Tampilkan postingan dengan label Tour De Probolinggo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tour De Probolinggo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 April 2014

Potret dari Gili Ketapang

Hanya sekedar foto asal, asal jepret, asal ambil !

Suatu sore di salah satu sudut Pulau Gili Ketapang. 


Di antara sampah-sampah berserakan di tepi pantai, saya melihat seorang perempuan setengah baya mengenakan baju kutang dengan bawahan jarik menggendong sebuah keranjang yang terbuat dari anyaman bambu. Entah apa yang sedang beliau cari di antara sampah-sampah yang berceceran di pinggir pantai tersebut. Kulitnya nampak legam disengat sinar matahari yang terasa lebih terik di pulau ini. Sesekali dia memungut sesuatu untuk dimasukkan ke dalam keranjang bambu miliknya. Tatapannya nampak kosong ketika memandangi hamparan air laut di depannya, terkadang juga memandang aneh ke arah kami, segerombol orang asing yang sedang berkunjung di pulau tempat beliau tinggal. Entah apa yang beliau pikirkan, usai beristirahat pun beliau kembali memungut beberapa barang yang kembali dimasukkan ke dalam keranjang bambu tersebut.


Masih di lokasi yang sama, seorang anak laki-laki bersarung dan berpeci dengan malu-malu menyambangi rombongan kelompok kami. Usianya masih sekitar anak remaja belasan tahun. Raut mukanya menggambarkan mimik muka malu-malu dan sedikit rasa takut atau mungkin rasa canggung. Sesekali dia mendekati rombongan kami sambil melempar senyum lugunya seolah ingin mengajak kami berkenalan. Sayang, dari sekian orang rombongan tidak ada yang mengajaknya berkenalan. Hanya sorot mata lugu seorang bocah yang penuh dengan harapan yang bisa saya abadikan. 



Di pagi hari di salah satu sudut Pulau Gili Ketapang.


Mungkin jika berada di perkotaan, kita akan melihat hiruk-pikuk lalu-lalang kendaraan seperti mobil atau motor untuk menuju ke kantor. Jika di pulau semacam ini kita akan melihat hiruk-pikuk kapal maupun perahu nelayan yang akan pergi melaut. Seperti suasana pagi di salah satu sudut Pulau Gili Ketapang pagi itu. Terlihat beberapa nelayan sibuk menyiapkan perahu untuk melaut. Ada yang menggunakan perahu dengan mesin modern, ada pula perahu yang menggunakan layar yang terlihat seperti motif sarung. Ah, semoga hasil tangkapanmu bagus hari ini wahai para nelayan Gili Ketapang !


Keindahan pagi itu seolah semakin lengkap ketika saya disuguhi sebuah pemandangan pepohonan yang nampak meranggas tanpa dedaunan yang diterpa sinar matahari pagi yang membentuk bayangan. Ah, welcome sunrise !

Selasa, 01 April 2014

Menyegarkan Pikiran di Ranu Segaran

Usia menikmati keheningan di Ranu Agung, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Ranu Segaran. Jarak antara Ranu Agung dan Ranu Segaran relatif cukup dekat, memakan waktu sekitar 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Ranu Segaran mungkin lebih populer dijadikan sebagai obyek wisata dibandingkan dengan Ranu Agung. Pengunjung di Ranu Segaran lebih ramai dibandingkan dengan pengunjung di Ranu Agung. Mungkin kemudahan akses jalan menuju Ranu Segaran serta fasilitas yang disediakan menjadikan obyek wisata ini lebih banyak dikunjungi oleh wisatawan.


Ranu Segaran memiliki fasilitas wisata yang cukup memadai dibandingkan dengan Ranu Agung. Di tempat ini sudah terdapat sebuah warung makan, fasilitas mushola, kamar mandi umum, bahkan sudah terdapat permainan air seperti perahu motor dan sepeda air berbentuk bebek. Di sekitar Ranu Segaran ini juga terdapat pemandian air panas alami yang berada di dekat aliran air sungai. Saya sendiri tidak menyambangi tempat tersebut karena rasa lelah dan cuaca gerimis serta kabut yang datang menyambut.




Ranu Segaran memiliki pemandangan yang cukup cantik. Dikelilingi hutan-hutan yang masih cukup terawat sehingga memberikan nuansa segar sepanjang mata memandang. Tak salah memang, jika Ranu Segaran ini  sebagai alternatif termpat berwisata yang bisa menjadikan pikiran kembali segar karena pemandangan alam yang masih asri dan nampak masih alami. Soal biaya pun tak menjadi masalah karena obyek wisata ini tergolong sangat murah meriah. 

Kamis, 27 Maret 2014

Keheningan Ranu Agung di Probolinggo

Truk TNI pun kembali melaju melintasi jalanan beraspal di Kota Probolinggo. Kali ini perjalanan Tour De Probolinggo dilanjutkan menuju beberapa desa yang ada di kawasan Pegunungan Argopuro. Saya tak ingat betul rute mana saja yang kami lewati. Hanya beberapa tempat yang saya ingat. Rute yang kami tempuh melewati sebuah pabrik gula kemudian menuju ke arah Kali Bokong, searah dengan Songa Rafting sebagai operator wisata arum jeram di Sungai Pekalen. Jalur yang kami lewati cukup berkelok, naik turun, aspal jalan yang mulai banyak berlubang, diselingi dengan jurang dan perbukitan di sisi kiri dan kanan jalan. Kabut pun sesekali datang menyambut diselingi udara dingin yang seolah saling bersahut.


