Tampilkan postingan dengan label Surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surabaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Desember 2015

Gurihnya Sate Klopo Ondomohen, Surabaya

Geliat kuliner malam di Surabaya sepertinya semakin terasa semarak ketika larut tiba. Belum sah rasanya, jika tidak menikmati makan malam kedua jika berkunjung ke Kota Pahlawan ini.

Usai menikmati kuliner di Jalan Waspada, kami bergeser menuju daerah Ondomohen atau sekarang lebih dikenal dengan nama Jalan Walikota Mustajab. Lalu lintas malam itu cukup padat dengan lalu lalang kendaraan. Ada pula yang terlihat kebingungan mencari tempat parkir kendaraan untuk menuju warung sate klopo yang terletak di kawasan ini. Kali ini saya diajak mencicipi Sate Klopo Ondomohen Ibu Asih, salah satu warung sate yang cukup legendaris di Kota Pahlawan ini.


Kepulan asap dari tungku pembakaran seolah memanggil para pembeli untuk datang mencicipi kenikmatan sajian sate yang dijajakan di warung yang terlihat sederhana ini. Benar saja, ketika kami memasuki warung sate yang terletak di Jalan Walikota Mustajab No 36 ini, sudah terlihat pembeli yang memenuhi semua bangku yang disediakan di warung ini. Belum lagi pembeli yang berjbel di depan warung sambil menanti pesanan. Kami bertiga hanya bisa celingukan melihat kondisi di dalam warung, apakah masih ada bangku kosong untuk kami tempati. Sembari menanti ada kursi kosong, kami sengaja menunggu pesanan di bagian depan kios, mengambil kursi dan duduk di bagian trotoar jalan. "Awas lho mbak nanti kena garuk Satpol PP kalau makan di trotoar!", celetuk Bu Asih yang berada di bagian depan warung sembari menunggu bagian kasir. Kami bertiga pun berhamburan dan akhirnya memilih masuk ke dalam, lalu duduk di bagian pojok warung. Iya, kebetulan hanya di bagian pojok inilah ada bangku kosong yang dapat kami tempati bertiga.



Sate Klopo Ondomohen merupakan salah satu kuliner yang cukup legendaris di Kota Surabaya. Keunikan sate ini adalah baluran bumbu kelapa parut pada daging sebelum dibakar di atas arang. Kita dapat memilih menggunakan daging ayam ataupun daging sapi sebagai sajian. Namun, menurut penuturan mbak Yanti, daging sapilah yang menjadi ciri khas dari sate Ondomohen ini. Setelah balutan daging yang dibaluri bumbu parutan kelapa tersebut dibakar, kemudian disajikan dengan campuran sambal kacang. Sebagai pendampingnya, disediakan pilihan nasi atau lontong yang diberi taburan serundeng yang menambah selera. Berhubung kami bertiga sudah hampir food coma, kami memilih untuk menyantap satenya saja tanpa tambahan nasi maupun lontong.


Cita rasa sate klopo Ondomohen ini terasa gurih. Tambahan bumbu baluran parutan kelapa memberi tekstur sedikit "krenyes-krenyes" pada sajian satenya. Dagingnya pun cukup empuk dan tidak terasa alot. Ditambah dengan sambal kacangnya yang terasa pas, tidak terlalu manis. Kita pun dapat menambah potongan cabai segar jika ingin memberi rasa pedas. Walaupun sudah hampir menjelang pukul sepuluh malam, namun pengunjung yang berdatangan ke warung ini semakin terlihat ramai. Benar kata mbak Yanti, jika orang Surabaya akan kembali mencari makan malam kedua setelah pukul sembilan malam. Hehehe...


Suasana warung sate klopo Ondomohen memang terlihat cukup sederhana. Deretan meja dan kursi panjang tertata rapi di dalam ruangan. Beberapa kipas angin besar dipasang di dalam warung untuk menghalau asap dari pembakaran sate yang masuk ke dalam ruangan. Di bagian dinding warung ini juga dihiasi dengan foto-foto para public figure di Indonesia yang pernah mampir ke warung sate ini. Sebuah warung makan sederhana yang tak hanya menjual cita rasa namun juga menghadirkan nuansa noslagia bagi pengunjung yang bersantap menikmati sajian sate kloponya.

Warung sate klopo Ondomohen buka dari pukul 06.30 pagi sampai pukul 23.30 malam. Jika Anda tidak terlalu menyukai suasana ramai dan bingung mencari tempat duduk, saya sarankan datang kemari di luar jam-jam padat seperti jam makan siang, jam pulang kerja, maupun jam makan malam. Dijamin, jika Anda datang di jam-jam tersebut harus bersabar menanti tempat duduk yang kosong untuk bisa menikmati sajian sate klopo Ondomohen ini.

Gurihnya cita rasa sate klopo Ondomohen yang unik ini menjadi penutup perjalanan rasa saya di Kota Surabaya. Ternyata, cukup banyak sajian yang memanjakan lidah di Kota Pahlawan ini yang bisa dicoba satu per satu. Mungkin suatu hari nanti saya akan kembali ke kota Pahlawan ini untuk mencoba kuliner-kuliner lain yang ciamik soro !

keterangan :
Lokasi sate klopo Ondomohen berada di Jalan Walikota Mustajab No. 36 Surabaya
buka dari pukul 06.30 pagi sampai pukul 23.30 malam
range harga : Rp 20.000,00 sampai Rp 30.000,00 (data bulan November 2015)

Senin, 28 Desember 2015

Es Kacang Ijo Goyang Lidah, Surabaya

Es bubur kacang ijo atau orang Surabaya biasanya menyebutnya es kacang ijo merupakan salah satu sajian kuliner yang cukup mudah ditemui di mana saja. Namun, apa yang menjadikan sajian es kacang ijo di Jalan Waspada, Surabaya ini istimewa dibandingkan dengan sajian sejenis di kota lainnya?

Usai menyantap sajian nasi cumi di Jalan Waspada, mbak Yanti mengajak kami untuk memesan es kacang ijo yang berada persis di sebelah warung nasi cumi ini. Warung es kacang ijo ini juga terlihat cukup sederhana, namun pengunjung yang datang kemari tak kalah ramainya seperti di warung nasi cumi. Pedagang es kacang ijo di Surabaya biasanya berasal dari Madura. Bahkan, saking terkenalnya, banyak warung es kacang ijo di daerah tempat saya tinggal yang memberi embel-embel es kacang ijo Madura di warung milik mereka. Lalu apa sih keistimewaan es kacang ijo di warung Goyang Lidah ini?


