahan lauk-pauk, Anda pun dapat menambahkan bongko dan gembrot pada sajian pecel ini.

Bongko merupakan sejenis pepes kacang tholo yang dicampur dengan parutan kelapa. Sedangkan gembrot sejenis pepes yang terbuat dari daun sembukan yang dicampur dengan parutan kelapa. Kedua sajian masakan  ini memiliki cita rasa manis dan gurih, sangat pas disajikan dengan menu pecel ndeso ini.

Untuk menikmati sajian pecel ndeso ini, silahkan menyambangi Pasar Gede Solo. Lapak pedagang yang menjajakan pecel ndeso ini terletak di sebelah kiri pintu masuk utama pasar. Walaupun gelaran lapaknya nampak sederhana dan terlihat apa adanya, namun jangan ragukan cita rasanya sajiannya. Pecel ndeso ini memiliki cita rasa yang cukup gurih dengan aroma khas wijen yang menggoda. Sajian pecel ndeso kaya akan serat dan manfaat, harganya pun sangat terjangkau oleh semua kalangan masyarakat. Satu porsi pecel ndeso lengkap dengan lauk-pauknya hanya dibandrol dengan harga Rp 8.000,00 saja. Oh iya, penjual pecel ndeso di Pasar Gedhe ini mulai membuka lapak dari pukul 06.00 pagi hingga sekitar pukul 09.30 pagi saja lho ! Jadi, jangan datang kesiangan jika tidak ingin melewatkan icip-icip sajian pecel ndeso ini ya !

Kamis, 25 Desember 2014

Menengok Proses Pembuatan Manisan Carica Khas Dieng

Singgah ke sebuah tempat rasanya tidak lengkap jika tidak membawa oleh-oleh khas daerah setempat. Jika Anda sedang mampir di daerah Wonosobo, maka manisan carica adalah pilihan tepat sebagai buah tangan untuk keluarga dan kerabat.

Satu pertanyaan yang sering saya lontarkan ketika saya sedang berkunjung ke suatu tempat yaitu adakah kuliner khas dari daerah setempat? Pertanyaan tentang makanan menurut saya menjadi salah satu entry point yang paling mudah untuk memulai pembicaraan dengan orang yang baru saja kita kenal dalam perjalanan.


Berbicara tentang Wonosobo, daerah ini memiliki beberapa makanan khas yang wajib Anda coba ketika bertandang di kota ini. Dari beberapa makanan khas, manisan carica menjadi salah satu sajian yang diburu oleh wisatawan oleh-oleh khas. Rasanya yang manis serta aromanya yang khas menjadikan sajian ini menjadi primadona oleh-oleh daerah Wonosobo.



Pada acara #FamTripJateng kali ini kami diajak untuk melihat langsung proses pembuatan manisan buah carica di PT Yuasa Food Indonesia yang beralamatkan di Jalan Dieng KM 3.5 Krasak, Mojotengah, Wonosobo. Jika dilihat sekilas, bentuk buah carica terlihat seperti perpaduan antara buah kakao dan buah pepaya. Ketika dibelah, bagian daging buah terlihat berbentuk seperti bintang, dengan daging buah berwarna kuning serta biji buah yang diselimuti lendir. Bagian biji buah yang berlendir inilah yang memberikan aroma khas carica yang tajam namun menggugah selera. Jika dicicipi, bagian biji yang berlendir ini terasa manis namun sedikit masam, sedangkan daging buahnya terasa hambar. 



