Tampilkan postingan dengan label Baluran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baluran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Desember 2014

Menikmati Suasana Pagi di Pantai Bama, Situbondo

Minimnya pasokan listrik dan tidak adanya sinyal provider selular terkadang membuat kita uring-uringan. Namun, pemandangan alam yang ditawarkan serta ketenangan yang kita dapatkan, membuat kita lupa dengan minimnya fasilitas yang ada.

Keheningan suasana di sekitar Pantai Bama pagi itu tiba-tiba saja pecah oleh suara kawanan monyet ekor panjang yang berlarian menuju pantai yang sedang surut. Saya tak tau pasti berapa banyak jumlahnya, mungkin puluhan, atau bahkan ratusan ekor yang tiba-tiba saja berhamburan dari dalam hutan. Saya sedang duduk di tepi pantai menanti matahari terbit pun mendadak panik, kemudian berlari menuju ke dalam cottage lalu mengunci pintu. Padahal pagi itu masih cukup gelap, masih sekitar pukul empat. Dari balik kaca jendela saya mencoba mengamati perilaku macaca di pagi buta.


Ada perilaku unik dari kawanan monyet ekor panjang ini di kala pagi di Pantai Bama. Mereka berlarian menuju pantai Bama yang sedang surut untuk mencari makan. Mereka mencari kepiting kecil, udang atau ikan-ikan kecil yang bersembunyi di celah-celah batu karang dengan cara memancing menggunakan ekor mereka. Ada pula beberapa macaca yang terlihat memakan rumput laut segar. Saya yang dari tadi panik pun kembali tenang. Kawanan macaca ini tidak tertarik dengan pengunjung yang datang, melainkan hanya mencari makan di pantai yang sedang surut. Padahal jika hari sudah menjelang siang, biasanya kawanan macaca ini cukup agresif kepada pengunjung yang datang di Pantai Bama, terlebih kepada pengunjung yang datang membawa makanan pasti akan menjadi incaran mereka.



Saya pun kembali keluar cottage menuju ke tepi pantai untuk menanti matahari terbit. Saya pun bisa duduk dengan tenang sambil mengamati tingkah laku kawanan macaca. Selain macaca, ada pula beberapa jenis burung yang hinggap dan mencari makan di sela batu karang. Saya melihat ada seekor burung kecil berwarna biru, sungguh cantik penampilannya. Tapi saya lupa nama burung tersebut, padahal di dinding cottage yang saya huni, tertera beberapa jenis burung yang sering singgah di Baluran, lengkap dengan foto dan namanya.


Perlahan matahari mulai menampakkan wujudnya. Air laut yang sedang surut membuat saya dapat melihat jelas bagaimana penampakan dasar Pantai Bama. Tidak banyak terdapat bebatuan karang, hanya terlihat tanaman rumput laut yang tumbuh subur. Ah, saya masih penasaran dengan pemandangan dasar laut di sekitar Pantai Bama yang katanya masih cukup terjaga terumbu karangnya. Sayang, saya belum memiliki kesempatan untuk mencicipi pemandangan dasar lautnya dengan bersnorkling. Mungkin bagian terumbu karang yang cantik masih berada di tengah laut sana. Kapan-kapan, saya ingin kembali datang untuk menuntaskan rasa penasaran saya dengan pemandangan bawah air di Pantai Bama.

Mangrove Trail
Selain pasir putih dan ombak biru yang tenang, Pantai Bama juga memiliki kawasan hutan mangrove dengan pemandangan yang tak kalah ciamik. Tinggal susuri saja bagian barat Pantai Bama kemudian menuju jalan setapak melewati dalam hutan. Di situlah lokasi Mangrove Trail untuk melihat sisi lain Pantai Bama.


Kawasan Mangrove Trail ini memiliki jembatan kayu yang menghubungkan ke sisi lain pesisir pantai Bama melewati deretan pohon mangrove. Di bagian akhir jembatan terdapat bangunan gazebo untuk beristirahat sejenak sambil melihat pemandangan di sekitar. Deretan jembatan kayu dan bangunan gazebo yang dipadukan dengan pemandangan alam di sekitar Pantai Bama ini rasanya cocok dijadikan sebagai lokasi pre-wedding !

