Kamis, 17 Maret 2011

Boneka Raksasa "Ondel-Ondel"

"Ondel-ondel, Seni boneka raksasa yang masih bertahan di era modernisasi yang cukup deras dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta"


Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat untuk penyambutan tamu terhormat, peresmian gedung yang baru selesai dibangun, acara pernikahan, vestival seni dan budaya serta acara-acara pertunjukan lainnya
Semula ondel-ondel tercipta karena sebuah keyakinan bahwa ondel-ondel tersebut memerankan leluhur nenek moyang atau tokoh yang dihormati untuk senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa dan berfungsi sebagai penolak bala, penyakit atau gangguan roh halus yang gentayangan serta ondel-ondel ini dilambangkan sebagai dewa-dewa penyelamat sehingga Ondel-ondel pun awalnya kental dengan sisi magis dimana tidak terlepas dari sesajen berupa rokok, kopi, air kelapa, atau pun telur ayam kampung sebagai sesaji kepada leluhur. Cara memberi sesajen kepada ondel-ondel adalah dengan menaruhkannya dalam kerangka tubuh ondel-ondel.
Namun, saat ini ondel-ondel lebih berfungsi media hiburan, seperti pada pesta panen, penyambutan tamu, atau pesta khitanan sehingga pada saat ini masyarakat Betawi lebih memanfaatkan ondel-ondel sebagai perangkat seni dan budaya untuk menyemarakkan pesta atau untuk acara peresmian khusus, meskipun tidak sama dengan tujuan awal tapi Setidaknya beragam kegiatan itu setidaknya telah berjasa mempertahankan tradisi unik masyarakat Betawi di tengah deru modernitas kota metropolitan Jakata, sehingga lambat laun ondel-ondel ini lebih digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau pertunjukan seni dan Budaya.

Ondel-Ondel di Museum Fatahila

Ondel-ondel sekilas terlihat seperti boneka raksasa atau sepintas mirip dengan manekin, hanya saja dalam versi tradisionalnya. Ondel-ondel dibuat dengan membentuk kerangkanya dari anyaman bambu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga memiliki bobot yang tidak terlalu berat sehingga dapat bergerak dengan lincah menari dan berputar-putar serta memudahkan  untuk dipikul dari dalamnya dikarenakan boneka ini mempunyai rongga didalamnya sebagai tempat orang yang mengendalikan ondel-ondel tersebut dan pengendali ondel-ondel ini berjalan, menari dan berputar-putar di iringi musik khas betawi
Bagian wajah Ondel- ondel berupa topeng dengan rambut kepala yang terbuat dari ijuk atau lidih yang di hias dengan kertas berwarna dan juga bisa digantikan dengan bambu yang diserut sampi tipis menyerupai lidi. Untuk wajah Ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah tebal sedangkan yang perempuan dicat menggunakan warna putih dengan polesan di wajah yang terlihat tebal juga serta direkatkan pula beragam ornamen di kepala Ondel-ondel sehingga terlihat lebih semarak. Bagian badan ondel-ondel dari bilah-bilah dan anyaman bambu dan diberi pakaian dengan manik-manik sebagai hiasan.
Ondel-ondel ditampilkan berpasangan laki-laki dan perempuan yang diibaratkan seperti suami istri. Ondel-ondel laki-laki dengan wajah merah diberi kumis melintang, jenggot, alis tebal, jambang dan kadang dibuatkan caling. Sementara itu, ondel-ondel perempuan dengan wajah putih atau kuning diberi rias gincu, bulu mata lentik, dan alis lancip. Kadang-kadang dibuatkan tai lalat dan terkadang pasangan ondel-ondel suami istri juga tampil dengan ondel-ondel anak-anak.
Ondel-ondel selalu berjalan denga iringan Musik khas Betawi yang selalu menyertai ondel-ondel ketika mereka tampil dalam sebuah parade. iringan musik khas Betawi yang mengiringi ondel-ondel memiliki jenis musik yang berbeda-beda diantaranya yaitu musik tehyan. Jenis musik tradisional ini mendapatkan pengaruh dari China. Kadang-kadang, sekelompok orang bermain tanjidor, yaitu alat musik yang berasal dari istilah Portugis untuk sekelompok orang yang bermain musik, tangedores. Ada juga ondel-ondel yang menggunakan musik gendang pencak Betawi, musik ningnong, gambang kromong, dan rebana ketimprung.
 Ondel-ondel, Ya, Inilah salah satu pertunjukan seni budaya Betawi yang dapat dilihat di Jakarta. serta  merupakan pertunjukan khas masyarakat Betawi yang sering tampil dalam berbagai perayaan seperti pesta panen, penyambutan tamu, serta berbagai perayaan resmi lainnya serta Arak-arakan dalam acara vestival ataupun pertunjukan seni sehingga menjadi penghias wajah ibu kota Jakarta.
Sepertinya lambat laun, ondel-ondel akan beralih panggung, dari acara arak-arakan vestival menjadi arak-arakan perkelompok dengan tujuan tak ubahnya pengamen jalanan, tapi tetap sebagai pertunjukan yang menghiasi wajah ibu kota Jakarta.
rasa miris dan harapan positif selalu timbul dan tenggelam, miris karena kesenian tradisional menjadi tak ubahnya pertunjukan kelas renda dan harapan positif, semoga dengan banyaknya arak-arakan ondel-ondel yang tidak termasuk dalam kategori festival maupun perayaan, setidaknya arak-arakan ondel ondel tersebut menjadi mempunyai perannya waktu awal, yaitu sebagai  penjaga anak cucu dan penduduknya serta berfungsi sebagai penolak bala, penyakit atau gangguan roh halus sehingga anak cucu, penduduk serta orang-orang yang berada di Jakarta terbebas dari bala kemiskinan, penyakit sosial dan gangguan roh halus berupa hawa nafsu setan (amiin)


