Tampilkan postingan dengan label bromo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bromo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Maret 2014

Air Terjun Madakaripura - Keindahan Persemedian Maha Patih Gadjah Mada dan Ironi Masyarakatnya

Jalan yang berkelok dengan kontur yang naik turun memaksa kami semua untuk sering membenarkan posisi duduk di atas truk TNI yang berguncang-guncang selama perjalanan. Belum lagi rasa kurang nyaman karena kursi kayu yang saling berhadapan, sekilas mirip seperti tatanan kursi di dalam kereta komuter. Begitulah sedikit gambaran perjalanan para peserta Tour De Probolinggo menuju Air Terjun Madakaripura. Kebersamaan di antara kesederhanaan. Namun, mungkin seperti itulah perjalanan menuju surga, penuh dengan jalan yang terjal dan berliku sebelum akhirnya kita bisa menikmati keindahan di balik perjuangan.


Saya melihat ada beberapa pos retribusi yang harus dilalui sebelum menuju pintu parkir Air Terjun Madakaripura ini. Mungkin karena banyaknya pos retribusi yang harus dilalui inilah menyebabkan banyak tulisan di blog yang menyebutkan bahwa banyak pungutan liar untuk menuju Air Terjun Madakaripura. Minimnya akses transportasi umum juga menjadi cerita lain yang membuat para wisatawan mengurungkan niat mereka untuk berkunjung ke Air Terjun Madakaripura usai puas menjelajahi Kawasan Bromo. Padahal air terjun ini memiliki potensi yang menarik sebagai wisata minat khusus.

Tiba di area parkir kita akan melihat banyak pemuda setempat yang hilir-mudik membawa ember dan kain lap. Mereka menjajakan jasa untuk mencuci kendaraan milik pengunjung yang terparkir di area pintu masuk Air Terjun Madakaripura. Jangan ditanya apakah mereka mencuci kendaraan sesuai dengan perintah si empunya kendaraan. Kebanyakan dari mereka memang langsung mencuci kendaraan yang sudah terparkir kemudian meminta imbal jasa kepada si pemilik kendaraan setelah selesai jalan-jalan dari air terjun. Kejadian seperti inilah yang menjadikan si empunya kendaraan merasa mendapatkan aksi palak.


Dari area parkir kendaraan, pengunjung masih harus berjalan kaki menyusuri aliran sungai dan hutan belantara sebelum akhirnya menuju ke kawasan Air Terjun Madakaripura. Patung Maha Patih Gadjah Mada yang sedang dalam posisi seolah sedang bersemedi menjadi pintu masuk menuju jalur tracking. Banyak warga setempat yang menjajakan jasa menjadi guide untuk menemani sampai ke lokasi. Namun, ada satu hal yang cukup disayangkan, mereka menjajakan jasa menjadi pemandu dengan setengah memaksa kepada pengunjung.


Medan yang harus dilalui selama menyusuri aliran sungai menurut saya tidak terlalu berat. Jalannya pun masih cukup datar, walaupun ada beberapa medan yang naik turun namun jalannya tidak terlalu terjal. Satu hal yang perlu diwaspadai adalah ketika kita menyeberangi aliran sungai. Kita harus berhati-hati karena banyak bebatuan yang cukup licin untuk dilalui. Sebenarnya sudah dibangun jalur track khusus untuk menghubungkan ke area air terjun. Hanya saja beberapa jalur track tersebut rusak digerus oleh tanah longsor yang sering terjadi di kawasan Air Terjun Madakaripura ini. Jika hujan turun pun, pengunjung tidak diizinkan menuju area air terjun karena aliran air sungai cukup berbahaya bagi keselamatan pengunjung. Boleh dikata untuk mengunjungi Air Terjun Madakaripura ini diperlukan keberuntungan, terutama terkait dengan kondisi cuaca. Kalau teman saya berceletuk mungkin karena area ini termasuk lokasi yang wingit dan menjadi tempat bersemedi sekaligus muksanya Maha Patih Gadjah Mada, maka untuk menuju ke lokasi air terjun harus membutuhkan perjuangan, tidak bisa melakukannya dengan mudah.


Di sepanjang perjalanan menuju air terjun ini kita akan menemui beberapa lapak pedagang yang menjajakan jajanan untuk pengganjal perut. Harga makanan dan minuman yang dijajakan pun masih cukup normal, tidak dibandrol dengan harga yang terlalu mahal. Setelah berjalan kaki selama kurang lebih selama 30 menit, sampailah kita di area Air Terjun Madakaripura ini. Jangan heran jika sebelum memasuki kawasan air terjun kita akan diserbu oleh para pedagang yang menjajakan plastik dan jas hujan.

Sebelum memasuki air terjun utama, kita akan melewati guyuran air dari tirai-tirai dinding tebing yang berwarna hijau karena tertutup oleh tanaman. Guyuran air ini memiliki sensasi seolah kita sedang berjalan di bawah rintik hujan, mulai dari hujan gerimis hingga hujan deras. Sensasi melewati guyuran air inilah yang mengharuskan kita mengenakan mantel maupun payung agar tidak basah. Ada baiknya barang bawaan berupa dompet, handphone dan kamera diamankan di dalam kantong plastik agar tidak basah terkena guyuran air.