Jika di daerah saya tinggal, penjual bubur kacang ijo biasanya dapat ditemui ketika pagi dan menjelang malam hari. Menu bubur kacang ijo bisa digunakan sebagai menu sarapan maupun camilan menjelang malam. Jika di pagi hari, penjual bubur kacang ijo biasanya menghidangkan menu ini yang terdiri dari kacang hijau yang dicampur ketan hitam dan diberi campuran santan encer sebagai kuah. Sedangkan pada malam hari, hidangan es bubur kacang ijo ini terdiri dari campuran kacang hijau, ketan hitam, bubur mutiara, potongan roti tawar, diberi santan sebagai kuah dan dicampur dengan sirup coco pandan. Nah, yang rasa manis pada sajian es bubur kacang hijau di daerah Solo ini didapatkan dari kuah santan dan juga campuran sirup pada sajian. Cukup kontras dengan es kacang ijo yang saya coba di warung Goyang Lidah, Surabaya ini.


Bagaimana tampilan es kacang ijo di warung Goyang Lidah ini? Jika dilihat sekilas memang terlihat mirip dengan sajian es kacang ijo di kota lain yang pernah saya coba. Apa sih yang membedakannya? Setelah saya kulik-kulik isinya, ternyata es kacang ijo di warung ini hanya terdiri dari bubur kacang ijo yang diberi serutan degan (kelapa muda) lalu disiram dengan santan encer. Rasa manis didapatkan justru dari si bubur kacang ijonya, tektur kacang ijonya sendiri terlihat utuh dan tidak pecah, kuah santannya cenderung gurih, bukan manis, ditambah dengan serutan degan (kelapa muda) semakin membuat sajian es kacang ijo di warung Goyang Lidah ini semakin terasa istimewa.

Cita rasa manis dan gurih yang pas, membuat sajian es kacang ijo ini terasa nikmat dan tidak eneg. Pantas saja banyak orang rela antri datang kemari untuk bisa menikmati sajian es kacang ijo ini. Satu porsi es kacang ijo di warung ini dihargai Rp 6.000,00 saja dengan porsi yang lumayan banyak menurut saya. Cukup murah bukan? Warung es kacang ijo Goyang Lidah ini mulai buka dari pukul 17.30 WIB sampai dengan habis. Saya sarankan sih jangan datang terlalu malam jika tidak ingin kehabisan 

Sabtu, 26 Desember 2015

Nasi Cumi Jalan Waspada, Surabaya

Keberadaan kuliner malam memang selalu menggoda untuk dicoba. Nasi Cumi di Jalan Waspada Surabaya misalnya, warung kaki lima yang tidak pernah sepi oleh pembeli ini menyajikan masakan cumi yang menggoda untuk dicoba. 

Suasana Jalan Waspada di malam hari terlihat tak sepadat ketika siang hari. Jalan kecil yang terletak di samping Pasar Atum Surabaya ini memiliki sebuah spot kuliner menarik untuk dicicipi. Nasi Cumi Jalan Waspada, sebuah warung kaki lima yang cukup familiar bagi masyarakat Surabaya. Warung kaki lima ini terlihat selalu ramai oleh para pembeli yang ingin menuntaskan rasa lapar atau pengunjung dari luar kota yang ingin menuntaskan rasa penasaran.


Warung nasi cumi ini dahulu buka menjelang tengah malam, namun kini warung tersebut siaga 24 jam. Tapi, tetap saja pengunjung yang datang kemari lebih ramai pada malam hari dibandingkan siang hari. Maka tak heran, jika pada malam hari si penjual akan menambah jumlah meja dan kursi sehingga terkesan memakan sebagian badan jalan. Ya, itu juga demi kenyamanan para pengunjung agar mendapatkan tempat duduk untuk bersantap di warung sederhana ini.


Ada empat pilihan menu yang ditawarkan di warung nasi cumi ini. Ada nasi biasa, nasi campur, nasi komplit, dan menu terbaru adalah rawon cumi. Setelah memperhatikan komposisi pada sajian yang ditawarkan, saya memesan nasi campur, sedangkan kawan saya mencoba rawon cumi. Nasi campur terdiri dari nasi putih dengan lauk cumi masak tinta, empal, mie goreng, telur masak balado, dan peyek udang. Ketika menu yang saya pesan datang, saya pun cukup kaget dengan tampilan menu yang disajikan. Ini sih, terlihat lauk diberi nasi, karena lauk yang disajikan benar-benar melimpah. Cita rasa cumi masak tinta di warung ini memang juara. Cuminya empuk, rasanya gurih, dan sama sekali tidak terasa bau amis. Padahal, biasanya saya tidak terlalu gemar sajian cumi karena bau amis yang cukup tajam ketika disajikan. Namun, sajian cumi masak tinta di warung Nasi Cumi Waspada ini benar-benar berbeda dari sajian cumi di warung lainnya. Sajian telur dan empal dagingnya juga gurih dan empuk. Perpaduan yang pas, ditambah dengan peyek udang semakin menambah tekstur chruncy pada sajian. Benar-benar sajian sederhana dengan rasa yang istimewa.


Menu rawon cumi juga memiliki rasa yang cukup menggoda. Jika biasanya rawon disajikan hanya dengan campuran daging sapi sebagai lauknya, di warung ini, selain menggunakan daging sapi, ditambahkan pula dengan cumi masak tinta. Rasa rawonnya gurih, tidak terlalu asin dan tidak terasa pedas. Ditambah dengan lauk cumi dan taburan srundeng semakin menambah nikmat cita rasa rawon cumi ini. Memang sih, menyantap sajian nasi cumi ini harus siap-siap dengan kolesterol yang mengintai. Tapi jika sesekali menyantap sajian masakan ini tak apalah ! Hehehe.


