Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2015

The Umbrella Reborn at Festival Payung Indonesia 2015

Keramaian pengunjung mulai terasa ketika ojek yang saya tumpangi memasuki sebuah jalan kecil menuju Taman Balekambang. Motor-motor mulai berdatangan dan berdesakan mencari area parkir yang mulai penuh sesak oleh pengunjung yang ingin menikmati acara Festival Payung Indonesia siang itu. Kemeriahan acara mulai terlihat di bagian gerbang masuk Taman Balekambang, di mana ratusan kerangka payung yang diberi cat warna-warni digantung dan ditata dengan cukup artistik sehingga menarik pengunjung untuk mengabadikan gambar melalui ponsel dan tongkat narsis masing-masing.


Tahun ini, acara Festival Payung Indonesia kembali digelar di Kota Solo mengangkat tema "umbrella reborn". Acara ini diselenggarakan selama tiga hari, yaitu mulai tanggal 11-13 September 2015. Instalasi payung berwarna-warni terlihat begitu kontras dengan hijaunya pepohonan dan birunya langit Kota Solo siang itu. Panas yang cukup menyengat pun tidak menghalangi minat pengunjung untuk berjalan-jalan mengelilingi Taman Balekambang sambil mengambil beberapa gambar.



Tema "umbrella reborn" dipilih untuk mengusung lahirnya payung dalam kebaruan artistik visual. Fungsi payung identik untuk melindungi badan dari guyuran air hujan. Payung konvensional memiliki bentuk serta corak warna yang terlihat begitu monoton dan tidak menarik pandangan mata. Namun, di tangan orang-orang kreatif, payung-payung ini bisa disulap menjadi barang kerajinan yang memiliki nilai estetika yang tinggi. Payung lukis misalnya, dengan berbagai motif, corak serta warna-warni yang menarik yang menarik, sehingga dapat difungsikan menjadi penghias ruangan maupun properti untuk pengambilan gambar terutama untuk memotret model. Festival ini diadakan selain untuk menarik kunjungan, juga dijadikan sebagai ajang untuk memperkenalkan UMKM pengrajin payung yang ada di nusantara di mana menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif di Indonesia.


Selain motif dan corak lukisan yang atraktif, bentuk payung pun dapat dibuat lebih menarik. Payung Bali misalnya, dengan menambah nuansa tradisional yang khas serta tambahan pernak-pernik yang menarik, menjadikan payung Bali menjadi salah satu barang incaran wisatawan untuk dibawa sebagai buah tangan. Payung Bali memang biasa digunakan sebagai penghias ruangan karena kecantikan motif dan bentuknya yang rupawan.


Selain memamerkan hiasan payung yang beraneka rupa, dalam acara ini juga diselenggarakan acara pentas seni dari beberapa seniman yang berasal dari berbagai daerah. Dalam acara Festival Payung Indonesia ini pula dipamerkan beberapa pengrajin payung dari beberapa daerah di Indonesia yang menampilkan kerajinan payung dengan motif, warna, dan corak yang khas dari daerah payung tersebut berasal. Selain berfoto ria, pengunjung pun dapat mengikuti kegiatan workshop pembuatan payung tradisi dan kreasi yang diselenggarakan oleh panitia acara. Pengunjung pun juga dimanjakan dengan pameran fotografi yang mengangkat tema tentang payung. Banyak obyek menarik yang dibidik oleh para fotografer yang dipamerkan dalam acara ini.



Selain hiasan payung dengan berbagai bentuk unik serta warna-warni yang menarik, pandangan mata saya justru tertarik dengan dua ekor rusa betina jinak penghuni Taman Balekambang di akhir perjalanan ini. Banyak pengunjung terutama anak-anak yang terlihat begitu antusias untuk berinteraksi langsung dengan rusa-rusa tersebut. Rusa betina tersebut sedang duduk bermalas-malasan sambil menguyah rumput yang menjadi makanan mereka. Banyak pengunjung yang mendekati rusa tersebut dan mengajak berfoto bersama. Ada hal yang menarik siang itu, terlihat segerombolan cewek yang sibuk dengan "tongsis" untuk mengajak berfoto bersama rusa, namun rusa tersebut seolah tidak tertarik dan memilih untuk memalingkan muka ! Ah, sebuah penutup perjalanan yang menyenangkan menikmati suasana Festival Payung Indonesia di Kota Surakarta.

Rabu, 16 September 2015

[ EVENT ] Family Gathering PT.Wijaya Karya - Jakarta



Pada tanggal 28 Pebruary 2015 - 1 Maret 2015, PT. Wijaya Karya Proyek 10 Paket PELINDO II menyelenggarakan acara Family Gathering di Beach Hotel Tanjung Lesung
Acara Family Gathering yang didampingi oleh in house event organizer Spinach Indonesia ini, dikemas dengan beberapa program dengan kemasan  Fun Family Day.
Semua peserta terlibat secara aktif melalui beberapa acara :
- Family Competition
- Fun Team Building Outbound untuk Karyawan
- Fun Character Building untuk anak anak

Tari Selamat datang suguhan tim dari Beach Hotel Tanjung Lesung 

.
Sebelum proses check in kamar, peserta langsung menuju restaurant untuk makan siang bersama

.
Kegiatan Fun Outbound Team Building - Character Building dilaksanakan setelah proses check in kamar

.

