Tampilkan postingan dengan label candi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label candi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Desember 2014

Objek Wisata Sejarah Candi Borobudur | Jawa Tengah

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai sejarah singkat mengenai Candi Borobudur | Candi borobudur adalah sebuah peninggalan candi budha yang terletak di Borobudur, daerah Magelang Jawa Tengah. Jarak lokasi candi borobudur dengan daerah semaragn kurang lebih 100 km dari sebelah daya barat surakarta. Candi borobudur didirikan oleh penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.
Candi Borobudur Jawa Tengah
Candi borobudur bisa disebut sebagai salah satu karya terbesar manusia sepanjang sejarah, dan candi Borobudur merukan suatu karya seni yang memiliki nilai tinggi dalam setiap pahatannya. Tempat wisata ini menjadi bukti kemajuan dari peradaban umat manusia zaman dahulu dalam bidang arsitektur, teknologi, seni sastra dan lainnya.

Didalam candi ini terdapat dua museum yaitu Museum Samudra Raksa dan Museum Karmawibhangga. Museum Samudra Raksa memiliki informasi mengenai sejarah perdagangan Asia – Afrika pada zaman dahulu, sedangkan Museum Karmawibhangga berisi informasi mengenai pembangunan candi Borobudur.
Patung Budha di Candi Borobudur
Pengunjung di Candi Borobudur
Wisata ini banyak sekali memiliki objek menarik untuk para wisatawan, hal tersebut bisa dilihat dari arsitektur-arsitektur yang menarik untuk di dokumentasikan dan juga dikenal memiliki pemandangan matahari terbit dan terbenam yang indah.
Pemandangan Sunrise di Candi Borobudur Jawa Tengah
Souvenir di Kawasan Candi Borobudur
Hal menarik lainnya yaitu tidak lengkap jika mengunjungi candi Borobudur tanpa membeli cindera mata khasnya candi Borobudur, para wisatawan bisa membeli beragam barang mulai dari kaos, tas, gantungan kunci dan lainnya. Harga yang ditawarkan relatif murah dan tidak terlalu mahal hal tersebut tergantung dari para wisatawan yang memiliki bakat untuk menawar barang.

Sekian pembahasan mengenai Candi Borobudur semoga artikel ini cukup bermanfaat bagi pembaca dan apabila ada salah kata saya sebagai penulis mohon maaf, tks .




Selasa, 21 Oktober 2014

Candi Abang - The Imaginative Temple

Di daerah Yogyakarta dan sekitaran Jawa Tengah banyak ditemukan bangunan-bangunan candi yang hingga kini masih bisa nikmati keberadaannya. Peradaban Hindu-Budha mulai dari Dinasti Sanjaya hingga Dinasti Syailendra tumbuh subur di kawasan ini, maka tak heran jika beberapa peninggalan mereka masih bisa kita nikmati hingga sekarang. Hari Sabtu kemarin (18/10) saya diajak oleh kawan untuk jalan-jalan menuju kawasan Candi Abang. Bagi saya, candi ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan candi-candi kecil lain yang pernah saya kunjungi sebelumnya.


Matahari pagi ini cukup terik, laju motor pun saya arahkan menuju kawasan Berbah yang tak jauh dari daerah Prambanan. Udara panas dan berdebu khas musim kemarau menyambut perjalanan kami pagi ini sepanjang menyusuri kawasan Berbah. Beberapa pepohonan nampak meranggas, namun terlihat kontras dengan tanaman palawija nampak cukup subur tumbuh di ladang-ladang yang dikelola oleh penduduk sekitar. Tibalah kami di sebuah bukit, dengan jalan aspal baru berkontur menanjak menuju sebuah perkampungan yang tak jauh dari lokasi di mana Candi Abang berada. Kami pun berhenti di salah satu rumah penduduk, kemudian meminta izin untuk menitipkan motor kami.