Untuk pelayanan di warung ini memang terkesan kurang ramah dan terkesan jutek, apalagi jika pengunjung sedang banyak-banyaknya. Berbeda dengan warung-warung tenda lainnya, di warung nasi cumi ini pelayannya cukup sigap untuk membereskan piring, walaupun masih tersisa makanan di atas piring tersebut. Sesuatu yang kontras saya temui di warung makan kaki lima lainnya, piring bekas makanan biasanya baru dibereskan setelah pembeli selesai membayar pesanan dan keluar dari warung. Tapi bagaimana juga, warung ini memang memiliki magnet tersendiri. Benci tapi membuat rindu. Walaupun pelayanannya kurang ramah, tapi tetap saja warung ini selalu ramai diburu oleh pembeli karena cita rasa sajian nasi cuminya yang ciamik soro ! Bagaimana, tertarik untuk mencoba sajian nasi cumi di Jalan Waspada ini? Jika berkunjung ke Surabaya jangan lupa untuk mengagendakan menyantap sajian nasi cumi di warung ini ya !

keterangan :
harga seporsi nasi cumi berkisar dari Rp 15.000,00 sampai dengan Rp 25.000,00 tergantung menu yang dipesan (data bulan November 2015)

Jumat, 25 Desember 2015

Empuk dan Gurihnya Bebek Palupi, Surabaya

Belum lengkap rasanya berkunjung ke Kota Surabaya tanpa mencicipi olahan sego bebeknya. Bahkan, saking terkenalnya menu sego bebek ini, rasa-rasanya hampir di tiap sudut kota Surabaya dapat dengan mudah kita jumpai menu yang satu ini.

Selain terkenal dengan rujak cingurnya, Surabaya juga terkenal dengan kuliner sego bebeknya. Menu sego bebek sepertinya cukup melekat dengan keseharian orang Surabaya. Rugi rasanya jika berkunjung ke Kota Surabaya tanpa mencicipi menu sego bebeknya. Salah satu warung sego bebek yang cukup ternama di Surabaya adalah Sego Bebek Palupi. Warung sego bebek Papupi berlokasi di Jalan Raya Rungkut Asri Tengah nomor 10 Surabaya. Jika dilihat sekilas, lokasi warung bebek Palupi menempati sebuah tempat yang tidak seberapa luas dan terkesan cukup sederhana. Namun pengunjung yang datang terlihat selalu ramai, bahkan kadang harus antri untuk mendapatkan tempat duduk. 


Setelah mendapatkan tempat duduk, kami pun langsung memesan menu yang disedikan. Menu yang kami pilih adalah bebek goreng dan bebek goreng krispi. Tak lama kemudian pesanan kami pun datang. Sajian sego bebek terdiri dari sepiring nasi putih hangat, potongan bebek goreng, sambal, dan lalapan. Sedangkan bebek krispi penyajiannya hampir sama dengan bebek goreng biasa, hanya saja ditambah dengan taburan tepung krispi pada sajian bebeknya. Potongan daging bebeknya lumayan besar, berbeda dengan sajian bebek goreng yang pernah saya coba di kota lain.


Bebek Palupi memiliki tekstur yang garing dan krispi di bagian kulit luar, namun bagian dagingnya sangat empuk dan sama sekali tidak terasa alot.  Daging bebeknya pun gampang terurai ketika digigit. Aroma rempahnya cukup terasa dan sama sekali tidak terasa bau amis. Cita rasanya pun sangat gurih, bumbu bebeknya meresap sampai ke dalam daging, cocok disantap dengan nasi putih hangat, ditambah dengan sambal yang tidak terlalu pedas terasa semakin nikmat. 

Bagi orang Surabaya, menyantap sego bebek tidak lengkap jika tidak menggunakan bumbu minyak bebek. Bumbu minyak bebek disediakan terpisah. Jika dilihat sekilas, bumbu minyak bebek ini terlihat seperti sajian sambal hijau. Tapi setelah dijelaskan oleh Mbak Yantie, ternyata minyak bebek ini menjadi sajian favorit ketika menyantap sego bebek. Saya mencicipi sedikit minyak bebek tersebut. Saya kira cita rasanya pedas, namun ternyata rasanya gurih, sama sekali tidak pedas. Pantas saja banyak orang yang begitu menikmati minyak bebek ini ketika menyantap sego bebek.


Jalan-jalan ke Surabaya memang tidak lengkap jika belum mencicipi sajian sego bebek. Warung Sego Bebek Palupi bisa menjadi salah satu refrensi lokasi untuk mencicipi gurihnya sajian sego bebek khas Kota Pahlawan ini. Bagaimana, terterik untuk mencicipi sajian sego bebek jika bertandang ke Surabaya?

harga:
satu porsi bebek Palupi berkisar dari Rp 18.000,00 sampai Rp 25.000,00 (data bulan November 2015)

Senin, 21 Desember 2015

Kuliner di Pasar Atum Surabaya yang Ciamik Soro

Lalu lalang kendaraan cukup padat di Jalan Waspada yang terletak di samping Pasar Atum, Surabaya. Kami bertiga turun dari taksi dengan sedikit terburu-buru karena bunyi klakson dari mobil di belakang kamu seolah mengisyaratkan jika pengemudinya tak sabar menunggu. Mbak Yanti pun bergegas mengajak kami memasuki sebuah lorong di salah satu sudut Pasar Atum untuk memulai petualangan rasa siang ini. Apa saja kuliner yang ciamik di Pasar Atum yang wajib dicicipi?

1. Bubur Madura
Perburuan kuliner siang itu kami mulai dengan makanan bercita rasa manis gurih. Mbak Yanti mengajak kami untuk mencicipi bubur Madura yang banyak dijual di salah satu lorong Pasar Atum. Lorong ini seolah menjadi lokasi khusus untuk berjualan bubur Madura. Ada banyak penjual bubur Madura di sini dan semua penjualnya adalah perempuan yang biasa dipanggil "buk", sebutan untuk perempuan Madura.


Satu porsi bubur Madura terdiri dari campuran bubur sumsum, bubur mutiara, bubur ketan hitam, bubur candil (jenang grendul). Campuran bubur tersebut disajikan diatas pincuk kertas minyak yang dilambari daun pisang. Untuk menambah rasa manis, campuran bubur tersebut diberi santan kental dan kicir gula jawa cair atau orang Surabaya biasa menyebutnya kinca.

Bubur Madura memiliki cita rasa gurih, manis dan legit. Rasa gurih berasal dari campuran bubur dan santan, sedangkan rasa manis berasal dari campuran kicir gula jawa. Tekstur jenang grendulnya membuat sensasi grenjel-grenjel ketika masuk ke dalam mulut. 


Selain menjual bubur Madura, para buk ini juga menjajakan jajanan pasar seperti lopis, ketan putih, klanting, jongkong, talam, tiwul, dan sebagainya. Satu porsi bubur Madura dijual dengan harga Rp 8.000,00 saja. Walaupun dijual di lapak sederhana, jangan khawatir dengan kebersihan tempat dan dagangannya ya !

2. Kue Bikang Peneleh
Aroma pandan dari kejauhan terasa cukup tajam terasa di indera penciuman. Sebuah kios sederhana menjajakan kue bikang dan kue lumpur fresh from the open. Jika saja kami datang lebih pagi, kami bisa melihat proses pembuatan kue bikang dan kue lumpur secara langsung. Om Hengky, pemilik kios Kue Bikang Peneleh ini menyambut kami dengan ramah. Beliau menjelaskan satu per satu jajanan tradisional yang dijual di gerainya.


