Tampilkan postingan dengan label Dieng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dieng. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2015

Menggapai Gunung Prau, Sekali Lagi !

Kata orang, ajaklah temanmu mendaki gunung, maka kamu akan mengetahui kepribadian asli mereka seperti apa. Tapi apa jadinya, jika kita mendaki gunung bersama orang-orang yang baru saja kita kenal dalam forum para pejalan?


Kumandang Adzan Ashar bergema dari pengeras suara masjid di perkampungan Dieng Kulon. Kami segera mempersiapkan diri melakukan pendakian sore ini karena rombongan teman-teman Komunitas Backpacker Indonesia chapter Cilegon, Bandung, Banyuwangi, Purwokerto, dan Jakarta sudah tiba. Ini adalah kali pertama saya bertatap muka langsung dengan mereka, walaupun sebelumnya kami sudah cukup intens berkomunikasi lewat group Whatsapp. Jadwal pendakian akhirnya kami ajukan menjadi sore hari mengingat anggota pendakian kali ini sebagian besar adalah pemula. Awalnya kami berencana memulai pendakian sekitar pukul delapan malam, sekalian menanti kedatangan anggota dari Semarang. Namun mengingat kondisi dan jumlah anggota dalam pendakian cukup banyak, akhirnya kami putuskan untuk mengajukan jadwal pendakian.


Ada dua jalur pendakian resmi untuk menuju Gunung Prau. Jalur pertama melewati rute Patak Banteng. Rute ini memang memakan waktu pendakian lebih singkat, namun medan jalan yang harus dilalui terlalu menanjak, cukup berat bagi pemula seperti kami. Lalu kami memilih jalur pendakian melalui Dieng Kulon yang dirasa cukup landai, walaupun memakan waktu pendakian yang sedikit lebih lama dibandingkan melalui jalur Patak Banteng. Usai menyiapkan perbekalan dan mengurus administrasi untuk melakukan pendakian, kami bertiga belas pun akhirnya berangkat duluan, sedangkan empat orang anggota rombongan dari Semarang akan menyusul nanti malam.

Ujian pertama yang harus kami lalui adalah jalur anak tangga dengan rute menanjak melewati pemukiman penduduk yang berada di belakang basecamp Dieng Kulon. Rasanya jalur ini cukup membuat nafas kami hampir putus melewati anak tangga yang menanjak. Usai melewati pemukiman penduduk, kami beristirahat sejenak di sekitar ladang, sekedar menghela nafas serta melakukan koordinasi ulang kepada semua anggota. Sebuah "ujian" fisik dan mental sebelum memulai pendakian yang sebenarnya. Kak Ika, seorang anggota pendakian hampir saja memilih untuk membatalkan pendakian, namun akhirnya dia mengurungkan niatnya setelah kami semua meyakinkan bahwa pendakian akan baik-baik saja.


Perjalanan pun kami lanjutkan, melewati kompleks makam berlanjut ke hamparan perkebunan warga yang tampak mengering karena kurangnya pasokan air di musim kemarau. Kami mulai berbincang dengan suara sedikit lantang untuk menghilangkan rasa lelah di badan. Mungkin inilah seninya melakukan pendakian. Kita akan merasa cepat akrab satu dengan yang lain walaupun baru saling kenal. Tak ada rasa canggung di antara kami, seolah sedang bertemu teman lama kemudian terjalin obrolan seru setelahnya. Tak terasa kami sudah melewati pos pendakian pertama dan siap memasuki kawasan di dalam hutan.

Pendakian Malam di Dalam Hutan
Suara adzan Magrib sayup-sayup terdengar ketika kami mulai memasuki rute pendakian di dalam hutan. Kami berhenti sebentar, menyiapkan senter untuk penerangan dalam perjalanan. Tanjakan-tanjakan kecil mulai kami rasakan. Kami pun harus mulai pandai mengatur pernafasan, selain ngos-ngosan dengan beban yang kami bawa, belum lagi ditambah dengan debu-debu pasir beterbangan juga cukup mengganggu pernafasan kami. Masker sudah siaga kami kenakan, namun saya sedikit kurang nyaman menggunakan masker, karena terasa kurang leluasa untuk bernafas, apalagi saya termasuk tipe orang yang cukup boros ketika bernafas.

Semakin malam udara terasa semakin dingin. Hembusan angin gunung membuat kami lumayan menggigil, terlebih jika kami terlalu lama berhenti untuk beristirahat, udara dingin akan terasa semakin menusuk badan. Perjalanan yang cukup berat bagi saya adalah setelah melewati pos dua, yang ditandai dengan tapal batas antara Kabupaten Batang dan Wonosobo. Hutan semakin rapat, jalan setapak yang terasa semakin menanjak, dan adanya jurang di salah satu sisi jalan sehingga membuat kami harus lebih ekstra hati-hati.


Kami sempat kebingungan mencari jalan di salah satu persimpangan jalan. Tapi untunglah, teman-teman yang berada di barisan depan cukup sigap dalam mencari jalan. Pendakian pun dapat kami lanjutkan melalui jalan yang benar. Ada "insiden" kecil ketika kami melalui sebuah tanjakan ke arah tower sinyal provider selular. Ada suara aneh, seolah ada seorang perempuan yang sedang menertawakan kami dengan puas. Saya pikir suara tersebut paling-paling suara hewan atau primata. Tapi menurut penerawangan teman saya itu adalah sejenis suara kuntilanak ! Hahaha ! Untung saja kawan saya baru bercerita keesokan harinya ketika kami sudah turun dari Gunung Prau ! Malam itu pikiran kami biasa-biasa saja, tidak ada pikiran yang macam-macam, mungkin rasa lelah di badan serta terjangan dinginnya angin gunung membuat kami hanya fokus agar segera tiba di tujuan dan mendirikan tenda, lalu mengistirahatkan raga.

Semangat kami semakin memuncak, ketika Mas Vidi yang menjadi pemimpin kelompok kami berkata jika tujuan kami sudah dekat. Tinggal satu tanjakan lagi kami tiba di tempat untuk mendirikan tenda. Rasa lelah di raga memang sedikit meredupkan semangat kami. Kami banyak beristirahat sebelum memulai tanjakan lagi. Banyak pendaki lain yang beristirahat di titik sini. Ada beberapa bapak-bapak menawarkan gorengan. Tapi entah, mereka memang benar-benar menjual gorengan apa hanya sebuah candaan. Rasa lelah yang melanda serta dinginnya hembusan angin gunung membuat kami benar-benar tak menghiraukan dengan kondisi sekitar.

Kami pun melanjutkan perjalanan, mendaki tanjakan terakhir sebelum akhirnya tiba di camping ground area. Cahaya senter pun semakin meredup setelah hampir lima jam kami gunakan terus-menerus dalam perjalanan. Usai tiba di camping ground area, kami bergegas memilih tempat yang cukup datar untuk mendirikan tenda. Kami harus berpacu dengan waktu, karena angin gunung berhembus semakin kencang dan membuat tubuh kami semakin menggigil kedinginan. Kencangnya hembusan angin sedikit menyulitkan dalam proses mendirikan tenda. Untunglah, beberapa tenda yang kami dirikan akhirnya siap digunakan. Tanpa babibu kami memasukkan barang ke dalam tenda. Saya memilih untuk segera beristirahat, menyiapkan sleeping bag untuk menghalau dinginnya angin gunung yang semakin kencang berhembus.

Semakin malam, semakin ramai pendaki yang berdatangan ke camping ground area. Saya tidak memperhatikan mereka dengan seksama, hanya saja suara mereka semakin malam terasa semakin riuh saja. Saya paksakan diri untuk tidur sambil menahan rasa lapar yang mendera, karena siang sebelum pendakian, saya lupa untuk makan. Mungkin rasa lelah sudah mengalahkan rasa lapar yang ada. Saya memilih untuk minum beberapa teguk air kemudian memejamkan mata, daripada sibuk mengaduk-aduk isi tas untuk mencari makanan. Selain ribet, udara dingin pun membuat saya cukup malas untuk mencari makanan di dalam tas.

