Tampilkan postingan dengan label jawa tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jawa tengah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Februari 2016

Umbul Sidomukti - Kolam Pemandian dengan Latar Perbukitan

Kolam pemandian terbuka dengan suasana latar belakang perbukitan menjadi daya tarik tersendiri di Umbul Sidomukti ini. Segarnya air yang berasal dari sumber mata air pegunungan dipadu dengan udara bersih nan sejuk, membuat siapa saja ingin menikmati kesegaran air di kolam pemandian terbuka. Lokasinya yang berada di ketinggian perbukitan, seolah memberi sensasi seperti sedang berenang di atas awan.



Kabut tipis menyambut kedatangan saya ketika memasuki kawasan wisata Umbul Sidomukti di daerah Bandungan. Perjalanan menuju Umbul Sidomukti memang cukup menantang, jalan sempit melintasi perkampungan yang sesekali melewati area jurang memang mengharuskan pengemudi untuk selalu ekstra waspada selama perjalanan. Belum lagi jika harus terjadi simpangan antar kendaraan roda empat, salah satu pun harus mengalah karena jalanan yang dilalui cukup sempit. Ditambah dengan tanjakan-tanjakan yang curam serta kelokan tajam siap memompa adrenalin untuk menuju kawasan wisata ini. Namun, semua "kengerian" tersebut terbayar lunas dengan pemandangan alam yang disajikan sepanjang perjalanan. Kebun sayur milik warga yang nampak subur, tanaman cabai dan buncis yang terlihat menggoda, serta aktivitas para petani yang sibuk menggarap ladang menjadi pemandangan menarik sepanjang perjalanan menuju kawasan umbul.


Dari area parkir kendaraan di bagian atas, terlihat samar pemandangan Rawa Pening dari atas ketinggian. Sayang, pemandangan Rawa Pening tersebut sedikit tertutup oleh kabut yang menyelimuti bagian bukit ketika saya datang. Mata pun seketika dimanjakan dengan pemandangan serba hijau di area perbukitan. Saya dan rombongan kemudian berjalan menuju pintu masuk kawasan kolam pemandian Umbul Sidomukti yang menjadi daya tarik dari tempat wisata ini. Sepanjang jalan menuju pintu masuk, pengunjung disuguhi dengan deretan pedagang yang menjajakan beraneka ragam jajanan. Aroma sedap dari pembuatan jagung bakar sungguh menggoda selera siang itu, namun saya memilih menunda untuk mengisi perut dan menikmati pemandangan di Umbul Sidomukti terlebih dahulu.

Usai membeli tiket masuk, pengunjung masih harus berjalanan kaki untuk menuju area kolam. Jarak yang harus ditempuh pun tak seberapa jauh, jalan setapaknya pun sudah ditata dengan rapi sehingga dibuat nyaman bagi pejalanan. Deretan pepohonan yang rindang dengan pemandangan hijaunya perbukitan semakin menambah semangat bagi pengunjung untuk berjalan menuju area kolam. Bagi yang ingin merasakan sensasi berkuda, pihak pengelola pun sudah menyiapkan jasa penyewaan kuda dengan rute pintu masuk sampai area kolam pemandian.


Saat berjalan menuju area, sesekali saya mendengar suara jeritan dari pengunjung. Ternyata, mereka sedang menikmati wahana flying fox yang disedikan oleh pengelola. Selain wahana permainan flying fox, juga disediakan wahana jembatan gantung dari tali yang melewati perbukitan. Permainan yang cukup menantang nyali namun mengasyikkan. Langkah kaki saya pun akhirnya tiba di area kolam. Siang itu area kolam cukup ramai dipadati oleh pengunjung. Maklumlah, saya datang pas hari Minggu, di mana sebagian besar orang sengaja datang kemari untuk menikmati akhir pekan.

Umbul Sidomukti memiliki kolam pemandian dengan berbagai pilihan kedalaman. Untuk pengunjung dewasa, disediakan kolam pemandian dengan kedalaman sekitar 1,2 meter. Kolam pemandian orang dewasa ini berada di bagian atas. Sedangkan untuk pengunjung anak-anak. disediakan kolam di bagian bawah dengan kedalaman kurang dari satu meter. Kolam pemandian di Umbul Sidomukti ini terlihat cukup artistik dengan ornamen batu alam yang memberi kesan alami pada bangunan kolam. Air di Umbul Sidomukti ini bersumber dari mata air pegunungan yang memancar dari arah dasar kolam. Sayang pancaran air yang bersumber dari mata air siang itu tidak terlalu terlihat menyembur (mumbul). Biasanya pancaran mata air tersebut terlihat menyembur cukup tinggi dari dasar kolam.


Umbul Sidomukti memiliki air yang segar. Walaupun berada di atas ketinggian bukit namun air yang bersumber dari mata air pegunungan ini tidak terlalu terasa dingin. Bentuk kolam pemandiannya pun cukup unik, berbentuk oval asimetris seperti robot droid pada film Star Wars. Ornamen bebatuan alam yang dipasang di bagian pinggir kolam memberi kesan alami dan memperkuat suasana seolah menyatu dengan alam pada kolam pemandian buatan tersebut. Berendam di kolam pemandian dengan nuansa alami sambil menikmati pemandangan perbukitan yang sesekali diselimuti kabut bisa menjadi wahana rileksasi bagi jiwa, sejenak melepaskan kepenatan yang ada.


Bagi yang tidak ingin bermain air, pengunjung dapat menikmati pemandangan hamparan perbukitan di sekitar kolam pemandian. Dari kejauhan, kita dapat melihat pemandangan Rawa Pening dari balik bukit. Jika sedang beruntung, kita dapat mengamati kegiatan penduduk setempat yang sedang bertani di ladang mereka. Jika ingin santai sambil menikmati suasana, bisa memilih untuk duduk sambil menikmati segelas teh hangat di bagian food court. Nah, food court favorit saya sih yang berada di lantai dua. Di sini kita dapat melihat Umbul Sidomukti dari atas dengan latar belakang pemandangan hijaunya perbukitan yang mengelilingi kawasan umbul. Di bagian ini juga menjadi spot favorit untuk mengambil gambar karena pemandangan yang disajikan sangat ciamik untuk diabadikan melalui lensa kamera.

Usai melepas penat dan menikmati sajian pemandangan alam dan kolam pemandian Umbul Sidomukti, saatnya kembali ke parkiran kendaraan guna melanjutkan perjalanan berikutnya. Tak lupa saya mampir di kedai kaki lima yang berada di dekat loket masuk. Ah, seporsi pecel gendar dan tempe mendoan hangat enak nih dinikmati di udara dingin seperti di Umbul Sidomukti ini !

Sabtu, 12 Desember 2015

Menggapai Gunung Prau, Sekali Lagi !

Kata orang, ajaklah temanmu mendaki gunung, maka kamu akan mengetahui kepribadian asli mereka seperti apa. Tapi apa jadinya, jika kita mendaki gunung bersama orang-orang yang baru saja kita kenal dalam forum para pejalan?


Kumandang Adzan Ashar bergema dari pengeras suara masjid di perkampungan Dieng Kulon. Kami segera mempersiapkan diri melakukan pendakian sore ini karena rombongan teman-teman Komunitas Backpacker Indonesia chapter Cilegon, Bandung, Banyuwangi, Purwokerto, dan Jakarta sudah tiba. Ini adalah kali pertama saya bertatap muka langsung dengan mereka, walaupun sebelumnya kami sudah cukup intens berkomunikasi lewat group Whatsapp. Jadwal pendakian akhirnya kami ajukan menjadi sore hari mengingat anggota pendakian kali ini sebagian besar adalah pemula. Awalnya kami berencana memulai pendakian sekitar pukul delapan malam, sekalian menanti kedatangan anggota dari Semarang. Namun mengingat kondisi dan jumlah anggota dalam pendakian cukup banyak, akhirnya kami putuskan untuk mengajukan jadwal pendakian.