Suasana perjalanan terkadang memang sedikit mendebarkan, terlebih ketika kendaraan kami harus berpapasan dengan kendaraan lain. Lebar jalan yang tak seberapa, apalagi ada jurang di sisi kanan dan kiri jalan, serta beberapa ruas jalan yang terkikis terkena longsoran. Tujuan kami adalah untuk berkeliling di Desa Tiris, sebuah desa yang berada di kaki Pegunungan Argopuro. Kami akan mengunjungi Ranu Agung, sebuah danau vulkanik yang ada di kawasan lereng perbukitan.


Di sepanjang perjalanan menuju Ranu Agung ini kami disuguhi dengan pemandangan pohon durian yang sedang berbuah. Sebagian besar masih mentah, ada pula yang sudah masak dan menyebarkan aroma yang khas. Saya cukup buta arah, hanya satu hal yang saya ingat, setelah truk melewati sebuah belokan, perjalanan dilanjutkan melewati jalanan yang memiliki lebar tak kurang dari satu buah kendaraan dengan kontur jalan yang menanjak. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati hutan yang diselingi perkebunan kopi dan kompleks pemakaman hingga akhirnya kendaraan yang kami tumpangi berhenti di sebuah halaman sekolah dasar.


Dari sekolah dasar tersebut perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuruni bukit. Udara segar khas kaki pegunungan serta "jeritan" suara serangga seolah menyambut kedatangan kami di Ranu Agung ini. Hening, hampir tidak ada seorang pun kecuali rombongan kami yang datang ke danau yang memiliki pemandangan yang cukup menarik ini. Namun sayang, keindahan Ranu Agung tak bisa kami nikmati dengan cukup jelas karena kabut yang datang menyelimuti area.


Saya kurang begitu tahu cerita pasti mengenai Ranu Agung ini. Konon, Ranu Agung merupakan danau vulkanik yang terbentuk dari gunung berapi Lamongan. Hal ini bisa kita lihat dari bentuk dan kontur Ranu Agung yang menyerupai sebuah cekungan seperti bekas kawah gunung. Di salah satu sudut danau ini kita dapat melihat kontur batu yang membentuk lapisan menyerupai sebuah dinding.


Ranu Agung memiliki suasana yang masih sangat alami. Lokasi ini memang belum sepenuhnya dikembangkan menjadi sebuah destinasi wisata. Di sekeliling Ranu Agung masih terdiri dari hutan dan ladang. Tidak ada fasilitas penunjang pariwisata seperti warung makan, toilet, maupun mushola. Bila ingin bermain-main di ranu, Anda dapat memakai sampan yang terbuat dari bambu yang tersedia di pinggir danau. Anda pun dapat berenang di danau ini karena airnya yang cukup jernih dan tidak terlalu dingin menurut saya. Namun perlu berhati-hati, karena danau ini memiliki kedalaman yang beragam dan juga bebatuan di dasar danau yang bisa menggores kulit.


Ranu Agung merupakan sebuah lokasi yang tergolong sebagai wisata minat khusus. Lokasinya masih cukup tersembunyi dan cukup menantang nyali karena jalan menuju Ranu Agung ini memiliki rute jalan yang cukup menanjak di antara hutan-hutan. Pada hari biasa mungkin Anda tidak akan menemukan warung maupun penduduk yang berlalu-lalang di area sini. Namun beruntung, ketika rombongan Tour De Probolinggo mengunjungi Ranu Agung ini, ada sebuah warung yang "tiba-tiba buka" tak jauh dari lokasi Sekolah Dasar. Ranu Agung merupakan sebuah lokasi yang sangat cocok bagi Anda yang menyukai suasana alam yang masih hening dan alami. Jika Anda berkunjung ke sini, jangan lupa untuk membawa kembali sampah yang Anda hasilkan, agar tidak mengotori dan merusak alam !

Rabu, 19 Maret 2014

Pulau Gili Ketapang - Miniatur Madura di Utara Probolinggo

Tak ada jembatan penghubung antar pulau yang kokoh, pun demikian dengan kapal-kapal besar yang mengangkut penumpang, barang bahkan kendaraan untuk menyeberang. Hanya ada perahu motor sebagai sarana transportasi yang mengantarkan penumpang dan barang menuju ke pulau seberang. Suasana Pelabuhan Tanjung Tembaga pagi itu masih cukup lengang. Hanya terlihat beberapa kapal nelayan yang bersandar dan bongkar muatan.


Di hari ketiga ini, panitia Tour De Probolinggo mengajak para peserta menyeberang ke Pulau Gili Ketapang, sebuah pulau kecil dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam perjalanan dari Pelabuhan Tanjung Tembaga. Usai berkemas dan membereskan tenda, dengan penuh semangat kami berjalan kaki menuju pelabuhan untuk kemudian naik ke atas perahu dan bersiap untuk menyeberang. Cuaca pagi ini pun cukup bersahabat. Ombak laut cukup tenang, pun demikian dengan sinar matahari yang tidak terlalu terik membakar kulit.



Sayang, ketika kami akan bersandar, perahu yang kami tumpangi tidak dapat sampai ke tepian karena air laut yang surut. Sebuah perahu sederhana yang terbuat dari rangkaian gabus datang menjemput. Ada seorang bapak-bapak yang mendorong perahu sederhana tersebut, sembari membatu kami untuk naik ke atas dan menata barang. Ada yang memilih untuk menumpang perahu, ada pula yang memilih nekat menceburkan diri dan berjalan kaki menuju tepi pantai.