Menikmati Sasana Pagi dari Ketinggian
Beberapa kali saya terbangun malam itu, kemudian melihat jam di tangan. Jika belum pagi saya mencoba tidur lagi, namun beberapa saat terbangun lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.20. Saya pun membangunkan Mas Yoyok dan Bang Adit, teman satu tenda saya. "Mau lihat sunrise sekarang ga?". Mereka pun ikut terbangun dan bersiap diri keluar dari tenda. Kami melihat kawan-kawan di tenda lain masih tidur dengan lelap. Tak tega rasanya jika membangunkan mereka. Akhirnya kami bertiga melipir duluan untuk melihat matahari terbit di bukit sebelah.


Udara dingin langsung menyapa begitu kami keluar dari tenda sehingga seketika badan saya menggigil kedinginan karenanya. Namun, sorot cahaya kemerahan di ufuk timur menjadi penyemangat saya untuk mendaki bukit sebelah, demi menyambut matahari pagi yang akan segera terbit. Kami mulai berjalan menyusuri camping ground area, kemudian melewati sebuah padang sabana. Ah, pantas saja banyak pendaki yang bilang jika mendaki Gunung Prau via Dieng Kulon memiliki pemandangan yang lebih bagus daripada melewati Patak Banteng. Usai melewati padang sabana, masih ada satu tanjakan lagi yang harus dilewati. Ujian terakhir, batin saya. Pemandangan pagi di atas sana seolah menjadi penyemangat untuk terus mendaki bukit. Beberapa kali saya harus berhenti untuk mengatur nafas. Tanjakannya memang tak seberapa tinggi. Namun lagi-lagi debu halus masih rajin menyapa.



Ketika sampai di puncak bukit saja pun langsung mengambil posisi duduk, meluruskan kedua kaki, lalu mencoba menikmati suasana pagi. Ritual itu memang tidak bisa saya lakukan lama-lama, karena pendaki lain sudah berhamburan datang untuk menyapa mentari pagi. Deretan pegunungan nampak jelas dari atas bukit sana. Semburat warna keemasan terlihat di cakrawala, kemudian perlahan-lahan matahari pun muncul dari ufuk timur sana. Semua terlihat bersemangat pagi itu untuk mengabadikan gambar.


Saya mengamati bagian barat puncak bukit ini. Di sana terlihat perkampungan Dieng, pemandangan Telaga Warna, serta deretan perbukitan yang dijadikan ladang perkebunan oleh warga. Kami bertiga tidak berlama-lama di puncak bukit. Kami lalu memilih kembali ke tenda, menyapa kawan yang lain dan tentu saja rombongan dari Semarang yang menyusul kami tadi malam. Pagi itu cukup meriah, kami menghabiskan pagi dengan membuat sarapan bersama, bercanda bersama, dan diakhiri dengan sesi foto bersama. Sekitar pukul 07.30 kami mulai berbenah, membereskan tenda dan barang-barang, kemudian bersiap melakukan perjalanan pulang. Sebuah pengalaman pendakian yang menarik bersama orang-orang yang baru saja saya kenal !

Senin, 02 November 2015

Menikmati Keindahan Telaga Warna dari Bukit Sidengkeng

Telaga Warna menjadi salah satu primadona bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng. Akses jalan yang mudah serta fasilitas pendukung wisata yng lengkap, menjadikan Telaga Warna hampir selalu ramai oleh kunjungan wisatawan. Namun, ada cara lain menikmati keindahan Telaga Warna ini, yaitu dengan mendaki Bukit Sidengkeng !


Arloji yang melingkar di tangan sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Dengan sedikit rasa malas saya mulai berbenah meninggalkan kamar di Losmen Bu Djono yang saya tempati. Rasanya ini adalah bangun tersiang yang pernah saya lakukan ketika berkunjung di Dieng. Biasanya saya sudah mulai berbenah dari pukul tiga dini hari untuk memulai perjalanan menuju Bukit Sikunir guna berburu pemandangan matahari terbit. Namun, kali ini saya sengaja bangun lebih siang dari biasanya, karena saya hanya ingin berkunjung ke Bukit Sidengkeng di Wana Wisata Petak 9, selebihnya, saya ingin gunakan waktu untuk beristirahat mengumpulkan tenaga guna melakukan pendakian ke Gunung Prau sore nanti.

Suasana perkampungan di Dieng Wetan masih terasa sepi pagi. Cahaya matahari bersinar cukup cerah, namun udara masih saja terasa dingin menusuk tulang. Sebenarnya saya ingin menggunakan jasa ojek motor untuk menuju Petak Sembilan, namun sayang, tidak terlihat satu orang pun di pangkalan. Satu-satunya pilihan adalah dengan berjalan kaki, menembus udara dingin khas Dieng yang cukup membuat tubuh menggigil pagi ini. Sekitar lima menit berjalan, saya melihat rombangan pemuda sedang menghangatkan diri dengan tungku perapian khas Dieng. Ah, hal tersebut mengingatkan saya akan suasana KKN tiga tahun silam di dusun sebelah. Saya meneruskan langkah kaki, sambil sesekali menyapa petani yang sudah bersiap menggarap ladang milik mereka. Sesekali saya harus berdamai dengan aroma yang sedikit kurang sedap yang berasal dari tumpukan pupuk organik yang diletakkan di pinggir jalan. Baunya memang tidak terlalu seberapa pekat, namun sedikit memekakan indera penciuman saya. Suasana pagi ini benar-benar masih sepi dari hiruk-pikuk wisatawan, mungkin mereka masih terpusat di Desa Sembungan, menikmati pemandangan matahari terbit dari puncak Bukit Sikunir sana.



Sepuluh menit berlalu, saya pun tiba di gerbang masuk Wana Wisata Petak 9 Dieng. Lokasi gerbang masuk ini terletak sebelum tikungan jalan menuju arah lokasi wisata Telaga Warna, namun sepertinya belum banyak orang yang tau dengan keindahan pemandangan di atas bukit sana. Banyak wisatawan yang menikmati pemandangan Telaga Warna dari ketinggian melalui Batu Ratapan Angin yang terletak tak jauh dari Dieng Plateau Teater. Pagi itu belum ada satu petugas pun yang berjaga, pun demikian dengan pengunjung di area Bukit Sidengkeng sana. Saya pun bergegas mengikuti alur jalan setapak yang sudah dibangun dengan pavin blok. Kemudian perjalanan di lanjutkan dengan menapaki jalan setapak dengan kontur yang menanjak.



Suara serangga terdengar nyaring dari balik lebatnya pepohonan di kawasan wana wisata. Kontur jalan yang menanjak semakin membuat saya penasaran untuk menaklukkannya. Tanjakan yang harus dilalui memang tidak seberapa curam, namun, di kala musim kemarau seperti sekarang, jalan setapak menuju Bukit Sidengkeng terasa sangat berdebu, cukup menyulitkan pernafasan, apalagi ketika nafas sudah ngos-ngosan menahan beban. Apabila memasuki musim penghujan, jalan setapak tersebut berubah menjadi lebih licin, sehingga dibutuhkan kewaspadaan diri ketika melaluinya. Sepuluh menit sudah saya melewati jalan tanjakan, akhirnya tiba juga di puncak Bukit Sidengkeng. Benar saja, saya adalah satu-satunya orang yang berkunjung ke sana. Sambil mengatur nafas yang sedikit tersengal, saya dibuat berdecak kagum dengan pemandangan yang ditawarkan. The misty morning, perasaan yang saya rasakan pagi itu. Suasana bukit yang hening dengan pemandangan permukaan Telaga Warna yang masih tertutup oleh kabut membuat suasana menjadi syahdu.


Perlahan-lahan sinar matahari pun mulai menyapa. Kabut yang menutupi permukaan Telaga Warna perlahan mulai sirna. Sayang, sinar matahari pagi itu terasa sangat terang, sehingga pemandangan Gunung Sindoro yang menjadi latar belakang Telaga Warna dan Telaga Pengilon kurang terlihat begitu jelas. Padahal, salah satu tujuan saya datang ke Sidengkeng adalah untuk menikmati pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon dengan latar belakang Gunung Sindoro. Ah, sayang, alam semesta belum mengijinkan, mungkin lain kali saya harus kembali ke sana untuk mendapatkan pemandangan yang lebih indah dari sekarang.