Ada dua jalur pendakian resmi untuk menuju Gunung Prau. Jalur pertama melewati rute Patak Banteng. Rute ini memang memakan waktu pendakian lebih singkat, namun medan jalan yang harus dilalui terlalu menanjak, cukup berat bagi pemula seperti kami. Lalu kami memilih jalur pendakian melalui Dieng Kulon yang dirasa cukup landai, walaupun memakan waktu pendakian yang sedikit lebih lama dibandingkan melalui jalur Patak Banteng. Usai menyiapkan perbekalan dan mengurus administrasi untuk melakukan pendakian, kami bertiga belas pun akhirnya berangkat duluan, sedangkan empat orang anggota rombongan dari Semarang akan menyusul nanti malam.

Ujian pertama yang harus kami lalui adalah jalur anak tangga dengan rute menanjak melewati pemukiman penduduk yang berada di belakang basecamp Dieng Kulon. Rasanya jalur ini cukup membuat nafas kami hampir putus melewati anak tangga yang menanjak. Usai melewati pemukiman penduduk, kami beristirahat sejenak di sekitar ladang, sekedar menghela nafas serta melakukan koordinasi ulang kepada semua anggota. Sebuah "ujian" fisik dan mental sebelum memulai pendakian yang sebenarnya. Kak Ika, seorang anggota pendakian hampir saja memilih untuk membatalkan pendakian, namun akhirnya dia mengurungkan niatnya setelah kami semua meyakinkan bahwa pendakian akan baik-baik saja.


Perjalanan pun kami lanjutkan, melewati kompleks makam berlanjut ke hamparan perkebunan warga yang tampak mengering karena kurangnya pasokan air di musim kemarau. Kami mulai berbincang dengan suara sedikit lantang untuk menghilangkan rasa lelah di badan. Mungkin inilah seninya melakukan pendakian. Kita akan merasa cepat akrab satu dengan yang lain walaupun baru saling kenal. Tak ada rasa canggung di antara kami, seolah sedang bertemu teman lama kemudian terjalin obrolan seru setelahnya. Tak terasa kami sudah melewati pos pendakian pertama dan siap memasuki kawasan di dalam hutan.

Pendakian Malam di Dalam Hutan
Suara adzan Magrib sayup-sayup terdengar ketika kami mulai memasuki rute pendakian di dalam hutan. Kami berhenti sebentar, menyiapkan senter untuk penerangan dalam perjalanan. Tanjakan-tanjakan kecil mulai kami rasakan. Kami pun harus mulai pandai mengatur pernafasan, selain ngos-ngosan dengan beban yang kami bawa, belum lagi ditambah dengan debu-debu pasir beterbangan juga cukup mengganggu pernafasan kami. Masker sudah siaga kami kenakan, namun saya sedikit kurang nyaman menggunakan masker, karena terasa kurang leluasa untuk bernafas, apalagi saya termasuk tipe orang yang cukup boros ketika bernafas.

Semakin malam udara terasa semakin dingin. Hembusan angin gunung membuat kami lumayan menggigil, terlebih jika kami terlalu lama berhenti untuk beristirahat, udara dingin akan terasa semakin menusuk badan. Perjalanan yang cukup berat bagi saya adalah setelah melewati pos dua, yang ditandai dengan tapal batas antara Kabupaten Batang dan Wonosobo. Hutan semakin rapat, jalan setapak yang terasa semakin menanjak, dan adanya jurang di salah satu sisi jalan sehingga membuat kami harus lebih ekstra hati-hati.


Kami sempat kebingungan mencari jalan di salah satu persimpangan jalan. Tapi untunglah, teman-teman yang berada di barisan depan cukup sigap dalam mencari jalan. Pendakian pun dapat kami lanjutkan melalui jalan yang benar. Ada "insiden" kecil ketika kami melalui sebuah tanjakan ke arah tower sinyal provider selular. Ada suara aneh, seolah ada seorang perempuan yang sedang menertawakan kami dengan puas. Saya pikir suara tersebut paling-paling suara hewan atau primata. Tapi menurut penerawangan teman saya itu adalah sejenis suara kuntilanak ! Hahaha ! Untung saja kawan saya baru bercerita keesokan harinya ketika kami sudah turun dari Gunung Prau ! Malam itu pikiran kami biasa-biasa saja, tidak ada pikiran yang macam-macam, mungkin rasa lelah di badan serta terjangan dinginnya angin gunung membuat kami hanya fokus agar segera tiba di tujuan dan mendirikan tenda, lalu mengistirahatkan raga.

Semangat kami semakin memuncak, ketika Mas Vidi yang menjadi pemimpin kelompok kami berkata jika tujuan kami sudah dekat. Tinggal satu tanjakan lagi kami tiba di tempat untuk mendirikan tenda. Rasa lelah di raga memang sedikit meredupkan semangat kami. Kami banyak beristirahat sebelum memulai tanjakan lagi. Banyak pendaki lain yang beristirahat di titik sini. Ada beberapa bapak-bapak menawarkan gorengan. Tapi entah, mereka memang benar-benar menjual gorengan apa hanya sebuah candaan. Rasa lelah yang melanda serta dinginnya hembusan angin gunung membuat kami benar-benar tak menghiraukan dengan kondisi sekitar.

Kami pun melanjutkan perjalanan, mendaki tanjakan terakhir sebelum akhirnya tiba di camping ground area. Cahaya senter pun semakin meredup setelah hampir lima jam kami gunakan terus-menerus dalam perjalanan. Usai tiba di camping ground area, kami bergegas memilih tempat yang cukup datar untuk mendirikan tenda. Kami harus berpacu dengan waktu, karena angin gunung berhembus semakin kencang dan membuat tubuh kami semakin menggigil kedinginan. Kencangnya hembusan angin sedikit menyulitkan dalam proses mendirikan tenda. Untunglah, beberapa tenda yang kami dirikan akhirnya siap digunakan. Tanpa babibu kami memasukkan barang ke dalam tenda. Saya memilih untuk segera beristirahat, menyiapkan sleeping bag untuk menghalau dinginnya angin gunung yang semakin kencang berhembus.

Semakin malam, semakin ramai pendaki yang berdatangan ke camping ground area. Saya tidak memperhatikan mereka dengan seksama, hanya saja suara mereka semakin malam terasa semakin riuh saja. Saya paksakan diri untuk tidur sambil menahan rasa lapar yang mendera, karena siang sebelum pendakian, saya lupa untuk makan. Mungkin rasa lelah sudah mengalahkan rasa lapar yang ada. Saya memilih untuk minum beberapa teguk air kemudian memejamkan mata, daripada sibuk mengaduk-aduk isi tas untuk mencari makanan. Selain ribet, udara dingin pun membuat saya cukup malas untuk mencari makanan di dalam tas.

Menikmati Sasana Pagi dari Ketinggian
Beberapa kali saya terbangun malam itu, kemudian melihat jam di tangan. Jika belum pagi saya mencoba tidur lagi, namun beberapa saat terbangun lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.20. Saya pun membangunkan Mas Yoyok dan Bang Adit, teman satu tenda saya. "Mau lihat sunrise sekarang ga?". Mereka pun ikut terbangun dan bersiap diri keluar dari tenda. Kami melihat kawan-kawan di tenda lain masih tidur dengan lelap. Tak tega rasanya jika membangunkan mereka. Akhirnya kami bertiga melipir duluan untuk melihat matahari terbit di bukit sebelah.


Udara dingin langsung menyapa begitu kami keluar dari tenda sehingga seketika badan saya menggigil kedinginan karenanya. Namun, sorot cahaya kemerahan di ufuk timur menjadi penyemangat saya untuk mendaki bukit sebelah, demi menyambut matahari pagi yang akan segera terbit. Kami mulai berjalan menyusuri camping ground area, kemudian melewati sebuah padang sabana. Ah, pantas saja banyak pendaki yang bilang jika mendaki Gunung Prau via Dieng Kulon memiliki pemandangan yang lebih bagus daripada melewati Patak Banteng. Usai melewati padang sabana, masih ada satu tanjakan lagi yang harus dilewati. Ujian terakhir, batin saya. Pemandangan pagi di atas sana seolah menjadi penyemangat untuk terus mendaki bukit. Beberapa kali saya harus berhenti untuk mengatur nafas. Tanjakannya memang tak seberapa tinggi. Namun lagi-lagi debu halus masih rajin menyapa.



