Tampilkan postingan dengan label Surakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surakarta. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2015

The Umbrella Reborn at Festival Payung Indonesia 2015

Keramaian pengunjung mulai terasa ketika ojek yang saya tumpangi memasuki sebuah jalan kecil menuju Taman Balekambang. Motor-motor mulai berdatangan dan berdesakan mencari area parkir yang mulai penuh sesak oleh pengunjung yang ingin menikmati acara Festival Payung Indonesia siang itu. Kemeriahan acara mulai terlihat di bagian gerbang masuk Taman Balekambang, di mana ratusan kerangka payung yang diberi cat warna-warni digantung dan ditata dengan cukup artistik sehingga menarik pengunjung untuk mengabadikan gambar melalui ponsel dan tongkat narsis masing-masing.


Tahun ini, acara Festival Payung Indonesia kembali digelar di Kota Solo mengangkat tema "umbrella reborn". Acara ini diselenggarakan selama tiga hari, yaitu mulai tanggal 11-13 September 2015. Instalasi payung berwarna-warni terlihat begitu kontras dengan hijaunya pepohonan dan birunya langit Kota Solo siang itu. Panas yang cukup menyengat pun tidak menghalangi minat pengunjung untuk berjalan-jalan mengelilingi Taman Balekambang sambil mengambil beberapa gambar.



Tema "umbrella reborn" dipilih untuk mengusung lahirnya payung dalam kebaruan artistik visual. Fungsi payung identik untuk melindungi badan dari guyuran air hujan. Payung konvensional memiliki bentuk serta corak warna yang terlihat begitu monoton dan tidak menarik pandangan mata. Namun, di tangan orang-orang kreatif, payung-payung ini bisa disulap menjadi barang kerajinan yang memiliki nilai estetika yang tinggi. Payung lukis misalnya, dengan berbagai motif, corak serta warna-warni yang menarik yang menarik, sehingga dapat difungsikan menjadi penghias ruangan maupun properti untuk pengambilan gambar terutama untuk memotret model. Festival ini diadakan selain untuk menarik kunjungan, juga dijadikan sebagai ajang untuk memperkenalkan UMKM pengrajin payung yang ada di nusantara di mana menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif di Indonesia.


Selain motif dan corak lukisan yang atraktif, bentuk payung pun dapat dibuat lebih menarik. Payung Bali misalnya, dengan menambah nuansa tradisional yang khas serta tambahan pernak-pernik yang menarik, menjadikan payung Bali menjadi salah satu barang incaran wisatawan untuk dibawa sebagai buah tangan. Payung Bali memang biasa digunakan sebagai penghias ruangan karena kecantikan motif dan bentuknya yang rupawan.


Selain memamerkan hiasan payung yang beraneka rupa, dalam acara ini juga diselenggarakan acara pentas seni dari beberapa seniman yang berasal dari berbagai daerah. Dalam acara Festival Payung Indonesia ini pula dipamerkan beberapa pengrajin payung dari beberapa daerah di Indonesia yang menampilkan kerajinan payung dengan motif, warna, dan corak yang khas dari daerah payung tersebut berasal. Selain berfoto ria, pengunjung pun dapat mengikuti kegiatan workshop pembuatan payung tradisi dan kreasi yang diselenggarakan oleh panitia acara. Pengunjung pun juga dimanjakan dengan pameran fotografi yang mengangkat tema tentang payung. Banyak obyek menarik yang dibidik oleh para fotografer yang dipamerkan dalam acara ini.



Selain hiasan payung dengan berbagai bentuk unik serta warna-warni yang menarik, pandangan mata saya justru tertarik dengan dua ekor rusa betina jinak penghuni Taman Balekambang di akhir perjalanan ini. Banyak pengunjung terutama anak-anak yang terlihat begitu antusias untuk berinteraksi langsung dengan rusa-rusa tersebut. Rusa betina tersebut sedang duduk bermalas-malasan sambil menguyah rumput yang menjadi makanan mereka. Banyak pengunjung yang mendekati rusa tersebut dan mengajak berfoto bersama. Ada hal yang menarik siang itu, terlihat segerombolan cewek yang sibuk dengan "tongsis" untuk mengajak berfoto bersama rusa, namun rusa tersebut seolah tidak tertarik dan memilih untuk memalingkan muka ! Ah, sebuah penutup perjalanan yang menyenangkan menikmati suasana Festival Payung Indonesia di Kota Surakarta.

Kamis, 12 Februari 2015

Pecel Ndeso Khas Kutho Solo

Menyambangi pasar tradisional, bagi saya seperti menikmati langsung denyut kehidupan perekonomian masyarakat lokal. Ada transaksi jual beli berbagai macam barang kebutuhan, termasuk sajian kuliner lokal yang menggiurkan. Perjalanan kali ini membawa saya kembali menyambangi Kota Solo, sebuah kota yang terkenal dengan tradisi budaya Jawa yang masih kental, serta kuliner tradisionalnya yang beraneka ragam.

Pagi ini saya menyambangi Pasar Gede untuk mencari kuliner tradisional yang mungkin sedikit mulai sulit ditemukan. Salah satu sajian lokal yang saya cicipi pagi ini adalah pecel ndeso. Bagi masyarakat Jawa, sajian pecel cukup mudah kita temukan dan biasa dijadikan sebagai menu sarapan. Campuran aneka sayuran segar yang direbus kemudian disiram dengan bumbu sambal kacang memberi cita rasa pedas, manis dan gurih yang khas. Namun, pecel ndeso ala Kota Solo ini sedikit berbeda dibandingkan dengan pecel-pecel pada umumnya yang biasa kita temukan.


Letak perbedaannya adalah pada sambal pecel yang digunakan untuk menyiram campuran sayur mayur yang telah direbus. Sambel pecel ala pecel ndeso Solo ini menggunakan campuran bahan cabuk, yaitu ampas dari proses pembuatan minyak wijen. Campuran dari bahan cabuk inilah yang memberikan warna hitam pada sajian sambal pecel ndeso ini.