Saya mengambil posisi duduk untuk meluruskan kedua kaki sambil menikmati pemandangan yang tersaji di pagi ini. Sinar matahari yang hangat perlahan mengusir udara dingin yang ada. Saya mengedarkan pandangan di sekeliling saya, nampaknya ada beberapa orang yang pernah bermalam dan mendirikan tenda di sini. Ada bekas api unggun, ada pula hal yang membuat saya sedih, lagi-lagi kalau bukan sampah bekas makanan dan minuman yang dibuang begitu saja di sini. Sungguh perbuatan yang kurang bertanggung jawab ! Kemudian pandangan mata saya terpana dengan pemandangan Telaga Warna yang ada di bawah sana. Sayang sekali debit air sedang surut di Telaga Warna karena musim kemarau. Pantulan warna hijau toschanya pun kurang terlihat begitu jelas, hanya nampak samar.


Usai puas menikmati pemandangan Bukit Sidengkeng, saya pun bergegas turun. Setelah melewati pintu gerbang, saya menyadari satu hal. Ternyata sudah ada petugas yang berjaga di bagian retribusi kawasan Wana Wisata Petak 9. Barikade jalan pun sudah dipasang agar pengunjung tertib antri untuk membayar retribusi masuk kawasan. Saya pun lewat di depan bapak penjaga sambil bertegur sapa. "Ah, maaf pak, saya tadi tidak membayar retribusi", gumam saya dalam hati. Saya pun pergi berlalu meninggalkan beliau, melanjutkan langkah kaki untuk kembali pulang menuju penginapan.

Senin, 19 Oktober 2015

Menggapai Sunrise di Sikunir

Cahaya bulan purnama menjadi teman setia selama kami melakukan perjalanan menuju Desa Sembungan. Dinginnya udara menjelang fajar terasa menusuk tulang seolah tak kami perdulikan. Diiringi pekatnya kabut pagi yang menyambut kedatangan kami, membuat kami semakin semangat untuk  mengejar terbitnya sang mentari di atas bukit nanti.

Suara alarm yang berbunyi nyaring memecah keheningan di salah satu kamar kecil di Losmen Bu Djono. Saya, Ajeng, dan Bang Ari pun segera terbangun, beranjak dari hangatnya selimut yang menepis dinginnya udara Dieng di kala dini hari. Kami segera bergegas, menyiapkan diri untuk memulai pendakian ke Bukit Sikunir. Suasana di depan losmen ternyata cukup riuh oleh pengunjung yang bersiap menuju Desa Sembungan. Tampak beberapa mobil dan motor yang sudah bersiap menuju ke sana, seolah tak satupun orang ingin ketinggalan momen matahari terbit dari atas bukit pagi itu.


Bukit Sikunir merupakan sebuah bukit yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng dengan ketinggian sekitar 2.463 meter di atas permukaan laut. Dengan mobil pick up sayur yang kami sewa, petualangan menuju Bukit Sikunir pun dimulai. Saya dan Bang Ari duduk di bagian bak pick up, satu kawan lagi, Ajeng, duduk di bagian depan di samping pak sopir. Dinginnya udara Dieng membuai lembut ke sekujur tubuh. ditemani sinar rembulan pun tampak malu-malu mengiringi perjalanan kami menuju Desa Sembungan semakin membuat perjalanan ke Dieng kali ini terasa begitu berkesan. Dua puluh menit perjalanan akhirnya kami memasuki area Desa Sembungan. Jalan aspal yang mulai rusak menjadi teman setia sepanjang perjalanan menuju kemari. Guncangan dari jalan aspal yang sudah banyak berlubang seolah membangunkan kami dari kantuk dan rasa malas akibat udara dingin yang menusuk.


Kami pun tiba di sekitar Telaga Cebong, tempat parkir kendaraan sebelum melanjutkan pendakian menuju Bukit Sikunir. Suasana di pos pendakian Bukit Sikunir kini terasa lebih semarak. Beberapa fasilitas pendukung wisata sudah dibangun seperti mushola, toilet umum, serta camping ground pun juga disediakan di sekitar Telaga Cebong. Kondisi yang terasa cukup kontras ketika pertama kali saya datang kemari pada tahun 2012 yang lalu. Sekarang sudah ada larangan untuk mendirikan tenda di puncak Bukit Sikunir, sehingga disediakan fasilitas arena camping ground di sekitar Telaga Cebong bagi pengunjung yang ingin berkemah di Bukit Sikunir ini. Deretan kios-kios semi permanen milik penduduk setempat pun ikut menyemarakkan suasana di area pos awal pendakian ini. Kios-kios tersebut menjajakan makanan dan minuman hangat serta beberapa souvenir untuk dibawa pulang. Souvenir yang paling banyak dijajakan adalah sarung tangan, syal, dan topi hangat dengan tulisan Dieng.

Bang Ari mengajak kami untuk mampir sejenak di salah satu warung untuk memesan segelas minuman hangat agar perut tidak kembung. Seperti biasa, saya memesan segelas teh hangat. Suasana pun semakin akrab saat kami terlibat obrolan hangat dengan sang pemilik warung. Kami mengobrol ngalor-ngidul tentang lokasi wisata yang menarik Dieng, termasuk beberapa obyek wisata baru yang kini sedang dalam tahap pembukaan dan perbaikan jalur untuk menuju lokasi. Sebenarnya obyek-obyek wisata tersebut sudah ada di Dieng, namun karena minimnya fasilitas serta akses jalan membuat lokasi tersebut jarang dikunjungi. Air terjun Sikarim misalnya, air terjun yang berada di sekitar Desa Sembungan ini sudah dikenal beberapa orang, namun akses jalan ke sana masih belum baik, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang menyambangi lokasi tersebut. Usai menghabiskan satu gelas minuman hangat, kami pun segera membayar dan berpamitan untuk memulai pendakian.


Jalur pendakian Bukit Sikunir kini juga sudah diperbaiki. Beberapa jalur sudah dibuat seperti tatanan anak tangga yang terbuat dari batu-batu yang ditata sedemikian rupa sehingga memudahkan pendaki untuk berjalan. Bagian kiri jalur pendakian pun sudah diberi kayu dan besi pembatas agar pendaki lebih aman dan tidak tergelincir ke jurang saat melakukan perjalanan. Selebihnya, medan pendakian masih terasa seperti dulu, tanjakan demi tanjakan harus kami lalui. Jalur pendakian menuju Sikunir memang tidak memberikan bonus jalan datar, isinya lebih banyak tanjakan-tanjakan. Beberapa kali saya meminta untuk berhenti sekedar untuk mengatur nafas yang mulai tersengal. Kesalahan terbesar saya adalah tidak pernah berolahraga, jarang mengolah fisik sehingga stamina saya lemah ketika menghadapi tanjakan demi tanjakan.

Kesalahan kedua saya adalah tidak membawa senter untuk penerangan selama pendakian. Kurangnya penerangan memang cukup menghambat laju pendakian karena saya harus berjalan perlahan agar dapat memijak jalur yang tepat. Untung saja ada beberapa rombongan di belakang saya yang siap sedia membawa senter sehingga sorot sinarnya cukup menerangi selama pendakian. Kontur tanah di Bukit Sikunir terdiri dari bebatuan dan juga tanah dengan tekstur yang halus. Tekstur tanah halus inilah yang menyebabkan jalur pendakian menjadi sedikit licin, apabila tidak berhati-hati dan salah memijak dapat menyebabkan kita tergelincir. Maka dari itu dibutuhkan kewaspadaan selama melakukan pendakian.


Untuk mencapai puncak Bukit Sikunir diperlukan waktu tempuh sekitar 30-45 menit pendakian, tergantung kondisi fisik masing-masing orang. Bagi penduduk setempat, biasanya mereka dapat mencapai puncak Bukit Sikunir hanya dalam waktu 15 menit pendakian saja. Ada hal yang sedikit berbeda yang saya temui ketika berada di puncak bukit. Di bagian puncak Bukit Sikunir kini terdapat bangunan gubug sederhana dan beberapa potongan batang pohon yang berfungsi untuk tempat duduk. Di sekitar puncak juga terdapat lapak penjual makanan dan minuman serta fasilitas toilet umum. Mungkin juga fasilitas-fasilitas ini ada karena jumlah kunjungan wisatawan yang semakin meningkat ke Bukit Sikunir ini.


