Kamis, 29 November 2012

Keunikan-Keunikan di Kawasan Dataran Tinggi Dieng

Ketika kita mengunjungi suatu daerah, terkadang kita lupa untuk mengamati hal-hal yang sekiranya kita anggap sepele, namun justru hal-hal tersebut mengandung sebuah keunikan dan menjadi ciri khas dari daerah tersebut. 

Selama kurang lebih 45 hari bermukim di kawasan Dataran Tinggi Dieng, saya mencoba untuk mengamati beberapa keunikan-keunikan yang mungkin saja menjadi ciri khas kehidupan di daerah pegunungan ini. Beberapa keunikan yang sebenarnya kita temukan sehari-hari, namun terkadang luput dari perhatian. Mungkin bagi sebagian orang, hal ini hanya dianggap sebagai hal yang sepele dan tidak penting, namun bagi saya ini merupakan sebuah hal yang unik dan mungkin juga tidak akan saya temui di lain daerah. Ya, setiap daerah memang memiliki keunikan dan ciri khasnya masing-masing.


Anak Berambut Gimbal
Jika kita membicarakan tentang rambut gimbal, pasti yang terbayang pertama kali di pikiran kita adalah sosok Bob Marley dengan genre musik reggae-nya yang melegenda. Dieng memang terkenal dengan ciri khasnya yaitu anak-anak yang memiliki rambut gimbal. Rambut gimbal yang dimiliki oleh anak-anak di Dieng tumbuh secara alami sejak mereka masih kecil. Anak-anak yang memiliki rambut gimbal dianggap sebagai titisan dewa yang bersemayam di dalam raga mereka dan kerap kali anak-anak rambut gimbal ini diperlakukan istimewa dibandingkan dengan anak-anak biasa. Orang-orang tidak bisa memprediksikan anak siapa yang lahir memiliki rambut gimbal.

Konon, anak yang akan tumbuh rambut gimbal tumbuh normal seperti anak-anak lainnya, hingga pada suatu fase dia mengalami gejala badan panas dalam beberapa hari bahkan mengalami kejang-kejang. Setelah sembuh, tiba-tiba saja tumbuhlah rambut gimbal di kepalanya. Anak berambut gimbal cenderung memiliki sifat hiperaktif dibandingkan dengan anak-anak sebanyanya. Mereka juga memiliki sifat nakal dan tidak mau kalah dengan teman-teman yang lainnya. Rambut gimbal pada anak-anak ini tidak bisa sembarangan dipotong begitu saja. Untuk melakukan pemotongan rambut gimbal, biasanya dilakukan sebuah ritual khusus. Ritual pemotongan rambut gimbal ini dapat Anda saksikan dalam acara Dieng Culture Festival yang diadakan satu tahun sekali. Sebelum dilakukan ritual pemotongan rambut gimbal, biasanya anak-anak ini diberikan sebuah permintaan. Segala macam permintaan dari anak-anak rambut gimbal yang akan diruwat ini harus dipenuhi oleh orang tua mereka. Menurut cerita dari penduduk setempat, permintaan anak-anak rambut gimbal ini bermacam-macam, mulai dari hal-hal yang sederhana hingga hal-hal yang rumit. Bahkan menurut cerita ada yang meminta hati unta sebelum mereka diruwat. Untung saja sih keluarganya ada yang pulang dari ibadah haji dan membawakan hati unta sesuai dengan permintaan si anak. Ada-ada saja terkadang permintaan anak-anak rambut gimbal tersebut sebelum diadakan ritual ruwatan.



Dingklik dan Tungku/Anglo Perapian
Dua barang inilah menjadi saksi bisu timbulnya keakraban dan suasana kekeluargaan selama bermukim di kawasan Dataran Tinggi Dieng ini. Jika Anda berada di Dieng dan pergi bertamu ke rumah orang, jangan harap Anda akan dipersilahkan masuk ke dalam ruang tamu seperti lazimnya kita bertamu. Anda akan langsung dipersilahkan masuk ke bagian dapur dan menuju ke bagian perapian yang terletak di bagian belakang rumah. Ya, inilah salah satu keunikan kultur masyarakat di Dataran Tinggi Dieng. Tamu langsung dipersilahkan masuk ke dalam dapur yang biasanya menjadi bagian yang cukup privat dalam sebuah rumah. Masyarakat Dieng memang memiliki kebiasaan menghangatkan diri di dekat tungku perapian. Sambil menghangatkan diri biasanya mereka akan menyeruput kopi, memakan camilan, sambil berbincang-bincang akrab. Kegiatan yang biasa kami lakukan selain berbincang-bincang di sekitar tungku perapian ini adalah bermain kartu sambil membakar jagung atau kentang. Menurut saya tungku perapian ini merupakan salah satu media yang cukup efektif untuk bersosialisasi sambil mengakrabkan diri.

Masyarakat di Dieng memang sangat ramah, bahkan terhadap orang yang baru mereka kenal sekalipun. Mereka memperlakukan setiap orang sebagai sanak keluarga mereka sendiri. Prinsip bagi mereka semua orang itu pada dasarnya adalah saudara. Ketika pertama kali saya dan teman-teman datang, sambutan yang masyarakat berikan sangatlah luar biasa. Mereka sudah menganggap kami seperti anak mereka sendiri. Bahkan walaupun baru kenal, mereka tak segan untuk mengundang kami makan di rumah mereka. Mereka menyuruh kami menganggap rumah mereka seperti rumah kami sendiri, tak perlu sungkan. Jika kami ingin membuat kopi atau teh, mereka mempersilahkan kami untuk membuatnya sendiri. Mereka menunjukkan tempat disimpannya cangkir, air panas, gula, teh atau kopi. Ya, orang-orang di Dieng memang sangat terbuka kepada siapa saja, mereka selalu berusaha menjamu tamu mereka dengan baik.