Ketika sampai di puncak bukit saja pun langsung mengambil posisi duduk, meluruskan kedua kaki, lalu mencoba menikmati suasana pagi. Ritual itu memang tidak bisa saya lakukan lama-lama, karena pendaki lain sudah berhamburan datang untuk menyapa mentari pagi. Deretan pegunungan nampak jelas dari atas bukit sana. Semburat warna keemasan terlihat di cakrawala, kemudian perlahan-lahan matahari pun muncul dari ufuk timur sana. Semua terlihat bersemangat pagi itu untuk mengabadikan gambar.


Saya mengamati bagian barat puncak bukit ini. Di sana terlihat perkampungan Dieng, pemandangan Telaga Warna, serta deretan perbukitan yang dijadikan ladang perkebunan oleh warga. Kami bertiga tidak berlama-lama di puncak bukit. Kami lalu memilih kembali ke tenda, menyapa kawan yang lain dan tentu saja rombongan dari Semarang yang menyusul kami tadi malam. Pagi itu cukup meriah, kami menghabiskan pagi dengan membuat sarapan bersama, bercanda bersama, dan diakhiri dengan sesi foto bersama. Sekitar pukul 07.30 kami mulai berbenah, membereskan tenda dan barang-barang, kemudian bersiap melakukan perjalanan pulang. Sebuah pengalaman pendakian yang menarik bersama orang-orang yang baru saja saya kenal !

Kamis, 12 November 2015

Tempat Wisata di Jawa Tengah yang Sangat Populer dan Menarik untuk dikunjungi

Tempat Wisata di Jawa Tengah yang Sangat Populer dan Menarik untuk dikunjungi | Jawa Tengan adalah central dari kebudayaan yang terdapat di Pulau Jawa. Tempat wisata yang terdapat di Jawa Tengah amat sangat terkenal dan menjadi Destinasi utama bagi para wisatawan dari beragam daerah. Jawa Tengah tak cuma populer dengan Kebudayaannya yang teramat Unik, tapi juga ada beberapa lokasi wisata yang amat menarik untuk dikunjungi, Tempat - tempat wisata yang terdapat di Jawa Tengah sendiri terdiri dari sekian banyak Jenis Wisata, Seperti contohnya Wisata Alam yang terdiri dari Gunung, Kepulauan, Danau, Sungai, Pantai, Hutan, dan lain sebagainya, sedangkan buat wisata Sejarah Seperti Museum, Candi, dan lain sebagainya, Untuk wisata edukasinya pun lumayan banyak dan lumayan menarik, untuk itu Perkembangan Pariwisata di Jawa Tengah ini terbilang amat sangat meningkat bahkan ada sekian banyak yang amat populer di kalangan wisatawan Asing. Apa sajakah tempat wisata di jateng yang sangat menarik tersebut? langsung aja kamu simak info Temoat Wisata di jateng berikut ini!

Wisata Jawa Tengah

Tempat Wisata Terbaik di Jawa Tengah.

  • Karimunjawa.
Wisata Bahari yang satu ini merupakan salah satu tempat wisata yang amat sangat terkenal dan terkenal, bahkan tidak sedikit juga yang menjadikan Karimunjawa ini sebagai Destinasi Wisata Paling Indah dan terfavorit khususnya di daerah Jawa Tengah. Karimunjawa Terletak di utara Kab Jepara yang pada waktu ini juga mempunyai fungsi sebagai cagar alam dan juga lokasi penangkaran Hiu juga penyu yang secara keseluruhan dilindungi Oleh Undang - Undang Negara. dari sekian banyak pulau yang terdapat di Karimun jawa ada 5 pulau yang berpenghuni. di Karimunjawa ini kamu bakal menikmati keindahan Taman bawah laut yang jarang kamu jumpai pada tempat lain.
  • Pantai Marina.
Pantai yang terletak di Semarang ini menjadi salah satu Destinasi bagi wisatawan yang mau berlibur, Pemandangan pada pantai marina ini teramat memukau kita semua, lantaran pada waktu sore hari menjelang matahari terbenam kamu bakal melihat dengan jelas keindahan Panorama Sunset di Pantai Marina ini. tidak cuma kamu dapat meyaksikan keindahan Sunset di Pantai Marina ini, kamu bisa juga memanfaatkan berbagai sarana yang tersedia disini yang sudah disediakan oleh pengembang.
  • Candi Borobudur.
Inilah Sebuah Landmark bersejarah yang terdapat di jateng tepatnya di Magelang. Candi Borobudur ini tidak cuma menyuguhkan mengenai narasi perkembangan agama Budha pada abad ke 9 di Tanah Jawa, namun juga merupakan wujud kebudayaan yang amat sangat luar biasa, bagaimana tidak, Candi Borobudur ini mempunyai arsitektur yang unik dan juga mempunyai tidak sedikit sekali relief yang terdapat pada tiap-tiap dinding candi. Candi Borobudur ini pun merupakan salah satu candi paling besar di Asia Ternggara. Terletak dikelilingi oleh bukti dan pegunungan, menciptakan suasana Candi Borobudur ini makin menarik untuk dijadikan destinasi wisata kamu.
  • Dataran Tinggi Dieng.
Dataran Tinggi Dieng yakni sebuah darerah yang terdapat di perbatasan antara Kab Banjar Negara dengan Kab Wonosobo. Dataran Tinggi Dieng jadi salah satu ruang wisata terfavorit bagi para wisatawan Domestik, Pesona alam yg disajikan di sini amat menciptakan kita nyaman, tak cuma dikalangan wisatawan Domestik saja, dikalangan wisatawan Asing pun Dataran Tinggi Dieng ini menjadi Destinasi area wisata yang lumayan terkenal, terlebih lagi setiap setahun sekali diadakan festival Dieng Culture yang amat sangat menarik minat para wisatawan untuk datang dan melihat Festival tersebut secara langsung.

Nah itu tadi informasi tempat wisata yang dapat kami sampaikan kepada anda mengenai Tempat Wisata di Jawa Tengah yang Sangat Populer dan Menarik untuk dikunjungi. Semoga informasi yang telah kami rangkum diatas dapat membantu anda yang sedang membutuhkan informasinya. Sampai ketemu kembali pada artikel lainnya yang sudah kami siapkan mengenai Wisata Lainnya.

Senin, 02 November 2015

Menikmati Keindahan Telaga Warna dari Bukit Sidengkeng

Telaga Warna menjadi salah satu primadona bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng. Akses jalan yang mudah serta fasilitas pendukung wisata yng lengkap, menjadikan Telaga Warna hampir selalu ramai oleh kunjungan wisatawan. Namun, ada cara lain menikmati keindahan Telaga Warna ini, yaitu dengan mendaki Bukit Sidengkeng !


Arloji yang melingkar di tangan sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Dengan sedikit rasa malas saya mulai berbenah meninggalkan kamar di Losmen Bu Djono yang saya tempati. Rasanya ini adalah bangun tersiang yang pernah saya lakukan ketika berkunjung di Dieng. Biasanya saya sudah mulai berbenah dari pukul tiga dini hari untuk memulai perjalanan menuju Bukit Sikunir guna berburu pemandangan matahari terbit. Namun, kali ini saya sengaja bangun lebih siang dari biasanya, karena saya hanya ingin berkunjung ke Bukit Sidengkeng di Wana Wisata Petak 9, selebihnya, saya ingin gunakan waktu untuk beristirahat mengumpulkan tenaga guna melakukan pendakian ke Gunung Prau sore nanti.

Suasana perkampungan di Dieng Wetan masih terasa sepi pagi. Cahaya matahari bersinar cukup cerah, namun udara masih saja terasa dingin menusuk tulang. Sebenarnya saya ingin menggunakan jasa ojek motor untuk menuju Petak Sembilan, namun sayang, tidak terlihat satu orang pun di pangkalan. Satu-satunya pilihan adalah dengan berjalan kaki, menembus udara dingin khas Dieng yang cukup membuat tubuh menggigil pagi ini. Sekitar lima menit berjalan, saya melihat rombangan pemuda sedang menghangatkan diri dengan tungku perapian khas Dieng. Ah, hal tersebut mengingatkan saya akan suasana KKN tiga tahun silam di dusun sebelah. Saya meneruskan langkah kaki, sambil sesekali menyapa petani yang sudah bersiap menggarap ladang milik mereka. Sesekali saya harus berdamai dengan aroma yang sedikit kurang sedap yang berasal dari tumpukan pupuk organik yang diletakkan di pinggir jalan. Baunya memang tidak terlalu seberapa pekat, namun sedikit memekakan indera penciuman saya. Suasana pagi ini benar-benar masih sepi dari hiruk-pikuk wisatawan, mungkin mereka masih terpusat di Desa Sembungan, menikmati pemandangan matahari terbit dari puncak Bukit Sikunir sana.



