Tampilkan postingan dengan label Bantul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bantul. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2015

Menikmati Atraksi Paralayang dari Atas Samudera

Jalur konblok yang berkelok dengan kontur menanjak membuat saya sedikit was-was ketika melewatinya. "Tolong siap-siap turun dari boncengan ya, kalau motor ini tidak kuat di tanjakan terakhir nanti", pinta saya kepada seorang kawan yang membonceng di belakang.

Motor yang saya kendarai akhirnya kuat melewati tanjakan demi tanjakan jalan menuju Bukit Parangendog. Beberapa kali ke bukit ini, hampir saja motor yang saya kendarai tidak kuat melewati tanjakan terakhir dengan kemiringan yang cukup curam. Dari pengalaman tersebut saya selalu berpesan kepada kawan yang membonceng saya untuk siap-tiap turun dari boncengan, kalau-kalau motor yang saya kendarai tidak sanggup melewati tanjakan terakhir tersebut.


Bukit Parangendog terasa lebih ramai dibandingkan dengan beberapa tahun silam. Mungkin sudah banyak orang yang mengenal keberadaan bukit ini dari media sosial yang semakin digemari kalangan anak muda jaman sekarang. Bukit Parangendog merupakan sebuah bukit kecil yang berada di atas Pantai Parangtritis yang terkenal dengan legenda Ratu Pantai Selatan. Bukit kecil ini memiliki pemandangan yang indah. Kita dapat melihat hamparan pesisir pantai selatan, hutan-hutan dan perbukitan, serta hamparan persawahan dari atas ketinggian. Bukit Parangendog juga menjadi salah satu lokasi menikmati pemandangan matahari tenggelam di kala senja tiba.



Selain menawarkan keindaham alam, Bukit Parangendog juga memiliki atraksi yang menarik untuk disaksikan. Setiap akhir pekan, terutama hari Sabtu dan Minggu kita dapat menikmati atraksi para penggemar olaharaga paralayang yang sedang latihan. Mereka biasa lepas landas dari Bukit Parangendog dan mendarat di sekitar Pantai Parangtritis. Siang itu nampak beberapa mobil offroad yang membawa rombongan. Rombongan tersebut terlihat menggendong tas ransel yang berukuran besar lengkap dengan perintilan alat-alat outdoor. Rombongan tersebut berjalan menuju landasan helipad kemudian beranjak ke balik bukit untuk bersiap menerbangkan paralayang.


Udara siang itu cukup bagus, cuaca cerah berawan dengan laju angin yang tidak terlalu kencang. Tak berapa lama terlihat beberapa penikmat olahraga paralayang ini sudah lepas landas. Parasut berwarna-warni pun menghiasi langit di atas Bukit Parangendog. Mereka berkeliling ke sana ke mari bak burung yang sedang terbang bebas di angkasa. Seru juga melihat penikmat olahraga paralayang ini menunjukkan aksi mereka. Atraksi olahraga paralayang biasa dapat kita saksikan dalam acara Jogja Air Show yang menjadi salah satu event tahunan di Jogja yang menampilkan perhelatan akbar olahraga kedirgantaraan.


Saya sempat berbincang dengan salah seorang operator paralayang. Tidak hanya para atlet saja yang bisa mencoba olahraga ini, masyarakat awam pun dapat menikmati atrasi terbang menikmati pemandangan dari ketinggian. Dengan membayar tarif sekitar Rp 300.000,00 per-orang, kita dapat merasakan sensasi terbang di atas ketinggian menggunakan parasut dengan didampingi oleh instruktur yang sudah berpengalaman. Tawaran yang cukup menarik bukan untuk merasakan pengalaman terbang menikmati alam bebas dari ketinggian bak burung-burung yang beterbangan?

Senin, 28 April 2014

Pantai Pandansari - Cerita Tentang Mercusuar dan Agrowisata Buah Naga

Suatu siang dengan sinar matahari yang cukup terik menyengat kulit. Laju kendaraan saya arahkan menuju daerah pesisir Bantul untuk sekedar menikmati ombak pantai agar bisa sedikit terhibur. Seusai membayar uang retribusi, motor pun melaju menuju Pantai Pandansari yang nampak begitu sepi. Seperti kebanyakan pantai di pesisir Bantul, Pantai Pandansari memang kurang begitu memiliki pemandangan yang menarik. Pantai pasir berwarna cokelat kehitaman dengan ombak pantai yang terlihat tidak begitu jernih. Hanya nampak pepohonan pandan laut dan cemara laut yang tumbuh subur di tepi pantai yang memberi suasana hijau di sekitarnya.

Pesona Pantai Pandansari bukan terletak pada hamparan pasir pantainya. Keunikan pantai ini adalah adanya menara suar atau mercusuar setinggi sekitar 40 meter serta lahan pertanian pesisir dengan komoditi utama buah naga yang tumbuh subur. Banyak wisatawan yang datang ke Pantai Pandansari ini untuk sekedar menikmati pemandangan pantai dari atas ketinggian menara suar. Bangunan menara suar ini berada di satu kompleks rumah dinas yang tidak jauh dari pantai. Untuk masuk ke dalam bangunan menara suar silahkan meminta izin kepada penjaga kompleks rumah dinas tersebut. Cukup membayar uang suka rela untuk kebersihan, sang penjaga akan mempersilahkan kita masuk dan naik ke bangunan mercusuar tersebut.