Usai melewati tirai air, tibalah kita di sebuah lembah yang berbentuk seperti tabung, saya menyebutnya lebih mirip seperti huruf U. Dari situlah kita dapat mengabadikan dinding yang dipenuhi tanaman yang membentuk seperti tirai, yang megalirkan air bak guyuran air hujan. Di titik situlah banyak fotografer mengabadikan gambar tirai air terjun Madakaripura. Saya menyebutnya spot sejuta umat, karena di titik situlah tempat yang cukup aman untuk mengeluarkan kamera.

Untuk menuju ke air terjun utama kita harus menaiki tebing bebatuan sempit dan cukup licin. Dibutuhkan nyali yang cukup untuk melewati tebing batu tersebut. Di bagian kiri tebing terdapat aliran sungai yang terlihat cukup dalam. Belum lagi jarak antara tebing batu dengan sungai tersebut terlihat cukup tinggi. Namun semua rasa ngeri tersebut terbayarkan dengan pemandangan aliran Air Terjun Madakaripura yang terlihat gagah. Aliran air terjun ini konon tak pernah mengenal musim. Baik di saat musim penghujan maupun musim kemarau masih ada debit air yang mengalir.


Konon, ketika turun hujan, air terjun ini mengalirkan lumpur dan bebatuan yang terbawa oleh arus aliran sungai di atas sana. Ketinggian debit air dan derasnya aliran sungai ketika hujan juga dapat membahayakan pengunjung. Apalagi jika tiba-tiba hujan turun dengan deras kemudian pengunjung terjebak di area air terjun tersebut. Sungguh mengerikan, saya pun tidak dapat membayangkan.

Air Terjun Madakaripura memang memiliki keindahan yang cukup tersohor. Medan tracking yang cukup menantang dan menguras tenaga rasanya pantaslah menjuluki Air Terjun Madakaripura ini termasuk ke dalam wisata minat khusus. Dibutuhkan stamina yang cukup prima serta alas kaki yang nyaman untuk berjalan di medan yang berbatu dan menyusuri aliran sungai. Pesona keindahan alam yang menawan menjadikan Air Terjun Madakaripura ini layak untuk Anda jadikan destinasi wisata selama berkunjung ke wilayah Probolinggo ini.

catatan :
Saya pernah bertanya kepada admin @GoProbolinggo untuk kendaraan umum menuju Air Terjun Madakaripura ini. Untuk menuju ke Madakaripura, Anda dapat menggunakan bus dari Terminal Bayuangga menuju ke daerah Lumbang. Sampai di Lumbang turun saja di pertigaan dekat dengan Pasar Lumbang. Dari pertigaan Pasar Lumbang tersebut perjalanan menuju Madakaripura bisa dilanjutkan dengan jasa ojek.

Perjalanan menjelajahi Air Terjun Madakaripura merupakan salah satu rangkaian kegiatan Tour De Probolinggo 2014 yang diselenggarakan oleh @imProses_ (Ikatan Mahasiswa Probolinggo se-ITS, PENS, PPNS)

Kamis, 06 Maret 2014

TDP Hari 2 : We Don't Get The Sunrise at Bromo !

Dinginnya udara pegunungan di kala fajar memang membuat betah bagi siapa saja untuk berlama-lama menikmati empuknya kasur berbalut dengan hangatnya selimut yang tebal. Namun, di kala fajar inilah geliat kehidupan di kawasan Bromo dimulai. Orang rela datang jauh-jauh ke Bromo untuk dibangunkan di kala fajar demi menikmati indahnya matahari terbit di ufuk timur sana. 


Dinginnya udara Bromo memang membuat siapa saja malas untuk beranjak dari peraduan. Udara pagi ini memang serasa kurang bersahabat. Angin bertiup cukup kencang, ditambah dengan kabut yang sesekali berdatangan. Sweater dan jaket yang saya kenakan pun seolah masih belum bisa menahan dinginnya udara yang menerpa ke seluruh badan. Tujuan kami pagi ini adalah ingin melihat sunrise di Bukit Punuk Sapi, yang berlokasi di sekitaran Lava View Lodge, tidak jauh dari penginapan kami di Bromo Permai. Untuk menuju ke sana kami pun harus berjalan kaki melewati jalan setapak. Perjalanan ini pun menempuh waktu kurang lebih 30 menit. Medan yang kami lalui pun tidak terlalu terjal, karena sepertinya jalan setapak tersebut sudah cukup sering dilalui oleh orang. 
Di Bukit Punuk Sapi ini terletak di sebelah timur Gunung Batok dan Gunung Bromo. Lokasinya tidak setinggi Penanjakan 1 yang menjadi spot favorit para wisatawan untuk menanti terbitnya matahari di Kawasan Bromo. Namun, jalan setapak yang sesekali menanjak dipadukan dengan hamparan perbukitan yang ditumbhi oleh rerumputan liar yang masih alami memberikan nuansa tersendiri bagi saya. Suasananya pun lebih tenang jika dibandingkan dengan Bukit Penanjakan yang pernah saya datangi sebelumnya.