Saya berdiri di dalam bangunan gazebo, menikmati suasana pagi dengan memandang hamparan laut lepas. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan kemarin rasanya terbayar tuntas dengan pemandangan alam yang ditawarkan di Pantai Bama di kala pagi. Hijaunya hutan mangrove yang tumbuh subur di sepanjang garis pantai, birunya air laut, tenangnya ombak, segarnya udara pagi jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota. Menikmati pagi di Pantai Bama memang pas untuk melepas sejenak kepenatan di dalam jiwa.


Kami pun kembali menuju cottage, bersiap untuk berkemas dan membersihkan diri. Sesuai dengan perjanjian kami tadi malam, kami harus meninggalkan cottage lebih pagi karena akan digunakan oleh tamu yang sudah memesan. Kami kembali menyusuri jembatan kayu sambil mengamati kondisi di sekitar kawasan Mangrove Trail ini. Bagi Anda yang menyukai hal yang berhubungan dengan flora, saya yakin Anda pasti akan senang menjelajahi hutan di sekitar Mangrove Trail ini. Ada beberapa jenis tanaman menarik yang hidup di kawasan ini.


Salah satu jenis tanaman yang tumbuh subur di kawasan ini adalah pohon ketapang. Saya baru tahu bagaimana bentuk dari pohon ketapang yang terkenal menjadi salah satu nama daerah di Banyuwangi. Selain beberapa jenis tanaman yang tumbuh subur, tentu saja pohon mangrove menjadi "primadona". Deretan pohon bakau yang tumbuh subur menyajikan pemandangan unik walau sedikit memberikan kesan "menyeramkan", terlebih ketika cahaya matahari belum bersinar terang. Deretan batang pohon mangrove yang menjulur sedemikian rupa terlihat seperti memiliki tangan dan kaki. Kami pun membayangkan jika pohon-pohon mangrove ini tiba-tiba saja hidup kemudian mengejar kami seperti dalam salah satu adegan film Lord of The Ring. Ah, sepertinya imajinasi kami pagi itu terlalu liar !

Selasa, 25 November 2014

(Terpaksa) Safari Malam di Baluran

Ini kali kedua saya mengunjungi Taman Nasional Baluran di tahun yang sama. Perjalanan pertama saya memang memberikan banyak kesan, namun masih menyisakan rasa penasaran akan suasana little Africa yang menjadi primadona. Kunjungan pertama saya di bulan Mei belum terlalu memberikan nuansa "Afrika" karena rerumputan dan pepohonan masih nampak cukup hijau. Kata Pak Iman, tukang ojek yang kami sewa jasanya waktu itu bercerita jika ingin mencicipi suasana gersang ala Afrika, datanglah pada musim kemarau yang jatuh sekitar bulan Oktober sampai November, di mana Baluran sedang kering-keringnya !

Negosiasi di Pintu Kedatangan
Kami tiba di Baluran jelang tengah malam. Kali ini saya merasa penjagaan di pintu gerbang cukup ketat dari kedatangan pertama saya. Kami pun bertanya mengenai kondisi di Baluran sekarang, apakah bisa dikunjungi oleh wisatawan, mengingat ada berita yang menyebutkan bahwa beberapa Taman Nasional di Indonesia mengalami kebakaran karena musim kemarau yang panjang sehingga akses untuk menuju ke sana ditutup bagi wisatawan. Dari informasi petugas pula saya tahu jika fasilitas penginapan di dalam Taman Nasional Baluran sudah dibuka kembali bagi wisatawan. Namun, bagi wisatawan yang ingin menginap di dalam Taman Nasional diwajibkan untuk melakukan reservasi sebelumnya dan memberikan kabar jam kedatangan mereka. Jam masuk pengunjung menuju ke dalam Taman Nasional Baluran paling sore adalah pukul empat. Lebih dari jam yang ditentukan masih bisa diperbolehkan masuk ke dalam, dengan catatan pengunjung harus memberikan kabar kira-kira jam kedatangan mereka di gerbang Taman Nasional Baluran pukul berapa agar dapat dikoordinasikan dengan petugas yang berjaga di dalam Taman Nasional, serta tak lupa wajib melakukan reservasi penginapan jauh-jauh hari sebelumnya.