Pulau Gili Ketapang memiliki keunikan tersendiri bagi saya. Pulau ini terkenal dengan penduduknya yang hampir keseluruhan adalah masyarakat keturunan Madura dengan mata pencaharian sebagian besar sebagai nelayan. Walaupun mereka adalah Suku Madura, namun sebagian besar dari mereka belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Madura. Keramahan masyarakatnya sangat terasa di saat kami tiba. Masyarakat di sini cukup murah senyum dan ramah kepada para pendatang. Namun perlu diingat, sebagian besar masyarakat di Gili Ketapang hanya bisa berbahasa Madura, mereka tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia, walaupun mengerti artinya. Jadilah kami sering menggunakan bahasa isyarat ketika berkomunikasi. Kami memakai bahasa Indonesia ketika berbincang, sedangkan mereka akan menjawab dengan bahasa Madura yang memiliki logat yang khas. Di antara keterbatasan bahasa untuk berkomunikasi, ada sebuah bahasa universal yang kami gunakan, yaitu senyuman dan sapaan.

Masalah Sampah, Kambing, dan Abrasi
Pulau Gili Ketapang memang bukan sebuah lokasi wisata dan saya berharap pulau ini tidak dilacurkan menjadi sebuah destinasi wisata. Di balik pasir putih dan ombak lautnya yang biru jernih, Pulau Gili Ketapang menyimpan sebuah kisah yang cukup memilukan. Sampah berserakan di mana-mana ! Entah di lingkungan sekitar tempat tinggal, bahkan sampai di tepi pantai. Berbagai macam sampah pun dapat ditemui di tepian pantai, mulai sampah organik, sampah anorganik, bahkan bangkai binatang pun ada di sini. Menurut penuturan penduduk setempat, memang kesadaran masyarakat masih kurang dalam mengelola sampah. Selain sampah rumah tangga dari penduduk setempat, banyak sampah yang berserakan di tepi pantai juga berasal dari sampah di Pulau Jawa yang terbawa oleh ombak. Saya berharap terdapat manajemen pengelolaan sampah yang lebih baik lagi di pulau ini agar sampah-sampah tidak menumpuk di sekeliling Pulau Gili Ketapang lagi.


Selain dihuni oleh manusia, Pulau Gili Ketapang juga dihuni oleh kambing. Jumlahnya cukup banyak dan mereka seperti hidup dengan cara diliarkan, tak ada seorang pun yang menggembalakan kambing-kambing tersebut. Jangan heran jika Anda akan menemui kambing-kambing yang berkeliaran di tepi pantai, di jalan kampung, dan di manapun. Tak ada satu sudut pulau yang tidak ada kambing. Banyaknya populasi kambing yang dibiarkan liar tentu saja memberikan efek yang kurang nyaman bagi lingkungan. Banyak kotoran kambing berceceran di mana-mana. Bahkan di tepi pantai pun akan terasa bau kambing, terlebih setelah kita bermain-main di air.


Kambing-kambing di Pulau Gili Ketapang juga memiliki keunikan tersendiri. Jika Anda pernah mendengar kambing yang doyan makan kertas, kain, maupun sampah, Anda akan dengan mudah menemui kambing-kambing tersebut di pulau ini. Mungkin karena kurang tersedianya rumput hijau dan banyaknya sampah di pulau ini, menjadikan kambing-kambing yang menghuni Pulau Gili Ketapang kemudian beradaptasi. Sudah bukan rahasia umum lagi jika kambing-kambing di sini doyan memakan sampah-sampah yang berserakan di tepi pantai. Untuk membuktikannya, berilah uang kertas, maka kambing-kambing tersebut akan memakannya. Seingat saya, dulu pernah ada sebuah stasiun televisi swasta yang pernah melakukan liputan di Pulau Gili Ketapang ini.

Selain masalah sampah dan kambing, Pulau Gili Ketapang juga menghadapi sebuah masalah yang cukup serius. Ketika kami tiba di pulau ini dan iseng untuk berjalan-jalan, banyak warga setempat sedang sibuk memasukkan pasir ke dalam karung untuk kemudian dijadikan tanggul. Menurut penuturan warga setempat, abrasi yang terjadi di pulau ini sudah berlangsung beberapa bulan terakhir. Angin yang kencang berpadu dengan gelombang air laut yang cukup besar telah mengakibatkan beberapa sudut di pulau ini terkikis. Hal yang paling parah adalah abrasi yang terjadi di pulau ini sudah cukup dekat dengan pemukiman penduduk yang ada ditepi pantai. Jika hal ini terus-menerus dibiarkan maka akan ditakutkan rumah penduduk tersebut akan hanyut diterjang ombak. Ketika saya berjalan ke arah timur pulau ini, banyak bangunan jalan setapak yang amblas terkena terjangan ombak. Cukup disayangkan jika banyak infrastruktur yang rusak tergerus oleh abrasi ombak air laut.

Goa Kucing yang Dikeramatkan
Selain memiliki pasir putih dan air laut yang jernih, Pulau Gili Ketapang juga memiliki sebuah tempat yang dikeramatkan. Namanya Goa Kucing, yang konon dihuni oleh seekor kucing gaib bertubuh besar dari rata-rata kucing biasa. Goa Kucing merupakan petilasan Syech Maulana Ishaq, seorang ulama penyebar agama Islam. Lokasi Goa Kucing terletak di sebelah timur pulau, berdekatan dengan sebuah masjid. Goa Kucing memiliki bentuk seperti lubang sumur yang bisa dimasuki oleh satu orang. Di dalam goa tersebut terdapat mata air tawar. Menurut penuturan sang juru kunci, konon hingga saat ini lokasi Gua Kucing ini masih digunakan untuk tirakat bagi orang yang mencari berkat di malam-malam tertentu.