.

.

.
Kegiatan diarahkan oleh Master Games dan Tim Butler Spinach Indonesia dengan konsep exclusive 

.


Sebagai puncak acara, pada malam hari dikemas acara kebersamaan dengan thema THE PIRATES; dengan tetap menggabungkan unsur tradisional.
Acara malam kebersamaan ini, seluruh peserta terlibat secara aktif, anak-anak secara spontan memberikan suguhan dance performance dengan didamping tim talent dari EO Spinach Indonesia.
Acara bertambah meriah dengan suguhan beberapa acara interaktif seperti dance performance, talent show sampai dengan fire show.

Spinach Indonesia merupakan pioner provider Event Organizer dengan konsep BUTLER untuk acara Gathering, Outbound, Outing, Kick Off, Meeting, serta event lainnya dengan meberikan sentuhan entertainment.
Bila anda tertarik dengan konsep exclusive kami, hubungi :
SPINACH INDONESIA
0812 183 1184
0813 9417 9048

0819 111 234 81
0818 0211 8548
email : spinachmanagement@yahoo.com



Minggu, 27 April 2014

Wayang Wong Sriwedari - Seni Pertunjukan yang Masih Lestari

Tak ada sorot lampu yang berbinar, pun dengan spanduk-spanduk yang bergelantungan menghiasi gedung pertunjukan. Hanya tampak sebuah gedung pertunjukan tua dengan penerangan seadanya. Pedagang kaki lima tampak membuka lapak sembari menjajakan dagangannya kepada penonton yang sudah antri menunggu loket penjualan tiket di buka.


Usai membayar tiket sebesar Rp 3.000,00 pun seluruh penonton riuh berlarian masuk ke dalam gedung pertunjukan untuk mencari kursi dengan posisi yang nyaman untuk melihat pagelaran. Kondisi di dalam gedung pertunjukan pun terlihat nampak sederhana. Kursi-kursi kayu yang sudah nampak usang berjajar tertata sedemikian rupa di bagian penonton. Di bagian depan terdapat panggung pertunjukan utama lengkap dengan layar proyektor di sisi kanan dan kiri panggung yang memberikan deskripsi singkat mengenai perpindahan plot setiap babak dalam pertunjukan. Seperangkat alat musik gamelan pun tertata rapi di dekat panggung sebagai pengiring musik selama pertunjukan.



Pertunjukan wayang wong malam ini mengambil lakon "Pedhut Dwarawati". Walaupun memiliki panggung pertunjukan yang nampak sederhana, namun tidak dengan pertunjukan yang disuguhkan. Totalitas pemain wayang wong sungguh luar biasa. Mereka tampak begitu lepas dalam memainkan tokoh yang sedang mereka perankan. Tidak ada kesan kaku dan terpancang dengan skenario yang telah dibuat, seolah-olah tokoh yang sedang mereka perankan sudah menyatu di dalam raga para pemain wayang wong tersebut. Tata lampu dan permainan musik gamelan yang apik semakin menambah semarak suasana pagelaran Wayang Wong Sriwedari ini. Seluruh adegan percakapan dalam pertunjukan wayang wong ini menggunakan bahasa Jawa. Walaupun ada beberapa kata yang mungkin kurang dimengerti maknanya, namun gelak tawa penonton pun pecah ketika para pemain bertingkah jenaka di beberapa adegan. Semacam ada sebuah bahasa universal sehingga terjalin komunikasi antara penonton dan pemainnya.

Wayang Wong Sriwedari merupakan sebuah maha karya seni pertunjukan yang memadukan seni drama, seni tari dan seni musik. Kesenian ini mengalami perkembangan yang cukup pesat di Kraton Surakarta pada masa pemerintahan Mangkunegoro IV. Dahulu pagelaran wayang wong hanya dapat dinikmati oleh kalangan yang berada di dalam bangunan kraton saja, sehingga tidak sembarang orang dapat menikmati pertunjukan tersebut. Wayang wong pun sempat mengalami masa surut pada masa pemerintahan Mangkunegoro V. Untuk melangsungkan eksistensi kesenian wayang wong, para pemain melakukan ekspansi keluar kraton. Mereka mengadakan pertunjukan dengan sistem menarik bayaran kepada penonton. Sekitar tahun 1910-an, barulah rombongan wayang wong ini melakukan pementasan perdana mereka di Kebon Raja Sriwedari atau sekarang yang lebih kita kenal dengan Taman Sriwedari. Jika dihitung-hitung, usia pertunjukan wayang Wong Sriwedari yang dilangsungkan di Taman Hiburan Rakyat ini sudah berusia sekitar satu abad lebih.