Dari perkampungan sekitar, kami lanjutkan perjalanan menuju Candi Abang dengan berjalan kaki. Nampak hutan jati yang meranggas diterjang panasnya musim kemarau setia menemani sepanjang perjalanan menuju lokasi. Bukit kecil pun harus kami daki sebelum tiba di mana Candi Abang berada. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, candi ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan candi-candi kecil yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Anda tidak akan menemukan bangunan candi yang sepenuhnya utuh, yang terbuat dari bongkahan material batu andesit sebagaimana ciri khas bangunan candi yang tersebar di Yogyakarta dan sekitaran Jawa Tengah, malainkan sebuah gundukan tanah yang menjulang membentuk sebuah bukit. Jika diperhatikan dengan seksama, maka Anda akan menemukan banyak potongan batu bata merah yang sebagian terkubur di dalam tanah,  sebagian lagi tampak berserakan di sekitaran bukit tersebut. 

Candi Abang berlokasi di atas perbukitan. Pembangunan candi yang berada di atas bukit memang memiliki sebuah alasan. Orang-orang jaman dahulu menganggap bahwa tempat yang tinggi, dalam hal ini adalah perbukitan, dipercaya sebagai tempat bersemayamnya dewa-dei yang mereka puja dalam ajaran mereka. Maka dari itulah dibangun sebuah candi yang berguna sebagai tempat pemujaan, salah satunya adalah untuk memohon kesuburan. Bukit di Candi Abang tersebut akan nampak gersang, tertutup oleh rerumputan yang tampak menguning di musim kemarau. Pun jika musim penghujan, bukit tersebut akan nampak terlihat kehijauan ditutupi oleh rerumputan. Ada yang bilang, jika Candi Abang disandingkan bak Bukit Teletubies-nya Jogja. Candi Abang yang tertutup oleh gundukan tanah mau tak mau membuat kita penasaran, bagaimana rupa asli dari bangunan candi ini. Imajinasi kita seakan diajak menerka-nerka, membayangkan bagaimana rupa sang Candi Abang di masa lampau sebelum tertimbun oleh material tanah hasil letusan gunung berapi pada masa silam.

Batu Bata Merah
Boleh dikata, Candi Abang memang cukup nyeleneh jika dibandingkan dengan bangunan candi lainnya. Konstruksi bangunannya menggunakan batu bata merah, berbeda dengan bangunan candi pada umumnya di sekitaran Jawa Tengah yang menggunakan batu andesit sebagai bahan bangunannya. Bangunan candi dengan konstruksi batu bata merah mengingatkan kita dengan bangunan-bangunan candi yang tersebar di daerah Jawa Timur yang dibangun pada masa kekuasaan Kerajaan Majapahit. Jika dirunut lagi, keberadaan bangunan candi yang ada di sekitaran Jawa Tengah rata-rata dibangun pada masa kerajaan Mataram Kuno yang memiliki usia jauh lebih tua jika dibandingkan dengan Kerajaan Majapahit bukan? Tapi mengapa, bangunan Candi Abang ini menggunakan batu bata merah sebagai bahan utama pembuatan candi? 

Setiap lokasi memiliki cerita tersendiri, begitu juga dengan Candi Abang ini. Konon katanya di Candi Abang ini tersimpan harta karun, sehingga menarik beberapa pihak yang tidak bertanggung jawanb untuk menggali gundukan bukit di Candi Abang ini guna menemukan harta karun tersebut. Ada pula cerita mistik tentang orang-orang yang mengadakan ritual untuk mencari pesugihan, atau kepercayaan warga sekitar kenapa di atas gundukan bukit tersebut tidak ditumbuhi pohon besar melainkan hanya rerumputan.


Kondisi Candi Abang Kini
Walaupun infrastruktur jalan menuju Candi Abang sudah dibilang cukup memadai, namun ada beberapa hal yang sedikit membuat miris saya ketika mengunjungi candi ini. Candi ini terkesan kurang mendapatkan perhatian dari pihak-pihak terkait. Papan informasi pun masih terlihat kosong, sehingga pengunjung yang datang tidak bisa mendapatkan informasi tertulis terkait dengan keberadaan Candi Abang ini, seperti sejarah dan tahun penemuan candi misalnya. Perbukitan di sekitar Candi Abang pun juga sebagian "dialih fungsikan" sebagai track offroad sepeda. Namun, ada pula beberapa motor yang juga "mencoba" melewati jalur track ini. Di sisi lain memang keberadaan track offroad sepeda (yang kadang digunakan juga oleh motor untuk mencoba jalur offroad) ini bisa meramaikan lokasi Candi Abang, namun semoga saja keberadaan mereka tidak merusak sebagian kawasan peninggalan cagar budaya.