Tempe Kemul
Apa sih camilan khas dari Dieng? Kalau boleh saya bilang sih tempe kemul. Tempe kemul merupakan pemberian nama dari masyarakat di daerah Banyumasan untuk menyebut tempe mendoan. Jika belum tau juga apa itu tempe mendoan, yaitu tempe yang digoreng dengan balutan tepung. Tempe kemul khas Dieng sangat khas, tempe diiris-iris kecil kemudian dibalut tepung dan digoreng renyah. Tempe kemul dijual per-biji  Rp 500,00 saja dan sajian ini menjadi menu favorit saya dan kawan-kawan ketika berbuka puasa selama di basecamp Dieng.

Minuman Purwaceng
Purwaceng sendiri mendapatkan sebutan sebagai viagra van java. Purwaceng biasanya disajikan dalam bentuk minuman. Konon katanya purwaceng ini memiliki khasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan vitalitas bagi pria dewasa. Walaupun minuman ini distigmakan untuk pria, namun para wanita pun juga ada yang mengkonsumsi minuman purwaceng ini untuk menambah daya tahan tubuh. Selama saya tinggal di Dieng, saya sendiri belum pernah mencoba minuman ini. Saat ini pun purwaceng sudah diproduksi dalam berbagai kemasan dan dapat kita temui di berbagai penjuru kota.


Kentang Dieng
Dataran Tinggi Dieng memang terkenal dengan produksi kentangnya yang super. Hampir seluruh wilayah di dataran tinggi ini ditanami dengan tanaman kentang. Kentang merupakan komoditas utama bagi petani di Dieng. Tak dipungkiri lagi produksi kentang di Dieng memang memiliki kualitas yang super. Selain kentangnya yang besar-besar, kentang di Dieng juga mulus, hampir tidak ada guritan-guritan di kulit buahnya. Kentang dari Dieng biasanya dikirim ke kota-kota besar seperti Jakarta untuk kemudian diolah menjadi keripik kentang oleh pabrik-pabrik makanan, ada juga yang dijual di supermarket-supermarket. Hanya saja masih disayangkan, masyarakat di Dieng sendiri belum mau membuat hasil olahan dengan bahan dasar kentang untuk menambah nilai jual. Kebanyakan dari masyarakat lebih memilih menjual kentang mentah karena dianggap lebih praktis dan menguntungkan dibandingkan jika mereka harus membuat produk olahan. Olahan kentang paling favorit selama di Dieng adalah keripik kentang, kentang goreng, perkedel, sambal goreng baby kentang, dan juga kering kentang. Pokoknya juara lah masakan olahan dari bahan dasar kentang tersebut.



Gandos
Apa sih gandos? Gandos adalah jajanan pasar berbahan dasar tepung beras, diberi parutan kelapa muda dicampur dengan gula kemudian dibakar dengan alat khusus. Jajanan pasar yang satu ini memiliki rasa yang manis, gurih, dan legit. Setiap kali ke Pasar Batur, saya dan kawan-kawan paling gemar membeli makanan ini untuk camilan. Per-bijinya, gandos dijual dengan harga Rp 1.000,00 saja. Pada hari libur, biasanya Anda dapat menemui penjual gandos di sekitar Kompleks Candi Arjuna. Pedagang gandos masih sangat tradisional, biasanya masih menggunakan pikulan untuk menawarkan barang dagangan mereka.

Sego Jagung
Saya jadi ingat salah satu lirik langgam Jawa yang berjudul caping gunung,"nang gunung tak cadhongi sego jagung, yen mendung tak silihi caping gunung". Ya, salah satu makanan pengganti nasi bagi masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan adalah sego jagung atau nasi jagung. Pembuatan nasi jagung cukup rumit dan membutuhkan waktu pengolahan yang cukup lama sehingga dapat menghasilkan nasi yang pulen. Nasi jagung merupakan salah satu menu favorit saya untuk sarapan. Kita dapat menemukannya di sekitar pasar Batur. Satu balok nasi jagung hanya dijual dengan harga Rp 1.000,00 saja. Nasi jagung terasa lebih mengenyangkan jika dibandingkan dengan nasi beras biasa. Dalam penyajiannya, nasi jagung dapat kita makan dengan campuran sayur dan lauk seperti biasa. Soal rasa, dijamin nasi jagung memiliki rasa yang lebih gurih, walau terasa agak seret di tenggorokan.


Angrek Khas Dieng
Ketika diajak jalan-jalan berkeliling kampung oleh Mas Hafid, penduduk setempat, dia menunjukkan kepada saya salah satu tanaman khas dari Dieng, yaitu bunga angrek. Angrek khas Dieng memang unik, bentuk bunganya menyerupai bintang. Satu tangkai bunga bisa terdiri dari beberapa bunga yang berkumpul menjadi satu. Angrek khas Dieng memiliki warna orange yang khas dan konon hanya dapat tumbuh di Dataran Tinggi Dieng saja.

bunga dandelion

Bunga Dandelion
Ciri khas lain dari Dieng yang saya temui adalah kumpulan bungan dandelion atau orang Dieng menyebut dengan randa tapak yang tumbuh subur ketika musim kemarau. Bunga dandelion merupakan bunga liar yang tumbuh subur di sekitaran Kompleks Candi Arjuna dan Museum Kailasa. Di beberapa tempat kita juga masih dapat menjumpai bunga ini namun tidak sebanyak di tempat tadi. Bunga ini berbentuk bulat berwarna putih, jika tertiup angin maka akan berguguran dan beterbangan.


bunga Hortensia

Hortensia Dieng
Bunga Hortensia atau biasa disebut dengan bunga panca warna ini juga menjadi salah satu ciri khas dari Dieng menurut saya. Bunga ini juga biasa disebut bunga tompok oleh masyarakat setempat. Ada pula yang menyebutnya sebagai bunga panca warna karena memang bunga ini memiliki berbagai jenis dengan warna-warni yang berbeda-beda. Kita dapat menemui bunga hortensia ini tumbuh subur di seluruh penjuru Dieng.

