Tampilkan postingan dengan label Malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2012

Toko Oen - Rumah Makan Nostalgia ala Tuan dan Nyonya Belanda

Malang, selain memiliki keindahan tata kotanya yang menawan, ternyata masih menyimpan sebuah toko dengan nuansa atmosfer kolonial Belanda yang kental. Memasuki toko ini serasa diajak menuju masa lalu mengenang Kota Malang tempo dulu.



"Welkom in Malang, Toko Oen Die Sinds 1930 Ann De Gasten Gezelligheid Geeft", begitulah isi dari spanduk yang tertera ketika kita memasuki sebuah bangunan tua di sudut Jalan Jend. Basuki Rakhmad, salah satu jalan protokol di Kota Malang. Spanduk dalam Bahasa Belanda ini memiliki arti "Selamat Datang di Malang, Toko Oen sejak tahun 1930 telah memberikan suasana nyaman". Ya, Toko Oen
, salah satu tempat yang wajib Anda kunjungi ketika bertandang di Kota Malang. Toko Oen, merupakan sebuah tempat makan yang menyajikan menu masakan Indo-Holand dengan nuansa tempo dulu yang hingga kini masih dipertahankan ornamen dan dekorasinya sejak berdiri sekitar tahun 1930. Memasuki toko ini, pikiran kita serasa diajak untuk menikmati suasana masa lampau, menikmati suasana tempat berkumpul ala tuan dan nyonya Belanda menghabiskan waktunya bersama.


Sejarah Singkat Toko Oen Malang
Toko Oen memiliki sejarah yang cukup panjang dalam perjalanannya. Toko Oen berdiri pertama kali di kota Yogyakarta pada tahun 1922 oleh seorang Tionghoa peranakan Belanda yang bernama Liem Goe Nio.  Karena memiliki masakan yang cukup terkenal, kemudian Toko Oen membuka cabang di beberapa kota di Indonesia, seperti di Semarang, Jakarta, dan juga Malang. Namun, seiring dengan perkembangan jaman, Toko Oen di Yogyakarta dan Jakarta akhirnya tutup, hanya tinggal toko di Malang dan Semarang saja yang masih buka. Toko di Semarang diambil alih oleh cucu Liem yaitu Yenny Megaputri. Pada tahun 1997, Toko Oen membuka cabang di Delf, Belanda, kemudian pada tahun 2000 membuka cabang kembali di kota Den Haag. Pada perkembangan selanjutnya, Toko Oen di Kota Malang dijual kepada seorang pengusaha yang bernama Dany Mugiato.


Bagaimana Suasana Tempat ini?
Klasik, itulah kesan pertama yang saya dapatkan memasuki bangunan di Toko Oen ini. Sebuah ruangan dengan gaya arsitektur bangunan Belanda yang khas dengan langit-langit bangunan yang cukup tinggi, pilar-pilar bangunan  cat berwarna putih yang mendominasi, pintu serta jendela kaca dengan bentuk yang lebar. Bangunan dengan konsep seperti ini memudahkan pergerakan surkulasi udara ke dalam ruangan serta masuknya cahaya dari luar sehingga menjadikan suasana di dalam ruangan cukup sejuk dan memiliki pencahayaan yang cukup. Deretan kursi rotan dengan postur rendah ditata rapi mengelilingi meja bundar dengan dekorasi lukisan suasana Malang tempo dulu semakin menambah kesan klasik suasana bangunan ini.



Satu hal yang paling saya suka dari Toko Oen ini adalah keberadaan kursi rotan dengan postur rendah yang sangat nyaman untuk diduduki. Dijamin, Anda akan betah untuk duduk berlama-lama menikmati suasana tempat ini, bercengkrama dengan teman atau keluarga sambil mencicipi menu-menu makanan yang disajikan. Menurut penuturan salah satu staf, penataan dekorasi ruangan di toko ini konon tak pernah diubah-ubah sejak berdiri pada tahun 1930. Ornamen dan dekorasi ruangan hingga kini masih dipertahankan menyeruapi suasana pada jaman Kolonialisme Belanda di masa lalu.