Proses pembuatan manisan carica ini cukup mudah. Setelah mengupas kulit buahnya, carica kemudian dibelah untuk memisahkan bagian biji dengan daging buahnya. Selanjutnya, bagian biji buah carica ini direbus dengan campuran air dan gula pasir untuk membuat sirup untuk campuran manisan. Selanjutnya, bagian daging buah yang usai dipotong dan dicuci bersih dicampurkan dengan sirup dari biji buah carica dimasukkan ke dalam kemasan sesuai dengan takaran. Tahap selanjutnya adalah proses fakturisasi dengan cara merebus manisan carica yang sudah masuk ke dalam kemasan agar steril dari bakteri. Proses fakturisasi ini cukup sederhana, hanya merebus manisan carica di dalam kemasan tersebut menggunakan api kecil dalam waktu kurang lebih 50 menit. Tahap terakhir adalah pemberian label pada kemasan dan proses pengemasan agar siap dipasarkan.



Ada dua kemasan manisan carica yang dihasilkan oleh pabrik pengolahan ini, yaitu kemasan botol plastik dan kemasan botol kaca. Anda pun dapat membeli oleh-oleh manisan buah carica ini langsung dari pabrik pengolahannya maupun di toko oleh-oleh yang ada di Kota Wonosobo. Jalan-jalan ke kawasan Dieng tak lengkap rasanya jika tak membawa oleh-oleh manisan buah carica untuk keluarga, sanak saudara dan kerabat Anda bukan? Jadi, jangan sampai terlewat ya untuk membeli dan mencicipi manisan carica yang aromanya khas ini !

disclaimer :
tulisan ini dibuat dalam rangka acara #FamTripJateng yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jata Tengah dengan mengundang beberapa rekan travel blogger pada tanggal 4-5 Desember 2014

Selasa, 11 November 2014

Ayam Betutu Ibu Lina, Gilimanuk

Aromanya sedikit menghentak indra penciuman. Tampilannya pun membuat begidik karena potongan cabai beserta isinya yang terlihat "berserakan" memenuhi seluruh bagian ayam. Belum lagi dengan kuah sedikit pekat seolah siap membakar lidah ketika menelannya. Benar saja, dari tampilannya pun dapat ditebak bagaimana cita rasa dari ayam betutu khas Gilimanuk ini. Cita rasa pedas langsung "nampol" di mulut dan lidah saat gigitan pertama, ditambah dengan rasa gurih khas bumbu rempah pun terasa kuat terasa di indera pengecap. Perpaduan rasa yang pas, pedas dan gurih beradu "cantik" dalam indera pengecap sehingga membuat kita tidak ingin berhenti menikmati sajian ayam betutu ini hingga tandas.


Ayam betutu merupakan salah satu sajian khas dari Pulau Dewata. Pada jaman dahulu, ayam betutu hanya disajikan dalam upacara keagamaan maupun upacara adat saja. Tapi sekarang, ayam betutu pun sudah banyak dijajakan di mana saja. Salah satu warung ayam betutu yang cukup terkenal di Pulau Dewata adalah Warung Ayam Betutu Bu Lina yang tak jauh dari pelabuhan penyeberangan Gilimanuk yang menghubungkan antara Pulau Bali dengan Pulau Jawa. Tampilan warung ini sekilas tampak sederhana, namun pembeli yang datang silih bergantian seolah tak pernah ada hentinya.


Sajian ayam betutu terdiri dari satu ekor ayam utuh berukuran sedang. Bagian jeroan ayam tersebut kemudian dikeluarkan dan dibersihkan. Bagian kulit ayam dilumuri dengan bumbu-bumbu seperti kemiri, cabai, jahe, bawang merah, bawang putih, dan bumbu-bumbu pawon lainnya. Kemudian ayam tersebut dibalut dengan daun pisang dan dikukus. Usai dikukus, ayam betutu ini kemudian dipanggang di dalam bara serabut kelapa dan sekam. Namun, beberapa tempat makan melakukan modifikasi cara pemasakan dengan cara yang lebih modern agar lebih praktis.