Pertunjukan Wayang Wong Sriwedari sendiri pernah mengalami masa pasang dan surut di dalam perjalannya. Di masa krisis penonton, mereka pun masih tetap melangsungkan pertunjukan, walau hanya dilihat oleh segelintir orang saja. Mereka mempertahankan tradisi dan budaya, bukan hanya sekedar mencari nominal rupiah sebagai penghasilan semata. Kecintaan mereka terhadap budaya lah yang menjadikan mereka tetap bertahan di masa-masa krisis tersebut. Barulah memasuki era tahun 2000 sekian ada campur tangan dari pemerintah kota Surakarta untuk mempromosikan kesenian Wayang Orang Sriwedari ini sebagai salah satu atraksi wisata di kota Solo ini. Dengan adanya promosi oleh pemerintah paling tidak ada usaha untuk memperkenalkan kesenian wayang orang ini kepada wisatawan yang berasal dari luar Kota Surakarta dan sekitarnya.

Masalah kunjungan penonton mungkin bisa sedikit teratasi dengan adanya promosi yang dilakukan oleh pemerintah kota maupun dengan maraknya travel blogger yang menyajikan ulasan di blog pribadi mereka. Ada satu permasalahan yang menurut saya menjadi sebuah masalah yang cukup vital bagi kelangsungan kesenian Wayang Wong Sriwedari ini. Masalah tersebut adalah minimnya regenerasi pemain wayang wong. Sepanjang pengamatan saya selama pertunjukan, banyak pemain wayang wong merupakan orang-orang yang sudah menginjak usia senja alas sudah memasuki masa sepuh. Regenerasi pemain wayang wong perlu juga dilakukan agar bisa mengenalkan budaya daerah kepada generasi muda. Jika regenerasi pemain wayang wong ini tidak segera dilakukan, saya khawatir jika seni budaya ini akan tergerus dengan perubahan zaman yang semakin cepat berkembang seperti sekarang dan entah bagaimana dengan nasib pertunjukan Wayang Wong Sriwedari di masa yang akan mendatang.


Saya menyaksikan pertunjukan wayang wong Sriwedari ini di Sabtu malam alias malam Minggu. Sepanjang pengamatan saya, cukup banyak penonton yang menyaksikan pertunjukan wayang wong ini. Kursi-kursi di bagian penonton hampir seluruhnya penuh terisi. Rata-rata penonton memang orang yang sudah berusia tua, ada pula yang mengajak anak-anak mereka untuk memperkenalkan budaya lokal sejak usia dini, bahkan ada pula dari mereka adalah turis asing yang mungkin sedang belajar maupun singgah di Kota Solo. Ada pula penonton yang berasal dari luar kota rela datang jauh-jauh ke Kota Solo untuk menyempatkan diri menyaksikan pertunjukan wayang wong ini seperti seorang bapak-bapak yang duduk di samping saya waktu itu. Beliau tinggal di Kota Semarang dan pernah beberapa kali menyempatkan diri melihat pertunjukan wayang wong ini. Beliau bercerita jika pagelaran Wayang Wong Sriwedari jauh lebih menarik daripada pagelaran seni tradisi serupa dari Negeri Sakura yang pernah beliau tonton semasa bertugas di sana. Harga tiket pertunjukan yang cukup mahal menurut beliau tidak sebanding dengan kepuasan batin yang beliau dapatkan. Berbeda dengan pertunjukan Wayang Wong Sriwedari ini, dengan harga tiket yang sangat terjangkau dan dengan tata panggung yang sederhana, namun beliau merasa sangat terhibur dan mendapatkan kepuasan batin tersendiri setelah menyaksikan pertunjukan ini.

Singgah di Kota Surakarta memang tidak lengkap rasanya jika tidak melihat pagelaran Wayang Wong Sriwedari ini. Dengan segala kesederhanaannya, pertunjukan Wayang Wong Sriwedari selayaknya mendapatkan apresiasi agar tidak hilang digerus perkembangan zaman yang kata orang semakin edan. Selayaknya orang Indonesia, kita harus bangga dan belajar melestarikan tradisi leluhur peninggalan nenek moyang kita. Jika bukan kita yang melestarikan tradisi budaya tersebut, lalu siapa lagi?


keterangan :
Pagelaran Wayang Wong Sriwedari dipentaskan di Gedung Pertunjukan Wayang Wong Sriwedari yang berada di kompleks Taman Hiburan Rakyat Sriwedari
alamat : Jalan Slamet Riyadi 275 Surakarta

Pertunjukan Wayang Wong Sriwedari digelar pada hari Selasa-Sabtu dari pukul 20.00 - 22.30 WIB
hari Minggu dan Senin pertunjukan libur
tiket : Rp 3.000,00 per-orang

Selasa, 08 April 2014

Potret dari Gili Ketapang

Hanya sekedar foto asal, asal jepret, asal ambil !

Suatu sore di salah satu sudut Pulau Gili Ketapang. 


Di antara sampah-sampah berserakan di tepi pantai, saya melihat seorang perempuan setengah baya mengenakan baju kutang dengan bawahan jarik menggendong sebuah keranjang yang terbuat dari anyaman bambu. Entah apa yang sedang beliau cari di antara sampah-sampah yang berceceran di pinggir pantai tersebut. Kulitnya nampak legam disengat sinar matahari yang terasa lebih terik di pulau ini. Sesekali dia memungut sesuatu untuk dimasukkan ke dalam keranjang bambu miliknya. Tatapannya nampak kosong ketika memandangi hamparan air laut di depannya, terkadang juga memandang aneh ke arah kami, segerombol orang asing yang sedang berkunjung di pulau tempat beliau tinggal. Entah apa yang beliau pikirkan, usai beristirahat pun beliau kembali memungut beberapa barang yang kembali dimasukkan ke dalam keranjang bambu tersebut.


