Tampilkan postingan dengan label Itinerary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Itinerary. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Mei 2014

Perjalanan dari Jogja Menuju Taman Nasional Baluran

Jika Anda mempunyai mimpi mengunjungi padang sabana di Afrika, tak ada salahnya mencicipi suasana Little Africa yang ada di negeri Indonesia tercinta. Tak salah memang jika Taman Nasional Baluran yang berada di Kabupaten Situbondo memiliki julukan sebagai little Africa atau Africa van Java karena suasana taman nasional tersebut memiliki kesamaan suasana alam seperti di Afrika sana.


Pada perjalanan kali ini saya berkesempatan mengunjungi Taman Nasional Baluran yang berada di ujung timur Pulau Jawa. Perjalanan menuju Taman Nasional Baluran memang memakan waktu yang cukup panjang namun sebanding dengan pengalaman berada di tengah-tengah alam liar yang ditawarkan. Pemandangan hamparan sabana yang luas dengan latar belakang pegunungan seolah menjadi pelepas lelah setelah menempuh perjalanan darat yang memakan waktu seharian. Belum lagi vegetasi hutan yang masih cukup rapat dengan pemandangan kawanan satwa liar berkeliaran di padang rumput untuk mencari makan menjadi pelepas lelah di sore hari. Sungguh sebuah pengalaman menarik bagi Anda penikmat pemandangan alam dan kawanan satwa liar

Ada beberapa alternatif moda transportasi untuk menuju Taman Nasional Baluran. Dalam tulisan ini saya akan membuat sedikit ulasan mengenai perjalanan menuju Taman Nasional Baluran yang saya lakukan awal bulan Mei ini dengan titik awal keberangkatan dari Kota Jogja. Here's the story !

Perjalanan Jogja-Banyuwangi dengan Kereta Api
Pada perjalanan kali ini saya memilih moda transportasi kereta api guna menghemat biaya perjalanan menuju Kota Banyuwangi. Untuk keberangkatan dari kota Jogja, Anda dapat menggunakan kereta ekonomi AC Sritanjung dengan tiket seharga Rp 50.000,00 per-orang (data bulan Mei 2014). Kereta Sritanjung berangkat dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta pada pukul 07.45 pagi dan dijadwalkan tiba di stasiun Banyuwangibaru (Ketapang) pada pukul 20.40 malam. Namun, seperti biasa, untuk kereta dengan "kasta" ekonomi selalu mengalah jika harus bersimpangan dengan kereta yang lain selama perjalanan, terutama dengan kereta kelas bisnis dan eksekutif. Jadilah jadwal kedatangan kereta Sritanjung di Stasiun Banyuwangi mengalami keterlambatan. Kereta yang saya tumpangi kemarin tiba di Stasiun Banyuwangi sekitar pukul 21.30 WIB. Jadi, silahkan persiapkan diri jika menggunakan jasa kereta api ini karena perjalanan dari Jogja menuju Banyuwangi memakan waktu sekitar 13-14 jam perjalanan. Satu lagi, walaupun sudah diberi tambahan fasilitas pendingin ruangan, tetap saja suasana gerbong cukup gerah ketika siang tiba.

Ada baiknya jika Anda melakukan reservasi tiket kereta beberapa hari sebelum keberangkatan. Reservasi tiket kereta api sekarang cukup mudah. Tak perlu lagi repot-repot antri di stasiun untuk mendapatkan tiket. Tinggal reservasi saja via online melalui website KAI atau melalui merchant-merchant yang sudah bekerja sama dengan KAI, seperti Indomart, Alfamart, Kantor Pos, Pegadaian, dan sebagainya. Namun perlu diingat, jika Anda memesan tiket kereta melalui website maupun merchant, Anda akan dikenai biaya tambahan sebesar Rp 7.500,00 untuk sekali pemesanan.

Tips tambahan jika Anda menggunakan jasa kereta api ekonomi, jangan masuk ke dalam gerbong mepet dengan jam keberangkatan. Seperti pengalaman saya kemarin yang masuk ke dalam gerbong sekitar 5 menit sebelum kereta berangkat, alhasil saya tidak memperoleh rak untuk meletakkan barang bawaan yang berada di atas kursi penumpang. Mau tidak mau saya harus memangku barang bawaan karena jika diletakkan di bagian bawah cukup menggangu gerak kaki penumpang. Satu hal lagi, bagi Anda yang akan bepergian ke Banyuwangi menggunakan kereta Sritanjung ini, jangan lupa membawa perbekalan logistik secukupnya selama perjalanan. Silahkan membawa air minum dan makanan secukupnya. Pengalaman saya kemarin, selama perjalanan agak susah ditemui pedagang asongan yang menjual makanan berat selama berhenti di stasiun yang berada di daerah Jawa Timur. Menurut saya, harga makanan yang dijual oleh pedagang asongan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan makanan yang dijual oleh pihak kereta. Dengan membawa logistik dan perbekalan yang cukup akan menghemat biaya pengeluaran makan Anda selama perjalanan.

