Sabtu, 31 Mei 2014

Obyek Wisata Alam Gunung Lawu Jawa Timur

Obyek wisata alam Gunung lawu mungkin sudah tidak asing ditelinga kita, Apalagi bagi Saudara yang mempunyai hobi mendaki gunung. Karena selain pendaki yang datang karena hobi, Disaat bulan sura banyak orang yang naik kegunung lawu untuk ziarah.

Lokasi Obyek wisata Alam Gunung lawu terletak dipulau Jawa Indonesia, Tepatnya diperbatasan atau anatra provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Timur. Gunung lawu mempunyai ketinggian puncak 3.265m dari permukaan laut. Karena lokasi gunung lawu yang letaknya diperbatasan Jawa Timur,  Kadang orang menyebutnya gunung lawu jawa timur.


Jalur Menuju obyek wisata alam gunung lawu

Transportasi umum darat menuju obyek wisata alam gunung lawu juga mudah, JIka kita dari  kota lain di Jawa Tengah atau dari arah barat, kita bisa menuju terminal bis tirtonadi dikota Solo, Dan dari solo kita bisa naik bis menuju terminal dikota Tawangmangu, Dari terminal tawangmangu kita bisa naik transportasi darat lain menuju lawu.Bagaimana jalur transportasi menuju gunung lawu jika kita dari arah timur?, Juga tidak sulit, Dari arah manapun Saudara menuju kota maos atau tepatnya terminal bis maos. Dari terminal bis dikota maos Saudara bisa berganti transportasi darat menuju gunung lawu.


+foto telaga sarangan dilereng gunung lawu jawa timur


Dari dua jalur menuju gunung lawu tersebut, Kita akan bisa melihat keindahan lereng gunung lawu yang mengngagumkan. Karena disekitar lereng gunung lawu, Selain jalannya yang berkelak-kelok indah, Kita akan melewati banyak pepohonan dan lahan pertanian yang hijau dan rindang. Dan Jika dari jalur timur atau Jawa Timur, Kita akan melewati keindahan telaga sarangan yang bisa dilihat dari dalam mobil.

Tentang obyek wisata alam gunung lawu lainnya

Gunung lawu mempunyai tiga puncak, Yaitu puncak hargo Dalem, Puncak Hargo Dumiling dan puncak hargo Dumilah. Hargo Dumilah merupakan puncak tertinggi gunung lawu.

Selain itu, Gunung Lawu memiliki dua buah Kawah yaitu Kawah Telaga Kuning dan Kawah Telaga Lembung Selayur yang disekitarnya terdapat tempat-tempat keramat. Tempat yang dikeramatkan itu antara lain Sendang Panguripan, Sumur Jolo Tundo, Gua Sigolo-golo, Sendang Drajad, Sendang Macan dan Pasar Dieng.

Jalur pendakian gunung lawu?

Pendakian menuju puncak gunung lawu bisa ditempuh melalui dua pos atau gerbang. dari pos atau gerbang cemorokandang dikota tawangmangu Jawa Tengah dan Cemorosewu dikota sarangan Jawa Timur. Antara dua titik atau gerbang awal pendakian ini jaraknya sangat dekat, Yaitu +-250m.

Dua jalur awal pendakian gunung lawu diatas semua sangat mengasikkan, Yang pasti pemandangannya indah dan mempesona. Namun cemoro sewu akan lebih memberi tantangan bagi pendaki, Karena jalur ini bisa dibilang lebih susah dibanding jalur pendakian dari cemoro kandang. Dan untuk jalur pendakian gunung lawu  melalui cemorosewu sudah pernah saya lakukan.

Pendakian kepuncak gunung lawu melalui jalur cemorosewu akan melewati dua mata air diatas gunung, Yaitu Sendang Panguripan dan Sendang Drajat. Sendang Panguripan berada diantara pos cemorosewu dan pos 1 ( Satu ), Sedangkan sendang Drajat terletak diantara pos 4 ( empat ) dan pos 5 ( Lima ).

Yang Unik Dari puncak gunung lawu

Puncak gunung lawu memang unik, Karena terdapat  warung makan di bawah puncaknya dengan bangunan yang lumayan. Pendaki dapat melepas lelah sambil makan, minum dan tiduran, Dan berbeda dengan puncak gunung lain di dunia.

Demikian tadi sedikit uraian tentang gunung lawu, Baik keindahan lereng gunung lawu, Lokasi gunung lawu, Jalur menuju gunung lawu, Tinggi gunung lawu, Jalur pendakian gunung lawu, Serta info lain seputar jalur pendakian gunung lawu. Semoga artikel ini bermanfaat.

Kamis, 29 Mei 2014

Foto Awan Aneh Dekat Gunung Merapai

Berikut adalah foto keindahan gunung merapi diwaktu sore hari. Dalam foto disamping terlihat adanya asap yang berada diatas gunung. Lebih indah lagi karena foto ini kena sinar matahari dari arah barat, Sehingga memberi warna bias kekuningan yang menciptakan keindahan pemandangan dilangit.

Foto-foto ini saya ambil dari kota klaten dengan radius +-35km dari gunung merapi. Tepatnya disamping pintu perlintasan kereta api dekat polres Klaten. Foto diambil dengan menggunakan ponsel lama.

Tempat pengambilan foto sama dengan radius yang hampir sama, Bedanya cuma bergeser beberapa meter dari pengambilan foto gunung merapi yang pertama.

Kalau foto yang ini, Khususnya asapnya hampir mirip dengan kepala petruk. Tapi ini bukan asap kepala petruk yang sempat menjadi pembicaraan saar Gunung merapi meletus beberapa tahun yang lalu.

+Asap gunung merapi terlihat dari klaten




















Hampir sama dengan foto diatas, Gunung merapi tertutup oleh asap, dan Gunung merapi hampir tidak kelihatan lagi.

+Gambar foto awan atau asap mirip kepala petruk di gunung Merapi


















Foto diambil dari tempat yang sama dengan jarak yang agak jauh dari pengambilan foto 1 dan 2. Dalam foto asap gunung merapi yang ketiga ini, Ada tambahan sedikit pemandangan, Yitu pohon pisang dengan daunnya yang lebat.


+Keindahan gunung merapi dilihat diwaktu sore hari





















Demikian tadi beberapa foto gunung merapi disore hari dengan asap disekelilignya. Semoga foto ini bisa memberi kesejukan hati.










Rabu, 28 Mei 2014

Gunung Prau - Menanti Mentari di Antara Kepungan Puncak Gunung

Gerimis pun mengiringi perjalanan kami sepanjang Kota Wonosobo menuju daerah Dieng. Dingin yang menerpa badan seolah tidak kami hiraukan, berharap laju motor yang kami pacu segera tiba di pos Patak Banteng, lokasi awal para pendaki sebelum memulai pendakian menuju Gunung Prau. Jalan yang berkelok dengan kontur naik turun, penerangan yang minim, serta jalanan yang licin karena diguyur hujan memerlukan kewaspadaan ekstra untuk berkendara. Belum lagi rasa sakit di muka karena hujaman air hujan yang menerpa.


Sepinya perkampungan di Dieng serasa bertolak belakang dengan kondisi basecamp Patak Banteng. Di bangunan yang dahulunya sebuah gudang yang kini disulap menjadi basecamp ini sudah berkumpul puluhan pendaki dari berbagai daerah. Hujan yang semakin deras mengguyur membuat kami harap-harap cemas, apakah tengah malam nanti bisa melakukan pendakian, atau malah dibatalkan mengingat jalur pendakian yang kami lalui akan ditutup jika hujan masih saja mengguyur dengan deras.