Apa Saja Menu di Toko Oen ini?
Dari segala menu yang disediakan di Toko Oen ini, menu es krim memang menjadi favorit di tempat ini. Misi utama kedatangan saya ke Malang kali ini adalah menuntaskan rasa penasaran saya dengan cita rasa es krim beserta suasana yang ditawarkan di Toko Oen ini. Es krim di Toko Oen ini memiliki 27 resep pilihan dan semuanya buatan sendiri alias home made, tanpa menggunakan bahan pengawet di dalam proses pembuatannya. Untuk icip-icip kali ini saya memesan es krim favorit di tempat ini, yaitu Oen's Special dan Tutti Frutti. Untuk es krim Oen's Special terdiri dari tiga scoop es krim ditemani dekorasi wafer cokelat, astor, whipped cream, dan buah ceri sebagai pemanis tampilan. Soal rasa memang es krim di sini tergolong biasa dibandingkan dengan es krim-es krim pada jaman kini yang terasa susu dan krim-nya. Es krim jadul memiliki tekstur yang lebih kasar, sekilas mirip dengan es lilin teksturnya ketika masuk ke dalam mulut, namun lebih halus dan rasa susunya lebih terasa. Manisnya pas, tidak terlalu manis sekali dan tidak menimbulkan rasa eneg di mulut. Oen's Special dibandrol dengan harga Rp 35.000,00 per-porsinya.


Next menu, Tutti Frutti ice cream ! Es krim berbentuk seperempat lingkaran ini memiliki cita rasa buah di bagian tengahnya dan dilapisi dengan cokelat di bagian luarnya. Menurut saya, es krim ini lebih terasa lumer ketika masuk ke dalam mulut. Cokelatnya tidak menimbulkan rasa eneg, manisnya juga terasa pas. Satu porsi Tutti Frutti dibandrol dengan harga Rp 21.000,00 (data bulan November 2012).


Selain menu es krim, Toko Oen juga terkenal dengan menu makanan Indo-Holand-nya. Beberapa menu yang sering di pesan oleh pengunjung antara lain adalah nasi goreng dan steak lidah. Kelezatan steak lidah di tempat ini konon cukup tersohor sehingga cukup banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara datang kemari untuk mencicipi. Selain menu-menu tadi, Toko Oen juga menyediakan beragam kue cake dan  tart dengan resep jaman kuno, beragam camilan seperti aneka kue-kue kering, sus, lemper, risoles, dan sebagainya yang dapat Anda bawa pulang sebagai oleh-oleh. Aneka macam kue kering dan camilan ini ditata rapi di toples-toples besar kuno yang diletakkan di bagian depan toko dekat pintu masuk


Apalagi Keunikan Toko Oen ini?
Selain menyajikan nuansa tempoe doeloe yang kental baik dari segi interior maupun eksteriornya, toko ini juga menyimpan keunikan tersendiri yang semakin melengkapi nuansa Kolonial Belanda yang disajikan. Kita dapat melihat dari tampilan pelayan yang berjaga di toko ini. Pelayanan laki-laki biasanya menggunakan baju dan celana safari putih dengan peci di kepala, sedangkan pelayan perempuan mengenakan gaun putih selutut. Pakaian model tersebut merupakan pakaian yang tren pada era tahun 1930-an. Satu lagi keunikan pelayanan di Toko Oen ini adalah beberapa pelayan ternyata cukup fasih berbahasa Belanda, sehingga tak heran banyak tamu dari turis asing yang sebagian besar berasal dari negeri Belanda yang berkunjung ke tempat ini untuk sekedar bernostalgia mengenang masa lalu mereka.

Jika dilihat dari segi harga untuk ukuran es krim yang dipesan memang tergolong cukup mahal. Menurut saya, Toko Oen tidak hanya menjual makanan namun juga suasana tempat yang mungkin sulit kita temui di tempat makan yang lain. Toko Oen memang memiliki atmosfer tersendiri yang membuat siapa pun betah untuk berlama-lama menikmati suasana toko jadul ini. Jika Anda mengunjungi Kota Malang, tidak afdol rasanya jika tidak menyempatkan untuk mampir ke tempat yang satu ini !

