Goa Pindul terletak di Wonosari , GunungKidul yogyakarta kali ini kita akan menyusuri sungai menggunakan perahu karet merupakan hal yang biasa, namun jika sungai itu mengalir di dalam gua tentu saja akan menjadi petualangan yang mengasyikkan sekaligus menegangkan. Gua Pindul, salah satu gua yang merupakan rangkaian dari 7 gua dengan aliran sungai bawah tanah yang ada di Desa Bejiharjo, Karangmojo, menawarkan sensasi petualangan tersebut. Selama kurang lebih 45 - 60 menit wisatawan akan diajak menyusuri sungai di gelapnya perut bumi sepanjang 300 m menggunakan ban pelampung. Petualangan yang memadukan aktivitas body rafting dan caving ini dikenal dengan istilah cave tubing.Tidak diperlukan persiapan khusus untuk melakukan cave tubing di Gua Pindul. Peralatan yang dibutuhkan hanyalah ban pelampung, life vest, serta head lamp yang semuanya sudah disediakan oleh pengelola . Waktu terbaik untuk cave tubing di Gua Pindul adalah pagi hari sekitar pukul 09.00 atau 10.00 WIB. Selain karena airnya tidak terlalu dingin, jika cuaca sedang cerah pada jam-jam tersebut akan muncul cahaya surga yang berasal dari sinar matahari yang menerobos masuk melewati celah besar di atap gua.Di gua ini terdapat beberapa ornamen cantik seperti batu kristal, moonmilk, serta stalaktit dan stalagmit yang indah. Sebuah pilar raksasa yang terbentuk dari proses pertemuan stalaktit dan stalagmit yang usianya mencapai ribuan tahun menghadang di depan. Di beberapa bagian atap gua juga terdapat lukisan alami yang diciptakan oleh kelelawar penghuni gua. Di tengah gua terdapat satu tempat yang menyerupai kolam besar dan biasanya dijadikan tempat beristirahat sejenak sehingga wisatawan dapat berenang atau terjun dari ketinggian.
Tampilkan postingan dengan label gunung kidul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gunung kidul. Tampilkan semua postingan
Senin, 19 Oktober 2015
Indahnya Bawah Air Pantai Nglambor
Gunungkidul juga punya spot snorkeling, salah satunya di Pantai Nglambor. Ombaknya masih cukup tenang untuk traveler yang ingin menjajal snorkeling. Pantai ini pun tampaknya masih sepi sehingga snorkeling bisa lebih bebas!
Pesisir Selatan DI Yogyakarta yang terkenal dengan ombak cukup tinggi dan besar ini ternyata punya sebuah pantai dengan arus yang tenang, yaitu Pantai Nglambor. Cocok untuk traveler yang ingin berenang sekaligus snorkeling.
Berbentuk teluk yang kecil diapit oleh tebing-tebing menjulang tinggi, Pantai Nglambor masih sangat tersembunyi. Pantai ini pun masih jarang dikunjungi oleh wisatawan luar, sehingga ketika kemari serasa seperti pantai pribadi.
Pantai Nglambor terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Gunungkidul, DI Yogyakarta. Berjarak sekitar 70 km dari Kota Yogyakarta. Tidak terlalu susah untuk menjangkau lokasi pantai ini, Anda hanya perlu mengikuti jalur menuju Pantai Siung.
Lalu setelah pos masuk Siung pengunjung akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp 5.000 per orang. Anda akan bertemu pertigaan, belok ke kanan mengikuti pertigaan dengan jalur makadam. Pantai Nglambor ada di ujung jalan tersebut.
Untuk mencapai bibir pantai, Anda harus berjalan kaki di jalanan berbatu, mendaki bukit atau naik ojek motor Rp 5.000. Kendaraan roda empat hanya dapat diparkir di pos awal Pantai Nglambor karena akses untuk mencapai pantai belum diperbaiki.
Anda tidak perlu repot-repot membawa bekal atau peralatan snorkeling. Di dalam area pantai tersedia warung makan yang dikelola oleh penduduk sekitar dan ada tempat penyewaan alat snorkeling. Untuk penyewaan alat snorkeling Anda harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 50.000 per jam.
Jika pantai dalam keadaan surut, Anda bisa berjalan kearah tebing dan karang-karang besar. Namun jika air sedang pasang harus lebih hati-hati karena ombak di Pantai Nglambor memang cukup besar.
Kamis, 21 Agustus 2014
Embung Nglanggeran - Wisata Telaga di Puncak Bukit
Satu lagi lokasi wisata di Jogja yang cukup diminati pengunjung berkat publikasi yang cukup massive di sosial media. Postingan foto-foto keindahan telaga buatan ini cukup sering berlalu-lalang di timeline sekitar awal tahun 2013. Telaga unik yang berada di atas bukit dengan pemandangan cantik, seolah menggoda siapapun untuk berkunjung menikmati suasana alam yang ditawarkan. Embung Nglanggeran, salah satu wisata alam yang menyuguhkan telaga buatan di atas perbukitan dengan pemandangan alam yang menenangkan.
Embung buatan ini berlokasi tak jauh dari Gunung Api Purba Nglanggeran yang terkenal dengan ekowisata geoparknya. Pembangunan telaga buatan ini memang bertujuan untuk menampung air, baik yang berasal dari air hujan maupun sumber mata air dari Gunung Nglanggeran. Tampungan air di dalam embung tersebut akan digunakan untuk mengairi lahan di sekitar telaga yang rencananya akan digunakan sebagai kebun buah. Hingga sekarang pun pembangunan kebun buah Nglanggeran ini masih terus digarap. Semoga saja beberapa tahun ke depan, pemandangan perbukitan yang sedikit gersang akan segera menghijau dengan adanya pepohonan yang tumbuh rimbun, ditambah dengan atraksi wisata petik buah yang akan semakin menarik minat wisatawan berkunjung kemari.
Embung Nglanggeran memang memiliki luas yang tidak seberapa, pun demikian pengunjung juga tidak diperkenankan bermain-main air di sekitar telaga. Bagaimana mau main air, kalau di bagian pinggir telaga saja diberi pagar pembatas demi keamanan pengunjung. Namun, jangan khawatir, karena suguhan utama dari Embung Nglanggeran ini adalah pemandangan alamnya yang memanjakan mata. Kita dapat melihat hamparan perbukitan di sisi selatan, pemandangan Gunung Api Purba Nglanggeran di sebelah utara, serta pemandangan hamparan persawahan dengan kontur terasiring dari atas perbukitan. Di dekat telaga juga dibangun beberapa gazebo untuk tempat beristirahat sambil menikmati pemandangan alam yang terhampar.
Perjalanan menuju Embung Nglanggeran sendiri tak kalah menarik. Aspal halus akan kita lalui sampai area Gunung Api Purba Nglanggeran. Selebihnya, medan jalan yang aduhai akan menantang nyali kita untuk mengendarai kendaraan menuju lokasi Embung Nglanggeran ini. Saya masuk melewati pintu gerbang Kebun Buah Nglanggeran yang lokasinya tidak jauh dari posko Gunung Api Purba. Setelah membayar retribusi, jalanan berbatu yang cukup sempit dengan medan menanjak pun seolah menyambut kedatangan kami. Di beberapa tanjakan pun kami harus memaksa motor untuk terus melaju, walau dia sudah mengerang menahan beban. Agak kaget juga setelah sampai di parkiran, usai melewati jalanan yangjahanam , karena ternyata ada alternatif jalan lain dengan medan yang tidak terlalu menanjak serta jalan yang lebih halus daripada jalur yang kami lalui.