Sayang, semesta belum berpihak kepada kami pagi itu. Ketika kami sampai di Bukit Punuk Sapi, awan mendung pun berarak datang. Tak ada pancaran sinar matahari karena tertutup oleh awan. Ah sayang, sunrise yang kami nantikan ternyata tak kunjung datang. Hanya pemandangan hamparan rerumputan yang menutupi kawasan perbukitan yang menjadi pengobat kekecewaan. Tak apalah, saya pun juga tak berharap banyak untuk mendapatkan pemandangan sunrise yang sempurna di bulan Februari yang notabennya masih musim penghujan. 

Jumat, 28 Februari 2014

TDP Hari 1 : Bersih-Bersih Sampah di Kawasan Kaldera Pasir Bromo

Kawasan Wisata Bromo memang menjadi salah satu andalah sektor pariwisata di wilayah Probolinggo. Tak hanya terkenal di kancah nasional, keindahan matahari terbit dan pemandangan alam di Kawasan Bromo ini bahkan sudah mendunia sehingga banyak dikunjungi oleh turis manca negara. Kabupaten Probolinggo menjadi salah satu pintu masuk utama menuju kawasan Wisata Bromo. Banyak wisatawan yang memilih masuk ke kawasan Bromo melalui Kabupaten Probolinggo karena akses jalan maupun kendaraan umum yang cukup memadai dari wilayah ini.


Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu kolaborasi warisan alam dan penyelamatan lingkungan, seluruh peserta Tour De Probolinggo tak hanya diajak untuk berjalan-jalan menikmati keindahan alam Kawasan Bromo Tengger Semeru, melainkan melakukan aksi nyata untuk penyelamatan lingkungan. Salah satu kegiatan tersebut adalah memungut sampah di kawasan lautan pasir hingga kawasan di sekitaran Pura Luhur Poten Bromo. Seluruh peserta berjalan kaki dari penginapan di kawasan Bromo Permai hingga menyusuri kawasan kaldera pasir. Mungkin banyak dari kita ketika menyusuri kawasan ini menggunakan kendaraan bermotor seperti jeep maupun sepeda motor tidak terlalu menyadari keberadaan sampah yang cukup banyak berserakan mengotori kawasan ini. Cukup miris juga, ternyata di kawasan ini banyak sampah bekas bungkus makanan yang dibuang begitu saja oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Sangat disayangkan karena ulah tangan-tangan tidak bertanggung jawab ini berdampak pada kotornya lingkungan yang seharusnya kita jaga bersama kebersihannya.


Usai memungut sampah kami pun bersiap mendaki Gunung Bromo. Jalur pendakian didominasi medan berpasir dengan jalan yang cukup menanjak sebelum akhirnya tiba di bagian anak tangga. Kita memang harus rela berbagi jalur dengan kuda-kuda yang mengantarkan pengunjung hingga ke bagian anak tangga. Belum lagi dengan kotoran mereka yang berceceran di sepanjang jalan setapak menuju anak tangga. Di musim penghujan seperti pada awal tahun sekarang memang menjadikan perjalanan menuju anak tangga pendakian sedikit lebih ringan dibandingkan pada musim kemarau. Setidaknya tidak banyak debu-debu beterbangan mengiringi perjalanan. Namun perlu diwaspadai juga karena hembusan angin yang bertiup cukup kencang kadang menyapa kita sambil membawa partikel-partikel pasir yang dapat membuat mata kelilipan.


Setelah acara bersih-bersih kawasan kaldera pasir, pada sore harinya para peserta diajak menuju Kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Di lokasi ini terdapat sebuah teater mini. Para peserta Tour De Probolinggo pun disuguhkan video dokumentasi yang berisi tentang keunikan yang ada di Gunung Bromo. Selain keindahan alam, dalam video tersebut juga digambarkan keunikan-keunikan budaya masyarakat suku Tengger. Salah satu budaya yang terkenal adalah Upacara Kasada, untuk mengenang pengorbanan Raden Kusuma, putra bungsu pasangan Roro Anteng dan Joko Seger yang dipercaya sebagai leluhur Suku Tengger. Upacara Kasada ini bertujuan sebagai wujud rasa syukur masyarakat Suku Tengger atas berkat yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi serta memohon keselamatan dan dijauhkan dari malapetaka.


Setelah melihat video yang diputar di bioskop mini milik Kantor TNBTS, peserta pun diberi kesempatan untuk berkeliling menikmati sisi lain keindahan alam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Saya dan kawan-kawan memilih untuk duduk di kursi taman, yang berlokasi tak jauh dari Kantor TNBTS. Taman ini juga menjadi salah satu lokasi favorit para wisatawan untuk mengabadikan gambar berlatar belakang Gunung Batok dan Gunung Bromo. Semangkuk bakso, udara dingin, pemandangan Gunung Batok dan Gunung Bromo serta pembicaraan hangat bersama warga Tengger menjadi pelepas waktu sore kami di Kawasan Bromo. 