Keterangan :
alamat Toko Oen Malang
Jalan Jend. Basuki Rakhmad 5 Malang
telp (0341) 364052

Toko Oen Malang buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 21.30 WIB.
Harga yang tertera di dalam daftar menu belum termasuk pajak sebesar 10%

Sabtu, 15 Desember 2012

Candi Badut - Perpaduan Gaya Arsitektural Candi Jawa Tengah dan Jawa Timur

Melihat bangunan yang terbuat dari batuan andesit tersebut, pikiran serasa melayang membayangkan kejayaan di masa kerajaan. Candi, sebuah bukti kejayaan sekaligus bukti tingginya peradaban seni arsitektural dari masa lampau dari sebuah kerajaan.



Menemukan bangunan candi di Malang merupakan sebuah kejutan. Saya sebelumnya memang belum mengetahui tentang keberadaan bangunan candi di kota ini. Kebetulan melintas di kawasan perumahan Bukit Tidar, saya melihat tulisan "menuju ke Candi Badut", kemudian saya meminta teman saya untuk mampir ke bangunan tersebut. Secara administratif, Candi Badut terletak di Dusun Badut, Desa Karang Widoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Untuk berkunjung ke candi ini cukup melapor saja kepada petugas jaga yang berjaga di post penjagaan. Bedanya masuk ke area candi di daerah Jogja/Jawa Tengah dengan candi di Malang ini adalah kita tidak perlu membayar iyuran sepeser pun. Berbeda dengan candi-candi di Jogja maupun di Jawa Tengah
yang ada retribusi, baik yang resmi dari pemerintah maupun retribusi yang bersifat "suka rela".


Candi Badut memiliki satu buah bangunan induk candi. Candi ini masih dalam kondisi yang cukup terawat, namun sayang bagian atap candi sudah tidak ada. Mungkin saja sudah dalam kondisi yang rusak, atau mungkin dalam proses rekonstruksi. Di bagian candi utama terdapat sebuah ruangan yang cukup luas. Ruangan ini terdapat lingga dan yoni, lambang dari kesuburuan yang merupakan ciri khas dari bangunan candi dengan corak agam Hindu. Pemberian nama "badut" oleh penemunya yaitu Dr. Brandes dan Dr. VDK Bosch sendiri terkait dengan nama "liswa" yang tertulis dan prasasti Dinoyo. Prasasti ini memiliki angka tahun 862 saka atau 760 Masehi. Prasasti ini menceritakan daulu ada seorang raja yang bijaksana yang bernama Dewasinga. Di bawah naungan pemerintahannya, memancarlah api Putrikecwara yang menerangi sekelilingnya. Dewasinga ini memiliki anak yang bernama Raja Gajayana. Pembuatan prasasti ini juga bertepatan dengan diresmikannya Arca Agastya yang baru yang terbuat dari batu hitam yang sangat indah sebagai pengganti arca lama yang terbuat dari kayu cendana dan sudah lapuk. Di dalam prasasti Dinoyo ini pula disebutkan bahwa Raja Gajayana membuat sebuah bangunan suci yang sangat indah untuk Agastya dengan maksud untuk membinasakan penyakit. Nama "liswa" sendiri merupakan nama lain dari Raja Gajayana. Di dalam kamus bahasa Sansekerta, liswa memiliki arti yaitu anak kemidi atau tukang tari, di mana dalam bahasa jawa disebut badut (sumber : tulisan yang terpasang di papan informasi).



Perpaduan gaya arsitektural candi khas Jawa Tengah terlihat dari bagian kaki candi yang rata tidak diberi hiasan serta bagian bilik pintu yang  berpenampil. Pada bagian sisi badan candi memiliki relung-relung tempat menyimpan arca. Ciri khas dari candi dengan corak agama Hindu adalah adanya arca Ganesha, arca Durga, dan arca Agastya. Perpaduan ciri khas antara candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur ini dikaitkan dengan tahun pembuatan prasasti Dinoyo dan dikaitkan dengan pindahnya pusat kerajaan dari Dinasti Sanjaya yang bergeser ke arah timur karena terdesak oleh raja dari Dinasti Syailendra. Di bagian depan candi utama diperkirakan ada bangunan candi perwara (candi pengiring), terlihat dari bekas konstruksi bangunan. Di sekiataran candi utama terdapat reruntuhan batu bekas dari bangunan candi yang ditata sedemikian rupa. Di antara tumpukan batu tersebut terlihat arca Nandi (arca berbentuk sapi) dalam keadaan yang cukup memprihantinkan.