Kisah Guru di Pulau Gili Ketapang
Jika sedang di pulau-pulau kecil seperti ini ada satu hal yang selalu menjadi pertanyaan bagi saya. Bagaimanakah akses pendidikan dan kesehatan masyarakat di pulau kecil semacam ini? Mungkin keberuntungan sedang berpihak kepada saya siang itu. Sambil bermain dan melihat pemandangan di dermaga, saya berjumpa dengan seorang guru yang mengajar di salah satu sekolah di Pulau Gili Ketapang tersebut.


Saya salut dengan perjuangan dan pengabdian guru-guru tersebut. Setiap hari mereka menyeberang ke Pulau Gili Ketapang dengan perahu. Saya tidak bisa membayangkan jika setiap hari mereka harus terombang-ambing oleh gelombang untuk berangkat ke sekolah demi menyalurkan ilmu kepada anak didik mereka. Di Pulau Gili Ketapang sudah ada sekolah dasar hingga sekolah menengah tingkat pertama. Menurut penuturan guru yang saya temui tersebut, beberapa tahun silam sempat dibuka sekolah setingkat SMA. Namun, murid yang masuk di SMA tersebut hanya sedikit, tidak lebih dari lima orang. Maka dari itu dibuatklah kebijakan untuk menutup sekolah SMA tersebut. Jadi, jika ada anak-anak dari Gili Ketapang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMA, mereka harus melanjutkannya ke Kota Probolinggo.


Pulau Gili Ketapang memang memiliki cerita tersendiri bagi saya. Pulau yang konon selalu bergerak menjauhi Kota Probolinggo ini memiliki pemandangan alam yang cukup menarik. Perlu diingat jika Pulau Gili Ketapang bukan merupakan sebuah destinasi wisata. Anda tidak akan menemukan penginapan dan fasilitas penunjang pariwisata lainnya. Pulau Gili Ketapang merupakan sebuah kampung nelayan dengan kondisi yang cukup menyenangkan. Keramahan masyarakatnya akan selalu saya ingat, walaupun ada sedikit hambatan ketika berkomunikasi.


keterangan :
Untuk menyeberang ke Pulau Gili Ketapang, Anda dapat menggunakan jasa perahu motor dari Pelabuhan Tanjung Tembaga. Tarif untuk menyeberang adalah Rp 5.000,00 per-orang (data Februari 2014)

Selasa, 18 Maret 2014

Museum Probolinggo : Wahana Pengenalan Sejarah Kota Probolinggo

Malam pun semakin larut, namun acara penjelajahan museum di Kota Probolinggo pun belum berakhir. Kali ini para peserta diajak berkeliling ke sebuah gedung tua di kawasan Jalan Suroyo. Dari bagian depan nampak pesawat udara kuno, lokomotif tua, serta tank yang dipajang di halaman. Inilah Museum Probolinggo, salah satu wahana pengenalan sejarah Kota Probolinggo.


Museum Probolinggo merupakan salah satu wahana wisata yang cukup baru di Kota Probolinggo. Museum ini diresmikan pada tahun 2009 dengan menempati sebuah gedung tua yang dahulu bernama Gedung Panti Budaya. Dahulu bangunan ini merupakan sebuah gedung serba guna, kemudian dialihfungsikan sebagai museum sebagai wahana untuk memperkenalkan perkembangan sejarah Kota Probolinggo.



Museum Probolinggo memiliki koleksi yang cukup menarik di dalamnya. Di bagian pertama ruangan Museum Probolinggo ini kita akan menemui beberapa replika arca yang biasa kita temui di candi. Penemuan arca-arca ini barangkali mengacu pada bangunan Candi Jabung yang terletak di daerah Paiton barangkali. Entahlah, koleksi arca-arca tersebut mengacu pada penemuan arca di candi mana saya kurang paham.




Pada ruangan berikutnya kita akan melihat beberapa koleksi barang-barang kuno yang ditemukan di sekitaran Kota Probolinggo. Ada beberapa senjata yang digunakan oleh masyarakat Tengger di masa silam, ada pula beberapa peninggalan seperti guci dan keramik dari Tiongkok, alat musik kecapi, KWH meter di jaman perusahaan listrik yang dikelola oleh Belanda, sepatu dari China yang khusus digunakan oleh kaum perempuan agar memiliki bentuk kaki yang ramping, ada pula naskah-naskah kuno tersimpan rapi di dalam Museum Probolinggo ini.


Di bagian ruang berikutnya, kita akan melihat koleksi mata uang kuno dan bangku sekolah kuno peninggalan jaman Belanda yang sekilas bentuknya mirip seperti bangku yang digunakan untuk tempat duduk jamaat di gereja. Menurut penuturan pemandu museum, dahulu Kota Probolinggo akan dijadikan sebagai kota pendidikan di daerah Jawa Timur oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun, setelah ada beberapa pertimbangan, akhirnya Belanda memindahkan pusat pendidikan di Kota Malang. Mungkin karena Malang memiliki udara yang cukup sejuk menjadikan pertimbangan bagi Belanda untuk memindahkan pusat pendidikan ke kota tersebut.