Café Batavia - Lapangan Fatahillah

Sore itu nangkring di daerah Lapangan Fatahila Kota Tua, mencicipi makanan khas jalanan yang enak, mulai dari pecel sayur sampai dengan rebusan kerang hijau. Berpindah dari satu tempatke tempat makan yang lain tapi tetap judulnya makan di emperan. Sesudah kenyang menjajaki manan khas emperan, baru lah terbelalak melihat tulisan cafe Batavia, Posisinya tepat berada di depan Museum Fatahillah.Ehm... sepertinya cafe ini bisa menjadi pilihan yang asyik buat killing time, tapi pikir-pikir dulu, apakah isi kantong masih cukup dan apakah perut ini masih muat buat melahap makanan serta menyeruput minuman lagi? hitung-hitung tadi sudah cicip sana cicip sini ala makanan emperan. Sepertinya lain waktu harus mencicipi makanan dan minuman di Cafe Bativia ini, untuk sementara foto-foto dulu toh sepertinya lebih asyik agak malaman ke cafe batavia ini karena suasananya klasik sehingga memberikan kesan romantis. 
sambil menunggu waktu yang tepat untuk bertandang ke Cafe Batavia aq juga melihat-lihat dan membaca review dari beberapa teman-teman blogger keliatannya sangat asyik-asyik serta tak jarang yang menuliskan bahwa Cafe ini kurang direkomendasikan buat orang -orang lokal atau orang Indonesia karena makanan sama minumannya kurang cocok sama lidah orang lokal. Menu Indonesia-nya pun kurang lebih hanya Bebek Goreng, Udang Goreng, Telur Asin, Soto Ayam, Sop Buntut dan Bandrek saja. Tapi kalo saya mah yang penting judulnya makanan dan minuman pasti kelahap karena dalam kamus saya tidak ada rasa makanan yang enak maupun gak enak yang ada mau atau gak mau bukan enak atau gak enak hehehe masalah mahal dan gak nya tergantung kepuasan hati tapi rata-rata yaa ada harga pasti ada rupa, berupa rasa maupun suasana.