Sepuluh menit berlalu, saya pun tiba di gerbang masuk Wana Wisata Petak 9 Dieng. Lokasi gerbang masuk ini terletak sebelum tikungan jalan menuju arah lokasi wisata Telaga Warna, namun sepertinya belum banyak orang yang tau dengan keindahan pemandangan di atas bukit sana. Banyak wisatawan yang menikmati pemandangan Telaga Warna dari ketinggian melalui Batu Ratapan Angin yang terletak tak jauh dari Dieng Plateau Teater. Pagi itu belum ada satu petugas pun yang berjaga, pun demikian dengan pengunjung di area Bukit Sidengkeng sana. Saya pun bergegas mengikuti alur jalan setapak yang sudah dibangun dengan pavin blok. Kemudian perjalanan di lanjutkan dengan menapaki jalan setapak dengan kontur yang menanjak.



Suara serangga terdengar nyaring dari balik lebatnya pepohonan di kawasan wana wisata. Kontur jalan yang menanjak semakin membuat saya penasaran untuk menaklukkannya. Tanjakan yang harus dilalui memang tidak seberapa curam, namun, di kala musim kemarau seperti sekarang, jalan setapak menuju Bukit Sidengkeng terasa sangat berdebu, cukup menyulitkan pernafasan, apalagi ketika nafas sudah ngos-ngosan menahan beban. Apabila memasuki musim penghujan, jalan setapak tersebut berubah menjadi lebih licin, sehingga dibutuhkan kewaspadaan diri ketika melaluinya. Sepuluh menit sudah saya melewati jalan tanjakan, akhirnya tiba juga di puncak Bukit Sidengkeng. Benar saja, saya adalah satu-satunya orang yang berkunjung ke sana. Sambil mengatur nafas yang sedikit tersengal, saya dibuat berdecak kagum dengan pemandangan yang ditawarkan. The misty morning, perasaan yang saya rasakan pagi itu. Suasana bukit yang hening dengan pemandangan permukaan Telaga Warna yang masih tertutup oleh kabut membuat suasana menjadi syahdu.


Perlahan-lahan sinar matahari pun mulai menyapa. Kabut yang menutupi permukaan Telaga Warna perlahan mulai sirna. Sayang, sinar matahari pagi itu terasa sangat terang, sehingga pemandangan Gunung Sindoro yang menjadi latar belakang Telaga Warna dan Telaga Pengilon kurang terlihat begitu jelas. Padahal, salah satu tujuan saya datang ke Sidengkeng adalah untuk menikmati pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon dengan latar belakang Gunung Sindoro. Ah, sayang, alam semesta belum mengijinkan, mungkin lain kali saya harus kembali ke sana untuk mendapatkan pemandangan yang lebih indah dari sekarang.


Saya mengambil posisi duduk untuk meluruskan kedua kaki sambil menikmati pemandangan yang tersaji di pagi ini. Sinar matahari yang hangat perlahan mengusir udara dingin yang ada. Saya mengedarkan pandangan di sekeliling saya, nampaknya ada beberapa orang yang pernah bermalam dan mendirikan tenda di sini. Ada bekas api unggun, ada pula hal yang membuat saya sedih, lagi-lagi kalau bukan sampah bekas makanan dan minuman yang dibuang begitu saja di sini. Sungguh perbuatan yang kurang bertanggung jawab ! Kemudian pandangan mata saya terpana dengan pemandangan Telaga Warna yang ada di bawah sana. Sayang sekali debit air sedang surut di Telaga Warna karena musim kemarau. Pantulan warna hijau toschanya pun kurang terlihat begitu jelas, hanya nampak samar.


Usai puas menikmati pemandangan Bukit Sidengkeng, saya pun bergegas turun. Setelah melewati pintu gerbang, saya menyadari satu hal. Ternyata sudah ada petugas yang berjaga di bagian retribusi kawasan Wana Wisata Petak 9. Barikade jalan pun sudah dipasang agar pengunjung tertib antri untuk membayar retribusi masuk kawasan. Saya pun lewat di depan bapak penjaga sambil bertegur sapa. "Ah, maaf pak, saya tadi tidak membayar retribusi", gumam saya dalam hati. Saya pun pergi berlalu meninggalkan beliau, melanjutkan langkah kaki untuk kembali pulang menuju penginapan.

Senin, 19 Oktober 2015

Menggapai Sunrise di Sikunir

Cahaya bulan purnama menjadi teman setia selama kami melakukan perjalanan menuju Desa Sembungan. Dinginnya udara menjelang fajar terasa menusuk tulang seolah tak kami perdulikan. Diiringi pekatnya kabut pagi yang menyambut kedatangan kami, membuat kami semakin semangat untuk  mengejar terbitnya sang mentari di atas bukit nanti.

Suara alarm yang berbunyi nyaring memecah keheningan di salah satu kamar kecil di Losmen Bu Djono. Saya, Ajeng, dan Bang Ari pun segera terbangun, beranjak dari hangatnya selimut yang menepis dinginnya udara Dieng di kala dini hari. Kami segera bergegas, menyiapkan diri untuk memulai pendakian ke Bukit Sikunir. Suasana di depan losmen ternyata cukup riuh oleh pengunjung yang bersiap menuju Desa Sembungan. Tampak beberapa mobil dan motor yang sudah bersiap menuju ke sana, seolah tak satupun orang ingin ketinggalan momen matahari terbit dari atas bukit pagi itu.


Bukit Sikunir merupakan sebuah bukit yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng dengan ketinggian sekitar 2.463 meter di atas permukaan laut. Dengan mobil pick up sayur yang kami sewa, petualangan menuju Bukit Sikunir pun dimulai. Saya dan Bang Ari duduk di bagian bak pick up, satu kawan lagi, Ajeng, duduk di bagian depan di samping pak sopir. Dinginnya udara Dieng membuai lembut ke sekujur tubuh. ditemani sinar rembulan pun tampak malu-malu mengiringi perjalanan kami menuju Desa Sembungan semakin membuat perjalanan ke Dieng kali ini terasa begitu berkesan. Dua puluh menit perjalanan akhirnya kami memasuki area Desa Sembungan. Jalan aspal yang mulai rusak menjadi teman setia sepanjang perjalanan menuju kemari. Guncangan dari jalan aspal yang sudah banyak berlubang seolah membangunkan kami dari kantuk dan rasa malas akibat udara dingin yang menusuk.


Kami pun tiba di sekitar Telaga Cebong, tempat parkir kendaraan sebelum melanjutkan pendakian menuju Bukit Sikunir. Suasana di pos pendakian Bukit Sikunir kini terasa lebih semarak. Beberapa fasilitas pendukung wisata sudah dibangun seperti mushola, toilet umum, serta camping ground pun juga disediakan di sekitar Telaga Cebong. Kondisi yang terasa cukup kontras ketika pertama kali saya datang kemari pada tahun 2012 yang lalu. Sekarang sudah ada larangan untuk mendirikan tenda di puncak Bukit Sikunir, sehingga disediakan fasilitas arena camping ground di sekitar Telaga Cebong bagi pengunjung yang ingin berkemah di Bukit Sikunir ini. Deretan kios-kios semi permanen milik penduduk setempat pun ikut menyemarakkan suasana di area pos awal pendakian ini. Kios-kios tersebut menjajakan makanan dan minuman hangat serta beberapa souvenir untuk dibawa pulang. Souvenir yang paling banyak dijajakan adalah sarung tangan, syal, dan topi hangat dengan tulisan Dieng.