Stasiun Banyuwangibaru ke Terminal Sri Tanjung Ketapang
Stasiun Banyuwangibaru merupakan pemberhentian terakhir kereta Sritanjung dengan rute Jogja-Banyuwangi. Tidak usah panik dengan penumpang-penumpang yang turun di stasiun sebelumnya, karena untuk menuju Baluran, Anda cukup turun di stasiun ini yang notabennya menjadi pemberhentian terakhir kereta api Sritanjung yang Anda tumpangi.

Dari arah stasiun, silahkan menuju pintu keluar dan berjalanan kaki sampai menemukan jalan besar. Jalan tersebut merupakan jalur utama yang menghubungkan ke arah Pelabuhan Penyeberangan Ketapang yang melayani penyeberangan ke pulau Dewata. Di daerah Ketapang ini silahkan membeli kebutuhan logistik dan perbekalan seperti air minum dan cemilan karena di sekitar sini terdapat minimarket yang beroperasi 24 jam sebelum Anda melanjutkan perjalanan.

Dari Stasiun Banyuwangibaru, perjalanan selanjutnya adalah menuju Terminal Sri Tanjung Ketapang. Dari jalan besar tadi silahkan mencari angkot yang jalan ke arah kiri (jangan menyeberang jalan dari arah stasiun tadi). Angkot di sini biasa beroperasi hampir 24 jam. Angkot yang melayani trayek ke terminal memiliki warna kuning dan biru. Jika Anda takut salah naik angkot, tinggal tanya saja kepada penduduk setempat mengenai angkot yang arah terminal bus tujuan Situbondo atau Surabaya.

Saya lebih menyarankan untuk naik angkot karena jarak dari stasiun ke terminal menurut saya cukup jauh jika harus ditempuh dengan jalan kaki. Ada blog yang mengatakan bahwa jarak stasiun ke terminal sekitar satu kilometer. Namun, dalam perhitungan saya, jarak stasiun ke terminal lebih dari satu kilometer, terlebih lagi jalannya naik-turun serta gelap. Lebih baik Anda menggunakan jasa angkot agar cepat sampai ke terminal. Untuk tarif angkot sendiri berkisar Rp 7.000,00 per-orang dengan jarak tempuh sekitar 10 menit perjalanan.

Ketapang - Baluran dengan Bus Antar Kota Arah ke Surabaya
Sesampainya di Terminal Sri Tanjung, silahkan melanjutkan perjalanan menggunakan bus antar kota yang menuju Surabaya. Biasanya bus yang tersedia adalah bus dengan kelas ekonomi. Silahkan bilang kepada sang kernet jika Anda turun di Baluran, pasti mereka sudah paham tujuan Anda. Tarif tiket bus dari Ketapang menuju Baluran adalah Rp 8.000,00 per-orang (data bulan Mei 2014). Perjalanan dari Ketapang menuju Baluran memakan waktu sekitar satu jam perjalanan dengan medan jalan naik turun tapi cukup menyenangkan. Pak sopir bus akan menurunkan Anda tepat di depan gerbang masuk Taman Nasional Baluran. Jangan heran jika gerbang masuk Taman Nasional Baluran itu terletak di dekat perkampungan penduduk yang jauh dari kesan hutan belantara seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Jujur, ketika sang kernet menyuruh saya turun dari bus, rasanya otak saya mendadak menjadi blank sejenak karena diturunkan di dekat perkampungan penduduk. Sempat terbersit pikiran yang macam-macam ketika saya disuruh turun dari bus karena waktu itu sudah menginjak tengah malam. Sungguh sebuah perjalanan panjang yang cukup melelahkan sekaligus menyenangkan tiba di Taman Nasional Baluran ini.

Note :
Saya tiba di pintu gerbang Taman Nasional Baluran ini sekitar pukul 12 malam. Cukup lelah karena menempuh perjalanan dari pagi hingga tengah malam. Sejak turun dari kereta di Banyuwangi, sengaja saya tidak langsung melanjutkan perjalanan menuju Baluran karena mengisi perbekalan sekaligus mencari makan malam dan beristirahat. Jangan khawatir kena tipu di daerah Banyuwangi dan Baluran. Sepanjang perjalanan saya kemarin, semua orang yang saya temui termasuk orang-orang baik dan jujur. Saya tidak menemui calo dan sebagainya, pun demikian tarif kendaraan umum yang harus saya bayar termasuk tarif yang normal tanpa ada yang dimahalkan.