Embun Upas
Salah satu fenomena alam yang menarik di kawasan Dataran Tinggi Dieng adalah turunnya embun es di pagi hari ketika memasuki musim kemarau. Embun es yang turun ini biasa disebut dengan embun upas (upas dalam bahasa Jawa berarti bisa) oleh masyarakat setempat. Embun upas ini menjadi salah satu musuh bagi petani kentang karena dapat merusak tanaman. Fenomena embun upas ini dapat Anda saksikan di Dieng sekitar bulan Juli-Agustus ketika puncak musim kemarau. Oh iya, musim kemarau di daerah pegunungan justru menjadi puncak-puncaknya cuaca ekstrim, udara akan terasa lebih dingin jika dibandingkan ketika musim penghujan.



Domba Dieng
Domba Dieng atau biasa disebut dengan dodi. Selain sebagai petani, penduduk di Dieng juga berprofesi sebagai peternak. Salah satu ternak yang dikembangkan adalah ternak kambing. Berbeda dengan kambing-kambing kebanyakan yang memiliki bau yang cukup menyengat dan kurang bersih, kambing di Dieng justru sama sekali tidak berbau, memiliki bulu yang tebal mirip biri-biri, dan dijamin Anda akan gemas bila melihatnya karena tampilannya yang unyu banget. Kambing-kambing ini biasanya digembala di sekitaran Kompleks Candi Arjuna. Tampilan si kambing mirip-mirip dengan boneka, rasanya ingin memegang dan memeluk si kambing. Walaupun tampilannya lucu dan jinak, tapi si kambing cukup agresif jika didekati. Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindar jika Anda dekati.

Ya, itulah beberapa keunikan di Dieng yang saya amati selama saya tinggal di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Sebenarnya masih banyak hal unik lainnya dan juga tempat-tempat menarik untuk dikunjungi, namun sayang beberapa tempat menarik belum sempat saya kunjungi. Mungkin suatu saat nanti, saya akan berkunjung lagi ke Dieng untuk mengeksplorasi hal-hal unik dan tempat-tempat menarik lainnya di kawasan Dataran Tinggi Dieng ini.

Minggu, 25 November 2012

Carica - Manisan Buah Khas Dataran Tinggi Dieng

Berkunjung ke sebuah tempat tidak lengkap rasanya jika pulang tidak membawa buah tangan. Manisan carica, oleh-oleh khas dari Dataran Tinggi Dieng yang selalu menjadi primadona buah tangan untuk dibawa pulang.


Bagi sebagian orang, mengunjungi sebuah tempat tidak komplit rasanya jika tidak berburu oleh-oleh sebagai buah tangan untuk dibawa pulang. Dataran Tinggi Dieng memiliki satu buah yang menjadi ciri khas kawasan ini. Buah carica, buah yang sekilas mirip seperti pepaya namun dalam bentuk yang mini. Berbeda dengan pepaya yang memiliki warna orange ketika matang, buah carica justru memiliki warna kekuningan jika sudah matang. Konon katanya, buah carica  hanya bisa hidup di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Di dunia sendiri buah carica ini hanya bisa tumbuh di wilayah Brazil dan Dataran Tinggi Dieng saja. Buah carica lazimnya diolah menjadi manisan buah dan juga selai untuk dikonsumsi. Tak khayal lagi, manisan carica menjadi primadona wisatawan yang berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng utuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Manisan carica memiliki cita rasa masam namun segar bercampur dengan rasa manis. Buah carica memiliki semerbak aroma harum yang khas sehingga menambah kesegaran manisan buah ini. Manisan carica semakin nikmat disantap dalam keadaan dingin di cuaca siang hari yang panas. Menurut penelitian, buah carica memiliki kandungan zat yang berguna bagi tubuh seperti papain yang berguna bagi pencernaan, kandungan vitamin A, vitamin B kompleks, vitamin C, dan juga vitamin E yang bermanfaat bagi kesehatan.


Pembuatan manisan carica masih dikerjakan secara industri rumahan. Di daerah Dieng sampai dengan Wonosobo sendiri cukup banyak UMKM-UMKM yang mengolah buah carica untuk dibuat menjadi manisan kemudian dikemas untuk dipasarkan. Anda dapat memilih carica dalam dua kemasan, yaitu kemasan gelasan seperti air mineral, maupun kemasan botolan. Carica kemasan botol dijual eceran sekitar Rp 12.000,00 per-botolnya, sedangkan kemasan gelas dijual sekitar Rp 4.000,00 per-gelas (data Juli-Agustus 2012). Sedangkan jika Anda membeli dalam partai besar, satu kotak manisan carica berisi 12 botol kemasan besar dijual dengan harga sekitar Rp 100.000,00 sedangkan satu kotak isi 20 botol kecil dijual dengan harga Rp 149.000,00 (data Juli-Agustus 2012). Tidak perlu khawatir jika Anda tidak dapat menemui manisan carica di kawasan Dieng, Anda dapat turun gunung menuju daerah Wonosobo karena wilayah ini juga cukup banyak pengrajin yang membuat manisan carica.