Setibanya di puncak, saya mengambil posisi duduk untuk mengistirahatkan badan dan meluruskan kaki. Pemandangan Gunung Sindoro nampak begitu jelas di depan kami. Banyak pengunjung langsung menyiapkan kamera dan ponsel mereka untuk mengabadikan momen pagi itu. Semburat warna orange tampak membelah cakrawala di ufuk timur. Seolah tak mau ketinggalan momen, pengunjung pun sibuk memainkan gadget mereka. Ada yang mengambil gambar pemandangan alam, tak sedikit pula yang mengabadikan diri dengan berbagai macam pose dengan latar belakang pemandangan matahari terbit.


Usai menikmati pemadangan matahari pagi, saya mengajak kawan-kawan saya menuju sisi lain Bukit Sikunir, tepatnya di sebelah belakang puncak. Tujuan saja adalah untuk melihat pemandangan Telaga Cebong dari atas ketinggian. Kami duduk di salah satu batu yang langsung menghadap ke Telaga Cebong. Sambil meluruskan kaki, kami menikmati bekal yang sudah kami sediakan sebelumnya, yaitu sebatang cokelat dan air mineral. Cokelat batangan yang kami bawa teksturnya menjadi keras, hampir mirip seperti dimasukkan ke dalam lemari es. Ada pemandangan yang sedikit membuat risih di Sikunir sekarang ini, apalagi kalau bukan ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab yang membuang bungkus makanan sembarangan. Belum lagi saya melihat banyak bungkus permen yang dibuang begitu saja. Sangat disayangkan bukan, jika tempat dengan pemandangan yang cantik seperti ini banyak sekali sampah bungkus makanan yang berserakan ! Saya dan kawan-kawan mencoba memungut beberapa sampah bungkus makanan tersebut untuk dibawa ke bawah agar tidak mengotori puncak Bukit Sikunir ini.


Usai puas menikmati pemandangan pagi di Bukit Sikunir, kami pun memutuskan untuk turun menuju basecamp. Dalam perjalanan turun kami menyempatkan untuk mengambil beberapa foto sambil menikmati indahnya pemandangan perbukitan yang masih terlihat begitu menghijau di puncak musim kemarau. Kami pun harus lebih ekstra hati-hati dengan jalanan yang menurun selama pulang. Entah mengapa, perjalanan pulang itu terasa lebih cepat daripada perjalanan berangkat ke tujuan bukan?

Kamis, 19 Maret 2015

Mengenal Lebih Dekat Anak Gimbal Dieng

Selain menawarkan keindahan alamnya yang menawan, Dieng juga memiliki adat-istiadat serta budaya yang unik dan tak kalah menarik. Adalah rambut anak rambut gimbal, anak istimewa, titipan dari dewa.


Dataran Tinggi Dieng tersohor dengan keindahan alamnya yang mempesona. Deretan perbukitan yang gagah, telaga warna yang anggun, candi-candi peninggalan kejayaan peradaban Hindu yang masih terjaga keberadaannya, hingga kawah vulkanik yang terlihat cantik namun menyimpan bahaya. Selain keindahan alam, Dataran Tinggi Dieng juga menyimpan sebuah keunikan yang mungkin tidak akan dapat kita temukan di daerah lain. Adalah anak berambut gimbal, yang dipercaya sebagai titisan Kyai Kolodite, leluhur masyarakat Di Hyang, yang bersemayam di dalam raga anak-anak yang dianggap pilihan.


Anak rambut gimbal seolah memiliki kharisma tersendiri. Rambut gimbal mereka tumbuh secara alami, bukan karena hasil karya tangan-tangan kapster yang bekerja di salon. Anak berambut gimbal dipercaya memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan anak-anak lain sebayanya karena mereka dianggap sebagai anak pilihan, sehingga memang ada perlakuan khusus semacam diistimewakan. Pada saat kecil, anak berambut gimbal ini tumbuh selayaknya anak-anak pada umumnya. Namun ketika memasuki usia sekitar dua atau tiga tahun, mereka tiba-tiba mengalami demam yang tinggi, dan pada keesokan harinya tumbuh rambut gimbal secara tiba-tiba di rambut mereka.

Dalam acara #FamTripJateng kemarin, kami diajak mengenal lebih dekat sosok anak rambut gimbal penghuni kawasan Dataran Tinggi Dieng ini. Bertempat di Pendopo Soeharto Whitlam, para travel blogger diajak untuk berdiskusi langsung dengan narasumber seperti Mbah Naryono (sesepuh adat Dieng), mas Alif Fauzi (ketua Pokdarwis di Dieng) dan serta dua anak rambut gimbal, yaitu Nafis dan Sri Nuria yang didampingi oleh orang tua masing-masing.


Pada acara diskusi tersebut, Mbah Naryono bercerita mengenai prosesi ritual pemotongan rambut gimbal. Pemotongan rambut gimbal tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Rambut gimbal dianggap sebagai suatu hal yang cukup sakral, sehingga untuk memotongnya perlu dilakukan serangkaian acara ritual khusus atau ruwatan. Acara pemotongan anak berambut gimbal juga baru bisa dilaksanakan ketika si anak sudah memiliki satu buah permintaan khusus kepada orang tua mereka. Orang tua mereka pun harus menyanggupi permintaan yang terucap dari mulut anak gimbal tersebut. Jika pemotongan rambut gimbal dilakukan tanpa adanya kegiatan ruwatan, maka dipercaya rambut gimbal tersebut akan tetap tumbuh kembali di kepala si anak.

Permintaan anak gimbal yang akan diruwat pun bermacam-macam. Ada permintaan yang mudah dikabulkan seperti meminta mainan, makanan, dan sebagainya. Namun, ada pula beberapa permintaan anak gimbal yang cukup berat untuk dikabulkan, seperti meminta ternak, sepeda motor, bahkan ada pula permintaan yang terkadang susah dinalar dengan akal biasa. Seperti Nafis, gadis kecil yang rencananya akan diruwat dalam perhelatan Dieng Culture Festival tahun 2015 ini memiliki permintaan yang cukup sedehana khas bocah sebayanya, yaitu meminta es lilin buatan dari tetangganya sendiri. Atau Sri Nuria, gadis kecil yang baru saja diruwat dalam acara Dieng Culture Festival tahun 2014 kemarin meminta hewan ternak berupa seekor kambing.

Lalu, bagaimana cara untuk mengetahui permintaan si anak sebelum dilakukan ruwatan rambut gimbal? Ketika si anak berumur sekitar 6 tahun, orang tua mereka, terutama sang ibu akan menanyakan permintaan si anak. Permintaan tersebut ditanyakan ketika mereka baru bangun tidur pada pagi hari. Biasanya si anak gimbal tersebut akan mengucapkan permintaan yang sama ketika ditanya setiap paginya. Maka dari itu, orang tua mereka akan menyiapkan permintaan anak gimbal tersebut saat akan dilakukan ruwatan.

Acara ruwatan anak gimbal sendiri dahulu kala dilakukan secara perorangan, namun sekitar tahun 2010, acara ruwatan anak gimbal dilakukan secara bersama yang dikemas dalam acara Dieng Culture Festival. Acara Dieng Culture Festival memang diselenggarakan untuk melestarikan budaya sekaligus menambah atraksi wisata di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Oh iya, sekedar bocoran nih, acara Dieng Culture Festival tahun 2015 ini rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 1-2 Agustus 2015 lho ! Bagi yang berminat untuk melihat acara Dieng Culture Festival ini silahkan catat tanggalnya ya ! Informasi Dieng Culture Festival dapat diintip di akun twitter mereka @FestivalDieng ya :) 

Rabu, 17 Desember 2014

[Photo] Keseruan #FamTripJateng 2014

Bagaimana jika sekitar 20 orang travel blogger dikumpulkan menjadi satu untuk trip bareng? Rame, kocak, seru !

Tanggal 4 dan 5 Desember kemarin, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Tengah mengundang sekitar 20 orang travel blogger untuk melakukan perjalanan bersama, mengenalkan potensi pariwisata Jawa Tengah yang ternyata sangat beragam. Trip kali ini diadakan di daerah Wonosobo dan Banjarnegara untuk memperkenalkan potensi pariwisata yang ada di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Bagaimana keseruan trip kali ini? Here's some candid moment from my camera !