Proses pemasakan yang sedemikian rupa menjadikan tekstur daging ayam menjadi lembut, mudah terlepas dari tulang ketika disantap, dan dijamin tidak terasa alot. Sajian ayam betutu memang pas disantap dengan seporsi nasi putih hangat yang dipadu dengan plecing kangkung, sambal matah, dan kacang goreng. Rasa pedas pun siap mengentak mulut dan lidah saat memakannya. Keringat pun mengucur deras karena rasa pedas yang cukup menghentak. Segelas teh hangat pun siap "memadamkan kebakaran" di dalam mulut setelah mencicipi hidangan ayam betutu ini.

Menikmati masakah khas dari daerah yang kita kunjungi memang memberikan pengalaman tersendiri. Bagi Anda penyuka kuliner dengan cita rasa pedas, sajian ayam betutu wajib Anda jadikan list untuk dicoba ketika Anda bertandang ke Pulau Dewata.

keterangan :
Warung Ayam Betutu Bu Lina buka dari pukul 07.00 sampai dengan pukul 21.00 WITA (atau ketika ayam sudah habis)

satu porsi ayam betutu utuh dihargai Rp 90.000,00
satu bakul nasi putih hangat + plecing kangkung + sambal matah + kacang goreng + 3 gelas teh hangat dihargai Rp 30.000,00
jika Anda tidak suka dengan ayam betutu yang dikukus (basah), Anda pun dapat memesan ayam betutu yang digoreng
(data bulan Oktober 2014)

Ojek motor dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Warung Makan Bu Lina dikenai tarif Rp 10.000,00 untuk sekali jalan. Tukang ojek di sekitaran Pelabuhan Gilimanuk sudah cukup tanggap, saat Anda meminta mengantarkan menuju warung ayam betutu, mereka dengan sigap akan mengantarkan Anda menuju warung makan Bu Lina yang cukup banyak direkomendasikan.

Jumat, 12 September 2014

Angkringan Sego Kucing


Sudah lama mas-mas angkringan langganan saya tidak jualan lagi, terkadang kalau malam saya sering nongkrong di Angkringan Sego Kucing ini, tepatnya di kota Tangerang Selatan yang masuk wilayah Propinsi Banten dan boleh juga dibilang perbatasan antara Banten dan Jakarta Selatan karena saking dekatnya, yaaaa kira-kira selemparan kancut sudah sampai, bahkan kalo kesandungpun langsung masuk wilayah Jakarta selatan. Dengan beberapa bangku dan lesehan khas angkringan, saya nongkrong untuk menikmati wedang jahe, yaa selain wedang jahe juga msih banyak menu camilan lainnya seperti sate daging, sate telor puyuh, sate kikil, tempe bacem, tahu bacem, uli bakar, tahu isi, dan banyak lagi macamnya.

Angkringan ini terasa menyenangkan bagi saya, dengan lampu yang temaram, masakan yang enak dan susu jahe dengan aroma segar serta tempatnya nyaman.

Oh iya, satu lagi... sambelnyaa maknyus banget. 

Selasa, 05 Agustus 2014

Gudeg Pawon - Sensasi Antri Menikmati Gudeg Langsung dari Dapur

Ada dua motif yang melatarbelakangi orang mampir ke warung makan untuk menikmati kuliner malam. Ada yang mampir karena perut mereka keroncongan dan meminta kembali jatah makan walaupun sudah melahap makan malam. Namun lebih banyak orang yang menikmati sajian kuliner yang buka mendekati tengah malam karena motif penasaran dengan cita rasa masakan yang disajikan.


Jalanan mulai terasa lengang ketika laju motor melintasi ruas Jalan Kusumanegara, namun suasana berubah seketika ketika mulai memasuki sebuah gang di Jalan Janturan, sebuah kehebohan pun mulai terasa. Dari kejauhan tampak deretan motor yang parkir berjajar di pinggir jalan, belum lagi antrian mobil yang terlihat kebingungan mencari lokasi parkir di antara ruas bahu jalan yang luasnya tak seberapa. Terlihat sebuah papan kecil bertuliskan "Gudeg Pawon, Selera Nusantara Buka Jam 22.00 WIB" sebagai penanda warung gudeg legendaris ini. Aktivitas peracik minuman dengan sigap melayani pesanan pelanggan pun terlihat di bagian depan rumah. Nah untuk menikmati sajian gudeg, kita harus antri untuk menuju pawon atau dapur yang terletak di belakang rumah.