Pemandangan Cantik dari Atas Bukit
Jika kita menaiki puncak bukit di Candi Abang, maka perhatikanlah kondisi lingkungan sekitar. Kitaakan menemukan pemandangan yang cukup kontras antara bukit di Candi Abang dengan kondisi yang ada di sekitar. Bukit di Candi Abang akan terasa cukup kering dan gersang, berdeda dengan kondisi yang ada di bawah bukit yang terlihat menghijau oleh tanaman padi dan palawija yang tumbuh subur di sana. Kawasan di sekitar Berbah memang dijuluki sebagai salah satu lumbung padi di kawasan Sleman. Maka tak heran jika persawahan di sekitar kawasan ini tumbuh dengan subur. 

Bangunan candi yang dibangun di tempat yang gersang juga biasanya menandakan jika candi tersebut merupakan candi untuk pemujaan Dewa Siwa. Candi Siwa biasanya memiliki ciri khas adanya bangunan candi yang memiliki lingga dan yoni. Di kawasan Candi Abang memang belum ditemukan bangunan lingga dan yoni tersebut. Namun, menurut penuturan teman saya yang mengajar sejarah, ciri khas lain dari Candi Siwa biasanya dibangun di tempat gersang berfungsi sebagai tempat memuja Dewa Siwa guna memohon kesuburan di daerah sekitarnya. Entahlah, saya juga masih belum mencari literatur lebih mendalam lagi mengenai candi-candi mengenai corak Hindu maupun Budha, semoga opini di dalam tulisan saya tentang Candi Abang ini tidak menyesatkan, huehehehe !


Oh iya, di sekitar Candi Abang ini juga ada sebuah pohon duwet yang cukup langka sekarang keberadaannya. Pada jaman saya masih kecil, saya sering menjumpai buah ini tumbuh subur di beberapa tempat. Tapi sekarang rasanya saya sudah jarang sekali menemukan buah ini. Buah duwet memiliki bentuk lonjong bulat dengan warna kehitaman. Rasanya sepat-sepat manis. Awalnya saya cukup heran ketika melihat beberapa remaja lokal yang betah lama-lama memanjat pohon. Setelah saya dekati, ternyata mereka sedang mencari buah duwet ini !

Terlepas dari cerita yang ada serta teka-teki tentang candi ini, bangunan Candi Abang memang mengajak kita untuk berimajinasi membayangkan bagaimana bentuk sesungguhnya bangunan candi ini. Bahan materialnya yang terbuat dari batu bata merah yang dirasa cukup nyeleneh dibandingkan dengan bangunan candi yang ada di sekitaran Jawa Tengah semakin membuat penasaran rasa ingin tahu serta imajinasi tentang keberadaan Candi Abang ini.

Senin, 25 Februari 2013

Candi Plaosan - Menikmati Sunrise yang Mengesankan

Saya selalu menikmati datangnya pagi, karena banyak hal menarik yang telah menanti untuk dinikmati !



Bangun di pagi buta ketika orang-orang masih memejamkan mata menikmati peraduan sebelum kembali dengan padatanya ritunitas keseharian. Langit pun masih nampak gelap, diselimuti lampu-lampu di sepanjang pemukiman yang tampak gemerlapan. Udara dingin yang menusuk badan serta heningnya suasana sang fajar tak menghalangi niat saya dan teman-teman untuk menuju Candi Plaosan yang terletak di sebelah timur Kota Yogyakarta. Pukul 03.45 dini hari, saya bersama teman-teman pun berangkat menuju lokasi Candi Plaosan tersebut, berharap mendapatkan pemandangan matahari terbit seperti yang kami inginkan. Jalanan di Kota Jogja yang semula lengang, berubah cukup padat dengan lalu-lalang kendaraan ketika memasuki Jalan Solo, jalan utama yang menghubungkan Kota Jogja dengan Kota Solo.