Sayang, siang itu saya dan kawan saya tidak sanggup menapaki tangga demi tangga hingga sampai atas bangunan mercusuar. Kami hanya mampu menaiki beberapa anak tangga saja dan memutuskan untuk berhenti sejenak melihat pemandangan dari balik bilik mercusuar. Mungkin semesta belum berpihak kepada kami. Awan kelabu terlihat terlalu pekat menutupi pemandangan di sekitar pesisir Pantai Pandansari. Andai saja sang awan bisa lebih bersahabat, mungkin kami bisa melihat kencantikan hamparan perkebunan milik penduduk yang nampak subur di sekitar pantai tersebut.


Agrowisata Buah Naga
Keunikan Pantai Pandansari bukan terletak pada pemandangan hamparan pasir dan ombaknya, melainkan hamparan lahan pertanian yang tumbuh subur di kawasan pesisir pantai tersebut. Salah satu komoditi pertanian andalannya adalah buah naga merah. Anda pun dapat berwisata pantai sekaligus agrowisata di Pantai Pandansari ini. Di sekitar pantai ini banyak terdapat perkebunan buah naga yang tumbuh cukup subur.


Anda pun dapat berkeliling di kbun buah naga ini sambil memetik buah tersebut untuk dijadikan oleh-oleh. Buah naga di perkebunan ini dihargai Rp 20.000,00 per-kilonya untuk buah dengan kualitas super. Buah yang memiliki rasa yang manis ini memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan tubuh, antara lain untuk menurunkan kadar gula dalam darah, menjaga kesehatan kulit, memperlancar pencernakan dan sebagainya. Buah berwarna merah ini pun sangat segar disantap di kala siang sambil menikmati deburan ombak ombak serta pasir pantai selatan yang terhampar. Tertarik menikmati keindahan pemandangan dari mercusuar sambil menikmati wisata petik buah naga ini? Silahkan mampir ke Pantai Pandansari ini.


keterangan :
Masih minim kendaraan umum untuk menuju Pantai Pandansari ini. Anda dapat menuju pantai ini dengan menggunakan kendaraan pribadi. Dari arah Kota Yogyakarta ambil saja jalur ke selatan menuju Jalan Bantul arah ke Pantai Samas. Setelah sampai di pertigaan sebelum Pantai Samas, silahkan ambil jalan ke kanan dan ikuti petunjuk arah. Petunjuk arah menuju Pantai Pandansari dan sekitarnya cukup mudah didapat di sepanjang jalan. Selain Pantai Pandansari, Anda pun dapat melanjutkan perjalanan menuju Pantai Goa Cemara, Pantai Pandansimo, Pantai Kwaru dan sebagainya.

Biaya retribusi masuk pantai adalah Rp 3.000,00 per-orang belum termasuk retribusi untuk kendaraan.
Biaya parkir motor di sekitar pantai adalah Rp 2.000,00 per-motor

Senin, 17 Juni 2013

Air Terjun Jurang Pulosari, Kini Mulai Diminati Wisatawan

Nikmatilah setiap jengkal perjalanan, jangan ragu untuk berbincang dengan penduduk sekitar.

Perjalanan menyambangi keindahan Curug Banyunibo memberikan saya sebuah pembelajaran, bahwa sejatinya sebuah perjalanan bukanlah tentang destinasi yang kita tuju, melainkan bagaimana kita bisa menikmati setiap proses di dalam melakukan sebuah perjalanan itu sendiri.


Usai menikmati keindahan alam di Curug Banyunibo, perjalanan saya lanjutkan menuju Jurang Pulosari, salah satu air terjun yang lokasinya tak jauh dari Curug Banyunibo ini. Perjalanan menuju Jurang Pulosari pun tak kalah menantang. Jalan setapak dengan cor blok dengan medan naik turun dan sedikit berkelok pun tetap setia menemani sepanjang perjalanan.


Pertama kali saya mengetahui keberadaan Jurang Pulosari berdasarkan informasi yang dishare oleh mas Wijna di blognya. Melihat dari tulisan dan foto-foto yang ditulis, Jurang Pulosari ini memiliki pemandangan yang cukup cantik, namun medan jalan yang dilalui lumayan sulit. Semacam sebuah filosofi yang saya ingat, untuk mencapai "surga", jalan yang dilalui memang "berliku". Informasi tentang Jurang Pulosari ini masih tergolong minim, bahkan ketika saya mencoba mencari di mesin google, yang keluar tak jauh dari cerita wingit karena pernah dijadikan sebagai lokasi syuting acara Dua Dunia.

Dibutuhkan waktu berkendara sekitar 10 menit perjalanan dari Curug Banyunibo menuju Jurang Pulosari ini. Sepanjang perjalanan hanya ditemani kebun yang lebih mirip dengan hutan. Tampak tanah dengan kontur tandus dan tanaman yang mulai meranggas diterjang hawa panas musim kemarau. Seorang bapak-bapak setengah baya menghalau laju kendaraan saya sambil menawarkan halaman rumah miliknya untuk dijadikan tempat parkir. Tak salah memang jika saya memilih memarkirkan kendaraan di bagian atas, kemudian lanjut dengan berjalan kaki. Kontur jalan untuk menuju ke bawah memiliki jalan menurun yang sempit dengan lekukan yang cukup tajam sebelum akhirnya tiba di parkiran bagian bawah.


Jujur saya sedikit kaget dengan wujud asli Jurang Pulosari yang saya lihat langsung ketika itu. Cukup berbeda memang dengan  gambar-gambar yang saya lihat di blog milik Mas Wijna. Mungkin lagi-lagi saya kurang beruntung karena datang pada saat hujan sudah mulai jarang. Antara percaya dan tidak percaya jika yang saya lihat adalah wujud asli dari Jurang Pulosari.