Dari sebuah obrolan lepas dengan seorang bapak-bapak warga Tengger tersebut akhirnya saya memahami sebuah keunikan dari kehidupan masyarakat Tengger yang tinggal di Kawasan Bromo. Kerukunan antar umat beragama di Kawasan Bromo cukup harmonis. Antara pemeluk agama Hindu dan Islam pun saling toleran satu dengan yang lain. Mereka dapat hidup berdampingan tanpa mengusik kehidupan beragama antara agama satu dengan agama yang lain. Menurut penuturan beliau kehidupan masyarakat di Kawasan Bromo ini cukup adem ayem, tidak pernah ada konflik yang berhubungan dengan SARA. Segala kegiatan kemasyarakatan selalu dilakukan dengan musyawarah. 


Saya pun tercekat ketika si bapak bertanya sebuah pertanyaan, "masnya udah nikah belum?". Saya pun hanya bisa tertawa lepas, selesai kuliah saja belum, apalagi memikirkan untuk menikah, gumam saya dalam batin. Beliau bertutur bahwa rata-rata masyarakat di kampungnya sudah menikah pada usia belasan. Jika seseorang sudah selesai menempuh pendidikan di bangku sekolah menengah, maka dapat dipastikan bahwa dia akan segera dinikahkan. Banyak yang akhirnya mencari nafkah di ladang maupun berkecimpung menjadi joki kuda atau tukang ojek di Bromo untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Ah, sebuah sore yang menyenangkan, dapat berbincang dan sedikit mengenal seluk-beluk kehidupan masyarakat Suku Tengger yang mendiami kawasan Bromo ini.

Rabu, 19 Februari 2014

Tour De Probolinggo – Wahana Pengenalan Potensi Wisata di Kawasan Probolinggo

Hujan gerimis menyambut kedatangan saya di Terminal Bayuangga Probolinggo malam itu. Sepi, begitulah suasana yang saya rasakan ketika tiba di terminal kedatangan. Setelah saya mengirim pesan kepada panitia, kemudian bergabunglah saya dengan para peserta yang sudah berkumpul di salah satu sudut terminal. Satu per satu pun kami pun saling berkenalan, menanyakan nama dan daerah asal. Di sinilah kami, para peserta dari beberapa kota di Indonesia berkumpul dalam acara Tour De Probolinggo, sebuah acara yang mengkolaborasikan antara kegiatan wawasan alam, penyelamatan lingkungan, dan membumikan kearifan. Bagi saya, acara ini merupakan salah satu wahana untuk memperkenalkan potensi wisata alam dan budaya yang dimiliki oleh Kawasan Probolinggo.


Tepat pukul 11 malam seluruh peserta sudah berkumpul di Terminal Bayuangga. Pada tengah malam ini peserta dijadwalkan menuju Gunung Bromo untuk melihat matahari terbit pada keesokan harinya. Namun sayang, kondisi alam berkata lain. Hujan turun dengan lebat di lereng sana sehingga mengharuskan kami untuk tetap tinggal di kota demi keselamatan para peserta. Tak ada kasur empuk, tak ada selimut hangat, kami semua menggelar matras dan menjadikan tas ransel kami sebagai bantal. Tapi dari sinilah suasana akrab dimulai, walaupun kami masih terasa kaku untuk saling berkenalan dan berbincang akrab. Kalau orang Jawa Timuran memberi istilah “cangkruk”, kata lain dari jagongan, kongkow, atau nongkrongbareng sambil membicarakan beberapa topik pembicaraan. Tak terasa kantuk pun mulai menyergap, kami semua tidur bersama ditemani dengan gigitan nyamuk-nyamuk terminal yang cukup ganas menghisap darah dari tubuh kami.


Adzan Subuh pun sayup-sayup terdengar membelah sepinya suasana pagi. Kami semua bersiap untuk berkeliling Probolinggo selama empat hari. Dua buah truk Tni pun siap mengantar kami berkeliling menikmati suasana Probolinggo kali ini. Well, ke mana sajakah kami selama empat hari menjelajahi Kota Probolinggo ini?

Jumat, 05 Juli 2013

Bromo, Lukisan Pagi dari Sang Hyang Widhi

Lembabnya udara pagi yang berkumpul menjadi embun, berpadu dengan syahdunya desiran suara angin gunung yang menggema. Aktivitas di Bromo memang bisa dikatakan sedikit tidak biasa. Kehidupan dimulai ketika waktu menunjukkan pukul tiga pagi, di mana setiap orang mulai terlelap dalam tidur nyenyaknya. Di saat itulah justru kehidupan di Bromo mulai menggeliat, di mana orang-orang bersiap keluar menembus dinginnya udara gunung demi mengejar terbitnya matahari dari ufuk timur.