Embung Nglanggeran memiliki potensi wisata yang cukup menarik. Selain keunikan telaga yang berlokasi di atas bukit, Embung Nglanggeran juga dikelilingi dengan pemandangan alam yang cantik. Suasana senja di Embung Nglanggeran pun uga tak kalah ciamik. Sayang, saya belum sempat menikmati senja di sana. Mungkin suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke Embung Nglanggeran untuk berburu senja ! Mungkin, entah kapan !
keterangan :
tiket masuk Embung Nglanggeran : Rp 3.000,00 per-orang
parkir motor : Rp 2.000,00 per-motor
cara menuju lokasi : dari arah Jogja silahkan arahkan kendaraan menuju Jalan Wonosari hingga Bukit Patuk. Setelah melewati Bukit Patuk silahkan belok ke kiri mengikuti jalan aspal di samping stasiun Radio GCD FM. Ikuti saja jalan aspal tersebut hingga ke arah Gunung Api Purba Nglanggeran. Lokasi embung ini tidak jauh dari posko Gunung Api Purba Nglanggeran. Jika bingung, silahkan bertanya kepada penduduk sekitar
Embung buatan ini berlokasi tak jauh dari Gunung Api Purba Nglanggeran yang terkenal dengan ekowisata geoparknya. Pembangunan telaga buatan ini memang bertujuan untuk menampung air, baik yang berasal dari air hujan maupun sumber mata air dari Gunung Nglanggeran. Tampungan air di dalam embung tersebut akan digunakan untuk mengairi lahan di sekitar telaga yang rencananya akan digunakan sebagai kebun buah. Hingga sekarang pun pembangunan kebun buah Nglanggeran ini masih terus digarap. Semoga saja beberapa tahun ke depan, pemandangan perbukitan yang sedikit gersang akan segera menghijau dengan adanya pepohonan yang tumbuh rimbun, ditambah dengan atraksi wisata petik buah yang akan semakin menarik minat wisatawan berkunjung kemari.
Embung Nglanggeran memang memiliki luas yang tidak seberapa, pun demikian pengunjung juga tidak diperkenankan bermain-main air di sekitar telaga. Bagaimana mau main air, kalau di bagian pinggir telaga saja diberi pagar pembatas demi keamanan pengunjung. Namun, jangan khawatir, karena suguhan utama dari Embung Nglanggeran ini adalah pemandangan alamnya yang memanjakan mata. Kita dapat melihat hamparan perbukitan di sisi selatan, pemandangan Gunung Api Purba Nglanggeran di sebelah utara, serta pemandangan hamparan persawahan dengan kontur terasiring dari atas perbukitan. Di dekat telaga juga dibangun beberapa gazebo untuk tempat beristirahat sambil menikmati pemandangan alam yang terhampar.
Perjalanan menuju Embung Nglanggeran sendiri tak kalah menarik. Aspal halus akan kita lalui sampai area Gunung Api Purba Nglanggeran. Selebihnya, medan jalan yang aduhai akan menantang nyali kita untuk mengendarai kendaraan menuju lokasi Embung Nglanggeran ini. Saya masuk melewati pintu gerbang Kebun Buah Nglanggeran yang lokasinya tidak jauh dari posko Gunung Api Purba. Setelah membayar retribusi, jalanan berbatu yang cukup sempit dengan medan menanjak pun seolah menyambut kedatangan kami. Di beberapa tanjakan pun kami harus memaksa motor untuk terus melaju, walau dia sudah mengerang menahan beban. Agak kaget juga setelah sampai di parkiran, usai melewati jalanan yang
Embung Nglanggeran memiliki potensi wisata yang cukup menarik. Selain keunikan telaga yang berlokasi di atas bukit, Embung Nglanggeran juga dikelilingi dengan pemandangan alam yang cantik. Suasana senja di Embung Nglanggeran pun uga tak kalah ciamik. Sayang, saya belum sempat menikmati senja di sana. Mungkin suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke Embung Nglanggeran untuk berburu senja ! Mungkin, entah kapan !
keterangan :
tiket masuk Embung Nglanggeran : Rp 3.000,00 per-orang
parkir motor : Rp 2.000,00 per-motor
cara menuju lokasi : dari arah Jogja silahkan arahkan kendaraan menuju Jalan Wonosari hingga Bukit Patuk. Setelah melewati Bukit Patuk silahkan belok ke kiri mengikuti jalan aspal di samping stasiun Radio GCD FM. Ikuti saja jalan aspal tersebut hingga ke arah Gunung Api Purba Nglanggeran. Lokasi embung ini tidak jauh dari posko Gunung Api Purba Nglanggeran. Jika bingung, silahkan bertanya kepada penduduk sekitar
Selasa, 04 Juni 2013
Pantai Sepanjang - Menikmati Suasana Pantai Kuta Lama ala Jogja
Garis pantai yang cukup panjang membentang dipadu dengan hamparan pasir putih sepanjang mata memandang. Ada pula jalan kecil dengan alur menyisiri garis pantai. Sekilas mirip dengan suasana sebuah pantai ternama di Pulau Dewata !
Awan mendung menyambut kedatangan saya di Pantai Sepanjang, salah satu deretan pantai di pesisir selatan Gunung Kidul, Yogyakarta. Sambil menunggu teman yang datang, saya pun dibuat penasaran oleh jalan setapak yang sudah beraspal kasar yang membentang di sepanjang tepi pantai. Di sepanjang jalan tersebut terlihat warung-warung sederhana milik warga yang menjajakan makanan, ada pula yang menjual pernak-pernik sederhana yang dapat Anda jadikan cinderamata. Suasana jalan yang mengingatkan saya pada suasana Pantai Kuta, pantai ternama di Pulau Dewata.
Belum sampai ujung jalan ponsel saya sudah berdering. Sebuah pesan singkat dari teman mengabarkan jika dia sudah berada di dekat pos retribusi Pantai Sepanjang. Buru-buru saya putar balik motor menuju pos tersebut. Kami pun memarkirkan kendaraan di tepi pantai, kemudian berjalan menghampiri sebuah warung sederhana milik warga. Warung-warung makan yang berjajar di Pantai Sepanjang memang tampak bersahaja. Bangunan gubug sederhana beratapkan daun kering berpadu cantik dengan hamparan laut di depan mata.
Saya pun duduk terdiam di atas tikar yang digelar. Sambil menunggu mie goreng yang saya pesan, mata saya tertuju pada hamparan hijau yang sesekali nampak di sapu ombak. Penamaan Pantai Sepanjang sendiri terkait dengan panjangnya garis pantai yang dimiliki pantai ini. Konon, garis pantai yang dimiliki Pantai Sepanjang merupakan yang terpanjang di antara pantai-pantai lain di pesisir Gunung Kidul. Berbeda dengan Pantai Kuta yang ramai dengan wisatawan serta bangunan hotel, cafe, serta pusat perbelanjaan yang megah, Pantai Sepanjang menghadirkan suasana alami dan relatif tenang dari hingar bingar keramaian.
Pesona Pantai Sepanjang bukanlah hamparan pasir putih yang menawan maupun deretan perbukitan yang tinggi menjulang. Lihatlah lebih jeli lagi di antara putihnya pasir pantai yang tersapu oleh ombak. Anda akan menemukan banyak cangkang hewan sejenis mollusca dengan aneka macam bentuk dan warna. Anda pun dapat menemukan bintang laut yang bersembunyi di sela-sela batu karang, di wilayah pasang surut yang dekat dengan bibir pantai. Ada pula beberapa jenis ikan kecil yang berenang-renang di antara batuan karang. Saya pun beruntung siang itu, melihat langsung siput laut, seperti tokoh Gerry dalam film kartun Spongebob yang populer di kalangan anak-anak hingga orang dewasa. Hewan ini memiliki tubuh yang sedikit kenyal namun tak memiliki cangkang.
Pesona lain dari Pantai Sepanjang adalah bebatuan karang yang terhampar tak beraturan di salah satu sudut pantai. Rasanya nyaman sekali duduk di salah satu hamparan bebatuan tersebut sambil terdiam menikmati pemandangan. Deburan ombak yang cukup besar sesekali menghantam, jadi pastikan barang bawaan Anda aman dari terjangan gelombang. Dari sini saya melihat seorang ibu-ibu sedang sibuk mencari rumput laut yang memang cukup banyak terhampar di bagian pasang surut. Rumput laut ini diolah menjadi kripik renyah dan kemudian dijajakan di pantai sebagai kudapan yang nikmat.