Jajanan tradisional yang banyak menjadi incaran adalah kue bikang dan kue lumpur. Kue bikang adalah kue yang berbahan dasar tepung beras, santan dan gula. Bentuknya mekar seperti bunga dan memiliki cita rasa manis. Kue bikang yang dijual di gerai Peneleh ini memiliki dua rasa, yaitu pandan dan cokelat. Sedangkan jajanan lain yang menarik perhatian saya adalah kue lumpur. Kue yang berbahan dasar kentang, tepung terigu, telur, dan santan ini terlihat begitu menggoda. Ukurannya sedikit lebih besar daripada yang biasa saya temui di toko roti lainnya. 


Baik kue carabikang maupun kue lumpur di kios Peneleh ini terlihat begitu menggoda. Jika dilihat tampilannya sekilas mirip seperti kue-kue sejenis yang dijual di tempat lain, Namun, dari segi rasa cukup beda. Rasanya sangat gurih, teksturnya begitu lembur di bagian atas, dan cukup garing di bagian bawah. Campuran santan kental membuat tekstur kue ini terasa "maklegender" ketika masuk ke dalam mulut karena saking lembutnya. Tak perlu banyak dikunyah, ketika ditelan pun rasanya langsung seperti meluncur ke kerongkongan. 


Karena menggunakan santan kental, kue bikang dan kue lumpur Peneleh ini kurang tahan lama. Paling hanya bisa bertahan sehari saja, sehingga setelah membeli harus segera disantap agar tidak basi. Selain kue bikang dan kue lumpur, di kios Peneleh ini juga menjual beberapa jajanan tradisional seperti kue usus ayam (kue yang berbentuk seperti usus ayam), bakcang, ote-ote Porong dan sebagainya. 

3. Cakue Udang Peneleh
Bergeser menuju sebelah kios Kue Bikang Peneleh. Kami menemui sebuah kedai yang menjual beragam jajanan. Dari berbagai macam jajanan yang dijajakan, cakue lah yang menjadi incaran para pembeli. Kedai ini menurut saya benar-benar heboh, ruangan kedainya cukup luas dibanding yang lain serta memiliki pegawai yang sangat banyak untuk sebuah kedai cakue. Saya dan Mbak Yanti iseng menghitung jumlah pegawai yang mengenakan kaos seragam berwarna merah. Mungkin ada sekitar 20 orang pegawai di kedai tersebut dan semuanya terlihat begitu sibuk dengan tugas masing-masing. Maklum lah, pembeli yang berdatangan pun cukup banyak dan lumayan antri. Dari semua jajanan yang dijual, cakue isi udang adalah must buy item di kedai ini. Pembuatan cakuenya hampir sama dengan warung-warung lain yang kita temui. Yang membedakannya adalah isian udang pada cakue ini.



Cakue udang di sini memiliki rasa gurih, semakin nyamleng jika dimakan dengan mencocolkan saus yang sudah jadi satu paket ketika membeli cakue.Rasa sausnya tidak pedas, melainkan ada rasa sedikit manis dan kecut dari cuka. Selain cakue, di kedai ini juga menjual jajanan lain seperti ote-ote, roti goreng, angsle dan masih banyak lagi jajanan lainnya.

4. Lontong Mie Ny. Marlia
Puas menikmati jajanan pasar yang beragam, saatnya untuk mencicipi makanan berat yang ada di Pasar Atum. Salah satu kedai yang menjual makanan berat di Pasar Atum adalah kedai lontong mie Ny Marlia. Kedai yang terletak di lantai dua ini memiliki nuansa semi terbuka, tidak ada sekat yang membatasi ruangan, sehingga pengunjung dapat bebas berlalu-lalang di kedai tersebut.



Lontong mie merupakan makanan yang terdiri dari potongan lontong yang diletakkan di bagian dasar piring, kemudian diberi tambahan potongan tahu goreng, mie kuning, tauge rebus. Campuran bahan makanan tersebut kemudian diberi kuah berwarna kecokelatan. Sebagai pelengkap, diberi taburan bawang goreng dan ebi kering. Lontong mie memiliki citarasa gurih dan sedikit manis yang berasal dari kuah yang dicampurkan tersebut. Jika ingin pedas, bisa menambahkan sambal dan petis yang ditempatkan terpisah. Sebagai pelengkap, biasanya disajikan makanan pendamping seperti lentho, sate telur puyuh dan sate kerang. Sayang, ketika saya datang hanya ada sate kerang saja. Sate kerangnya memiliki tektur yang "kenyil-kenyil" dan bercita rasa gurih, cocok jadi pendamping makan lontong mie ini. Untuk minumannya, kami memesan es blewah. Campuran serutan blewah yang dipadu dengan sirup coco pandan memang cocok untuk menutup santap siang hari itu.

5. Warung Kopi & Jajan Pasar Kartiko
Nah, lelah berkeliling Pasar Atum, paling enak ya nyantai di Kartiko. Pasat Atum memang memiliki kuliner yang beragam, hanya saja tidak ada tempat yang nyaman untuk duduk sambil menikmati suasana sambil ngemil jajanan yang sudah kita beli. Nah, yang pengen duduk santai sambil mencicipi jajanan sambil ngopi bisa mampir ke Kartiko ini. Kartiko berada di lantai tiga Pasar Atum, memiliki suasana warung kopi sederhana tetapi nyaman untuk duduk berlama-lama. Interior ruangannya pun cukup unik. Bagian lantai di menggunakan tegel kunci dari Jogja yang memberikan kesan jadul. Pun juga dengan detail-detail lain seperti hiasan dinding, meja dan kursi kayu yang bertekstur dan keliatan jadul, pun juga dengan gelas yang digunakan. Eiitt, walaupun kesannya jadul, tapi bukan berarti menggunakan barang-barang lama ya, hal ini sekedar untuk branding tempat saja.


Memasuki kedai Kartiko memang harus bisa tahan diri, kalau tidak ya bakal dijamin kalap. Karena tempat ini menyediakan berbagai macam pilihan jajan pasar yang menggoda iman. Konsepnya seperti berbelanja di convenience store, jadi pembeli akan langsung membawa nampan, lalu memilih jajanan yang kita suka, kemudian antri untuk membayar di kasir. Berhubung saya datang pas akhir pekan, jadi cukup sulit untuk mencari kursi yang kosong karena selalu penuh digunakan oleh pengunjung. Beruntung ada tiga kursi kosong yang menghadap keluar. Tanpa babibu saya pun langsung mendudukinya bersama kawan.