Tapi lagi-lagi saya harus akui jika air terjun ini memiliki karakteristik yang unik, yaitu terlihat sangat fotogenik ketika diabadikan dengan kamera. Di balik penampilannya yang sederhana terlihat pesona yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Jika debit air sedang tinggi, saya yakin pesona Jurang Pulosari akan lebih terpancar lagi.

Saya pun beranjak mengikuti aliran sungai untuk menuju daerah hulu. Belum sampai hulu saya berjalan, terlihat warga desa sedang bergotong royong membersihkan aliran sungai. Katanya tak lama lagi di salah satu sudut aliran sungai ini akan dimanfaatkan untuk arena lomba memancing. Acara tersebut bertujuan untuk menambah atraksi serta mengenalkan desa di sekitar Jurang Pulosari ini sebagai salah satu lokasi desa wisata.


Lelah dan dahaga pun perlahan menggerogoti tenggorokan saya yang sedari tadi berjalan-jalan tanpa diberikan asupan. Beruntung ada beberapa lapak sederhana milik warga yang berdiri di sekitar lokasi jalan menuju air terjun. Tanpa pikir panjang saya pun memesan segelas es Marimas yang terpampang di lapak sederhana tersebut. Saya pun iseng bertanya kepada sang penjual, dari penuturannya Jurang Pulosari ini memang belum lama dibuka untuk kegiatan pariwisata. Masih dalam tahap perintisan memang, namun saya yakin tempat ini memiliki cukup potensi untuk dikembangkan.

Ah, lagi-lagi perjalanan saya dikejutkan dengan harga minuman yang saya pesan siang itu. Coba tebak kira-kira berapa harga es Marimas yang saya pesan? Rp 4.000,00? Rp 3.000,00? Rp 2.000,00? Rp 1.000,00? BUKAN ! Harga segelas es Marimas di Jurang Pulosari hanya dihargai Rp 500,00 saja per-gelasnya ! Ah saya jadi tak tega ketika harus membayarnya :(

keterangan :

  • untuk menuju Jurang Pulosari ini cukup mudah, dari arah Curug Banyunibo tinggal susuri jalan setapak naik menuju pos ronda. Dari pos ronda belok ke kiri, lurus hingga menemukan pertigaan. Dari pertigaan tinggal belok saja ke kiri mengikuti petunjuk jalan yang sudah disediakan penduduk setempat
  • jangan ragu untuk bertanya kepada penduduk setempat jika tidak mau tersasar
  • tarif parkir motor Rp 2.000,00
  • lokasi ini masih dalam tahap rintisan tempat wisata, jadi fasilitas umum seperti toilet belum ada
  • jangan lupa untuk menjaga lingkungan sekitar, hal yang paling sederhana adalah tidak membuang sampah sembarangan :)

Selasa, 11 Juni 2013

Curug Banyunibo - Wisata Air Andalan di Daerah Pajangan, Bantul

Bantul, sebuah wilayah yang terletak di sebelah selatan Yogyakarta memang terkenal dengan ragam pilihan wisatanya. Mulai dari wisata pantai di pesisir selatan, menikmati suasana pedesaan yang tenang, kuliner tradisionalnya yang memanjakan lidah, serta terkenal sebagai sentra penghasil barang-barang kerajinan yang beraneka rupa. Siang itu kendaraan saya arahkan menuju desa Krebet, sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Pajangan, sebelah barat wilayah Bantul yang terkenal dengan kerajinan batik kayunya. 


Tujuan saya kali ini tidak untuk menikmati wisata batik kayu yang disajikan di Desa Krebet, melainkan mencari keberadaan sebuah curug yang berlokasi tidak jauh dari desa wisata ini. Curug Banyunibo, sebuah air terjun yang tergolong baru, yang kini mulai dikembangkan oleh warga setempat sebagai obyek wisata. Secara administratif Curug Banyunibo ini berada di Dusun Kabrokan Kulon, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Perjalanan menuju Curug Banyunibo memang cukup berliku. Mulai dari jalan aspal yang mulai tidak rata dengan medan naik turun, dilanjutkan dengan jalan setapak yang dikeraskan dengan cor blok menyusuri hutan dan deretan perkampungan. Namun, pemandangan perbukitan yang cukup rindang sedikit mengalihkan perhatian dari rasa lelah saat perjalanan. Lokasi curug ini sedikit "mblusuk" memang. Tapi tak perlu khawatir tersesat, karena petunjuk jalan sudah dipasang, walaupun berukuran cukup kecil. Jika ragu dan tidak ingin tersesat, jangan takut bertanya dengan penduduk setempat, dengan ramah mereka akan menjelaskan rute menuju Curug Banyunibo ini dengan jelas.

Jalan cor blok dengan medan yang menurun disertai tikungan yang cukup tajam di beberapa titik menjadi tantangan terakhir sebelum akhirnya tiba di parkiran kendaraan. Jalan tersebut sedikit licin terlebih setelah terguyur oleh hujan. Parkir kendaraan menempati halaman rumah warga yang dikelola secara swadaya. Dari arah parkiran dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan yang sedikit menurun. Suasana tenang dipadu dengan rimbunnya pepohonan setia menemani selama berjalan kaki menuju lokasi. Sebuah air terjun yang mengalir di antara batuan karst pun menyambut kita seolah mengajak bermain bersama.