Saya memperhatikan beberapa batuan yang terangkai di sudut candi ini. Beberapa batuan memiliki pola seperti ukiran yang indah. Saya kurang tau apakah candi tersebut memang memiliki ukiran pada dinding bebatuannya, ataukah memang terbentuk secara alami. Satu hal yang cukup disayangkan adalah adanya tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab mengukirkan nama mereka di bebatuan candi. Ini dapat kita lihat di bagian dinding pada ruang utama candi. Saya sendiri juga masih belum paham dengan sejarah penamaan candi ini. Apa hubungannya tukang tari dengan sebutan "badut", yang jelas belum bisa masuk di dalam logika saya. Dari sumber lain yang saya baca, nama badut sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu bha-dyut yang berarti sorot bintang Canopus atau sorot Agastya.


Terlepas dari pemberian nama Badut pada candi ini, menurut saya candi ini recomended untuk dikunjungi. Selain kondisi candinya yang hampir 80% dalam keadaan utuh, kita pun dapat menikmati keindahan taman sederhana yang dibangun mengelilingi kompleks candi.

keterangan :
Bagi Anda yang ingin berkunjung ke candi ini, Anda dapat menggunakan angkot dengan rute AT dan turun di pangkalan Perum Tidar, lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek maupun jalan kaki. Lokasi candi ini berada di tengah-tengah pemukiman penduduk, jadi jangan ragu untuk bertanya kepada penduduk sekitar jika tidak ingin kesasar.

Jam buka mulai dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 15.00 sore.

Selasa, 11 Desember 2012

Pecel Pincuk ala Malang Untuk Menu Sarapan

Menyambangi sebuah kota tidak lengkap rasanya jika tidak menyambangi kuliner khasnya. Kota Malang, selain terkenal dengan pemandangan alamnya, kota ini juga menjadi salah satu tujuan untuk memanjakan lidah.


Kota Malang selain terkenal dengan pemandangan alam dan tata kotanya yang cukup menawan, juga menyimpan kekayaan kuliner khas yang siap memanjakan lidah Anda. Ada berbagai menu masakan di kota ini yang siap untuk Anda jelajahi. Salah satu menu yang menjadi ciri khas kota ini adalah bakso Malang atau dalam bahasa lokal setempat disebut dengan bakwan Malang. Tapi kali ini saya tidak akan membahas menu yang legendaris tersebut. Saya akan membahas mengenai nasi pecel ala Malang yang menjadi salah satu menu favorit untuk sarapan.

Lazimnya orang Indonesia, khususnya orang Jawa,
belum dikatakan makan jika belum menyantap nasi sebagai hidangannya. Begitu pula dengan menu sarapan, belum dikatakan sarapan jika belum memakan hidangan yang berat (baca : nasi). Salah satu menu favorit untuk sarapan di Malang adalah hidangan nasi pecel yang disajikan di atas pincuk. Pincuk adalah tempat makan yang terbuat dari daun pisang kemudian ditusuk dengan biting atau lidi pada salah satu sisinya. Sama halnya seperti pecel-pecel yang dijual di berbagai tempat, pecel pincuk ala Malang ini memiliki komposisi seperti aneka sayuran seperti bayam, kacang panjang, dan tauge yang direbus kemudian disiram dengan sambal kacang. Komposisi yang sedikit membedakan pecel pincuk ala Malang dengan pecel-pecel di daerah Solo atau Jogja adalah campuran potongan mentimun dan daun kemangi serta remahan rempeyek kacang. Untuk pilihan lauk, bisa memilih telur dadar, tempe goreng, tahu goreng, bakwan, dan sebagainya. Pilihan lauk yang saya ambil adalah telur dadar dengan mendol, kalau di tempat saya mirip seperti lentho yang berbahan dasar parutan singkong dicampur dengan tempe dan cabai. Mendol juga berbahan dasar tempe yang sudah hampir busuk, diberi campuran bawang merah, bawang putih, cabai, kemudian diberi irisan daun bawang. Adonan ini kemudian dihaluskan dan dibentuk oval kemudian digoreng. Mendol memiliki bau dan cita rasa yang khas, gurih bercampur sedikit pedas.