Groufie atau selfie atau apalah namanya, yang namanya foto bareng travel partner di lokasi wisata itu wajib yak buat dokumentasi dan di share di social media hihihi ~

lokasi : Bukit Sidengkeng, Dieng
jika cuaca cerah maka Anda dapat menyaksikan pemandangan Telaga Warna, Telaga Pengilon dengan latar belakang Gunung Sindoro, sayang kemarin lagi mendung dan turun kabut ~


hmmmm, aku penasaran nih dengan hasil groufienya, ngintip ah #eh ~

lokasi : Bukit Sidengkeng, Dieng
dibutuhkan waktu sekitar 10-15 menit untuk mencapai puncak Bukit Sidengkeng ini, jalannya nanjak-nanjak cantik, awas kepleset, jalan setapaknya licin kak habis terguyur hujan ~


groufie dulu pakai "seragam" baru sebelum berlari ke hutan, kemudian belok ke Tambi ~

lokasi : Pendopo Agrowisata Teh Tambi

mumpung di kebun teh, main agedan film India-Indiaan yuk kak ~

lokasi : Kebun Teh Tambi

mas, jangan serius-serius ya motretnya, aku jadi canggung mengeluarkan ekspresinya ntar ~

lokasi : Kebun Teh Tambi

Demikian secuil keseruan dari #FamTripJateng 2014 yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah dalam acara Familiarization Tour Blogger di Wonosobo dan Banjarnegara. Kapan-kapan boleh lho mengundang kita untuk piknik bareng lagi #uhuk

Cek cerita #FamTripJateng dari blogger yang lain yuk !
Alid Abdul - Bermain Sambil Belajar di Perkebunan Teh Tambi
Ari Murdiyanto - Pondok Wisata Tambi, Tempat Bermalam di Tengah Kebun Teh 
Dzofar - Wisata Jawa Tengah : Keajaiban Rambut Gimbal di Dieng
Fahmi Anhar - Kumpul Travel Bloggers di Wonosobo
Halim Santoso - Perjalanan Manis Buah Carica
Idah Ceris - Bonus Plus-Plus Dari Bukit Sidengkeng
Indri Juwono - Janji Kelak Menuju Dieng
Krisna KS - Carica?? Ya Dieng !!
Oryza - Kisah Kyai Kolodete dan Rambut Gimbal di Kalangan Masyarakat Dieng
Putri Normalita - Visit Jateng : Anak Gimbal dan "Warna" di Telaga Warna
Rijal Fahmi - Kisah Perjalanan Teh Tambi
Rinta Dita - Mencari Hangat dalam Semangkok Mie Ongklok
Wihikan Wijna - Mengenal Jawa Tengah Bareng Travel Blogger
Yofangga Rayson - Ayo Piknik, Jangan Kaya Orang Susah
Yusmei - Rambul Gembel, Antara Rezeki dan Cobaan
Firsta - From Plant To Pot : Tambi Tea Plantation

Selamat membaca :)

Minggu, 14 Desember 2014

Agrowisata Kebun Teh Tambi

Menikmati secangkir teh hangat di pagi hari menjadi "ritual" wajib bagi sebagian orang sebelum memulai hari. Tapi apakah pernah terpikir, bagaimana proses pembuatan teh, mulai dari pemetikan hingga tersaji menjadi secangkir minuman hangat yang nikmat?



Kabut tipis perlahan datang menyambut kami yang sedang asyik menikmati sarapan pagi di area gazebo Agrowisata Tambi. Pagi ini kami diajak menikmati wisata tea plantation di area perkebunan teh Tambi. Usai menikmati sarapan, kami pun mengikuti instruksi seorang pemandu lokal untuk berjalan menuju hamparan perkebunan teh di terletak belakang bangunan.


Pemandangan hamparan tanaman teh terbentang luas bak permadani hijau yang memanjakan pandangan mata setelah kami melewati pintu gerbang. Kami pun diajak menuju hamparan perkebunan teh yang terlihat hijau segar. Dengan cukup atraktif, si pemandu lokal pun mempraktikkan bagaimana cara memetik daun teh yang benar. Beliau menjelaskan kepada kami, bagian daun teh mana saja yang boleh dipetik. Daun teh yang dipetik adalah bagian pucuk ditambah dua atau tiga helai daun muda. Bagian pecco, yaitu bagian pucuk daun yang belum mekar adalah jenis daun terbaik untuk diolah menjadi teh karena memiliki kualitas yang prima dan memiliki nilai jual yang tinggi, dibandingkan dengan bagian pucuk daun teh yang lain.


Beliau juga menjelaskan jika dalam proses memetik pucuk daun teh ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Jika salah dalam memetik pucuk daun, maka akan menghambat pertumbuhan pucuk-pucuk daun baru. Hal ini akan berpengaruh pula terhadap jumlah produksi teh itu sendiri. Pertumbuhan pucuk daun teh baru membutuhkan waktu sekitar 12 sampai 40 hari, tergantung dari proses pemetikan daun teh itu sendiri, apakah menggunakan teknik manual dengan tangan ataupun mekanik dengan bantuan mesin.

Perawatan tanaman teh pun tergolong mudah. Untuk tanaman teh yang sudah berumur lebih dari 50 tahun, perawatan cukup dilakukan dengan cara membersihkan lumut yang menempel pada batang menggunakan sabut kelapa setiap empat tahun sekali. Untuk tanaman teh yang sudah berkurang produktivitasnya, biasanya dilakukan pemangkasan total untuk menumbuhkan cabang baru agar produktivitas kembali meningkat.


Pemandu kami pun kembali mengajak menyusuri perkebunan, menyambangi para pekerja yang sedang memetik pucuk-pucuk daun teh. Kami pun dipersilahkan untuk mencoba praktik langsung bagaimana memetik pucuk daun teh yang benar. Pekerja di perkebunan teh Tambi ini rata-rata sudah menggunakan alat sederhana untuk memetik daun teh. Hal ini dirasa lebih cepat dibandingkan menggunakan tangan kosong. Kami pun cukup antusias untuk mencoba peralatan tersebut, beberapa dari kami ada yang mencoba memanggul keranjang yang digunakan untuk mengumpulkan daun teh, sebagian lainnya sibuk memainkan shutter kamera untuk mengabadikan momen-momen yang sayang jika terlewatkan.

Untuk menjaga kualitas, daun-daun teh yang telah selesai dipetik biasanya akan langsung dikirim ke pabrik untuk proses pengolahan. Dari proses pemetikan daun segar menuju pengiriman ke pabrik pengolahan tidak boleh lebih dari lima jam karena akan merusak kualitas dari daun teh itu sendiri. Bagi saya, perjalanan menikmati kebun teh Tambi ini menjadi sebuah pengalaman baru yang menyenangkan, karena saya dapat belajar langsung bagaimana proses pemetikan daun teh yang benar untuk menghasilkan minuman teh yang berkualitas untuk disajikan.

Tea Factory Tour
Usai melihat langsung proses pemetikan pucuk-pucuk daun teh, kami pun diajak menuju pabrik pengolahan teh yang masih berada satu kompleks di Agrowisata Tambi ini. Semerbak harum aroma teh sudah menyeruak ke dalam indra penciuman ketika memasuki pintu gerbang. Ini adalah pengalaman pertama saya berwisata mengunjungi pabrik untuk melihat langsung proses pengolahan sebuah produk. Produk Teh Tambi mungkin tidak terlalu popoler di pasaran, khususnya pasaran Indonesia. Pabrik ini memang lebih terkonsentrasi menghasilkan teh untuk pangsa pasar ekspor. Selain itu, pabrik teh Tambi juga mensuplai bahan teh untuk pabrik-pabrik berskala nasional yang menghasilkan beberapa produk teh dengan merk yang kita kenal di pasaran.


Proses pengolahan daun teh terdiri dari beberapa tahapan. Tahapan pertama adalah proses pelayuan. Daun-daun teh yang sudah dipetik kemudian dimasukkan ke dalam mesin-mesin khusus untuk mengurangi kadar air. Proses pelayuan ini memakan waktu sekitar 18 jam. Proses selanjutnya adalah proses penggilingan. Di ruangan ini daun-daun teh yang sudah dilayukan kemudian digiling. Setelah digiling, tahap selanjutnya adalah tahap oksidasi untuk mendapatkan warna, rasa, serta aroma teh yang diinginkan. Usai tahap oksidasi, proses berikutnya adalah pengeringan daun teh untuk mengurangi kadar air guna menghasilkan teh yang berkualitas. Tahap selanjutnya adalah proses sortir dan pengemasan. Sebelum dikirim kepada pemesan, teh hasil pemrosesan ini dilakukan uji kualitas oleh ahli yang sudah profesional. Teh hasil pengolahan di Pabrik Tambi ini diambil sampelnya untuk kemudian disimpan di kotak chop sample setelah dilakukan proses uji kualitas. Chop sample ini biasanya disimpan selama enam bulan dan berfungsi sebagai “barang bukti” apabila ada komplain dari konsumen yang memesan teh produksi Tambi ini. Petugas akan meniliti dan mencocokan ulang kualitas teh yang dikirim dengan sampel yang telah disimpan.