Siang itu kami memesan beberapa menu makanan, antara lain ote-ote dengan sambal petis, lemper special Kartiko, dan wedang ronde ketan hitam. Ote-ote sambal petis memiliki cita rasa manis gurih. Ote-ote (bakwan) cukup kesat, tidak terasa berminyak di mulut. Jika kurang pedas, disediakan pula cabai rawit utuh dalam sajiannya. Untuk wedang rondenya sendiri terasa cukup unik. Jika wedang ronde yang biasa saya temu di Solo dan Jogja kuahnya terasa manis, tidak demikian dengan wedang ronde ketan hitam ini. Rasa manis justru diperoleh dari ketan hitam yang dibentuk bulatan kecil, sedangkan kuahnya tidak terlalu manis, lebih terasa rasa jahenya. Jajanan lain yang kami coba adalah lemper spesial Kartiko. Lemper di sini berwarna kuning, dengan isian daging ayam yang melimpah.


Sebenarnya masih ada beberapa makanan yang masih wajib untuk dicoba. Namun rasanya siang itu saya sudah hampir food coma. Daripada terus dipaksa makan malah nanti tidak bisa menikmatinya, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan petualangan rasa mencicipi kuliner di Pasar Atum, Surabaya. Pasar Atum merupakan salah satu pasar tekstil yang ada di Kota Surabaya. Walaupun komoditas utama yang diperdagangkan adalah tekstil, namun Pasar Atum juga memiliki pilihan kuliner yang beraneka ragam. Oh iya, jangan sungkan untuk mengeluarkan kamera jika ingin memotret makanan di Pasar Atum ini. Rata-rata para pedagang sudah terbiasa dengan wisatawan yang sengaja untuk berburu makanan di sini kok. Rata-rata mereka cukup terbuka kok dengan wisatawan yang memotret makanan yang mereka jual, ya itung-itung bisa promosi gratis bagi mereka bukan?

Jika ingin memanjakan lidah di Pasar Atum, jangan lupa untuk menyiapkan perut ya, bisa-bisa Anda food coma  karena terlalu kalap ingin mencicipi semua kuliner yang ada di pasar ini !

Happy culinary !

Kamis, 12 Desember 2013

Sehari Bersama Surabaya Heritage Track (Part II)

Selesai mengikuti Surabaya Heritage Track "tahap pertama", saya beserta rombongan pun segera bergegas menuju Tracker Information Center. Kami pun kembali mendaftarkan diri untuk mengikuti jadwal tour yang diadakan pukul 15.00 sore. Peserta Surabaya Heritage Track pada jam 15.00 rata-rata merupakan para trackers yang telah mengikuti trip sebelumnya. Dari acara Surabaya Heritage Track inilah keakraban pun timbul di antara peserta. Dari yang awalnya kami tidak kenal hingga akhirnya saling kenal.


Menjelang pukul 15.00 para peserta pun antri dengan tertib masuk ke dalam bus. Satu per satu peserta diberikan sebuah co card sebagai penanda bahwa kami adalah peserta Surabaya Heritage Track. Untuk rute kali ini para trackers diajak untuk mengunjungi Kantor Pos Besar Surabaya di daerah Kebonrojo. Karena letaknya di kawasan Kebonrojo, maka masyarakat Surabaya lebih mengenalnya sebagai Kantor Pos Kebonrojo. Bangunan ini didirikan sekitar tahun 1880 oleh Belanda. Pada tahun 1881, bangunan ini difungsikan sebagai tempat tinggal Bupati Karesidenan Surabaya. Kemudian pada tahun 1925 bangunan ini difungsikan sebagai HBS (Hogere Burger-School) yaitu sekolah yang didirikan oleh bangsa Belanda yang setara seperti SMA. Di gedung inilah Sang Proklamator kita, yaitu Ir. Soekarno pernah mengenyam pendidikan sebelum akhirnya beliau melanjutkan bangku perkuliahan di Technische Hoogeschool te Bandoeng atau sekarang lebih dikenal sebagai ITB (Institut Teknologi Bandung).




Dalam tour ini sang pemandu pun menerangkan mengapa Kantor Pos identik dengan warna orange. Warna orange sendiri merupakan warna yang diberikan oleh Bangsa Belanda. Warna orange dipercaya oleh Bangsa Belanda merupakan simbol dari kejayaan. Maka tak heran jika seragam tim kesebelasan sepak bola Belanda menggunakan seragam berwarna orange. Satu hal yang paling saya sukai dari bangunan Kantor Pos Kenonrojo ini adalah bagian interiornya yang cukup unik. Bangunan dengan langit-langit yang cukup tinggi sehingga memungkinkan sirkulasi udara dan pencayahaan yang cukup. Satu hal lagi yang unik di Kantor Pos ini, kita bisa mencetak perangko dengan foto wajah kita sendiri. Ada minimal jumlah cetaknya memang. Saya pun berceletuk dengan sesama trackers, unik kali ya kalau kita kirim CV ke perusahaan dengan perangko yang ada gambar wajah kita !



Usai berkeliling di Kantor Pos Kebonrojo, para trackers pun diajak berjalan kaki menuju Gereja Kepanjen, salah satu gereja Katholik tertua di Kota Surabaya. Bangunan gereja ini cukup unik, yaitu menggunakan material batu bata yang tidak dihaluskan dengan semen pada bagian dindingnya, sehingga tekstur dari batu bata masih kasat mata terlihat. Di bagian samping bangunan gereja terdapat replika Goa Maria yang digunakan untuk peribadatan. Dibalut dengan pepohonan yang cukup rindang menjadikan suasana di Goa Maria ini cukup sejuk di antara panasnya udara Kota Surabaya. Memasuki bagian dalam gereja, kita akan disambut dengan deretan kursi-kursi panjang yang menghadap ke altar. Suasana Gereja Kepanjen ini sekilas mirip seperti suasana di Gereja Katedral Jakarta, namun terlihat lebih sederhana.


Usai menikmati bangunan Gereja Kepanjen, para trackers pun diajak kembali untuk naik ke dalam bus. Kali ini perjalanan dilanjutkan menyusuri kawasan Jalan Indrapura hingga Jalan Rajawali. Kali ini bus SHT berhenti di depan sebuah bangunan tua di kawasan Jalan Garuda. Para trackers diajak untuk mengunjungi Gedung Bank Indonesia Eks De Javasche Bank. Gedung yang berlokasi di belakang gedung Bank BNI Jalan Rajawali ini baru selesai dikonservasi tahun 2012. Gedung tersebut kini difungsikan sebagai museum dan juga ruang pamer. Masyarakat dapat menyewanya untuk mengadakan acara kesenian, budaya, dan juga pendidikan.



