Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2015

Menikmati Atraksi Paralayang dari Atas Samudera

Jalur konblok yang berkelok dengan kontur menanjak membuat saya sedikit was-was ketika melewatinya. "Tolong siap-siap turun dari boncengan ya, kalau motor ini tidak kuat di tanjakan terakhir nanti", pinta saya kepada seorang kawan yang membonceng di belakang.

Motor yang saya kendarai akhirnya kuat melewati tanjakan demi tanjakan jalan menuju Bukit Parangendog. Beberapa kali ke bukit ini, hampir saja motor yang saya kendarai tidak kuat melewati tanjakan terakhir dengan kemiringan yang cukup curam. Dari pengalaman tersebut saya selalu berpesan kepada kawan yang membonceng saya untuk siap-tiap turun dari boncengan, kalau-kalau motor yang saya kendarai tidak sanggup melewati tanjakan terakhir tersebut.


Bukit Parangendog terasa lebih ramai dibandingkan dengan beberapa tahun silam. Mungkin sudah banyak orang yang mengenal keberadaan bukit ini dari media sosial yang semakin digemari kalangan anak muda jaman sekarang. Bukit Parangendog merupakan sebuah bukit kecil yang berada di atas Pantai Parangtritis yang terkenal dengan legenda Ratu Pantai Selatan. Bukit kecil ini memiliki pemandangan yang indah. Kita dapat melihat hamparan pesisir pantai selatan, hutan-hutan dan perbukitan, serta hamparan persawahan dari atas ketinggian. Bukit Parangendog juga menjadi salah satu lokasi menikmati pemandangan matahari tenggelam di kala senja tiba.



Selain menawarkan keindaham alam, Bukit Parangendog juga memiliki atraksi yang menarik untuk disaksikan. Setiap akhir pekan, terutama hari Sabtu dan Minggu kita dapat menikmati atraksi para penggemar olaharaga paralayang yang sedang latihan. Mereka biasa lepas landas dari Bukit Parangendog dan mendarat di sekitar Pantai Parangtritis. Siang itu nampak beberapa mobil offroad yang membawa rombongan. Rombongan tersebut terlihat menggendong tas ransel yang berukuran besar lengkap dengan perintilan alat-alat outdoor. Rombongan tersebut berjalan menuju landasan helipad kemudian beranjak ke balik bukit untuk bersiap menerbangkan paralayang.


Udara siang itu cukup bagus, cuaca cerah berawan dengan laju angin yang tidak terlalu kencang. Tak berapa lama terlihat beberapa penikmat olahraga paralayang ini sudah lepas landas. Parasut berwarna-warni pun menghiasi langit di atas Bukit Parangendog. Mereka berkeliling ke sana ke mari bak burung yang sedang terbang bebas di angkasa. Seru juga melihat penikmat olahraga paralayang ini menunjukkan aksi mereka. Atraksi olahraga paralayang biasa dapat kita saksikan dalam acara Jogja Air Show yang menjadi salah satu event tahunan di Jogja yang menampilkan perhelatan akbar olahraga kedirgantaraan.


Saya sempat berbincang dengan salah seorang operator paralayang. Tidak hanya para atlet saja yang bisa mencoba olahraga ini, masyarakat awam pun dapat menikmati atrasi terbang menikmati pemandangan dari ketinggian. Dengan membayar tarif sekitar Rp 300.000,00 per-orang, kita dapat merasakan sensasi terbang di atas ketinggian menggunakan parasut dengan didampingi oleh instruktur yang sudah berpengalaman. Tawaran yang cukup menarik bukan untuk merasakan pengalaman terbang menikmati alam bebas dari ketinggian bak burung-burung yang beterbangan?

Jumat, 30 Januari 2015

Pantai Parangtritis Jogja

+Pantai Parangtritis Jogja atau yogyakarta


Pantai Parangtritis Jogja merupakan salah satu wisata alam pantai yang ada di Yogyakarta. Pengunjung pantai parang tristis tidak terbatas wisatawan dalam negeri saja, Melainkan juga wisatawan manca negara. Menurut kepercayaan penduduk setempat, Jika di pantai parangtristis tidak boleh mengenakan pakaian hijau muda.

Kenapa Mengunjungi Tempat wisata alam Pantai Parang Tritis Jogja?

Pantai parangtritis Jogja mempunyai ombak yang cukup besar, Hal inilah yang merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan. Selain ombak yang besar, Di sekitar pantai parangtritis juga terdapat gunung-gunung pasir yang biasa disebut gumuk.

Tidak hanya Ombak dan gunung pasir yang bisa dikagumi oleh wisatawan jika berkunjung ke pantai Parangtristis, Karena disekitar pantai parangtritis masih terdapat beberapa obyek menarik dan memikat. Yaitu Pantai parangkusumo dan parangwedang.

Dipantai parangtritis Jogja, Wisatawan bisa melihat dan menyusuri bibir pantai tanpa harus capai-capai. Karena disini wisatawan bisa menggunakan jasa kereta kuda. 

Pantai parangtritis Jogja disore hari akan memberikan pemandangan panorama alam yang sangat indah. Dimana wisatawan akan bisa menyaksikan matahari tenggelam saat cuaca cerah. Setelah malam tiba, Wisatawan bisa menikmati keindahan pantai parangtitis pada suasana gelap, Deru ombak dan hembusan angin akan membuat suasana semakin menarik. Pada suasana inilah kadang kita akan teringat kebesaran Tuhan pencipta alam dan isinya.

Pada suasana dingin dan hening seperti ini, Kadang timbul hasyat untuk makan atau ngemil. Jangan khawatir, karena kita akan dengan mudah menemukan pedagang jagung disekitar pantai parangtritis.