Menjelang pukul tiga pagi suasana homestay yang saya tinggali pun terdengar cukup riuh. Suara bapak-bapak mengetok-ngetok pintu kamar dibarengi seruan dengan suara yang cukup nyaring mencoba membangunkan setiap tamu yang sedang menikmati peraduan. Suara panggilan tersebut tidak saya hiraukan, walau sempat mengganggu ketenangan istirahat saya. Sengaja memang, kedatangan saya ke Bromo kali ini khusus untuk menikmati acara jazz gunung, bukan untuk memburu sunrise di penanjakan.


Pukul 06.00 pagi saya pun terbangun karena sorotan sinar mentari yang masuk dari balik kaca jendela kamar. Saya pun bergegas bangun dan merapikan jaket yang saya kenakan. Tak perduli dengan muka bantal karena belum cuci muka maupun sikat gigi. Boro-boro cuci muka, membayangkan dinginnya air saja sudah membuat saya bergidik terlebih dahulu. Saya bergegas keluar dari penginapan untuk menuju view Gunung Batok dan Gunung Bromo.

Langit biru, embun pagi, udara segar khas pegunungan, serta hawa dingin yang mencoba menembus kulit menyambut saya pagi itu ketika keluar dari penginapan. Ah, menyenangkan sekali kembali dapat menikmati udara pagi khas pegunungan seperti ini. Tak berapa lama berjalan saya pun tiba di lokasi untuk melihat pemandangan Gunung Batok dan Gunung Bromo yang saling bersebelahan.


Sungguh sempurna lukisan Sang Hyang Widhi pagi ini. Gunung Bromo yang terlihat mengeluarkan asap, Gunung Batok yang terlihat menghijau, kabut pagi yang tebal menutupi bagian lautan pasir pada bagian bawah, dipadu dengan birunya langit. Sungguh indah, sebuah pemandangan yang begitu sempurna dari Gunung Bromo memasuki musim kemarau.


Usai mengambil gambar, pandangan saya pun tertuju pada pohon cemara yang berada tak jauh dari tempat saya berdiri mengamati keindahan Gunung Bromo pagi ini. Terlihat embun pagi yang membeku perlahan mencari terpapar hangatnya sinar matahari pagi. Cantik ! Sulit untuk saya ungkapkan dengan kata-kata lukisan dari Sang Hyang Widhi pagi itu.


Tak lama memang saya mengamati keindahan Gunung Bromo dari samping penginapan. Saya pun bergegas kembali ke penginapan untuk membereskan barang-barang. Lalu lalang kendaraan cukup ramai melintasi jalanan di depan penginapan. Ada hal yang unik di antara ramainya kendaraan yang lalu-lalang. Sekumpulan bapak-bapak satu per satu menuntun kuda, menuruni bukit melalui jalan setapak menuju lautan pasir untuk mencoba peruntungan menyewakan jasa kuda-kuda kesayangan mereka. Tidak bisa saya bayangkan betapa curamnya bukit tersebut untuk dituruni. Entah, sepertinya jalan setapak tersebut memiliki jarak tempuh lebih dekat untuk segera menuju lautan pasir barangkali.

Rabu, 03 Juli 2013

Merdunya Gunung ala Jazz Gunung 2013

Tak hanya keindahan alamnya saja yang mempesona, Bromo pun memiliki event musik tahunan yang menyajikan nuansa lain dari sebuah pagelaran musik.

Panggung musik terbuka dengan hiasan rentetan bambu sebagai latar belakangnya, dipadu dengan pemandangan perbukitan khas daerah pegunungan menyambut kedatangan para penonton yang ingin menikmati alunan musik jazz sore itu. Sinar matahari pun perlahan sirna diterjang kabut yang sesekali datang menyambut. Udara dingin yang menusuk kulit pun seolah tak menjadi penghalang bagi penikmat musik jazz untuk datang ke acara dengan suasana panggung terbuka. Semakin malam, kursi penonton di tribun pun semakin dipadati oleh para penikmat musik. Tua, muda, bahkan hingga anak-anak pun datang membaur demi menikmati alunan jazz bernuansa etnik yang dilantunkan oleh musisi ternama tanah air. 


Jazz Gunung, sebuah pagelaran musik jazz tahunan yang mengambil lokasi di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut dengan latar belakang keindahan perbukitan daerah pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Bayangkan betapa dinginnya lokasi tersebut, namun alunan musik jazz seolah menghangatkan suasana panggung di Java Banana Bromo sore hingga malam itu. Jazz Gunung tahun ini diadakan selama dua hari berturut-turut, mulai dari tanggal 21 - 22 Juni 2013. Gelaran musik Jazz Gunung tahun ini sudah menginjak tahun kelima penyelenggaraannya.

Tidak seperti pagelaran musik jazz kebanyakan dengan kesan kaku dan eksklusif, Jazz Gunung menawarkan nuansa lain dari sebuah kemasan pagelaran musik bergenre satu ini. Kesan kaku dibuat mencair dengan balutan humor dari guyonan yang dilontarkan oleh pembawa acara seperti Alit, Gundi, dan juga mas Butet Kertaradjasa. Well, walaupun saya mendapat tiket terusan dua hari, namun saya baru bisa menikmati acara di hari kedua karena ada tugas kampus yang tidak bisa saya tinggalkan.