Perjalanan saya siang itu ditutup dengan pemandangan nelayan yang pulang membawa tangkapan lobster. Dua ekor berukuran sedang berhasil ditangkap oleh sang nelayan. Lobster memang salah satu buruan yang paling dicari nelayan di pesisir pantai Gunung Kidul karena nilai ekonomisnya yang cukup menjanjikan. Ah Pantai Sepanjang, tak salah memang jika orang menyebutmu dengan sebutan Kuta tempo dulu karena pesona keelokanmu.
Senin, 27 Mei 2013
Pantai Pok Tunggal - Dulu Tenang, Kini Ramai Wisatawan
Awal keberadaan pantai ini sempat gencar dibicarakan di sosial media pada penghujung tahun 2012 yang lalu. Sebuah pantai yang masih sepi karena belum banyak orang yang mengetahui. Pantai Pok Tunggal, sebuah pantai pasir putih khas pesisir selatan Gunung Kidul dengan ikon sebuah tanaman yang mirip seperti tanaman bonsai yang dibentuk sedemikian rupa namun berukuran cukup besar seperti layaknya pohon-pohon yang tumbuh normal.
Jalan menuju Pantai Pok Tunggal memang sedikit berliku dengan jalan setapak bebatuan yang belum dibangun secara permanen. Ah tidak, saya memilih untuk lewat jalur lain, yaitu dengan melalui jalur susur pantai. Kendaraan saya parkirkan di Pantai Pulang Syawal, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Pantai Goa Watu Lawang. Dari pantai tersebut saya lanjut berjalan kaki menyusuri tepian pantai, melewati bongkahan batu karang, hingga akhirnya menuju Pantai Pok Tunggal. Saya tidak menyarankan melewati jalur ini, hanya orang-orang yang sedikit "nekat" saja silahkan melalui jalur tersebut. Medan yang dilalui cukup menguras tenaga dan sedikit menguji mental, karena kita harus melewati jalur bebatuan karang yang cukup terjal dengan hempasan ombak laut selatan yang sesekali mengganas. Jalur ini cocok bagi Anda yang gemar akan sensasi berpetualang di alam bebas.
Selama kurang lebih 30 menit menyusuri tebing dan hempasan ombak, tibalah kita di hamparan pasir Pantai Pok Tunggal, pantai yang dulunya masih relatif sepi, namun sekarang sudah cukup ramai dengan kedatangan wisatawan. Ini bukan kali pertama saya datang ke Pantai Pok Tunggal. Pertama kali saya menyambangi pantai ini sekitar bulan September 2012, ketika sedang mengikuti tes travel writer di salah satu portal pariwisata. Dulu, ketika itu Pantai Pok Tunggal masih terasa sepi, belum terlalu banyak warung-warung yang dibangun seperti sekarang ini. Pengunjung yang datang pun tidak terlalu ramai. Suasananya masih hening, cocok bagi yang sedang ingin menyendiri menikmati keindahan alam yang terhampar di berbagai sisi, mulai dari hamparan pasir pantai hingga bukit-bukit yang menjulang tinggi.
Kedatangan kedua saya sekitar bulan Februari 2013. Sudut barat Pantai Pok Tunggal yang dulunya masih sepi dan dipenuhi semak belukar kini berubah menjadi bangunan warung-warung sederhana yang dikelola oleh penduduk setempat. Instalasi pipa-pipa air pun makin banyak terlihat. Pipa-pipa iniah yang menyalurkan air bersih yang berasal dari sumber mata air tawar yang terdapat di dekat pantai. Mata air yang berasal dari aliran sungai bawah tanah khas daerah karst. Mata air inilah yang dulunya dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk memenuhi kebutuhan air tawar, namun kini lebih banyak dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata, salah satunya adalah untuk mengaliri toilet umum yang ada. Ah, Pok Tunggal, nasibmu kini, makin banyak orang yang datang kemari, semoga kau tak merasakan lagi sepi.
Salah satu ikon Pantai Pok Tunggal adalah keberadaan pohon duras yang sekilas mirip seperti tanaman bonsai, namun berukuran besar. Pohon yang konon katanya langka ini dahulu benar-benar dijaga oleh penduduk setempat. Pohon tersebut tidak boleh dipanjat, bahkan menggelantungkan barang di batangnya saja pun dilarang. Menurut penuturan penduduk setempat hal tersebut demi menjaga kelestarian si pohon duras. Jika patahakan membutuhkan waktu yang lama untuk pertumbuhannya, belum lagi pohon ini katanya termasuk pohon langka. Tapi apa yang saya lihat sekarang sedikit memprihatinkan. Banyak wisatawan yang menggelantungkan barang bawaan mereka seenaknya di batang pohon duras tersebut. Jika pohon duras tersebut dapat berbicara, pastilah dia sudah menangis dengan beban yang dia bawa.
Jika dilihat sekarang, Pantai Pok Tunggal memang mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Setidaknya fasilitas pariwisata yang ada sekarang lebih memadai seperti warung-warung makan sederhana yang berjajar di sepanjang tepi pantai maupun fasilitas toilet umum dan mushola. Payung parasol yang berjajar pun siap disewakan untuk menemani Anda menikmati pantai tanpa takut harus kepanasan.
Jika Anda sedang beruntung, Anda akan menemukan penduduk yang berjualan buah srikaya. Buah yang berbetuk bulat berwarna hijau kekuningan dengan kulit yang bermata banyak. Daging buahnya berwarna putih dengan biji yang cukup banyak dengan rasa buah yang manis. Buah srikaya memang tumbuh subur di wilayah Gunung Kidul yang memiliki kontur tandus. Tak hanya di Pantai Pok Tunggal, buah ini dapat kita temui di beberapa lokasi yang tersebar di kawasan Gunung Kidul ini.
Waktu seolah berputar begitu cepat. Tidak terlalu lama memang saya menginjakkan kaki di Pantai Pok Tunggal ini. Saya harus bergegas untuk kembali menuju Pantai Goa Watu Lawang sebelum matahari kembali ke peraduan. Ah, mari kembali mendaki bukit melewati bongkahan batu karang serta menikmati hempasan ombak yang sesekali terlihat mengganas menerjang batu karang yang kokoh menghadang !
Selama kurang lebih 30 menit menyusuri tebing dan hempasan ombak, tibalah kita di hamparan pasir Pantai Pok Tunggal, pantai yang dulunya masih relatif sepi, namun sekarang sudah cukup ramai dengan kedatangan wisatawan. Ini bukan kali pertama saya datang ke Pantai Pok Tunggal. Pertama kali saya menyambangi pantai ini sekitar bulan September 2012, ketika sedang mengikuti tes travel writer di salah satu portal pariwisata. Dulu, ketika itu Pantai Pok Tunggal masih terasa sepi, belum terlalu banyak warung-warung yang dibangun seperti sekarang ini. Pengunjung yang datang pun tidak terlalu ramai. Suasananya masih hening, cocok bagi yang sedang ingin menyendiri menikmati keindahan alam yang terhampar di berbagai sisi, mulai dari hamparan pasir pantai hingga bukit-bukit yang menjulang tinggi.
Kedatangan kedua saya sekitar bulan Februari 2013. Sudut barat Pantai Pok Tunggal yang dulunya masih sepi dan dipenuhi semak belukar kini berubah menjadi bangunan warung-warung sederhana yang dikelola oleh penduduk setempat. Instalasi pipa-pipa air pun makin banyak terlihat. Pipa-pipa iniah yang menyalurkan air bersih yang berasal dari sumber mata air tawar yang terdapat di dekat pantai. Mata air yang berasal dari aliran sungai bawah tanah khas daerah karst. Mata air inilah yang dulunya dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk memenuhi kebutuhan air tawar, namun kini lebih banyak dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata, salah satunya adalah untuk mengaliri toilet umum yang ada. Ah, Pok Tunggal, nasibmu kini, makin banyak orang yang datang kemari, semoga kau tak merasakan lagi sepi.