Parangkusumo
Kenapa parang kusumo menarik?, Karena disini terdapat cepuri yang konon merupakan tempat pertemuan Raja Yogyakarta dengan Nyi Roro Kidul. Di Pantai Parangkusumo, Pada waktu tertentu pada bulan sura ( sering diucapkan Syuro ) diadakan ritual labuhan.

Parangwedang
Adalah pemandian air panas mengandung belerang yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit, Air dari pemandian parangwedang ini juga dialirkan ke pantai parangtritis.

Letak atau Lokasi Pantai Parangtritis Jogja

Wisata alam Pantai parangtristsi Jogja terletak di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Parangtritsi terletak kurang lebih 25km sebelah selatan Kota Yogyakarta. Sedangkan Pantai prangtritis berada ditepi Samudra Hindia.

Fasilitas di Pantai parangtristis Jogja

Tidak jarang wisatawan yang berkunjung kesuatu tempat wisata akan membeli oleh-oleh untuk keluarga atau membeli cinderamata sebagai kenang-kenangan. Seperti halnya tempat wisata lainnya, Di pantai parangtritis juga terdapat banyak toko atau kios yang menjual oleh-oleh dan cinderamata. 

Apakah Saudara sangat tertarik dengan keindahan pantai parangtritis, Dan apakah saudara ingin bermalam dan melihat pantai parangtritis dimalam hari dan esok hari?, Kalau hiya jangan khawatir, karena dilokasi dan sekitar tempat wisata pantai parangtristis juga terdapat hotel yang bisa digunakan sebagai tempat bermalam.

Transportasi menuju pantai parangtritis Jogja

Untuk mencapai pantai parangtritis bisa dilakukan dengan mudah, Baik itu dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Hal ini tidak sulit, Karena rute jalan yang lurus dari arah utara sampai kearah tepi selatan Jogja. Selain itu, Jalan menuju tempat wisata alam pantai parangtristis juga halus dan tidak menanjak. 

Selain kondisi jalan yang mendukung, Untuk menuju pantai parangtritis Jogja kita akan dipandu dengan penunjuk arah yang jelas. Sehingga ini akan memudahkan pengunjung atau wisatawan untuk sampai ke pantai parangtritis.

Jika wisatawan menggunakan angkutan umum, Untuk mempermudah menuju pantai parangtritis sebaiknya turun terminal bis Giwangan dan dari sini wisatawan akan dengan mudah menemukan bis menuju pantai parangtritis.

Demikian artikel wisata alam pantai dari blog wisata alam di Jawa dan Jogja dengan tema pantai prangtritis Jogja. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Saudara bisa kunjungi artikel wisata Jawa dan Jogja lainnya dibawah ini;

Rabu, 05 November 2014

Taman Wisata Kaliurang Tempat Wisata di Jogja Yang Menarik

+Gambar taman wisata alam kaliurang yogyakarta Indonesia
Foto Kaliurang Jogja
Apakah Saudara pernah kekota gudeg Jogja?, Sudahkah mengunjungi taman wisata Kaliurang?, Kalau belum luangkan waktu untuk milihat objek wisata alam yang indah dan mempesona dikaliurang Yogyakarta.

Taman wisata kaliurang merupakan tempat wisata alam andalan Kabupaten Sleman yang beradan dikaki gunung merapi, Tepatnya dilereng selatan gunung Merapi. Udara ditaman wisata kaliurang sangatlah sejuk, Selain itu, Pemandangan dikaliurang sangatlah indah untuk dinikmati. Jadi sungguh disayangkan jika sudah dikota Jogja namun tidak berkunjung ketempat wisata menarik ini.

Taman wisata kaliurang merupakan salah satu tempat wisata alam dikota Jogjakarta yang mengalami perkembangan yang sangat pesat, Jika dahulu hanya wisatawan lokal yang berkunjung ketaman wisata kaliurang, Saat ini sudah tidak sedikit wisatawan dari Mancanegara datang untuk menikmati keindahan objek wisata kaliurang.

Letak Taman Wisata Kaliurang
Lokasi Taman Wisata Kaliurang terletak kaki gunung merapi dibagian utara Provinsi DIY, Dan berjarak kurang lebih 28Km dari kota Yogyakarta. Tepatnya di Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Kaliurang berada 900 meter diatas permukaan laut, Dan ini membuat Wisata kaliurang mempunyai udara yang sejuk dan segar, Suhunya berkisar 20-25 derajat celcius.

Taman Wisata Kaliurang
Taman Wisata Kaliurang merupakan tempat rekreasi keluarga yang menarik, Disini banyak terdapat mainan anak yang bisa memberikan keceriaan buah hati kita. Berbagai macam mainan anak seperti perosotan, ayunan dan bahkan terdapat kolam renang yang menarik. Di taman wisata kaliurang terapat banyak patung menarik, Salah satunya adalah patung Naga yang membentuk lorong kecil dari mulut naga sampai ekornya, Disini anak-anak bisa masuk kepatung naga dari mulut dan keluar lewat ekor naga. Dikaliurang juga terdapat taman wisata Plawangan Turgo, Dikawasan taman wisata ini terdapat kolam renang tlogo putri, Air dikolam ini berasal dari mata air dilereng bukit plawangan

Dikaliurang kiata bisa menikmati keindahan alam dengan berkeliling menggunakan kereta kelinci yang ada. Kereta kelinci atau sepor mini biasanya parkir didepan taman wisata yang berada dekat kios-kios penjual makanan. Kereta kelinci ini berjalan mengitari kawasan wisata kaliurang dari timur kearah barat melewati gardu pandang yang letaknya disebelah barat. Dan dari sini merapi akan terlihat jelas saat cuaca cerah.