tulisan dan foto-foto di Blog banyak yang menggambarkan bahwa Cafe Batavia tempatnya asik dan agak klasik ala ala kolonial Belanda. Menurut informasi, Cafe Batavia ini menempati bangunan bergaya kolonial Belanda yang sudah berusia 200 an tahun sehingga menjadikan Cafe Batavia merupakan bangunan tertua kedua setelah Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) yang terletak tepat diseberangnya. Interiornya diisi oleh pernak-pernik dari abad 19 dan berkolaborasi dengan sedikit sentuhan modern. Di beberapa bagian dinding cafe terpajang foto-foto para tokoh dari zaman kolonial Belanda hingga foto proklamator Sukarno, juga berbagai foto seniman, artis, dan musisi.
Di lantai bawah, kita disuguhkan oleh nuansa cafe dan lounge yang  kental dengan nuansa kolonia. Selain itu ada panggung kecil yang biasanya diisi oleh sajian live music oleh para pemusik handal. Berhadapan dengan panggung, kita bisa menikmati suasana bar di masa lalu. Winston churchill, nama mantan Perdana Menteri Inggris ini dipakai untuk menamai bar di lantai satu ini. Bar ini pernah dinobatkan menjadi “The World’s Best Bar” oleh Newsweek International di tahun 1996. Menuju lantai dua kita akan menaiki tangga besar yang terbuat dari kayu jati dan dinding yang dipenuhi foto-foto para tokoh, artis, dan musisi dari berbagai negara yang tersusun secara apik dan terjaga.
Di lantai atas kita akan menemukan nuansa yang berbeda. Ruangan di lantai dua ini bernuansa restoran yang masih bergaya masa lalu alias “tempo doeloe”. Sambil menikmati hidangan, kia juga bisa menyaksikan pemandangan suasana taman Fatahillah lewat deretan jendela besar.


Wuuuih gak nyangka, ternyata di antara lalu lalang dan hiruk pikuknya kota metropolitan Jakarta yang modern, Ibu Kota Jakarta masih menyimpan nuansa-nuansa kolonia di sudut-sudut kota diantaranya di kawasan Kota Tua. Tidak hanya Museum Fatahillah yang merupakan satu-satunya destinasi wisata yang berdekatan dengan Cafe Batavia, Kawasan Cafe Batavia dan Kota Tua ini mempunyai beberapamuseum dan bangunan-bangunan bersejarah, hitung-hitung habis makan kekenyangan, jadi gak ada salahnya dibuat jalan-jalan mengelilingi Kota Tua.

Selasa, 15 Maret 2011

Alexa Rankku makin Naik

Syukur Alhamdulillah Alexa Rank dari http://jelajahwisata.blogspot.com/ mulai beranjak naik, dari 9.999.999 mulai beranjak naik ke ranking 6,791,542 per 15 Maret 2011 dan ketepatan dengan penunculan artikel yang ke 40 (empat puluh)





Semoga semakin jaya Pariwisata Indonesia

Selasa, 01 Maret 2011

Kenyataan Hidup

"Dull, kamu hari ini nganggur gak?" Tanya Panjul
"Njull, aku kasih tauh yaaaaa, yang namanya Bedul dalam sedetikpun itu tidak pernah nganggur"
"Ya emang kerjaan kamu ngapain Toh?, orang tiap hari kerjanya ngelamun sama ongkang-ongkang gitu"
"meskipun aku keliatan ngelamun ataupun ongkang-ongkang, kan jantungku perlu berdetak, aku perlu bernafas dan aku juga perlu lirak-lirik sana-sini, dan itu dinamakan beraktifitas dan sekali lagi aku tidak nganggur dalam sedetik pun"
"Walah Dull, orang kok ya gak bisa menerima kenyataan hidup
"Lho, kamu salah Njull, inilah kenyataan hidup yang aku terima, yaitu kenyataan kehidupan pengangguran, coba kalo aku gak terima, aku pasti sudah beralih profesi, justru dengan aku menerima kenyataan hidup sebagai pengangguran maka aku dengan tabah menjalani profesi pengangguranku ini dengan lapang dada"
"Terserah luh Dull, repot ngomong sama orang edan"
"Yang repot itu aku. aku repot berfikir, kenapa orang edan seperti aku kok kamu ajak ngobrol?"