Selain manisan carica, oleh-oleh lain yang dapat Anda jadikan alternatif buah tangan untuk dibawa pulang antara lain adalah keripik kentang, kentang mentah, kacang babi (sejenis kacang koro namun memiliki ukuran yang lebih besar), atau minuman penambah stamina yaitu purwaceng yang juga menjadi khas daerah Dieng. Bagi Anda yang bertandang ke kawasan Dieng, jangan lupa untuk sempatkan berbelanja oleh-oleh sebagai buah tangan untuk dibawa pulang.

Jumat, 23 November 2012

Mie Ongklok - Mie "Nyemek" Khas Daerah Wonosobo

Mengunjungi suatu daerah tidak lengkap rasanya jika tidak mencicipi kuliner khasnya. Dataran Tinggi Dieng, yang sebagian masuk ke dalam wilayah Wonosobo memiliki kuliner khas yaitu mie ongklok, mie yang terkenal dengan kuahnya yang kental dengan cita rasa yang nendang.


Jika Anda berkunjung ke daerah Wonosobo tidak lengkap rasanya jika tidak mencicipi kuliner khasnya yang cukup melegenda, yaitu mie ongklok. Mie ongklok merupakan perpaduan antara mie kuning yang dicampur dengan potongan sayuran segar seperti kubis dan sawi, kemudian dicampur dengan irisan tahu goreng, cabai utuh, dan juga jahe bakar untuk menambah aroma kemudian diberi bumbu-bumbu. Terakhir sebagai topping, campuran bahan-bahan tadi disiram dengan kuah kental berwarna cokelat tua. Kuah ini memang memberikan kesan buthek pada tampilan mie. Kuah kental ini kemungkinan merupakan berasal dari bahan sagu karena teksturnya yang sekilas mirip dengan papeda, namun lebih encer. Sebagai tambahan rasa, kuah tersebut ditaburi dengan bubuk kacang yang sudah dihaluskan yang memberikan rasa gurih pada campuran mie. Sebagai pemanis tampilan, diberi cacahan daun seledri dan bawang goreng.


Walaupun dari segi penyajian dan tampilannya kurang menarik, namun mie ongklok memiliki cita rasa yang cukup khas. Rasa gurih dari kuah bercampur dengan bubuk kacang sangat mendominasi. Aroma jahe pun juga cukup terasa, dan berhati-hatilah dengan jackpot cabai rawit utuh yang ada di dalam campuran mie, bisa-bisa mulut Anda meledak jika tak sengaja menguyahnya. Untuk memakan mie ongklok biasanya ditemani dengan tempe mendoan atau biasa disebut oleh penduduk setempat dengan sebutan tempe kemul dan juga seporsi sate sapi. Untuk minumannya sendiri, Anda pun dapat memilih teh hangat maupun kopi untuk menemani menyantap mie ongklok ini.


Warung mie ongklok di wilayah Dieng cukup mudah ditemui. Letaknya di dekat terminal, atau tepatnya di pertigaan tulisan selamat datang di Dieng. Tempat ini biasa dijadikan sebagai tempat mangkal minibus yang melayani jalur Wonosobo-Dieng sehingga masyarakat setempat menyebutnya sebagai terminal. Berhubung ketika saya tinggal di Dieng pada bulan puasa, maka saya tidak bisa bebas mencicipi kuliner-kuliner di Dieng. Saya dan teman-teman harus berjuang keluar pada malam hari menembus hawa dingin khas Dieng yang menusuk tulang dari basecamp kami di daerah Bakal menuju warung mie ongklok ini. Perjuangan menembus hawa dingin memang terbayarkan dengan cita rasa mie ongklok yang gurih ini.

Seporsi mie ongklok dijual dengan harga Rp 5.000,00 saja. Untuk tambahan lain seperti sate sapi dijual dengan harga Rp 10.000,00 per-porsi, tempe kemul Rp 1.000,00 per biji, dan teh hangat Rp 2.000,00 per gelas (data Juli-Agustus 2012). Bagi Anda yang sedang berkunjung di daerah Dieng maupun Wonosobo, jangan lupa untuk mencicipi kuliner khas yang satu ini.

Kamis, 22 November 2012

Bukit Sikunir - Pesona Sunrise Dataran Tinggi Dieng

Boleh dibilang, bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam di Dataran Tinggi Dieng tidak afdol jika tidak memulai hari mereka dari bukit ini. Bukit Sikunir, tempat terbaik untuk menikmati semburat cahaya keemasan dari terbitnya sang surya di ufuk timur cakrawala.



Jika ditanya obyek wisata mana yang menjadi favorit ketika menjelajahi Dataran Tinggi Dieng, maka saya akan menjawab Bukit Sikunir. Kenapa harus memilih Bukit Sikunir? Ya, tempat ini boleh dikatakan sebagai tempat untuk mengawali hari sebelum Anda benar-benar melakukan penjelajahan untuk menikmati pesona keindahan alam Dataran Tinggi Dieng. Tidak lengkap rasanya jika di Dataran Tinggi Dieng tidak mengawali hari di Bukit Sikunir ini.