Kuliner khas Taman Wisata Kaliurang
Seperti halnya tempat wisata lain, Taman wisata kaliurang juga mempunyai kuliner khas atau makanan khas yang dapat kita nikmati. Kuliner khas kaliurang adalah jadah tempe bacem. Selain jenis makanannya yang khas, Cara makananyapun juga unik, Yaitu dengan menjepit tempe diantara dua jadah.

Penginapan atau Hotel di Taman Wisata Kaliurang
Menikmati taman wisata kaliurang akan lengkap jika ditambah diwaktu malam hari, Namun untuk hal ini wisatawan perlu tempat penginapan atau hotel. Wisatawan tidak perlu khawatir, Karena ditempat wisata kaliurang banyak terdapat hotel dengan berbagai pilihan harga, Dari Rp 25.000 sampai yang mahal.

Transportasi Menuju Taman Wisata Kaliurang
Dari kota Jogjakarta yang berjarak kurang lebih 28km, Wisatawan bisa menggunakan beberapa pilihan sarana transportasi untuk sampai taman wisata Kaliurang, Yaitu dengan sarana transportasi umu dan menggunakan mobil atau motor pribadi. Jalan yang relatif bagus akan mempercepat perjalan kita.

  1. Dari Bandara : Naik Trans Jogja - Halte jalan kaliurang-Angkot jurusan kaliurang 
  2. Dari stasiun Tugu : Naik Kobutri 17 arah UGM- Bunderan UGM- Jalan menuju Perempatan Mirota ( 50m )-Bus Jurusan kaliurang
  3. Dari Terminal Giwangan Jogja : Naik trans Jogja / Atau semua bis Jurusan UGM- Turun Perempatan Mirota/Bunderan UGM-Naik angkot jurusan kaliurang
  4. Dari Terminal Jombor : Naik Trans Jogja - Perempatan Jalan Kaliurang - Naik Angkot jurusan Kaliurang.
Taman wisata kaliurang merupakan objek wisata alam yang menarik untuk dikunjungi, Selain udaran dan pemandangan alamnya, Adanya tempat bermain bagi anak merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Untuk menuju objek wisata alam kaliurang juga cenderung mudah, Baik dengan sarana transportasi umum maupun pribadi. Selain itu, Bagi yang berkeinginan untuk menikmati keindahan wisata alam kaliurang dimalam hari bisa menggunakan fasilitas penginapan atau hotel dari harga murah sampai yang lumayan mahal.

Demikian artikel wisata alam di Yogyakarta dari wisata alam di jawa dan Jogja dengan tema taman wisata kaliurang di Jogja yang menarik. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Saudara bisa kunjungi artikel manarik lainnya dibawah ini;

Selasa, 21 Oktober 2014

Candi Abang - The Imaginative Temple

Di daerah Yogyakarta dan sekitaran Jawa Tengah banyak ditemukan bangunan-bangunan candi yang hingga kini masih bisa nikmati keberadaannya. Peradaban Hindu-Budha mulai dari Dinasti Sanjaya hingga Dinasti Syailendra tumbuh subur di kawasan ini, maka tak heran jika beberapa peninggalan mereka masih bisa kita nikmati hingga sekarang. Hari Sabtu kemarin (18/10) saya diajak oleh kawan untuk jalan-jalan menuju kawasan Candi Abang. Bagi saya, candi ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan candi-candi kecil lain yang pernah saya kunjungi sebelumnya.


Matahari pagi ini cukup terik, laju motor pun saya arahkan menuju kawasan Berbah yang tak jauh dari daerah Prambanan. Udara panas dan berdebu khas musim kemarau menyambut perjalanan kami pagi ini sepanjang menyusuri kawasan Berbah. Beberapa pepohonan nampak meranggas, namun terlihat kontras dengan tanaman palawija nampak cukup subur tumbuh di ladang-ladang yang dikelola oleh penduduk sekitar. Tibalah kami di sebuah bukit, dengan jalan aspal baru berkontur menanjak menuju sebuah perkampungan yang tak jauh dari lokasi di mana Candi Abang berada. Kami pun berhenti di salah satu rumah penduduk, kemudian meminta izin untuk menitipkan motor kami.


Dari perkampungan sekitar, kami lanjutkan perjalanan menuju Candi Abang dengan berjalan kaki. Nampak hutan jati yang meranggas diterjang panasnya musim kemarau setia menemani sepanjang perjalanan menuju lokasi. Bukit kecil pun harus kami daki sebelum tiba di mana Candi Abang berada. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, candi ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan candi-candi kecil yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Anda tidak akan menemukan bangunan candi yang sepenuhnya utuh, yang terbuat dari bongkahan material batu andesit sebagaimana ciri khas bangunan candi yang tersebar di Yogyakarta dan sekitaran Jawa Tengah, malainkan sebuah gundukan tanah yang menjulang membentuk sebuah bukit. Jika diperhatikan dengan seksama, maka Anda akan menemukan banyak potongan batu bata merah yang sebagian terkubur di dalam tanah,  sebagian lagi tampak berserakan di sekitaran bukit tersebut. 