Masih di lokasi yang sama, seorang anak laki-laki bersarung dan berpeci dengan malu-malu menyambangi rombongan kelompok kami. Usianya masih sekitar anak remaja belasan tahun. Raut mukanya menggambarkan mimik muka malu-malu dan sedikit rasa takut atau mungkin rasa canggung. Sesekali dia mendekati rombongan kami sambil melempar senyum lugunya seolah ingin mengajak kami berkenalan. Sayang, dari sekian orang rombongan tidak ada yang mengajaknya berkenalan. Hanya sorot mata lugu seorang bocah yang penuh dengan harapan yang bisa saya abadikan. 



Di pagi hari di salah satu sudut Pulau Gili Ketapang.


Mungkin jika berada di perkotaan, kita akan melihat hiruk-pikuk lalu-lalang kendaraan seperti mobil atau motor untuk menuju ke kantor. Jika di pulau semacam ini kita akan melihat hiruk-pikuk kapal maupun perahu nelayan yang akan pergi melaut. Seperti suasana pagi di salah satu sudut Pulau Gili Ketapang pagi itu. Terlihat beberapa nelayan sibuk menyiapkan perahu untuk melaut. Ada yang menggunakan perahu dengan mesin modern, ada pula perahu yang menggunakan layar yang terlihat seperti motif sarung. Ah, semoga hasil tangkapanmu bagus hari ini wahai para nelayan Gili Ketapang !


Keindahan pagi itu seolah semakin lengkap ketika saya disuguhi sebuah pemandangan pepohonan yang nampak meranggas tanpa dedaunan yang diterpa sinar matahari pagi yang membentuk bayangan. Ah, welcome sunrise !

Selasa, 01 April 2014

Menyegarkan Pikiran di Ranu Segaran

Usia menikmati keheningan di Ranu Agung, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Ranu Segaran. Jarak antara Ranu Agung dan Ranu Segaran relatif cukup dekat, memakan waktu sekitar 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Ranu Segaran mungkin lebih populer dijadikan sebagai obyek wisata dibandingkan dengan Ranu Agung. Pengunjung di Ranu Segaran lebih ramai dibandingkan dengan pengunjung di Ranu Agung. Mungkin kemudahan akses jalan menuju Ranu Segaran serta fasilitas yang disediakan menjadikan obyek wisata ini lebih banyak dikunjungi oleh wisatawan.


Ranu Segaran memiliki fasilitas wisata yang cukup memadai dibandingkan dengan Ranu Agung. Di tempat ini sudah terdapat sebuah warung makan, fasilitas mushola, kamar mandi umum, bahkan sudah terdapat permainan air seperti perahu motor dan sepeda air berbentuk bebek. Di sekitar Ranu Segaran ini juga terdapat pemandian air panas alami yang berada di dekat aliran air sungai. Saya sendiri tidak menyambangi tempat tersebut karena rasa lelah dan cuaca gerimis serta kabut yang datang menyambut.




Ranu Segaran memiliki pemandangan yang cukup cantik. Dikelilingi hutan-hutan yang masih cukup terawat sehingga memberikan nuansa segar sepanjang mata memandang. Tak salah memang, jika Ranu Segaran ini  sebagai alternatif termpat berwisata yang bisa menjadikan pikiran kembali segar karena pemandangan alam yang masih asri dan nampak masih alami. Soal biaya pun tak menjadi masalah karena obyek wisata ini tergolong sangat murah meriah. 

Kamis, 27 Maret 2014

Keheningan Ranu Agung di Probolinggo

Truk TNI pun kembali melaju melintasi jalanan beraspal di Kota Probolinggo. Kali ini perjalanan Tour De Probolinggo dilanjutkan menuju beberapa desa yang ada di kawasan Pegunungan Argopuro. Saya tak ingat betul rute mana saja yang kami lewati. Hanya beberapa tempat yang saya ingat. Rute yang kami tempuh melewati sebuah pabrik gula kemudian menuju ke arah Kali Bokong, searah dengan Songa Rafting sebagai operator wisata arum jeram di Sungai Pekalen. Jalur yang kami lewati cukup berkelok, naik turun, aspal jalan yang mulai banyak berlubang, diselingi dengan jurang dan perbukitan di sisi kiri dan kanan jalan. Kabut pun sesekali datang menyambut diselingi udara dingin yang seolah saling bersahut.


Suasana perjalanan terkadang memang sedikit mendebarkan, terlebih ketika kendaraan kami harus berpapasan dengan kendaraan lain. Lebar jalan yang tak seberapa, apalagi ada jurang di sisi kanan dan kiri jalan, serta beberapa ruas jalan yang terkikis terkena longsoran. Tujuan kami adalah untuk berkeliling di Desa Tiris, sebuah desa yang berada di kaki Pegunungan Argopuro. Kami akan mengunjungi Ranu Agung, sebuah danau vulkanik yang ada di kawasan lereng perbukitan.