Semburat cahaya keemasan pun menyambut kami ketika memasuki kawasan Bugisan, sebuah perkampungan yang terletak di sebelah timur Kompleks Candi Prambanan. Motor pun kami pacu lebih cepat agar segera sampai ke tujuan, sayang jika sampai terlewat momen yang kami inginkan. Sesampainya di kompleks Candi Plaosan pun, terjadi "insiden" yang tidak seperti kami harapkan. Petugas keamanan yang berjaga di Candi Plaosan pun tidak memperbolehkan kami masuk ke dalam kompleks candi begitu saja. Lobi yang kami lakukan pun seolah tidak mempan. Si bapak petugas (sok) sibuk menelpon atasannya yang katanya sedang ada di Candi Prambanan untuk memberitahukan kedatangan kami. Singkat cerita, sebelum kami masuk ke candi sebelum jam buka yaitu jam 8 pagi, kami harus mengantongi izin terlebih dahulu dari sang atasan mereka. Ujung dari cerita tersebut adalah si bapak penjaga meminta sejumlah imbalan  (walaupun dengan nada halus) yang pas dibagi untuk 8 orang, sesuai jumlah petugas yang berjaga di Candi Plaosan pagi itu, barulah kami diizinkan untuk masuk berkeliling dan mengambil gambar di dalam area Candi Plaosan !

Apakah kami memberikan imbalan yang dimaksud yang pantas dibagi sejumlah 8 orang sesuai permintaan si bapak? Tentu saja TIDAK ! Saya segera berinisiatif mengajak teman-teman saya meninggalkan pos penjagaan di pintu masuk candi, lalu mengajak mereka untuk mengambil gambar di luar kompleks candi, tepatnya di ladang milik penduduk. Ya, pengelolaan candi-candi marjinal di bawah naungan BP3 Jawa Tengah dan Yogyakarta memang memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Lihat saja, candi-candi marjinal di bawah naungan BP3 Yogyakarta sudah memiliki sistem retribusi tiket masuk yang jelas, berbeda dengan naungan BP3 Jawa Tengah (khususnya di sekitaran daerah Jogja) yang menerapkan sistem retribusi membayar secara suka rela yang cukup rentan terhadap "pemalakan" terhadap pengunjung karena tidak ada aturan yang jelas. Di satu sisi saya mencoba memahami permasalahan yang terjadi, di mana si petugas jaga memang memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk menjaga keamanan candi beserta isinya, walaupun (mungkin) di sisi lain gaji yang mereka peroleh tidak sepadan dengan tanggung jawab yang mereka emban, mungkin saja . . . . Kelakuan oknum-oknum semacam ini pun dapat mengurangi kenyamanan wisatawan, terutama yang ingin menikmati candi-candi marjinal.

Walaupun agak sedikit ada rasa kecewa, namun kami cukup menikmati matahari terbit di kawasan Candi Plaosan ini, walaupun dari luar pagar. Panorama cantik karya Sang Pencipta seolah menghipnotis kami berlima pagi itu !






Puas menikmati sunrise dengan latar belakang Candi Plaosan, kejutan demi kejutan pun kami dapatkan pagi itu, seolah mengobati kekecewaan kami arena tidak dapat mengambil gambar di dalam area kompleks candi. Pemandangan cantik Merapi di sisi utara, semakin menambah rasa syukur kami terhadap karya agung Sang Pencipta.



Selasa, 19 Februari 2013

Situs Arca Gupolo - Situs Arkeologi yang Tersembunyi di Dekat Candi Ijo

Melihat bongkahan batu yang terpahat sedemikian rupa hingga membentuk sebuah maha karya bernilai sejarah tinggi akan menimbulkan decak kagum bagi siapa saja yang melihatnya. Di balik keeksotisannya, arca ini memiliki cerita pilu karena keberadaannya seolah dibiarkan begitu saja.