Hampir saja kami tidak bisa menginap di dalam area Taman Nasional Baluran karena ketidaktahuan kami dengan prosedur yang diberlakukan sekarang. Terlebih kami juga belum melakukan reservasi penginapan sebelumnya. Setelah melakukan negosiasi dan sedikit perdebatan kecil, kami pun diizinkan untuk menginap di dalam kawasan Taman Nasional Baluran dengan beberapa catatan. Dari dua lokasi penginapan yang ditawarkan, kami memilih untuk menginap di kawasan Pantai Bama dengan pertimbangan mengejar pemandangan matahari terbit keesokan harinya. Konsekuensi menginap di Pantai Bama adalah tidak adanya sinyal telepon serta fasilitas listrik yang terbatas jm operasinya. Kami pun disarankan untuk membeli perbekalan seperti lilin dan logistik untuk persiapan. Usai negosiasi jadi, kami pun bergegas menuju sebuah minimarket yang tak jauh dari lokasi gerbang Taman Nasional Baluran. Dengan baik hati, tukang ojek yang akan kami sewa menuju area Taman Nasional Baluran pun mengantarkan kami ke minimarket untuk membeli beberapa perbekalan.

Safari Malam di Tengah Hutan
Ini adalah kali pertama saya menyusuri hutan ketika malam. Ngeri-ngeri sedap ! Saya ingat beberapa cerita yang menyebutkan adanya macan tutul yang berkeliaran ketika malam di sekitar Evergreen Area. Entah, saya tidak bisa membayangkan jika harus berpapasan secara langsung dengan macan tutul dalam perjalanan. Terlebih perjalanan yang saya lakukan jelang tengah malam menyusuri hutan. Jalan dari pintu gerbang menuju Savanna Bekol terasa sangat berdebu ketika musim kemarau. Walau hari sudah menjelang tengah malam, namun debu-debu masih terasa cukup pekat beterbangan diterpa ban kendaraan. Jalan aspal kasar yang dilalui pun saya rasa kondisinya semakin rusak. Walaupun demikian saya mencoba paham. Akses ke dalam Taman Nasional lebih baik tidak dibuat gampang, karena fungsi Taman Nasional sebagai balai konservasi flora dan fauna yang hidup di dalamnya. Justru kontur jalan yang sedemikian rupa memberikan sensasi tersendiri ketika berkendara !

Kami bertiga dibonceng dengan ojek motor untuk menuju Pantai Bama. Sepanjang perjalanan saya asyik berbincang dengan Pak Zack, tukang ojek yang mengantarkan saya. Cerita punya cerita, ternyata beliau baru saja pulang merantau dari Riau. Pantas saja jika plat motor yang saya tumpangi memiliki kode yang berbeda dengan plat motor lain yang ada di kawasan ini. Saking asyiknya berbincang tanpa sadar kami pun terpisah dari rombongan. Mbak Pipit sudah berada jauh di depan, saya berada di tengah, dan dokter Pink masih jauh di belakang. Saya tidak bisa membayangkan jika motor kami terjadi apa-apa di tengah hutan dengan kondisi gelap. Apalagi malam ini motor yang saya boncengi sepertinya mengalami masalah pada rantai yang sedikit kendor, sehingga dalam beberapa medan jalan terdengar seperti suara benturan dari motor. Deg-degan juga sih, apa iya jika motor kami macet atau mengalami ban bocor, kami harus mendorong motor dengan jarak puluhan kilometer di tengah gelapnya area hutan? 

Motor yang ditumpangi mbak Pipit ternyata berhenti menanti kami. Mbak Pipit pun bercerita jika dia baru saja bertemu dengan macan tutul, walau tidak melihat sosok tubuhnya secara utuh, hanya terlihat dari sorot matanya yang tajam saja. Hal ini semakin membuat kami merasa ngeri menempuh perjalanan di dalam hutan ketika malam. Namun, perjalanan kali ini memberikan saya banyak kesan. Kapan lagi kami dapat kesempatan merasakan "safari malam" di Taman Nasional Baluran? Sungguh kebetulan yang memberikan banyak kesan.

Menempuh jarak sekitar 15 kilometer di dalam hutan ketika malam memberikan kesan perjalanan yang kami lakukan terasa lebih panjang dibandingkan ketika saya pertama kali berkunjung di Taman Nasional Baluran ketika siang. Pak Zack bercerita jika beberapa titik di Taman Nasional Baluran telah terjadi kebakaran beberapa hari sebelum kedatangan saya dan kawan-kawan. Semak-semak yang mengering di musim kemarau memang cukup rentan terbakar. Tidak diketahui pasti apa penyebabnya, apakah karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab yang sembarangan membuang puntung rokok mereka atau karena gesekan antara pepohonan yang disebabkan oleh hembusan angin yang akhirnya menimbulkan percikan api dan menyebabkan kebakaran.