Pecel ndeso ini biasanya disajikan di atas pincuk yang terbuat dari daun pisang yang menambah kesan tradisional. Sajian pecel ndeso terdiri dari seporsi nasi merah yang disajikan dengan suwiran ayam serta sayuran yang direbus seperti daun bayam, daun singkong, daun pepaya, kacang panjang, kembang turi, kecipir, kecambah, petai cina (melanding) kemudian disiram dengan sambal pecel bertekstur kental dan berwarna hitam. Untuk menambah aroma ditambahkan daun kemangi segar dan juga potongan mentimun yang menambah kesegaran. Tak lupa ditambah dengan karak/kerupuk lempeng (olahan kerupuk dari bahan beras) yang menambah rasa gurih dan kriuk sajian pecel ndeso ini. Sebagai tambahan lauk-pauk, Anda pun dapat menambahkan bongko dan gembrot pada sajian pecel ini.

Bongko merupakan sejenis pepes kacang tholo yang dicampur dengan parutan kelapa. Sedangkan gembrot sejenis pepes yang terbuat dari daun sembukan yang dicampur dengan parutan kelapa. Kedua sajian masakan  ini memiliki cita rasa manis dan gurih, sangat pas disajikan dengan menu pecel ndeso ini.

Untuk menikmati sajian pecel ndeso ini, silahkan menyambangi Pasar Gede Solo. Lapak pedagang yang menjajakan pecel ndeso ini terletak di sebelah kiri pintu masuk utama pasar. Walaupun gelaran lapaknya nampak sederhana dan terlihat apa adanya, namun jangan ragukan cita rasanya sajiannya. Pecel ndeso ini memiliki cita rasa yang cukup gurih dengan aroma khas wijen yang menggoda. Sajian pecel ndeso kaya akan serat dan manfaat, harganya pun sangat terjangkau oleh semua kalangan masyarakat. Satu porsi pecel ndeso lengkap dengan lauk-pauknya hanya dibandrol dengan harga Rp 8.000,00 saja. Oh iya, penjual pecel ndeso di Pasar Gedhe ini mulai membuka lapak dari pukul 06.00 pagi hingga sekitar pukul 09.30 pagi saja lho ! Jadi, jangan datang kesiangan jika tidak ingin melewatkan icip-icip sajian pecel ndeso ini ya !

Minggu, 27 April 2014

Wayang Wong Sriwedari - Seni Pertunjukan yang Masih Lestari

Tak ada sorot lampu yang berbinar, pun dengan spanduk-spanduk yang bergelantungan menghiasi gedung pertunjukan. Hanya tampak sebuah gedung pertunjukan tua dengan penerangan seadanya. Pedagang kaki lima tampak membuka lapak sembari menjajakan dagangannya kepada penonton yang sudah antri menunggu loket penjualan tiket di buka.


Usai membayar tiket sebesar Rp 3.000,00 pun seluruh penonton riuh berlarian masuk ke dalam gedung pertunjukan untuk mencari kursi dengan posisi yang nyaman untuk melihat pagelaran. Kondisi di dalam gedung pertunjukan pun terlihat nampak sederhana. Kursi-kursi kayu yang sudah nampak usang berjajar tertata sedemikian rupa di bagian penonton. Di bagian depan terdapat panggung pertunjukan utama lengkap dengan layar proyektor di sisi kanan dan kiri panggung yang memberikan deskripsi singkat mengenai perpindahan plot setiap babak dalam pertunjukan. Seperangkat alat musik gamelan pun tertata rapi di dekat panggung sebagai pengiring musik selama pertunjukan.



Pertunjukan wayang wong malam ini mengambil lakon "Pedhut Dwarawati". Walaupun memiliki panggung pertunjukan yang nampak sederhana, namun tidak dengan pertunjukan yang disuguhkan. Totalitas pemain wayang wong sungguh luar biasa. Mereka tampak begitu lepas dalam memainkan tokoh yang sedang mereka perankan. Tidak ada kesan kaku dan terpancang dengan skenario yang telah dibuat, seolah-olah tokoh yang sedang mereka perankan sudah menyatu di dalam raga para pemain wayang wong tersebut. Tata lampu dan permainan musik gamelan yang apik semakin menambah semarak suasana pagelaran Wayang Wong Sriwedari ini. Seluruh adegan percakapan dalam pertunjukan wayang wong ini menggunakan bahasa Jawa. Walaupun ada beberapa kata yang mungkin kurang dimengerti maknanya, namun gelak tawa penonton pun pecah ketika para pemain bertingkah jenaka di beberapa adegan. Semacam ada sebuah bahasa universal sehingga terjalin komunikasi antara penonton dan pemainnya.

Wayang Wong Sriwedari merupakan sebuah maha karya seni pertunjukan yang memadukan seni drama, seni tari dan seni musik. Kesenian ini mengalami perkembangan yang cukup pesat di Kraton Surakarta pada masa pemerintahan Mangkunegoro IV. Dahulu pagelaran wayang wong hanya dapat dinikmati oleh kalangan yang berada di dalam bangunan kraton saja, sehingga tidak sembarang orang dapat menikmati pertunjukan tersebut. Wayang wong pun sempat mengalami masa surut pada masa pemerintahan Mangkunegoro V. Untuk melangsungkan eksistensi kesenian wayang wong, para pemain melakukan ekspansi keluar kraton. Mereka mengadakan pertunjukan dengan sistem menarik bayaran kepada penonton. Sekitar tahun 1910-an, barulah rombongan wayang wong ini melakukan pementasan perdana mereka di Kebon Raja Sriwedari atau sekarang yang lebih kita kenal dengan Taman Sriwedari. Jika dihitung-hitung, usia pertunjukan wayang Wong Sriwedari yang dilangsungkan di Taman Hiburan Rakyat ini sudah berusia sekitar satu abad lebih.