Salah satu ikon Pantai Pok Tunggal adalah keberadaan pohon duras yang sekilas mirip seperti tanaman bonsai, namun berukuran besar. Pohon yang konon katanya langka ini dahulu benar-benar dijaga oleh penduduk setempat. Pohon tersebut tidak boleh dipanjat, bahkan menggelantungkan barang di batangnya saja pun dilarang. Menurut penuturan penduduk setempat hal tersebut demi menjaga kelestarian si pohon duras. Jika patahakan membutuhkan waktu yang lama untuk pertumbuhannya, belum lagi pohon ini katanya termasuk pohon langka. Tapi apa yang saya lihat sekarang sedikit memprihatinkan. Banyak wisatawan yang menggelantungkan barang bawaan mereka seenaknya di batang pohon duras tersebut. Jika pohon duras tersebut dapat berbicara, pastilah dia sudah menangis dengan beban yang dia bawa.
Jika dilihat sekarang, Pantai Pok Tunggal memang mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Setidaknya fasilitas pariwisata yang ada sekarang lebih memadai seperti warung-warung makan sederhana yang berjajar di sepanjang tepi pantai maupun fasilitas toilet umum dan mushola. Payung parasol yang berjajar pun siap disewakan untuk menemani Anda menikmati pantai tanpa takut harus kepanasan.
Jika Anda sedang beruntung, Anda akan menemukan penduduk yang berjualan buah srikaya. Buah yang berbetuk bulat berwarna hijau kekuningan dengan kulit yang bermata banyak. Daging buahnya berwarna putih dengan biji yang cukup banyak dengan rasa buah yang manis. Buah srikaya memang tumbuh subur di wilayah Gunung Kidul yang memiliki kontur tandus. Tak hanya di Pantai Pok Tunggal, buah ini dapat kita temui di beberapa lokasi yang tersebar di kawasan Gunung Kidul ini.
Waktu seolah berputar begitu cepat. Tidak terlalu lama memang saya menginjakkan kaki di Pantai Pok Tunggal ini. Saya harus bergegas untuk kembali menuju Pantai Goa Watu Lawang sebelum matahari kembali ke peraduan. Ah, mari kembali mendaki bukit melewati bongkahan batu karang serta menikmati hempasan ombak yang sesekali terlihat mengganas menerjang batu karang yang kokoh menghadang !
Senin, 20 Mei 2013
Pantai Timang - Cerita Tentang Pemburu Lobster, Gondola Kayu, dan Pulau Karang
Menjelajahi pantai-pantai yang masih tersembunyi di antara deretan pesisir selatan Gunung Kidul memberikan cerita tersendiri di dalam sebuah kisah perjalanan yang kita lalui.
Menemukan pantai ini memang sedikit dibutuhkan kejelian dan perjuangan, karena minimnya petunjuk serta akses jalan yang belum terlalu baik untuk menuju ke sana. Pantai Timang, mungkin keberadaannya belum terlalu terkenal seperti pantai-pantai lain yang ada di deretan pesisir selatan Gunung Kidul. Pantai yang terkenal dengan lobster dan gondola kayu ini menyajikan petualangan tersendiri sembari menikmati keindahan lokasi.
Jika flash back sejenak, pertama kali saya mengenal keberadaan Pantai Timang dari sebuah acara televisi swasta nasional. Acara "Para Pemburu" yang ditayangkan oleh Trans TV setiap hari Minggu sore. Acara yang sempat tayang dari pertengahan tahun 2010 hingga awal Februari 2011 ini menyajikan sebuah tayangan tentang perjuangan sosok-sosok tangguh di dalam mencari nafkah demi menyambung hidup. Sebuah tayangan yang menggambarkan sebuah kesenjangan kehidupan. Sebuah gambaran betapa beratnya perjuangan untuk mendapatkan sesuatu, namun tidak sebanding antara risiko yang diambil dengan nilai rupiah yang mereka terima. Tayangan yang menyajikan realitas kehidupan sehari-hari yang mungkin saja jarang kita amati.
Jalan Cor Blok Hingga Jalan Setapak Bebatuan
Pantai Timang memang belum sepenuhnya digunakan sebagai salah satu tujuan wisata. Menurut pandangan saya, pantai ini lebih tepat sebagai wisata minat khusus, terutama bagi mereka yang menyukai tantangan dan petualangan. Jalur menuju pantai ini belum sepenuhnya dalam kondisi baik. Jalan menuju pantai ini memang memiliki medan yang cukup beragam, mulai dari jalanan cor blok yang membelah perkampungan, disambung dengan jalan setapak bebatuan dengan pemandangan hutan serta hamparan ladang, kemudian lanjut dengan jalur cor blok hingga sampailah kita di lokasi Pantai Timang.
Melintasi jalanan cor blok dipadukan dengan jalan setapak bebatuan dengan medan naik turun memang memberikan pengalaman yang mengasyikkan. Dibutuhkan stamina, keseimbangan serta konsentrasi yang lebih ketika mengendarai motor untuk menuju pantai ini. Ya, sebagai informasi saja, untuk menuju lokasi Pantai Timang memang lebih disarankan menggunakan motor karena jalan yang cukup sempit. Kalaupun menggunakan mobil, lebih baik menggunakan mobil dengan bodi yang tinggi, tidak dianjurkan menggunakan mobil jenis sedan maupun city car karena akan merepotkan Anda melintasi jalur yang ada.
Walaupun jalanan sedikit menantang, namun sepadan dengan pemandangan yang didapatkan. Satu lokasi yang menjadi favorit saya adalah ketika kita dapat melihat hamparan persawahan dengan latar belakang laut selatan yang nampak biru sebelum turunan jalan. Ah, sayang, apa yang terlihat oleh mata terkadang tidak dapat tervisualisasikan dengan baik dengan kamera.
Kejutan di Balik Rimbunnya Pandan Laut
Usai menikmati medan jalan yang naik turun dengan kondisi yang beragam, sampailah saya di sebuah gubug sederhana milik masyarakat setempat. Gubug ini menjadi tempat beristirahat bagi petani yang memiliki ladang dan sawah di sekitar pantai, pun juga digunakan bagi nelayan yang akan bersiap memasang perangkap lobster. Saya pun meminta izin kepada ibu-ibu yang sedang beristirahat di gubug untuk menitipkan motor saya.
Sedikit menaiki bukit, menuju semak-semak pepohonan pandan laut yang tumbuh subur. Haruslah berhati-hati karena jika duri pandan laut itu menusuk kulit akan terasa gatal dan sedikit perih. Di balik semak pandan laut tersebut terdapat apa yang orang-orang sebut dengan Pantai Timang. Sedikit janggal memang jika dinalar, pantai biasanya identik dengan hamparan pasir yang sesekali tersapu oleh ombak, namun berbeda dengan di Pantai Timang, kita bukan berada di hamparan pasir melainkan berdiri di atas sebuah tebing karang yang kokoh diterjang ombak.
Sesekali terdengar suara ombak yang lantang menghempas tebing karang dengan ganasnya, hingga terkadang air laut ikut tumpah ke atas tebing karang. Di seberangnya terlihat sebuah pulau kecil, yang diberi nama Pulau Panjang. Di sanalah biasanya para pemburu lobster mencari buruannya dengan peralatan yang tergolong sederhana dan apa adanya.
Cerita Gondola Kayu yang Menjadi Image Pantai Timang
Pesona Pantai Timang memang tidak bisa dilepaskan dengan kereta gantung yang terbuat dari kayu yang menghubungkan ke Pulau Panjang. Kereta yang disebut oleh penduduk sekitar dengan sebutan gondola, merupakan sebuah instalasi kereta gantung yang terbuat dari alat-alat yang sangat sederhana. Hanya menggunakan bahan-bahan seperti batang kayu, katrol dari velg bekas sepeda dan tali tambang, dibuatlah sebuah rangkaian kereta gantung yang sedemikian rupa.