Candi Abang berlokasi di atas perbukitan. Pembangunan candi yang berada di atas bukit memang memiliki sebuah alasan. Orang-orang jaman dahulu menganggap bahwa tempat yang tinggi, dalam hal ini adalah perbukitan, dipercaya sebagai tempat bersemayamnya dewa-dei yang mereka puja dalam ajaran mereka. Maka dari itulah dibangun sebuah candi yang berguna sebagai tempat pemujaan, salah satunya adalah untuk memohon kesuburan. Bukit di Candi Abang tersebut akan nampak gersang, tertutup oleh rerumputan yang tampak menguning di musim kemarau. Pun jika musim penghujan, bukit tersebut akan nampak terlihat kehijauan ditutupi oleh rerumputan. Ada yang bilang, jika Candi Abang disandingkan bak Bukit Teletubies-nya Jogja. Candi Abang yang tertutup oleh gundukan tanah mau tak mau membuat kita penasaran, bagaimana rupa asli dari bangunan candi ini. Imajinasi kita seakan diajak menerka-nerka, membayangkan bagaimana rupa sang Candi Abang di masa lampau sebelum tertimbun oleh material tanah hasil letusan gunung berapi pada masa silam.

Batu Bata Merah
Boleh dikata, Candi Abang memang cukup nyeleneh jika dibandingkan dengan bangunan candi lainnya. Konstruksi bangunannya menggunakan batu bata merah, berbeda dengan bangunan candi pada umumnya di sekitaran Jawa Tengah yang menggunakan batu andesit sebagai bahan bangunannya. Bangunan candi dengan konstruksi batu bata merah mengingatkan kita dengan bangunan-bangunan candi yang tersebar di daerah Jawa Timur yang dibangun pada masa kekuasaan Kerajaan Majapahit. Jika dirunut lagi, keberadaan bangunan candi yang ada di sekitaran Jawa Tengah rata-rata dibangun pada masa kerajaan Mataram Kuno yang memiliki usia jauh lebih tua jika dibandingkan dengan Kerajaan Majapahit bukan? Tapi mengapa, bangunan Candi Abang ini menggunakan batu bata merah sebagai bahan utama pembuatan candi? 

Setiap lokasi memiliki cerita tersendiri, begitu juga dengan Candi Abang ini. Konon katanya di Candi Abang ini tersimpan harta karun, sehingga menarik beberapa pihak yang tidak bertanggung jawanb untuk menggali gundukan bukit di Candi Abang ini guna menemukan harta karun tersebut. Ada pula cerita mistik tentang orang-orang yang mengadakan ritual untuk mencari pesugihan, atau kepercayaan warga sekitar kenapa di atas gundukan bukit tersebut tidak ditumbuhi pohon besar melainkan hanya rerumputan.


Kondisi Candi Abang Kini
Walaupun infrastruktur jalan menuju Candi Abang sudah dibilang cukup memadai, namun ada beberapa hal yang sedikit membuat miris saya ketika mengunjungi candi ini. Candi ini terkesan kurang mendapatkan perhatian dari pihak-pihak terkait. Papan informasi pun masih terlihat kosong, sehingga pengunjung yang datang tidak bisa mendapatkan informasi tertulis terkait dengan keberadaan Candi Abang ini, seperti sejarah dan tahun penemuan candi misalnya. Perbukitan di sekitar Candi Abang pun juga sebagian "dialih fungsikan" sebagai track offroad sepeda. Namun, ada pula beberapa motor yang juga "mencoba" melewati jalur track ini. Di sisi lain memang keberadaan track offroad sepeda (yang kadang digunakan juga oleh motor untuk mencoba jalur offroad) ini bisa meramaikan lokasi Candi Abang, namun semoga saja keberadaan mereka tidak merusak sebagian kawasan peninggalan cagar budaya.


Pemandangan Cantik dari Atas Bukit
Jika kita menaiki puncak bukit di Candi Abang, maka perhatikanlah kondisi lingkungan sekitar. Kitaakan menemukan pemandangan yang cukup kontras antara bukit di Candi Abang dengan kondisi yang ada di sekitar. Bukit di Candi Abang akan terasa cukup kering dan gersang, berdeda dengan kondisi yang ada di bawah bukit yang terlihat menghijau oleh tanaman padi dan palawija yang tumbuh subur di sana. Kawasan di sekitar Berbah memang dijuluki sebagai salah satu lumbung padi di kawasan Sleman. Maka tak heran jika persawahan di sekitar kawasan ini tumbuh dengan subur. 

Bangunan candi yang dibangun di tempat yang gersang juga biasanya menandakan jika candi tersebut merupakan candi untuk pemujaan Dewa Siwa. Candi Siwa biasanya memiliki ciri khas adanya bangunan candi yang memiliki lingga dan yoni. Di kawasan Candi Abang memang belum ditemukan bangunan lingga dan yoni tersebut. Namun, menurut penuturan teman saya yang mengajar sejarah, ciri khas lain dari Candi Siwa biasanya dibangun di tempat gersang berfungsi sebagai tempat memuja Dewa Siwa guna memohon kesuburan di daerah sekitarnya. Entahlah, saya juga masih belum mencari literatur lebih mendalam lagi mengenai candi-candi mengenai corak Hindu maupun Budha, semoga opini di dalam tulisan saya tentang Candi Abang ini tidak menyesatkan, huehehehe !


Oh iya, di sekitar Candi Abang ini juga ada sebuah pohon duwet yang cukup langka sekarang keberadaannya. Pada jaman saya masih kecil, saya sering menjumpai buah ini tumbuh subur di beberapa tempat. Tapi sekarang rasanya saya sudah jarang sekali menemukan buah ini. Buah duwet memiliki bentuk lonjong bulat dengan warna kehitaman. Rasanya sepat-sepat manis. Awalnya saya cukup heran ketika melihat beberapa remaja lokal yang betah lama-lama memanjat pohon. Setelah saya dekati, ternyata mereka sedang mencari buah duwet ini !