Pertunjukan Wayang Wong Sriwedari sendiri pernah mengalami masa pasang dan surut di dalam perjalannya. Di masa krisis penonton, mereka pun masih tetap melangsungkan pertunjukan, walau hanya dilihat oleh segelintir orang saja. Mereka mempertahankan tradisi dan budaya, bukan hanya sekedar mencari nominal rupiah sebagai penghasilan semata. Kecintaan mereka terhadap budaya lah yang menjadikan mereka tetap bertahan di masa-masa krisis tersebut. Barulah memasuki era tahun 2000 sekian ada campur tangan dari pemerintah kota Surakarta untuk mempromosikan kesenian Wayang Orang Sriwedari ini sebagai salah satu atraksi wisata di kota Solo ini. Dengan adanya promosi oleh pemerintah paling tidak ada usaha untuk memperkenalkan kesenian wayang orang ini kepada wisatawan yang berasal dari luar Kota Surakarta dan sekitarnya.

Masalah kunjungan penonton mungkin bisa sedikit teratasi dengan adanya promosi yang dilakukan oleh pemerintah kota maupun dengan maraknya travel blogger yang menyajikan ulasan di blog pribadi mereka. Ada satu permasalahan yang menurut saya menjadi sebuah masalah yang cukup vital bagi kelangsungan kesenian Wayang Wong Sriwedari ini. Masalah tersebut adalah minimnya regenerasi pemain wayang wong. Sepanjang pengamatan saya selama pertunjukan, banyak pemain wayang wong merupakan orang-orang yang sudah menginjak usia senja alas sudah memasuki masa sepuh. Regenerasi pemain wayang wong perlu juga dilakukan agar bisa mengenalkan budaya daerah kepada generasi muda. Jika regenerasi pemain wayang wong ini tidak segera dilakukan, saya khawatir jika seni budaya ini akan tergerus dengan perubahan zaman yang semakin cepat berkembang seperti sekarang dan entah bagaimana dengan nasib pertunjukan Wayang Wong Sriwedari di masa yang akan mendatang.


Saya menyaksikan pertunjukan wayang wong Sriwedari ini di Sabtu malam alias malam Minggu. Sepanjang pengamatan saya, cukup banyak penonton yang menyaksikan pertunjukan wayang wong ini. Kursi-kursi di bagian penonton hampir seluruhnya penuh terisi. Rata-rata penonton memang orang yang sudah berusia tua, ada pula yang mengajak anak-anak mereka untuk memperkenalkan budaya lokal sejak usia dini, bahkan ada pula dari mereka adalah turis asing yang mungkin sedang belajar maupun singgah di Kota Solo. Ada pula penonton yang berasal dari luar kota rela datang jauh-jauh ke Kota Solo untuk menyempatkan diri menyaksikan pertunjukan wayang wong ini seperti seorang bapak-bapak yang duduk di samping saya waktu itu. Beliau tinggal di Kota Semarang dan pernah beberapa kali menyempatkan diri melihat pertunjukan wayang wong ini. Beliau bercerita jika pagelaran Wayang Wong Sriwedari jauh lebih menarik daripada pagelaran seni tradisi serupa dari Negeri Sakura yang pernah beliau tonton semasa bertugas di sana. Harga tiket pertunjukan yang cukup mahal menurut beliau tidak sebanding dengan kepuasan batin yang beliau dapatkan. Berbeda dengan pertunjukan Wayang Wong Sriwedari ini, dengan harga tiket yang sangat terjangkau dan dengan tata panggung yang sederhana, namun beliau merasa sangat terhibur dan mendapatkan kepuasan batin tersendiri setelah menyaksikan pertunjukan ini.

Singgah di Kota Surakarta memang tidak lengkap rasanya jika tidak melihat pagelaran Wayang Wong Sriwedari ini. Dengan segala kesederhanaannya, pertunjukan Wayang Wong Sriwedari selayaknya mendapatkan apresiasi agar tidak hilang digerus perkembangan zaman yang kata orang semakin edan. Selayaknya orang Indonesia, kita harus bangga dan belajar melestarikan tradisi leluhur peninggalan nenek moyang kita. Jika bukan kita yang melestarikan tradisi budaya tersebut, lalu siapa lagi?


keterangan :
Pagelaran Wayang Wong Sriwedari dipentaskan di Gedung Pertunjukan Wayang Wong Sriwedari yang berada di kompleks Taman Hiburan Rakyat Sriwedari
alamat : Jalan Slamet Riyadi 275 Surakarta

Pertunjukan Wayang Wong Sriwedari digelar pada hari Selasa-Sabtu dari pukul 20.00 - 22.30 WIB
hari Minggu dan Senin pertunjukan libur
tiket : Rp 3.000,00 per-orang

Senin, 30 Desember 2013

Timlo Solo - Hidangan Berkuah Khas Kota Bengawan

Selain keunikan budaya Jawa nya yang kental, Kota Solo juga memiliki kuliner khas yang beragam. Berkunjung ke Kota Budaya ini memang tidak lengkap rasanya jika tidak mampir sejenak untuk sekedar memanjakan lidah dengan cita rasa kulinernya yang seolah tidak pernah habis untuk dijelajahi. Selain sate kere yang sudah melegenda, ada satu kuliner khas Solo dengan kuah beningnya yang gurih yang cocok disantap baik sebagai sajian di kala siang maupun malam.


Adalah Timlo Solo, makanan dengan kuah bercita rasa gurih khas dari Kota Solo. Timlo Solo memiliki komposisi bahan seperti irisan hati dan ampela ayam, suwiran daging ayam, bihun, potongan dadar gulung, dan telur bumbu kecap. Bahan-bahan tersebut kemudian disiram dengan kuah bening berbumbu rempah. Untuk mempercantik tampilan dan penambah selera, diberikan taburan bawang goreng di atas sajiannya. Secara keseluruhan Timlo Solo ini memiliki rasa yang gurih. Perpaduan rasa dari campuran antara kuah dan isiannya. Bumbu rempah pada kuah memberikan efek hangat saat masuk ke tenggorokan. Bagi penikmat rasa pedas, silahkan tinggal campurkan saja sambal kecap yang disediakan pada tempat terpisah. Hati-hati jangan terlalu banyak menuangkan sambal kecap, karena rasanya cukup pedas di lidah.