Kereta gondola inilah yang digunakan penduduk setempat untuk menyeberang ke Pulau Panjang guna menebarkan perangkap untuk menangkap lobster buruan. Pulau Panjang memang terdapat batu karang habitat para lobster. Lobster memang menjadi salah satu sumber mata pencaharian hidup penduduk di sekitar Pantai Timang, selain dari sektor pertanian.
Bagi Anda yang memiliki nyali yang cukup besar dan menyeberang ke Pulau Panjang, Anda pun dapat mencoba permainan gondola kayu ini. Cukup membayar Rp 100.000,00 per-orang untuk rute pulang pergi. Permainan gondola kayu ini biasanya disediakan oleh nelayan ketika weekend ataupun hari libur. Ya, hasil dari permainan gondola kayu ini memang digunakan sebagai tambahan penghasilan bagi nelayan lobster di Pantai Timang.
Nyali yang dimiliki nelayan di Pantai Timang memang harus diacungi oleh dua jempol. Keberanian dan nyali mereka menyeberang pantai selatan ditemani dengan suara deburan ombak yang ganas di bawah sana, goyangan kereta gantung karena hempasan angin, tajamnya bebatuan karang di bawah sana, ah entahlah kengerian apa lagi yang seolah tak mereka hiraukan demi mendapatkan lobster buruan demi menyambung kehidupan.
Sayang, ketika saya berkunjung ke Pantai Timang tak terlihat seorang pun nelayan yang hendak menyeberang ke Pulau Panjang. Hanya terlihat seorang nelayan yang sedang memasang umpan di tebing Pantai Timang ini saja. Nyalinya pun cukup besar, karena beliau dengan tenang berdiri di pinggir batu karang yang langsung menghadap ke laut. Saya sendiri cukup gemetar ketika berdiri di sana, setiap melihat derasnya ombak di bawah sana seolah ada suara yang memanggil "ayo terjun, ayo terjun !", hahahaha !
Tak Hanya Gondola, Hamparan Pasir Putihnya juga Mempesona
Wisata Pantai Timang memang lebih terkenal dengan pulau karang serta gondola kayu untuk menyeberang ke Pulau Panjang. Jujur perhatian saya dari pinggir jalan sebelum sampai di pinggir gubug adalah pemandangan hamparan ladang penduduk dengan latar belakang pasir putih yang sesekali diterjang ombak. Cantik, sekaligus agak janggal, di lahan pesisir seperti ini ternyata dapat tumbuh dengan subur tanaman pertanian.
Garis pantainya memang tak terlalu panjang, dibalut dengan hamparan pasir putih dan ombak pantai selatan yang sedikit tenang. Pasir putihnya cukup lembut, namun terasa sangat menyengat kulit di kala siang dengan matahari yang terik. Selain hamparan pasir putih, beberapa pecahan batu karang terlihat teronggok tersebar di sepanjang pantai. Dari pantai ini kita juga dapat melihat Pulau Panjang, yang sekilas seperti seekor kura-kura yang sedang berenang menuju tepi pantai.
Berpetualang ke Pantai Timang memang dibutuhkan stamina dan mental yang cukup mengingat medan jalan yang dilalui boleh dikatakan sedikit lebih menguras tenaga dibandingkan mengunjungi pantai lainnya. Tapi petualangan yang didapat sebanding dengan perjuangan yang kita lakukan. Punya nyali berlebih? Coba saja permainan gondola kayu yang ada di pantai ini untuk tahu bagaimana rasanya terombang-ambing di atas laut dengan kereta kayu khas Pantai Timang.
Menemukan pantai ini memang sedikit dibutuhkan kejelian dan perjuangan, karena minimnya petunjuk serta akses jalan yang belum terlalu baik untuk menuju ke sana. Pantai Timang, mungkin keberadaannya belum terlalu terkenal seperti pantai-pantai lain yang ada di deretan pesisir selatan Gunung Kidul. Pantai yang terkenal dengan lobster dan gondola kayu ini menyajikan petualangan tersendiri sembari menikmati keindahan lokasi.
Jika flash back sejenak, pertama kali saya mengenal keberadaan Pantai Timang dari sebuah acara televisi swasta nasional. Acara "Para Pemburu" yang ditayangkan oleh Trans TV setiap hari Minggu sore. Acara yang sempat tayang dari pertengahan tahun 2010 hingga awal Februari 2011 ini menyajikan sebuah tayangan tentang perjuangan sosok-sosok tangguh di dalam mencari nafkah demi menyambung hidup. Sebuah tayangan yang menggambarkan sebuah kesenjangan kehidupan. Sebuah gambaran betapa beratnya perjuangan untuk mendapatkan sesuatu, namun tidak sebanding antara risiko yang diambil dengan nilai rupiah yang mereka terima. Tayangan yang menyajikan realitas kehidupan sehari-hari yang mungkin saja jarang kita amati.
Jalan Cor Blok Hingga Jalan Setapak Bebatuan
Pantai Timang memang belum sepenuhnya digunakan sebagai salah satu tujuan wisata. Menurut pandangan saya, pantai ini lebih tepat sebagai wisata minat khusus, terutama bagi mereka yang menyukai tantangan dan petualangan. Jalur menuju pantai ini belum sepenuhnya dalam kondisi baik. Jalan menuju pantai ini memang memiliki medan yang cukup beragam, mulai dari jalanan cor blok yang membelah perkampungan, disambung dengan jalan setapak bebatuan dengan pemandangan hutan serta hamparan ladang, kemudian lanjut dengan jalur cor blok hingga sampailah kita di lokasi Pantai Timang.
Melintasi jalanan cor blok dipadukan dengan jalan setapak bebatuan dengan medan naik turun memang memberikan pengalaman yang mengasyikkan. Dibutuhkan stamina, keseimbangan serta konsentrasi yang lebih ketika mengendarai motor untuk menuju pantai ini. Ya, sebagai informasi saja, untuk menuju lokasi Pantai Timang memang lebih disarankan menggunakan motor karena jalan yang cukup sempit. Kalaupun menggunakan mobil, lebih baik menggunakan mobil dengan bodi yang tinggi, tidak dianjurkan menggunakan mobil jenis sedan maupun city car karena akan merepotkan Anda melintasi jalur yang ada.
Walaupun jalanan sedikit menantang, namun sepadan dengan pemandangan yang didapatkan. Satu lokasi yang menjadi favorit saya adalah ketika kita dapat melihat hamparan persawahan dengan latar belakang laut selatan yang nampak biru sebelum turunan jalan. Ah, sayang, apa yang terlihat oleh mata terkadang tidak dapat tervisualisasikan dengan baik dengan kamera.
Kejutan di Balik Rimbunnya Pandan Laut
Usai menikmati medan jalan yang naik turun dengan kondisi yang beragam, sampailah saya di sebuah gubug sederhana milik masyarakat setempat. Gubug ini menjadi tempat beristirahat bagi petani yang memiliki ladang dan sawah di sekitar pantai, pun juga digunakan bagi nelayan yang akan bersiap memasang perangkap lobster. Saya pun meminta izin kepada ibu-ibu yang sedang beristirahat di gubug untuk menitipkan motor saya.
Sedikit menaiki bukit, menuju semak-semak pepohonan pandan laut yang tumbuh subur. Haruslah berhati-hati karena jika duri pandan laut itu menusuk kulit akan terasa gatal dan sedikit perih. Di balik semak pandan laut tersebut terdapat apa yang orang-orang sebut dengan Pantai Timang. Sedikit janggal memang jika dinalar, pantai biasanya identik dengan hamparan pasir yang sesekali tersapu oleh ombak, namun berbeda dengan di Pantai Timang, kita bukan berada di hamparan pasir melainkan berdiri di atas sebuah tebing karang yang kokoh diterjang ombak.