Satu porsi pecel pincuk dengan lauk telur dadar dan mendol dihargai Rp 7.000,00 saja. Cukup terjangkau untuk seporsi pecel pincuk yang mengenyangkan. Bagaimana soal rasa? Menurut saya cukup enak dan cocok dilidah. Masakan ala Malang memiliki rasa yang tidak terlalu asin seperti masakan daerah Jawa Timur khusunya Surabaya dan sekitarnya. Bagi saya yang tinggal di Jogja dan terbiasa dengan masakan manis, rasa pecel pincuk ini memang kurang terlalu manis di bagian sambal kacangnya sehingga ada rasa yang sedikit terasa ngambang di lidah. But overall rasa pecel pincuk ini masih bisa ditolerir karena taste-nya tidak terlalu asin di lidah. Bagi Anda yang ingin menikmati pecel pincuk ala Malang, Anda dapat menemukannya di sepanjang jalan yang menjual menu sarapan. Untuk saran saja sih, sebaiknya Anda berkeliling di sekitaran kompleks kampus atau perumahan karena biasanya banyak yang menjual pecel pincuk di area-area ini. 

Tugu Alun-Alun Bundar - Taman Bunga di Depan Kantor Balai Kota

Kota Malang terkenal dengan tata kotanya yang mempertahankan area hijau di segala penjuru kotanya. Mengunjungi kota ini mata selalu dimanjakan dengan suasana hijuanya pepohonan yang rindang serta hamparan tanaman bunga yang menawan.



Jalan-jalan pagi ini berlanjut menyusuri taman di salah satu sudut di Kota Malang. Bagi saya, salah satu ciri khas dari Kota Malang adalah penataan kotanya yang selaras dengan alam. Pepohonan besar tetap dibiarkan tumbuh subur di antara kuatnya laju pembangunan. Lahan terbuka hijau idealnya dimiliki oleh sebuah kota sebagai tempat yang bersifat public space area. Area terbuka ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas, seperti bersisialisasi maupun melakukan kegiatan-kegiatan positif lainnya.


Malang memiliki sebuah taman kota yang sangat cantik menurut saya. Tugu Alun-Alun Bundar, begitulah nama yang terpampang di salah satu sudut taman kota tersebut. Taman ini memiliki beberapa sebutan antara lain adalah Taman Tugu Balai Kota Malang, Taman Tugu Bunder, Alun-Alun Tugu, Alun-Alun Bundar, dan sebagainya. Dinamakan Tugu Alun-Alun Bundar karena secara kasat mata taman ini memang berbentuk lingkaran, di tengahnya terdapat sebuah tugu kebanggaan arek Malang, dan lokasinya berada persis di depan Balai Kota. Taman ini memiliki hamparan tanaman bunga yang sangat cantik dengan berbagai warna, dipadukan dengan pepohonan yang rindang. Di bagian tengah taman terdapat sebuah kolam yang ditumbuhi bunga teratai yang tumbuh dengan subur. Nah, di bagian tengah kolam inilah terdapat sebuah tugu berbentuk seperti lilin yang menjadi icon Kota Malang.