Hujan pun berangsur reda ketika beranjak tengah malam. Rombongan saya bersiap untuk memulai pendakian. "Sarapan" darurat pun kami persiapkan. Roti tawar berbalut susu kental manis menjadi asupan tenaga untuk memulai pendakian malam ini. Pendakian menuju ketinggian kurang lebih 2.565 mdpl pun kami mulai jelang pukul satu dini hari. Udara dingin yang menerpa badan sudah terhalau dengan balutan sweater yang dilapisi jaket. Perjalanan pun dimulai, melewati kompleks pemukiman penduduk yang terlihat padat dengan bangunan rumah yang cukup rapat. Kami pun melewati jembatan dengan aliran sungai yang cukup deras, kemudian lanjut melewati jalan menanjak yang dibuat berundak yang sudah dibangun secara permanen dengan campuran semen. Raga yang sudah lama tidak diolah pun membuat nafas saya tersengal melewati tanjakan ini. Usai melewati jalan berundak, kaki pun kembali dipaksa menopang berat badan melewati tanjakan yang lebih curam. Kembali saya harus meminta berhenti sejenak untuk mengatur nafas melewati jalan beraspal yang lebih menanjak ini. Jalan ini sepertinya digunakan oleh penduduk setempat untuk membawa kendaraan mereka menuju ladang di atas sana.

Usai melewati sebuah gubug, kami pun memasuki jalan setapak menuju ladang milik penduduk. Banyaknya percabangan jalan di ladang sempat membuat kami kebingungan. Beberapa anggota rombongan akhirnya berpencar untuk memastikan jalan mana yang harus kami lalui. Kondisi malam yang gelap serta kabut yang perlahan turun semakin memperpendek jarak pandang kami. Belum lagi penerangan yang minim karena tidak semua anggota membawa senter. Sempat terbersit pikiran untuk tidak melanjutkan pendakian karena rasa lelah melewati tanjakan awal. Sindrom yang hampir saya alami ketika melakukan pendakian, antara ingin lanjut atau kembali pulang. Di sinilah kondisi fisik dan psikis rasanya mulai diuji ketahanannya. Hingga akhirnya gejolak batin pun mereda dan akhirnya saya pun memilih untuk meneruskan pendakian.

Rasanya jarang sekali saya menemukan jalan datar selama melakukan pendakian melalui jalur Patak Banteng ini. Tanjakan demi tanjakan kami lalui, sesekali saya meminta rombongan untuk berhenti, sejenak untuk meluruskan kaki, menghela nafas, sambil membasahi kerongkongan. Lebih dari dua jam kami berjalan namun tak satupun melewati bangunan gubug yang biasa digunakan untuk pos peristirahatan untuk pendakian.  "Mana ini pos satu kok tidak kelihatan? Kita udah jalan cukup lama kok ga ada tanda-tanda?", gerutu saya. "Pos satu masih jauh Dik, masih di atas sana, ayo semangat !", jawab teman saya. Pendakian pun kami lanjutkan, kali ini medan yang kami lalui lebih menanjak dengan jalan setapak berisi bebatuan serta tanah yang terasa semakin licin, belum lagi jurang di sisi kanan siap menyambut jika saja kaki ini salah berpijak.


Semakin mendekati puncak, kami pun banyak berpapasan dengan para pendaki yang sudah mulai pendakian lebih awal dari kami. Beberapa dari mereka tampak begitu lelah setelah tenaganya terkuras melewati tanjakan demi tanjakan. Medan yang harus dilalui pun semakin ekstrim. Ada satu titik di mana harus melewati tanah licin dan di samping kanan langsung menuju jurang. Ada perasaan was-was saat harus melewati jalur tersebut. Di dekat jalur ini pula saya mengalami sedikit insiden di mana kaki saya kram saat melewati tanjakan. Ini kali pertama saya mengalami kram ketika melakukan pendakian. Rasanya sangat tidak nyaman, apalagi jalan yang harus dilalui berupa tanjakan dan mau tak mau harus pintar mencari pijakan untuk menumpu badan. Untung saja rasa kram tersebut dapat berkurang setelah teman saya dengan sigap memijat-mijat dan meluruskan kaki saya.

Kejutan Menggapai Puncak
Rasanya tepat jika ada pepatah yang mengatakan "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian" untuk menggambarkan perjalanan menuju puncak Gunung Prau. Setelah melewati jalan bebatuan dengan medan menanjak disertai jurang di salah satu sisinya, kini jalan yang disuguhkan menuju puncak Prau adalah jalanan datar dengan hamparan rerumputan diselingi bunga krisan. Pendakian selama tiga jam rasanya puas dengan sajian pemandangan dari atas sana.


Matahari sudah menampakkan semburat merahnya, namun di atas sana sudah banyak pendaki yang berhamburan mencari spot terbaik untuk mengabadikan gambar. Sudah banyak pendaki mendirikan tenda untuk bermalam di puncak Gunung Prau ini ternyata. Saya dan kawan-kawan pun mencari tanah yang datar kemudian menggelar matras. Beberapa dari kami memilih untuk memejamkan mata sembari mengistirahatkan raga. Suara riuh para pendaki pun mulai berdatangan seiring matahari yang perlahan mulai menampakkan wujudnya. Saya pun terbangun kemudian tak kuasa menahan udara dingin yang menerpa badan. Gigi saya pun mulai bergemelutuk pertanda dingin yang sudah tidak tertahan lagi. Mungkin karena keenakan tidur kemudian terbangun membuat suhu tubuh saya menjadi turun.


Rasa lelah selama tiga jam pendakian rasanya terbayar lunas dengan pemandangan gunung Sumbing dan Sundoro di sisi selatan. Menurut penuturan penjaga basecamp, jika kami beruntung dan cuaca mendukung, kami bisa melihat beberapa puncak gunung sekaligus dari Gunung Prau ini. Sayang, cuaca kali ini masih kurang bersahabat, sehingga kami tidak bisa melihat kesemua puncak gunung tersebut. Namun, rasa kecewa tersebut terbayar sepadan dengan pemandangan sunrise cantik yang menyapa kami pagi itu. Tak hanya golden sunrise, silver sunrise pun juga kami dapatkan pagi itu. Sunrise berwarna perak merupakan salah satu pemandangan matahari terbit yang dapat kita jumpai di Dataran Tinggi Dieng setelah menikmati golden sunrise. Ciri khas sunrise ini adalah sinar berwarna perak setelah matahari terbit dan mulai bersinar terang.


Di sisi lain bukit, saya melihat rombongan yang mengabadikan gambar mirip seperti salah satu adegan di film "5 CM" yang cukup booming. Lucu juga melihat polah tingkah mereka yang sedang menirukan salah satu scene di film tersebut. Usai menikmati matahari terbit, kawan saya pun mengajak kami untuk naik di salah satu bukit. Jalan setapak yang harus kami lalui pun mengingatkan saya pada Tanjakan Cinta di dekat Ranu Kumbolo. Dari atas bukit ini kita dapat melihat perkampungan di Dataran Tinggi Dieng serta Telaga Warna dari atas perbukitan. Namun, lagi-lagi sayang, kabut turun menghalangi pandangan. Kami memutuskan untuk sejenak beristirahat di bukit ini sambil menghabiskan perbekalan.


Usai puas ber-selfie ria, kami pun bergegas untuk berkemas untuk melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini hamparan rumput di perbukitan semakin terlihat jelas dengan hiasan bunga krisan yang tumbuh subur di antara rerumputan. Ah, jalan turunan, kami datang !

keterangan :
Untuk menuju lokasi basecamp Patak Banteng cukup mudah. Dari terminal bus Wonosobo silahkan mencari minibus tujuan Dieng. Silahkan minta kondektur untuk turun di pos Patak Banteng yang berlokasi tidak jauh dari gapura "Selamat Datang di Dataran Tinggi Dieng".