Walaupun saya tiba sudah larut malam, namun petugas penjaga gerbang Taman Nasional Baluran menyambut kami dengan ramah. Setelah bertanya beberapa hal, kami langsung ditawari homestay di rumah penduduk untuk beristirahat. Tarif homestay tersebut adalah Rp 75.000,00/orang/malam. Para pengunjung ditawari homestay yang dikelola oleh penduduk karena penginapan yang berada di dalam area Taman Nasional Baluran hingga bulan Mei ini belum dibuka untuk umum karena masih menunggu perpanjangan izin dari pemerintah pusat yang sedang melakukan monitoring dan evaluasi lokasi. Entah sampai kapan izin dari pemerintah pusat itu keluar, saya bertanya kepada pegawai Taman Nasional Baluran namun tidak ada satu orang pun yang bisa memastikan.

Cara Lain Menuju Taman Nasional Baluran
Taman Nasional Baluran termasuk salah satu tempat wisata yang cukup mudah dijangkau menggunakan moda transportasi umum maupun kendaraan pribadi. Lokasinya yang berada tepat di jalur lintas utara Surabaya-Banyuwangi memudahkan akses transportasi menuju ke tempat ini.

Ada alternatif lain menuju Baluran selain menggunakan kereta menuju Banyuwangi terlebih dahulu, yaitu dengan menggunakan jasa bus antar kota. Untuk menggunakan bus, saya sarankan dengan estafet saja, walaupun sedikit merepotkan di perjalanan.

Cara estafet menuju Baluran :
Dari Terminal Bungur (Purabaya) di Kota Surabaya, silahkan melanjutkan perjalanan menuju Kota Probolinggo. Tarif bus patas jurusan Surabaya-Probolinggo sekitar Rp 27.000,00 dengan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan. Dari Terminal Probolinggo, silahkan melanjutkan perjalanan menggunakan bus dengan rute Probolinggo-Ketapang. Bus trayek ini akan mengantarkan Anda langsung di depan gerbang masuk Taman Nasional Baluran. Saya tidak tahu berapa harga tiket bus yang harus dibayarkan karena saya belum pernah menggunakan rute ini sebelumnya.

Cara langsungan dari Surabaya :
Pilihan kedua adalah menggunakan bus dari Terminal Surabaya langsung menuju Ketapang. Untuk tarif bus ekonomi dari Surabaya menuju Ketapang sebesar Rp 48.000,00 (data Mei 2014). Tapi saya kurang tau jadwal keberangkatan bus ini dan berapa lama waktu tempuhnya. Harga tiket saya peroleh ketika saya pulang dari Baluran via Ketapang menuju Surabaya. Namun dalam perjalanan menuju Surabaya tersebut ternyata saya dioper dengan bus lain ketika memasuki terminal Probolinggo untuk selanjutnya kembali melanjutkan perjalanan menuju Surabaya.


Sekian review kendaraan umum dari Jogja menuju Taman Nasional Baluran, semoga bermanfaat :)

Sabtu, 29 Desember 2012

BROMO !

Tulisan ini murni adalah pengalaman penulis ketika mengunjungi Gunung Bromo, salah satu destinasi yang wajib dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Berhubung banyak yang menanyakan bagaimana cara menuju Bromo, di mana tempat menginapnya, bagaimana cara untuk berkeliling Bromo, bagaimana sewa jeep dan sebagainya, maka penulis akan kembali membuat ulasan mengenai perjalanan menuju Bromo !



Perjalanan menuju Gunung Bromo adalah pengalaman pertama saya solo traveling alias bepergian seorang diri tanpa teman yang mendampingi. Saya akan kembali me-review perjalanan saya menuju Bromo dengan starting point Yogyakarta.