Sesekali terdengar suara ombak yang lantang menghempas tebing karang dengan ganasnya, hingga terkadang air laut ikut tumpah ke atas tebing karang. Di seberangnya terlihat sebuah pulau kecil, yang diberi nama Pulau Panjang. Di sanalah biasanya para pemburu lobster mencari buruannya dengan peralatan yang tergolong sederhana dan apa adanya.
Cerita Gondola Kayu yang Menjadi Image Pantai Timang
Pesona Pantai Timang memang tidak bisa dilepaskan dengan kereta gantung yang terbuat dari kayu yang menghubungkan ke Pulau Panjang. Kereta yang disebut oleh penduduk sekitar dengan sebutan gondola, merupakan sebuah instalasi kereta gantung yang terbuat dari alat-alat yang sangat sederhana. Hanya menggunakan bahan-bahan seperti batang kayu, katrol dari velg bekas sepeda dan tali tambang, dibuatlah sebuah rangkaian kereta gantung yang sedemikian rupa.
Kereta gondola inilah yang digunakan penduduk setempat untuk menyeberang ke Pulau Panjang guna menebarkan perangkap untuk menangkap lobster buruan. Pulau Panjang memang terdapat batu karang habitat para lobster. Lobster memang menjadi salah satu sumber mata pencaharian hidup penduduk di sekitar Pantai Timang, selain dari sektor pertanian.
Bagi Anda yang memiliki nyali yang cukup besar dan menyeberang ke Pulau Panjang, Anda pun dapat mencoba permainan gondola kayu ini. Cukup membayar Rp 100.000,00 per-orang untuk rute pulang pergi. Permainan gondola kayu ini biasanya disediakan oleh nelayan ketika weekend ataupun hari libur. Ya, hasil dari permainan gondola kayu ini memang digunakan sebagai tambahan penghasilan bagi nelayan lobster di Pantai Timang.
Nyali yang dimiliki nelayan di Pantai Timang memang harus diacungi oleh dua jempol. Keberanian dan nyali mereka menyeberang pantai selatan ditemani dengan suara deburan ombak yang ganas di bawah sana, goyangan kereta gantung karena hempasan angin, tajamnya bebatuan karang di bawah sana, ah entahlah kengerian apa lagi yang seolah tak mereka hiraukan demi mendapatkan lobster buruan demi menyambung kehidupan.
Sayang, ketika saya berkunjung ke Pantai Timang tak terlihat seorang pun nelayan yang hendak menyeberang ke Pulau Panjang. Hanya terlihat seorang nelayan yang sedang memasang umpan di tebing Pantai Timang ini saja. Nyalinya pun cukup besar, karena beliau dengan tenang berdiri di pinggir batu karang yang langsung menghadap ke laut. Saya sendiri cukup gemetar ketika berdiri di sana, setiap melihat derasnya ombak di bawah sana seolah ada suara yang memanggil "ayo terjun, ayo terjun !", hahahaha !
Tak Hanya Gondola, Hamparan Pasir Putihnya juga Mempesona
Wisata Pantai Timang memang lebih terkenal dengan pulau karang serta gondola kayu untuk menyeberang ke Pulau Panjang. Jujur perhatian saya dari pinggir jalan sebelum sampai di pinggir gubug adalah pemandangan hamparan ladang penduduk dengan latar belakang pasir putih yang sesekali diterjang ombak. Cantik, sekaligus agak janggal, di lahan pesisir seperti ini ternyata dapat tumbuh dengan subur tanaman pertanian.
Garis pantainya memang tak terlalu panjang, dibalut dengan hamparan pasir putih dan ombak pantai selatan yang sedikit tenang. Pasir putihnya cukup lembut, namun terasa sangat menyengat kulit di kala siang dengan matahari yang terik. Selain hamparan pasir putih, beberapa pecahan batu karang terlihat teronggok tersebar di sepanjang pantai. Dari pantai ini kita juga dapat melihat Pulau Panjang, yang sekilas seperti seekor kura-kura yang sedang berenang menuju tepi pantai.
Berpetualang ke Pantai Timang memang dibutuhkan stamina dan mental yang cukup mengingat medan jalan yang dilalui boleh dikatakan sedikit lebih menguras tenaga dibandingkan mengunjungi pantai lainnya. Tapi petualangan yang didapat sebanding dengan perjuangan yang kita lakukan. Punya nyali berlebih? Coba saja permainan gondola kayu yang ada di pantai ini untuk tahu bagaimana rasanya terombang-ambing di atas laut dengan kereta kayu khas Pantai Timang.
Rabu, 13 Februari 2013
Goa Rancang - Goa Untuk Menyusun Strategi Perang
Melewati medan dengan jalan yang beragam selalu menimbulkan rasa penasaran untuk segera sampai pada tujuan. Mulai dari jalan dengan aspal halus, jalan dengan bongkahan batu kerakal yang ditata rapi, hingga jalanan setapak menjadi teman perjalanan menuju goa yang memiliki sejarah panjang ini.
Berkunjung ke Air Terjun Sri Gethuk tidak lengkap rasanya jika tidak mampir berkunjung ke Goa Rancang Kencono. Kedua obyek ini memang menjadi wisata andalan yang terdapat di wilayah Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Goa Rancang Kencono selain memiliki stalaktit yang cukup indah, juga menyimpan cerita sejarah yang menarik untuk disimak. Tak heran jika goa ini dijadikan sebagai wisata yang berbasis alam dan juga menjadi wisata yang berbasis pendidikan. Sejarah keberadaan Goa Rancang Kencono ini tertuang di dalam buku Mozaik Pustaka Budaya Yogyakarta yang disusun oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta pada tahun 2003. Menurut penelitian yang pernah dilakukan, Goa Rancang Kencono ini merupakan sebuah goa purba. Hal ini dibuktikan dengan penemuan artefak batu dan juga tulang yang diperkiraan berumur ribuan tahun.
Keberadaan Goa Rancang Kencono juga tidak bisa dipisahkan dengan kisah pelarian Laskar Mataram dalam rangka melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda sekitar tahun 1720. Pada tahun tersebut terjadi pergolakan pengusiran penjajah Belanda yang dilakukan oleh kerjaan-kerajan yang ada di Jawa, salah satunya adalah kerajaan Mataram. Goa Rancang Kencono ini menjadi salah satu tempat pelarian sekaligus tempat persembunyian Laskar Mataram. Goa ini juga dijadikan tempat untuk bersemedi sekaligus untuk merancang strategi perang melawan penjajah Belanda. Hal inilah yang menjadikan asal-usul pemberian nama Goa Rancang Kencono. Secara harfiah, kata rancang berasal dari Bahasa Jawa yang berarti rencana, dan kencono berarti emas atau mulia. Goa Rancang Kencono dapat diartikan sebagai tempat untuk merancang/merencakan perbuatan yang bertujuan mulia, dalam hal ini adalah strategi untuk mengusir penjajah Belanda dari bumi nusantara.
Untuk menusuri bagian Goa Rancang Kencono ini, kita harus menuruni beberapa buah anak tangga yang sudah dibangun secara permanen. Di samping anak tangga tersebut terdapat sebuah pohon Klumpit (Terminalia edulis) yang tumbuh menjulang hingga melebihi bagian atap goa. Keberadaan pohon inilah yang menjadi salah satu ciri khas serta keunikan dari Goa Rancang Kencono ini. Goa ini memiliki tiga buah ruangan di dalamnya. Ruangan pertama berupa sebuah ruangan besar dengan luas sekitar 20 meter x 20 meter. Ruangan ini biasanya digunakan sebagai tempat sarasehan (berkumpulnya warga) dan sekarang dijadikan sebagai lapangan untuk bermain bulu tangkis oleh warga setempat.