Tarif bus dari Wonosobo menuju Patak Banteng ini sekitar Rp 10.000,00
Retribusi untuk pendakian menuju Gunung Prau adalah Rp 7.000,00 per-orang (data bulan Maret 2014)
Waktu pendakian dari basecamp Patak Banteng menuju puncak Gunung Prau sekitar tiga jam perjalanan. Karena medan yang dilalui cukup menanjak dan jarang jalan datar, maka siapkan kondisi fisik yang prima dan jangan lupa membawa perbekalan yang cukup.
Jagalah kebersihan dan jangan membuang sampah sembarangan selama pendakian !
Selamat mendaki Gunung Prau :)

Minggu, 25 Mei 2014

Danau Maninjau

Danau Maninjau - Terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat Indonesia. Maninjau merupakan danau vulkanik dan memiliki luas sekitar 99,5 km. Dan berada di ketinggian 461,5 mdpl, Danau ini berjarak sekitar 140 kilometer sebelah utara dari Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam.
Benar benar bagus, tenang dan hanwanya sejuk, perjalanna antara bukit-bukit dan jalan yang sudah mulus. Pemandangannya masih hijau, Danau Maninjau sekilas tidak seberapa besar bila dilihat dari tepian jalan karena tertutupi hamparan kebun dan sawah-sawah. Danau ini lebih dari sekedar landmark yang begitu indah, Danau ini juga merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat setempat. Menurut cerita rakyat setempat, Legenda "Bujang Sembilan" (kira-kira diterjemahkan sebagai "Sembilan Remaja Putra") merupakan cerita mengenai asal-usul danau tersebut.

Desa Maninjau yang terletak dekat danau merupakan rumah dari Ulama terkenal yang bernama Buya HAMKA, selain menjadi Ulama beliau novelis dengan karyanya yang fenomenal Tenggelamnya Kapal Van der Wijk. Orang terkenal lain yang lahir di sini adalah Rangkayo Rasuna Said, salah satu pahlawan nasional Indonesia. Namanya telah diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta.
Untuk menikmati pemandangan Danu Maninjau secara keseluruhan, kita bisa melihatnya dari Puncak Lawang, sebuah tempat yang berada diatas bukit paling tinggih, banyak warung-warung yang berjualan serta tempatnya sudah tertata rapi. Di Puncak Lawang ada permainan Paragliding dan Parasailing, area parkir yang cukup luas serta pemandangan yang menakjubkan.
Jika anda dari danau maninjau dan ingin ke Puncak Lawang, maka anda akan melewati kelok 44 (empat-empat) yaitu sebuah jalan menanjak dengan tikungan sebanyak empat puluh empat tikungan. Setiap tikungan diberi nama angka sesuai urutannya, kelok satu sampai kelok empat-empat. Kelok empat empat ini juga merupaka rute pertandingan Internasional Tourde Singkarak. tidak bisa membayangkan para atlit yang bertanding melewati rute kelok 44, selain menanjak, medannya tergolong sangat berat. Waktu itu teman sempat mencoba menggenjot sepedanya, jangankan melewatin kelok 44, untuk mencapai kelok satu saja banyak yang gagal, adapun yang sampai juga karena beberapa kali berhenti, itu baru satu kelok dan belum empat puluh empat kelok, andai saja yang melewati rute itu bukan atlet pesepeda internasional, mungkin betisnya sudah bepacah hehehe.

Rabu, 21 Mei 2014

Gultik atau Gulai Tikungan

Jelajah Wisata Kuliner Jakarta, Gultik, Gulai sapi dengan kuah santan yang tidak begitu kental dan rasanya yang lezat disiramkan diatas sepiring nasi, ditambah taburan bawang goreng, kecap, dan kerupuk, Jika anda menyukai rasa pedas, Anda bisa meminta sambal pada pedagangnya. Rasanya memang sederhana namun tetap mempunyai rasa yang khas dan bikin kangen, sehingga rasa gurih gulai dipadu dengan manisnya kecap dan pedasnya sambal cukup untuk membuat anda ketagihan. Gulai ini termasuk jajanan kaki lima akan tetapi dengan rasa yang tidak kala hebat dengan masakan restoran, mungkin karena resep dan keahlian yang sudah ter asah lama

ada beberapa penjual gultik dan mereka mempunyai ciri khas masing-masing, mulai dari cita rasa atau tempatnya dan yang jelas penjualnya juga berbeda beda. Beberapa pengunjung setia memiliki abang-abang favorit untuk menjadi langganan menikmati Gulai diseputaran bundaran mahakam ini.

Kok Namanya Gultik?
Setau saya, nama Gultik berasal dari singkatan Gulai tikungan, karena para abang abang penjual gultik banyak yang berjualan disekitar tikungan atau bundaran Jalan Mahakam - Bulungan, Jakarta Selatan. Gultik biasanya diplesetin gulai tikus sih xixixixi tapi sebenarnya ya gulai sapi.

Berapa Harganya?
Untuk harga saat ini masih Rp 8.000 perporsi, harganya murah meriah tapi rasanya oke punya

Buka Jam Berapa?
Buka mulai jam 4 sore sampai jam 3 malam, tapi tergantung stok gulainya sih, terkadang sampai dengan jam 5 masih ada yang buka

Alamatnya dimana?
Seputar Bundaran Jalan Mahakam - Bulungan, Jakarta 12130, Indonesia, Jakarta Selatan, Jakarta Capital Region
dekat Blok M Plaza dan Ayam bakar Gantari

Suasananya?

Aku kira enak banget, ya gak ada salahnya kalo pingin jelajah wisata kuliner atau kongkow-kongkow untuk mampir di sini. Harganya murah, makanannya enak, dan tempatnya cukup nyaman dan semi terbuka sih tapi oke kok, bahkan banyak kalo malam para langganan yang menggunakan mobil maupun motor pada berdatangan, karena parkirannya juga luas, untuk parkirannya kurang lebih bayar Rp 2000 rupiah.

Para blogger, traveller atau siapaun itu, bahkan mas Bedul atau mas Panjul kalo ingin datang mencoba Gultik alias gulai tikungan silahkan datang lo ke alamat tersebut, dan dijamin ketagihan

Minggu, 18 Mei 2014

Taman Nasional Baluran - Secuil "Afrika" di Tanah Jawa

Image pariwisata Jawa Timur memang tidak bisa dilepaskan oleh pesona Gunung Bromo yang sudah mendunia. Baik pelancong lokal maupun internasional seolah dibuat penasaran dengan pesona matahari terbit serta keindahan pemandangan pegunungan yang ditawarkan. Jika ditelisik lebih dalam, tak hanya Bromo saja yang memiliki pesona keindahan alam yang mempesona, beberapa Taman Nasional di Jawa Timur pun memiliki pemandangan yang tak kalah elok juga. Salah satunya adalah Taman Nasional Baluran di Situbondo yang menawarkan secuil suasana Afrika di tanah Jawa.




Sepiring nasi campur dan es teh manis pun menjadi pengisi tenaga sebelum memulai penjelajahan di Taman Nasional Baluran pagi ini. Tak lupa kami memesan sebungkus nasi beserta lauk sebagai bekal makan siang selama menjelajahi Taman Nasional nanti. Sedikit repot memang, namun tidak lucu saja rasanya jika nanti kelaparan di tengah penjelajahan. Belum lagi informasi dari pemilik homestay yang mengatakan bahwa warung makan di Pantai Bama sedang tutup karena menunggu perpanjangan izin dari pusat yang entah kapan akan datang. Keputusan yang tepat jika kami memilih untuk menyiapkan perbekalan guna berjaga-jaga.
Kaki pun kembali melangkah melanjutkan perjalanan menuju pintu gerbang Taman Nasional Baluran. Si penjaga gerbang dengan ramah mempersilahkan kami menuju bagian informasi untuk mengisi buku tamu dan membayar retribusi. Beliau juga menawarkan untuk menitipkan barang bawaan kami di pos jaga agar kami lebih leluasa. Ah, sepertinya beliau mengerti dengan beban barang yang kami bawa. Namun dengan halus saya menolaknya. Bukan karena takut terjadi apa-apa, namun saya sudah terlalu malas jika harus mengemasi ulang isi barang bawaan yang sudah tertata.