Pada ruangan berikutnya lebih banyak ditampilkan diorama dan patung-patung yang menggambarkan kebudayaan yang ada di Kota Probolinggo. Ada kendaraan tradisional yang digunakan oleh masyakarat Probolinggo yang mungkin sampai sekarang masih digunakan, misalnya saja dokar (semacam delman yang ditarik oleh seekor kuda) dan ciker (gerobak kayu yang ditarik oleh dua ekor sapi). Ada pula patung yang menggambarkan kebudayaan tradisional dari Kota Probolinggo, di antaranya adalah Jaran Bodhak/Jaran Kencak atau bisa disebut dengan kuda menari, yaitu kuda yang diberi hiasan kemudian diberi iringan musik agar kuda tersebut berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik. Diperlukan latihan khusus memang begi kuda-kuda yang dipersiapkan sebagai kuda kencak ini. Budaya tradisional lain yang tak kalah menarik adalah karapan kambing yang biasa dilakukan oleh masyarakat Probolinggo.


Selain itu, di ruangan ini juga ditampilkan batik Tenggeran, beberapa patung yang menggambarkan kebudayaan Arab dam kebudayaan China. Sebagai sebuah kota yang terletak di pesisir utara Jawa, tak heran jika penduduk Kota Probolinggo cukup multikultural. Selain suku Jawa, Kota Probolinggo juga dihuni berbagai suku dan ras, di antaranya Madura, Arab, dan China.


Museum Probolinggo memang memiliki koleksi-koleksi yang terkesan sederhana. Walaupun memiliki display yang sedikit kaku, namun museum ini memiliki nilai edukasi yang cukup tinggi, terutama bagi mereka yang ingin mengenal sejarah Kota Probolinggo secara singkat. Bagi Anda yang menyukai wisata museum dan sejarah, tak ada salahnya mengunjungi museum ini ketika Anda sedang plesir di Kota Probolinggo :)


keterangan :
Museum Probolinggo buka setiap hari dari pukul 08-00 - 15.00 WIB
tiket masuk gratis 

Minggu, 16 Maret 2014

Nite at The Museum : Museum Dr Moh Saleh Probolinggo

Bukan Tour De Probolinggo namanya jika tidak ada kejutan di dalam acaranya. Usai meletakkan barang-barang di tenda yang berada di dekat pelabuhan, kami semua diajak untuk berkeliling mengunjungi museum yang ada di Kota Probolinggo. Biasanya museum hanya buka dari pagi sampai sore, kali ini panitia mempersiapkan acara yang menarik, lain dari biasanya. Yap, night at the museum ! Apa? berkunjung ke museum di malam hari? Iya ! Kami semua diajak berkunjung ke museum di malam hari oleh panitia Tour De Probolinggo !


Nama Dr Moh Saleh mungkin saja kurang kita kenal di dalam sejarah pahlawan nasional Indonesia. Nama beliau memang kurang banyak dibahas di pelajaran sejarah selama saya duduk di bangku sekolah dulu. Merujuk dari beberapa artikel yang saya baca di internet, beliau merupakan lulusan STOVIA, sekolah kedokteran di jaman penjajahan Belanda. Beliau juga seangkatan dengan Dr Sutomo, salah satu tokoh pendiri organisasi Budi Utomo.

Beliau dikenal dengan sering berpindah-pindah tempat tinggal di berbagai kota sebelum akhirnya menetap di Kota Probolinggo. Beliau membaktikan diri dan mendarmakan ilmunya di bidang kesehatan kepada masyarakat. Praktik kesehatan yang dijalankan oleh beliau dapat dilihat dari kediaman rumahnya yang kini difungsikan sebagai museum oleh pemerintah kota setempat. Di rumah dengan arsitektur Belanda yang cukup kental ini terdapat ruang yang digunakan untuk membuka praktik kesehatan. Ada ruang kerja dokter, apotek, ruang rawat inap, hingga kamar mayat lengkap tersedia bak rumah sakit.



Museum ini memiliki koleksi yang tampak sederhana namun memiliki nilai sejarah di dalamnya. Lihat saja buku-buku kedokteran milik beliau yang berbahasa Belanda yang mungkin sudah langka, catatan medical record pasien beliau, kliping koran, serta catatan-catatan lainnya masih tersimpan rapi di lemari milik beliau. Ada pula alat-alat kesehatan, seragam yang digunakan untuk beliau praktik, catatan resep, hingga obat-obat untuk pasien masih tersimpan rapi di ruang kerja milik beliau. 


Di antara beberapa ruang di museum ini, ada sebuah ruang yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Ruangan tersebut disebut dengan "kamar petheng" alias kamar gelap. Kamar gelap bukan berarti ruangan tersebut gelap tidak ada cahaya. Kamar tersebut merupakan kamar tempat beristirahat Dr Moh Saleh. Kamar tersebut diberi garis pembatas agar pengunjung tidak masuk ke dalam ruangan tersebut. Mengapa demikian? Menurut penuturan petugas museum, sudah beberapa kali ada kejadian pengunjung yang kerasukan setelah memasuki ruangan tersebut. Seram kan? Tidak kok, asal kita sopan dan menaati peraturan tidak akan ada kejadian yang aneh-aneh.