Sinar matahari pun tidak terasa begitu terik menyinari karena mendung yang menggelayuti awan hari siang hari ini. Saya mendaatkan mandat dari seorang teman yang penasaran akan keberadaan Candi Ijo, sebuah candi yang terletak di perbukitan paling tinggi di antara candi-candi lain yang tersebar di daerah Jogja. Selesai menjelajahi Candi Ijo, saya pun teringat akan keberadaan Arca Gupolo yang terletak tidak jauh dari kompleks candi ini. Saya pun bergegas mencari infomasi dari petugas yang berjaga di candi tentang keberadaan Arca Gupolo ini.

Arca Gupolo terletak di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Jalur yang dilalui untuk dapat menuju Arca Gupolo memang searah dengan jalur menuju Candi Ijo, namun tidak sampai mendaki ke bukit. Keberadaan Arca Gupolo ini memang sedikit tersembunyi. Lokasinya berada di tengah-tengah hutan di antara pemukiman penduduk. Tak perlu khawatir tersasar, cukup bertanya saja kepada penduduk setempat, mereka akan senang hati memberikan petunjuk arah kepada Anda. Saya sendiri kurang begitu ingat patokan jalan untuk menuju lokasi Arca Gupolo ini, yang saya ingat susuri jalan menuju Candi Ijo sampai menemukan gapura Desa Sambirejo. Lurus sedikit hingga menemukan gang ke arah kanan, belok saja lalu susuri jalan tersebut hingga menemukan industri pengolahan batu di kiri jalan yang dikelola oleh penduduk. Tinggal meminta izin saja kepada penduduk setempat untuk menitipkan kendaraan Anda, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuruni bukit yang sudah dibangun jalan setapak namun sedikit licin.


Arca Gupolo merupakan kumpulan dari tujuh buah arca dengan kondisi yang berserakan. Mereka diletakkan dengan jarak yang saling berdekatan. Arca Gupolo yang paling terkenal merujuk pada sebuah arca yang berdiri gagah dengan ukuran cukup besar yakni mencapai tinggi sekitar dua meter yang dijuluki Agastya. Arca ini mengenakan pakaian dengan motif bunga-bunga yang terlihat samar serta membawa senjata yang bernama trisula yang masih terlihat cukup jelas. Senjata trisula ini merupakan perlambang dari Dewa Siwa. Sedikit rancu memang jika arca Agastya ini diberikan sebutan sebagai Arca Gupolo. Sepengetahuan saya sebutan "gupolo" ini merujuk pada arca besar penjaga pintu masuk menuju candi. Di sebelah arca yang besar tersebut terdapat sebuah arca perwujudan Dewa Siwa dalam posisi duduk bersila. Arca tersebut memang dalam kondisi yang memprihatinkan sehingga detailnya kurang bisa kita lihat. Di sekeliling kedua arca besar tersebut terdapat beberapa arca kecil dengan posisi duduk bersila dengan kondisi yang lebih memprihatinkan. Beberapa arca sudah dipenggal kepalanya dan sudah hilang detail ukirannya. Legenda yang beredar pada masyarakat setempat menyebutkan bahwa Gupolo dahulu merupakan maha patih atau perdana menteri dari Raja Ratu Boko, ayahanda dari Roro Jonggrang. Sementara di dalam mitologi Hindu, Maha Resi Agastya digambarkan sebagai seorang resi yang sangat sakti dan cukup disegani.


Keberadaan Arca Gupolo ini memang seolah dilupakan dan tidak mendapatkan perhatian. Menurut penuturan penduduk setempat, dahulu Situs Arca Gupolo ini diberikan bangunan atap pelindung untuk melindungi arca. Bangunan atap tersebut terbuat dari seng. Namun karena faktor waktu dan cuaca, atap ini pun akhirnya rusak, ang terlihat kini tinggallah konstruksi bangunan patok penyangga di beberapa sisi dekat arca. Ada hal yang unik dari patok penyangga ini karena terdapat tulisan di dalamnya, di antaranya menggunakan bahasa Belanda di dalam tulisannya. Ya, mungkin saja dahulu bangunan penyangga ini merupakan bantuan hibah dari pemerintah Belanda.