Pepohonan yang tumbuh dengan rindang di sekitar pintu masuk Taman Nasional Baluran memberikan udara yang segar. Kawanan monyet liar dengan lincah bermain-main di sekitar pos informasi seolah menyambut kami pagi ini. Pos informasi masih cukup sepi, hanya terlihat beberapa penduduk setempat yang siap menawarkan jasa ojek untuk menyusuri Taman Nasional Baluran. Usai mengisi buku tamu dan uang retribusi, saya pun sedikit berbasa-basi dengan petugas untuk mencari beberapa informasi. Dari beliaulah saya mengetahui bahwa jika pada malam hari terkadang ada kawanan kerbau liar yang sedang berkubang di belakang bangunan pos informasi ini, pun demikian dengan monyet-monyet liar yang selalu berkeliaran setiap saat. Ternyata kompleks bangunan di sini sudah berada di dalam area hutan !

Dari pos informasi saya melanjutkan penyusuran dengan jasa ojek motor. Tampa basa-basi saya menyewa dua buah sepeda motor untuk mengantarkan kami. Seolah sang empunya kendaraan sudah membaca tabiat kami. Mereka menyerahkan satu buah sepeda motor untuk kami kendarai bersama, sedangkan beliau berboncengan membawakan tas ransel kami dan segera meluncur ke padang savana. Sepertinya beliau paham, jika kami akan sedikit manja, meminta berhenti di sembarang tempat untuk mengambil gambar. Maka dari itu beliau menyerahkan sepeda motornya agar kami leluasa berhenti di mana saja untuk mengambil gambar di mana pun kami suka.

Evergreen Area
Dari pos informasi perjalanan kami lanjutkan memasuki hutan melewati jalan aspal yang sudah mulai usang. Jalanan yang mulai usang ini memberikan sensasi tersendiri dalam mengendalikan kendaraan. Jalanan offroad memasuki area hutan. Saya ingat pesan penjaga pos gerbang tadi malam. Kita bisa membawa mobil untuk menyusuri Taman Nasional, tapi tidak disarankan menggunakan mobil sedan karena akan kandas jika dipaksa melewati jalanan. Sekitar sepuluh menit perjalanan kami memasuki hutan yang dinamai evergreen area. Di area ini nampak pepohonan begitu rindang dengan vegeasi hutan yang cukup rapat. Evergreen area merupakan kawasan hutan yang sepanjang tahun tidak pernah mengalami kekeringan. Daun-daun di area ini nampak selalu berwarna hijau walaupun memasuki musim kemarau. Dedaunan yang rindang membuat nyaman berkendara di kawasan evergreen area ini.



Di tengah-tengah perjalanan di kawasan evergreen area ini kami berhenti sejenak untuk mengamati beberapa jenis kupu-kupu yang sedang berkumpul mengerumuni buah yang jatuh di tengah jalan. Cantik sekali mengamati kupu-kupu ini. Sesekali mereka beterbangan menjauhi buah yang ada di jalan karena ada kendaraan yang melintas. Imajinasi saya melayang membayangkan salah satu tokoh drama Asia yaitu Return of The Condor Heroes yang memiliki kemampuan memanggil kupu-kupu kemudian menari bersama mereka. Menurut penuturan petugas Taman Nasional Baluran, di kawasan evergreen area ini terkadang masih ditemui macan tutul yang berkeliaran di malam hari. Walupun liar, namun macam tutul di Baluran tidak agresif terhadap manusia. Mereka cenderung pemalu dan memilih untuk berlari menghindar ketika bertemu dengan manusia. Makanan utama macan tutul di Baluran adalah lutung hitam yang masih banyak berkeliaran di dalam hutan.



Menara Pandang dan Savanna Bekol
Pesona Taman Nasional Baluran tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan padang rumput yang menjadi salah satu daya tarik tempat ini. Ikon savanna Bekol ini adalah keberadaan kerangka kepala banteng yang di pajang di salah satu sudut savanna. Banyak orang yang mengabadikan foto di kumpulan kerangka banteng ini sebagai bukti bahwa mereka pernah berkunjung di Baluran. Suasana savanna Bekol akan lebih menarik jika memasuki musim kemarau di mana rerumputan sudah mulai mengering, daun-daun di pepohonan sudah menguning, dipadu dengan latar belakang Gunung Baluran yang berselimut awan biru, memberikan nuansa seolah-olah kita sedang berada di Afrika. Maka tak heran, banyak orang menjuluki Baluran sebagai Africa van Java !





Ada cara lain untuk menikmati savanna Bekol ini, yaitu dengan naik ke menara pandang untuk menikmati pemandangan dari ketinggian. Kami harus mendaki sebuah bukit yang tak terlalu terjal melewati beberapa anak tangga yang sudah dibangun permanen. Kita dapat melihat sepertiga dari keseluruhan luas Taman Nasional Baluran ini yang mencapai total sekitar 25.000 hektar dari atas menara pandang ini. Di sini kita dapat melihat pemandangan hutan yang rapat, padang savanna yang luas serta pemandangan Gunung Baluran di sisi barat. Di menara pandang ini pula Anda dapat mendengarkan suara-suara burung dan satwa penghuni Baluran yang sedang berada di dalam hutan. Ada suara berbagai macam burung serta monyet yang seolah saling bersahutan. Sungguh sebuah harmonisasi alam yang begitu menenangkan pikiran sejenak keluar dari hingar-bingar bising perkotaan. 



Ketika berada di menara pandang, saya bertemu dengan dua orang siswa SMK Kehutanan yang sedang melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Dari merekalah saya mengetahui kapan hewan-hewan di Baluran ini berkumpul di savanna Bekol. Kawanan hewan ini biasa merumput dan mencari minum pada pagi dan sore hari, yaitu mulai pukul lima sampai tujuh pagi serta pukul tiga sampai lima sore. Jika sedang beruntung, kita dapat melihat kawanan rusa dan kerbau hutan yang berjumlah ratusan sedang merumput dan mencari minum di savanna. Selain itu ada pula burung merak yang berkeliaran di tempat yang sama. Sayang, saya datang sudah terlalu siang, hanya nampak seekor kerbau hutan yang berkeliaran mencari makan dari kejauhan. Mungkin sore nanti saya akan beruntung melihat kawanan hewan penguni Baluran seusai menikmati Pantai Bama yang mencari incaran wisatawan.

Kutukan Pohon Akasia dan Keberadaan Banteng Jawa
Jika Anda amati di bagian gerbang pintu masuk Taman Nasional Baluran, akan Anda temui seekor hewan yang menjadi maskot taman nasional ini. Hewan tersebut adalah banteng jawa, yang kini jumlahnya sudah mengalami ambang kepunahan di alam liar sana. Menurut penuturan anak SMK Kehutanan yang kami temui, jumlah banteng jawa liar di Taman Nasional Baluran tinggal 26 ekor saja yang sudah teridentifikasi. Sedangkan menurut penuturan bapak tukang ojek yang mengantarkan kami, jumlah banteng jawa yang ada di Baluran tinggal berjumlah sekitar 50 ekor saja yang ada di alam lepas. Sungguh ironis memang, hewan yang menjadi maskot Taman Nasional Baluran kini nasibnya sudah diambang kepunahan.



Punahnya populasi banteng jawa di Baluran tidak bisa dilepaskan oleh keberadaan pohon akasia yang kini menjelma menjadi tanaman hama. Sekitar 20 tahun yang lalu, penanaman pohon akasia bertujuan sebagai pagar pembatas agar hewan-hewan yang berada di Taman Nasional Baluran ini tidak lepas ke perkampungan penduduk. Namun, lambat laun pohon akasia ini berubah menjadi tanaman hama karena pertumbuhannya yang cukup cepat. Banyak banteng jawa yang mati karena memakan pohon akasia ini. Pohon akasia memiliki duri-duri yang cukup tajam sehingga menganggu pencernakan hewan yang memakan dedaunan dari pohon tersebut. Selain membunuh hewan yang memakan daunnya, pohon akasia juga menghambat pertumbuhan tanaman yang berada di bawahnya. Bahkan saking cepat pertumbuhannya, banyak padang savanna yang sekarang tertutup oleh keberadaan pohon akasia.