Sebagai penampilan pembuka sore itu diisi oleh Tahez Komez, sebuah band dari Rompok Bolong Malang Jazz Community. Lagu-lagu syahdu pun mereka dendangkan, kemudian beralih membawakan lagu-lagu daerah seperti "Jaranan" yang mereka aransemen ulang. Lagu "Jaranan" mereka bawakan dengan cukup interaktif dengan penonton, menjadikan suasana cukup semarak sore itu. Penampilan selanjutnya adalah Grup Kramat Madura, sebuah grup musik tradisional asal Madura. Penampilan mereka meriah, mulai dari seragam hingga musik tradisional yang mereka bawakan.







Kulkul Band, menjadi penampil pertama pada termin berikutnya. Band yang memadukan musik jazz dengan alat musik tradisional Bali ini tampil cukup memukau dan interaktif. Ring of Fire, grup yang digawangi oleh Djaduk Ferianto, Idang Rasjidi, dan musisi cantik asal Amerika, Jen Shyu menjadi penampil berikutnya. Grup ini memadukan musik jazz dengan musik tradisional, khususnya musik tradisional Jawa, mengingat domisili grup ini berasal dari Yogyakarta. Bulan purnama perlahan datang seolah sedang mengintip keadaan, namun perlahan sirna tertutup oleh kabut gunung yang tiba-tiba datang. Alunan musik modern berpadu dengan musik tradisional yang dimainkan menghasilkan sebuah alunan harmoni yang apik dan memberikan nuansa yang segar di dalam bermusik. Seolah memberikan energi baru bagi siapapun yang berada di panggung Java Banana malam itu.


Pada termin terakhir, Rieka Roslan and band membawakan lagu-lagu dengan beat yang cukup cepat seolah "memanaskan" suasana malam yang semakin terasa dingin. Rieka Roslan membawakan lagu dengan sangat interaktif dengan penonton. Lagu-lagu baru maupun lagu lama seperti "Khayalan" seolah membius penonton untuk bernyanyi bersama. Sebagai penutup, Barry Likumahuwa Project, menampilkan musik yang tak kalah interaktif. Musik dengan hentakan beat yang asyik berhasil membius penonton untuk berdiri menari bersama mengikuti alunan musik yang dimainkan.


Well, Jazz Gunung 2013 sukses membius ratusan penonton yang memadati arena tribun. Semakin malam penonton pun semakin memadati arena festival. Tak perduli dengan dinginnya udara pegunungan Bromo-Tengger-Semeru malam itu. Semua orang pun larut dalam alunan musik Jazz Gunung 2013. Salut untuk seluruh panitia dan pemusik yang tampil dalam acara Jazz Gunung 2013 ini.


keterangan :

  • Acara Jazz Gunung ini biasanya diselenggarakan setiap tahun. Selain menikmati alunan musik jazz, Anda pun dapat menikmati keindahan alam pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Tahun depan acara Jazz Gunung direncakan akan diselenggarakan pada bulan Juni atau Juli.
  • Untuk informasi lebih lanjut dapat membuka website Jazz Gunung di sini
  • Atau Anda bisa mengikuti informasi Jazz Gunung melalui twitter @jazzgunung dan @GoProbolinggo
Thanks To :
Terima kasih kepada @jazzgunung dan @GoProbolinggo untuk tiket terusan gratis melihat acara Jazz Bromo 2013 selama dua hari :)


Sabtu, 29 Desember 2012

BROMO !

Tulisan ini murni adalah pengalaman penulis ketika mengunjungi Gunung Bromo, salah satu destinasi yang wajib dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Berhubung banyak yang menanyakan bagaimana cara menuju Bromo, di mana tempat menginapnya, bagaimana cara untuk berkeliling Bromo, bagaimana sewa jeep dan sebagainya, maka penulis akan kembali membuat ulasan mengenai perjalanan menuju Bromo !



Perjalanan menuju Gunung Bromo adalah pengalaman pertama saya solo traveling alias bepergian seorang diri tanpa teman yang mendampingi. Saya akan kembali me-review perjalanan saya menuju Bromo dengan starting point Yogyakarta.