Ada dua macam pilihan cara untuk menuju venue titik awal pendakian ke Bukit Sikunir ini. Anda dapat menggunakan kendaraan bermotor hingga menuju parkiran di sekitar Telaga Cebong, atau memilih untuk berjalan kaki. Jika menggunakan kendaraan bermotor, akan memakan waktu sekitar 15 sampai 20 menit perjalanan dari daerah Dieng. Jika Anda memilih untuk berjalan kaki, setidaknya akan memakan waktu sekitar dua jam perjalanan, setidaknya hal itu sudah dilakukan oleh Matteo, bule asal Austria yang traveling seorang diri di Indonesia dan kebetulan sedang mengunjungi Dieng. Dia berjalan kaki kurang lebih dua jam dari penginapannya di daerah Dieng sampai ke titik awal pendakian di Bukit Sikunir. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana pegalnya kaki harus berjalan dengan medan yang naik-turun serta hawa dingin yang menusuk tulang. Saya sendiri saja menggunakan motor untuk menuju lokasi saja rasanya sudah tidak karuan menghadapi hawa dingin selama di perjalanan.


Setelah memarkir kendaraan di pos penjagaan di dekat Telaga Cebong, tibalah saatnya memulai perjuangan mendaki Bukit Sikunir. Selama tinggal di Dieng, saya sudah mendaki bukit ini sebanyak lima kali. Ada semacam candu yang membuat rindu memang menikmati suasana pagi di bukit ini. Disarankan bagi Anda yang ingin mendaki bukit, lebih baik mulai pendakian pukul 04.00 dini hari agar tidak tergesa-gesa mengejar matahari yang terbit. Pertama kali mendaki bukit ini saya pikir medannya tidak terlalu berat, namun saya salah perhitungan, baru 10 menit perjalanan di tanjakan pertama sudah membuat nafas saya tersengal-sengal. Maklum, badan ini sudah lama tidak pernah berolahraga membuat kondisi fisik tidak terlalu prima untuk menghadapi tanjakan-tanjakan seperti ini. Menurut penuturan penduduk setempat, dibutuhkan waktu sekitar 15 menit melalui jalan setapak untuk mencapai puncak Bukit Sikunir ini. Tapi, jika kita yang mendaki akan membutuhkan waktu sekitar 30 menit sampai satu jam perjalanan untuk dapat mencapai bukit, itupun kita sudah berhenti beberapa kali untuk sekedar menghela nafas. Kita memang harus pintar-pintar mengatur nafas jika tidak mau ngos-ngosan selama pendakian dan kehabisan tenaga di tengah perjalanan. Udara di sini cukup tipis karena ketinggian bukit mencapai 2.300 meter di atas permukaan laut. Vegetasi tanaman yang cukup rimbun di sekeliling bukit membuat kita harus berbagi oksigen dengan tanaman selama pendakian.


Untuk mendaki Bukit Sikunir dibutuhkan senter untuk penerangan, jaket tebal untuk menghalau dingin, air minum secukupnya, dan juga kewaspadaan selama pendakian. Saya sendiri baru menyadari jika di sebalah kiri saya adalah jurang selama pendakian. Jurang tersebut nyaris tidak terlihat karena tertutup oleh semak belukar dan juga minimnya cahaya di pagi buta sehingga Anda pun harus tetap waspada. Kami sempat kebingungan mencari jalan setapak menuju puncak bukit karena jalur tersebut tertutup oleh semak belukar yang makin meninggi. Rasa lelah selama pendakian semua akan terbayar dengan pemandangan cantik di puncak Bukit Sikunir.



Perlahan tapi pasti segaris cahaya jingga yang menghiasi horizon semakin melebar berganti dengan semburat warna orange. Rona gelap pun perlahan memudar dengan sinar matahari yang nampak malu-malu memperlihatkan kegagahannya. Ya, matahari terbit atau sunrise inilah yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para pendaki. Lukisan alam dari Sang Pencipta membentang luas sepanjang mata memandang. Jika cuaca cerah, maka Anda akan merasakan bagaimana rasanya dikepung oleh lima buah gunung sekaligus, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, Gunung Kembang, dan Gunung Perahu. Di antara kelima gunung tersebut, pemandangan Gunung Sindoro lah yang menjadi primadona, karena seolah-olah di depan pelupuk mata, begitu gagah, indah, sekaligus menawan. Suasana semakin dramatis ketika kabut turun menggumpal di bawah Gunung Sindoro, serasa berada di negeri di atas awan. Serasa awan-awan tersebut berada di bawah telapak kaki kita. Sebuah lukisan keindahan yang sangat sempurna dan begitu nyata di depan pandangan mata.


Menurut beberapa artikel yang saya baca, sunrise di Bukit Sikunir ini merupakan salah satu sunrise terbaik di dunia. Menurut penuturan Pak Prayit, warga Dieng yang menemani kami mendaki menuturkan bahwa pada bulan-bulan tertentu sekitar Januari sampai Maret kita dapat melihat fenomena matahari terbit yang seolah-olah menjadi dua buah. Fenomena yang menarik memang. Saya pernah mendengar jika di Dieng kita akan menemukan double sunrise, yaitu golden sunrise di Bukit Sikunir ini, lalu dilanjutkan dengan silver sunrise di Kompleks Candi Arjuna.