Air Terjun Banyunibo, melihat sekilas wujudnya memang tidak seperti air terjun kebanyakan dengan aliran air yang langsung jatuh ke bawah dari atas ketinggian. Air terjun ini lebih mirip seperti lereng jurang dari bebatuan kapur yang kemudian dilewati oleh aliran air. Airnya sangat jernih, dengan pantulan warna kehujauan yang berasal dari tanaman lumut yang tumbuh di antara sela-sela bebatuan. Satu hal yang saya sukai dari Curug Banyunibo selain dari suasana alamnya yang masih tenang dan rindang adalah karakteristik si curug yang terlihat sangat fotogenik ketika diabadikan oleh kamera. Setidaknya hal itulah yang tertangkap oleh mata saya ketika mengabadikan keindahan Curug Banyunibo dari kamera. Keasrian hutan yang menjadi latar belakang curug ini seolah menambah keindahan dan ketenangan suasana di sekitar curug. Suasana yang tenang dengan udara yang cukup segar seolah mengajak kita untuk sejenak berlama-lama menikmati keindahan alam di Curug Banyunibo ini.


Airnya yang jernih siap menggoda siapa saja untuk berbasah-basah ria menikmati kesegaran aliran air Curug Banyunibo. Terlihat antusiasme anak-anak yang bermain air di bawah aliran air terjun Curug Banyunibo dengan sangat ceria pada saat saya tiba. Apabila Anda suka tantangan, tak ada salahnya untuk mencoba mendaki ke bagian atas bukit bebatuan menyusuri aliran air terjun curug ini. Harus ekstra hati-hati memang karena bebatuan curug yang cukup licin dengan kemiringan yang cukup vertikal, sekitar 70 derajat. Curug Banyunibo menyimpan pesona keindahan alam yang mengangumkan. Obyek wisata ini tergolong masih baru, hal ini dilihat dari fasilitas penunjang pariwisata yang masih sangat sederhana. Lapak-lapak sederhana milik warga setia menjajakan camilan dan minuman untuk menemani wisatawan yang  sedang menikmati keindahan curug yang cantik ini.

Satu hal yang membuat saya salut dengan keberadaan Curug Banyunibo ini adalah kesadaran masyarakat setempat untuk selalu menjaga kebersihan dan kelestarian alam sekitar. Hal ini terbukti dari masih rimbunnya pepohonan yang tumbuh serta hampir tidak dijumpai sampah yang berserakan di sekitar lokasi air terjun ini. Semoga kesadaran masyarakat setempat ini dibarengi dengan kesadaran wisatawan yang datang berkunjung untuk tidak membuang sampah sembarangan. Bagi Anda yang ingin mencari alternatif tempat berlibur dengan tema air, tak ada salahnya blusukan ke Curug Banyunibo yang ada di kawasan Pajangan, Bantul ini.

keterangan :

  • Untuk menuju lokasi Curug Banyunibo ini cukup mudah, dianjurkan untuk menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju lokasi
  • Untuk menuju daerah Pajangan, cukup susuri ring road selatan menuju daerah pabrik gula Madukismo,  dilanjutkan menuju Desa Krebet. Dari patung Semar di Desa Krebet arahkan kendaraan ke kiri, lurus ikuti jalan hingga menemukan pertigaan lalu belok ke kanan. Petunjuk arah menuju Curug Banyunibo terlihat kecil, butuh sedikit kejelian, jika tidak mau tersasar silahkan bertanya kepada penduduk sekitar.
  • Tarif parkir motor Rp 2.000,00
  • Pada musim kemarau debit air cenderung kecil, sedangkan pada musim penghujan debit air curug relatif cukup besar.

Senin, 04 Maret 2013

Parangtritis dalam Balutan Lembayung Senja

Banyak rasa yang terpendam dan tak dapat terungkap dalam rangkaian kata. Dia mencoba berlari mengejar senja hingga ujung samudera. Mungkin hanya dengan senja beradu dengan ganasnya ombak samudera bisa sejenak melupakan segala beban pikiran yang sedang dirasa. Parangtritis, menjadi tempat pelarian untuk kesekian kalinya dengan pemandangan senja menjadi incarannya.


Tak perduli berapa banyak orang yang lalu lalang di sekelilingnya, toh tak seorang pun yang dikenalnya. Hanya sebuah kamera yang ada pada genggaman dan tak perduli bagaimana ia memainkan. Kesendirian membawanya hanyut dalam suasana pesisir pantai yang dia damba. Samar-samar dari kejauhan terlihat sosok nelayan berjalan menyusuri tepian pantai dengan jaring kecil di kedua tangannya. Sesekali gelombang besar menghantam dan seolah tak ada rasa ketakutan terpancar di antara raut wajah mereka. Apa yang mereka cari? Entahlah, mungkin saja undur-undur laut yang akan mereka jadikan keripik renyah kemudian mereka jajakan guna menyambung kehidupan.


Pandangannya pun kini beralih pada hamparan pasir kering yang tak tersentuh oleh ombak. Dia duduk termangu melihat luasnya hamparan laut berpadu dengan semilir angin angin laut yang membuat suasana makin syahdu. Matahari perlahan berjalan menuju peraduan. Namun sayang, apa yang dia nantikan tak kunjung datang. Sang mentari pergi meninggalkan bumi diiringi sekumpulan awan mendung yang berjalan perlahan. "Ah, sepertinya moment golden sunset tidak akan datang", gumamnya dengan sedikit menyiratkan raut muka kecewa. 



Perempuan dalam temaram senja,
Yogyakarta, Februari 2013

Senin, 18 Februari 2013

Hutan Pinus Dlingo - Sejuknya Udara Pagi di Antara Rapatnya Pepohonan

Hamparan pemandangan hijau yang membentang seolah tak pernah henti-hentinya memanjakan mata, ditambah sejuknya udara siap memikat hati bagi siapa saja untuk berkunjung ke hutan dengan jenis tanaman yang seragam ini.