Terlepas dari cerita yang ada serta teka-teki tentang candi ini, bangunan Candi Abang memang mengajak kita untuk berimajinasi membayangkan bagaimana bentuk sesungguhnya bangunan candi ini. Bahan materialnya yang terbuat dari batu bata merah yang dirasa cukup nyeleneh dibandingkan dengan bangunan candi yang ada di sekitaran Jawa Tengah semakin membuat penasaran rasa ingin tahu serta imajinasi tentang keberadaan Candi Abang ini.

Kamis, 21 Agustus 2014

Embung Nglanggeran - Wisata Telaga di Puncak Bukit

Satu lagi lokasi wisata di Jogja yang cukup diminati pengunjung berkat publikasi yang cukup massive di sosial media. Postingan foto-foto keindahan telaga buatan ini cukup sering berlalu-lalang di timeline sekitar awal tahun 2013. Telaga unik yang berada di atas bukit dengan pemandangan cantik, seolah menggoda siapapun untuk berkunjung menikmati suasana alam yang ditawarkan. Embung Nglanggeran, salah satu wisata alam yang menyuguhkan telaga buatan di atas perbukitan dengan pemandangan alam yang menenangkan.


Embung buatan ini berlokasi tak jauh dari Gunung Api Purba Nglanggeran yang terkenal dengan ekowisata geoparknya. Pembangunan telaga buatan ini memang bertujuan untuk menampung air, baik yang berasal dari air hujan maupun sumber mata air dari Gunung Nglanggeran. Tampungan air di dalam embung tersebut akan digunakan untuk mengairi lahan di sekitar telaga yang rencananya akan digunakan sebagai kebun buah. Hingga sekarang pun pembangunan kebun buah Nglanggeran ini masih terus digarap. Semoga saja beberapa tahun ke depan, pemandangan perbukitan yang sedikit gersang akan segera menghijau dengan adanya pepohonan yang tumbuh rimbun, ditambah dengan atraksi wisata petik buah yang akan semakin menarik minat wisatawan berkunjung kemari.



Embung Nglanggeran memang memiliki luas yang tidak seberapa, pun demikian pengunjung juga tidak diperkenankan bermain-main air di sekitar telaga. Bagaimana mau main air, kalau di bagian pinggir telaga saja diberi pagar pembatas demi keamanan pengunjung. Namun, jangan khawatir, karena suguhan utama dari Embung Nglanggeran ini adalah pemandangan alamnya yang memanjakan mata. Kita dapat melihat hamparan perbukitan di sisi selatan, pemandangan Gunung Api Purba Nglanggeran di sebelah utara, serta pemandangan hamparan persawahan dengan kontur terasiring dari atas perbukitan. Di dekat telaga juga dibangun beberapa gazebo untuk tempat beristirahat sambil menikmati pemandangan alam yang terhampar.


Perjalanan menuju Embung Nglanggeran sendiri tak kalah menarik. Aspal halus akan kita lalui sampai area Gunung Api Purba Nglanggeran. Selebihnya, medan jalan yang aduhai akan menantang nyali kita untuk mengendarai kendaraan menuju lokasi Embung Nglanggeran ini. Saya masuk melewati pintu gerbang Kebun Buah Nglanggeran yang lokasinya tidak jauh dari posko Gunung Api Purba. Setelah membayar retribusi, jalanan berbatu yang cukup sempit dengan medan menanjak pun seolah menyambut kedatangan kami. Di beberapa tanjakan pun kami harus memaksa motor untuk terus melaju, walau dia sudah mengerang menahan beban. Agak kaget juga setelah sampai di parkiran, usai melewati jalanan yang jahanam , karena ternyata ada alternatif jalan lain dengan medan yang tidak terlalu menanjak serta jalan yang lebih halus daripada jalur yang kami lalui.


Embung Nglanggeran memiliki potensi wisata yang cukup menarik. Selain keunikan telaga yang berlokasi di atas bukit, Embung Nglanggeran juga dikelilingi dengan pemandangan alam yang cantik. Suasana senja di Embung Nglanggeran pun uga tak kalah ciamik. Sayang, saya belum sempat menikmati senja di sana. Mungkin suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke Embung Nglanggeran untuk berburu senja ! Mungkin, entah kapan !


keterangan :
tiket masuk Embung Nglanggeran : Rp 3.000,00 per-orang
parkir motor : Rp 2.000,00 per-motor
cara menuju lokasi : dari arah Jogja silahkan arahkan kendaraan menuju Jalan Wonosari hingga Bukit Patuk. Setelah melewati Bukit Patuk silahkan belok ke kiri mengikuti jalan aspal di samping stasiun Radio GCD FM. Ikuti saja jalan aspal tersebut hingga ke arah Gunung Api Purba Nglanggeran. Lokasi embung ini tidak jauh dari posko Gunung Api Purba Nglanggeran. Jika bingung, silahkan bertanya kepada penduduk sekitar

Selasa, 05 Agustus 2014

Gudeg Pawon - Sensasi Antri Menikmati Gudeg Langsung dari Dapur

Ada dua motif yang melatarbelakangi orang mampir ke warung makan untuk menikmati kuliner malam. Ada yang mampir karena perut mereka keroncongan dan meminta kembali jatah makan walaupun sudah melahap makan malam. Namun lebih banyak orang yang menikmati sajian kuliner yang buka mendekati tengah malam karena motif penasaran dengan cita rasa masakan yang disajikan.


Jalanan mulai terasa lengang ketika laju motor melintasi ruas Jalan Kusumanegara, namun suasana berubah seketika ketika mulai memasuki sebuah gang di Jalan Janturan, sebuah kehebohan pun mulai terasa. Dari kejauhan tampak deretan motor yang parkir berjajar di pinggir jalan, belum lagi antrian mobil yang terlihat kebingungan mencari lokasi parkir di antara ruas bahu jalan yang luasnya tak seberapa. Terlihat sebuah papan kecil bertuliskan "Gudeg Pawon, Selera Nusantara Buka Jam 22.00 WIB" sebagai penanda warung gudeg legendaris ini. Aktivitas peracik minuman dengan sigap melayani pesanan pelanggan pun terlihat di bagian depan rumah. Nah untuk menikmati sajian gudeg, kita harus antri untuk menuju pawon atau dapur yang terletak di belakang rumah.