Puas menikmati pemandangan sunrise di Bukit Sikunir jangan tergesa-gesa untuk beranjak dulu dari tempat ini. Naiklah ke bukit yang berada di sebelah, pemandangan cantik Telaga Cebong yang dikelilingi oleh deretan perkebunan siap kembali memanjakan mata. Telaga Cebong merupakan sebuah telaga yang terletak di Desa Sembungan, desa tertinggi di pulau Jawa. Desa ini berada di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Selain memiliki pemandangan yang cantik, telaga ini juga sudah dilengkapi dengan fasilitas wisata tambahan seperti persewaan perahu untuk berkeliling telaga. Di sekitar Telaga Cebong biasanya dijadikan sebagai spot untuk berkemah sebelum keesokan paginya mendaki ke puncak Sikunir. Di dekat Telaga Cenong terdapat sebuah lapangan sepak bola, terkadang di kala pagi sudah ramai anak-anak dari Desa Sembungan yang semangat bermain bola.



Pendakian pertama saya menuju puncak Bukit Sikunir memberikan saya banyak sekali pelajaran hidup. Pelajaran hidup seperti bagaimana menjaga solidaritas terhadap kawan, belajar untuk saling percaya satu dengan yang lain, belajar bagaimana untuk menjaga kekompakan, belajar untuk tidak egois, belajar ketegaran diri, belajar untuk bagaimana berjalan walau perlahan hingga mencapai target, belajar untuk fokus dalam mencapai tujuan, dan mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta. Bagi saya, setiap perjalanan selalu memberikan sebuah makna dan pembelajaran hidup.

Keterangan :
Tiket masuk ke lokasi Bukit Sikunir : Rp 3.000,00 - Rp 4.000,00 per-orang (data Juli-Agustus 2012)
Parkir motor : Rp 1.000,00
Waktu terbaik untuk menikmati sunrise sekitar bulan Juni sampai dengan pertengahan bulan Agustus, pada akhir Agustus biasanya pemandangan jadi kurang menarik, memasuki musim kemarau yang kering, banyak semak belukar yang terbakar (atau mungkin sengaja dibakar), sehingga pemandangan menjadi semacam "bukit arang".
Pendakian menuju pucak sebaiknya dilakukan mulai pukul 04.00 pagi agar tidak terburu-buru untuk mengejar sunrise.
Tetap jaga kebersihan lingkungan ya, jangan membuang sampah sembarangan :)

Minggu, 18 November 2012

Candi Dwarawati - Candi Kecil yang Letaknya Menyendiri


Keberadaan Candi Dwarawati ini memang kurang begitu dikenal oleh wisatawan yang berkunjung di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Candi Dwarawati memang tidak seterkenal seperti Kompleks Candi Arjuna yang ramai oleh kunjungan wisatawan. Candi ini nyaris sepi dari kunjungan wisatawan karena lokasinya yang sedikit tersembunyi di antara kompleks perkampungan warga dan juga deretan perkebunan kentang. Saya sendiri pun baru mengetahui candi ini setelah diajak survei oleh teman saya yang merupakan mahasiswa jurusan Arkeologi. 


Menurut sejarah, Candi Dwarawati ini sebenarnya merupakan sebuah kompleks bangunan percandian seperti di Kompleks Candi Arjuna. Dahulu terdapat bangunan Candi Pandu, Candi Margasari, Candi Margasari dan juga Candi Dwarawati. Namun sayang, ketiga bangunan candi yang lain sudah tidak berbentuk lagi, tinggal tersisa bangunan Candi Dwarawati yang kemudian dipugar pada tahun 1980 untuk mengembalikan bentuk bangunannya yang berantakan ketika ditemukan. Candi Dwarawati merupakan kompleks candi yang berada di bagian timur Dataran Tinggi Dieng, tepatnya di wilayah Bukir Perahu. Secara administratif, candi ini berada di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. 


Candi Dwarawati memiliki dimensi ukuran panjang 5 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 6 meter. Pada bagian dinding luar candi terdapat bangunan relung candi dengan bentuk melengkung dan meruncing pada bagian atasnya. Relung inilah sebagai tempat untuk meletakkan arca. Namun sayang, relung-relung tersebut yang seharusnya diisi dengan arca Ganesha, Agastya, dan Dewi Durga ternyata dalam keadaan kosong, entah dicuri atau malah diamankan di Museum Kailasa? Hal unik lainnya dari candi ini adalah kesan seolah-olah candi ini memiliki bangunan bertingkat karena kemiripan antara bangunan bagian atap candi dengan bagian tubuh candi. Selain itu pada bagian atap candi terdapat ukiran-ukiran cantik di sekitar relungnya. Satu hal lagi yang disayangkan, bagunan atap candi ini entah di mana, hilang tidak menyatu dengan bagian candi lainnya, atau mungkin ditumpuk di sekitar candi, karena terlihat beberapa batuan candi yang berserakan.



Sangat disayangkan memang jika benda-benda peninggalan bersejarah semacam ini hanya dibiarkan begitu saja tanpa mendapatkan perhatian untuk dilestarikan. Saya hanya membayangkan jika candi ini memiliki bentuk yang utuh alangkah indahnya bangunan ini. Di kompleks Candi Dwarawati ini tidak ada petugas yang berjaga. Pengunjung bisa bebas masuk ke dalam candi kapan saja. Ya, mungkin saja penduduk yang tinggal di sekitar kompleks candi inilah yang ikut serta menjaga dan merawat keberadaan bangunan Candi Dwarawati ini.