Menuju Kota Probolinggo
Akses menuju Gunung Bromo yang paling mudah adalah dari Kota Probolinggo. Ada beberapa pilihan menuju Kota Probolinggo dari Jogja. Saya akan memberikan sedikit penjelasan dengan kendaraan apa saja untuk dapat sampai di kota ini.
  1. Alternatif pertama adalah menggunakan bus. Anda dapat memilih naik bus tujuan Yogyakarta - Banyuwangi. Bus-bus yang melayani trayek ini antara lain adalah bus Akas Asri dan Mila Sejahtera dengan kelas standar ekonomi AC, seat tempat duduk 2-3. Pemberangkatan terakhir dari terminal Giwangan, Jogja sekitar pukul 17.30 WIB. Harga tiket Jogja-Probolinggo sekitar Rp 60.000,00-an. Jika Anda memilih pemberangkatan pada sore hari sekitar pukul 17.00 dari Jogja, maka Anda akan sampai di Kota Probolinggo pagi-pagi buta sekitar pukul 02.45 dini hari.
  2. Alternatif kedua adalah menggunakan bus dengan jalur estafet, yaitu dengan rute Jogja-Surabaya-Probolinggo. Dari Jogja cari saja bus tujuan Surabaya. Bus yang melayani trayek ini antara lain adalah bus Patas Eka dengan tiket Rp 68.000,00 (data Desember 2012). Bus ini relatif ada setiap saat, dan terakhir pemberangkatan sekitar pukul 23.30 malam. Pilihan lain adalah menggunakan bus AC ekonomi seperti Mira atau Sumber Group (Sumber Selamat dan Sugeng Rahayu) dengan tarif sekitar Rp 38.000,00. Pemberangkatan bus ini hampir ada selama 24 jam. Perjalanan Jogja - Surabaya memakan waktu sekitar 8 jam perjalanan. Dari Surabaya silahkan lanjut bus menuju Probolinggo. Cari saja bus dengan trayek Surabaya - Jember - Banyuwangi. Tiket bus patas dibandrol dengan harga Rp 23.000,00 dengan waktu tempuh selama 2 jam perjalanan.
  3. Alternatif ketiga adalah menggunakan jasa kereta Ekonomi Sri Tanjung. Berangkat dari Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta sekitar pukul 07.30 pagi, dengan harga tiket sekitar Rp 30.000,00 untuk rute Jogja-Probolinggo.
Perjalanan Probolinggo - Bromo
Setelah Anda sampai di Terminal Probolinggo, perjalanan selanjutnya adalah menuju ke daerah Bromo. Ada dua pilihan cara untuk menuju Bromo, yaitu menggunakan jasa ojek motor dengan tarif sewa sekitar Rp 150.000,00 atau menggunakan kendaraan umum, semacam angkot, di mana orang sekitar menyebutnya dengan "bison". Bison merupakan kendaraan semacam Izuzu Elf dengan muatan sekitar 10-12 orang. Anda dapat menemui bison ini di luar terminal. Jadi jika dari dalam terminal, Anda keluar saja menuju jalan raya kemudian belok ke arah kiri. Di sana sudah tampak bison yang berjajar menanti penumpang. 

Sudah bukan rahasia umum lagi jika Terminal Probolinggo ini merupakan salah satu terminal yang tidak jujur, terutama kepada wisatawan yang hendak menuju Bromo. Tarif normal bison dari Probolinggo menuju Bromo adalah Rp 25.000,00, namun jika sedang apes, maka pemilik bison tak akan segan-segan untuk menodong Anda menyewa kendaraan mereka dengan patokan harga sekitar Rp 300.000,00 untuk sekali jalan. Kalau sedang pergi bersama-sama, mungkin Anda harus merogoh kocek sekitar Rp 50.000,00 sampai Rp 70.000,00 per-orang, kalau sendirian? wassalam ! Ketika saya menuju Bromo saya kena bandrol sekitar Rp 150.000,00 dengan terlebih dahulu menunggu di bison selama 3 jam ! Please beware dengan praktik kecurangan para sopir bison di sini !

Penginapan
Bromo memiliki banyak pilihan penginapan sesuai dengan budget yang Anda miliki. Bromo menyediakan hotel berbintang hingga homestay bagi para backpacker. Untuk pilihan penginapan, saya memilih Yog Homestay yang terletak di daerah Cemoro Lawang. Cemoro Lawang merupakan rute terakhir bison di kawasan Bromo ini. Menurut saya lokasi Yog Homestay ini sangat strategis, tinggal berjalan kaki sebentar saja Anda akan melihat pemandangan Gunung Batok, Gunung Bromo, dan lautan pasir dari atas bukit. Selain itu, penginapan ini juga cukup dengan warung makan.

Untuk pilihan kamar di homestay ini menyediakan dua pilihan, yaitu kamar tidur dengan kamar mandi luar dibandrol dengan harga Rp 100.000,00 per hari. Anda dapat memilih kamar dengan dua buah kasur atau satu buah kasur. Semua kamar sudah dilengkapi dengan fasilitas selimut tebal untuk menghalau hawa dingin. Pilihan kedua adalah kamar tidur dengan kamar mandi dalam, dibandrol dengan harga Rp 150.000,00 per hari. Semua kamar maksimal ceck out sekitar pukul 13.00 WIB. Semua fasilitas, baik kamar tidur dan kamar mandi dalam keadaan yang cukup bersih dan tertata rapi. 

Bagi Anda yang ingin menikmati suasana alam bebas, mendirikan tenda dapat Anda jadikan sebagai pilihan untuk bermalam. Ada beberapa spot untuk mendirikan tenda, salah satunya dekat dengan Hotel Lava View Bromo.