Selain menikmati keindahan alam, Agrowisata Tambi juga menyuguhkan wisata edukasi yang menyenangkan. Kita dapat belajar tentang proses pengolahan teh, mulai dari pemetikan dauh teh hingga tersaji menjadi minuman teh yang berkualitas. Bagi Anda yang sedang singgah di Kota Wonosobo, silahkan untuk mampir menikmati keindahan Kebun Teh Tambi. Selain menikmati wisata edukasi melalui program tea plantation and tea factory di agrowisata ini, Anda pun dapat membawa buah tangan berbagai jenis produk teh hasil produksi Agrowisata Tambi ini.

disclaimer :
Tulisan ini dibuat dalam rangka acara Familiarization Tour Blogger / #FamTripJateng yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dengan mengundang beberapa travel blogger pada tanggal 4-5 Desember 2014

Untuk informasi mengenai pariwisata Jawa Tengah bisa klik di sini
social media account : twitter @VisitJawaTengah 

Rabu, 28 Mei 2014

Gunung Prau - Menanti Mentari di Antara Kepungan Puncak Gunung

Gerimis pun mengiringi perjalanan kami sepanjang Kota Wonosobo menuju daerah Dieng. Dingin yang menerpa badan seolah tidak kami hiraukan, berharap laju motor yang kami pacu segera tiba di pos Patak Banteng, lokasi awal para pendaki sebelum memulai pendakian menuju Gunung Prau. Jalan yang berkelok dengan kontur naik turun, penerangan yang minim, serta jalanan yang licin karena diguyur hujan memerlukan kewaspadaan ekstra untuk berkendara. Belum lagi rasa sakit di muka karena hujaman air hujan yang menerpa.


Sepinya perkampungan di Dieng serasa bertolak belakang dengan kondisi basecamp Patak Banteng. Di bangunan yang dahulunya sebuah gudang yang kini disulap menjadi basecamp ini sudah berkumpul puluhan pendaki dari berbagai daerah. Hujan yang semakin deras mengguyur membuat kami harap-harap cemas, apakah tengah malam nanti bisa melakukan pendakian, atau malah dibatalkan mengingat jalur pendakian yang kami lalui akan ditutup jika hujan masih saja mengguyur dengan deras.

Hujan pun berangsur reda ketika beranjak tengah malam. Rombongan saya bersiap untuk memulai pendakian. "Sarapan" darurat pun kami persiapkan. Roti tawar berbalut susu kental manis menjadi asupan tenaga untuk memulai pendakian malam ini. Pendakian menuju ketinggian kurang lebih 2.565 mdpl pun kami mulai jelang pukul satu dini hari. Udara dingin yang menerpa badan sudah terhalau dengan balutan sweater yang dilapisi jaket. Perjalanan pun dimulai, melewati kompleks pemukiman penduduk yang terlihat padat dengan bangunan rumah yang cukup rapat. Kami pun melewati jembatan dengan aliran sungai yang cukup deras, kemudian lanjut melewati jalan menanjak yang dibuat berundak yang sudah dibangun secara permanen dengan campuran semen. Raga yang sudah lama tidak diolah pun membuat nafas saya tersengal melewati tanjakan ini. Usai melewati jalan berundak, kaki pun kembali dipaksa menopang berat badan melewati tanjakan yang lebih curam. Kembali saya harus meminta berhenti sejenak untuk mengatur nafas melewati jalan beraspal yang lebih menanjak ini. Jalan ini sepertinya digunakan oleh penduduk setempat untuk membawa kendaraan mereka menuju ladang di atas sana.

Usai melewati sebuah gubug, kami pun memasuki jalan setapak menuju ladang milik penduduk. Banyaknya percabangan jalan di ladang sempat membuat kami kebingungan. Beberapa anggota rombongan akhirnya berpencar untuk memastikan jalan mana yang harus kami lalui. Kondisi malam yang gelap serta kabut yang perlahan turun semakin memperpendek jarak pandang kami. Belum lagi penerangan yang minim karena tidak semua anggota membawa senter. Sempat terbersit pikiran untuk tidak melanjutkan pendakian karena rasa lelah melewati tanjakan awal. Sindrom yang hampir saya alami ketika melakukan pendakian, antara ingin lanjut atau kembali pulang. Di sinilah kondisi fisik dan psikis rasanya mulai diuji ketahanannya. Hingga akhirnya gejolak batin pun mereda dan akhirnya saya pun memilih untuk meneruskan pendakian.

Rasanya jarang sekali saya menemukan jalan datar selama melakukan pendakian melalui jalur Patak Banteng ini. Tanjakan demi tanjakan kami lalui, sesekali saya meminta rombongan untuk berhenti, sejenak untuk meluruskan kaki, menghela nafas, sambil membasahi kerongkongan. Lebih dari dua jam kami berjalan namun tak satupun melewati bangunan gubug yang biasa digunakan untuk pos peristirahatan untuk pendakian.  "Mana ini pos satu kok tidak kelihatan? Kita udah jalan cukup lama kok ga ada tanda-tanda?", gerutu saya. "Pos satu masih jauh Dik, masih di atas sana, ayo semangat !", jawab teman saya. Pendakian pun kami lanjutkan, kali ini medan yang kami lalui lebih menanjak dengan jalan setapak berisi bebatuan serta tanah yang terasa semakin licin, belum lagi jurang di sisi kanan siap menyambut jika saja kaki ini salah berpijak.


Semakin mendekati puncak, kami pun banyak berpapasan dengan para pendaki yang sudah mulai pendakian lebih awal dari kami. Beberapa dari mereka tampak begitu lelah setelah tenaganya terkuras melewati tanjakan demi tanjakan. Medan yang harus dilalui pun semakin ekstrim. Ada satu titik di mana harus melewati tanah licin dan di samping kanan langsung menuju jurang. Ada perasaan was-was saat harus melewati jalur tersebut. Di dekat jalur ini pula saya mengalami sedikit insiden di mana kaki saya kram saat melewati tanjakan. Ini kali pertama saya mengalami kram ketika melakukan pendakian. Rasanya sangat tidak nyaman, apalagi jalan yang harus dilalui berupa tanjakan dan mau tak mau harus pintar mencari pijakan untuk menumpu badan. Untung saja rasa kram tersebut dapat berkurang setelah teman saya dengan sigap memijat-mijat dan meluruskan kaki saya.

Kejutan Menggapai Puncak
Rasanya tepat jika ada pepatah yang mengatakan "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian" untuk menggambarkan perjalanan menuju puncak Gunung Prau. Setelah melewati jalan bebatuan dengan medan menanjak disertai jurang di salah satu sisinya, kini jalan yang disuguhkan menuju puncak Prau adalah jalanan datar dengan hamparan rerumputan diselingi bunga krisan. Pendakian selama tiga jam rasanya puas dengan sajian pemandangan dari atas sana.


Matahari sudah menampakkan semburat merahnya, namun di atas sana sudah banyak pendaki yang berhamburan mencari spot terbaik untuk mengabadikan gambar. Sudah banyak pendaki mendirikan tenda untuk bermalam di puncak Gunung Prau ini ternyata. Saya dan kawan-kawan pun mencari tanah yang datar kemudian menggelar matras. Beberapa dari kami memilih untuk memejamkan mata sembari mengistirahatkan raga. Suara riuh para pendaki pun mulai berdatangan seiring matahari yang perlahan mulai menampakkan wujudnya. Saya pun terbangun kemudian tak kuasa menahan udara dingin yang menerpa badan. Gigi saya pun mulai bergemelutuk pertanda dingin yang sudah tidak tertahan lagi. Mungkin karena keenakan tidur kemudian terbangun membuat suhu tubuh saya menjadi turun.