Lokasinya yang dikelilingi oleh perbukitan dan hamparan perkebunan kentang, menjadikan kompleks Candi Dwarawati ini memiliki udara yang cukup sejuk. Sayang, sore itu udara mendung dan kabut mulai turun, jadilah kami kurang mendapatkan pemandangan alam yang mengelilingi Candi Dwarawati ini. Ya, dan lagi-lagi kekurangan informasi mengenai keberadaan candi ini menjadikan pengunjung kurang mendapatkan edukasi yang memadai mengenai sejarah Candi Dwarawati ini. Semoga pihak yang terkait segera menambah fasilitas seperti papan pengumuman yang berisi mengenai cerita singkat sejarah berdirinya candi, kapan ditemukan hingga tahapan pemugaran. Adanya fasilitas tambahan informasi semacam itu akan membuat pengunjung mendapatkan tambahan pengetahuan mengenai sejarah peninggalan bangsa dari masa lalu. 

Senin, 12 November 2012

Kawah Candradimuka - Kawah Cantik yang Kian Merana


Kawah ini memiliki nama yang cukup familiar dengan dunia pewayangan. Candradimuka, sebuah kawah tempat merebus Gatotkaca sehingga menjadi seorang ksatria yang kuat gagah perkasa. Dibalik namanya yang gagah, akses untuk sampai ke Kawah Candradimuka memang penuh liku dan perjuangan. Di balik pesona keindahan yang disajikan, Kawah Candradimuka memiliki cerita yang tak kalah menyedihkan di antara deretan obyek wisata alam yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Hal yang cukup fundamental dalam sebuah industri pariwisata justru malah kurang diperhatikan.



Kawah Candradimuka berlokasi di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara ini merupakan salah satu obyek wisata alam di Dataran Tinggi Dieng yang sepi dengan kunjungan wisatawan. Kawah aktif ini memiliki pemandangan yang cantik dan unik, berbeda dengan pemandangan di sekitar Kawah Sileri maupun Kawah Sikidang. Kawah yang menyelinap di bawah bukit ini tak pernah berhenti mengeluarkan material vulkanik seperti gas, uap air, air panas, lumpur vulkanik, dan juga belerang diselingi dengan suara gemuruh yang berasal dari aktivitas geotermal. Suara gemuruh semburan gas ini bahkan sudah terdengar dalam radius beberapa meter dari pusat kawah. Kawah Candradimuka memiliki bentuk memanjang seperti sebuah aliran sungai. Untuk dapat menuju bibir kawah, kita terlebih dahulu harus menuruni beberapa buah anak tangga dari area parkir kendaraan. Di sinilah salah satu keunikannya, uap air yang terus-menerus keluar bercampur bau belerang yang tertiup oleh angin sedikit mengganggu pernafasan serta menimbulkan hawa panas menantang kita untuk dapat menuruni anak tangga. Dibutuhkan kejelian dan ketepatan memperhitungkan arah mata angin jika tidak ingin terjebak di dalam kepulan asap vulkanik yang menghadang.



Setelah menuruni anak tangga dengan kepulan asap vulkanik yang menghadang, kita akan melihat sebuah sumur vulkanik raksasa, lengkap dengan pemandangan air mendidih dan meletup-letup, mengeluarkan gas, uap air, asap, lumpur, bahkan terkadang juga bebatuan yang sesekali tersembur keluar karena tekanan gas alam dari dalam perut bumi. Jangan sekali-kali menyentuh aliran air panas yang berasal dari kawah ! Walaupun sudah cukup jauh jaraknya dengan pusat kawah namun panasnya masih cukup menyengat di kulit. Ada satu hal yang cukup unik dari kawah ini. Di sekitar pusat kawah terdapat sebuah mata air tawar yang cukup jernih, airnya pun dingin, tidak panas seperti yang dikeluarkan dari kawah, padahal jarak keduanya cukup berdekatan. Dan lagi-lagi, di dekat kawah saya menemukan tempat bekas pemujaan, terlihat dari bekas dupa dan sesaji yang masih tersisa.


Selain keindahan panorama kawah, pemandangan perbukitan dan juga padang rumput di sekitar Kawah Candradimuka ini juga tak kalah cantik. Sebuah lapangan kecil, rerumputan yang tumbuh subur diselingi beberapa tumbuhan bunga dengan latar belakang pemandangan perbukitan yang berdiri menjulang siap memanjakan mata penikmatnya. Menurut saya, padang rumput ini merupakan salah satu tempat favorit saya. Rasanya adem, betah banget duduk di atas rerumputan sambil menikmati pemandangan di sekitar.


Keindahan pemandangan alam Kawah Candradimuka memang masih meninggalkan kisah merana. Betapa tidak, kawah ini nyaris sepi dari kunjungan wisatawan karena kurangnya akses jalan yang memadai. Ya, fasilitas jalan yang memadai merupakan salah satu aspek paling vital untuk menunjang aksesibilitas menuju obyek wisata. Aspal jalan menuju Kawah Candradimuka hancur total, hanya terdapat landasan jalan berupa konstruksi bebatuan dengan medan jalan yang cukup terjal. Bahkan kendaraan roda empat pun terlihat begitu kepayahan melewati jalan menuju Kawah Candradimuka ini. Akses jalan yang sedemikan sulit memang berhasil mengurungkan niat para wisatawan yang ingin mengunjungi kawah ini. Mereka enggan mengunjungi Kawah Candradimuka karena alasan keamanan dan kenyamanan. Bagi Anda yang suka petualangan dengan medan off road, jalan menuju Kawah Candradimuka ini cukup menantang nyali untuk Anda lewati. Sebelum memalui jalan ini memang lebih baik Anda cek terlebih dahulu kondisi kendaraan dan juga siapkan stamina karena melewati jalanan ini membutuhkan konsentrasi ekstra. Salah-salah berkendara, Anda bisa terperosok ke dalam jurang, atau bahkan kendaraan Anda menjadi rusak gara-gara jalan bebatruan yang  jahanam.