Bang Ari mengajak kami untuk mampir sejenak di salah satu warung untuk memesan segelas minuman hangat agar perut tidak kembung. Seperti biasa, saya memesan segelas teh hangat. Suasana pun semakin akrab saat kami terlibat obrolan hangat dengan sang pemilik warung. Kami mengobrol ngalor-ngidul tentang lokasi wisata yang menarik Dieng, termasuk beberapa obyek wisata baru yang kini sedang dalam tahap pembukaan dan perbaikan jalur untuk menuju lokasi. Sebenarnya obyek-obyek wisata tersebut sudah ada di Dieng, namun karena minimnya fasilitas serta akses jalan membuat lokasi tersebut jarang dikunjungi. Air terjun Sikarim misalnya, air terjun yang berada di sekitar Desa Sembungan ini sudah dikenal beberapa orang, namun akses jalan ke sana masih belum baik, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang menyambangi lokasi tersebut. Usai menghabiskan satu gelas minuman hangat, kami pun segera membayar dan berpamitan untuk memulai pendakian.


Jalur pendakian Bukit Sikunir kini juga sudah diperbaiki. Beberapa jalur sudah dibuat seperti tatanan anak tangga yang terbuat dari batu-batu yang ditata sedemikian rupa sehingga memudahkan pendaki untuk berjalan. Bagian kiri jalur pendakian pun sudah diberi kayu dan besi pembatas agar pendaki lebih aman dan tidak tergelincir ke jurang saat melakukan perjalanan. Selebihnya, medan pendakian masih terasa seperti dulu, tanjakan demi tanjakan harus kami lalui. Jalur pendakian menuju Sikunir memang tidak memberikan bonus jalan datar, isinya lebih banyak tanjakan-tanjakan. Beberapa kali saya meminta untuk berhenti sekedar untuk mengatur nafas yang mulai tersengal. Kesalahan terbesar saya adalah tidak pernah berolahraga, jarang mengolah fisik sehingga stamina saya lemah ketika menghadapi tanjakan demi tanjakan.

Kesalahan kedua saya adalah tidak membawa senter untuk penerangan selama pendakian. Kurangnya penerangan memang cukup menghambat laju pendakian karena saya harus berjalan perlahan agar dapat memijak jalur yang tepat. Untung saja ada beberapa rombongan di belakang saya yang siap sedia membawa senter sehingga sorot sinarnya cukup menerangi selama pendakian. Kontur tanah di Bukit Sikunir terdiri dari bebatuan dan juga tanah dengan tekstur yang halus. Tekstur tanah halus inilah yang menyebabkan jalur pendakian menjadi sedikit licin, apabila tidak berhati-hati dan salah memijak dapat menyebabkan kita tergelincir. Maka dari itu dibutuhkan kewaspadaan selama melakukan pendakian.


Untuk mencapai puncak Bukit Sikunir diperlukan waktu tempuh sekitar 30-45 menit pendakian, tergantung kondisi fisik masing-masing orang. Bagi penduduk setempat, biasanya mereka dapat mencapai puncak Bukit Sikunir hanya dalam waktu 15 menit pendakian saja. Ada hal yang sedikit berbeda yang saya temui ketika berada di puncak bukit. Di bagian puncak Bukit Sikunir kini terdapat bangunan gubug sederhana dan beberapa potongan batang pohon yang berfungsi untuk tempat duduk. Di sekitar puncak juga terdapat lapak penjual makanan dan minuman serta fasilitas toilet umum. Mungkin juga fasilitas-fasilitas ini ada karena jumlah kunjungan wisatawan yang semakin meningkat ke Bukit Sikunir ini.


Setibanya di puncak, saya mengambil posisi duduk untuk mengistirahatkan badan dan meluruskan kaki. Pemandangan Gunung Sindoro nampak begitu jelas di depan kami. Banyak pengunjung langsung menyiapkan kamera dan ponsel mereka untuk mengabadikan momen pagi itu. Semburat warna orange tampak membelah cakrawala di ufuk timur. Seolah tak mau ketinggalan momen, pengunjung pun sibuk memainkan gadget mereka. Ada yang mengambil gambar pemandangan alam, tak sedikit pula yang mengabadikan diri dengan berbagai macam pose dengan latar belakang pemandangan matahari terbit.


Usai menikmati pemadangan matahari pagi, saya mengajak kawan-kawan saya menuju sisi lain Bukit Sikunir, tepatnya di sebelah belakang puncak. Tujuan saja adalah untuk melihat pemandangan Telaga Cebong dari atas ketinggian. Kami duduk di salah satu batu yang langsung menghadap ke Telaga Cebong. Sambil meluruskan kaki, kami menikmati bekal yang sudah kami sediakan sebelumnya, yaitu sebatang cokelat dan air mineral. Cokelat batangan yang kami bawa teksturnya menjadi keras, hampir mirip seperti dimasukkan ke dalam lemari es. Ada pemandangan yang sedikit membuat risih di Sikunir sekarang ini, apalagi kalau bukan ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab yang membuang bungkus makanan sembarangan. Belum lagi saya melihat banyak bungkus permen yang dibuang begitu saja. Sangat disayangkan bukan, jika tempat dengan pemandangan yang cantik seperti ini banyak sekali sampah bungkus makanan yang berserakan ! Saya dan kawan-kawan mencoba memungut beberapa sampah bungkus makanan tersebut untuk dibawa ke bawah agar tidak mengotori puncak Bukit Sikunir ini.


Usai puas menikmati pemandangan pagi di Bukit Sikunir, kami pun memutuskan untuk turun menuju basecamp. Dalam perjalanan turun kami menyempatkan untuk mengambil beberapa foto sambil menikmati indahnya pemandangan perbukitan yang masih terlihat begitu menghijau di puncak musim kemarau. Kami pun harus lebih ekstra hati-hati dengan jalanan yang menurun selama pulang. Entah mengapa, perjalanan pulang itu terasa lebih cepat daripada perjalanan berangkat ke tujuan bukan?

Senin, 28 September 2015

The Umbrella Reborn at Festival Payung Indonesia 2015

Keramaian pengunjung mulai terasa ketika ojek yang saya tumpangi memasuki sebuah jalan kecil menuju Taman Balekambang. Motor-motor mulai berdatangan dan berdesakan mencari area parkir yang mulai penuh sesak oleh pengunjung yang ingin menikmati acara Festival Payung Indonesia siang itu. Kemeriahan acara mulai terlihat di bagian gerbang masuk Taman Balekambang, di mana ratusan kerangka payung yang diberi cat warna-warni digantung dan ditata dengan cukup artistik sehingga menarik pengunjung untuk mengabadikan gambar melalui ponsel dan tongkat narsis masing-masing.


Tahun ini, acara Festival Payung Indonesia kembali digelar di Kota Solo mengangkat tema "umbrella reborn". Acara ini diselenggarakan selama tiga hari, yaitu mulai tanggal 11-13 September 2015. Instalasi payung berwarna-warni terlihat begitu kontras dengan hijaunya pepohonan dan birunya langit Kota Solo siang itu. Panas yang cukup menyengat pun tidak menghalangi minat pengunjung untuk berjalan-jalan mengelilingi Taman Balekambang sambil mengambil beberapa gambar.



Tema "umbrella reborn" dipilih untuk mengusung lahirnya payung dalam kebaruan artistik visual. Fungsi payung identik untuk melindungi badan dari guyuran air hujan. Payung konvensional memiliki bentuk serta corak warna yang terlihat begitu monoton dan tidak menarik pandangan mata. Namun, di tangan orang-orang kreatif, payung-payung ini bisa disulap menjadi barang kerajinan yang memiliki nilai estetika yang tinggi. Payung lukis misalnya, dengan berbagai motif, corak serta warna-warni yang menarik yang menarik, sehingga dapat difungsikan menjadi penghias ruangan maupun properti untuk pengambilan gambar terutama untuk memotret model. Festival ini diadakan selain untuk menarik kunjungan, juga dijadikan sebagai ajang untuk memperkenalkan UMKM pengrajin payung yang ada di nusantara di mana menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif di Indonesia.


Selain motif dan corak lukisan yang atraktif, bentuk payung pun dapat dibuat lebih menarik. Payung Bali misalnya, dengan menambah nuansa tradisional yang khas serta tambahan pernak-pernik yang menarik, menjadikan payung Bali menjadi salah satu barang incaran wisatawan untuk dibawa sebagai buah tangan. Payung Bali memang biasa digunakan sebagai penghias ruangan karena kecantikan motif dan bentuknya yang rupawan.