Kehebohan antrian pembeli malam itu pun cukup terasa. Antrian pun tak hanya memenuhi bagian halaman samping rumah untuk menuju bagian dapur, melainkan mengular hingga bagian jalan. Pembeli Gudeg Pawon pun tak hanya berasal dari sekitaran Jogja saja, melainkan banyak pula yang datang dari luar Kota Jogja. Bahkan ada seorang pembeli yang berasal dari Kota Bandung dan rela datang menunggu dari pukul sembilan malam untuk mengobati rasa penasaran akan cita rasa Gudeg Pawon ini.


Aroma nasi hangat yang khas pun menyambut ketika memasuki bagian pawon atau dapur. Di bagian pawon ini pula kita akan melihat pemandangan tungku kayu yang digunakan untuk memasak gudeg dan lauk-pauknya. Tak heran jika bagian dinding pawon nampak terlihat hitam terkena kepulan asap dari kayu bakar yang digunakan untuk menyajikan masakan. Seorang laki-laki setengah baya akan menyiapkan nasi hangat dengan porsi sedang ke dalam piring, kemudian diberi gudeg, sambal goreng krecek dan lauk seperti telur dan daging ayam. Sayang, malam itu saya tidak kebagian daging ayam karena sudah habis diserbu pembeli yang sudah antri sebelum saya. Usai mendapatkan sajian gudeg pun saya mencari tempat untuk bersantap. Anda bisa memilih bersantap dengan duduk lesehan di teras rumah, di depan pawon, atau menikmatinya langsung di dalam dapur.


Gudeg Pawon memiliki cita rasa yang cukup gurih, tidak terlalu manis seperti kebanyakan gudeg yang di jual di Jogja. Gudeg yang disajikan pun termasuk gudeg basah walaupun tidak memiliki banyak kuah. Sambel goreng kreceknya pun juga pas di lidah, terasa gurih dan tidak terlalu pedas. Untuk menambah sensasi pedas, sang penjual sengaja menambahkan beberapa buah cabe rawit utuh sehingga pembeli dapat mengira-ira sendiri tingkat kepedasan yang diinginkan.

Satu porsi gudeg dengan lauk telur dihargai Rp 9.000,00 (data bulan Mei 2014). Harga yang cukup bersahabat menurut saya. Penasaran ingin mencoba? Datanglah lebih awal dan jangan lewat tengah malam jika Anda tidak ingin kehabisan karena sudah diserbu oleh pembeli yang datang !

keterangan :
Alamat Gudeg Pawon : Jalan Janturan No 36, Warungboto, Yogyakarta
dari arah KM 0 Yogyakarta (perempatan BNI 46) silahkan arahkan kendaraan ke kiri (arah timur) menuju Jalan Kusumanegara sampai di pertigaan lampu merah arah ke Glagahsari (kampus UTY). Dari lampu merah tersebut silahkan lurus ke timur sampai menemukan supermarket Pamela di kiri jalan. Nah di seberang jalan Pamela tersebut terdapat gang, silahkan masuk ke gang tersebut (belok ke kanan). Silahkan lurus masuk ke gang tersebut untuk menuju warung Gudeg Pawon.

Senin, 14 Juli 2014

Kareta Karaton Ngayogyakarta

Museum Kareta Karaton Ngayogyakarta

Kereta Kyai Jolo Doro


Kereta Kyai Roto Biru


Kereta Kyai Rejo Pawoko


Kereta Landower


Kereta Premili


Kereta Kus No:10


Kereta Kapulitin

Kereta Kyai Kutha Kaharjo


Kereta Kus Gading



Kereta Kyai Puspoko Manik



Kereta Kyai Mondro Juwolo



Kereta Kanjeng Nyai Jimad



Kereta Kyai Manik Retno


Kereta Kyai Garudo Yeksa




Kereta Kyai Wimono Putro




Kereta Kyai Harsunaba


Kereta Kyai Jetayu



Senin, 28 April 2014

Pantai Pandansari - Cerita Tentang Mercusuar dan Agrowisata Buah Naga

Suatu siang dengan sinar matahari yang cukup terik menyengat kulit. Laju kendaraan saya arahkan menuju daerah pesisir Bantul untuk sekedar menikmati ombak pantai agar bisa sedikit terhibur. Seusai membayar uang retribusi, motor pun melaju menuju Pantai Pandansari yang nampak begitu sepi. Seperti kebanyakan pantai di pesisir Bantul, Pantai Pandansari memang kurang begitu memiliki pemandangan yang menarik. Pantai pasir berwarna cokelat kehitaman dengan ombak pantai yang terlihat tidak begitu jernih. Hanya nampak pepohonan pandan laut dan cemara laut yang tumbuh subur di tepi pantai yang memberi suasana hijau di sekitarnya.

Pesona Pantai Pandansari bukan terletak pada hamparan pasir pantainya. Keunikan pantai ini adalah adanya menara suar atau mercusuar setinggi sekitar 40 meter serta lahan pertanian pesisir dengan komoditi utama buah naga yang tumbuh subur. Banyak wisatawan yang datang ke Pantai Pandansari ini untuk sekedar menikmati pemandangan pantai dari atas ketinggian menara suar. Bangunan menara suar ini berada di satu kompleks rumah dinas yang tidak jauh dari pantai. Untuk masuk ke dalam bangunan menara suar silahkan meminta izin kepada penjaga kompleks rumah dinas tersebut. Cukup membayar uang suka rela untuk kebersihan, sang penjaga akan mempersilahkan kita masuk dan naik ke bangunan mercusuar tersebut.