Semoga saja dalam waktu dekat ada perhatian dari pemerintah daerah maupun pusat untuk memperbaiki akses jalan menuju Kawah Candradimuka. Akses jalan yang memadai akan kembali meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kawah Candradimuka ini. Harapannya sih, dengan adanya peningkatan kunjungan wisatawan juga akan memberikan trickle down effect kepada masyarakat setempat.

Senin, 05 November 2012

Sumur Jalatunda - Sumur Tua Raksasa yang Terkenal dengan Mitosnya


Perjalanan menjalajahi pesona keindahan alam Dataran Tinggi Dieng berlanjut menyusuri sisi barat kawasan deretan pegunungan di bagian tengah Pulau Jawa ini. Obyek wisata pertama yang saya kunjungi adalah Sumur Jalatunda, sumur tua yang terkenal dengan beraneka macam mitosnya. Akses jalan menuju Sumur Jalatunda sudah cukup baik, jalan dengan aspal yang halus diselingi dengan kontur yang berliku khas daerah pegunungan. Pemandangan sepanjang perjalanan pun tidak membosankan, hamparan perkebunan milik warga dan juga kanal pengolahan panas bumi milik PT Geodipa siap mengundang decak kagum.

Secara administrarif Sumur Jalatunda terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Walaupun terdapat embel-embel nama sumur, jangan harap Anda akan menemukan wujud sumur dalam arti yang sebenarnya. Menurut sejarahnya, Sumur Jalatunda merupakan sebuah kepundan yang terbentuk dari letusan gunung berapi jutaan tahun yang lalu. Kepundan tersebut terisi oleh air hujan dan kemudian membentuk sebuah sumur. Sumur Jalatunda memiliki diameter sekitar 90 meter dengan kedalaman ratusan meter. Pemberian nama Jalatunda sendiri konon diambil dari kosa kata Bahasa Jawa yang berarti sumur yang luas atau besar.


Untuk menikmati wujud dari Sumur Jalatunda, kita harus menaiki beberapa anak tangga dari arah parkiran kendaraan. Di sekitar anak tangga tumbuh subur bunga sedap malam dengan pemandangan hamparan perkebunan luas yang mengitarinya. Setelah menaiki beberapa anak tangga sampilah di sebuah pendopo, nah persis di samping pendopo tersebut kita akan melihat wujud dari Sumur Jalatunda. Sumur Jalatunda merupakan sebuah lubang vulkanik berukuran sangat besar berisi air yang berwarna kehijauan.


Ada sebuah mitos unik yang sangat melegenda di Sumur Jalatunda ini. Barang siapa yang mampu melempar batu kerikil pada jarak tertentu maka keinginan yang bersangkutan akan terkabul. Bagi yang melempar adalah pria, maka lemparannya harus sampai dengan seberang sumur, sedangkan bagi wanita cukup sampai dengan bagian tengah sumur. Keberadaan mitos ini dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk berjualan batu kerikil untuk dilemparkan ke sumur oleh pengunjung. Selain menjual batu, penduduk ini juga akan senang hati menceritakan kisah dan juga mitos mengenai Sumur Jalatunda ini, dengan catatan Anda harus pintar-pintar memancing obrolan dengan mereka ya. Banyak pengunjung yang gagal melempar batu sampai pada jarak yang ditentukan. Penjelasan secara ilmiah sih, lemparan batu tidak sampai pada tujuan karena adanya gaya gravitasi yang mempengaruhi. Entah benar atau tidak mitos tersebut, namun jika ditarik sebuah kesimpulan, keinginan manusia itu akan terwujud jika dia memiliki niat, tekat yang kuat, serta usaha yang keras untuk mewujudkan keinginannya tersebut.

Selain sebagai obyek wisata alam, Sumur Jalatunda  ini juga dijadikan sebagai obyek wisata spiritual. Di sudut dekat tangga, terdapat bekas pemujaan berupa dupa dan juga sesaji. Menurut si penjual batu kerikil yang sekaligus merangkap sebagai pemandu, Sumur Jalatunda ini juga dijadikan sebagai salah satu tempat untuk bersemedi atau dalam bahasa Jawa disebut nglakoni. Konon katanya Sumur Jalatunda ini merupakan salah satu pintu gerbang untuk menuju dunia lain. Sumur Jalatunda ini menurut mitosnya juga kerap meminta korban nyawa dalam kurun waktu tertentu. Si pemandu bercerita bahwa sekitar bulan Juni 2012 lalu terdapat korban jiwa yaitu seorang lansia yang tercebur ke dalam sumur. Menurut penuturan si pemandu, lansia tersebut tidak bisa berjalan, entah ada dorongan magis apa sehingga lansia tersebut dapat menuju Sumur Jalatunda dan masuk ke dalamnya.

Sumur Jalatunda memang tersohor dengan legenda dan mitosnya yang berkembang sehingga banyak pengunjung yang penasaran untuk mencoba peruntungan mereka dengan melempar batu kerikil di sumur ini. Entah mitos tersebut benar atau tidak, Dieng memang memiliki potensi wisata yang unik dan menarik.

Keterangan :
tiket masuk Sumur Jalatunda Rp 5.000,00 per-orang (data Juli-Agustus 2012)
parkir roda dua : Rp 2.000,00
parkir roda empat : Rp 4.000,00
jam buka : dari pagi sampai dengan pukul 17.00 WIB
terkadang tidak ada petugas jaga di bagian loket, ketika kami selesai menikmati Sumur Jalatunda barulah ada petugas yang mendatangi kami untuk menarik retribusi