Keunikan lain dari Situs Arca Gupolo ini adalah keberadaan sumur yang bersebelahan dari lokasi arca. Sumur ini merupakan sumber mata air jernih yang hingga saat ini masih dimanfaatkan airnya oleh penduduk setempat untuk memenuhi kebutuhan MCK. Sumber mata air ini tidak pernah kering, walaupun musim kemarau melanda. Lokasi Situs Arca Gupolo ini berada di tengah-tengah lahan kapur yang cukup tandus, sehingga dengan adanya sumber mata air bersih di sumur ini sangat membantu memenuhi kebutuhan air bersih penduduk setempat. Berada di tengah-tengah hutan, menjadikan Situs Arca Gupolo ini selain memiliki udara yang cukup sejuk, juga memiliki pemandangan bukit yang cukup menarik di antara sela-sela lebatnya daun-daun yang tumbuh rindang.

Sabtu, 15 Desember 2012

Candi Badut - Perpaduan Gaya Arsitektural Candi Jawa Tengah dan Jawa Timur

Melihat bangunan yang terbuat dari batuan andesit tersebut, pikiran serasa melayang membayangkan kejayaan di masa kerajaan. Candi, sebuah bukti kejayaan sekaligus bukti tingginya peradaban seni arsitektural dari masa lampau dari sebuah kerajaan.



Menemukan bangunan candi di Malang merupakan sebuah kejutan. Saya sebelumnya memang belum mengetahui tentang keberadaan bangunan candi di kota ini. Kebetulan melintas di kawasan perumahan Bukit Tidar, saya melihat tulisan "menuju ke Candi Badut", kemudian saya meminta teman saya untuk mampir ke bangunan tersebut. Secara administratif, Candi Badut terletak di Dusun Badut, Desa Karang Widoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Untuk berkunjung ke candi ini cukup melapor saja kepada petugas jaga yang berjaga di post penjagaan. Bedanya masuk ke area candi di daerah Jogja/Jawa Tengah dengan candi di Malang ini adalah kita tidak perlu membayar iyuran sepeser pun. Berbeda dengan candi-candi di Jogja maupun di Jawa Tengah
yang ada retribusi, baik yang resmi dari pemerintah maupun retribusi yang bersifat "suka rela".


Candi Badut memiliki satu buah bangunan induk candi. Candi ini masih dalam kondisi yang cukup terawat, namun sayang bagian atap candi sudah tidak ada. Mungkin saja sudah dalam kondisi yang rusak, atau mungkin dalam proses rekonstruksi. Di bagian candi utama terdapat sebuah ruangan yang cukup luas. Ruangan ini terdapat lingga dan yoni, lambang dari kesuburuan yang merupakan ciri khas dari bangunan candi dengan corak agam Hindu. Pemberian nama "badut" oleh penemunya yaitu Dr. Brandes dan Dr. VDK Bosch sendiri terkait dengan nama "liswa" yang tertulis dan prasasti Dinoyo. Prasasti ini memiliki angka tahun 862 saka atau 760 Masehi. Prasasti ini menceritakan daulu ada seorang raja yang bijaksana yang bernama Dewasinga. Di bawah naungan pemerintahannya, memancarlah api Putrikecwara yang menerangi sekelilingnya. Dewasinga ini memiliki anak yang bernama Raja Gajayana. Pembuatan prasasti ini juga bertepatan dengan diresmikannya Arca Agastya yang baru yang terbuat dari batu hitam yang sangat indah sebagai pengganti arca lama yang terbuat dari kayu cendana dan sudah lapuk. Di dalam prasasti Dinoyo ini pula disebutkan bahwa Raja Gajayana membuat sebuah bangunan suci yang sangat indah untuk Agastya dengan maksud untuk membinasakan penyakit. Nama "liswa" sendiri merupakan nama lain dari Raja Gajayana. Di dalam kamus bahasa Sansekerta, liswa memiliki arti yaitu anak kemidi atau tukang tari, di mana dalam bahasa jawa disebut badut (sumber : tulisan yang terpasang di papan informasi).