Pilihan Kendaraan Menuju Penanjakan Sunrise View dan Pendakian Bromo
Ada beberapa pilihan kendaraan untuk menuju penanjakan. Spot ini merupakan salah satu lokasi wajib ketika mengunjungi Bromo. Dari sinilah kehidupan benar-benar dimulai. Spot penanjakan adalah sebutan lokasi untuk melihat matahari terbit atau sunrise view. Kendaraan pribadi seperti mobil memang tidak diizinkan untuk melaju di area padang pasir dan penanjakan Bromo. Jika dizinkan pastilah akan mematikan pendapatan penduduk setempat yang menggantungkan profesi mereka untuk membuka jasa persewaan kendaraan. Ya, community based tourism di wilayah ini sudah cukup maju dan memiliki paguyuban yang cukup kuat.

Pilihan pertama adalah dengan menyewa jeep atau biasa disebut hardtop. Biaya yang dipatok sekitar Rp 100.000,00 per-orang untuk rute penanjakan sunrise view dan pendakian Bromo. Jika menyewa satu mobil, biaya yang diaptok sekitar Rp 350.000,00 sampai dengan Rp 450.000,00. Untuk rute tambahan menuju Bukit Teletubbies (padang savana) ada biaya tambahan lagi, tergantung nego Anda dengan sang sopir.

Pilihan kedua adalah dengan menyewa ojek motor. Hal ini lebih efisien bagi Anda yang pergi sendirian ataupun yang ingin lebih menikmati perjalanan. Selain mengantarkan Anda, si tukang ojek dapat dijadikan sebagai guide sekaligus teman perjalanan. Bagi saya, perjalanan menyusuri Bromo menggunakan jasa tukang ojek lebih menyenangkan karena kita dapat membangun komunikasi yang lebih intens serta dapat menggali informasi yang mendalam. Dari si tukang ojek pula saya tahu bahwa di sekitar area Pasir Berbisik terdapat sebuah batu yang disebut watu singo karena bentuk batu tersebut mirip seperti singa jantan yang sedang duduk berselanjar. Tarif ojek untuk rute penanjakan dan pendakian adalah Rp 100.000,00, sedangkan jika tambah spot Bukit Teletubbies, maka Anda harus membayar Rp 150.000,00.


Sewa Kuda Menuju Tangga Pendakian
Kalau yang ini sifatnya optional ! Anda dapat menyewa kuda dari parkiran kendaraan menuju tangga pendakian Bromo. Harga sewa kuda berkisar Rp 60.000,00 sampai dengan Rp 100.000,00 untuk rute pulang-pergi. Semua tergantung pintar-pintarnya Anda menawar. Bagi Anda yang memutuskan untuk berjalan kaki jangan lupa untuk membawa masker karena debu dan pasir yang beterbangan cukup mengganggu pernafasan. 

Kembali Ke Probolinggo
Puas menikmati keindahan kawasan Gunung Bromo saatnya untuk kembali ke Probolinggo. Untuk kembali menuju ke Probolinggo saya kembali memilih menggunakan jasa bison. Tarif yang dipatok sudah tarif normal dan fix yaitu Rp 25.000,00 tanpa ada lonjakan harga dan tawar-menawar lagi. Biasanya pada malam hari akan ada kernet bison yang datang ke homestay untuk menawarkan jasa mereka menjemput Anda keesokan harinya untuk kembali ke Probolinggo.

Ya, itulah sekilas mengenai review itinerary saya menuju Bromo. Silahkan kalkulasikan sendiri biaya perjalanan sesuai dengan kebutuhan Anda. Saya hanya memberikan sedikit gambaran rincian perjalanan saya berpetualang ke Bromo. Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat, happy traveling :)


Senin, 10 Desember 2012

Mendadak Malang !

Perjalanan menyusuri pesisir selatan Jember saya akhiri dengan menikmati pemandangan alam di Pantai Watu Ulo, pantai pasir hitam dengan ombaknya yang cukup tenang. Saya pun menghampiri si bapak tukang ojek untuk meneruskan perjalanan. Jalur yang dilalui kali ini berbeda dengan jalur keberangkatan tadi. Kali ini jalur yang dipilih adalah menyusuri sepanjang pesisir selatan Jember dengan pemandangan perkampungan penduduk yang mendominasi. Si bapak menarik gas motor cukup kencang sehingga semilir angin pantai selatan menerpa badan. Ojek di daerah Papuma memang cukup rock n' roll, si bapak tidak tidak memberikan saya helm, lumayan bikin deg-deg-an juga karena si bapak membawa motor cukup kencang. Tapi siang itu saya cukup menikmati perjalanan pulang, walaupun matahari cukup terik menyengat seluruh kulit. Kali ini si bapak tukang ojek langsung mengantarkan saya menuju Terminal Ambulu, bukan di daerah perempatan seperti saya bertemu dengan si bapak tadi pagi.  Sesuai kesepakatan sebelumnya, untuk ongkos pulang ini saya membayar sebesar Rp 30.000,00 untuk sekali jalan.