Selain memamerkan hiasan payung yang beraneka rupa, dalam acara ini juga diselenggarakan acara pentas seni dari beberapa seniman yang berasal dari berbagai daerah. Dalam acara Festival Payung Indonesia ini pula dipamerkan beberapa pengrajin payung dari beberapa daerah di Indonesia yang menampilkan kerajinan payung dengan motif, warna, dan corak yang khas dari daerah payung tersebut berasal. Selain berfoto ria, pengunjung pun dapat mengikuti kegiatan workshop pembuatan payung tradisi dan kreasi yang diselenggarakan oleh panitia acara. Pengunjung pun juga dimanjakan dengan pameran fotografi yang mengangkat tema tentang payung. Banyak obyek menarik yang dibidik oleh para fotografer yang dipamerkan dalam acara ini.



Selain hiasan payung dengan berbagai bentuk unik serta warna-warni yang menarik, pandangan mata saya justru tertarik dengan dua ekor rusa betina jinak penghuni Taman Balekambang di akhir perjalanan ini. Banyak pengunjung terutama anak-anak yang terlihat begitu antusias untuk berinteraksi langsung dengan rusa-rusa tersebut. Rusa betina tersebut sedang duduk bermalas-malasan sambil menguyah rumput yang menjadi makanan mereka. Banyak pengunjung yang mendekati rusa tersebut dan mengajak berfoto bersama. Ada hal yang menarik siang itu, terlihat segerombolan cewek yang sibuk dengan "tongsis" untuk mengajak berfoto bersama rusa, namun rusa tersebut seolah tidak tertarik dan memilih untuk memalingkan muka ! Ah, sebuah penutup perjalanan yang menyenangkan menikmati suasana Festival Payung Indonesia di Kota Surakarta.

Kamis, 02 Juli 2015

Serba-Serbi Destinasi Wisata Pilihan di Jawa Tengah

Indonesia memiliki pilihan destinasi wisata yang beraneka ragam, seolah tak pernah habis memancarkan pesonanya. Hampir semua propinsi yang ada di Republik Indonesia ini memiliki destinasi wisata dengan karakteristik dan keunikan masing-masing. Tak terkecuali dengan Propinsi Jawa Tengah, propinsi dengan maskot burung Kepodang ini memiliki beragam destinasi wisata yang siap untuk Anda jelajahi bersama kawan maupun keluarga.

Propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa. Propinsi ini memiliki keunikan tersendiri bagi saya dalam hal pariwisata. Jawa Tengah menyimpan beragam potensi wisata, baik itu wisata alam yang beraneka macam, wisata religi dan budaya, wisata edukasi dan sejarah, maupun wisata kuliner yang siap memanjakan lidah. 

Hargo Dumilah, puncak tertinggi Gunung Lawu
Bagi penyuka wisata petualangan, terutama yang berkaitan dengan kegiatan mendaki dan bercumbu dengan alam bebas, Anda dapat mencoba menapaki Gunung Lawu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro-Sumbing, atau Gunung Slamet yang merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa.

salah satu pemandangan pagi di Bukit Sikunir, Dieng
Selain gunung-gunung di atas, Propinsi Jawa Tengah juga memiliki lokasi pendakian yang "diperuntukkan" bagi para pemula. Sebut saja Gunung Andong dan Gunung Prau yang keberadaannya sangat popular saat ini. Atau ingin menikmati sunrise dari ketinggian bukit tanpa terlalu menguras tenaga untuk mendakinya? Bukit Sikunir di Kawasan Dieng bisa menjadi alternatif pilihan mendaki bagi Anda.

Pemandangan Telaga Warna, Dieng
Tempat wisata alam lainnya yang tak kalah indah dan unik adalah Telaga Warna yang berada di Dataran Tinggi Dieng. Danau yang memancarkan warna hijau tosca akibat kegiatan vulkanik dari dalam bumi ini menjadi primadona wisatawan yang berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng ini. Selain memiliki pemandangan danau vulkanik, kita juga dapat menikmati pemandangan deretan perbukitan serta perkebunan yang dipadu dengan udara sejuk khas pegunungan yang menenangkan pikiran dari kepenatan rutinitas harian.

Agrowisata Kebun Teh Tambi, Wonosobo
Masih berlokasi di sekitar lereng pegunungan, Jawa Tengah memiliki beberapa agrowisata yang bisa menjadi alternatif pilihan berwisata. Sebut saja perkebunan teh Kemuning di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar atau agrowisata kebun teh Tambi yang terletak di lereng Gunung Sindoro, Kabupaten Wonosobo. Selain bisa jalan-jalan sambil menikmati udara segar dengan pemandangan perkebunan teh yang hijau membentang, pengunjung pun dapat belajar bagaimana pembuatan teh yang biasa kita nikmati, mulai dari proses pemetikan daun teh segar hingga proses pengolahan di dalam pabrik. Selain bersenang-senang, kita juga dapat tambahan ilmu pengetahuan bukan?

Pantai Nampu, Wonogiri
Dari gunung kita turun ke laut. Propinsi Jawa Tengah juga menyimpan potensi wisata bahari yang siap untuk kita jelajahi. Sebut saja beberapa pantai yang tersebar di pesisir selatan Jawa yang terkenal dengan ombaknya yang besar, pasir putih yan luas membentang, serta tebing-tebing karang yang tinggi menjulang semakin menambah pesona keindahan yang layak untuk diabadikan. Sebut saja Pantai Meganti, Pantai Karang Agung di Kabupaten Kebumen, atau Pantai Nampu yang berada di pesisir Wonogiri. Ssstttt, selain pemandangan alam pesisir pantai yang menawan, jalur menuju Pantai Nampu juga tak kalah menantang. Kelokan demi kelokan dengan kontur jalan yang naik-turun siap mengajak adrenalin mu untuk berpacu menuju Pantai Nampu !

Pulau Gleang, Karimunjawa
Gradasi warna air laut di Karimunjawa

Ingin menikmati pantai berpasir putih dengan gugusan pulau-pulau kecil yang saling berdekatan? Coba saja menyeberang ke Karimunjawa yang terletak di sebelah utara Kabupaten Jepara ! Karimunjawa merupakan salah satu destinasi wisata bahari yang sangat terkenal di Jawa Tengah. Gugusan pulau-pulau cantik dengan pemandangan pasir putih, ombak tenang dengan gradasi warna yang beragam cocok menjadi lokasi untuk bersantai bersama teman maupun keluarga. Karimunjawa juga memiliki pemandangan bawah air yang menarik. Beragam karang, koral, serta ikan-ikan cantik berenang ke sana ke mari dengan lincah. Tak salah jika Karimunjawa dijuluki sebagai Carribean van Java, karena keindahan gugusan pulau-pulaunya serta pemandangan underwater yang menawan sehingga menjadi incaran wisatawan yang ingin menikmati kegiatan snorkling maupun diving.

Candi Plaosan Lor, Klaten
Dari wisata bahari, kita beralih ke wisata sejarah. Sebagai salah satu pusat penyebaran agama di Pulau Jawa pada masa lampau, Jawa Tengah menyimpan peninggalan sejarah yang hingga kini masih bisa kita nikmati keberadaannya. Kita dapat menikmati bangunan candi peninggalan kerajaan Hindu-Budha yang memiliki relief yang indah, beberapa diantaranya adalah Candi Borobudur yang merupakan peninggalan wangsa Syailendra yang kini menjadi candi Budha terbesar di dunia, Candi Prambanan yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, atau Kompleks Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng yang merupakan peninggalan candi Hindu tertua di Indonesia. Selain itu masih banyak lagi candi-candi lainnya seperti Candi Pawon, Candi Mendut di daerah Magelang, Kompleks Candi Gedong Songo di daerah Bandungan, Semarang, Candi Plaosan yang berada di Kabupaten Klaten, serta Candi Sojiwan yang baru saja rampung dipugar. Di lereng Gunung Lawu juga terdapat Candi Sukuh dan Candi Cetha yang dipercaya sebagai peninggalan sisa pengikut Kerajaan Majapahit yang melarikan diri karena kerajaan yang mulai runtuh.