Perpaduan gaya arsitektural candi khas Jawa Tengah terlihat dari bagian kaki candi yang rata tidak diberi hiasan serta bagian bilik pintu yang  berpenampil. Pada bagian sisi badan candi memiliki relung-relung tempat menyimpan arca. Ciri khas dari candi dengan corak agama Hindu adalah adanya arca Ganesha, arca Durga, dan arca Agastya. Perpaduan ciri khas antara candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur ini dikaitkan dengan tahun pembuatan prasasti Dinoyo dan dikaitkan dengan pindahnya pusat kerajaan dari Dinasti Sanjaya yang bergeser ke arah timur karena terdesak oleh raja dari Dinasti Syailendra. Di bagian depan candi utama diperkirakan ada bangunan candi perwara (candi pengiring), terlihat dari bekas konstruksi bangunan. Di sekiataran candi utama terdapat reruntuhan batu bekas dari bangunan candi yang ditata sedemikian rupa. Di antara tumpukan batu tersebut terlihat arca Nandi (arca berbentuk sapi) dalam keadaan yang cukup memprihantinkan.



Saya memperhatikan beberapa batuan yang terangkai di sudut candi ini. Beberapa batuan memiliki pola seperti ukiran yang indah. Saya kurang tau apakah candi tersebut memang memiliki ukiran pada dinding bebatuannya, ataukah memang terbentuk secara alami. Satu hal yang cukup disayangkan adalah adanya tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab mengukirkan nama mereka di bebatuan candi. Ini dapat kita lihat di bagian dinding pada ruang utama candi. Saya sendiri juga masih belum paham dengan sejarah penamaan candi ini. Apa hubungannya tukang tari dengan sebutan "badut", yang jelas belum bisa masuk di dalam logika saya. Dari sumber lain yang saya baca, nama badut sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu bha-dyut yang berarti sorot bintang Canopus atau sorot Agastya.


Terlepas dari pemberian nama Badut pada candi ini, menurut saya candi ini recomended untuk dikunjungi. Selain kondisi candinya yang hampir 80% dalam keadaan utuh, kita pun dapat menikmati keindahan taman sederhana yang dibangun mengelilingi kompleks candi.

keterangan :
Bagi Anda yang ingin berkunjung ke candi ini, Anda dapat menggunakan angkot dengan rute AT dan turun di pangkalan Perum Tidar, lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek maupun jalan kaki. Lokasi candi ini berada di tengah-tengah pemukiman penduduk, jadi jangan ragu untuk bertanya kepada penduduk sekitar jika tidak ingin kesasar.

Jam buka mulai dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 15.00 sore.

Minggu, 18 November 2012

Candi Dwarawati - Candi Kecil yang Letaknya Menyendiri


Keberadaan Candi Dwarawati ini memang kurang begitu dikenal oleh wisatawan yang berkunjung di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Candi Dwarawati memang tidak seterkenal seperti Kompleks Candi Arjuna yang ramai oleh kunjungan wisatawan. Candi ini nyaris sepi dari kunjungan wisatawan karena lokasinya yang sedikit tersembunyi di antara kompleks perkampungan warga dan juga deretan perkebunan kentang. Saya sendiri pun baru mengetahui candi ini setelah diajak survei oleh teman saya yang merupakan mahasiswa jurusan Arkeologi. 


Menurut sejarah, Candi Dwarawati ini sebenarnya merupakan sebuah kompleks bangunan percandian seperti di Kompleks Candi Arjuna. Dahulu terdapat bangunan Candi Pandu, Candi Margasari, Candi Margasari dan juga Candi Dwarawati. Namun sayang, ketiga bangunan candi yang lain sudah tidak berbentuk lagi, tinggal tersisa bangunan Candi Dwarawati yang kemudian dipugar pada tahun 1980 untuk mengembalikan bentuk bangunannya yang berantakan ketika ditemukan. Candi Dwarawati merupakan kompleks candi yang berada di bagian timur Dataran Tinggi Dieng, tepatnya di wilayah Bukir Perahu. Secara administratif, candi ini berada di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. 