Kehebohan antrian pembeli malam itu pun cukup terasa. Antrian pun tak hanya memenuhi bagian halaman samping rumah untuk menuju bagian dapur, melainkan mengular hingga bagian jalan. Pembeli Gudeg Pawon pun tak hanya berasal dari sekitaran Jogja saja, melainkan banyak pula yang datang dari luar Kota Jogja. Bahkan ada seorang pembeli yang berasal dari Kota Bandung dan rela datang menunggu dari pukul sembilan malam untuk mengobati rasa penasaran akan cita rasa Gudeg Pawon ini.


Aroma nasi hangat yang khas pun menyambut ketika memasuki bagian pawon atau dapur. Di bagian pawon ini pula kita akan melihat pemandangan tungku kayu yang digunakan untuk memasak gudeg dan lauk-pauknya. Tak heran jika bagian dinding pawon nampak terlihat hitam terkena kepulan asap dari kayu bakar yang digunakan untuk menyajikan masakan. Seorang laki-laki setengah baya akan menyiapkan nasi hangat dengan porsi sedang ke dalam piring, kemudian diberi gudeg, sambal goreng krecek dan lauk seperti telur dan daging ayam. Sayang, malam itu saya tidak kebagian daging ayam karena sudah habis diserbu pembeli yang sudah antri sebelum saya. Usai mendapatkan sajian gudeg pun saya mencari tempat untuk bersantap. Anda bisa memilih bersantap dengan duduk lesehan di teras rumah, di depan pawon, atau menikmatinya langsung di dalam dapur.


Gudeg Pawon memiliki cita rasa yang cukup gurih, tidak terlalu manis seperti kebanyakan gudeg yang di jual di Jogja. Gudeg yang disajikan pun termasuk gudeg basah walaupun tidak memiliki banyak kuah. Sambel goreng kreceknya pun juga pas di lidah, terasa gurih dan tidak terlalu pedas. Untuk menambah sensasi pedas, sang penjual sengaja menambahkan beberapa buah cabe rawit utuh sehingga pembeli dapat mengira-ira sendiri tingkat kepedasan yang diinginkan.

Satu porsi gudeg dengan lauk telur dihargai Rp 9.000,00 (data bulan Mei 2014). Harga yang cukup bersahabat menurut saya. Penasaran ingin mencoba? Datanglah lebih awal dan jangan lewat tengah malam jika Anda tidak ingin kehabisan karena sudah diserbu oleh pembeli yang datang !

keterangan :
Alamat Gudeg Pawon : Jalan Janturan No 36, Warungboto, Yogyakarta
dari arah KM 0 Yogyakarta (perempatan BNI 46) silahkan arahkan kendaraan ke kiri (arah timur) menuju Jalan Kusumanegara sampai di pertigaan lampu merah arah ke Glagahsari (kampus UTY). Dari lampu merah tersebut silahkan lurus ke timur sampai menemukan supermarket Pamela di kiri jalan. Nah di seberang jalan Pamela tersebut terdapat gang, silahkan masuk ke gang tersebut (belok ke kanan). Silahkan lurus masuk ke gang tersebut untuk menuju warung Gudeg Pawon.