Sudah banyak usaha yang dilakukan petugas Taman Nasional Baluran untuk memusnahkan pohon akasia yang tumbuh sebagai hama. Cara yang paling aman untuk memusnahkan pohon akasia adalah dengan cara menebang kemudian mengolesi racun pada batangnya. Cara ini dianggap lebih aman daripada membakar maupun menyebarkan racun melalui udara karena dapat menganggu kelangsungan kehidupan hewan yang ada di Taman Nasional Baluran ini. Namun, cara menebang dan mengoles racun dirasa kurang efektif karena luasnya cakupan pertumbuhan pohon akasia di kawasan Baluran ini. Banyaknya duri yang tumbuh di pohon akasia juga menyulitkan petugas ketika akan menebang pohon tersebut. Bahkan duri-durinya mampu menembus sepatu boots yang dikenakan oleh petugas. Mengolesi racun pada batang jika tidak merata dan dilakukan dengan benar juga malah akan mempercepat pertumbuhan pohon akasia ini. Biasanya akan muncul cabang baru jika pengolesan racun tidak dilakukan dengan benar. Sungguh pohon yang cukup tahan banting akasia ini.



Untuk melestarikan jumlah populasi banteng jawa, pihak Taman Nasional Baluran membuat sebuah kandang khusus untuk tempat penangkaran dan konservasi semi alami bagi banteng jawa. Kandang tersebut dikelilingi oleh pagar besi yang diberi aliran listrik agar banteng-banteng tersebut tidak kabur. Ada empat ekor banteng di penangkaran ini, terdiri dari satu ekor banteng jantan dan tiga ekor banteng betina. Banteng-banteng ini bukan asli penghuni Taman Nasional Baluran, melainkan didatangkan dari Taman Safari Indonesia untuk ditangkarkan. Ketika kami datang, sudah ada satu ekor banteng sedang hamil dan menurut siswa SMK Kehutanan yang menemani kami berkeliling, banteng tersebut sebentar lagi akan melahirkan.

Jika dilihat dari bentuk fisiknya, banteng jawa memiliki kemiripan seperti sapi bali yang sama-sama memiliki warna kulit kecokelatan. Namun, ada pembeda antara banteng jawa dan sapi bali, yaitu adanya warna putih di bagian kaki dan di bagian pantat, serta bentuk tanduk yang menghadap ke depan. Banteng betina biasanya berwarna cokelat, sedangkan banteng jantan memiliki warna hitam. Tubuh banteng jawa bantuan dari Taman Safari ini lebih kecil dibandingkan dengan banteng jawa endemik Taman Nasional Baluran. Pihak petugas Taman Nasional Baluran sudah melakukan usaha untuk memancing banteng endemik tersebut dengan menempatkan banteng betina agar banteng-banteng liar tersebut terpikat dan kemudian masuk ke dalam kandang. Namun, sampai sekarang usaha tersebut belum membuahkan hasil. Ah, semoga banteng jawa yang menjadi maskot Taman Nasional Baluran ini tidak benar-benar punah dan terjaga jumlah populasinya.



Sebagai sebuah Taman Nasional, Baluran bagi saya menjadi salah satu wisata minat khusus dan juga wisata edukasi. Selain menikmati keindahan alam berupa hutan dan padang savanna dengan latar belakang pegunungan, Taman Nasional Baluran juga bisa menjadi tempat untuk menimba ilmu, terutama mengenai hutan, hewan, dan lingkungan. Sayang rasanya jika datang jauh-jauh ke Taman Nasional Baluran hanya sekedar mencari gambar saja, coba sedikit bertanya kepada petugas di sana untuk menggali informasi serta belajar mengenali alam dan lingkungan. Ah, saatnya kembali melanjutkan perjalanan menuju Pantai Bama melewati hamparan padang savana yang tampak sudah mengering memasuki musim kemarau ini !

keterangan :

  • Untuk berkeliling di Taman Nasional Baluran, Anda dapat menggunakan jasa ojek motor yang disediakan oleh penduduk setempat. Tarif ojek motor untuk rute Savanna Bekol-Pantai Bama pulang-pergi adalah Rp 80.000,00 per-motor. Jasa ojek motor dapat Anda temui di pos informasi dan retribusi.
  • Untuk yang dapat berombongan, Anda dapat menyewa mobil untuk berkeleliling, silahkan menghubungi pegawai Taman Nasional Baluran untuk informasi lebih lanjut.
  • Tarif masuk Taman Nasional Baluran adalah Rp 2.500,00 per-orang (data bulan Mei 2014). Ada kemungkinan tarif masuk tersebut akan naik dengan adanya surat edaran dari pemerintah pusat mengenai tarif baru untuk beberapa Taman Nasional di Indonesia.
  • Ada beberapa wisma penginapan yang disewakan di daerah Bekol dan Bama, namun sampai bulan Mei ini masih menunggu surat keputusan dari pemerintah pusat yang sedang melakukan monitoring dan evaluasi guna memberikan perpanjangan izin. Sampai sekarang pun masih belum jelas kapan wisma-wisma tersebut dibuka kembali untuk umum.
  • Saat ini sudah disediakan homestay yang dikelola oleh penduduk setempat. Lokasi homestay tidak jauh dari pintu masuk Taman Nasional Baluran. Tarif sewa homestay adalah Rp 75.000,00/orang/malam. Untuk menyewa homestay yang dikelola oleh penduduk setempat, silahkan meminta informasi kepada petugas yang berjaga di pos gerbang masuk Baluran, dengan senang hati mereka akan mengantarkan Anda sampai homestay.

Selasa, 13 Mei 2014

Perjalanan dari Jogja Menuju Taman Nasional Baluran

Jika Anda mempunyai mimpi mengunjungi padang sabana di Afrika, tak ada salahnya mencicipi suasana Little Africa yang ada di negeri Indonesia tercinta. Tak salah memang jika Taman Nasional Baluran yang berada di Kabupaten Situbondo memiliki julukan sebagai little Africa atau Africa van Java karena suasana taman nasional tersebut memiliki kesamaan suasana alam seperti di Afrika sana.


Pada perjalanan kali ini saya berkesempatan mengunjungi Taman Nasional Baluran yang berada di ujung timur Pulau Jawa. Perjalanan menuju Taman Nasional Baluran memang memakan waktu yang cukup panjang namun sebanding dengan pengalaman berada di tengah-tengah alam liar yang ditawarkan. Pemandangan hamparan sabana yang luas dengan latar belakang pegunungan seolah menjadi pelepas lelah setelah menempuh perjalanan darat yang memakan waktu seharian. Belum lagi vegetasi hutan yang masih cukup rapat dengan pemandangan kawanan satwa liar berkeliaran di padang rumput untuk mencari makan menjadi pelepas lelah di sore hari. Sungguh sebuah pengalaman menarik bagi Anda penikmat pemandangan alam dan kawanan satwa liar

Ada beberapa alternatif moda transportasi untuk menuju Taman Nasional Baluran. Dalam tulisan ini saya akan membuat sedikit ulasan mengenai perjalanan menuju Taman Nasional Baluran yang saya lakukan awal bulan Mei ini dengan titik awal keberangkatan dari Kota Jogja. Here's the story !