Ambulu - Probolinggo via Akas Asri
Entah disadari atau tidak, bus Akas Asri memang cukup mendominasi bus yang melayani rute Malang, Pasuruhan, Probolinggo, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi. Siang itu sudah ada dua bus yang akan berangkat menuju Surabaya. Saya menunggu bus yang kedua karena bus tersebut sudah menggunakan AC. Sekitar 45 menit saya menunggu keberangkatan bus Akas Asri tersebut. Lumayan lama memang, namun saya sedikit terhibur dengan pemandangan alam daerah Ambulu yang cukup cantik. Deretan pegunungan kokoh mengelilingi bak sebuah benteng alami.

Karena tujuan saya berikutnya adalah kota Malang, maka saya putuskan untuk turun ke daerah Probolinggo untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Malang. Tarif bus dari Ambulu menuju Probolinggo adalah Rp 18.000,00 (data bulan November 2012) dengan waktu tempuh sekitar dua hingga tiga jam perjalanan, tergantung dengan kondisi jalan. Mengingat bus ini merupakan bus dengan kelas AC-Ekonomi, jadi harap bersabar jika di beberapa tempat si sopir akan nge-time untuk mencari penumpang dan juga banyak pengamen yang masuk silih berganti.

Probolinggo - Malang via Bus Patas
Sekitar pukul 16.00 saya tiba di terminal Probolinggo. Bagi saya terminal ini sudah cukup familiar sehingga saya langsung mencari bus patas tujuan Malang. Beruntung sore itu langsung ada bus patas yang menuju ke Malang. Tarif bus patas dari Probolinggo menuju Malang adalah Rp 23.000,00 (data bulan November 2012) dengan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan. Karena merupakan bus dengan kelas patas, maka Anda akan aman dari serbuan para pengamen sepanjang perjalanan Anda. Terminal Arjosari, merupakan terminal bus antar kota di Malang. Sesampainya di terminal ini, Anda dapat melanjutkan perjalanan menuju Malang kota dengan jasa angkot. Angkot di Malang beroperasi sampai malam hari sekitar pukul 21.00, namun dengan tarif yang disesuaikan. Tarif angkot pada umumnya adalah Rp 2.500,00 per-orang, namun berhubung saya sampai Malang sudah malam, si sopir angkot meminta penumpang untuk membayar tarif sebesar Rp 5.000,00. 

Senin, 03 Desember 2012

Perjalanan dari Jogja Menuju Tanjung Papuma


"Next trip ke mana lagi?", mungkin saja pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di kepala bagi Anda yang sudah kecanduan apa itu namanya traveling. Mungkin juga bagi Anda sudah memiliki agenda khusus mengenai kapan dan ke mana tempat selanjutnya untuk dijelajahi. Traveling bisa menjadi gaya hidup bahkan juga kebutuhan bagi sebagian orang. Bagi saya traveling merupakan salah satu wahana untuk mengenal diri sendiri, pun demikian juga untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, menikmati kekayaan dan keindahan ciptaan tangan-Nya yang maha sempurna. Jujur, saya sendiri tidak pernah memiliki perencanaan untuk bepergian ke mana, karena hampir selalu perencanaan yang saya buat jauh-jauh hari sebelumnya hanya berujung sebagai wacana saja. Ya, perjalanan ke Tanjung Papuma ini merupakan pengalaman solo traveling saya yang kedua, alias perjalanan seorang diri setelah bulan Mei kemarin saya nekat menjelajah seorang diri ke Bromo. Perjalanan kali ini saya pun juga menerapkan prinsip "modal nekat" untuk dapat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keindahan Tanjung Papuma yang sebenarnya. Perjalanan ke Tanjung Papuma juga menjadi perjalanan dadakan, mengingat rencana saya untuk bertandang ke Dieng dan Kawah Ijen saya urungkan karena cuaca yang sedang tidak bersahabat. 

Sebelum saya berangkat ke kampus pada pagi hari, saya sempat berkicau mengutarakan keinginan saya untuk menjelajah Tanjung Papuma. Niatnya sih sekalian memberi kode siapa tahu ada yang berminat untuk bergabung dengan saya. Kicauan saya disambar oleh akun @PapumaJember, yang awalnya saya kira hanya akun-akun spam yang hobi menyambar tweet. Saya pun mencoba menuliskan kicuan kepada akun tersebut untuk bertanya rute kendaraan umum menuju Papuma. Tidak disangka, akun @PapumaJember bukanlah akun spam seperti perkiraan saya. Kicauan saya dibalas dan akun tersebut menjelaskan rute kendaraan umum menuju Tanjung Papuma. Siang hari sepulang dari kampus, saya sempatkan dulu untuk browsing informasi mengenai akses kendaraan umum menuju Papuma. Dari beberapa blog yang saya kunjungi rata-rata memang kurang menjelaskan bagaimana akses menuju Tanjung Papuma. Mereka hanya menjelaskan bagaimana keindahan Tanjung Papuma, dengan tampilan beberapa foto narsis sebagai pelengkap blog mereka. Tidak apalah, toh blog pribadi kan suka-suka si penulis mau menuliskan apa yang dia mau bukan?