Museum Manusia Purba Sangiran
Beranjak sejenak menuju Kota Solo, yang terkenal dengan julukan kota budaya. Di kota ini kita dapat menikmati keindahan dan kemegahan Kraton Kasunanan dan Kraton Mangkunegaran yang menjadi pusat tradisi, adat-istiadat serta kebudayaan Jawa yang hingga kini masih teguh dijalankan. Jawa Tengah pun memiliki banyak museum untuk didatangi. Museum-museum tersebut antara lain adalah Museum Ronggowarsito, Museum Radya Pustaka, Museum Kereta Api Ambarawa, Museum Batik Danar Hadi, Museum Batik Pekalongan, Museum Dieng Kailasa dan lainnya. Di antara museum-museum yang ada di Jawa Tengah, Museum Manusia Purba Sangiran merupakan salah satu museum yang terkenal baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Museum yang terletak di Kabupaten Sragen ini merupakan museum arkeologi manusia purba terlengkap di Asia dan terdaftar sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO.

Kegiatan pengrajin batik di Kota Solo
Jalan-jalan tak lengkap rasanya jika tidak membawa buah tangan dan mencicipi kuliner lokal yang disajikan. Jawa Tengah terkenal dengan kerajinan batik yang memiliki bermacam motif dan corak. Daerah Solo terkenal dengan batik kraton dengan ciri khas dominan warna sogan (cokelat) dan motif yang bersifat simbolik. Batik Pekalogan yang terkenal dengan batik pesisiran dengan motif bunga-bunga atau binatang dengan warna-warni yang cerah. Ada pula batik Lasem yang terkenal sebagai batik peranakan karena pengaruh budaya Tionghoa dengan dominan warna merah. Ada pula batik tiga nagari, merupakan batik yang melalui tiga tempat untuk mendapatkan pewarnaannya.

sate kere berbahan dasar tempe gembus dari Kota Solo
Mie ongklok khas Wonosobo
Lumpia khas Kota Semarang
Soal memanjakan lidah, Jawa Tengah pun memiliki pilihan kuliner yang beragam. Kita dapat mencicipi kuliner soto kerbau, lentog, nasi pindang dan garang asem di daerah Kudus, atau menuju daerah Pati untuk mencicipi kuliner nasi gandul yang terkenal. Menuju daerah Blora terkenal dengan kuliner satenya, atau mungkin bagi yang ingin mencicipi sate berbahan dasar nabati, dapat mencicipi sate kere yang berbahan dasar tempe gembus asli dari Kota Solo. Selain sate kere, kita juga dapat menikmati selat solo, timlo, nasi liwet dan juga serabi. Atau ingin menikmati malam dengan suasana santai dapat memilih warung HIK (hidangan istimewa keluarga) atau wedangan yang banyak terdapat di Kota Solo ini. Mampir ke Kabupaten Sragen ada sajian pecel tumpang yang memiliki citarasa pedas gurih yang menggugah selera. Yang ingin segar-segar, dapat mencicipi dawet ayu khas Banjarnegara, atau singgah sejenak di Wonosobo untuk mencicipi sajian mie ongklok lengkap dengan sate sapi dan tempe kemul. Bagi yang ingin menikmati makanan yang tidak terlalu berat, dapat mencoba lumpia khas Kota Semarang.

Propinsi Jawa Tengah menawarkan destinasi wisata yang beraneka ragam. Masih banyak lagi destinasi-destinasi wisata lain di Jawa Tengah yang belum semua dikupas-tuntas. Maka dari itu, kegiatan promosi pariwisata harus lebih digalakkan lagi untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Terlebih di era internet dan digital seperti sekarang ini, kegiatan promosi semakin mudah dilakukan. Kegiatan promosi tersebut dapat memanfaatkan keberadaan media sosial atau tulisan informatif melalui konten blog dan website. Selain kegiatan promosi pariwisata, pemerintah juga harus memperhatikan aksesibilitas menuju lokasi wisata seperti infrastruktur yang memadai, perbaikan sarana dan prasarana penunjang serta tak lupa kegiatan pemberdayaan masyarakat lokal agar mereka dapat merasakan manfaat yang positif dengan adanya kegiatan pariwisata.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Utama Blog Visit Jawa Tengah 2015 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.


Kamis, 19 Maret 2015

Mengenal Lebih Dekat Anak Gimbal Dieng

Selain menawarkan keindahan alamnya yang menawan, Dieng juga memiliki adat-istiadat serta budaya yang unik dan tak kalah menarik. Adalah rambut anak rambut gimbal, anak istimewa, titipan dari dewa.


Dataran Tinggi Dieng tersohor dengan keindahan alamnya yang mempesona. Deretan perbukitan yang gagah, telaga warna yang anggun, candi-candi peninggalan kejayaan peradaban Hindu yang masih terjaga keberadaannya, hingga kawah vulkanik yang terlihat cantik namun menyimpan bahaya. Selain keindahan alam, Dataran Tinggi Dieng juga menyimpan sebuah keunikan yang mungkin tidak akan dapat kita temukan di daerah lain. Adalah anak berambut gimbal, yang dipercaya sebagai titisan Kyai Kolodite, leluhur masyarakat Di Hyang, yang bersemayam di dalam raga anak-anak yang dianggap pilihan.


Anak rambut gimbal seolah memiliki kharisma tersendiri. Rambut gimbal mereka tumbuh secara alami, bukan karena hasil karya tangan-tangan kapster yang bekerja di salon. Anak berambut gimbal dipercaya memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan anak-anak lain sebayanya karena mereka dianggap sebagai anak pilihan, sehingga memang ada perlakuan khusus semacam diistimewakan. Pada saat kecil, anak berambut gimbal ini tumbuh selayaknya anak-anak pada umumnya. Namun ketika memasuki usia sekitar dua atau tiga tahun, mereka tiba-tiba mengalami demam yang tinggi, dan pada keesokan harinya tumbuh rambut gimbal secara tiba-tiba di rambut mereka.

Dalam acara #FamTripJateng kemarin, kami diajak mengenal lebih dekat sosok anak rambut gimbal penghuni kawasan Dataran Tinggi Dieng ini. Bertempat di Pendopo Soeharto Whitlam, para travel blogger diajak untuk berdiskusi langsung dengan narasumber seperti Mbah Naryono (sesepuh adat Dieng), mas Alif Fauzi (ketua Pokdarwis di Dieng) dan serta dua anak rambut gimbal, yaitu Nafis dan Sri Nuria yang didampingi oleh orang tua masing-masing.


Pada acara diskusi tersebut, Mbah Naryono bercerita mengenai prosesi ritual pemotongan rambut gimbal. Pemotongan rambut gimbal tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Rambut gimbal dianggap sebagai suatu hal yang cukup sakral, sehingga untuk memotongnya perlu dilakukan serangkaian acara ritual khusus atau ruwatan. Acara pemotongan anak berambut gimbal juga baru bisa dilaksanakan ketika si anak sudah memiliki satu buah permintaan khusus kepada orang tua mereka. Orang tua mereka pun harus menyanggupi permintaan yang terucap dari mulut anak gimbal tersebut. Jika pemotongan rambut gimbal dilakukan tanpa adanya kegiatan ruwatan, maka dipercaya rambut gimbal tersebut akan tetap tumbuh kembali di kepala si anak.

Permintaan anak gimbal yang akan diruwat pun bermacam-macam. Ada permintaan yang mudah dikabulkan seperti meminta mainan, makanan, dan sebagainya. Namun, ada pula beberapa permintaan anak gimbal yang cukup berat untuk dikabulkan, seperti meminta ternak, sepeda motor, bahkan ada pula permintaan yang terkadang susah dinalar dengan akal biasa. Seperti Nafis, gadis kecil yang rencananya akan diruwat dalam perhelatan Dieng Culture Festival tahun 2015 ini memiliki permintaan yang cukup sedehana khas bocah sebayanya, yaitu meminta es lilin buatan dari tetangganya sendiri. Atau Sri Nuria, gadis kecil yang baru saja diruwat dalam acara Dieng Culture Festival tahun 2014 kemarin meminta hewan ternak berupa seekor kambing.

Lalu, bagaimana cara untuk mengetahui permintaan si anak sebelum dilakukan ruwatan rambut gimbal? Ketika si anak berumur sekitar 6 tahun, orang tua mereka, terutama sang ibu akan menanyakan permintaan si anak. Permintaan tersebut ditanyakan ketika mereka baru bangun tidur pada pagi hari. Biasanya si anak gimbal tersebut akan mengucapkan permintaan yang sama ketika ditanya setiap paginya. Maka dari itu, orang tua mereka akan menyiapkan permintaan anak gimbal tersebut saat akan dilakukan ruwatan.