Perjalanan Jogja-Banyuwangi dengan Kereta Api
Pada perjalanan kali ini saya memilih moda transportasi kereta api guna menghemat biaya perjalanan menuju Kota Banyuwangi. Untuk keberangkatan dari kota Jogja, Anda dapat menggunakan kereta ekonomi AC Sritanjung dengan tiket seharga Rp 50.000,00 per-orang (data bulan Mei 2014). Kereta Sritanjung berangkat dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta pada pukul 07.45 pagi dan dijadwalkan tiba di stasiun Banyuwangibaru (Ketapang) pada pukul 20.40 malam. Namun, seperti biasa, untuk kereta dengan "kasta" ekonomi selalu mengalah jika harus bersimpangan dengan kereta yang lain selama perjalanan, terutama dengan kereta kelas bisnis dan eksekutif. Jadilah jadwal kedatangan kereta Sritanjung di Stasiun Banyuwangi mengalami keterlambatan. Kereta yang saya tumpangi kemarin tiba di Stasiun Banyuwangi sekitar pukul 21.30 WIB. Jadi, silahkan persiapkan diri jika menggunakan jasa kereta api ini karena perjalanan dari Jogja menuju Banyuwangi memakan waktu sekitar 13-14 jam perjalanan. Satu lagi, walaupun sudah diberi tambahan fasilitas pendingin ruangan, tetap saja suasana gerbong cukup gerah ketika siang tiba.

Ada baiknya jika Anda melakukan reservasi tiket kereta beberapa hari sebelum keberangkatan. Reservasi tiket kereta api sekarang cukup mudah. Tak perlu lagi repot-repot antri di stasiun untuk mendapatkan tiket. Tinggal reservasi saja via online melalui website KAI atau melalui merchant-merchant yang sudah bekerja sama dengan KAI, seperti Indomart, Alfamart, Kantor Pos, Pegadaian, dan sebagainya. Namun perlu diingat, jika Anda memesan tiket kereta melalui website maupun merchant, Anda akan dikenai biaya tambahan sebesar Rp 7.500,00 untuk sekali pemesanan.

Tips tambahan jika Anda menggunakan jasa kereta api ekonomi, jangan masuk ke dalam gerbong mepet dengan jam keberangkatan. Seperti pengalaman saya kemarin yang masuk ke dalam gerbong sekitar 5 menit sebelum kereta berangkat, alhasil saya tidak memperoleh rak untuk meletakkan barang bawaan yang berada di atas kursi penumpang. Mau tidak mau saya harus memangku barang bawaan karena jika diletakkan di bagian bawah cukup menggangu gerak kaki penumpang. Satu hal lagi, bagi Anda yang akan bepergian ke Banyuwangi menggunakan kereta Sritanjung ini, jangan lupa membawa perbekalan logistik secukupnya selama perjalanan. Silahkan membawa air minum dan makanan secukupnya. Pengalaman saya kemarin, selama perjalanan agak susah ditemui pedagang asongan yang menjual makanan berat selama berhenti di stasiun yang berada di daerah Jawa Timur. Menurut saya, harga makanan yang dijual oleh pedagang asongan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan makanan yang dijual oleh pihak kereta. Dengan membawa logistik dan perbekalan yang cukup akan menghemat biaya pengeluaran makan Anda selama perjalanan.

Stasiun Banyuwangibaru ke Terminal Sri Tanjung Ketapang
Stasiun Banyuwangibaru merupakan pemberhentian terakhir kereta Sritanjung dengan rute Jogja-Banyuwangi. Tidak usah panik dengan penumpang-penumpang yang turun di stasiun sebelumnya, karena untuk menuju Baluran, Anda cukup turun di stasiun ini yang notabennya menjadi pemberhentian terakhir kereta api Sritanjung yang Anda tumpangi.

Dari arah stasiun, silahkan menuju pintu keluar dan berjalanan kaki sampai menemukan jalan besar. Jalan tersebut merupakan jalur utama yang menghubungkan ke arah Pelabuhan Penyeberangan Ketapang yang melayani penyeberangan ke pulau Dewata. Di daerah Ketapang ini silahkan membeli kebutuhan logistik dan perbekalan seperti air minum dan cemilan karena di sekitar sini terdapat minimarket yang beroperasi 24 jam sebelum Anda melanjutkan perjalanan.

Dari Stasiun Banyuwangibaru, perjalanan selanjutnya adalah menuju Terminal Sri Tanjung Ketapang. Dari jalan besar tadi silahkan mencari angkot yang jalan ke arah kiri (jangan menyeberang jalan dari arah stasiun tadi). Angkot di sini biasa beroperasi hampir 24 jam. Angkot yang melayani trayek ke terminal memiliki warna kuning dan biru. Jika Anda takut salah naik angkot, tinggal tanya saja kepada penduduk setempat mengenai angkot yang arah terminal bus tujuan Situbondo atau Surabaya.

Saya lebih menyarankan untuk naik angkot karena jarak dari stasiun ke terminal menurut saya cukup jauh jika harus ditempuh dengan jalan kaki. Ada blog yang mengatakan bahwa jarak stasiun ke terminal sekitar satu kilometer. Namun, dalam perhitungan saya, jarak stasiun ke terminal lebih dari satu kilometer, terlebih lagi jalannya naik-turun serta gelap. Lebih baik Anda menggunakan jasa angkot agar cepat sampai ke terminal. Untuk tarif angkot sendiri berkisar Rp 7.000,00 per-orang dengan jarak tempuh sekitar 10 menit perjalanan.

Ketapang - Baluran dengan Bus Antar Kota Arah ke Surabaya
Sesampainya di Terminal Sri Tanjung, silahkan melanjutkan perjalanan menggunakan bus antar kota yang menuju Surabaya. Biasanya bus yang tersedia adalah bus dengan kelas ekonomi. Silahkan bilang kepada sang kernet jika Anda turun di Baluran, pasti mereka sudah paham tujuan Anda. Tarif tiket bus dari Ketapang menuju Baluran adalah Rp 8.000,00 per-orang (data bulan Mei 2014). Perjalanan dari Ketapang menuju Baluran memakan waktu sekitar satu jam perjalanan dengan medan jalan naik turun tapi cukup menyenangkan. Pak sopir bus akan menurunkan Anda tepat di depan gerbang masuk Taman Nasional Baluran. Jangan heran jika gerbang masuk Taman Nasional Baluran itu terletak di dekat perkampungan penduduk yang jauh dari kesan hutan belantara seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Jujur, ketika sang kernet menyuruh saya turun dari bus, rasanya otak saya mendadak menjadi blank sejenak karena diturunkan di dekat perkampungan penduduk. Sempat terbersit pikiran yang macam-macam ketika saya disuruh turun dari bus karena waktu itu sudah menginjak tengah malam. Sungguh sebuah perjalanan panjang yang cukup melelahkan sekaligus menyenangkan tiba di Taman Nasional Baluran ini.

Note :
Saya tiba di pintu gerbang Taman Nasional Baluran ini sekitar pukul 12 malam. Cukup lelah karena menempuh perjalanan dari pagi hingga tengah malam. Sejak turun dari kereta di Banyuwangi, sengaja saya tidak langsung melanjutkan perjalanan menuju Baluran karena mengisi perbekalan sekaligus mencari makan malam dan beristirahat. Jangan khawatir kena tipu di daerah Banyuwangi dan Baluran. Sepanjang perjalanan saya kemarin, semua orang yang saya temui termasuk orang-orang baik dan jujur. Saya tidak menemui calo dan sebagainya, pun demikian tarif kendaraan umum yang harus saya bayar termasuk tarif yang normal tanpa ada yang dimahalkan.

Walaupun saya tiba sudah larut malam, namun petugas penjaga gerbang Taman Nasional Baluran menyambut kami dengan ramah. Setelah bertanya beberapa hal, kami langsung ditawari homestay di rumah penduduk untuk beristirahat. Tarif homestay tersebut adalah Rp 75.000,00/orang/malam. Para pengunjung ditawari homestay yang dikelola oleh penduduk karena penginapan yang berada di dalam area Taman Nasional Baluran hingga bulan Mei ini belum dibuka untuk umum karena masih menunggu perpanjangan izin dari pemerintah pusat yang sedang melakukan monitoring dan evaluasi lokasi. Entah sampai kapan izin dari pemerintah pusat itu keluar, saya bertanya kepada pegawai Taman Nasional Baluran namun tidak ada satu orang pun yang bisa memastikan.