Kira kira kalo jawaban pembaca bagai mana untuk mengatasi pertanyaan Bedul koclok ini?
Tolong kasih komentar ya biar seruh

Okupansi Hotel Berbintang

Okupansi Hotel Berbintang 50,47%, Naik 4,35 poin

 Uwedan, Okupansi atau Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 20 provinsi di Indonesia pada Januari 2011 mencapai rata-rata 50,47%   atau naik 4,35 poin dibanding TPK Januari 2010 sebesar 46,12%, demikian keterangan BPS yang dirilis dalam situs resminya, Selasa (1/3).
Menurut sumber, bahwasannya TPK hotel berbintang pada Januari 46,12% ini bila dibandingkan dengan TPK bulan desember 2010 sebesar 53,65% terjadi penurunan 3,18 poin. Penurunan ini karena faktor seasonal, dimana pada bulan Desember merupakan peak season, sedangkan Januari low season.
Pada Januari 2011, TPK tertinggi tercatat di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 70,01%  dan TPK terendah di Provinsi Kalimantan Barat sebesar 32,61%.  
Sementara itu rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 20 provinsi di Indonesia pada Januari 2011 mencapai 2,13 hari, naik 0,06 hari jika dibanding rata-rata lama menginap tamu Januari 2010, dan naik 0,15 hari jika dibanding Desember 2010.
Secara keseluruhan, rata-rata lama menginap tamu asing pada Januari 2011 lebih tinggi dibanding tamu Indonesia yaitu masing-masing 3,20 hari dan 1,82 hari, dan ini terjadi hampir di seluruh provinsi DTW, kecuali Provinsi Kepulauan Riau, Jambi, Sulawesi Tengah, Kepulauan Bangka Belitung dan Kalimantan Selatan. (Pusformas

Semoga data-data yang ada akurat dan tidak dimanipulasi(sambil menengadakan tangan). Amiiiii-Amiiin-Amiiinnn.
Maaf gambar ngambil dari tetangga sebelah

Lomba Penggalian Sumber Sejarah

Dipagi hari yang dingin dan agak mendung, Panjul dibangunkan oleh sebuah teriakan teriakan dan gedoran pintu kamar yang keras
"Njuuuuuul, Panjuuul - Njuuul?, dok dok dok dooookkk !!!!! (suara ketukan pintu) Njuuull" Suara Bedul membangunkan Panjul yang lagi tidur.
"Njuuuuuul!!!!!! hoeeee, lu lagi tidur apa pingsan? Dok dok dokkkk dooookkk" teriak Bedul semakin kencang.
"Njuuulllllll!!!!! ini sudah jam 10 siang matamu!!!!!!!!!!!!!"

Belum lama Bedul mbangunin Panjul, terdengarlah langkah kaki ibunya Panjul mendekati bedul yang lagi ada dilantai atas. dengan langkang yang cepat dan dengan membawa panci ditangan kanannya, ibunya Panjul menghampiri Bedul dan Berteriak.

"DUULLL!!!!!!!! JANGAN TERIAK-TERIAK!!!"
"Eh maaf tante" jawab Bedul sambil menutup mulutnya
"Gak opo-opo, tapi tante takut kalo kamu teriak-teriak dikira orang gila, toh kalo kamu teriak teriak tok ampai pingsan juga, Panjul gak bakalan bangun, nih tante bawain panci supaya kamu ngedor pintunya lebih mantep"
"Terima kasih ya tante"
"Iya, gak opo-opo, Panjul kalo gak dibangunin pake gituan gak bakalan bangun, soalnya kalo tidur telinganya jadi budek"

 Kemudian bedul mbangunin panjul dengan cara nggedor2 pintu Panjul dengan panci.

“DUUUNGGG, DDUUUNNNNGGGGG, DDUUUUUNNNGGGG”
"Ceklek (suara pintu terbuka) OOooooo Edan kamu Dul, pagi2 uda bikin orang gaknyeyak tidur"
"Pagi matamu sobek!!!, ini sudah jam setengah sebelas Panjul edan" jawab bedul sambil nyelonong masuk kamar Panjul.
"Emang ada apa?"
"Ni ada kabar gembira, coba baca dulu"
Lomba Penggalian Sumber Sejarah Dalam Bentuk Audiovisual





Jas Merah Awards






Penyelenggara :



Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata
Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Direktorat NilaiSejarah
Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta 10270, Gedung E Lantai 8
Telepon: 021-5725519, 5725704, faks. 5725509
Email : nilaisejarah_budpar@yahoo.co.id
Website: www.nilaisejarah.budpar.go.id
bekerja sama dengan Metro TV dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ)








Tema :


Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Sejarah Lokal






Topik :

Peserta memilih topik yang sesuai dengan daerahnya, misalnya :
a.
Sejarah Perkembangan Kota/Desa
b.
Sejarah Perkebunan/Pertanian/Pengairan
c.
Sejarah Transportasi
d.
Sejarah Perdagangan (Pasar Tradisional, Pelabuhan, dll)
e.
Sejarah Industri Tradisional (Kain Tenun, Batik, Keramik, Ukiran, dan Kerajinan Khas lainnya)
f.
Sejarah Organisasi Sosial (Subak di Bali, Nagari di Sumbar, dan Gampong di Aceh)
g.
Sejarah Industri Dasar (Industri baja di Cilegon, Pupuk Kujang di Jawa Barat, Industri semen di Gresik, dll)
h.
Sejarah Kesenian Daerah (Seni Tari, Musik, Lukis, dan Seni Pertunjukan
i.
Sejarah Tokoh (Daerah)
j.
Sejarah Pendidikan Non Formal (Pesantren, Dayah)
k.
Peninggalan Bersejarah






Persyaratan Peserta :

1.
Siswa/siswi SMA/SMK/Sederajat
2.
Peserta terdiri dari 3 orang dalam satu tim disekolah yang sama
3.
Mengirimkan proposal singkat dan data pribadi (lihat pedoman proposal di bawah ini) yang dikirimkan kepada panitia dalam satu paket pengiriman ke Panitia Lomba Penggalian Sumber Sejarah dengan alamat: Komplek Depdiknas Gedung E. lantai 8, Direktorat Nilai Sejarah, Jl. Jend.Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat. Paling lambat tanggal 6 Mei 2011 atau melalui email: nilaisejarah_budpar@yahoo.co.id
4.
Formulir pendaftaran dan contoh proposal dapat juga diakses melalui internet dengan alamat : www.nilaisejarah.budpar.go.id
5.
Peserta wajib mendapat ijin tertulis dari sekolah






Tahapan pelaksanaan :
I
Seleksi Tahap I

a.
Proposal yang masuk akan diseleksi menjadi 10 tim

b.
Tim yang lolos seleksi tahap I mendapat pembekalan (workshop) selama 7 hari pada 28 Juni - 4 Juli 2011 di Jakarta

c.
Setelah mendapat pembekalan, peserta kembali ke daerah masing-masing untuk melakukan pembuatan dokumenter sejarah audiovisual dalam bentuk DVD berdurasi 15-17 menit (Juli-September)



II
Seleksi Tahap II

a.
Hasil produksi DVD diterima panitia paling lambat pada tanggal 14 Oktober 2011

b.
Hasil produksi yang masuk akan dinilai oleh tim juri untuk menentukan 6 (enam) finalis

c.
6 (enam) finalis akan diundang ke Jakarta didampingi oleh guru untuk mempresentasikan karyanya dihadapan dewan juri pada bulan November 2011(8-11 November)






Panitia menanggung biaya transportasi dari ibukota propinsi PP, akomodasi, dan konsumsi selama workshop dan finalisasi yang berlangsung di Jakarta.

Pemenang Lomba akan mendapat total hadiah sebesar:
Rp. 60.000.000,- (Enam Puluh Juta Rupiah) untuk 6 pemenang ditambah tropy dan sertifikat.









Informasi lebih lanjut Hubungi Panitia Lomba Direktorat Nilai Sejarah:
1.
Puspa Dewi (081319702205) (0818814695)
2.
Sanggupri B. (081281182816)



Atau melalui website : http://nilaisejarah.budpar.go.id
Email : nilaisejarah_budpar@yahoo.co.id Phone: 5725519/5725704 Fax: 5725519

"Bagaimana menurutmu Njul??" Tanya Bedul.
"Muantap Dul, ya da aku mau daftar dulu"
"Ya da sana daftar dulu, jangan lupa aku dimasukin ke tim kamu, dan gantian aku yang tidur"
" oooo dasar bedul Gendeng"