Candi Dwarawati memiliki dimensi ukuran panjang 5 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 6 meter. Pada bagian dinding luar candi terdapat bangunan relung candi dengan bentuk melengkung dan meruncing pada bagian atasnya. Relung inilah sebagai tempat untuk meletakkan arca. Namun sayang, relung-relung tersebut yang seharusnya diisi dengan arca Ganesha, Agastya, dan Dewi Durga ternyata dalam keadaan kosong, entah dicuri atau malah diamankan di Museum Kailasa? Hal unik lainnya dari candi ini adalah kesan seolah-olah candi ini memiliki bangunan bertingkat karena kemiripan antara bangunan bagian atap candi dengan bagian tubuh candi. Selain itu pada bagian atap candi terdapat ukiran-ukiran cantik di sekitar relungnya. Satu hal lagi yang disayangkan, bagunan atap candi ini entah di mana, hilang tidak menyatu dengan bagian candi lainnya, atau mungkin ditumpuk di sekitar candi, karena terlihat beberapa batuan candi yang berserakan.



Sangat disayangkan memang jika benda-benda peninggalan bersejarah semacam ini hanya dibiarkan begitu saja tanpa mendapatkan perhatian untuk dilestarikan. Saya hanya membayangkan jika candi ini memiliki bentuk yang utuh alangkah indahnya bangunan ini. Di kompleks Candi Dwarawati ini tidak ada petugas yang berjaga. Pengunjung bisa bebas masuk ke dalam candi kapan saja. Ya, mungkin saja penduduk yang tinggal di sekitar kompleks candi inilah yang ikut serta menjaga dan merawat keberadaan bangunan Candi Dwarawati ini.

Lokasinya yang dikelilingi oleh perbukitan dan hamparan perkebunan kentang, menjadikan kompleks Candi Dwarawati ini memiliki udara yang cukup sejuk. Sayang, sore itu udara mendung dan kabut mulai turun, jadilah kami kurang mendapatkan pemandangan alam yang mengelilingi Candi Dwarawati ini. Ya, dan lagi-lagi kekurangan informasi mengenai keberadaan candi ini menjadikan pengunjung kurang mendapatkan edukasi yang memadai mengenai sejarah Candi Dwarawati ini. Semoga pihak yang terkait segera menambah fasilitas seperti papan pengumuman yang berisi mengenai cerita singkat sejarah berdirinya candi, kapan ditemukan hingga tahapan pemugaran. Adanya fasilitas tambahan informasi semacam itu akan membuat pengunjung mendapatkan tambahan pengetahuan mengenai sejarah peninggalan bangsa dari masa lalu. 

Sabtu, 03 Maret 2012

Candi Prambanan

Candi Prambanan adalah peninggalan kebudayaan Hindu yang terbesar di Indonesia. Bersama dengan Candi Borobudur, Candi Prambanan adalah salah satu tujuan wisata sejarah utama bagi wisatawan Indonesia.

Keeksotisan desain dan legenda yang mengiringi dibangunnya candi inimembuat wisatawan mancanegara pun penasaran untuk berkunjung.

Candi Prambanan terletak di Sleman, Yogyakarta. Jika berkunjung ke Candi Prambanan Anda akan disuguhkan kisah pewayangan Ramayana dan Krisnayana yang terukir pada relief Candi.

Candi Prambanan memiliki 3 candi besar utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut memiliki ukuran yang jauh lebih besar ketimbang candi-candi kecil di sekitarnya. Mengapa dibangun 3 candi besar ? Hal ini dikarenakan 3 adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu.

Candi Prambanan memiliki legenda yang tersohor hingga ke seluruh pelosok Indonesia,bahkan mancangara. 2 Tokoh utama dalam legenda tersebut adalah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Tentulah Anda telah mengetahui bagaimana kisah legenda tersebut, yang menurut cerita adalah sejarah terbentuknya Candi Prambanan.