Di sepanjang perjalanan menuju Ranu Agung ini kami disuguhi dengan pemandangan pohon durian yang sedang berbuah. Sebagian besar masih mentah, ada pula yang sudah masak dan menyebarkan aroma yang khas. Saya cukup buta arah, hanya satu hal yang saya ingat, setelah truk melewati sebuah belokan, perjalanan dilanjutkan melewati jalanan yang memiliki lebar tak kurang dari satu buah kendaraan dengan kontur jalan yang menanjak. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati hutan yang diselingi perkebunan kopi dan kompleks pemakaman hingga akhirnya kendaraan yang kami tumpangi berhenti di sebuah halaman sekolah dasar.


Dari sekolah dasar tersebut perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuruni bukit. Udara segar khas kaki pegunungan serta "jeritan" suara serangga seolah menyambut kedatangan kami di Ranu Agung ini. Hening, hampir tidak ada seorang pun kecuali rombongan kami yang datang ke danau yang memiliki pemandangan yang cukup menarik ini. Namun sayang, keindahan Ranu Agung tak bisa kami nikmati dengan cukup jelas karena kabut yang datang menyelimuti area.


Saya kurang begitu tahu cerita pasti mengenai Ranu Agung ini. Konon, Ranu Agung merupakan danau vulkanik yang terbentuk dari gunung berapi Lamongan. Hal ini bisa kita lihat dari bentuk dan kontur Ranu Agung yang menyerupai sebuah cekungan seperti bekas kawah gunung. Di salah satu sudut danau ini kita dapat melihat kontur batu yang membentuk lapisan menyerupai sebuah dinding.


Ranu Agung memiliki suasana yang masih sangat alami. Lokasi ini memang belum sepenuhnya dikembangkan menjadi sebuah destinasi wisata. Di sekeliling Ranu Agung masih terdiri dari hutan dan ladang. Tidak ada fasilitas penunjang pariwisata seperti warung makan, toilet, maupun mushola. Bila ingin bermain-main di ranu, Anda dapat memakai sampan yang terbuat dari bambu yang tersedia di pinggir danau. Anda pun dapat berenang di danau ini karena airnya yang cukup jernih dan tidak terlalu dingin menurut saya. Namun perlu berhati-hati, karena danau ini memiliki kedalaman yang beragam dan juga bebatuan di dasar danau yang bisa menggores kulit.


Ranu Agung merupakan sebuah lokasi yang tergolong sebagai wisata minat khusus. Lokasinya masih cukup tersembunyi dan cukup menantang nyali karena jalan menuju Ranu Agung ini memiliki rute jalan yang cukup menanjak di antara hutan-hutan. Pada hari biasa mungkin Anda tidak akan menemukan warung maupun penduduk yang berlalu-lalang di area sini. Namun beruntung, ketika rombongan Tour De Probolinggo mengunjungi Ranu Agung ini, ada sebuah warung yang "tiba-tiba buka" tak jauh dari lokasi Sekolah Dasar. Ranu Agung merupakan sebuah lokasi yang sangat cocok bagi Anda yang menyukai suasana alam yang masih hening dan alami. Jika Anda berkunjung ke sini, jangan lupa untuk membawa kembali sampah yang Anda hasilkan, agar tidak mengotori dan merusak alam !

Jumat, 21 Maret 2014

Selamat Atas Kepengurusan Baru Telapak Sumut 2014

Kepengurusan Baru Telapak Sumut 2014
Selamat Atas Kepengurusan Baru Telapak Sumut 2014 - Setelah sekian lama komunitas Telapak Sumut berdiri, namun belum ada kepengurusan yang resmi dan real di dalam komunitas ini, Karena itu tepat hari Minggu, 2 Maret 2014, seluruh anggota Telapak Sumut berkumpul dan Rapat untuk membentuk kepengurusan baru dalam Komunitas ini. Yang tujuannya agar Komunitas ini bisa berjalan dengan baik dan mempunyai agenda yang teratur dalam memujudkan Visi dan Misi dari Telapak Sumut ini untuk menjelajah dan mencintai Wisata Alam Sumatera Utara. Serta Berharap agar komunitas diketahui keberadaannya dan diakui oleh masyarakat bahwa Telapak Sumut adalah komunitas yang mempunyai kegiatan positif untuk masyarakat luas.