Terlepas dari cerita seram yang beredar, tak ada salahnya menjadikan Museum Dr Moh Saleh sebagai agenda kunjungan ketika bertandang di Kota Probolinggo. Obyek wisata Museum Dr Moh Saleh memang masih tergolong obyek wisata baru di Kota Probolinggo. Penasaran ini mengenal lebih dalam sosok Dr Moh Saleh yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit di Kota Probolinggo? Silahkan mampir ke museum ini :)

Museum Dr Moh. Saleh
hari Senin : tutup
hari Selasa - Minggu mulai buka dari pukul 08.00 - 14.00 WIB
Libur pada hari besar nasional dan keagamaan 

Jumat, 14 Maret 2014

Kecantikan Gereja Merah Probolinggo

Senja pun berjalan perlahan menuju peraduan. Hari pun hampir gelap ketika truk yang kami tumpangi berhenti di kawasan Jalan Suroyo, tak jauh dari alun-alun Kota Probolinggo. Ada sebuah bangunan unik dengan warna yang cukup mencolok dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya. Ternyata, kami semua diajak untuk masuk ke dalam sebuah gereja, yang dikenal dengan sebutan Gereja Merah. Segenap pengurus gereja dan ibu pendeta pun sudah menantikan kedatangan kami, menyambut dengan senyum ramah dan penuh suka cita.


Setelah sesi perkenalan diri, ibu pendeta pun menceritakan sejarah singkat mengenai Gereja Merah yang unik ini. Gereja Merah merupakan salah satu bangunan peninggalan jaman Kolonialisme Belanda yang hingga kini masih dapat kita nikmati keberadaannya. Gereja Merah dibangun pada tahun 1862 oleh Pemerintah Belanda. Selain dari warnanya, keunikan bangunan Gereja Merah juga dapat dilihat dari struktur bangunannya. Struktur bangunan Gereja Merah ini terbuat dari baja, termasuk hingga ke dinding dan atapnya. Gereja ini konon dibangun dengan sistem knock down, di mana seluruh rangka baja bangunan dibuat di Belanda, kemudian dibongkar, lalu dibawa dengan kapal menuju ke Probolinggo untuk dipasang kembali. Hingga kini, bangunan yang sudah ditetapkan menjadi cagar budaya tersebut tetap dipertahankan seperti bentuk aslinya. Hanya saja ada sedikit renovasi di bagian dalam bangunan, yaitu penambahan lapisan triplek yang diberi warna kuning untuk lapisan di bagian dinding. 



Di bagian dalam gereja pun tak kalah unik. Terdapat mimbar yang berbentuk cawan yang digunakan oleh pendeta untuk menyampaikan khotbah kepada jemaat gereja. Ada pula cawan yang terbuat dari baja untuk menampung air suci yang digunakan dalam prosesi pembabtisan umat. Ada pula tangga dengan bentuk melingkar untuk menuju bagian balkon. Balkon tersebut dahulu digunakan untuk tempat paduan suara, namun sekarang bagian balkon tersebut sudah jarang digunakan untuk paduan suara lagi. Gereja Merah juga menyimpan sebuah alkitab kuno berbahasa Holand serta kursi kayu untuk duduk jemaat yang asli peninggalan Belanda. Barang-barang tersebut disimpan di bagian belakang gereja.

Ketika masa penjajahan Jepang, bangunan gereja ini sempat dialihfungsikan sebagai gudang untuk penyimpanan senjata. Kemudian pasca kemerdekaan, bangunan ini dikembalikan lagi fungsinya sebagai tempat ibadah. Gereja ini memiliki nama resmi Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel, hingga kini masih aktif digunakan untuk beribadah umat Kristiani. Selain digunakan sebagai tempat beribadah, Gereja Merah ini dapat dikunjungi oleh siapapun. Silahkan meminta izin kepada pengurus gereja untuk berkeliling di kompleks Gereja Merah ini.


Bangunan Gereja Merah ini konon hanya terdapat dua buah di dunia. Satu di Den Haag, Belanda, dan satunya ada di Kota Probolinggo. Maka tak heran jika Gereja Merah ini sering mendapatkan kunjungan turis dari negeri Belanda yang ingin bernostalgia. Penasaran dengan keunikan bangunan Gereja Merah ini? Monggo silahkan mampir ke Kota Probolinggo.

Kamis, 13 Maret 2014

Batik Tenggeran Khas Probolinggo

Saya sudah beberapa kali berkunjung ke Kota Probolinggo, namun belum sempat untuk menjelajahi keunikan yang disajikan di kota yang terkenal dengan mangganya tersebut. Probolinggo bagi saya menjadi semacam kota transit, sebelum menuju Kawasan Bromo maupun melanjutkan perjalanan ke Kota Jember. Tapi siapa sangka, kota yang terletak di pesisir utara Jawa ini memiliki tempat wisata yang tak kalah menarik untuk dijelajahi.


Usai menikmati keindahan Air Terjun Madakaripura, seluruh peserta Tour De Probolinggo diajak untuk berkeliling kota sembari mengenalkan potensi wisatanya. Perjalanan menuju Kota Probolinggo pun tak kalah memberikan kesan. Dan lagi-lagi, truk TNI lah menjadi kendaraan yang mengantarkan para peserta keliling Kota Probolinggo. Saya ingat ada kejadian lucu ketika truk yang kami tumpangi memasuki Kota Probolinggo. Ada sebuah mobil yang berhenti tepat di belakang truk kami ketika di lampu merah. Seketika seluruh penumpang di dalam mobil tersebut memandang kami semua dengan ekspresi terheran-heran. Tak hanya penumpang yang ada di dalam mobil tersebut saja, hampir semua masyarakat yang berpapasan dengan truk kami memandang seluruh isi penumpang dengan ekspresi terheran-heran. Sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan. 