Sebagai lauk tambahan, Anda dapat memilih sosis Solo, tahu serta tempe bacem yang disajikan terpisah. Sosis Solo juga merupakan salah satu hidangan khas dari Kota Bengawan ini. Sosis Solo memiliki komposisi bahan daging cincang yang diberi bumbu-bumbu, kemudian digulung di dalam adonan kulit lumpia. Sosis Solo kemudian dikukus dan biasanya disajikan dalam kondisi basah, tidak digoreng terlebih dahulu. Sosis Solo memiliki perpaduan rasa manis dan gurih dari campuran bumbu yang digunakan untuk memasak dagingnya.


Satu porsi Timlo Solo komplit dihargai Rp 20.000,00. Menu ini belum termasuk dengan nasi putih. Sedangkan untuk nasi putih seporsi dihargai Rp 4.000,00. Nah, untuk sosis Solo, per bijinya dihargai Rp 3.500,00. 

Keterangan :
Rumah Makan Timlo Solo beralamat di  Jalan Jend Urip Sumoharjo No 94 Solo.
Telpon (0271) 646180 fax 655676
rumah makan ini mulai buka dari pukul 09.00 sampai pukul 21.00
Selain menu Timlo Solo, rumah makan ini juga menyediakan beberapa jenis masakan jawa lainnya.

cara menuju lokasi :
Dari Stasiun Purwosari silahkan melanjutkan perjalanan menggunakan bus Batik Solo Trans, kemudian turun di halte Timlo Solo. Lokasi rumah makan ini berada di seberang jalan halte bus Batik Solo Trans. Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi silahkan menuju ke arah Pasar Gede, kemudian lurus ke utara arah Stasiun Jebres. Lokasi warung ini dekat dengan perempatan lampu merah di sekitar Pasar Gede.

Note :
Selain di rumah makan Timlo Solo, ada satu warung timlo legendaris di kota ini, yaitu Timlo Sastro yang berada di salah satu sudut Pasar Gede. Kuliner adalah masalah rasa dan masing-masing orang memiliki penilaian yang berbeda soal rasa.  

Kamis, 10 Oktober 2013

Es Krim Tentrem - Es Krim Legendaris dari Kota Solo

Namanya mungkin belum setenar semacam Toko Oen yang berada di Kota Malang, namun tempat ini memiliki sebuah persamaan, yaitu sama-sama menyajikan es krim jadul buatan rumahan alias home made. Adalah Es Krim Tentrem, sebuah gerai es krim sederhana di kawasan Jalan Jend. Urip Sumoharjo yang sudah berdiri sejak tahun 1952. Gerai ini menawarkan es krim jadul buatan rumahan dengan rasa yang tak kalah enak dengan es krim modern yang diproduksi sekarang.


Sesuai dengan namanya, yaitu "Tentrem", tempat ini memang menawarkan suasana tempat yang cukup nyaman. Hadirnya menu es krim memang semakin menimbulkan rasa tentram bagi siapa saja yang mampir di sana. Memasuki bagian dalam ruangan, kita akan disambut dengan meja panjang dilengkapi dengan dua buah kursi single serta sebuah kursi panjang yang terbuat dari rotan yang diberi alas busa tipis sehingga cukup nyaman untuk diduduki. Pada masing-masing meja diberi sebuah penyekat dengan motif ukiran sehingga memberikan sedikit nuansa privat antara meja yang satu dengan meja yang lain.




Es Krim Tentrem memang hanya menyediakan menu es krim tanpa ada menu pendamping lainnya. Beberapa menu varian es krim dapat kita pesan di gerai ini. Sebut saja country look, combinasi, rum n coffee, tutti frutty, pink panther, robin rose, jumbu specials, terang bulan, banana split, mini rob rose, domino, kopso cream soda, Mr. clown, mandarin block, coupe yaques, dan casablanca. 


Saya pun tertarik untuk memesan beberapa varian es krim yang disajikan. Menu pertama yang saya coba adalah Mr. Clown. Penyajiannya terkesan unik dan menarik. Satu scoop es krim vanila diletakkan di sebuah cone, kemudian dibalik diberi hiasan seperti wafer cokelat, biskuit, dan juga taburan permen cokelat. Tampilan Mr. Clown lebih mirip seperti boneka yang menggunkan sebuah topi, lucu, unik, dan tentu saja imut menggemaskan. Rasa valina cukup mendominasi sajian menu es krim yang satu ini. Tampilannya yang terlalu imut memang membuatnya sedikit sayang untuk dihabiskan.



Menu selanjutnya yang saya pesan adalah mandarin block. Dilihat bentuknya sekilas memang mirip dengan roti mandarin khas dari Kota Solo, yaitu potongan kue berbentuk kotak yang terdiri dua hingga tiga layer warna pada setiap potongnya. Selain mandarin block, ada lagi satu inovasi varian menu yang cukup tren sekarang ini, yaitu rainbow ice cream. Rainbow ice cream varian es krim dengan warna-warni beragam seperti pelangi. Baik mandarin block maupun rainbow ice cream memiliki sebuah kesamaan, yaitu sama-sama memiliki rasa vanila yang cukup mendominasi di setiap gigitannya.


Dari beberapa menu yang saja coba, sepertinya saya jatuh cinta dengan tutti frutty, es krim vanila bercampur cokelat yang berbalut dengan taburan potongan buah-buahan di bagian tengah serta memiliki aroma yang khas. Namun lagi-lagi rasa vanila kembali cukup mendominasi setiap gigitan es krim ini. Mungkin saja gerai es krim ini memiliki spesialisasi rasa vanila pada setiap menunya. Soal harga jangan khawatir, es krim yang dijual di gerai ini memiliki harga yang cukup nyaman bagi kantong. Varian menu yang disajikan hanya dibandrol mulai dari Rp 5.000,00 sampai Rp 11.000,00 setiap porsinya, cukup murah bukan untuk menikmati es krim jadul ini?