Sembari browsing informasi saya menghubungi beberapa teman untuk mengajak trip bersama. Anyway as usual, ajakan saya mereka tolak dengan berbagai macam alasan. Yasudah lah, lebih baik saya jalan sendiri saja daripada tidak terealisasi. Pukul 14.30 saya pun membulatkan tekat untuk berangkat, packing apa adanya dan membawa bekal secukupnya. Sekitar pukul 15.00 saya pun bersiap meninggalkan kost langsung berjalan kaki menuju halte Trans Jogja terdekat untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju terminal Giwangan. Jogja sore itu terasa cukup padat lalu lintasnya, perjalanan dari halte Trans Jogja depan RS Sardjito menuju ke terminal Giwangan memakan waktu sekitar 1 jam lebih. Ya, beginilah, sistem transportasi massal terkadang malah memakan waktu yang panjang.


Perjalanan Jogja-Jember dengan Bus Akas Asri
Kenapa saya memilih transportasi bus antar kota? Menurut saya waktu keberangkatan lebih fleksibel, walau dari segi waktu tempuh maupun biaya lebih mahal jika dibandingkan dengan menggunakan kereta api. Pertimbangan saya lainnya adalah jika menggunakan bus antar kota pada malam hari saya dapat menghemat ongkos penginapan, karena saya bisa istirahat di dalam bus pada malam hari, dan sampai di tujuan pada pagi harinya. Beruntung setelah saya sampai di terminal Giwangan, ada bus tujuan Jogja-Banyuwangi yang akan berangkat. Saya pun segera naik dan mencari tempat duduk yang nyaman bagi saya. Beruntung pula penumpang sore itu tidak terlalu ramai seperti yang biasa saya lihat. Harga tiket bus dari Jogja menuju Jember sebesar Rp 72.000,00 per-orang. Perjalanan dari Jogja menuju Jember memakan waktu sekitar 10-12 jam perjalanan, tergantung dengan kondisi lalu lintas.

Bus Akas Asri ini memiliki seat dengan setelan 3-2, setara dengan kelas AC ekonomi. Satu hal yang kurang nyaman bagi saya adalah tempat duduknya agak sempit di bagian kaki, sehingga agak menyulitkan untuk bergerak atau meluruskan kaki. Kualitas tempat duduk cukup nyaman dan AC-nya cukup kencang kok. Selama perjalanan yang cukup panjang itu jangan harap Anda mendapatkan kupon makan mengingat bus ini hanya berkelas AC ekonomi. Memasuki area Jawa Timur saya pun mulai tertidur lumayan lelap. Terbangun beberapa kali karena kepala saya terbentur kaca dan membalas beberapa pesan singkat. Jika diamati antara bus Sumber Grup, Mira, Eka, maupun Akas Asri memiliki sistem driving yang sama ketika memasuki area Jawa Timur. Si sopir pasti menjalankan bus dengan kecepatan yang cukup tinggi. Agak ngeri juga sih sebenarnya, tapi ya pasrah saja lah, toh si sopir juga sudah berpengalaman dan mempunyai perhitungan dalam menjalankan kendaraannya.

Sekitar pukul 01.30 bus sudah memasuki wilayah antara Pasuruhan dan Probolinggo. Bus ini pun mampir sejenak di pom bensin untuk mengisi bahan bakar sambil mempersilahkan penumpangnya menuju kamar kecil. Pukul 02.00 bus berhenti di salah satu rumah makan di wilayah Probolinggo dan si kondektur mempersilahkan penumpang untuk membeli makanan. Saya memilih tinggal di dalam bus sambil berbincang-bincang dengan beberapa penumpang yang juga memilih tinggal di dalam bus. Sekitar 20 menit kemudian perjalanan pun kembali dilanjutkan. Memasuki kota Probolinggo mengingatkan saya kembali mengenai perjalanan ke Bromo yang pernah saya lakukan beberapa bulan sebelumnya. Tak terasa sekitar pukul 04.30 bus yang saya tumpangi sudah memasuki kota Jember. Sepanjang perjalanan memasuki Kota Jember saya disambut dengan guyuran hujan gerimis yang membuat saya sedikit pesimis. Bus yang saya tumpangi tidak masuk ke dalam Terminal Tawang Alun. Penumpang yang turun di terminal ini dipersilahkan untuk turun di depan terminal. Beruntung sekali ketika saya turun dari bus hujan rintik perlahan mulai berhenti.