Sepanjang perjalanan menyusuri Taman Nasional Baluran, kami beberapa kali berpapasan dengan kawanan rusa yang berkeliaran di antara semak-semak. Ada pula beberapa hewan lain yang berkeliaran, namun tak begitu jelas hewan apa yang kami temui dalam perjalanan. Saya hanya sedikit panik ketika mendengar suara krasak-krusuk dari balik semak dan pepohonan. Siapa tahu si macan tutul tiba-tiba saja keluar memberi kami "kejutan selamat datang" kan?

Hampir satu jam perjalanan kami menyusuri hutan. Nampak dari kejauhan cahaya lampu bersinar cukup terang, pertanda kami akan tiba di area penginapan di Pantai Bama. Tak disangka, ternyata saya bertemu kembali dengan Pak Iman yang tempo hari saya sewa jasanya. Pak Iman yang memboncengkan teman saya dan berada cukup jauh di antara rombongan saya malam ini. Ah, siapa sangka, ternyata Pak Imam masih ingat dengan saya yang beberapa bulan lalu telah memakai jasanya berkeliling di Baluran. Rasanya saya seperti mendapatkan keluarga baru. Ketika kembali berkunjung ke lokasi yang pernah saya datangi, ternyata ada orang yang masih ingat dengan kedatangan saya tempo hari. Terkadang perjalanan memang tidak hanya soal cerita mengenai destinasi, namun juga dengan orang-orang yang kita temui !

keterangan :
Penginapan di dalam Taman Nasional Baluran sudah dibuka kembali bagi wisatawan. Untuk dapat menginap di sini disarankan untuk menghubungi jauh-jauh hari pihak pengelola Taman Nasional Baluran untuk melakukan pemesaran penginapan (baik penginapan di kawasan Bekol maupun Bama)

Untuk infomasi lebih lanjut dapat membuka website Taman Nasional Baluran di sini
Informasi penginapan di Pantai Bama dapat menghubungi Koperasi Balupuri Sejahtera di nomor (0333) 461936

Note :
Saya tidak menyarankan untuk tetap nekat untuk memaksa masuk ke dalam area Taman Nasional Baluran ketika malam seperti yang saya lakukan. Petugas jaga di pintu kedatangan sudah menjelaskan apa saja resikonya jika tetap memaksa menyusuri hutan ketika malam. Untuk mendapatkan informasi mengenai ketersediaan penginapan dan sebagainya silahkan untuk menghubungi CP di atas atau akses website milik Taman Nasional Baluran untuk informasi lebih lanjut.

Saya sarankan lebih baik Anda melakukan pemesanan kamar atau penginapan terlebih dahulu jauh-juh hari sebelum hari kedatangan kepada pihak Taman Nasional Baluran jika ingin menginap di dalam area Taman Nasional ini :)

Kamis, 05 Juni 2014

Bertemu Kawanan Hewan Liar di Baluran

Bertemu hewan liar di alam lepas tentu saja menjadi sebuah pengalaman tersendiri yang cukup menyenangkan. Biasanya kebun binatang menjadi alternatif tempat untuk melihat berbagai jenis satwa, namun mereka semua berada di dalam kandang, bukan di alam bebas yang luas. Berbeda dengan Taman Nasional Baluran yang menawarkan pengalaman melihat kawanan hewan liar hidup bebas di alam lepas.


Usai menikmati Pantai Bama, Pak Sukir, tukang ojek yang kami sewa memberi tahu bahwa beliau melihat kawanan rusa yang sedang beristirahat di semak-semak tak jauh dari Pantai Bama ini. Tanpa berpikir panjang saya pun meminta beliau untuk menemani kami menuju ke lokasi. Benar saja, di balik semak-semak terdapat puluhan rusa yang sedang beristirahat, sebagian besar merupakan rusa kecil yang masih anak-anak. Rasanya gemas ingin melihat rusa-rusa tersebut dari dekat, namun Pak Sukir menyarankan agar kami tetap menjaga jarak agar rusa-rusa tersebut tidak kabur ke dalam hutan sehingga kami tidak bisa mengamati mereka.