Ruangan berikutnya adalah sebuah ruangan yang sedikit lebih sempit dan lebih gelap. Di ruangan ini kita akan menemukan arca yang mirip dengan arca nandi (arca yang berbentuk sapi yang digunakan sebagai kendaraan Dewa Siwa). Arca ini dalam keadaan yang cukup memprihatinkan, namun bentuknya masih dapat dikenali. Di ruangan inilah biasanya dilakukan kegiatan semedi, baik untuk mendapatkan wangsit, maupun lebih mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Di bagian ini pula masih dapat ditemui bekas-bekas pemujaan seperti bekas sesaji dan juga dupa yang dibakar.
Memasuki ruangan berikutnya, kita harus berjalan menunduk bahkan merangkak, karena hanya terdapat sebuah celah kecil untuk memasuki ruangan tersebut. Celah kecil tersebut hanya bisa dilewati oleh satu orang saja. Di dalam celah kecil tersebut terdapat sebuah ruangan yang dahulu juga digunakan untuk bersemedi oleh Laskar Mataram. Di dalam ruangan tersebut terdapat lukisan bendera merah putih, lambang burung garuda, serta tulisan yang berjudul "Prasetya Bhinnekaku" di salah satu dinding goa yang konon merupakan kata-kata penyemangat bagi Laskar Mataram yang sedang berperang.
Selain keberadaan pohon Klumpit yang menjadi ciri khas, Goa Rancang Kencono juga memiliki stalaktit yang cukup cantik. Hanya saja disayangkan banyak di antara stalaktit tersebut sudah mati karena sudah tidak terlihat lagi air yang menetes. Selain dari faktor alam, faktor keberadaan manusia pun juga tidak bisa dilepaskan dari matinya stalaktit yang ada di goa ini. Untuk menyusuri seluruh area Goa Rancang Kencono ini kita akan ditemani oleh seorang pemandu yang berasal dari anggota karang taruna pemuda setempat. Pemandu-pemandu ini akan senang hati mengantarkan Anda berkeliling sambil menceritakan sejarah dari Goa Rancang Kencono ini. Ya, pariwisata di Desa Bleberan ini memang menjalankan pola tourism based community atau pariwisata yang dikelola oleh masyarakat. Tidak ada tarif khusus untuk jasa pemandu, tergantung dari suka rela Anda memberikan uang tips kepada mereka.
Selain menikmati keindahan goa serta mempelajari sejarahnya, Goa Rancang Kencono ini juga dapat dijadikan sebagai area untuk perkemahan. Tentu saja sebelum mendirikan tenda, ada baiknya untuk terlebih dahulu memberitahukan kepada pihak pengelola Desa Wisata Bleberan yang mengelola Goa Rancang Kencono ini guna mendapatkan izin. Keberadaan Goa Rancang Kencono semakin menambah pilihan berwisata di kawasan Gunung Kidul ini.
Selasa, 12 Februari 2013
Air Terjun Sri Gethuk - Mengalir Tanpa Mengenal Musim
Di antara hamparan tanah gersang khas daerah pegunungan kapur di wilayah Gunung Kidul, terdapat sebuah air terjun dengan debit air yang seolah tak pernah berhenti mengalir tanpa mengenal musim.
Pesona wisata alam Gunung Kidul seolah tidak pernah berhenti memberikan kejutan-kejutan bagi para wisatawan yang gemar menjelajahi keindahan alam. Wisatawan pun semakin dimanjakan dengan pilihan wisata alam yang beragam. Selain pesisir pantai dengan pasir putih yang menawan, Gunung Kidul memiliki air terjun yang cukup terkenal dan kini menjadi incaran bagi para wisatawan. Air Terjun Sri Gethuk, sebuah air terjun cantik yang mengalir di antara celah bebatuan kapur khas daerah pegunungan karst yang terkenal kering dan gersang. Air terjun ini selalu mengalir tanpa mengenal musim, bahkan ketika musim kemarau pun debit air masih tetap terjaga. Menurut kabar yang beredar, waktu terbaik untuk menikmati pesona Air Terjun Sri Gethuk ini adalah ketika musim kemarau karena keindahan bebatuan kapur bercampur dengan aliran air akan semakin terpancar.
Air Terjun Sri Gethuk terletak di Desa Wisata Bleberan, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul. Jarak tempuh untuk sampai ke lokasi sekitar 40 km dari Kota Jogja, atau memakan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan dengan kecepatan normal. Rute untuk menuju lokasi cukup mudah, tinggal susuri saja jalan Jogja-Wonosari sampai pada pertigaan lampu merah dekat lapangan terbang, lalu belok ke kanan ke arah Playen. Tinggal susuri saja jalan dan ikuti papan petunjuk arah untuk sampai di lokasi air terjun ini.
Perjalanan menuju Air Terjun Sri Gethuk memang penuh dengan sensasi. Beragam kondisi jalan akan kita lalui. Berawal dari jalan dengan aspal yang halus, hingga jalanan setapak yang terbuat dari campuran batu kerakal bercampur dengan tanah siap menantang nyali saat berkendara. Pemandangan hutan jati pun menjadi panorama yang setia menemani perjalanan hingga sampailah pada area kolam pemancingan yang sebagian berfungsi sebagai lahan parkir. Ada dua pilihan cara untuk mencapai area Air Terjun Sri Gethuk ini. Pilihan pertama adalah dengan berjalan kaki menyusuri deretan persawahan dengan pemandangan pohon kelapa yang cukup rindang. Pilihan kedua adalah melawan arus Sungai Oyo dengan menaiki rakit sederhana yang terbuat dari drum bekas yang diberi papan di atasnya kemudian digerakkan dengan sebuah mesin. Perjalanan menggunakan jasa rakit memang pilihan yang tepat karena selain tidak membuat lelah, mata pun akan dimanjakan dengan pemandangan cantik di sepanjang ngarai Sungai Oyo ini.
Sebutan Green Canyon van Jogja rasanya tidak terlalu berlebihan jika diberikan kepada Air Terjun Sri Gethuk ini. Pemandangan deretan tebing-tebing karst yang menjulang serta hijaunya aliran sungai sepanjang perjalanan menuju air terjun ini memang tidak diragukan lagi keindahannya. Tak selang berapa lama setelah menaiki rakit, tibalah kita ke lokasi Air Terjun Sri Gethuk ini. Suara gemuruh air dari atas tebing pun yang memecah suasana hening di sepanjang perjalanan seolah menyambut kedatangan kita saat turun dari perahu.
Air Terjun Sri Gethuk termasuk sebuah air terjun yang cukup kecil. Secara kasat mata, air terjun ini terbagi menjadi tiga bagian yang terpisah oleh bebatuan dan rimbunnya pepohonan. Menurut saya, hal yang menjadi kecantikan dari air terjun ini bukan berasal dari air yang mengalir dari atas ketinggian, melainkan keindahan bebatuan yang berada di bawah air terjun. Bebatuan kapur yang teraliri oleh air ini sangat cantik, memiliki warna yang terang bak kristal. Aliran air yang tak pernah berhenti mengalir ini seolah memanggil siapa saja untuk bermain-main bersama. Anda dapat menikmati sensasi pijatan alami yang berasal dari aliran air terjun, atau berenang di dalam sebuah kolam mewah alami yang terbuat dari batuan karst yang kemudian mengalir ke dalam sungai. Tak perlu khawatir jika tidak bisa berenang karena penduduk setempat ada yang menjajakan jasa sewa pelampung dan ban. Menurut si penuturan penduduk setempat yang bertugas sebagai penjaga, Sungai Oyo yang berada di sekitar air terjun ini memiliki kedalaman hingga 10 meter. Bagi Anda yang suka tantangan, terjun ke dalam sungai dari atas ketinggian bebatuan pun dapat Anda jadikan pilihan yang cukup menantang. Anda pun juga bisa duduk bersantai sambil merendamkan kaki di aliran air dan menikmati hamparan pemandangan alam di sekitar Air Terjun Sri Gethuk ini. Suasana yang cukup hening dengan pemandangan yang menarik, membuat Air Terjun Sri Gethuk ini dapat Anda jadikan pilihan untuk melepaskan penat rutinitas harian.