Probolinggo bagi saya merupakan sebuah kota kecil yang sangat menyenangkan. Tata ruang kotanya pun cukup rapi dan yang saya rasakan adalah lalu lintas kendaraannya tidak terkesan padat, tidak seperti yang saya rasakan di Jogja akhir-akhir ini. Truk pun melaju ke kawasan Jalan KH. Wahid Hasyim Delima III. Seluruh peserta Tour De Probolinggo kemudian diajak untuk memasuki rumah sekaligus showroom milik pengrajin batik Tenggeran yang dikelola oleh Ibu Sawali dan keluarga.

Batik Tenggeran juga disebut dengan nama batik manggur, singkatan dari mangga dan anggur. Mangga dan anggur merupakan ikon Kota Probolinggo, karena daerah ini memang terkenal dengan hasil pertanian buah mangga dan anggur. Bahkan varietas mangga Probolinggo pun cukup terkenal karena rasa manisnya yang khas. Bahkan karena rasa manis dari mangga tersebut ada pula yang menyebutnya sebagai mangga madu.


Selain diperkenalkan tentang proses pembuatan batik, para peserta Tour De Probolinggo juga dijelaskan secara langsung motif-motif batik Tenggeran ini langsung oleh Ibu Sawali. Batik yang dijual pun ada yang berupa batik tulis maupun batik cap. Proses pewarnaan batiknya pun selain menggunakan pewarna tekstil ada pula yang menggunakan pewarna alami sesuai dengan pesanan. Sebagian besar motif batik Tenggeran memiliki corak mangga dan anggur sebagai inspirasinya. Tak hanya motif mangga dan anggur, batik Tenggeran juga memiliki motif-motif yang cukup beragam. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah motif yang menggambarkan Gunung Bromo dan cerita rakyat masyarakat Tengger. 


Harga batik yang ditawarkan di gerai ini cukup beragam. Mulai dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tak heran jika batik dihargai dengan nominal yang cukup mahal, karena proses pengerjaannya yang cukup rumit dan memakan waktu yang lama. Bahkan ada satu lembar batik yang sudah pernah ditawar oleh pembeli dengan harga puluhan juta, namun tidak diberikan oleh Ibu Sawali. Menurut beliau batik tersebut merupakan buah karya perdana beliau ketika terjun ke dunia batik. Bagi beliau, batik tersebut bukan hanya selember kain, namun memiliki makna yang mendalam karena batik tersebut dibuat dengan sepenuh hati dan mengandung sebuah filosofi bagi beliau.


Peminat batik Tenggeran pun cukup beragam. Tak hanya masyarakat lokal yang berasal dari daerah Probolinggo dan sekitarnya, pembeli dari manca negara seperti Australia dan Jerman pun banyak yang tertarik membeli batik Tenggeran ini untuk dijadikan koleksi. So, sebagai generasi muda, kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan warisan budaya nenek moyang yang sudah diakui sebagai warisan dunia ini?

Gerai Batik Tenggeran Bu Sawali
Jalan KH. Wahid Hasyim Delima III No. 5 Probolinggo
telp 085234382111 / 081249552211

Rabu, 12 Maret 2014

Air Terjun Madakaripura - Keindahan Persemedian Maha Patih Gadjah Mada dan Ironi Masyarakatnya

Jalan yang berkelok dengan kontur yang naik turun memaksa kami semua untuk sering membenarkan posisi duduk di atas truk TNI yang berguncang-guncang selama perjalanan. Belum lagi rasa kurang nyaman karena kursi kayu yang saling berhadapan, sekilas mirip seperti tatanan kursi di dalam kereta komuter. Begitulah sedikit gambaran perjalanan para peserta Tour De Probolinggo menuju Air Terjun Madakaripura. Kebersamaan di antara kesederhanaan. Namun, mungkin seperti itulah perjalanan menuju surga, penuh dengan jalan yang terjal dan berliku sebelum akhirnya kita bisa menikmati keindahan di balik perjuangan.


Saya melihat ada beberapa pos retribusi yang harus dilalui sebelum menuju pintu parkir Air Terjun Madakaripura ini. Mungkin karena banyaknya pos retribusi yang harus dilalui inilah menyebabkan banyak tulisan di blog yang menyebutkan bahwa banyak pungutan liar untuk menuju Air Terjun Madakaripura. Minimnya akses transportasi umum juga menjadi cerita lain yang membuat para wisatawan mengurungkan niat mereka untuk berkunjung ke Air Terjun Madakaripura usai puas menjelajahi Kawasan Bromo. Padahal air terjun ini memiliki potensi yang menarik sebagai wisata minat khusus.

Tiba di area parkir kita akan melihat banyak pemuda setempat yang hilir-mudik membawa ember dan kain lap. Mereka menjajakan jasa untuk mencuci kendaraan milik pengunjung yang terparkir di area pintu masuk Air Terjun Madakaripura. Jangan ditanya apakah mereka mencuci kendaraan sesuai dengan perintah si empunya kendaraan. Kebanyakan dari mereka memang langsung mencuci kendaraan yang sudah terparkir kemudian meminta imbal jasa kepada si pemilik kendaraan setelah selesai jalan-jalan dari air terjun. Kejadian seperti inilah yang menjadikan si empunya kendaraan merasa mendapatkan aksi palak.


Dari area parkir kendaraan, pengunjung masih harus berjalan kaki menyusuri aliran sungai dan hutan belantara sebelum akhirnya menuju ke kawasan Air Terjun Madakaripura. Patung Maha Patih Gadjah Mada yang sedang dalam posisi seolah sedang bersemedi menjadi pintu masuk menuju jalur tracking. Banyak warga setempat yang menjajakan jasa menjadi guide untuk menemani sampai ke lokasi. Namun, ada satu hal yang cukup disayangkan, mereka menjajakan jasa menjadi pemandu dengan setengah memaksa kepada pengunjung.