Cara Lain Menuju Taman Nasional Baluran
Taman Nasional Baluran termasuk salah satu tempat wisata yang cukup mudah dijangkau menggunakan moda transportasi umum maupun kendaraan pribadi. Lokasinya yang berada tepat di jalur lintas utara Surabaya-Banyuwangi memudahkan akses transportasi menuju ke tempat ini.

Ada alternatif lain menuju Baluran selain menggunakan kereta menuju Banyuwangi terlebih dahulu, yaitu dengan menggunakan jasa bus antar kota. Untuk menggunakan bus, saya sarankan dengan estafet saja, walaupun sedikit merepotkan di perjalanan.

Cara estafet menuju Baluran :
Dari Terminal Bungur (Purabaya) di Kota Surabaya, silahkan melanjutkan perjalanan menuju Kota Probolinggo. Tarif bus patas jurusan Surabaya-Probolinggo sekitar Rp 27.000,00 dengan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan. Dari Terminal Probolinggo, silahkan melanjutkan perjalanan menggunakan bus dengan rute Probolinggo-Ketapang. Bus trayek ini akan mengantarkan Anda langsung di depan gerbang masuk Taman Nasional Baluran. Saya tidak tahu berapa harga tiket bus yang harus dibayarkan karena saya belum pernah menggunakan rute ini sebelumnya.

Cara langsungan dari Surabaya :
Pilihan kedua adalah menggunakan bus dari Terminal Surabaya langsung menuju Ketapang. Untuk tarif bus ekonomi dari Surabaya menuju Ketapang sebesar Rp 48.000,00 (data Mei 2014). Tapi saya kurang tau jadwal keberangkatan bus ini dan berapa lama waktu tempuhnya. Harga tiket saya peroleh ketika saya pulang dari Baluran via Ketapang menuju Surabaya. Namun dalam perjalanan menuju Surabaya tersebut ternyata saya dioper dengan bus lain ketika memasuki terminal Probolinggo untuk selanjutnya kembali melanjutkan perjalanan menuju Surabaya.


Sekian review kendaraan umum dari Jogja menuju Taman Nasional Baluran, semoga bermanfaat :)

Kamis, 01 Mei 2014

Karimunjawa Islands, The Beautiful Paradise of Tropical Island

kepulauan karimunjawa
karimun jawa
Located just north of the town of Jepara, Central Java, there are islands large and small as many as 27 in the middle of the Java Sea. The archipelago is made up of the island of Karimun Java as the largest island, one of the seven national marine park in Indonesia.

karimun java island jepara
karimun jawa island
For those of you who want to get time off for the holidays, Karimun Java should be the goal that you can make pertimbanan, because it has 27 Islands but only 4 are inhabited. Most residents live on the island of Karimun Jawa, also a place as a Marine Park Karimun Java,

Karimunjawa or krimonjawa is the name of Java, saying "Kremun Kremun seko Jawa" is spoken by Sunan Nyamplungan, son of Sunan Muria (one of the nine great teachers of Islam in the past Java). These are the words to describe his astonishment at a far distance and the island looks a little Island of the land of Java.


karimun jawa good place for divingwhite shark of karimun java sea



Karimunjawa Islands offer many beautiful places like in heaven. Here there are wildlife and many more places to explore the beauty of nature. In Karimun Java there is a stunning underwater beauty, there is also a beach with white sand and has a lush mangrove forest home.

foto image karimun jawa island
karimunjawa beach
Visitors to the island of Karimun Jawa can order tool for Snorkeling and diving. Also see pengkaran white shark and turtle. Best time to visit is during the dry season, roughly from May to September.

tag: karimunjava, karimun island, karimun java archipelago, package karimun java tour, snorkeling diving scuba area

DUA WARNA TOUR

Hai Guys.,,,!!!

Selamat Datang Di Jejak Sumatera
kami menyuguhkan liburan yang mengasikkan buat teman yang hobby Traveling dan Backpacker
Bagi Teman yang tertarik bisa Hubungi Kami di 0812-6908-0693,Ronny welfrin atau Via Mail di welfrin_ronny@Yahoo.com

untuk Info Trip Kita Kali ini adalah 


AIR TERJUNA 2 WARNA





Air Terjun Dua Warna atau juga dikenal dengan nama Air Terjun Telaga Bitu Sibolangit memiliki ketinggian terjunan air sekitar 75 meter dan berada di ketinggain 1475 m dpl.  Air terjun ini terletak di hulu Sungai Sinembah 1 dan terbentuk dari letusan letusan gunung Sibayak ratusan tahun silam. Air terjun yang satu berwarna biru indah dan air yg sangat dingin, dengan tebing-tebing berlumut hijau di sekitarnya. Satunya lagi berwarna putih bening dan terasa hangat. Kedua air terjun ini terpisah dekat oleh beberapa air terjun kecil penghias tebing.

Warna birudiperoleh informasi air terjun telaga dua warna atau telaga biru kemungkinan disebabkan air yang terjun dari ketinggian sekitar 100 meter dari permukaan tanah awalnya berwarna putih namun setelah jatuh ke telaga berubah menjadi biru. Sampai saat ini belum diketahui pasti penyebab mengapa air terjun itu berubah menjadi biru. Sedangkan orang yang dianggap pertama sekali menemukan keajaibannya itu juga sampai sekarang belum diketahui. Namun air terjun ini sejak dulu sudah sering dikunjungi oleh pelajar dan mahasiswa pencinta alam yang camping di sekitar Bumi Perkemahan Sibolangit

 Tempat wisata ini memang terkesan unik. Dari namanya saja orang-orang menyebutnya Air Terjun Dua Warna sebab air terjun yang turun dari sungai atas akan tertampung ke sebuah danau kecil dan disinilah air tersebut memiliki dua warna yaitu biru muda dan putih keabu-abuan. Setelah ditelusuri ternyata air terjun ini bersumber dari letusan Gunung Sibayak yang membentuk aliran sungai yang dialiri belerang (sulfur) yang kemudian bersatu dengan resapan air hutan sehingga menjadi berair dingin yang berwarna biru. Uniknya lagi, air terjun tersebut tidak mengeluarkan bau belerang namun jangan pernah meminum air tersebut. Selain itu, keberadaan air terjun ini juga tersembunyi di dalam hutan hujan tropis di tengah hutan Sibayak I dan Sibayak II dengan ketinggian 1475 meter dari permukaan laut. So..bagi kalian yang sangat mencintai keindahan alam Indonesia, tunggu apa lagi..saatnya mengunjungi Desa Durin Sirugun di kawasan Sibolangit untuk menikmati keindahan Air Terjun Dua Warna ini. (YS) 