Siapa sangka jika di salah satu sudut Yogyakarta memiliki sebuah hutan pinus dengan pemandangan yang cantik serta udara yang sejuk? Tak jauh dari Kebun Buah Mangunan, kita akan menemukan sebuah hutan pinus yang bernama Hutan Pinus Dlingo. Secara administratif, Hutan Pinus Dlingo ini terletak di Desa Muntuk, Kecamatan Dligo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Untuk menuju hutan pinus ini cukup mudah, karena papan petunjuk arah sudah tersedia dan udah untuk ditemukan.



Pohon pinus lazimnya dapat kita temukan di daerah lereng pegunungan maupun dataran tinggi. Terakhir saya melihat hutan pinus ketika tracking menjelajahi kaki Gunung Lawu. Namun, keberadaan hutan pinus di daerah Dlingo ini cukup memberikan kejutan kepada saya. Jika saya rindu suasana hutan pinus, tak perlu jauh-jauh lagi pergi ke kaki Gunung Lawu, cukup mememacu kendaraan menuju daerah tenggara Yogyakarta ini.


Hutan Pinus Dlingo merupakan jenis hutan dengan tanaman yang homogen. Sepanjang mata memandang hanya tampak pohon pinus yang tumbuh tinggi menjulang dengan dedaunan yang tumbuh rindang seolah-olah menghalangi sinar matahari yang ingin masuk. Datanglah pada pagi hari, pemandangan cantik sinar mentari yang masuk di antara celah-celah pepohonan menjadi pemandangan yang menambah kecantikan hutan pinus ini. Hawa di hutan pinus ini sangat sejuk, bahkan cenderung lembab. Hal ini disebabkan oleh rindangnya dedaunan dari pohon pinus yang menutupi area hutan, sehingga tak heran jika tanah di bawah menjadi cukup basah. Di bagian tanah di hutan pinus ini terkesan berwarna merah, berasal dari daun-daun pinus yang jatuh berguguran. Pada musim penghujan seperti sekarang ini, kita dapat menemukan bunga pinus yang berwarna merah cantik tumbuh subur di antara benih-benih pohon pinus yang tumbuh subur. Bunga pinus yang sudah kering ini biasanya dapat dijadikan sebagai bahan kerajinan tangan.


Tanaman pinus juga menjadi salah satu komoditi sebagai penunjang ekonomi bagi penduduk setempat. Selain ranting yang berjatuhan dimanfaatkan untuk kayu bakar, getah pohon pinus pun memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Maka tak heran jika di bagian batang pohon pinus ini terdapat goresan-goresan untuk mendapatkan getahnya. Getah dari penyadapan pohon pinus tersebut kemudian dijadikan untuk produk olahan dalam industri. Sebenarnya agak miris juga jika penyadapan pohon pinus ini dilakukan secara sembarangan tanpa memperhatikan prosedur. Banyak pohon yang diberi goresan-goresan begitu saja sehingga kulit batangnya terkelupas cukup dalam.


Hutan Pinus Dlingo ini memang dapat dijadikan sebagai tempat wisata alternatif, baik bersama teman maupun keluarga. Udara yang sejuk dan pemandangan yang cantik menjadikan Hutan Pinus Dlingo ini menjadi tempat favorit untuk berekreasi sekedar untuk menggelar tikar sambil menikmati bekal, tempat pengambilan gambar untuk model maupun pre-wedding, dan juga tempat pengambilan gambar untuk beberapa adegan FTV. Satu hal yang masih disayangkan dari hutan pinus ini adalah belum adanya fasilitas pendukung pariwisata seperti MCK maupun tempat sampah. Di beberapa sudut hutan masih ada saja tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab membuang sampah sembarangan walaupun sudah ada papan peringatan. Ya, keberadaan Hutan Pinus Dlingo ini semakin menambah pilihan tempat untuk berwisata di Yogyakarta bukan?

keterangan :
tidak ada tiket/retribusi khusus untuk memasuki area Hutan Pinus Dlingo ini
tarif parkir motor Rp 2.000,00
tarif parkir mobil Rp 5.000,00
pengelolaan parkir masih sangat sederhana, hanya terdapat sebuah gubug untuk memarkir motor, pengelolaan parkir ini dikelola oleh masyarakat setempat

Kamis, 14 Februari 2013

Kebun Buah Mangunan - Menikmati Suasana Pagi dari Gardu Pandang

Morning is always amazing ! Bangun di pagi hari, menikmati semilir angin yang menyejukkan hati, serta menikmati suara hening yang menyelimuti, dan selalu ada pemandangan indah di pagi hari !


Mentari pun masih samar menampakkan cahayanya dibalut dengan semilir angin yang menghantarkan hawa dingin di sekujur kulit, tak menumbangkan niat untuk menjelajahi salah satu sudut di wilayah selatan Yogyakarta. Tujuan saya kali ini adalah mengunjungi Kebun Buah Mangunan yang terletak di Dusun Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, atau tepatnya di sebelah selatan Imogiri. Lokasi ini memiliki penorama alam yang cukup cantik, serta hawa yang cukup sejuk, karena berada di wilayah dataran tinggi.