Selain Rapat untuk membentuk Kepengurusan baru Telapak Sumut 2014, pada hari itu juga dibarengi dengan acara Barbeque alias bakar-bakar ayam. hahhahah. :) , Sebenarnya sekalian untuk makan siang sih..hehhe. Semua anggota berkumpul dan begitu terasa keakrabannya. Semoga saja keakraban ini tetap terjaga selamanya.
Rapat kepengurusan Telapak SumutRapat kepengurusan Telapak Sumut
Sekitar Pukul 14.00 Wib, Acara Inti pun dimulai, yaitu pembentukan pengurus yang dilakukan dengan cara Voting untuk menentukan Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara serta kapten Ranger/Guide Telapak Sumut. Setelah berlangsung sekitar 1 jam, akhirnya terpilih udah para Pengurus Baru Telapak Sumut yaitu :
  • Ketua  : Ahmad Rifai (Pay)
  • Wakil Ketua : Bay Arfan (Abay)
  • Sekretaris : Jamalludin Lubis
  • Bendahara : Didi Setiadi
  • Kapten Ranger : Raditia Purnomo
    Kepengurusan Baru Telapak Sumut 2014
    Didi, Abay, Jamal, Purnomo, Pay
Selamat Atas Kepengurusan Baru Telapak Sumut 2014.. Semoga komunitas ini akan semakin baik dan sukses kedepannya.. Amiinnn.. Dan untuk nama-nama Anggota Resmi Telapak Sumut bisa dilihat DISINI

Salam Lestari...!!

Rabu, 19 Maret 2014

Pulau Gili Ketapang - Miniatur Madura di Utara Probolinggo

Tak ada jembatan penghubung antar pulau yang kokoh, pun demikian dengan kapal-kapal besar yang mengangkut penumpang, barang bahkan kendaraan untuk menyeberang. Hanya ada perahu motor sebagai sarana transportasi yang mengantarkan penumpang dan barang menuju ke pulau seberang. Suasana Pelabuhan Tanjung Tembaga pagi itu masih cukup lengang. Hanya terlihat beberapa kapal nelayan yang bersandar dan bongkar muatan.


Di hari ketiga ini, panitia Tour De Probolinggo mengajak para peserta menyeberang ke Pulau Gili Ketapang, sebuah pulau kecil dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam perjalanan dari Pelabuhan Tanjung Tembaga. Usai berkemas dan membereskan tenda, dengan penuh semangat kami berjalan kaki menuju pelabuhan untuk kemudian naik ke atas perahu dan bersiap untuk menyeberang. Cuaca pagi ini pun cukup bersahabat. Ombak laut cukup tenang, pun demikian dengan sinar matahari yang tidak terlalu terik membakar kulit.



Sayang, ketika kami akan bersandar, perahu yang kami tumpangi tidak dapat sampai ke tepian karena air laut yang surut. Sebuah perahu sederhana yang terbuat dari rangkaian gabus datang menjemput. Ada seorang bapak-bapak yang mendorong perahu sederhana tersebut, sembari membatu kami untuk naik ke atas dan menata barang. Ada yang memilih untuk menumpang perahu, ada pula yang memilih nekat menceburkan diri dan berjalan kaki menuju tepi pantai.


Pulau Gili Ketapang memiliki keunikan tersendiri bagi saya. Pulau ini terkenal dengan penduduknya yang hampir keseluruhan adalah masyarakat keturunan Madura dengan mata pencaharian sebagian besar sebagai nelayan. Walaupun mereka adalah Suku Madura, namun sebagian besar dari mereka belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Madura. Keramahan masyarakatnya sangat terasa di saat kami tiba. Masyarakat di sini cukup murah senyum dan ramah kepada para pendatang. Namun perlu diingat, sebagian besar masyarakat di Gili Ketapang hanya bisa berbahasa Madura, mereka tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia, walaupun mengerti artinya. Jadilah kami sering menggunakan bahasa isyarat ketika berkomunikasi. Kami memakai bahasa Indonesia ketika berbincang, sedangkan mereka akan menjawab dengan bahasa Madura yang memiliki logat yang khas. Di antara keterbatasan bahasa untuk berkomunikasi, ada sebuah bahasa universal yang kami gunakan, yaitu senyuman dan sapaan.

Masalah Sampah, Kambing, dan Abrasi
Pulau Gili Ketapang memang bukan sebuah lokasi wisata dan saya berharap pulau ini tidak dilacurkan menjadi sebuah destinasi wisata. Di balik pasir putih dan ombak lautnya yang biru jernih, Pulau Gili Ketapang menyimpan sebuah kisah yang cukup memilukan. Sampah berserakan di mana-mana ! Entah di lingkungan sekitar tempat tinggal, bahkan sampai di tepi pantai. Berbagai macam sampah pun dapat ditemui di tepian pantai, mulai sampah organik, sampah anorganik, bahkan bangkai binatang pun ada di sini. Menurut penuturan penduduk setempat, memang kesadaran masyarakat masih kurang dalam mengelola sampah. Selain sampah rumah tangga dari penduduk setempat, banyak sampah yang berserakan di tepi pantai juga berasal dari sampah di Pulau Jawa yang terbawa oleh ombak. Saya berharap terdapat manajemen pengelolaan sampah yang lebih baik lagi di pulau ini agar sampah-sampah tidak menumpuk di sekeliling Pulau Gili Ketapang lagi.


Selain dihuni oleh manusia, Pulau Gili Ketapang juga dihuni oleh kambing. Jumlahnya cukup banyak dan mereka seperti hidup dengan cara diliarkan, tak ada seorang pun yang menggembalakan kambing-kambing tersebut. Jangan heran jika Anda akan menemui kambing-kambing yang berkeliaran di tepi pantai, di jalan kampung, dan di manapun. Tak ada satu sudut pulau yang tidak ada kambing. Banyaknya populasi kambing yang dibiarkan liar tentu saja memberikan efek yang kurang nyaman bagi lingkungan. Banyak kotoran kambing berceceran di mana-mana. Bahkan di tepi pantai pun akan terasa bau kambing, terlebih setelah kita bermain-main di air.