Setelah melintasi jalan di hutan seberang, kami menemukan tempat yang bersahabat untuk kembali menyeberang ke sisi semula. Suara air terjun mulai terdengar. Kami melipir pada jalan setapak di kaki tebing setinggi 45 meter yang berlumut tebal. Setelah melewati barisan batu besar di sisi kiri sungai, kami benar-benar dibuat terpesona menatap sepenggal keajaiban di dalam belantara yang menguras fisik dan tenaga itu.
Jenuh, penat dan stres dengan aktifitas pekerjaan sehari-hari? Inilah saatnya Anda perlu menyegarkan diri atau refreshing dengan kembali ke hutan, menghirup udara segar, mendengar suara air sungai dan memanjakan mata dengan warna-warna alam. Air Terjun Dua Warna, bisa menjadi pilihan Anda untuk refreshing selama beberapa hari libur ini. Letaknya pun tidak jauh dari Kota Medan, hanya 1 jam perjalanan saja yakni di Bumi Perkemahan Sibolangit, Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kab Deli Serdang. Dari lokasi ini kita akan memulai perjalanan masuk hutan atau hiking selama 3 jam untuk sampai di lokasi air terjun. Tempat wisata ini memang terkesan unik. Dari namanya saja orang-orang menyebutnya Air Terjun Dua Warna sebab air terjun yang turun dari sungai atas akan tertampung ke sebuah danau kecil dan disinilah air tersebut memiliki dua warna yaitu biru muda dan putih keabu-abuan. Setelah ditelusuri ternyata air terjun ini bersumber dari letusan Gunung Sibayak yang membentuk aliran sungai yang dialiri belerang (sulfur) yang kemudian bersatu dengan resapan air hutan sehingga menjadi berair dingin yang berwarna biru. Uniknya lagi, air terjun tersebut tidak mengeluarkan bau belerang namun jangan pernah meminum air tersebut. Selain itu, keberadaan air terjun ini juga tersembunyi di dalam hutan hujan tropis di tengah hutan Sibayak I dan Sibayak II dengan ketinggian 1475 meter dari permukaan laut. Pada kawasan ini terdapat 4 air terjun, yakni 2 air terjun utama dan 2 air terjun kecil. Tinggi air terjun utama sekitar 50 meter dan air terjun kedua sekitar 20 meter. Ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan sebelum menuju air terjun tersebut kita harus mempersiapkan peralatan hiking seperti sepatu atau sandal gunung, tas ransel untuk membawa perlengkapan baju pengganti, handuk, air minum, bekal makan siang, makanan ringan dan kamera. Ada baiknya kita berangkat dari Medan pada subuh hari sehingga ketika sampai di lokasi air terjun tersebut tidak kesiangan dan masih sempat berenang sambil merasakan dinginnya air terjun dua warna tersebut.

Sesampainya di lokasi kita akan melihat ada 3 buah air terjun, satu di antaranya merupakan air terjun Telaga Biru. Kita dapat berenang dan mandi di Telaga Biru tepat di bawah air terjun itu.
Sambil menyaksikan pesona alam itu, pengunjung dapat menyantap makanan yang sudah disediakan saat hendak berkunjung. Kita dapat berenang di telaga itu sambil menikmati segarnya air dan sejuknya udara di sekitar telaga itu.
Namun pengunjung untuk sementara tidak bisa berlama-lama, disebabkan oleh faktor cuaca karena dikhawatirkan hujan. Jika hujan turun, pengunjung akan kewalahan karena tidak adanya tempat untuk berteduh dan jalan yang licin. Di samping itu jika hari mulai gelap, dikhawatirkan pengunjung tidak dapat lagi melihat jalur lintasan untuk kembali pulang alias tersesat.
Sementara itu Camat Sibolangit Drs Neken Ketaren saat dikonfirmasi wartawan beberapa waktu yang lalu menyebutkan pemerintah akan berupaya untuk membangun obyek wisata yang ada di kecamatan Sibolangit termasuk air terjun dua warna, katanya. (BSK/m)
Di ujung Sinembah 1, sebuah lembah buntu dalam bentuk pelataran luas hampir sebesar lapangan sepak bola, selama ini tersembunyi di balik tebing-tebing tinggi di sisi kanan dan kiri. Di sebelah kanan, air terjun berwarna bening setinggi 10 meter meluncur turun dari salah satu pelataran di atas dinding. Airnya terus mengalir, bergabung dengan aliran dari air terjun lain yang terletak di sebelah kiri.
Air terjun kedua tingginya mencapai 40 meter. Debetnya tidak luarbiasa, tapi kandungan airnya yang mengandung belerang membuat airnya berwarna biru keputih-putihan. Kandungan belerang pada air mengakibatkan lapisan lumut pada batu-batu di dasar kolam jatuhan air itu berwarna putih kebiru-biruan. Walhasil, warna kolam berwarna biru terang. 


Jadi, inilah rupanya yang mereka maksudkan sebagai dua warna itu. Dua air terjun dengan warna yang berbeda, yang satu biasa, dan yang satu lagi berwarna biru cerah. Terbetik keinginan untuk mandi bugil di hutan seperti acara para nudis, namun dinginnya air memaksa kami untuk mengurungkan niat itu. Lagipun, takut kualat. Jangan-jangan hantu penjaganya darah tinggi dan suka marah.
Aksesbilitas

Akses menuju kesana cukup sulit dan tidak bisa ditempuh melalui sungai. Hal ini dikarenakan banyak batu-batu berlumut tebal terlalu besar dan menutupi jalur di pinggiran sungai tersebut yang cukup menyulitkan dijelajahi.   Satu-satunya jalan adalah harus mendaki ke atas punggungan bukit dan berjalan melintas hutan di lereng Gunung Sibayak selama 3 jam sebelum kembali turun ke lembah yang dibelah oleh Sungai Sinembah
Perjalanan diawali dari  areal perkemahan pramuka di Sibolangit, yang berjarak sekitar 57 km  dan memakan waktu kurang lebih 1 jam dengan berkendara dari kota Medan.  Selanjutnya memasuki jalan setapak penuh lumpur, mengikuti aliran air dalam pipa. Selepas jalur pipa, jalan setapak mulai menanjak ke atas dengan kemiringan sedang namun panjang. Trackini membawa ke salah satu bagian punggungan. Selebihnya adalah perjalanan naik turun punggungan menerobos kerapatan hutan. 
Selang 25 menit kemudian, turun ke bawah salah satu sungai, menyeberanginya dan kembali naik ke punggungan di seberang punggungan pertama. Sekitar 20 menit kemudian tiba di persimpangan bibir punggungan. Di sini terdapat plang di atas salah satu pohon bertuliskan  “Air Terjun 2 Warna, 20 Menit” dengan tanda anak panah menunjuk ke bawah lembah tempat suara air Sungai Sinembah 1 berasal. Sementara jalur yang lurus mengikuti punggungan itu, mengarah ke Jalur 54 (salah satu jalur pendakian ke puncak Sibayak). 


Buat Teman yang Ingin Sekali Berkunjung kesana Kami Sediakan Map untuk di download Oleh Teman2


Buat Teman Teman yang ingin sekali untuk NgeCamping Ala Pendaki Pro tapi Masih Pemula
jangan Takut, Kami Bantu untuk memperlengkapi anda jika ingin ikut Bersama Tour Kami dengan Catatan Minimal Peserta harus 3 Orang, untuk info hubungi kami di 0812-6908-0693, Ronny welfrin atau Via Mail di welfrin_ronny@Yahoo.com

Bila ingin Melakukan itu Tanpa Kami, Kami tidak Kecewa
mungkin anda takut di Tipu atau di Culik :p
kami tidak berkecil hati, kami akan bantu Anda untuk Melengkapi Perkakas anda

PERALATAN DAN LOGISTIK

- Carrier (Tas Gunung) 54,60,80,120 Liter yg mana anda punya
- Kompor Portable dan Nesting (yang mana aja yg penting masak buat isi perut)
- Air Mineral bawa sesuai Kebutuhan anda selama disana brapa hari 
- Logistik ala backpacker itu indomie, crackerout, Susu, Kopi, Cocolatos, Unibis tidak lupa permen karet
- Tenda Camp kapasitas 4,6,8,12 dll tergantung peserta
- Matras
- Sleepingbed, Selimut, Sarung, bandana (sorban), sarung pendekar, sarung tangan, kaos kaki wajib donk
- Parang (buat Motong kayu bakar), Pisau Kecil buat potong cabe
- Jas Hujan, Sepatu Olahraga, Sendal Jepit
- Baju Ganti
- Senter, headlamp, lampu semprong
- Minyak Lampu buat bakar2

Buat Teman2 yang Tidak ingin repot atau kekurangan peralatan ini jangan gundah gulana, Kami Punya silahkan contact kami di 0812-6908-0693, Ronny welfrin atau Via Mail di welfrin_ronny@Yahoo.com

kami siap membantu perjalanan anda. Trims
ini nih poto-poto kakak kakak dan abang abang yang sudah Ngetrip bareng kami