Puas melihat rusa dari balik semak-semak, perjalanan pun kami lanjutkan kembali ke Savanna Bekol. Sepanjang perjalanan pulang kami disuguhi pemandangan yang jarang kami temukan di dalam kehidupan sehari-hari di perkotaan. Kami melihat kawanan rusa yang berjumlah ratusan ekor, kawanan kerbau hutan, serta kawanan burung merak yang berkumpul di Savanna Bekol untuk mencari minum. Rasanya gemas, ingin sekali berlari mendekati kawanan hewan tersebut di alam lepas. Namun kami tahu, hal tersebut akan menganggu, dan tentu saja hewan-hewan tersebut akan berlarian mengindar, atau malah mendekat untuk menyeruduk dengan tanduknya karena keberadaan kami akan mengusik habitat mereka. Pengunjung yang melihat kawanan hewan liar ini disarankan untuk tetap berada di atas kendaraan agar tidak membuat kaget hewan-hewan yang sedang berkeliaran. Jangankan mendekat, mendengar suara kendaraan saja sudah membuat mereka bersiaga untuk lari menyelamatkan diri.


Ah, senang rasanya dapat melihat secara langsung kawanan satwa yang berkeliaran lepas di padang savanna. Walau saya tidak bisa puas untuk mengambil gambar karena harus konsentrasi mengendarai motor. Belum lagi jarak mereka yang cukup jauh dan kamera saya tidak bisa menjangkau mereka dengan kekuatan zoom yang ada di kamera.

Senin, 02 Juni 2014

Pantai Bama - Melepas Lelah Usai Menjelajah Padang Savanna

Jalan setapak berdebu dan berbatu membentang sepanjang kurang lebih tiga kilometer membelah padang savanna. Udara yang panas nan kering tetap setia menjadi teman perjalanan selama berkelana. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana orang-orang yang nekat untuk memutuskan jalan kaki dari savanna Bekol menuju Pantai Bama. Panas, kering, berdebu, namun pemandangan selama perjalanan memang bisa menjadi obat lelah yang mujarab. Sebuah goresan kuas Sang Hyang Widhi yang maha sempurna, komposisi dari pemandangan savanna, pepohonan yang beraneka rupa, dengan Gunung Baluran sebagai latar belakangnya.


Laju motor kembali saya hentikan ketika memasuki hutan menjelang gerbang masuk Pantai Bama. Saya melihat deretan pohon yang menjulang tinggi bak salah satu scene film Avatar. Tumbuhan sejenis pohon lontar ini memberikan pemandangan cantik dengan latar belakang langit biru yang bersih. Beberapa pohon nampak sudah tidak memiliki daun, hanya terlihat butiran biji-biji dengan jumlah yang cukup banyak di bagian dahan. Menurut Pak Sukir, tukang ojek yang mengantar kami, pohon sejenis lontar inilah yang mendapat julukan "mati satu tumbuh seribu". Jika pohon induk mati, maka akan muncul banyak tunas baru yang berasal dari biji-biji pohon yang jatuh ke tanah. Usai menikmati pemandangan pohon "mati tumbuh seribu" ini pun perjalanan kami lanjutkan menuju Pantai Bama yang memiliki deburan ombak yang cukup tenang.



Pantai Bama masih merupakan bagian dari Taman Nasional Baluran. Pantai ini terletak di sebelah timur, maka tak heran jika pantai ini sering dijadikan sebagai salah satu lokasi untuk berburu matahari terbit. Pantai Bama memiliki garis pantai yang tidak terlalu panjang, memiliki pasir pantai berwarna putih, ombak yang tenang, serta gradasi warna air laut yang cantik, terdiri dari warna biru tua, biru muda, dan hijau tosca. Pantai ini memiliki hutan mangrove yang membentang di sisi kiri dan kanan, seolah menjadi pagar pembatas sehingga garis pantainya tidak terlalu panjang. Pantai ini memiliki fasilitas pariwisata yang cukup lengkap, tengok saja ada beberapa bangunan berbentuk cottage yang digunakan pengunjung untuk meninap, fasilitas mushola dan MCK, serta tidak ketinggalan fasilitas arena permainan seperti ayunan dan flying fox. Namun sayang, kesemua fasilitas tersebut sekarang sedang ditutup karena menunggu perpanjangan izin dari pemerintah pusat. Satu lagi, dengar-dengar pemandangan bawah laut di sekitar Pantai Bama ini juga tak kalah cantik. Dahulu ada persewaan alat untuk snorkling dan juga sewa perahu untuk menuju lokasi, namun semenjak adanya kegiatan monev (monitoring dan evaluasi) serta perbaikan fasilitas di Taman Nasional, hampir seluruh kegiatan tersebut terhenti.