Sebagai sebuah museum, Eks De Javasche Bank ini memiliki koleksi-koleksi yang cukup menarik. Di lantai bagian atas kita akan menemukan beberapa barang-barang yang digunakan dalam kegiatan perbankan pada masa itu. Misalnya saja pintu masuk dengan bentuk memutar, kemudian ruangan yang berbentuk bilik-bilik yang terbuat dari anyaman besi yang dahulu dijadikan sebagai tempat untuk bertransaksi. Kesemua barang-barang tersebut masih asli sejak jaman Kolonial Belanda dahulu. Beralih ke ruangan bagian bawah kita akan diajak untuk melihat barang-barang yang digunakan dalam kegiatan perbankan, khususnya operasional Bank Indonesia. Di museum ini dipamerkan benda-benda seperti alat untuk mencetak uang, mulai dari alat yang jadul hingga alat yang modern. Ada juga sebuah ruangan khusus yang digunakan sebagai tempat brankas menyimpan uang dan surat-surat berharga milik nasabah yang dititipkan ke bank. Ada satu hal yang unik di gedung ini, yaitu adanya lorong-lorong kecil di bagian sudut bangunan. Lorong-lorong ini saling berhubungan dan memiliki cermin pada bagian ujungnya. Menurut penuturan sang pemandu, cermin-cermin inilah yang memantulkan bayangan di ruang sebelah sehingga petugas bank dapat mengamati kondisi di sekitar gedung/bangunan. Jika jaman modern sekarang ini, peran cermin ini diibaratkan sebagai CCTV. Unik memang, dan jujur saya sedikit membutuhkan waktu untuk memahami fungsi dari lorong-lorong dan cermin yang terpasang tersebut.


Usai berkeliling di gedung Eks De Javasche Bank, maka berakhirlah tour bersama Surabaya Heritage Track kali ini. Sebagai bocoran, setiap bulannya acara Surabaya Heritage Track ini memiliki tema yang berbeda-beda pada setiap tournya. Maka tidak heran jika rute dan lokasi yang dikunjungi pun berbeda-beda. Ingin menikmati tempat-tempat bersejarah di Kota Surabaya dengan sudut pandang yang berbeda? Tak ada salahnya jika Anda mampir ke Museum House of Sampoerna dan menikmati tour bersama Surabaya Heritage Track ini :)

Kamis, 28 November 2013

Sehari Bersama Surabaya Heritage Track (Part I)

Surabaya bagian utara memang menyimpan banyak bangunan-bangunan bersejarah peninggalan jaman Kolonialisme Belanda yang masih terawat hingga sekarang ini. Ingin berkeliling Surabaya Utara sambil menikmati bangunan-bangunan bersejarah secara gratis? Surabaya Heritage Track lah jawabannya !


Lalu-lalang kendaraan bermotor menyambut kedatangan saya di Jalan Rajawali, Surabaya pagi itu. Bus kota pun mulai bergerak menuju daerah sekitaran Jembatan Merah Plaza (JMP) sebelum saya akhirnya turun di sana. Ini adalah kali kedua saya menginjakkan kaki di kawasan ini. Kondisinya pun masih terlihat sama, jalan raya dengan jalur searah yang diapit oleh bangunan-bangunan kuno bergaya arsitektur Belanda yang terlihat sangat khas. Tujuan saya kali ini ingin kembali mengunjungi Museum House of Sampoerna. Bukan untuk berkeliling menikmati koleksi museumnya, melainkan ingin menikmati tour bersama Surabaya Heritage Track.


Dalam sehari, Museum House of Sampoerna mengadakan kegiatan Surabaya Heritage Track selama tiga kali. Berhubung saya berkunjung pada hari biasa, maka rute yang digunakan dalam tour  merupakan rute pendek, di mana dalam sekali tour memakan waktu sekitar satu jam perjalanan. Sayang, untuk jadwal tour jam 09.00 pagi saya tidak kebagian tiket. Pada akhirnya pun saya memesan tiket untuk trip selanjutnya pada pukul 13.00 dan ditawari untuk langsung mengikuti trip pada pukul 15.00.


Pemberhentian pertama trip siang itu adalah Gedung Cerutu dan Gedung Internatio yang berada di sekitaran kawasan Jembatan Merah Plaza. Dinamakan Gedung Cerutu karena bentuk menara bangunan yang mirip seperti cerutu. Gedung yang didirikan sekitar tahun 1916 ini pernah ditempati oleh perusahaan gula serta perusahaan ban Bridgestone. Sedangkan Gedung Internatio merupakan gedung yang dahulunya digunakan oleh perusahaan perkebunan dan perbankan milik Belanda. Gedung ini memiliki nama lengkap yaitu Gedung Internationale Credit en Handelsvereening "Rotterdam". Gedung ini pula yang menjadi "saksi bisu" terbunuhnya Brigjend Mallaby di Sekitar Jembatan Merah pada saat pertempuran antara rakyat Indonesia melawan tentara Sekutu untuk mempertahankan kemerdekaan.


Pemberhentian selanjutnya adalah Klenteng Hok Ang Kiong, sebuah bangunan klenteng tertua yang ada di Kota Surabaya. Klenteng ini berada di Jalan Coklat, salah satu kawasan pecinan di daerah Surabaya Utara. Semua tracker (sebutan untuk peserta Surabaya Heritage Track) pun dipersilahkan untuk turun dari bus dan berkeliling di area klenteng selama kurang lebih 15 menit. Klenteng ini digunakan untuk tempat peribadatan dan penghormatan kepada Makcho, dewi pelindung pelaut dan nelayan. Setelah selesai berkeliling di Klenteng Hok Ang Kiong, pasa tracker pun kembali diajak berkeliling di kawasan pecinan Kota Surabaya ini. Selama berkeliling di kawasan pecinan ini pemandu menunjukkan tiga rumah abu yang hingga kini masih digunakan. Rumah abu tersebut antara lain milik keluarga Tjoa, keluarga The, dan keluarga Han.