Keberadaan Air Terjun Sri Gethuk ini konon juga tidak bisa dilepaskan dari adanya mitos yang menyertainya. Air terjun ini dahulu merupakan sebuah tempat yang cukup angker, di mana lokasi air terjun ini ditempati oleh sebangsa jin yang bernama Jin Anggo Meduro. Jin ini sangat menyukai kesenian Jawa khususnya gamelan. Penduduk setempat percaya bahwa lokasi air terjun ini digunakan oleh Jin Anggo Meduro untuk menyimpan instrumen alat musik kethuk yang merupakan salah satu instrumen musik yang digunakan dalam kesenian musik gamelan. Konon katanya, masyarakat setempat terkadang masih mendengar suara alunan musik gamelan dari arah air terjun ini pada saat-saat tertentu.
Terlepas dari mitos yang beredar, keindahan Air Terjun Sri Gethuk ini pantas untuk Anda jadikan agenda untuk berpetualang sekaligus melepaskan kejenuhan. Selain pemandangan cantik dari air terjun dan juga aliran Sungai Oyo, obyek wisata ini juga sudah dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti warung makan sederhana yang siap menuntaskan rasa lapar dan dahaga. Jika Anda beruntung, deretan warung makan yang dikelola oleh penduduk setempat ini juga menjajakan makanan tradisional khas Gunung Kidul seperti gathot dan juga tiwul. Keberadaan Air Terjun Sri Gethuk seolah semakin menambah kelengkapan pilihan wisata alam di kawasan Gunung Kidul yang terkenal kering dan gersang.
keterangan :
tiket masuk Rp 5.000,00 /orang untuk tiket terusan Air Terjun Sri Gethuk dan Goa Rancang Kencono
tiket perahu gethek Rp 10.000,00/orang untuk pulang-pergi
sewa ban atau pelampung Rp 5.000,00 untuk penggunaan sepuasnya
Air Terjun Sri Gethuk terletak di Desa Wisata Bleberan, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul. Jarak tempuh untuk sampai ke lokasi sekitar 40 km dari Kota Jogja, atau memakan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan dengan kecepatan normal. Rute untuk menuju lokasi cukup mudah, tinggal susuri saja jalan Jogja-Wonosari sampai pada pertigaan lampu merah dekat lapangan terbang, lalu belok ke kanan ke arah Playen. Tinggal susuri saja jalan dan ikuti papan petunjuk arah untuk sampai di lokasi air terjun ini.
Perjalanan menuju Air Terjun Sri Gethuk memang penuh dengan sensasi. Beragam kondisi jalan akan kita lalui. Berawal dari jalan dengan aspal yang halus, hingga jalanan setapak yang terbuat dari campuran batu kerakal bercampur dengan tanah siap menantang nyali saat berkendara. Pemandangan hutan jati pun menjadi panorama yang setia menemani perjalanan hingga sampailah pada area kolam pemancingan yang sebagian berfungsi sebagai lahan parkir. Ada dua pilihan cara untuk mencapai area Air Terjun Sri Gethuk ini. Pilihan pertama adalah dengan berjalan kaki menyusuri deretan persawahan dengan pemandangan pohon kelapa yang cukup rindang. Pilihan kedua adalah melawan arus Sungai Oyo dengan menaiki rakit sederhana yang terbuat dari drum bekas yang diberi papan di atasnya kemudian digerakkan dengan sebuah mesin. Perjalanan menggunakan jasa rakit memang pilihan yang tepat karena selain tidak membuat lelah, mata pun akan dimanjakan dengan pemandangan cantik di sepanjang ngarai Sungai Oyo ini.
Sebutan Green Canyon van Jogja rasanya tidak terlalu berlebihan jika diberikan kepada Air Terjun Sri Gethuk ini. Pemandangan deretan tebing-tebing karst yang menjulang serta hijaunya aliran sungai sepanjang perjalanan menuju air terjun ini memang tidak diragukan lagi keindahannya. Tak selang berapa lama setelah menaiki rakit, tibalah kita ke lokasi Air Terjun Sri Gethuk ini. Suara gemuruh air dari atas tebing pun yang memecah suasana hening di sepanjang perjalanan seolah menyambut kedatangan kita saat turun dari perahu.
Air Terjun Sri Gethuk termasuk sebuah air terjun yang cukup kecil. Secara kasat mata, air terjun ini terbagi menjadi tiga bagian yang terpisah oleh bebatuan dan rimbunnya pepohonan. Menurut saya, hal yang menjadi kecantikan dari air terjun ini bukan berasal dari air yang mengalir dari atas ketinggian, melainkan keindahan bebatuan yang berada di bawah air terjun. Bebatuan kapur yang teraliri oleh air ini sangat cantik, memiliki warna yang terang bak kristal. Aliran air yang tak pernah berhenti mengalir ini seolah memanggil siapa saja untuk bermain-main bersama. Anda dapat menikmati sensasi pijatan alami yang berasal dari aliran air terjun, atau berenang di dalam sebuah kolam mewah alami yang terbuat dari batuan karst yang kemudian mengalir ke dalam sungai. Tak perlu khawatir jika tidak bisa berenang karena penduduk setempat ada yang menjajakan jasa sewa pelampung dan ban. Menurut si penuturan penduduk setempat yang bertugas sebagai penjaga, Sungai Oyo yang berada di sekitar air terjun ini memiliki kedalaman hingga 10 meter. Bagi Anda yang suka tantangan, terjun ke dalam sungai dari atas ketinggian bebatuan pun dapat Anda jadikan pilihan yang cukup menantang. Anda pun juga bisa duduk bersantai sambil merendamkan kaki di aliran air dan menikmati hamparan pemandangan alam di sekitar Air Terjun Sri Gethuk ini. Suasana yang cukup hening dengan pemandangan yang menarik, membuat Air Terjun Sri Gethuk ini dapat Anda jadikan pilihan untuk melepaskan penat rutinitas harian.
Keberadaan Air Terjun Sri Gethuk ini konon juga tidak bisa dilepaskan dari adanya mitos yang menyertainya. Air terjun ini dahulu merupakan sebuah tempat yang cukup angker, di mana lokasi air terjun ini ditempati oleh sebangsa jin yang bernama Jin Anggo Meduro. Jin ini sangat menyukai kesenian Jawa khususnya gamelan. Penduduk setempat percaya bahwa lokasi air terjun ini digunakan oleh Jin Anggo Meduro untuk menyimpan instrumen alat musik kethuk yang merupakan salah satu instrumen musik yang digunakan dalam kesenian musik gamelan. Konon katanya, masyarakat setempat terkadang masih mendengar suara alunan musik gamelan dari arah air terjun ini pada saat-saat tertentu.
Terlepas dari mitos yang beredar, keindahan Air Terjun Sri Gethuk ini pantas untuk Anda jadikan agenda untuk berpetualang sekaligus melepaskan kejenuhan. Selain pemandangan cantik dari air terjun dan juga aliran Sungai Oyo, obyek wisata ini juga sudah dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti warung makan sederhana yang siap menuntaskan rasa lapar dan dahaga. Jika Anda beruntung, deretan warung makan yang dikelola oleh penduduk setempat ini juga menjajakan makanan tradisional khas Gunung Kidul seperti gathot dan juga tiwul. Keberadaan Air Terjun Sri Gethuk seolah semakin menambah kelengkapan pilihan wisata alam di kawasan Gunung Kidul yang terkenal kering dan gersang.
keterangan :
tiket masuk Rp 5.000,00 /orang untuk tiket terusan Air Terjun Sri Gethuk dan Goa Rancang Kencono
tiket perahu gethek Rp 10.000,00/orang untuk pulang-pergi
sewa ban atau pelampung Rp 5.000,00 untuk penggunaan sepuasnya
Langganan:
Postingan (Atom)


















