Akses menuju Kebun Buah Mangunan cukup mudah, tinggal arahkan kendaraan menuju daerah Terminal Giwangan, kemudian lurus ke selatan melewati Jalan Imogiri Timur hingga memasuki pertigaan Imogiri, kemudian belok ke arah kiri. Setelah menemukan sebuah pertigaan silahkan belok ke kanan, tinggal susuri saja jalan dan ikuti petunjuk arah yang mudah ditemukan di sepanjang jalan. Jalanan dengan kontur kelokan dan tanjakan khas daerah perbukitan dengan pemandangan alam seperti  lembah dan hutan-hutan setia menemani selama perjalanan sehingga rasa lelah ketika berkendara pun seolah terobati dengan pemandangan alam yang terhampar di kanan kiri kita.

Sampai di sebuah pertigaan kecil di kawasan Dlingo, belok ke kiri untuk menuju lokasi kebun buah ini. Di pertigaan ini petunjuk arah menuju kebun buah memang kurang terlalu terlihat, saya pun hampir kebablasan jika tidak diberi kode oleh teman saya. Tujuan saya pagi ini mengunjungi Kebun Buah Mangunan bukan untuk berwisata memetik buah langsung dari pohonnya, melainkan menikmati suasana kabut pagi yang menyelimuti bagian permukaan perbukitan. Suasana pagi yang mungkin saja akan sulit saya temukan dalam kehidupan sehari-hari di perkotaan.


Sekitar pukul 06.15 pun saya sampai di lokasi Kebun Buah Mangunan ini. Suasana pun masih terasa cukup sunyi dengan pemandangan hamparan perbukitan yang berwarna hijau terhampar luas di depan mata. Di bagian luar kompleks kebun sudah terlihat beberapa pasang muda-mudi yang mulai mengabadikan momen kabut pagi yang menyelimuti bagian perbukitan dan diterpa oleh sinar mentari yang beranjak terang. Pagi itu pintu gerbang masuk Kebun Buah Mangunan memang belum terbuka. Tapi maaf, saya dan teman saya mencoba membuka pintu gerbang tersebut yang ternyata tidak dikunci. Kami pun masuk ke dalam kompleks Kebun Buah Mangunan untuk melanjutkan perjalanan menuju bagian gardu pandang. Ya, inilah tujuan utama saya, melihat keindahan alam dari gardu pandang di Kebun Buah Mangunan.

Perjalanan dari pintu gerbang menuju gardu pandang melewati jalan yang menanjak, sempit, dan cukup terjal, ditambah kontur jalan yang terbuat dari tatanan bebatuan yang mirip jalan setapak. Pagi itu ada sebuah mobil yang memaksa naik di jalan tanjakan di dekat kolam. Namun sayang, mobil tersebut tidak mampu melewati jalan tanjakan. Jalan ini memang memiliki tingkat kemiringan yang cukup curam, tidak disarankan mobil melewati area ini. Para pengguna mobil biasanya memarkirkan kendaraan di sekitar kolam kemudian lanjut berjalan kaki untuk sampai di lokasi gardu pandang. Beruntungnya, kendaraan roda dua masih sanggup melewati jalan curam dengan kontur jalan yang berbatu ini.

Beberapa bangunan gazebo pun siap menyambut kita untuk menikmati pemandangan di gardu pandang ini. Bangunan ini sengaja dibangun oleh pengelola sebagai tempat peristirahatan maupun tempat berteduh jikalau hujan turun tiba-tiba. Pemandangan dari atas gardu pandang ini memang cantik. Hamparan perbukitan luas nan hijau siap memanjakan mata bagi siapa saja yang mengunjunginya. Keindahan alam tersebut semakin dipercantik dengan kabut tipis yang menyelimuti bagian atas perbukitan tersebut. Sebuah sungai dengan kontur yang berkelok-kelok membelah perbukitan semakin mempercantik pemandangan dari gardu pandang Kebun Buah Mangunan ini. Mistis sekaligus dramatis, begitulah kesan yang saya rasakan di tempat ini.


Sekelompok kawanan monyet liar pun tiba-tiba datang dari balik semak-semak di bawah sana. Awalnya hanya terlihat sekitar empat ekor, namun lama-lama seluruh anggota kawanan monyet tersebut menampakkan diri. Mereka seolah asyik berjemur di atas bebatuan besar di bawah bukit sambil menikmati hangatnya sinar matahari yang bersinar di pagi hari. Mereka pun seolah tidak menghiraukan keberadaan pengunjung yang menikmati indahnya pemandangan alam yang disuguhkan, walaupun ada beberapa pengunjung yang mencoba berteriak memanggil untuk mendapatkan perhatian dari mereka. Pagi itu saya sungguh merasa beruntung, dapat merasakan indahnya ciptaan Sang Pencipta yang sungguh tak bisa diuangkap dengan kata-kata. Hamparan perbukitan berwarna hijau, sungai yang berkelok membelah bukit, kabut putih tipis yang menyelimuti permukaan bukit, hingga kawanan primata liar yang seolah hidup tenang di antara lebatnya perbukitan. Sungguh sebuah pagi yang menakjubkan di gardu pandang Kebun Buah Mangunan ini.


keterangan :

  • Tiket masuk Kebun Buah Mangunan adalah Rp 5.000,00 per-orang
  • Lokasi Kebun Buah Mangunan ini cocok dijadikan sebagai tempat rekreasi untuk keluarga. Di lokasi ini Anda dapat berwisata agro dengan memetik buah langsung dari pohonnya. Untuk harga buah sudah ditentukan oleh pihak pengelola, tergantung dari jenis buahnya. Anda pun dapat berwisata edukasi, terutama dalam hal proses pembibitan tanaman buah hingga proses pemanenan. Beberapa jenis buah yang menjadi incaran para pengunjung adalah buah durian, jambu air, jeruk, mangga, dan sebagainya.
  • Selain melihat koleksi kebun buah, lokasi ini juga sudah dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti play ground dan juga dilengkapi dengan koleksi beberapa satwa seperti rusa untuk menambah daya tarik Kebun Buah Mangunan ini.
  • Lokasi gardu pandang Kebun Buah Mangunan juga biasa dijadikan tempat syuting beberapa film televisi (FTV) dan acara televisi lainnya karena pemandangannya yang cukup menawan. Konon kontur pemandangan bukit dengan aliran sungai yang berkelok ini mirip seperti pemandangan di Hutan Amazon, Brazil. Tak ketinggalan para fotografer pun tidak mau ketinggalan untuk mengabadikan keindahan alam dari gardu pandang ini dengan bidikan kamera mereka.