Tugu Alun-Alun Bundar ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Taman tugu ini dahulu dibangun pada zaman pemerintahan kolonial Hindia Belanda di bawah kepemimpinan Jendral Pieter Zoen Coen, berfungsi sebagai Taman Gubernur Jendral Hindia Belanda dengan konsep taman dengan ruang yang terbuka. Pada masa setelah kemerdekaan, dilakukan peresmian tugu peringatan proklamasi kemerdekaan yang ditanda tangani oleh Dulaenowo selaku Wakil Gubernur Jawa Timur, Mr. Soenarko selaku Residen Malang, dan AG Soeroto selaku ketua panitia pembangunan tugu yang dilakukan pada 17 Agustus 1946. Namun, pembangunan tugu tersebut sempat terhenti karena terjadi Agresi Militer Belanda 1. Arek-arek Malang memiliki keyakinan bahwa selama pondasi tugu tersebut masih berdiri, maka perjuangan arek-arek Malang tersebut tidak dapat dipatahkan. Keyakinan ini justru berubah menjadi petaka setelah tentara Belanda mendengarnya. Tugu tersebut kemudian dihancurkan oleh Belanda pada 23 Desember 1948. Setelah perang usai, tugu yang telah hancur dibangun kembali. Tugu tersebut akhirnya selesai dan diresmikan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953 dengan nama Tugu Nasional.

Tugu Alun-Alun Bundar ini memiliki fungsi yang cukup beragam. Fungsi taman kota ini antara lain adalah fungsi kesehatan karena banyaknya pepohonan yang tumbuh mengeluarkan oksigen untuk kebutuhan manusia. Fungsi ekologis yaitu dengan banyaknya jenis tanaman yang tumbuh subur serta penyediaan habitat untuk beberapa jenis burung sehingga dapat menjaga kualitas lingkungan kota. Taman kota sebagai tempat berolah raga dan sebagai tempat untuk rekreasi yang memiliki nilai sosial, ekonomi, dan juga edukasi. Fungsi yang terakhir adalah taman kota sebagai tempat yang memiliki nilai seni dan estetika yang menambah keindahan kota.


Taman ini memiliki letak yang sangat strategis di tengah-tengah kota. Selain terletak di depan Balai Kota Malang, taman ini juga dekat dengan pusat-pusat perekonomian seperti mall dan pusat perbelanjaan, pusat-pusat pendidikan, pusat pemerintahan, dekat dengan stasiun Kota Malang serta tak ketinggalan pasar hewan dan pasar bunga. Waktu berkunjung yang paling pas di Tugu Alun-Alun Bundar ini pada pagi dan sore hari ketika banyak masyarakat yang melakukan aktivitas olah raga di taman kota ini seperti jogging dan jalan santai, atau hanya sedekar berkumpul bersama teman-teman untuk berfoto bersama menikmati keindahan dan kesejukan taman kota Malang.

Senin, 10 Desember 2012

Gereja Santa Maria - Gereja Katedral dengan Arsitektur Belanda yang Kental

Kota Malang menyimpan keindahan arsitektur peninggalan zaman Kolonial Belanda yang hingga kini masih terawat. Mengunjungi Malang, serasa kita diajak untuk bernostalgia menikmati suasana masa lalu melalui bangunan-bangunan tua.


Sekitar pukul 04.30 pagi saya dan teman saya si enyak bergegas meninggalkan rumah untuk memulai petualangan menyusuri beberapa sudut di Kota Malang. Walaupun tergolong masih sangat pagi, namun matahari sudah cukup cerah menyinari kota Malang. Si enyak ini adalah teman SMA saya dulu yang kini tinggal di Malang. Selama di Malang saya nebeng di rumahnya, lumayan lah untuk menghemat ongkos untuk penginapan. Tujuan saya ke Malang kali ini adalah untuk berwisata kuliner dan juga wisata arsitektur. Tujuan pertama pagi ini adalah  menyusuri keindahan Gereja Santa Maria yang terletak di ujung Jalan Ijen, dekat dengan Universitas Negeri Malang. 


Jalan Ijen merupakan salah satu jalan yang cukup rapi penataannya menurut saya. Pohon-pohon masih dibiarkan tumbuh dengan subur sehingga memberikan kesan rindang di sepanjang jalan. Di sekitaran jalan ini masih banyak kita temui bangunan rumah bergaya kolonial Belanda yang hingga kini masih dipertahankan bentuknya. Suasana di pagi hari masih cukup sepi sehingga cukup memudahkan untuk  mengambil gambar tanpa terhalang lalu-lalang kendaraan. 