Tujuan trip selanjutnya adalah menyusuri daerah Kembang Jepun yang menjadi salah satu pusat kegiatan perdagangan di Kota Surabaya. Kali ini para trackers diajak untuk masuk dan berkeliling di Museum Bank Mandiri yang terletak di kawasan Kembang Jepun ini. Bangunan ini dahulunya merupakan bekas bangunan Nedherlandsch-Indische Escompto Maatschappij, yaitu sebuah bank yang berdinas di beberapa kota besar di kawasan Hindia-Belanda. Di museum ini dipamerkan beberapa peralatan perkantoran yang digunakan untuk kegiatan perbankan, antara lain seperti mesin ketik, komputer-komputer jadul, hingga mesin untuk mem-back up data yang sebesar piringan hitam. Di museum ini juga dipemarkan dokumen-dokumen penting arsip perbankan, seperti surat-surat berharga hingga buku tabungan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Di bagian lain dari museum ini lebih banyak dipamerkan foto-foto yang menggambarkan suasana kota Surabaya pada tempo dulu serta kegiatan karyawan Bank Dagang Negara "Kembang Jepoen" dari tahun 1960-1990-an.


Selesai berkeliling di dalam Museum Bank Mandiri Kembang Jepun, para trackers pun diajak kembali untuk naik ke dalam bus. Perjalanan pun dilanjutkan melewati daerah Ampel yang terkenal sebagai perkampungan Arab. Setelah melewati kawasan Ampel, sang pemandu pun memberi tahu ada sebuah jembatan unik yang berada di Surabaya utara ini. Adalah Jembatan Petekan, sebuah jembatan yang dapat dibuka dan ditutup. Jembatan ini menjadi gerbang masuk kapal-kapal dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju Kota Surabaya melewati aliran Sungai Kalimas. Nama jembatan ini diambil dari cara untuk menutup dan membuka jembatan dengan menekan tombol, di mana dalam bahasa Jawa disebut dengan petekan. Sayang, jembatan Petekan kini sudah rusak dan tidak dapat dibuka maupun ditutup kembali. Jika ditarik sedikit kesimpulan, pada jaman dahulu kawasan utara Surabaya memiliki penduduk yang beragam. Mulai dari etnis Tionghoa, keturunan Arab, orang Belanda, hingga penduduk pribumi hidup bersama di satu kawasan, walaupun memang pada jaman penjajahan dulu terdapat "pengkaplingan" wilayah. Ah, Surabaya Heritage Track selalu memberikan nuansa baru mengelilingi tempat-tempat bersejarah di kawasan Surabaya utara.

Selasa, 29 Oktober 2013

Unik dan Mistiknya Museum Kesehatan Surabaya

Selain mendapat julukan sebagai Kota Pahlawan, Surabaya juga menyimpan banyak museum yang cukup menggiurkan untuk dikunjungi. Adalah Museum Kesehatan Dr Adyatma, sebuah museum yang memiliki koleksi yang cukup unik yang berada di kota dengan sebutan Ujung Galuh pada jaman dahulu. Saya mengenal museum ini dari tayangan Kick Andy Show, yang bertemakan "Merekam Jejak Negeriku". Tayangan tersebut menceritakan beberapa museum unik yang ada di Indonesia.


Adalah dr. Haryadi Suparto, seorang dokter dan juga ahli dalam bidang supranatural yang mendirikan Museum Kesehatan ini. Museum ini menempati bangunan bekas Rumah Sakit Kelamin yang dahulu merupakan rumah sakit kelamin terbesar di Asia Tenggara. Museum ini masih satu kompleks dengan Kompleks P3SKK Depkes RI dan Akademi Akupuntur Surabaya. Museum Kesehatan memiliki desain bangunan yang cukup sederhana. Keunikan dari museum ini adalah barang-barang koleksi yang dipajang di museum. Koleksi Museum Kesehatan Dr. Adyatma ini secara umum menggambarkan upaya manusia di dalam menjaga kesehatan serta alat-alat yang digunakan di dalam proses penyembuhan penyakit. Tak hanya peralatan medis saja yang dipamerkan, melainkan alat-alat non medis juga dipajang di museum ini. Alat-alat non medis yang digunakan merupakan hasil kebudayaan lokal dari beberapa suku bangsa yang menghuni negara Indonesia tercinta.




Museum Kesehatan Dr Adyatma ini memiliki tiga buah ruangan yang masing-masing memiliki koleksi yang cukup unik. Di ruangan pertama diberi nama ruangan "Kesehatan Sejarah". Di bagian ruang pertama ini kita akan disambut oleh patung ganesha serta boneka jailangkung dan nini thowok yang agak menyeremkan memang. Di ruangan ini dipamerkan beberapa barang-barang dan foto-foto yang mengggambarkan sejarah dari kesehatan medis di Indonesia, seperti tokoh-tokoh kesehatan Indonesia, ijazah dokter di sekolah kedokteran pada jaman STOVIA serta seragam yang dikenakannya, termasuk di dalamnya sejarah singkat pendirian Museum Kesehatan ini. Memasuki ruangan lebih ke dalam lagi, kita akan disuguhi barang-barang yang digunakan dalam prakik medis. Rasanya penasaran ingin masuk lebih ke dalam lagi, tapi apa daya, saya merasakan hawa yang sedikit tidak mengenakkan bagi saya. Walaupun tata lampu dan penerangan cukup terang, tapi saya pun mengurungkan niat untuk menjelajah lebih dalam lagi dan memutuskan untuk keluar menuju ruangan berikutnya. Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, tapi alangkah lebih baik jika berkunjung ke museum ini beramai-ramai bersama teman atau rombongan.

Ruangan kedua dinamai ruangan Kesehatan IPTEK. Di ruangan ini dipamerkan beberapa inovasi alat kesehatan seperti alat untuk mensterilkan air. Ada pula beberapa benda hasil daur ulang yang berhubungan dengan kesehatan. Namun ada juga beberapa alat yang cukup aneh, seperti peralatan pemulung dan juga kotoran manusia (tinja) yang dibuat tepung kemudian dibuat menjadi kue yang konon dijual di salah satu restoran di Jepang. Memasuki ruangan lebih dalam lagi kita akan disuguhi dengan anatomi flora dan fauna. Bagian ini dikenal dengan sebutan sasana flora dan fauna. Di bagian ruangan ini dipamerkan beberapa flora dan fauna yang sudah diawetkan.