Sabtu, 26 Januari 2013

Gumuk Pasir Parangtritis - Menikmati Hamparan Gurun Pasir ala Jogja

Jogja memiliki pesona alam yang seolah tak habis untuk dieksplorasi. Mulai dari deretan pantai-pantai cantik di pesisir selatan, pemandangan pegunungan, goa-goa yang beraneka macam, air terjun, bahkan gurun pasir pun dapat kita temukan.


Mengeksplorasi keindahan alam di wilayah Yogyakarta memang seolah tidak ada habisnya untuk dijelajahi. Kita pun seolah dimanjakan dengan pilihan wisata alam yang sangat beragam. Tak hanya deretan pegunungan dan juga hamparan pantai-pantai yang membentang di pesisir selatan, Yogyakarta juga memiliki sebuah gurun pasir yang tak kalah menarik. Mungkin bagi sebagian orang akan terasa sangat janggal mengingat Yogyakarta memiliki iklim tropis yang hampir tidak memungkinkan untuk munculnya gurun pasir.  Gurun pasir sendiri memang cukup populer dan dapat mudah ditemukan di negara-negara yang berada di kawasan Timur Tengah. Jika di Jogja, fenomena padang pasir ini diberi sebutan gumuk pasir. Gumuk sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya gundukan tanah yang menyembul ke atas. Anda dapat melihat fenomena alam ini membentang dari Pantai Parangtritis hingga hilir Sungai Opak. Akses jalurnya cukup mudah, tinggal susuri saja jalan yang menghubungkan antara Pantai Parangtritis, Pantai Parangkusumo, dan Pantai Depok.


Asal-muasal gumuk pasir ini tidak bisa dilepaskan dari muntahan material vulkanik bekas letusan Gunung Merapi yang terbawa oleh aliran Sungai Progo dan Sungai Opak yang bermuara di Samudera Hindia. Material vulkanik tersebut mengalami hempasan gelombang samudera yang kuat sehingga mengalami penggerusan menjadi butiran-butiran partikel pasir yang sangat kecil dan lembut. Butiran-butiran partikel pasir tersebut terbawa oleh angin dan lama-kelamaan membentuk sebuah gundukan yang mirip seperti bukit. Pembentukan fenomena gumuk pasir ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Gumuk pasir ini memang istimewa karena diklaim sebagai salah satu gumuk pasir yang terdapat di daerah beriklim tropis.


Gumuk pasir ini memiliki fungsi yang boleh dikatakan cukup beraneka macam. Bagi para wisatawan tentu saja keberadaan gumuk pasir ini dapat dijadikan sebagai wisata alternatif ketika Anda berkunjung di kawasan Pantai Parangtritis. Beberapa artis seperti Agnes Monica dan grup band Letto pernah membuat video klip di kawasan gumuk pasir ini. Acara syuting FTV pun juga sering mengambil scene di gumuk pasir ini karena pemandangannya yang bagus. Gumuk pasir juga menjadi salah satu lokasi incaran bagi para fotografer yang ingin mengabadikan pemandangan gumuk pasir dengan bidikan kamera mereka. Selain itu, kawasan gumuk pasir ini juga dijadikan sebagai tempat diadakannya sholat ied dan juga manasik bagi calon jemaah haji yang akan berangkat menunaikan ibadah di tanah suci. 

Bagi kalangan akademisi, keberadaan gumuk pasir merupakan laboratorium alam yang dapat dijadikan sarana untuk menambah maupun mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika di kawasan gumuk pasir ini dibangun Laboratorium Geospasial Pesisir, kerja sama antara Fakultas Geografi UGM dengan Pemerintah Kabupaten Bantul. Tugas utamanya adalah melakukan riset yang berhubungan dengan kepesisiran, seperti tentang keberadaan gumuk pasir, peta potensi keberadaan ikan yang berguna bagi para nelayan, maupun pembuatan data spasial.


Gumuk pasir memiliki perubahan suhu yang sangat ekstrim antara siang dengan malam. Berhubung saya datang pada siang hari dan cuaca cukup terik, saya memutuskan untuk menikmati pemandangan gumuk pasir dari pinggir jalan saja. Tak kuat rasanya jika harus berjalan kaki melewati hamparan padang pasir dengan sinar matahari yang lumayan menyengat. Dari kejauhan nampak terlihat rombongan yang sedang melakukan uji coba gantole. Mungkin saja gantole-gantole ini akan diperagakan dalam acara Jogja Air Show yang akan diadakan awal bulan Februari 2013 besok. Oh iya, wilayah gumuk pasir ini juga sering dijadikan sebagai wahana untuk berolahraga off road. Saya jadi ingat iklan Wonderful Indonesia di mana salah satu adegannya adalah bermain ski di atas padang pasir. 