Rasa lelah selama tiga jam pendakian rasanya terbayar lunas dengan pemandangan gunung Sumbing dan Sundoro di sisi selatan. Menurut penuturan penjaga basecamp, jika kami beruntung dan cuaca mendukung, kami bisa melihat beberapa puncak gunung sekaligus dari Gunung Prau ini. Sayang, cuaca kali ini masih kurang bersahabat, sehingga kami tidak bisa melihat kesemua puncak gunung tersebut. Namun, rasa kecewa tersebut terbayar sepadan dengan pemandangan sunrise cantik yang menyapa kami pagi itu. Tak hanya golden sunrise, silver sunrise pun juga kami dapatkan pagi itu. Sunrise berwarna perak merupakan salah satu pemandangan matahari terbit yang dapat kita jumpai di Dataran Tinggi Dieng setelah menikmati golden sunrise. Ciri khas sunrise ini adalah sinar berwarna perak setelah matahari terbit dan mulai bersinar terang.


Di sisi lain bukit, saya melihat rombongan yang mengabadikan gambar mirip seperti salah satu adegan di film "5 CM" yang cukup booming. Lucu juga melihat polah tingkah mereka yang sedang menirukan salah satu scene di film tersebut. Usai menikmati matahari terbit, kawan saya pun mengajak kami untuk naik di salah satu bukit. Jalan setapak yang harus kami lalui pun mengingatkan saya pada Tanjakan Cinta di dekat Ranu Kumbolo. Dari atas bukit ini kita dapat melihat perkampungan di Dataran Tinggi Dieng serta Telaga Warna dari atas perbukitan. Namun, lagi-lagi sayang, kabut turun menghalangi pandangan. Kami memutuskan untuk sejenak beristirahat di bukit ini sambil menghabiskan perbekalan.


Usai puas ber-selfie ria, kami pun bergegas untuk berkemas untuk melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini hamparan rumput di perbukitan semakin terlihat jelas dengan hiasan bunga krisan yang tumbuh subur di antara rerumputan. Ah, jalan turunan, kami datang !

keterangan :
Untuk menuju lokasi basecamp Patak Banteng cukup mudah. Dari terminal bus Wonosobo silahkan mencari minibus tujuan Dieng. Silahkan minta kondektur untuk turun di pos Patak Banteng yang berlokasi tidak jauh dari gapura "Selamat Datang di Dataran Tinggi Dieng".

Tarif bus dari Wonosobo menuju Patak Banteng ini sekitar Rp 10.000,00
Retribusi untuk pendakian menuju Gunung Prau adalah Rp 7.000,00 per-orang (data bulan Maret 2014)
Waktu pendakian dari basecamp Patak Banteng menuju puncak Gunung Prau sekitar tiga jam perjalanan. Karena medan yang dilalui cukup menanjak dan jarang jalan datar, maka siapkan kondisi fisik yang prima dan jangan lupa membawa perbekalan yang cukup.
Jagalah kebersihan dan jangan membuang sampah sembarangan selama pendakian !
Selamat mendaki Gunung Prau :)

Kamis, 29 November 2012

Keunikan-Keunikan di Kawasan Dataran Tinggi Dieng

Ketika kita mengunjungi suatu daerah, terkadang kita lupa untuk mengamati hal-hal yang sekiranya kita anggap sepele, namun justru hal-hal tersebut mengandung sebuah keunikan dan menjadi ciri khas dari daerah tersebut. 

Selama kurang lebih 45 hari bermukim di kawasan Dataran Tinggi Dieng, saya mencoba untuk mengamati beberapa keunikan-keunikan yang mungkin saja menjadi ciri khas kehidupan di daerah pegunungan ini. Beberapa keunikan yang sebenarnya kita temukan sehari-hari, namun terkadang luput dari perhatian. Mungkin bagi sebagian orang, hal ini hanya dianggap sebagai hal yang sepele dan tidak penting, namun bagi saya ini merupakan sebuah hal yang unik dan mungkin juga tidak akan saya temui di lain daerah. Ya, setiap daerah memang memiliki keunikan dan ciri khasnya masing-masing.


Anak Berambut Gimbal
Jika kita membicarakan tentang rambut gimbal, pasti yang terbayang pertama kali di pikiran kita adalah sosok Bob Marley dengan genre musik reggae-nya yang melegenda. Dieng memang terkenal dengan ciri khasnya yaitu anak-anak yang memiliki rambut gimbal. Rambut gimbal yang dimiliki oleh anak-anak di Dieng tumbuh secara alami sejak mereka masih kecil. Anak-anak yang memiliki rambut gimbal dianggap sebagai titisan dewa yang bersemayam di dalam raga mereka dan kerap kali anak-anak rambut gimbal ini diperlakukan istimewa dibandingkan dengan anak-anak biasa. Orang-orang tidak bisa memprediksikan anak siapa yang lahir memiliki rambut gimbal.

Konon, anak yang akan tumbuh rambut gimbal tumbuh normal seperti anak-anak lainnya, hingga pada suatu fase dia mengalami gejala badan panas dalam beberapa hari bahkan mengalami kejang-kejang. Setelah sembuh, tiba-tiba saja tumbuhlah rambut gimbal di kepalanya. Anak berambut gimbal cenderung memiliki sifat hiperaktif dibandingkan dengan anak-anak sebanyanya. Mereka juga memiliki sifat nakal dan tidak mau kalah dengan teman-teman yang lainnya. Rambut gimbal pada anak-anak ini tidak bisa sembarangan dipotong begitu saja. Untuk melakukan pemotongan rambut gimbal, biasanya dilakukan sebuah ritual khusus. Ritual pemotongan rambut gimbal ini dapat Anda saksikan dalam acara Dieng Culture Festival yang diadakan satu tahun sekali. Sebelum dilakukan ritual pemotongan rambut gimbal, biasanya anak-anak ini diberikan sebuah permintaan. Segala macam permintaan dari anak-anak rambut gimbal yang akan diruwat ini harus dipenuhi oleh orang tua mereka. Menurut cerita dari penduduk setempat, permintaan anak-anak rambut gimbal ini bermacam-macam, mulai dari hal-hal yang sederhana hingga hal-hal yang rumit. Bahkan menurut cerita ada yang meminta hati unta sebelum mereka diruwat. Untung saja sih keluarganya ada yang pulang dari ibadah haji dan membawakan hati unta sesuai dengan permintaan si anak. Ada-ada saja terkadang permintaan anak-anak rambut gimbal tersebut sebelum diadakan ritual ruwatan.



Dingklik dan Tungku/Anglo Perapian
Dua barang inilah menjadi saksi bisu timbulnya keakraban dan suasana kekeluargaan selama bermukim di kawasan Dataran Tinggi Dieng ini. Jika Anda berada di Dieng dan pergi bertamu ke rumah orang, jangan harap Anda akan dipersilahkan masuk ke dalam ruang tamu seperti lazimnya kita bertamu. Anda akan langsung dipersilahkan masuk ke bagian dapur dan menuju ke bagian perapian yang terletak di bagian belakang rumah. Ya, inilah salah satu keunikan kultur masyarakat di Dataran Tinggi Dieng. Tamu langsung dipersilahkan masuk ke dalam dapur yang biasanya menjadi bagian yang cukup privat dalam sebuah rumah. Masyarakat Dieng memang memiliki kebiasaan menghangatkan diri di dekat tungku perapian. Sambil menghangatkan diri biasanya mereka akan menyeruput kopi, memakan camilan, sambil berbincang-bincang akrab. Kegiatan yang biasa kami lakukan selain berbincang-bincang di sekitar tungku perapian ini adalah bermain kartu sambil membakar jagung atau kentang. Menurut saya tungku perapian ini merupakan salah satu media yang cukup efektif untuk bersosialisasi sambil mengakrabkan diri.

Masyarakat di Dieng memang sangat ramah, bahkan terhadap orang yang baru mereka kenal sekalipun. Mereka memperlakukan setiap orang sebagai sanak keluarga mereka sendiri. Prinsip bagi mereka semua orang itu pada dasarnya adalah saudara. Ketika pertama kali saya dan teman-teman datang, sambutan yang masyarakat berikan sangatlah luar biasa. Mereka sudah menganggap kami seperti anak mereka sendiri. Bahkan walaupun baru kenal, mereka tak segan untuk mengundang kami makan di rumah mereka. Mereka menyuruh kami menganggap rumah mereka seperti rumah kami sendiri, tak perlu sungkan. Jika kami ingin membuat kopi atau teh, mereka mempersilahkan kami untuk membuatnya sendiri. Mereka menunjukkan tempat disimpannya cangkir, air panas, gula, teh atau kopi. Ya, orang-orang di Dieng memang sangat terbuka kepada siapa saja, mereka selalu berusaha menjamu tamu mereka dengan baik.