Perjalanan dari Jember Menuju Balung
Turun dari bus saya pun dihampiri oleh bapak-bapak yang sepertinya bertugas untuk mencari penumpang. Saya bertanya-tanya mengenai rute kendaraan umum untuk menuju Tanjung Papuma. Walau penampilan si bapak lumayan garang, tapi beliau baik, menjelaskan kepada saya pilihan kendaraan untuk menuju Tanjung Papuma. Sebenarnya saya sudah mengantongi informasi mengenai rute kendaraan umum dari Terminal Tawang Alun Jember menuju Tanjung Papuma dari akun twitter @PapumaJember. Si bapak memberi tahu saya jika dari Terminal Tawang Alun ini saya dapat melanjutkan perjalanan menuju ke daerah Balung kemudian disambung menuju daerah Ambulu dengan menggunakan angkot. Alternatif kedua adalah dengan menyewa jasa ojek langsung dari terminal dengan ongkos Rp 60.000,00 sampai dengan Rp 75.000,00 sekali jalan. Jika menggunakan angkot, terlebih dulu kita menuju daerah Balung. Ongkos yang dikenakan adalah Rp 10.000,00 per-orang dengan lama tempuh perjalanan sekitar 30 menit (data bulan November 2012).

Ketika di terminal si sopir angkot menawari saya untuk menyewa angkotnya saja untuk langsung menuju daerah Papuma. Saya pun dengan sigap menolaknya secara halus, karena tidak ada di dalam perencanaan anggaran saya. Perjalanan dari Terminal Tawang Alun menuju daerah Balung memakan waktu sekitar 30 menit. Satu hal yang unik dari sopir angkot di daerah Jember ini adalah kelakuan si sopir yang terbilang cukup agresif dalam mendapatkan penumpangnya. Dilihat dari logat bicaranya si sopir sepertinya adalah orang Madura. Hal unik yang saya lihat adalah si sopir tak segan-segan untuk memberhentikan angkotnya dan dia mendatangi si calon penumpang langsung untuk menawarkan angkotnya. Walaupun sebelumnya si kernet sudah menawari rute angkot dan si penumpang jelas-jelas menolakknya. Sungguh perjuangan yang cukup gigih untuk mendapatkan penumpang. Hal unik lainnya adalah beberapa masyarakat di Jember masih memanfaatkan air sungai untuk mencuci baju dan buang hajat, setidaknya itulah pemandangan pagi yang saya temui sepanjang perjalanan menuju daerah Balung. Walau air sungai terlihat cukup keruh, namun masih saja penduduk masih memanfaatkan aliran airnya.

Perjalanan dari Balung Menuju Ambulu
Setelah sekitar 30 menit perjalanan dari Terminal Tawang Alun, Jember sampailah saya di daerah Balung. Si sopir mempersilahkan saya turun di pertigaan pasar Balung. Dari pertigaan pasar Balung ini sudah ada bapak-bapak yang menawari saya angkot untuk menuju daerah Ambulu. Naiklah saya ke dalam angkot dan saya harus menunggu sekitar 30 menit karena angkot yang nge-time menunggu sampai penumpang penuh. Di dalam angkot Anda harus rela berdesak-desakan dengan orang maupun barang, karena di pagi hari biasanya banyak pedagang dari daerah Balung menuju Ambulu untuk menjajakan barang dagangan mereka. Sedikit kurang nyaman memang, namun disitulah kenikmatan menaiki angkutan umum. Kita dapat berinteraksi dengan orang-orang dengan berbagai macam latar belakang. Tarif angkot untuk rute Balung - Ambulu ini adalah Rp 10.000,00 per-orang (data November 2012).

Ambulu - Tanjung Papuma Pakai Ojek Motor Saja !
Sesampainya di perempatan Ambulu, semua penumpang pun turun dari angkot. Ada seorang bapak-bapak tukang ojek yang menghampiri saya menawarkan jasanya. Sesuai dengan kesepakatan, untuk sekali jalan menuju Tanjung Papuma biaya yang harus saya bayarkan adalah Rp 30.000,00 (data November 2012). Si bapak akan menawarkan untuk menjemput Anda setelah puas menikmati keindahan Tanjung Papuma. Sekedar tips, jangan lupa untuk meminta nomor telepon si tukang ojek untuk memudahkan Anda berkomunikasi jika sewaktu-waktu Anda minta dijemput. Tukang ojek di sini bisa dipercaya kok. Mereka akan menepati janji untuk menjemput Anda sesuai dengan jam yang sudah disepakati.