Rabu, 21 Mei 2014

Gultik atau Gulai Tikungan

Jelajah Wisata Kuliner Jakarta, Gultik, Gulai sapi dengan kuah santan yang tidak begitu kental dan rasanya yang lezat disiramkan diatas sepiring nasi, ditambah taburan bawang goreng, kecap, dan kerupuk, Jika anda menyukai rasa pedas, Anda bisa meminta sambal pada pedagangnya. Rasanya memang sederhana namun tetap mempunyai rasa yang khas dan bikin kangen, sehingga rasa gurih gulai dipadu dengan manisnya kecap dan pedasnya sambal cukup untuk membuat anda ketagihan. Gulai ini termasuk jajanan kaki lima akan tetapi dengan rasa yang tidak kala hebat dengan masakan restoran, mungkin karena resep dan keahlian yang sudah ter asah lama

ada beberapa penjual gultik dan mereka mempunyai ciri khas masing-masing, mulai dari cita rasa atau tempatnya dan yang jelas penjualnya juga berbeda beda. Beberapa pengunjung setia memiliki abang-abang favorit untuk menjadi langganan menikmati Gulai diseputaran bundaran mahakam ini.

Kok Namanya Gultik?
Setau saya, nama Gultik berasal dari singkatan Gulai tikungan, karena para abang abang penjual gultik banyak yang berjualan disekitar tikungan atau bundaran Jalan Mahakam - Bulungan, Jakarta Selatan. Gultik biasanya diplesetin gulai tikus sih xixixixi tapi sebenarnya ya gulai sapi.

Berapa Harganya?
Untuk harga saat ini masih Rp 8.000 perporsi, harganya murah meriah tapi rasanya oke punya

Buka Jam Berapa?
Buka mulai jam 4 sore sampai jam 3 malam, tapi tergantung stok gulainya sih, terkadang sampai dengan jam 5 masih ada yang buka

Alamatnya dimana?
Seputar Bundaran Jalan Mahakam - Bulungan, Jakarta 12130, Indonesia, Jakarta Selatan, Jakarta Capital Region
dekat Blok M Plaza dan Ayam bakar Gantari

Suasananya?

Aku kira enak banget, ya gak ada salahnya kalo pingin jelajah wisata kuliner atau kongkow-kongkow untuk mampir di sini. Harganya murah, makanannya enak, dan tempatnya cukup nyaman dan semi terbuka sih tapi oke kok, bahkan banyak kalo malam para langganan yang menggunakan mobil maupun motor pada berdatangan, karena parkirannya juga luas, untuk parkirannya kurang lebih bayar Rp 2000 rupiah.

Para blogger, traveller atau siapaun itu, bahkan mas Bedul atau mas Panjul kalo ingin datang mencoba Gultik alias gulai tikungan silahkan datang lo ke alamat tersebut, dan dijamin ketagihan

Selasa, 14 Januari 2014

Bakmi Jawa Bu Gito - Cozy and Yummy !

Jujur saya paling anti untuk beli bakmi Jawa kalau tidak kepepet. Bukannya tidak doyan dengan olahannya, namun saya tidak cukup sabar untuk mengantri sekedar menikmati sepiring mie kuah nyemek hangat dengan bumbu-bumbu yang memikat. Bayangkan, untuk sekedar menikmati sepiring bakmie saja harus rela antri minimal dua jam, bahkan untuk beberapa tempat bisa lebih lama dari itu. Bisa-bisa saya keburu ngamuk duluan sebelum hidangan disajikan !


Berbekal hasutan dari seorang teman akhirnya saya pun menuntaskan rasa penasaran saya dengan warung Bakmi Jawa Bu Gito di kawasan Rejowinangun. Saya hanya penasaran dengan tata ruang yang dimiliki oleh warung ini yang terlihat unik saat masuk ke liputan sebuah acara kuliner di stasiun televisi swasta. Kalau boleh saya bilang sih warungnya nyempil, dari luar keliatan sempit, tapi pas masuk ke dalam ternyata ruangannya cukup luas.