Beranjak menuju ruangan ketiga atau yang disebut dengan "Sasana Kesehatan Budaya". Nah, di sinilah dipamerkan barang-barang yang bersifat non-medis namun berhubungan dengan kesehatan. Banyak yang bilang jika ruangan ini menyimpan barang-barang klenik. Di ruangan ini pula ada penjelasan mengenai santet termasuk juga foto rontgen korban santet yang berisi banyak paku pada bagian dalam perutnya. Karena inilah museum ini lebih dikenal oleh orang-orang sekitar sebagai museum santet daripada Museum Kesehatan. Ada juga kain-kain tradisional dari beberapa daerah yang bisa digunakan untuk mengusir penyakit. Ada pula beberapa jenis air yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit, termasuk air yang dicelupkan dengan batu ajaib milik Ponari yang sempat booming di media beberapa tahun yang lalu. Selain itu masih banyak disimpan alat-alat tradisional lainnya yang berhubungan dengan kesehatan. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah adanya kurungan ayam yang terbuat dari bilah bambu. But so far, selama berkeliling di ruang ini menurut saya tidak terlalu menyeremkan seperti pada ruangan pertama. Padahal, di ruangan ini banyak disimpan barang-barang yang konon katanya berbau magis/klenik.


Secara keseluruhan, Museum Kesehatan memang memiliki daya tarik tersendiri seiring dengan cerita seram yang hadir menyelimuti. Koleksi-koleksi yang dimiliki oleh museum ini cukup menarik, walaupun memiliki display yang sederhana. Satu hal yang perlu dijadikan catatan adalah perlu ditambah lagi keterangan pada masing-masing barang yang dipamerkan serta kegunaan dari masing-masing alat yang dimaperkan tersebut sehingga semakin menambah wawasan bagi pengunjung. Satu lagi, untuk mengurangi hawa seram pada Museum Kesehatan ini, akan lebih baik jika diberikan pendamping atau guide untuk menemani pengunjung yang ingin berkeliling di Museum Kesehatan ini.


Museum Kesehatan Dr. Adyatma, MPH
Jalan Indrapura no 17 Surabaya
telp (031) 3528748 ext 105
harga tiket Rp 1.500,00
jam buka :
Senin - Jumat mulai dari pukul 08.00 - 15.00 WIB
Sabtu - Minggu mulai dari pukul 09.00 - 14.00 WIB
museum tutup pada Hari Libur Nasional

cara menuju ke sana :
dari arah terminal Bungurasih/Purabaya silahkan naik bus kota ke arah Jembatan Merah Plaza (JMP)
lalu turun di halte Kompleks P3SKK Depkes RI atau Rumah Sakit Kelamin Surabaya

Senin, 28 Oktober 2013

Jatuh Hati pada Tutti Frutti di Zangrandi

Keberadaan toko-toko yang menjual es krim jadul semakin membuat saya penasaran untuk mencobanya satu per satu. Kali ini saya menyambangi gerai es krim Zangrandi, sebuah gerai es krim jadul yang berada di kota Pahlawan, Surabaya. Dilihat dari sejarahnya, es krim Zangrandi ini didirikan oleh seorang berkebangsaan Italia yang bernama Renato Zangrandi. Es krim ini mulai dibuka pada tahun 1930, seumuran dengan gerai Toko Oen yang berdiri di Kota Malang.



Eksistensi gerai Zangrandi ini memang tidak bisa dilepaskan dengan resep es krim home made otentik yang dipertankan hingga sekarang ini, pun demikian dengan nuansa tempo dulu yang langsung menyambut kedatangan kita ketika berada di bagian depan kedai es krim ini. Kursi-kursi rotan berpostur rendah bercat merah berjajar rapi menghadap ke jalan Yos Sudarso yang ramai dengan lalu lalang kendaraan. Jika Anda ingin suasana yang lebih tenang, Anda pun dapat memilih meja yang ada di bagian dalam. Di bagian dalam ruangan toko Zangrandi ini lebih mengedepankan nuansa minimalis modern yang homey.




Setelah membolak-balik buku menu, saya pun tertarik untuk mencicipi tutti frutti, salah satu menu varian es krim andalan di Zangrandi ini. Ada beberapa varian rasa pada menu tutti frutti yang bisa Anda pilih. Ada rasa vanila, mocca atau cokelat. Saya pun memesan tutti frutti rasa cokelat. Tak berapa lama kemudian sepotong es krim berbentuk segitiga pun tersaji di atas meja. Aroma cokelat dan rasa manisnya pas sehingga tidak menimbulkan rasa eneg. Rasa dan tekstur tutti frutti di Zangrandi ini menurut saya memang paling juara dibandingkan dengan tutti frutti yang dijual di Toko Oen Malang maupun Es Krim Tentrem di Solo. Walaupun termasuk ke dalam golongan es krim jadul, namun tektur es krim di Zangrandi ini boleh dikatakan cukup lembut. Satu hal yang menurut saya agak disayangkan adalah taburan buah pada es krim ini masih kurang banyak. Saya membuat sedikit perbandingan antara  tutti frutti milik Es Krim Tentrem dan Es Krim Zangrandi ini. Soal tekstur dan rasa saya memilih tutti frutti milik Es Krim Zangrandi, sedangkan untuk aroma dan topping buah saya lebih memilih tutti frutti milik Es Krim Tentrem. 


Seporsi tutti frutti dihargai Rp 24.000,00. Jika dilihat dari harga-harga yang tertera di dalam menu memang cukup mahal. Harga untuk menu es krim ditawarkan mulai dari 20 ribuan hingga 40 ribuan per-porsinya. Walau memang agak menguras isi kantong, namun memang cukup sebanding dengan rasa serta suasana tempat yang ditawarkan. Selain es krim, gerai ini juga menawarkan makanan pendamping seperti pastel, kroket, risoles, bahkan juga pizza. Menikmati es krim Zangrandi memang paling tepat di sore hari menjelang senja. Sepotong es krim ditemani dengan pemandangan lalu lalang kendaraan yang melintas, serta lampu-lampu bangunan yang mulai menyala, semakin menambah semaraknya suasana Kota Surabaya menjelang malam. Tak salah memang menghabiskan senja bersama kawan sambil menikmati es krim di gerai Es Krim Zangrandi ini.


Es Krim Zangrandi
berada di Jalan Yos Sudarso no 15 Surabaya
telp (031) 5345820, (031) 5461490
gerai es krim ini mulai buka dari pukul 10.00 hingga pukul 22.00 WIB

cara menuju ke sana dari arah Jembatan Merah Plaza (JMP) : silahkan naik angkot jurusan Bratang, turun pertigaan jalan depan Gedung Balaikota Surabaya, kemudian menyeberang jalan, jalan kaki saja di sebelah kiri, lurus ke arah sungai, kemudian menyeberang jalan dan jembatan, lokasi es krim Zangrandi ini tidak jauh dari jembatan tersebut.