Gerai yang didirikan oleh Sulaiman, seorang keturunan Tionghoa ini memang selalu mengedepankan kualitas bahan dan rasa. Es krim home made ini dibuat dengan bahan-bahan pilihan diracik menggunakan resep otentik yang selalu dipertahankan sehingga terjaga kualitas rasanya. Es krim ini tidak menggunakan bahan pengawet dan pewarna buatan. Hal ini terlihat dari warna es krim yang cenderung pucat dan tidak terlalu mencolok. Penggunaan bahan-bahan pilihan inilah yang membuat es krim ini tidak menyebabkan batuk. Jika Anda mampir ke Kota Solo, tak ada salahnya untuk mampir di gerai Es Krim Tentrem ini. Anda pun dapat menikmati manisnya es krim sambil bersantai bersama teman maupun keluarga di gerai yang satu ini.

keterangan :

  • Es Krim Tentrem terletak di Jalan Urip Sumoharjo No. 97 Solo, telp (0271 635597)
  • lokasinya tidak jauh dari Toko Roti Orion, sekitar 3 kilometer dari Pasar Gede Solo
  • gerai ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 sampai dengan pukul 16.00 WIB
  • jika Anda menggunakan bus Solo Batik Trans dari arah Stasiun Purwosari, silahkan turun di shelter Warung Timlo Solo. Dari shelter bus silahkan berjalan kaki ke arah kiri (tidak menyeberang jalan ya),  lokasinya tidak jauh dengan shelter bus tersebut kok :)

Kamis, 04 Juli 2013

Solo Batik Carnival 2013 - Meriah, Namun Kurang Greget

Bulan Juni 2013 cukup banyak festival yang digelar di beberapa kota, bahkan dengan waktu penyelenggaraan yang hampir serentak. Tanggal 29 Juni kemarin terdapat dua buah event yang diadakan bersamaan di dua tempat yang berbeda, yaitu Solo Batik Carnival dan Dieng Culture Festival. Well, berhubung jarak Jogja dan Solo cukup dekat, kali ini saya memilih untuk menikmati sajian Solo Batik Carnival.


Solo Batik Carnival merupakan acara budaya yang diselenggarakan setiap tahun dan menjadi salah satu agenda wisata Kota Surakarta. Acara ini menampilkan kreativitas terutama di dalam bidang fashion. Mengambil lokasi menyusuri sepanjang Jalan Slamet Riyadi sebagai arena catwalk untuk memamerkan rancangan busana bernuansa batik yang terlihat wah. Solo Batik Carnival tahun 2013 mengambil tema "Memayu Hayuning Buwana", yang terdiri dari empat unsur utama yang ada di dalam bumi ini, meliputi air, api, tanah, dan udara. Hal ini tercermin dari warna-warni kostum yang dikenakan peserta pada saat pawai Solo Batik Carnival.

Cukup lama saya dan kawan-kawan bercengkrama di sekitar Solo City Walk yang berada tepat di depan Taman Sriwedari menanti jalannya pawai Solo Batik Carnival. Menunggu dari pukul 12.30 siang hingga pukul 15.00 sore, belum ada tanda-tanda pawai akan segera dimulai. Kendaraan pun masih lalu-lalang melewati Jalan Slamet Riyadi. Menjelang sore warga masyarakat pun mulai berdatangan memadati sepanjang Jalan Slamet Riyadi menanti jalannya pawai Solo Batik Carnival.


Sekitar pukul 16.30 pawai pun mulai melewati depan Stadion Sriwedari dari arah Solo Center Point. Iring-iringan pawai dibuka oleh pasukan Kraton Surakarta, mengenakan seragam berwarna merah yang menyala, kemudian dilanjutkan iring-iringan peserta Solo Batik Carnival yang mengenakan pakaian yang dirancang khusus untuk acara ini. Acaranya cukup meriah, peserta didominasi sebagian besar oleh anak-anak dan remaja. Sesekali terlihat peserta yang kelelahan, mungkin karena jarak tempuh pawai dan juga panasnya kostum yang harus mereka kenakan sore itu.


Akan tetapi ada beberapa hal yang cukup disayangkan. Penonton seolah kurang diberi kesempatan untuk memotret peserta pawai dengan leluasa. Seharusnya setelah berjalan dalam jarak tertentu peserta pawai diberhentikan sebentar, mungkin sekitar 5 menit untuk memberikan kesempatan kepada para penonton yang ingin memotret. Walhasil, sore itu banyak penonton yang nekat berebutan untuk dapat memotret para peserta. Bahkan ada pula yang memaksa masuk ke dalam barisan peserta pawai untuk dapat berfoto bersama. Saya tidak menyalahkan mereka sih, karena pasti semua orang ingin mendapatkan foto yang terbaik yang mereka bisa dapatkan.


Penyelenggaraan Solo Batik Carnival tahun ini memang terkesan tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Banyak penonton yang kecewa karena arak-arakan pawai hanya berlangsung sekitar 30 menit. Peserta Solo Batik Carnival tahun ini memang jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Walhasil banyak penonton yang cukup kecewa karena mereka sudah berlama-lama menunggu pawai, namun pawai hanya berlangsung secara singkat. Kurang terasa gregetnya, pulangpun kurang memberikan kenangan yang mendalam dengan adanya event budaya ini.



Sejak awal penyelenggaraan Solo Batik Carnival 2013 ini mungkin saja kurang persiapan yang matang. Publikasi acara pun terkesan mendadak tidak dari jauh-jauh hari sebelumnya (atau mungkin saya yang kurang update informasi). Banyak kerancuan informasi yang saya dapat, mulai dari kerancuan rundown acara  antara di website resmi Solo Batik Carnival dengan artikel website surat kabar lokal di pagi hari sebelum diselenggarakannya acara. Kerancuan yang saya dapatkan mengenai perbedaan waktu dimulainya acara dan juga rute start dan finish karnaval. Demi mencari aman, akhirnya saya putuskan untuk berangkat ke Solo menggunakan kereta Prameks pada pukul 10.56. Pukul 12.00 kereta pun tiba di Stasiun Purwosari, dan akhirnya saya harus menunggu cukup lama hingga diselenggarakannya acara.