Sayang, siang itu saya dan kawan saya tidak sanggup menapaki tangga demi tangga hingga sampai atas bangunan mercusuar. Kami hanya mampu menaiki beberapa anak tangga saja dan memutuskan untuk berhenti sejenak melihat pemandangan dari balik bilik mercusuar. Mungkin semesta belum berpihak kepada kami. Awan kelabu terlihat terlalu pekat menutupi pemandangan di sekitar pesisir Pantai Pandansari. Andai saja sang awan bisa lebih bersahabat, mungkin kami bisa melihat kencantikan hamparan perkebunan milik penduduk yang nampak subur di sekitar pantai tersebut.


Agrowisata Buah Naga
Keunikan Pantai Pandansari bukan terletak pada pemandangan hamparan pasir dan ombaknya, melainkan hamparan lahan pertanian yang tumbuh subur di kawasan pesisir pantai tersebut. Salah satu komoditi pertanian andalannya adalah buah naga merah. Anda pun dapat berwisata pantai sekaligus agrowisata di Pantai Pandansari ini. Di sekitar pantai ini banyak terdapat perkebunan buah naga yang tumbuh cukup subur.


Anda pun dapat berkeliling di kbun buah naga ini sambil memetik buah tersebut untuk dijadikan oleh-oleh. Buah naga di perkebunan ini dihargai Rp 20.000,00 per-kilonya untuk buah dengan kualitas super. Buah yang memiliki rasa yang manis ini memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan tubuh, antara lain untuk menurunkan kadar gula dalam darah, menjaga kesehatan kulit, memperlancar pencernakan dan sebagainya. Buah berwarna merah ini pun sangat segar disantap di kala siang sambil menikmati deburan ombak ombak serta pasir pantai selatan yang terhampar. Tertarik menikmati keindahan pemandangan dari mercusuar sambil menikmati wisata petik buah naga ini? Silahkan mampir ke Pantai Pandansari ini.


keterangan :
Masih minim kendaraan umum untuk menuju Pantai Pandansari ini. Anda dapat menuju pantai ini dengan menggunakan kendaraan pribadi. Dari arah Kota Yogyakarta ambil saja jalur ke selatan menuju Jalan Bantul arah ke Pantai Samas. Setelah sampai di pertigaan sebelum Pantai Samas, silahkan ambil jalan ke kanan dan ikuti petunjuk arah. Petunjuk arah menuju Pantai Pandansari dan sekitarnya cukup mudah didapat di sepanjang jalan. Selain Pantai Pandansari, Anda pun dapat melanjutkan perjalanan menuju Pantai Goa Cemara, Pantai Pandansimo, Pantai Kwaru dan sebagainya.

Biaya retribusi masuk pantai adalah Rp 3.000,00 per-orang belum termasuk retribusi untuk kendaraan.
Biaya parkir motor di sekitar pantai adalah Rp 2.000,00 per-motor

Selasa, 14 Januari 2014

Bakmi Jawa Bu Gito - Cozy and Yummy !

Jujur saya paling anti untuk beli bakmi Jawa kalau tidak kepepet. Bukannya tidak doyan dengan olahannya, namun saya tidak cukup sabar untuk mengantri sekedar menikmati sepiring mie kuah nyemek hangat dengan bumbu-bumbu yang memikat. Bayangkan, untuk sekedar menikmati sepiring bakmie saja harus rela antri minimal dua jam, bahkan untuk beberapa tempat bisa lebih lama dari itu. Bisa-bisa saya keburu ngamuk duluan sebelum hidangan disajikan !


Berbekal hasutan dari seorang teman akhirnya saya pun menuntaskan rasa penasaran saya dengan warung Bakmi Jawa Bu Gito di kawasan Rejowinangun. Saya hanya penasaran dengan tata ruang yang dimiliki oleh warung ini yang terlihat unik saat masuk ke liputan sebuah acara kuliner di stasiun televisi swasta. Kalau boleh saya bilang sih warungnya nyempil, dari luar keliatan sempit, tapi pas masuk ke dalam ternyata ruangannya cukup luas.



Well, saya harus akui jika warung bakmi Jawa Bu Gito ini memang memiliki keunikan tersendiri. Lihat saja bagian meja dan kursi yang terbuat dari batang kayu dan akar pepohonan yang dibuat asimetris namun memiliki rasa seni yang kental. Belum lagi ornamen-ornamen yang bergelantungan di bagian dinding ruangan. Ada foto-foto orang terkenal yang pernah berkunjung hingga alat-alat pertanian yang masih sangat tradisional. Belum lagi lampu gantung kuno yang menghadirkan suasana khas Jawa yang kental. Warung makan ini memang berkarakter dan cozy for hangout, apalagi untuk kumpul bersama keluarga. Maka tak heran jika rata-rata pengunjung di sini adalah para keluarga.

Menyantap bakmie Jawa memang dibutuhkan kesabaran ekstra. Sudah bukan rahasia umum lagi jika memasak bakmi Jawa biasanya dilakukan per-porsi, menggunakan anglo sebagai kompor. Bisa Anda bayangkan jika memanaskan arang untuk menjadi bara api itu cukup membutuhkan waktu, belum lagi ada beberapa tempat yang meracik bakmi Jawa itu satu per satu. Sudah dapat dipastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyajikan racikan bakmi Jawa tersebut.