Kambing-kambing di Pulau Gili Ketapang juga memiliki keunikan tersendiri. Jika Anda pernah mendengar kambing yang doyan makan kertas, kain, maupun sampah, Anda akan dengan mudah menemui kambing-kambing tersebut di pulau ini. Mungkin karena kurang tersedianya rumput hijau dan banyaknya sampah di pulau ini, menjadikan kambing-kambing yang menghuni Pulau Gili Ketapang kemudian beradaptasi. Sudah bukan rahasia umum lagi jika kambing-kambing di sini doyan memakan sampah-sampah yang berserakan di tepi pantai. Untuk membuktikannya, berilah uang kertas, maka kambing-kambing tersebut akan memakannya. Seingat saya, dulu pernah ada sebuah stasiun televisi swasta yang pernah melakukan liputan di Pulau Gili Ketapang ini.

Selain masalah sampah dan kambing, Pulau Gili Ketapang juga menghadapi sebuah masalah yang cukup serius. Ketika kami tiba di pulau ini dan iseng untuk berjalan-jalan, banyak warga setempat sedang sibuk memasukkan pasir ke dalam karung untuk kemudian dijadikan tanggul. Menurut penuturan warga setempat, abrasi yang terjadi di pulau ini sudah berlangsung beberapa bulan terakhir. Angin yang kencang berpadu dengan gelombang air laut yang cukup besar telah mengakibatkan beberapa sudut di pulau ini terkikis. Hal yang paling parah adalah abrasi yang terjadi di pulau ini sudah cukup dekat dengan pemukiman penduduk yang ada ditepi pantai. Jika hal ini terus-menerus dibiarkan maka akan ditakutkan rumah penduduk tersebut akan hanyut diterjang ombak. Ketika saya berjalan ke arah timur pulau ini, banyak bangunan jalan setapak yang amblas terkena terjangan ombak. Cukup disayangkan jika banyak infrastruktur yang rusak tergerus oleh abrasi ombak air laut.

Goa Kucing yang Dikeramatkan
Selain memiliki pasir putih dan air laut yang jernih, Pulau Gili Ketapang juga memiliki sebuah tempat yang dikeramatkan. Namanya Goa Kucing, yang konon dihuni oleh seekor kucing gaib bertubuh besar dari rata-rata kucing biasa. Goa Kucing merupakan petilasan Syech Maulana Ishaq, seorang ulama penyebar agama Islam. Lokasi Goa Kucing terletak di sebelah timur pulau, berdekatan dengan sebuah masjid. Goa Kucing memiliki bentuk seperti lubang sumur yang bisa dimasuki oleh satu orang. Di dalam goa tersebut terdapat mata air tawar. Menurut penuturan sang juru kunci, konon hingga saat ini lokasi Gua Kucing ini masih digunakan untuk tirakat bagi orang yang mencari berkat di malam-malam tertentu.

Kisah Guru di Pulau Gili Ketapang
Jika sedang di pulau-pulau kecil seperti ini ada satu hal yang selalu menjadi pertanyaan bagi saya. Bagaimanakah akses pendidikan dan kesehatan masyarakat di pulau kecil semacam ini? Mungkin keberuntungan sedang berpihak kepada saya siang itu. Sambil bermain dan melihat pemandangan di dermaga, saya berjumpa dengan seorang guru yang mengajar di salah satu sekolah di Pulau Gili Ketapang tersebut.


Saya salut dengan perjuangan dan pengabdian guru-guru tersebut. Setiap hari mereka menyeberang ke Pulau Gili Ketapang dengan perahu. Saya tidak bisa membayangkan jika setiap hari mereka harus terombang-ambing oleh gelombang untuk berangkat ke sekolah demi menyalurkan ilmu kepada anak didik mereka. Di Pulau Gili Ketapang sudah ada sekolah dasar hingga sekolah menengah tingkat pertama. Menurut penuturan guru yang saya temui tersebut, beberapa tahun silam sempat dibuka sekolah setingkat SMA. Namun, murid yang masuk di SMA tersebut hanya sedikit, tidak lebih dari lima orang. Maka dari itu dibuatklah kebijakan untuk menutup sekolah SMA tersebut. Jadi, jika ada anak-anak dari Gili Ketapang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMA, mereka harus melanjutkannya ke Kota Probolinggo.