Ya, semoga saja acara Solo Batik Carnival tahun depan lebih meriah dan well organized lagi. Sayang jika acara budaya yang cukup dinantikan ini jika kurang berjalan dengan baik di dalam penyelenggaraannya.

Selasa, 30 April 2013

Orang Solo Menyebutnya "Omah Lowo"

Terletak di sebelah timur perempatan Purwosari atau tepatnya di sebelah timur rumah makan cepat saji Jackstar di kawasan Solo Center Point, terdapat sebuah bangunan tua yang termasuk ke dalam bangunan cagar budaya. Mungkin saja bangunan ini terkadang sedikit luput dari perhatian para pengguna jalan yang melintasi sepanjang Jalan Slamet Riyadi.


Dikelilingi oleh pagar besi yang cukup tinggi, bangunan ini dikenal dengan sebutan Omah Lowo atau rumah kelelawar. Dari segi arsitekturnya cukup unik, memiliki cukup banyak pilar sebagai penyangga bangunan. Wajar saja jika bangunan ini terkenal dengan sebutan omah lowo, karena bangunan ini menjadi hunian para kelelawar. Pada siang hari suara cicitan para kelelawar ini terdengar sangat riuh dan seolah saling bersautan satu dengan lainnya.


Berbekal rasa penasaran, saya pun menyusuri trotoar jalan menuju arah selatan. Ada ornamen unik yang menghiasi sisi dinding bangunan. Patung kepala singa yang garang menyembul di salah satu sudut dinding bangunan seolah menjadi penjaga bangunan tua berwarna putih kusam tersebut. Di bagian belakang bangunan utama tersebut terdapat bangunan yang sekilas mirip seperti dinding kastil. Ah, tapi sial, di bagian ini bau kotoran kelelawar teramat menyengat menusuk indera penciuman. Jika tidak kuat dengan aromanya rasanya ingin muntah.



Di belakang bangunan tua tersebut terdapat sebuah rumah yang masih dihuni. Bangunan tersebut memiliki halaman yang menghubungkan ke bagian halaman Omah Lowo. Rasanya saya ingin nyelonong masuk agar dapat melihat bangunan Omah Lowo lebih dekat. Ah, sayang, tidak ada orang di luar rumah, hanya terdapat sebuah mobil yang sedang terparkir. Tak etis rasanya jika saya nekat memasuki halaman rumah tanpa izin dari si pemiliknya.

Saya pun hanya bisa mengagumi keindahan bangunan Omah Lowo dari luar pagar. Ah, andai saja saya datang di saat yang tepat, mungkin saja saya dapat bertemu dengan si lowo penghuni bangunan tersebut keluar dari rumah terbang bebas ke angkasa.

Senin, 29 April 2013

Benteng Vastenburg - Cagar Budaya di Atas Lahan Sengketa

Berbicara mengenai cagar budaya, pikiran kita pasti akan tertuju pada sebuah bengunan tua yang mempunyai nilai historis dan juga budaya. Mungkin, bagi sebagian besar orang kurang mengetahui keberadaan sebuah bangunan cagar budaya yang sangat menarik di Kota Solo ini. Bukan bangunan kraton, melainkan sebuah bangunan peninggalan jaman Kolonial Belanda yang berada di depan bangunan Kantor Pos Besar, bersebelahan dengan bangunan Bank Indonesia. Sebuah bangunan yang bernama Benteng Vastenburg yang didirikan pada tahun 1745 ini masih berdiri dengan kokoh dengan tembok-tembok tebal mengelilingi area kompleks bangunan.


Jika dilihat sekilas, bangunan gerbang Benteng Vastenburg ini hampir mirip dengan Benteng Vredeburg yang ada di Yogyakarta. Pembeda keduanya adalah Benteng Vredeburg di Jogja lebih terawat dan kini menjadi salah satu tujuan wisata yang cukup terkenal di kawasan Malioboro, sedangkan Benteng Vestenburg ini terkesan terbengkalai dan kurang terawat. Namun, kesan tidak terawat ini memunculkan kesan klasik pada bangunan.


Bangunan Benteng Vastenburg ini dahulu tertutup dengan semak belukar yang sangat tinggi, hanya terlihat beberapa sudut bangunan tembok yang berdiri kokoh. Bahkan di beberapa sudut bangunan sengaja ditutupi dengan seng, entah untuk apa fungsinya. Bangunan ini memang terkesan terbengkalai, mungkin karena konflik sengketa antara pemerintah Kota Surakarta dengan pemilik lahan Benteng Vastenburg yang konon kepemilikannya berada di tangan perorangan/swasta sehingga menjadi kurang jelas pengelolaannya. Namun, sekitar akhir tahun 2012, akhirnya kawasan Benteng Vastenburg ini dibersihkan dari semak belukar dan tanaman liar yang menutupi bangunan, sehingga kini setiap orang dapat melihat langsung wujud asli dari bangunan Benteng Vastenburg ini. Hingga kini pemerintah Kota Solo pun masih berusaha untuk melakukan proses akususi kepemilikan lahan di Benteng Vastenburg ini.


Bangunan gerbang Benteng Vastenburg ini memiliki ornamen yang cukup unik. Kita akan disambut dengan dua buah pohon besar yang tumbuh dengan rimbun di bagian depan gerbang. Lalu kita akan melewati sebuah jembatan kecil yang seolah menjadi penghubung sebelum akhirnya tiba di depan bangunan gerbang. Di bawah jembatan kecil tersebut terdapat bangunan seperti parit-parit yang mengelilingi kawasan kompleks bangunan Benteng Vastenburg ini. Di bagian kanan dan kiri jembatan terdapat patung sapi dengan pose duduk. Patung ini sekilas mirip seperti arca nandi seperti yang terdapat pada candi-candi bercorakkan agama Hindu.