Menuju Kota Probolinggo
Akses menuju Gunung Bromo yang paling mudah adalah dari Kota Probolinggo. Ada beberapa pilihan menuju Kota Probolinggo dari Jogja. Saya akan memberikan sedikit penjelasan dengan kendaraan apa saja untuk dapat sampai di kota ini.
  1. Alternatif pertama adalah menggunakan bus. Anda dapat memilih naik bus tujuan Yogyakarta - Banyuwangi. Bus-bus yang melayani trayek ini antara lain adalah bus Akas Asri dan Mila Sejahtera dengan kelas standar ekonomi AC, seat tempat duduk 2-3. Pemberangkatan terakhir dari terminal Giwangan, Jogja sekitar pukul 17.30 WIB. Harga tiket Jogja-Probolinggo sekitar Rp 60.000,00-an. Jika Anda memilih pemberangkatan pada sore hari sekitar pukul 17.00 dari Jogja, maka Anda akan sampai di Kota Probolinggo pagi-pagi buta sekitar pukul 02.45 dini hari.
  2. Alternatif kedua adalah menggunakan bus dengan jalur estafet, yaitu dengan rute Jogja-Surabaya-Probolinggo. Dari Jogja cari saja bus tujuan Surabaya. Bus yang melayani trayek ini antara lain adalah bus Patas Eka dengan tiket Rp 68.000,00 (data Desember 2012). Bus ini relatif ada setiap saat, dan terakhir pemberangkatan sekitar pukul 23.30 malam. Pilihan lain adalah menggunakan bus AC ekonomi seperti Mira atau Sumber Group (Sumber Selamat dan Sugeng Rahayu) dengan tarif sekitar Rp 38.000,00. Pemberangkatan bus ini hampir ada selama 24 jam. Perjalanan Jogja - Surabaya memakan waktu sekitar 8 jam perjalanan. Dari Surabaya silahkan lanjut bus menuju Probolinggo. Cari saja bus dengan trayek Surabaya - Jember - Banyuwangi. Tiket bus patas dibandrol dengan harga Rp 23.000,00 dengan waktu tempuh selama 2 jam perjalanan.
  3. Alternatif ketiga adalah menggunakan jasa kereta Ekonomi Sri Tanjung. Berangkat dari Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta sekitar pukul 07.30 pagi, dengan harga tiket sekitar Rp 30.000,00 untuk rute Jogja-Probolinggo.
Perjalanan Probolinggo - Bromo
Setelah Anda sampai di Terminal Probolinggo, perjalanan selanjutnya adalah menuju ke daerah Bromo. Ada dua pilihan cara untuk menuju Bromo, yaitu menggunakan jasa ojek motor dengan tarif sewa sekitar Rp 150.000,00 atau menggunakan kendaraan umum, semacam angkot, di mana orang sekitar menyebutnya dengan "bison". Bison merupakan kendaraan semacam Izuzu Elf dengan muatan sekitar 10-12 orang. Anda dapat menemui bison ini di luar terminal. Jadi jika dari dalam terminal, Anda keluar saja menuju jalan raya kemudian belok ke arah kiri. Di sana sudah tampak bison yang berjajar menanti penumpang. 

Sudah bukan rahasia umum lagi jika Terminal Probolinggo ini merupakan salah satu terminal yang tidak jujur, terutama kepada wisatawan yang hendak menuju Bromo. Tarif normal bison dari Probolinggo menuju Bromo adalah Rp 25.000,00, namun jika sedang apes, maka pemilik bison tak akan segan-segan untuk menodong Anda menyewa kendaraan mereka dengan patokan harga sekitar Rp 300.000,00 untuk sekali jalan. Kalau sedang pergi bersama-sama, mungkin Anda harus merogoh kocek sekitar Rp 50.000,00 sampai Rp 70.000,00 per-orang, kalau sendirian? wassalam ! Ketika saya menuju Bromo saya kena bandrol sekitar Rp 150.000,00 dengan terlebih dahulu menunggu di bison selama 3 jam ! Please beware dengan praktik kecurangan para sopir bison di sini !

Penginapan
Bromo memiliki banyak pilihan penginapan sesuai dengan budget yang Anda miliki. Bromo menyediakan hotel berbintang hingga homestay bagi para backpacker. Untuk pilihan penginapan, saya memilih Yog Homestay yang terletak di daerah Cemoro Lawang. Cemoro Lawang merupakan rute terakhir bison di kawasan Bromo ini. Menurut saya lokasi Yog Homestay ini sangat strategis, tinggal berjalan kaki sebentar saja Anda akan melihat pemandangan Gunung Batok, Gunung Bromo, dan lautan pasir dari atas bukit. Selain itu, penginapan ini juga cukup dengan warung makan.

Untuk pilihan kamar di homestay ini menyediakan dua pilihan, yaitu kamar tidur dengan kamar mandi luar dibandrol dengan harga Rp 100.000,00 per hari. Anda dapat memilih kamar dengan dua buah kasur atau satu buah kasur. Semua kamar sudah dilengkapi dengan fasilitas selimut tebal untuk menghalau hawa dingin. Pilihan kedua adalah kamar tidur dengan kamar mandi dalam, dibandrol dengan harga Rp 150.000,00 per hari. Semua kamar maksimal ceck out sekitar pukul 13.00 WIB. Semua fasilitas, baik kamar tidur dan kamar mandi dalam keadaan yang cukup bersih dan tertata rapi. 

Bagi Anda yang ingin menikmati suasana alam bebas, mendirikan tenda dapat Anda jadikan sebagai pilihan untuk bermalam. Ada beberapa spot untuk mendirikan tenda, salah satunya dekat dengan Hotel Lava View Bromo.