Tempe Kemul
Apa sih camilan khas dari Dieng? Kalau boleh saya bilang sih tempe kemul. Tempe kemul merupakan pemberian nama dari masyarakat di daerah Banyumasan untuk menyebut tempe mendoan. Jika belum tau juga apa itu tempe mendoan, yaitu tempe yang digoreng dengan balutan tepung. Tempe kemul khas Dieng sangat khas, tempe diiris-iris kecil kemudian dibalut tepung dan digoreng renyah. Tempe kemul dijual per-biji  Rp 500,00 saja dan sajian ini menjadi menu favorit saya dan kawan-kawan ketika berbuka puasa selama di basecamp Dieng.

Minuman Purwaceng
Purwaceng sendiri mendapatkan sebutan sebagai viagra van java. Purwaceng biasanya disajikan dalam bentuk minuman. Konon katanya purwaceng ini memiliki khasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan vitalitas bagi pria dewasa. Walaupun minuman ini distigmakan untuk pria, namun para wanita pun juga ada yang mengkonsumsi minuman purwaceng ini untuk menambah daya tahan tubuh. Selama saya tinggal di Dieng, saya sendiri belum pernah mencoba minuman ini. Saat ini pun purwaceng sudah diproduksi dalam berbagai kemasan dan dapat kita temui di berbagai penjuru kota.


Kentang Dieng
Dataran Tinggi Dieng memang terkenal dengan produksi kentangnya yang super. Hampir seluruh wilayah di dataran tinggi ini ditanami dengan tanaman kentang. Kentang merupakan komoditas utama bagi petani di Dieng. Tak dipungkiri lagi produksi kentang di Dieng memang memiliki kualitas yang super. Selain kentangnya yang besar-besar, kentang di Dieng juga mulus, hampir tidak ada guritan-guritan di kulit buahnya. Kentang dari Dieng biasanya dikirim ke kota-kota besar seperti Jakarta untuk kemudian diolah menjadi keripik kentang oleh pabrik-pabrik makanan, ada juga yang dijual di supermarket-supermarket. Hanya saja masih disayangkan, masyarakat di Dieng sendiri belum mau membuat hasil olahan dengan bahan dasar kentang untuk menambah nilai jual. Kebanyakan dari masyarakat lebih memilih menjual kentang mentah karena dianggap lebih praktis dan menguntungkan dibandingkan jika mereka harus membuat produk olahan. Olahan kentang paling favorit selama di Dieng adalah keripik kentang, kentang goreng, perkedel, sambal goreng baby kentang, dan juga kering kentang. Pokoknya juara lah masakan olahan dari bahan dasar kentang tersebut.



Gandos
Apa sih gandos? Gandos adalah jajanan pasar berbahan dasar tepung beras, diberi parutan kelapa muda dicampur dengan gula kemudian dibakar dengan alat khusus. Jajanan pasar yang satu ini memiliki rasa yang manis, gurih, dan legit. Setiap kali ke Pasar Batur, saya dan kawan-kawan paling gemar membeli makanan ini untuk camilan. Per-bijinya, gandos dijual dengan harga Rp 1.000,00 saja. Pada hari libur, biasanya Anda dapat menemui penjual gandos di sekitar Kompleks Candi Arjuna. Pedagang gandos masih sangat tradisional, biasanya masih menggunakan pikulan untuk menawarkan barang dagangan mereka.

Sego Jagung
Saya jadi ingat salah satu lirik langgam Jawa yang berjudul caping gunung,"nang gunung tak cadhongi sego jagung, yen mendung tak silihi caping gunung". Ya, salah satu makanan pengganti nasi bagi masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan adalah sego jagung atau nasi jagung. Pembuatan nasi jagung cukup rumit dan membutuhkan waktu pengolahan yang cukup lama sehingga dapat menghasilkan nasi yang pulen. Nasi jagung merupakan salah satu menu favorit saya untuk sarapan. Kita dapat menemukannya di sekitar pasar Batur. Satu balok nasi jagung hanya dijual dengan harga Rp 1.000,00 saja. Nasi jagung terasa lebih mengenyangkan jika dibandingkan dengan nasi beras biasa. Dalam penyajiannya, nasi jagung dapat kita makan dengan campuran sayur dan lauk seperti biasa. Soal rasa, dijamin nasi jagung memiliki rasa yang lebih gurih, walau terasa agak seret di tenggorokan.


Angrek Khas Dieng
Ketika diajak jalan-jalan berkeliling kampung oleh Mas Hafid, penduduk setempat, dia menunjukkan kepada saya salah satu tanaman khas dari Dieng, yaitu bunga angrek. Angrek khas Dieng memang unik, bentuk bunganya menyerupai bintang. Satu tangkai bunga bisa terdiri dari beberapa bunga yang berkumpul menjadi satu. Angrek khas Dieng memiliki warna orange yang khas dan konon hanya dapat tumbuh di Dataran Tinggi Dieng saja.

bunga dandelion

Bunga Dandelion
Ciri khas lain dari Dieng yang saya temui adalah kumpulan bungan dandelion atau orang Dieng menyebut dengan randa tapak yang tumbuh subur ketika musim kemarau. Bunga dandelion merupakan bunga liar yang tumbuh subur di sekitaran Kompleks Candi Arjuna dan Museum Kailasa. Di beberapa tempat kita juga masih dapat menjumpai bunga ini namun tidak sebanyak di tempat tadi. Bunga ini berbentuk bulat berwarna putih, jika tertiup angin maka akan berguguran dan beterbangan.


bunga Hortensia

Hortensia Dieng
Bunga Hortensia atau biasa disebut dengan bunga panca warna ini juga menjadi salah satu ciri khas dari Dieng menurut saya. Bunga ini juga biasa disebut bunga tompok oleh masyarakat setempat. Ada pula yang menyebutnya sebagai bunga panca warna karena memang bunga ini memiliki berbagai jenis dengan warna-warni yang berbeda-beda. Kita dapat menemui bunga hortensia ini tumbuh subur di seluruh penjuru Dieng.

Embun Upas
Salah satu fenomena alam yang menarik di kawasan Dataran Tinggi Dieng adalah turunnya embun es di pagi hari ketika memasuki musim kemarau. Embun es yang turun ini biasa disebut dengan embun upas (upas dalam bahasa Jawa berarti bisa) oleh masyarakat setempat. Embun upas ini menjadi salah satu musuh bagi petani kentang karena dapat merusak tanaman. Fenomena embun upas ini dapat Anda saksikan di Dieng sekitar bulan Juli-Agustus ketika puncak musim kemarau. Oh iya, musim kemarau di daerah pegunungan justru menjadi puncak-puncaknya cuaca ekstrim, udara akan terasa lebih dingin jika dibandingkan ketika musim penghujan.



Domba Dieng
Domba Dieng atau biasa disebut dengan dodi. Selain sebagai petani, penduduk di Dieng juga berprofesi sebagai peternak. Salah satu ternak yang dikembangkan adalah ternak kambing. Berbeda dengan kambing-kambing kebanyakan yang memiliki bau yang cukup menyengat dan kurang bersih, kambing di Dieng justru sama sekali tidak berbau, memiliki bulu yang tebal mirip biri-biri, dan dijamin Anda akan gemas bila melihatnya karena tampilannya yang unyu banget. Kambing-kambing ini biasanya digembala di sekitaran Kompleks Candi Arjuna. Tampilan si kambing mirip-mirip dengan boneka, rasanya ingin memegang dan memeluk si kambing. Walaupun tampilannya lucu dan jinak, tapi si kambing cukup agresif jika didekati. Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindar jika Anda dekati.

Ya, itulah beberapa keunikan di Dieng yang saya amati selama saya tinggal di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Sebenarnya masih banyak hal unik lainnya dan juga tempat-tempat menarik untuk dikunjungi, namun sayang beberapa tempat menarik belum sempat saya kunjungi. Mungkin suatu saat nanti, saya akan berkunjung lagi ke Dieng untuk mengeksplorasi hal-hal unik dan tempat-tempat menarik lainnya di kawasan Dataran Tinggi Dieng ini.