Selain sebagai tempat peribadatan umat Katholik, Gereja Katedral ini konon menjadi salah satu magnet daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Malang. Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Malang jika tidak menyempatkan untuk mengabadikan bangunan tua dengan ciri khas arsitektur Belanda yang terletak di ujung Jalan Ijen ini.

Mendadak Malang !

Perjalanan menyusuri pesisir selatan Jember saya akhiri dengan menikmati pemandangan alam di Pantai Watu Ulo, pantai pasir hitam dengan ombaknya yang cukup tenang. Saya pun menghampiri si bapak tukang ojek untuk meneruskan perjalanan. Jalur yang dilalui kali ini berbeda dengan jalur keberangkatan tadi. Kali ini jalur yang dipilih adalah menyusuri sepanjang pesisir selatan Jember dengan pemandangan perkampungan penduduk yang mendominasi. Si bapak menarik gas motor cukup kencang sehingga semilir angin pantai selatan menerpa badan. Ojek di daerah Papuma memang cukup rock n' roll, si bapak tidak tidak memberikan saya helm, lumayan bikin deg-deg-an juga karena si bapak membawa motor cukup kencang. Tapi siang itu saya cukup menikmati perjalanan pulang, walaupun matahari cukup terik menyengat seluruh kulit. Kali ini si bapak tukang ojek langsung mengantarkan saya menuju Terminal Ambulu, bukan di daerah perempatan seperti saya bertemu dengan si bapak tadi pagi.  Sesuai kesepakatan sebelumnya, untuk ongkos pulang ini saya membayar sebesar Rp 30.000,00 untuk sekali jalan.


Ambulu - Probolinggo via Akas Asri
Entah disadari atau tidak, bus Akas Asri memang cukup mendominasi bus yang melayani rute Malang, Pasuruhan, Probolinggo, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi. Siang itu sudah ada dua bus yang akan berangkat menuju Surabaya. Saya menunggu bus yang kedua karena bus tersebut sudah menggunakan AC. Sekitar 45 menit saya menunggu keberangkatan bus Akas Asri tersebut. Lumayan lama memang, namun saya sedikit terhibur dengan pemandangan alam daerah Ambulu yang cukup cantik. Deretan pegunungan kokoh mengelilingi bak sebuah benteng alami.

Karena tujuan saya berikutnya adalah kota Malang, maka saya putuskan untuk turun ke daerah Probolinggo untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Malang. Tarif bus dari Ambulu menuju Probolinggo adalah Rp 18.000,00 (data bulan November 2012) dengan waktu tempuh sekitar dua hingga tiga jam perjalanan, tergantung dengan kondisi jalan. Mengingat bus ini merupakan bus dengan kelas AC-Ekonomi, jadi harap bersabar jika di beberapa tempat si sopir akan nge-time untuk mencari penumpang dan juga banyak pengamen yang masuk silih berganti.

Probolinggo - Malang via Bus Patas
Sekitar pukul 16.00 saya tiba di terminal Probolinggo. Bagi saya terminal ini sudah cukup familiar sehingga saya langsung mencari bus patas tujuan Malang. Beruntung sore itu langsung ada bus patas yang menuju ke Malang. Tarif bus patas dari Probolinggo menuju Malang adalah Rp 23.000,00 (data bulan November 2012) dengan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan. Karena merupakan bus dengan kelas patas, maka Anda akan aman dari serbuan para pengamen sepanjang perjalanan Anda. Terminal Arjosari, merupakan terminal bus antar kota di Malang. Sesampainya di terminal ini, Anda dapat melanjutkan perjalanan menuju Malang kota dengan jasa angkot. Angkot di Malang beroperasi sampai malam hari sekitar pukul 21.00, namun dengan tarif yang disesuaikan. Tarif angkot pada umumnya adalah Rp 2.500,00 per-orang, namun berhubung saya sampai Malang sudah malam, si sopir angkot meminta penumpang untuk membayar tarif sebesar Rp 5.000,00.