Acara ruwatan anak gimbal sendiri dahulu kala dilakukan secara perorangan, namun sekitar tahun 2010, acara ruwatan anak gimbal dilakukan secara bersama yang dikemas dalam acara Dieng Culture Festival. Acara Dieng Culture Festival memang diselenggarakan untuk melestarikan budaya sekaligus menambah atraksi wisata di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Oh iya, sekedar bocoran nih, acara Dieng Culture Festival tahun 2015 ini rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 1-2 Agustus 2015 lho ! Bagi yang berminat untuk melihat acara Dieng Culture Festival ini silahkan catat tanggalnya ya ! Informasi Dieng Culture Festival dapat diintip di akun twitter mereka @FestivalDieng ya :) 

Kamis, 12 Februari 2015

Pecel Ndeso Khas Kutho Solo

Menyambangi pasar tradisional, bagi saya seperti menikmati langsung denyut kehidupan perekonomian masyarakat lokal. Ada transaksi jual beli berbagai macam barang kebutuhan, termasuk sajian kuliner lokal yang menggiurkan. Perjalanan kali ini membawa saya kembali menyambangi Kota Solo, sebuah kota yang terkenal dengan tradisi budaya Jawa yang masih kental, serta kuliner tradisionalnya yang beraneka ragam.

Pagi ini saya menyambangi Pasar Gede untuk mencari kuliner tradisional yang mungkin sedikit mulai sulit ditemukan. Salah satu sajian lokal yang saya cicipi pagi ini adalah pecel ndeso. Bagi masyarakat Jawa, sajian pecel cukup mudah kita temukan dan biasa dijadikan sebagai menu sarapan. Campuran aneka sayuran segar yang direbus kemudian disiram dengan bumbu sambal kacang memberi cita rasa pedas, manis dan gurih yang khas. Namun, pecel ndeso ala Kota Solo ini sedikit berbeda dibandingkan dengan pecel-pecel pada umumnya yang biasa kita temukan.


Letak perbedaannya adalah pada sambal pecel yang digunakan untuk menyiram campuran sayur mayur yang telah direbus. Sambel pecel ala pecel ndeso Solo ini menggunakan campuran bahan cabuk, yaitu ampas dari proses pembuatan minyak wijen. Campuran dari bahan cabuk inilah yang memberikan warna hitam pada sajian sambal pecel ndeso ini.


Pecel ndeso ini biasanya disajikan di atas pincuk yang terbuat dari daun pisang yang menambah kesan tradisional. Sajian pecel ndeso terdiri dari seporsi nasi merah yang disajikan dengan suwiran ayam serta sayuran yang direbus seperti daun bayam, daun singkong, daun pepaya, kacang panjang, kembang turi, kecipir, kecambah, petai cina (melanding) kemudian disiram dengan sambal pecel bertekstur kental dan berwarna hitam. Untuk menambah aroma ditambahkan daun kemangi segar dan juga potongan mentimun yang menambah kesegaran. Tak lupa ditambah dengan karak/kerupuk lempeng (olahan kerupuk dari bahan beras) yang menambah rasa gurih dan kriuk sajian pecel ndeso ini. Sebagai tambahan lauk-pauk, Anda pun dapat menambahkan bongko dan gembrot pada sajian pecel ini.

Bongko merupakan sejenis pepes kacang tholo yang dicampur dengan parutan kelapa. Sedangkan gembrot sejenis pepes yang terbuat dari daun sembukan yang dicampur dengan parutan kelapa. Kedua sajian masakan  ini memiliki cita rasa manis dan gurih, sangat pas disajikan dengan menu pecel ndeso ini.

Untuk menikmati sajian pecel ndeso ini, silahkan menyambangi Pasar Gede Solo. Lapak pedagang yang menjajakan pecel ndeso ini terletak di sebelah kiri pintu masuk utama pasar. Walaupun gelaran lapaknya nampak sederhana dan terlihat apa adanya, namun jangan ragukan cita rasanya sajiannya. Pecel ndeso ini memiliki cita rasa yang cukup gurih dengan aroma khas wijen yang menggoda. Sajian pecel ndeso kaya akan serat dan manfaat, harganya pun sangat terjangkau oleh semua kalangan masyarakat. Satu porsi pecel ndeso lengkap dengan lauk-pauknya hanya dibandrol dengan harga Rp 8.000,00 saja. Oh iya, penjual pecel ndeso di Pasar Gedhe ini mulai membuka lapak dari pukul 06.00 pagi hingga sekitar pukul 09.30 pagi saja lho ! Jadi, jangan datang kesiangan jika tidak ingin melewatkan icip-icip sajian pecel ndeso ini ya !

Kamis, 25 Desember 2014

Menengok Proses Pembuatan Manisan Carica Khas Dieng

Singgah ke sebuah tempat rasanya tidak lengkap jika tidak membawa oleh-oleh khas daerah setempat. Jika Anda sedang mampir di daerah Wonosobo, maka manisan carica adalah pilihan tepat sebagai buah tangan untuk keluarga dan kerabat.

Satu pertanyaan yang sering saya lontarkan ketika saya sedang berkunjung ke suatu tempat yaitu adakah kuliner khas dari daerah setempat? Pertanyaan tentang makanan menurut saya menjadi salah satu entry point yang paling mudah untuk memulai pembicaraan dengan orang yang baru saja kita kenal dalam perjalanan.


Berbicara tentang Wonosobo, daerah ini memiliki beberapa makanan khas yang wajib Anda coba ketika bertandang di kota ini. Dari beberapa makanan khas, manisan carica menjadi salah satu sajian yang diburu oleh wisatawan oleh-oleh khas. Rasanya yang manis serta aromanya yang khas menjadikan sajian ini menjadi primadona oleh-oleh daerah Wonosobo.



Pada acara #FamTripJateng kali ini kami diajak untuk melihat langsung proses pembuatan manisan buah carica di PT Yuasa Food Indonesia yang beralamatkan di Jalan Dieng KM 3.5 Krasak, Mojotengah, Wonosobo. Jika dilihat sekilas, bentuk buah carica terlihat seperti perpaduan antara buah kakao dan buah pepaya. Ketika dibelah, bagian daging buah terlihat berbentuk seperti bintang, dengan daging buah berwarna kuning serta biji buah yang diselimuti lendir. Bagian biji buah yang berlendir inilah yang memberikan aroma khas carica yang tajam namun menggugah selera. Jika dicicipi, bagian biji yang berlendir ini terasa manis namun sedikit masam, sedangkan daging buahnya terasa hambar. 



Proses pembuatan manisan carica ini cukup mudah. Setelah mengupas kulit buahnya, carica kemudian dibelah untuk memisahkan bagian biji dengan daging buahnya. Selanjutnya, bagian biji buah carica ini direbus dengan campuran air dan gula pasir untuk membuat sirup untuk campuran manisan. Selanjutnya, bagian daging buah yang usai dipotong dan dicuci bersih dicampurkan dengan sirup dari biji buah carica dimasukkan ke dalam kemasan sesuai dengan takaran. Tahap selanjutnya adalah proses fakturisasi dengan cara merebus manisan carica yang sudah masuk ke dalam kemasan agar steril dari bakteri. Proses fakturisasi ini cukup sederhana, hanya merebus manisan carica di dalam kemasan tersebut menggunakan api kecil dalam waktu kurang lebih 50 menit. Tahap terakhir adalah pemberian label pada kemasan dan proses pengemasan agar siap dipasarkan.



Ada dua kemasan manisan carica yang dihasilkan oleh pabrik pengolahan ini, yaitu kemasan botol plastik dan kemasan botol kaca. Anda pun dapat membeli oleh-oleh manisan buah carica ini langsung dari pabrik pengolahannya maupun di toko oleh-oleh yang ada di Kota Wonosobo. Jalan-jalan ke kawasan Dieng tak lengkap rasanya jika tak membawa oleh-oleh manisan buah carica untuk keluarga, sanak saudara dan kerabat Anda bukan? Jadi, jangan sampai terlewat ya untuk membeli dan mencicipi manisan carica yang aromanya khas ini !

disclaimer :
tulisan ini dibuat dalam rangka acara #FamTripJateng yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jata Tengah dengan mengundang beberapa rekan travel blogger pada tanggal 4-5 Desember 2014