Di bagian kiri dan kanan relung bangunan gerbang benteng ini juga terdapat dua buah patung ksatria, yang menurut saya mirip dengan reco gladak, yaitu patung ksatria yang membawa pentungan. Patung Reco Gladak ini dapat kita temukan di daerah Gladak, tepatnya gapura sebelum menuju alun-alun utara. Reco Gladak ini pula merupakan salah satu patung khas yang ada di daerah Surakarta. Jika saya buat kesimpulan, pembangunan bagian bangunan gerbang Benteng Vastenburg ini terdapat akulturasi budaya, memadukan gaya arsitektur kolonial dipadukan dengan ornamen-ornamen lokal pada beberapa sisi bangunan.


Melihat beberapa artikel di media massa, jika ke depannya proses akusisi lahan sudah selesai, Pemerintah Kota Surakarta berencana akan membangun taman terbuka hijau di sekitar area Benteng Vastenburg. Masyarakat pun dapat memanfaatkan lahan terbuka hijau di sekitar area Benteng Vastenburg ini untuk arena rekreasi dan kegiatan lainnya. Semoga saja rencana Pemerintah Kota Surakarta ini dapat segera terealisasikan.

Selasa, 23 April 2013

Pura Mangkunegaran - Menikmati Bangunan dengan Perpaduan Nuansa Arsitektur Istana Jawa dan Eropa

Perjalanan menyusuri Kota Solo tidak hanya berisi agenda untuk memanjakan rasa dengan kuliner khasnya, pun demikian pula dengan wisata belanja yang terkenal dengan ragam batiknya yang murah. Julukan Solo sebagai Kota Budaya tidak dapat dilepaskan dengan keberadaan Kraton sebagai tempat terciptanya sekaligus simbol eksistensi budaya Jawa yang hingga kini masih sangat kental dalam kehidupan keseharian masyarakat di kota ini.


Solo sendiri memiliki dua buah kraton, yaitu Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Saya pun tertarik untuk mengunjungi Pura Mangkunegaran terletak tidak jauh dari pasar barang antik Triwindu.  Bangunan ini didirikan oleh Raden Mas Said atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyawa pada tahun 1757 Masehi. Pura Mangkunegaran memiliki keunikan dari segi arsitekturnya. Eksterior bangunan menggunakan gaya bangunan Jawa dipadukan dengan nuansa Eropa pada bagian interior maupun ornamen-ornamen yang menghiasi beberapa sudut bangunan.


Memasuki kompleks Pura Mangkunegaran, kita akan disambut dengan hamparan lapangan hijau yang cukup luas. Lapangan ini disebut dengan alun-alun Mangkunegaran oleh masyarakat setempat. Lihatlah di sisi kanan alun-alun ini, maka kita akan disuguhi sebuah bangunan tua dengan arsitektur yang bercorakkan bangunan gaya kolonial. Bangunan yang bertuliskan "Kavallerie-Artillerie" berangka tahun 1874 ini masih terlihat kokoh berdiri walaupun di beberapa sudut terlihat rapuh. Bangunan ini dahulu berfungsi sebagai markas besar pasukan Legiun Mangkunegaran yang merupakan cikal bakal Pasukan Khas Samber Nyawa. Namun, bangunan ini sekarang tampak kurang terurus dan beralih fungsi sebagai pemukiman penduduk yang cukup padat.

Untuk memasuki kompleks utama Pura Mangkunegaran ini, lewatlah bangunan yang ada di sebelah kiri gerbang utama. Bangunan tersebut berfungsi sebagai lobi sekaligus pintu masuk ke dalam bangunan utama Pura Mangkunegaran. Setelah membeli tiket masuk, kita pun akan ditemani berkeliling oleh seorang guide yang berasal dari abdi dalem kraton. Abdi dalem di sini memang sedikit berbeda dengan abdi dalem di Kraton Yogyakarta dilihat dari gaya berpakaian mereka yang sudah lebih modern, yaitu mengenakan batik dan bawahan bahan layaknya orang yang pergi ke kantor.


Bagian bangunan pertama yang kita kunjungi adalah bagian Pendopo Ageng. Menurut penuturan sang guide, pendopo dengan atap bangunan berbentuk joglo ini  merupakan bangunan pendopo paling luas di Indonesia. Nuansa Eropa pun langsung terasa di setiap ornamen yang menghiasi bangunan tersebut seperti patung singa berwarna emas, lampu hias, lantai marmer, maupun lukisan yang ada di bagian langit-langit. Ornamen-ornamen tersebut didatangkan dari beberapa negara di Eropa. Untuk berkunjung ke area ini kita dipersilahkan untuk melepaskan alas kaki yang kita kenakan. Sang pemandu pun sudah menyiapkan tas plastik untuk tempat membawa alas kaki yang kita lepas. Bangunan Pendopo Ageng ini biasanya digunakan untuk tempat pertujukan tari maupun seni musik, khususnya gamelan. Di beberapa sudut pendopo, kita dapat melihat tiga set gamelan. Ada satu buah gamelan yang dimainkan secara rutin dan lainnya hanya dimainkan dalam upacara tertentu saja.