Tak terasa sudah dua jam lebih saya setia menanti bakmi Jawa godhog pesanan saya. Tak lama kemudian sang waiters pun mengantarkan pesanan saya. Waiters di sini unik, karena semuanya berpakaian lurik sehingga menampilkan suasana Jogja yang sangat kuat. Bakmie godhog yang disajikan pun masih mengepul mengeluarkan asap, fresh from panci ! Aromanya sungguh menggoda. Campuran bakmie kuning dan bihun dimasak dengan bumbu-bumbu khusus, diberi sayuran, suwiran ayam kampung dan juga telur bebek. Keunikan warung ini juga pada penggunaan telur bebek pilihan untuk menyajikan hidangan. Sebagai penambah selera, sajian ditaburi dengan bawang goreng serta potongan daun seledri. Rasa kuahnya gurih, tidak asin, dan tidak terlalu pedas. Sangat cocok disantap ketika malam untuk menghangatkan badan.


Untuk minuman, saya menjatuhkan pilihan pada teh poci. Teh ini disajikan pada sebuah teko yang terbuat dari tanah liat. Kita tinggal menyedunya dengan gula batu yang sudah diletakkan ke dalam gelas. Rasanya segar, sepat-sepat khas dari racikan daun teh. Seporsi bakmi Jawa biasa dihargai Rp 15.000,00 dan untuk bakmi Jawa spesial dihargai Rp 20.000,00. Harga yang cukup sepadan untuk rasa dan suasana yang disajikan.

Warung Bakmi Jawa Bu Gito ini terletak di Jalan Nyi Ageng Nis no. 9, Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta. Lokasinya agak tersembunyi di tengah-tengah perkampungan. Sekedar ancer-ancer saja sih, dari arah Jogja ambil saja jalur menuju Kebun Binatang Gembiraloka. Lalu belok di pertigaan samping kebun binatang, lurus ambil arah ke selatan. Lurus terus hingga bertemu masjid, lalu belok ke kiri. Dari arah tersebut lurus sedikit hingga bertemu pertigaan kecil di kanan jalan. Ambil arah ke kanan, lurus masuk perkampungan, sampai menemukan perempatan pertama. Dari perempatan tersebut belok ke kanan (arah barat) lurus terus hingga mentok. Lokasi warung Bu Gito dekat dengan lokasi tersebut. Jika bingung tinggal tanya saja :)

Keterangan :
Bakmi Jawa Bu Gito
Jalan Nyi Ageng Nis No 9 Rejowinangun, Kotagede Yogyakarta
warung ini mulai buka dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 23.00 malam
untuk pagi hari menu yang biasa disajikan adalah gado-gado, lotek, dan kupat tahu.

NB : ternyata mulai dari pagi hari pun warung ini sudah melayani pembeli yang memesan bakmie Jawa, jai bagi Anda yang sedang ngidam bakmie Jawa, tak perlu menunggu datangnya malam karena baik pagi maupun siang Anda dapat membelinya di warung ini

Rabu, 08 Januari 2014

Jadah Manten - Panganan "Perekat" Pasangan

Pasar tradisional bagi saya merupakan salah satu surganya menemukan kuliner-kuliner tradisional yang tak pernah lekang oleh zaman. Salah satunya adalah pasar tradisional yang berada di kawasan Kotagede, Yogyakarta. Di pasar tradisional ini kita dapat menemui beberapa jajanan tradisional khas yang mungkin saja sudah jarang kita temukan.


Adalah jadah manten, sebuah jajanan khas daerah Jogja yang mungkin saya keberadaannya asing bagi telinga Anda. Makanan berbahan dasar beras ketan ini sekilas memiliki komposisi yang mirip seperti lemper, hanya saja bentuk penyajiannya dibuat berbeda. Jadah manten memiliki komposisi bahan seperti beras ketan, santan, daging ayam/sapi sebagai isian. Setelah beras ketan dan santan dikukus hingga matang, adonan kemudian diberi isian cacahan daging ayam atau daging sapi yang sudah diberi bumbu-bumbu kemudian dibungkus dengan kulit dadar. Setelah itu kemudian adonan dilipat dilipat dan dijepit dengan tangkai bambu. Pada ujung tangkai bambu tersebut disematkan potongan kacang panjang atau buncis yang berfungsi sebagai pengunci jepitan. Langkah terakhir adalah membakar jadah manten yang sudah dijepit dengan tangkai bambu tersebut di atas bara arang hingga mengeluarkan aroma yang khas.


Jadah manten memiliki rasa yang gurih, perpaduan antara campuran santan serta isian daging di dalamnya. Panganan ini dahulu merupakan cemilan kegemaran Sultan Hamengkubuwono VII. Dalam perkembangannya, tak hanya kalangan yang tinggal di dalam kraton saja yang dapat menikmati makanan bercita rasa gurih ini, masyarakat luas yang berada di luar kraton pun akhirnya dapat menikmatinya pula. Jadah manten biasanya disajikan ketika ada acara pernikahan. Makanan ini biasanya dibawa oleh pihak pengantin laki-laki saat bertemu dengan mempelai perempuan. Jadah manten sendiri memiliki makna agar kedua mempelai yang melangsungkan pernikahan dapat awet dan senantiasa tetap lengket, seperti sifat dan tekstur dari olahan jadah tersebut.


Bagi yang penasaran dengan rasa dari olahan jadah manten ini, tak perlu harus menunggu ada acara pernikahan karena Anda dapat menemukan jajanan tradisional ini di Pasar Kotagede, khususnya di lapak pedagang yang menjual aneka jajanan pasar. Harganya cukup murah kok, satu buah jadah manten dihargai sekitar Rp 1.500,00 saja :)