Pilihan Kendaraan Menuju Penanjakan Sunrise View dan Pendakian Bromo
Ada beberapa pilihan kendaraan untuk menuju penanjakan. Spot ini merupakan salah satu lokasi wajib ketika mengunjungi Bromo. Dari sinilah kehidupan benar-benar dimulai. Spot penanjakan adalah sebutan lokasi untuk melihat matahari terbit atau sunrise view. Kendaraan pribadi seperti mobil memang tidak diizinkan untuk melaju di area padang pasir dan penanjakan Bromo. Jika dizinkan pastilah akan mematikan pendapatan penduduk setempat yang menggantungkan profesi mereka untuk membuka jasa persewaan kendaraan. Ya, community based tourism di wilayah ini sudah cukup maju dan memiliki paguyuban yang cukup kuat.

Pilihan pertama adalah dengan menyewa jeep atau biasa disebut hardtop. Biaya yang dipatok sekitar Rp 100.000,00 per-orang untuk rute penanjakan sunrise view dan pendakian Bromo. Jika menyewa satu mobil, biaya yang diaptok sekitar Rp 350.000,00 sampai dengan Rp 450.000,00. Untuk rute tambahan menuju Bukit Teletubbies (padang savana) ada biaya tambahan lagi, tergantung nego Anda dengan sang sopir.

Pilihan kedua adalah dengan menyewa ojek motor. Hal ini lebih efisien bagi Anda yang pergi sendirian ataupun yang ingin lebih menikmati perjalanan. Selain mengantarkan Anda, si tukang ojek dapat dijadikan sebagai guide sekaligus teman perjalanan. Bagi saya, perjalanan menyusuri Bromo menggunakan jasa tukang ojek lebih menyenangkan karena kita dapat membangun komunikasi yang lebih intens serta dapat menggali informasi yang mendalam. Dari si tukang ojek pula saya tahu bahwa di sekitar area Pasir Berbisik terdapat sebuah batu yang disebut watu singo karena bentuk batu tersebut mirip seperti singa jantan yang sedang duduk berselanjar. Tarif ojek untuk rute penanjakan dan pendakian adalah Rp 100.000,00, sedangkan jika tambah spot Bukit Teletubbies, maka Anda harus membayar Rp 150.000,00.


Sewa Kuda Menuju Tangga Pendakian
Kalau yang ini sifatnya optional ! Anda dapat menyewa kuda dari parkiran kendaraan menuju tangga pendakian Bromo. Harga sewa kuda berkisar Rp 60.000,00 sampai dengan Rp 100.000,00 untuk rute pulang-pergi. Semua tergantung pintar-pintarnya Anda menawar. Bagi Anda yang memutuskan untuk berjalan kaki jangan lupa untuk membawa masker karena debu dan pasir yang beterbangan cukup mengganggu pernafasan. 

Kembali Ke Probolinggo
Puas menikmati keindahan kawasan Gunung Bromo saatnya untuk kembali ke Probolinggo. Untuk kembali menuju ke Probolinggo saya kembali memilih menggunakan jasa bison. Tarif yang dipatok sudah tarif normal dan fix yaitu Rp 25.000,00 tanpa ada lonjakan harga dan tawar-menawar lagi. Biasanya pada malam hari akan ada kernet bison yang datang ke homestay untuk menawarkan jasa mereka menjemput Anda keesokan harinya untuk kembali ke Probolinggo.

Ya, itulah sekilas mengenai review itinerary saya menuju Bromo. Silahkan kalkulasikan sendiri biaya perjalanan sesuai dengan kebutuhan Anda. Saya hanya memberikan sedikit gambaran rincian perjalanan saya berpetualang ke Bromo. Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat, happy traveling :)


Jumat, 02 Maret 2012

Gunung Bromo yang Mempesona

Bromo. Sebuah gunung yang terkenal hingga mancanegara. Wisatawan domestik maupun mancanegara akan terpana begitu melihat keindahan dan kemegahannya. Gunung Bromo terletak di Provinsi Jawa Timur. Dapat dikatakan inilah gunung paling terkenal di Jawa Timur.
Apa yang menjadi daya tariknya ?




Bromo memiliki sejuta keindahan yang membuat setiap orang rindu untuk kembali mengunjunginya. Udaranya yang dingin membuat wisatawan domestik seakan-akan sedang berada di luar negeri. Cukuplah untuk mengobati rasa penasaran orang yang ingin berlibur dan merasakan suasana musim dingin. Hehehe. Pemandangan alam Bromo yang berlatarbelakang Gunung Semeru sungguh menghipnotis. Tak jarang orang yang langsung mengucapkan pujian kepada Tuhan yang telah menciptakan alam seindah ini. 

Wisata alam Gunung Bromo memiliki fasilitas yang memadai bagi wisatawan yang ingin berlibur ataupun menginap. Terdapat banyak penginapan di sekitar area Gunung Bromo. Sesaat setelah turun dari kendaraan Anda, dingin yang menusuk tulang namun menyegarkan akan menyapa Anda. Bekal wisata seperti kamera, baju hangat, dan penutup kepala sangat disarankan untuk dibawa serta.

Selamat menikmatinya bersama kerabat dan keluarga tercinta.