Beranjak ke ruangan berikutnya kita diajak memasuki sebuah ruangan yang diberi nama Pringgitan. Ruangan ini sekarang lebih difungsikan seperti museum untuk menyimpan barang-barang peninggalan milik Kraton Mangkunegaran. Dari luar bangunan, kita akan disambut dengan patung-patung bercorakkan nuansa Eropa dan juga beberapa foto anggota keluarga kerajaan. Memasuki bagian dalam ruangan, kita akan disuguhi barang-barang milik kraton seperti peralatan serta pakaian yang dikenakan oleh para penari Bedoyo Ketawang, salah satu tarian yang dianggap sakral. Ruangan ini juga memamerkan beragam uang logam kuno, perhiasan-perhiasan kuno, senjata-senjata hadiah dari beberapa negara, koleksi keris, peralatan makan dan minum yang terbuat dari perak maupun kristal, serta beragam pernak-pernik lain yang berbahan dasar emas maupun perak. Dari sekian barang yang dipamerkan, ada satu barang yang menarik perhatian saya. Ada sebuah alat yang dinamakan "badong". Alat yang terbuat dari emas ini dipasangkan di alat vital raja yang akan pergi berburu guna menghindari terjadinya perselingkuhan. Alat ini dipakaikan oleh permaisyuri dan terdapat sebuah kunci khusus. Selain untuk raja, "badong" ini juga dikenakan pula oleh sang permaisyuri untuk menghindari perselingkuhan ketika sang raja sedang pergi keluar istana. Ada pula pring pethung/pring pethuk, yaitu bambu yang memiliki pertumbuhan ruas yang tidak normal. Benda ini konon memiliki khasiat yang berhubungan dengan hal magis. Selain itu di ruangan ini terdapat sebuah kamar khusus yang digunakan raja untuk bermeditasi. Sayang, di ruang Pringgitan ini wisatawan tidak dikenakan untuk mengambil gambar.


Memasuki ruangan berikutnya, kita menyusuri ruangan keputren yang digunakan untuk tempat tinggal para putri kerajaan. Di ruangan ini kita diperkenankan kembali untuk mengenakan alas kaki. Di bagian teras tertata rapi meja kursi yang menghadap langsung dengan taman yang indah di depannya. Hiasan-hiasan seperti patung dan cermin-cermin berukuran cukup besar menghiasi beberapa sudut ruangan. Bagi saya, ruangan ini adalah ruangan yang sangat sempurna untuk bersantai dan dijamin siapapun akan betah berlama-lama untuk tinggal di ruangan ini karena suasana dan pemandangannya yang begitu nyaman.



Kembali kami melangkahkan kaki memasuki sebuah ruangan yang dijadikan sebagai tempat pertemuan keluarga dengan kursi-kursi yang ditata rapi sedemikian rupa. Ruangan yang diberi nama bangsal Pracimoyoso ini memang tampak sederhana namun terkesan cukup mewah dan elegan. Ruangan berikutnya adalah ruang makan. Ruangan ini memiliki atap dari kaca dan terdapat sebuah hiasan yang unik, yaitu sebuah gading gajah yang diukir dengan cerita Ramayana. Trip pun berakhir dengan menyusuri bagian teras yang dihiasi barang-barang antik serta foto keluarga besar Pura Mangkunegaran.


Yak, Pura Mangkunegaran ini secara keseluruhan memang memiliki konsep arsitektur yang unik, memadukan unsur Jawa dan juga unsur Eropa di dalam ornamen interior bangunan. Bangunan Pura Mangkunegaran ini masih sangat terawat dan cukup bersih. Kesan sebuah bangunan istana yang sederhana pada bagian eksteriornya namun terlihat mewah dan elegan pada bagian interiornya dapat Anda rasakan di Pura Mangkunegaran ini.

keterangan :
Pura Mangkunegaran buka setiap hari dari pukul 08.30 sampai dengan pukul 14.00
Tiket masuk wisatawan domestik Rp 10.000,00
untuk biaya guide kita beri seikhlasnya

Senin, 22 April 2013

Es Kapal - Es Klasik dengan Cita Rasa Unik

Satu lagi sajian kaki lima pelepas dahaga yang tak boleh dilewatkan ketika kita berjalan-jalan di area Solo City Walk yang terletak di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, jalan utama yang membelah pusat Kota Solo. "Es Kapal Tempoe Doeloe, Resep Leluhur Cita Rasa Khas Solo", begitulah kata-kata di spanduk yang terpasang di gerobak tempat es ini dijual. 


Lapak Es Kapal ini bersebelahan dengan lapak milik Es Potjong Solo. Walaupun bersebelahan, namun lapak milik Es Kapal ini memang terlihat tidak begitu ramai seperti lapak di sebelahnya. Berdasarkan rasa penasaran saya akan kuliner-kuliner jadul, saya pun mendatangi lapak sederhana tersebut dan memesan segelas es kapal.


Jika dilihat sekilas, tampilan es kapal ini memang cukup sederhana. Sebuah cairan berwarna putih bercampur dengan warna cokelat, diberi pecahan kecil es batu, disajikan ke dalam gelas yang cukup jadul, kemudian diberi campuran roti tawar yang disiram dengan susu kental manis cokelat sebagai pemanis tampilan sekaligus menambah rasa. Bagaimana dengan rasanya? Setelah saya rasakan, es kapal memiliki cita rasa  maupun aroma yang hampir mirip seperti es puter tapi versi cair. Perpaduan rasa manis dan gurih sangat terasa, ditambah dengan aromanya yang khas sangat menggugah selera. 

Pemberian nama "es kapal" memang sedikit menggelitik pikiran saya. Saya pun kemudian bertanya kepada si penjual kenapa es ini dinamakan es kapal. Sebutan es kapal bukan berarti es yang disajikan berbentuk kapal ya ! Sejarahnya pun cukup sederhana, pemberian sebutan es kapal ini konon karena dahulu gerobak es yang digunakan berbentuk seperti kapal, atau tepatnya moncong perahu. Lambat laun orang-orang lebih familiar menyebutnya es kapal karena bentuk dari gerobak yang digunakan untuk berjualan. Cukup sederhana dan unik memang !


Satu gelas es kapal ini dijual dengan harga Rp 2.500,00 per-gelasnya, cukup murah bukan? Anda dapat menemukan lapak es kapal ini di Solo City Walk, tepatnya di sebelah barat pintu utama Taman Hiburan Rakyat Sriwedari. Lapak es kapal ini mulai buka sekitar pukul 10.00 pagi sampai dengan habis. Bagi Anda yang merasa haus di siang hari karena teriknya sengatan sinar matahari di Kota Solo, es kapal ini dapat dijadikan pilihan untuk pelepas dahaga Anda !