Pulau Gili Ketapang memang memiliki cerita tersendiri bagi saya. Pulau yang konon selalu bergerak menjauhi Kota Probolinggo ini memiliki pemandangan alam yang cukup menarik. Perlu diingat jika Pulau Gili Ketapang bukan merupakan sebuah destinasi wisata. Anda tidak akan menemukan penginapan dan fasilitas penunjang pariwisata lainnya. Pulau Gili Ketapang merupakan sebuah kampung nelayan dengan kondisi yang cukup menyenangkan. Keramahan masyarakatnya akan selalu saya ingat, walaupun ada sedikit hambatan ketika berkomunikasi.


keterangan :
Untuk menyeberang ke Pulau Gili Ketapang, Anda dapat menggunakan jasa perahu motor dari Pelabuhan Tanjung Tembaga. Tarif untuk menyeberang adalah Rp 5.000,00 per-orang (data Februari 2014)

Selasa, 18 Maret 2014

Museum Probolinggo : Wahana Pengenalan Sejarah Kota Probolinggo

Malam pun semakin larut, namun acara penjelajahan museum di Kota Probolinggo pun belum berakhir. Kali ini para peserta diajak berkeliling ke sebuah gedung tua di kawasan Jalan Suroyo. Dari bagian depan nampak pesawat udara kuno, lokomotif tua, serta tank yang dipajang di halaman. Inilah Museum Probolinggo, salah satu wahana pengenalan sejarah Kota Probolinggo.


Museum Probolinggo merupakan salah satu wahana wisata yang cukup baru di Kota Probolinggo. Museum ini diresmikan pada tahun 2009 dengan menempati sebuah gedung tua yang dahulu bernama Gedung Panti Budaya. Dahulu bangunan ini merupakan sebuah gedung serba guna, kemudian dialihfungsikan sebagai museum sebagai wahana untuk memperkenalkan perkembangan sejarah Kota Probolinggo.



Museum Probolinggo memiliki koleksi yang cukup menarik di dalamnya. Di bagian pertama ruangan Museum Probolinggo ini kita akan menemui beberapa replika arca yang biasa kita temui di candi. Penemuan arca-arca ini barangkali mengacu pada bangunan Candi Jabung yang terletak di daerah Paiton barangkali. Entahlah, koleksi arca-arca tersebut mengacu pada penemuan arca di candi mana saya kurang paham.




Pada ruangan berikutnya kita akan melihat beberapa koleksi barang-barang kuno yang ditemukan di sekitaran Kota Probolinggo. Ada beberapa senjata yang digunakan oleh masyarakat Tengger di masa silam, ada pula beberapa peninggalan seperti guci dan keramik dari Tiongkok, alat musik kecapi, KWH meter di jaman perusahaan listrik yang dikelola oleh Belanda, sepatu dari China yang khusus digunakan oleh kaum perempuan agar memiliki bentuk kaki yang ramping, ada pula naskah-naskah kuno tersimpan rapi di dalam Museum Probolinggo ini.


Di bagian ruang berikutnya, kita akan melihat koleksi mata uang kuno dan bangku sekolah kuno peninggalan jaman Belanda yang sekilas bentuknya mirip seperti bangku yang digunakan untuk tempat duduk jamaat di gereja. Menurut penuturan pemandu museum, dahulu Kota Probolinggo akan dijadikan sebagai kota pendidikan di daerah Jawa Timur oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun, setelah ada beberapa pertimbangan, akhirnya Belanda memindahkan pusat pendidikan di Kota Malang. Mungkin karena Malang memiliki udara yang cukup sejuk menjadikan pertimbangan bagi Belanda untuk memindahkan pusat pendidikan ke kota tersebut.


Pada ruangan berikutnya lebih banyak ditampilkan diorama dan patung-patung yang menggambarkan kebudayaan yang ada di Kota Probolinggo. Ada kendaraan tradisional yang digunakan oleh masyakarat Probolinggo yang mungkin sampai sekarang masih digunakan, misalnya saja dokar (semacam delman yang ditarik oleh seekor kuda) dan ciker (gerobak kayu yang ditarik oleh dua ekor sapi). Ada pula patung yang menggambarkan kebudayaan tradisional dari Kota Probolinggo, di antaranya adalah Jaran Bodhak/Jaran Kencak atau bisa disebut dengan kuda menari, yaitu kuda yang diberi hiasan kemudian diberi iringan musik agar kuda tersebut berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik. Diperlukan latihan khusus memang begi kuda-kuda yang dipersiapkan sebagai kuda kencak ini. Budaya tradisional lain yang tak kalah menarik adalah karapan kambing yang biasa dilakukan oleh masyarakat Probolinggo.


Selain itu, di ruangan ini juga ditampilkan batik Tenggeran, beberapa patung yang menggambarkan kebudayaan Arab dam kebudayaan China. Sebagai sebuah kota yang terletak di pesisir utara Jawa, tak heran jika penduduk Kota Probolinggo cukup multikultural. Selain suku Jawa, Kota Probolinggo juga dihuni berbagai suku dan ras, di antaranya Madura, Arab, dan China.


Museum Probolinggo memang memiliki koleksi-koleksi yang terkesan sederhana. Walaupun memiliki display yang sedikit kaku, namun museum ini memiliki nilai edukasi yang cukup tinggi, terutama bagi mereka yang ingin mengenal sejarah Kota Probolinggo secara singkat. Bagi Anda yang menyukai wisata museum dan sejarah, tak ada salahnya mengunjungi museum ini ketika Anda sedang plesir di Kota Probolinggo :)


keterangan :
Museum Probolinggo buka setiap hari dari pukul 08-00 - 15.00 WIB
tiket masuk gratis