Well, saya harus akui jika warung bakmi Jawa Bu Gito ini memang memiliki keunikan tersendiri. Lihat saja bagian meja dan kursi yang terbuat dari batang kayu dan akar pepohonan yang dibuat asimetris namun memiliki rasa seni yang kental. Belum lagi ornamen-ornamen yang bergelantungan di bagian dinding ruangan. Ada foto-foto orang terkenal yang pernah berkunjung hingga alat-alat pertanian yang masih sangat tradisional. Belum lagi lampu gantung kuno yang menghadirkan suasana khas Jawa yang kental. Warung makan ini memang berkarakter dan cozy for hangout, apalagi untuk kumpul bersama keluarga. Maka tak heran jika rata-rata pengunjung di sini adalah para keluarga.

Menyantap bakmie Jawa memang dibutuhkan kesabaran ekstra. Sudah bukan rahasia umum lagi jika memasak bakmi Jawa biasanya dilakukan per-porsi, menggunakan anglo sebagai kompor. Bisa Anda bayangkan jika memanaskan arang untuk menjadi bara api itu cukup membutuhkan waktu, belum lagi ada beberapa tempat yang meracik bakmi Jawa itu satu per satu. Sudah dapat dipastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyajikan racikan bakmi Jawa tersebut.


Tak terasa sudah dua jam lebih saya setia menanti bakmi Jawa godhog pesanan saya. Tak lama kemudian sang waiters pun mengantarkan pesanan saya. Waiters di sini unik, karena semuanya berpakaian lurik sehingga menampilkan suasana Jogja yang sangat kuat. Bakmie godhog yang disajikan pun masih mengepul mengeluarkan asap, fresh from panci ! Aromanya sungguh menggoda. Campuran bakmie kuning dan bihun dimasak dengan bumbu-bumbu khusus, diberi sayuran, suwiran ayam kampung dan juga telur bebek. Keunikan warung ini juga pada penggunaan telur bebek pilihan untuk menyajikan hidangan. Sebagai penambah selera, sajian ditaburi dengan bawang goreng serta potongan daun seledri. Rasa kuahnya gurih, tidak asin, dan tidak terlalu pedas. Sangat cocok disantap ketika malam untuk menghangatkan badan.


Untuk minuman, saya menjatuhkan pilihan pada teh poci. Teh ini disajikan pada sebuah teko yang terbuat dari tanah liat. Kita tinggal menyedunya dengan gula batu yang sudah diletakkan ke dalam gelas. Rasanya segar, sepat-sepat khas dari racikan daun teh. Seporsi bakmi Jawa biasa dihargai Rp 15.000,00 dan untuk bakmi Jawa spesial dihargai Rp 20.000,00. Harga yang cukup sepadan untuk rasa dan suasana yang disajikan.

Warung Bakmi Jawa Bu Gito ini terletak di Jalan Nyi Ageng Nis no. 9, Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta. Lokasinya agak tersembunyi di tengah-tengah perkampungan. Sekedar ancer-ancer saja sih, dari arah Jogja ambil saja jalur menuju Kebun Binatang Gembiraloka. Lalu belok di pertigaan samping kebun binatang, lurus ambil arah ke selatan. Lurus terus hingga bertemu masjid, lalu belok ke kiri. Dari arah tersebut lurus sedikit hingga bertemu pertigaan kecil di kanan jalan. Ambil arah ke kanan, lurus masuk perkampungan, sampai menemukan perempatan pertama. Dari perempatan tersebut belok ke kanan (arah barat) lurus terus hingga mentok. Lokasi warung Bu Gito dekat dengan lokasi tersebut. Jika bingung tinggal tanya saja :)

Keterangan :
Bakmi Jawa Bu Gito
Jalan Nyi Ageng Nis No 9 Rejowinangun, Kotagede Yogyakarta
warung ini mulai buka dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 23.00 malam
untuk pagi hari menu yang biasa disajikan adalah gado-gado, lotek, dan kupat tahu.

NB : ternyata mulai dari pagi hari pun warung ini sudah melayani pembeli yang memesan bakmie Jawa, jai bagi Anda yang sedang ngidam bakmie Jawa, tak perlu menunggu datangnya malam karena baik pagi maupun siang Anda dapat membelinya di warung ini