Jumat, 25 Januari 2013

Pantai Parangendog - Menikmati Sisi Lain Bagian Timur Pantai Parangtritis

Nama Pantai Parangendog mungkin memang masih cukup asing di telinga para wisatawan. Nama Pantai Parangtritis memang lebih familiar bagi para wisatawan karena pantai ini memang pantai yang sangat terkenal di pesisir selatan Jogja. Pantai Parangendog sendiri merupakan sebutan untuk pantai yang terletak di ujung timur Pantai Parangtritis, tepatnya dekat dengan tebing-tebing. 


Nama Parangendog sendiri mungkin lebih familiar untuk sebutan bukit yang terletak di atas Pantai Parangtritis. Kita dapat melihat hamparan pesisir pantai selatan dari arah Bukit Parangendog ini. Pantai Parangendog terletak tidak jauh dari air terjun musiman yang hanya muncul pada saat musim penghujan ini. Pantai ini memiliki hamparan pasir yang cukup landai dan ombak yang lumayan tenang, namun Anda harus penuh dengan kewaspadaan. Pantai Parangendog ini cukup relatif lebih sepi jika dibandingkan dengan Pantai Parangtritis, walaupun lokasi keduanya cukup berdekatan. 




Satu hal yang menjadi keunikan pantai ini adalah hamparan bebatuan karang yang cukup besar seolah berhamburan di beberapa sudut pantai. Kita serasa diajak untuk menikmati sisi lain keindahan dari Pantai Parangtritis. Beberapa pedagang pun juga menggelar dagangan mereka di area ini berharap ada pembeli yang ingin membeli dagangan mereka. Selain itu jika Anda beruntung, Anda akan menemukan orang-orang yang sedang menghabiskan waktu mereka untuk memancing. Perkiraan saya sih, mereka adalah nelayan yang berasal dari penduduk setempat, atau mungkin malah orang-orang yang mempunyai hobi memancing? Pemandanan orang yang sedang memancing ini dapat Anda jadikan obyek bidikan lensa kamera Anda bagi yang gemar memotret human interest. 




Beruntung pagi itu saya mendapati sekelompok muda-mudi yang mungkin saja mereka adalah seniman. Mereka membuat patung orang yang terbuat dari pasir pantai. Patung dengan posisi tertelungkup itu benar-benar artistik, mirip sekali dengan bentuk orang sungguhan. Sungguh sangat kreatif mereka ! Well, as usual satu hal yang menjadi kekurangan pantai ini adalah tumpukan sampah yang sangat mengganggu pemandangan. Hamparan sampah bertebaran di sepanjang pantai, baik itu sampah bungkus plastik makanan yang berasal dari pengunjung yang tidak bertanggung jawab, maupun sampah-sampah yang terbawa oleh ombak. Mungkin saja suatu saat kelak di Pantai Parangtritis perlu diadakan kerja bakti massal yang melibatkan pengunjung untuk bersih-bersih pantai kali ya, biar pantai tidak dipenuhi oleh hamparan sampah !




Selain hamparan sampah, saya juga melihat bunga mawar yang bertebaran di beberapa sudut pantai. Tidak heran sih dengan keberadaan bunga-bunga yang bertebaran ini. Pantai Parangtritis kan memang menjadi salah satu pantai yang digunakan untuk ritual di wilayah Jogja ini. Ya, walaupun masih banyak pemandangan sampah-sampah yang menghampar, tapi saya cukup menikmati perjalanan saya mengelilingi Pantai Parangendog ini di pagi hari. 

Air Terjun Parangendog - Air Terjun Musiman di Pantai Parangtritis

Di antara hamparan pasir lembut dan deburan ombak yang menantang, Pantai Parangtritis memiliki air terjun musiman yang tak kalah menawan untuk diabadikan.


Pantai Parangtritis memang pantai yang cukup tersohor di pesisir selatan Jogja yang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan legenda tentang Nyi Roro Kidul sang penunggu pantai pesisir selatan Jawa. Pantai ini menjadi lokasi wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Jogja. Selain menikmati hamparan pasir serta deburan ombak, pantai ini menyimpan keunikan yang tidak dapat kita temui setiap saat. Keunikan tersebut adalah keberadaan sebuah air terjun yang hanya dapat kita temui di musim penghujan saja. Beberapa orang ada yang menamai air terjun ini dengan nama air terjun Parangtritis, namun ada pula yang menyebut air terjun Parangendog.




Air terjun ini cukup mudah ditemukan, terletak di bagian timur dari Pantai Parangtritis, dekat dengan deretan tebing-tebing. Untuk sampai ke lokasi, Anda dapat berjalanan kaki atau menyewa jasa bendi maupun jasa kuda jika tidak ingin merasa lelah berjalan kaki. Air terjun ini berasal dari aliran sungai yang berasal dari perbukitan karst, di mana debit air hanya ada ketika musim penghujan tiba. Jika musim kemarau jangan harap dapat menemukan air terjun ini, yang ada Anda hanya menemukan bongkahan-bongkahan batu karang khas daerah perbukitan karst. Anda pun dapat menikmati aliran air terjun yang terasa tawar di antara hamparan pasir pantai yang luas serta aliran ombak yang memiliki air yang terasa asin.



Anda tak perlu membayar retribusi lagi untuk menikmati air terjun ini karena harga tiket sudah menjadi satu paket ketika Anda membayar retribusi di loket menuju Pantai Parangtritis. Air terjun Parangendog yang terletak di Pantai Parangtritis ini bisa Anda jadikan alternatif wisata khusus karena hanya dapat Anda saksikan saat musim penghujan tiba.