Medan yang harus dilalui selama menyusuri aliran sungai menurut saya tidak terlalu berat. Jalannya pun masih cukup datar, walaupun ada beberapa medan yang naik turun namun jalannya tidak terlalu terjal. Satu hal yang perlu diwaspadai adalah ketika kita menyeberangi aliran sungai. Kita harus berhati-hati karena banyak bebatuan yang cukup licin untuk dilalui. Sebenarnya sudah dibangun jalur track khusus untuk menghubungkan ke area air terjun. Hanya saja beberapa jalur track tersebut rusak digerus oleh tanah longsor yang sering terjadi di kawasan Air Terjun Madakaripura ini. Jika hujan turun pun, pengunjung tidak diizinkan menuju area air terjun karena aliran air sungai cukup berbahaya bagi keselamatan pengunjung. Boleh dikata untuk mengunjungi Air Terjun Madakaripura ini diperlukan keberuntungan, terutama terkait dengan kondisi cuaca. Kalau teman saya berceletuk mungkin karena area ini termasuk lokasi yang wingit dan menjadi tempat bersemedi sekaligus muksanya Maha Patih Gadjah Mada, maka untuk menuju ke lokasi air terjun harus membutuhkan perjuangan, tidak bisa melakukannya dengan mudah.


Di sepanjang perjalanan menuju air terjun ini kita akan menemui beberapa lapak pedagang yang menjajakan jajanan untuk pengganjal perut. Harga makanan dan minuman yang dijajakan pun masih cukup normal, tidak dibandrol dengan harga yang terlalu mahal. Setelah berjalan kaki selama kurang lebih selama 30 menit, sampailah kita di area Air Terjun Madakaripura ini. Jangan heran jika sebelum memasuki kawasan air terjun kita akan diserbu oleh para pedagang yang menjajakan plastik dan jas hujan.

Sebelum memasuki air terjun utama, kita akan melewati guyuran air dari tirai-tirai dinding tebing yang berwarna hijau karena tertutup oleh tanaman. Guyuran air ini memiliki sensasi seolah kita sedang berjalan di bawah rintik hujan, mulai dari hujan gerimis hingga hujan deras. Sensasi melewati guyuran air inilah yang mengharuskan kita mengenakan mantel maupun payung agar tidak basah. Ada baiknya barang bawaan berupa dompet, handphone dan kamera diamankan di dalam kantong plastik agar tidak basah terkena guyuran air.


Usai melewati tirai air, tibalah kita di sebuah lembah yang berbentuk seperti tabung, saya menyebutnya lebih mirip seperti huruf U. Dari situlah kita dapat mengabadikan dinding yang dipenuhi tanaman yang membentuk seperti tirai, yang megalirkan air bak guyuran air hujan. Di titik situlah banyak fotografer mengabadikan gambar tirai air terjun Madakaripura. Saya menyebutnya spot sejuta umat, karena di titik situlah tempat yang cukup aman untuk mengeluarkan kamera.

Untuk menuju ke air terjun utama kita harus menaiki tebing bebatuan sempit dan cukup licin. Dibutuhkan nyali yang cukup untuk melewati tebing batu tersebut. Di bagian kiri tebing terdapat aliran sungai yang terlihat cukup dalam. Belum lagi jarak antara tebing batu dengan sungai tersebut terlihat cukup tinggi. Namun semua rasa ngeri tersebut terbayarkan dengan pemandangan aliran Air Terjun Madakaripura yang terlihat gagah. Aliran air terjun ini konon tak pernah mengenal musim. Baik di saat musim penghujan maupun musim kemarau masih ada debit air yang mengalir.


Konon, ketika turun hujan, air terjun ini mengalirkan lumpur dan bebatuan yang terbawa oleh arus aliran sungai di atas sana. Ketinggian debit air dan derasnya aliran sungai ketika hujan juga dapat membahayakan pengunjung. Apalagi jika tiba-tiba hujan turun dengan deras kemudian pengunjung terjebak di area air terjun tersebut. Sungguh mengerikan, saya pun tidak dapat membayangkan.

Air Terjun Madakaripura memang memiliki keindahan yang cukup tersohor. Medan tracking yang cukup menantang dan menguras tenaga rasanya pantaslah menjuluki Air Terjun Madakaripura ini termasuk ke dalam wisata minat khusus. Dibutuhkan stamina yang cukup prima serta alas kaki yang nyaman untuk berjalan di medan yang berbatu dan menyusuri aliran sungai. Pesona keindahan alam yang menawan menjadikan Air Terjun Madakaripura ini layak untuk Anda jadikan destinasi wisata selama berkunjung ke wilayah Probolinggo ini.

catatan :
Saya pernah bertanya kepada admin @GoProbolinggo untuk kendaraan umum menuju Air Terjun Madakaripura ini. Untuk menuju ke Madakaripura, Anda dapat menggunakan bus dari Terminal Bayuangga menuju ke daerah Lumbang. Sampai di Lumbang turun saja di pertigaan dekat dengan Pasar Lumbang. Dari pertigaan Pasar Lumbang tersebut perjalanan menuju Madakaripura bisa dilanjutkan dengan jasa ojek.

Perjalanan menjelajahi Air Terjun Madakaripura merupakan salah satu rangkaian kegiatan Tour De Probolinggo 2014 yang diselenggarakan oleh @imProses_ (Ikatan Mahasiswa Probolinggo se-ITS, PENS, PPNS)