Mungkin benar adanya jika di sekitar Pantai Bama memiliki pemandangan bawah air yang cantik. Saya hanya mengira-ira, dari banyaknya serpihan batu karang yang terbawa ombak hingga akhirnya terdampar di tepi pantai. Satu hal yang saya sukai di Pantai Bama ini adalah suasananya yang cukup tenang sehingga kita dapat mendengarkan alunan angin dan ombak yang seolah sedang membentuk sebuah harmonisasi nada alam yang apik. Selebihnya? Anda harus esktra berhati-hati ketika menikmati pantai ini ! Kenapa? Karena banyak kawanan monyet abu-abu yang menghuni pantai ini. Monyet-monyet ini cukup agresif dengan keberadaan manusia, apalagi bagi Anda yang membawa tas punggung dan juga makanan. Entah naluri atau indra penciuman mereka yang peka, mereka tidak segan-segan untuk merebut barang bawaan Anda jika Anda lengah sedikit saja.


Ada pengalaman menarik mengenai kelakukan monyet-monyet penguni Pantai Bama ini. Ada dua orang wisatawan yang sedang asyik mengambil gambar dan meninggalkan tas mereka. Tak lama kemudian datanglah seekor monyet dengan tubuh besar yang disusul oleh kawanannya langsung mengambil tas tersebut dan membukanya. Untung saja si pemilik tas cukup sigap dan berhasil mengambil kembali tasnya. Coba saja jika si pemilik tas tidak bisa mengambil tasnya, mungkin saja akan fatal hasilnya. Tingkah agresif monyet-monyet di Pantai Bama ini memang tidak bisa dilepaskan dari kelakuan pengunjung yang dahulu sering memberikan makanan kepada mereka sehingga terbentuklah pola seperti sekarang. Mungkin monyet-monyet tersebut berpikir bahwa semua pengunjung yang datang ke Pantai Bama membawa makanan untuk mereka. Saya menyarankan untuk waspada terhadap barang bawaan Anda ketika berada di Pantai Bama ini, lebih baik tidak usah membawa makanan daripada mengundang kerumunan kawanan monyet-monyet ini yang cukup membuat Anda was-was.




Kembali menikmati suasana Pantai Bama, kaki pun saya langkahkan menuju bagian kiri dari pantai ini, melewati hutan dengan pepohonan bakau yang cukup lebat. Di bagian ini saya menikmati sisi lain dari Pantai Bama, tak hanya pasir putih melainkan juga bebatuan hitam yang menghiasi pinggir pantai semakin mempercantik pemandangan. Dari balik pohon bakau ini pula terlihat pemandangan sebuah gunung jika suasana sedang cerah. Di bagian pantai ini sepertinya sering digunakan untuk lokasi camping. Selain lokasinya cukup tenang, di bagian ini pula tidak ada "serangan" dari monyet liar. Namun sayang, mungkin saja kesadaran pengunjung pula masih kurang. Lagi-lagi banyak sampah yang berserakan di area ini. Banyak sampah anorganik seperti botol minuman dan bungkus makanan ditinggalkan di area ini, cukup disayangkan memang.


Terlepas dari kekuarangan yang ada, Pantai Bama memang sebuah tempat yang cukup nyaman untuk melepas lelah sesuai menjelajah padang savanna. Menikmati alunan ombak yang tenang dengan pemandangan gradasi air laut yang kontras menjadi penutup perjalanan yang indah di Taman Nasional Baluran ini. 

Minggu, 18 Mei 2014

Taman Nasional Baluran - Secuil "Afrika" di Tanah Jawa

Image pariwisata Jawa Timur memang tidak bisa dilepaskan oleh pesona Gunung Bromo yang sudah mendunia. Baik pelancong lokal maupun internasional seolah dibuat penasaran dengan pesona matahari terbit serta keindahan pemandangan pegunungan yang ditawarkan. Jika ditelisik lebih dalam, tak hanya Bromo saja yang memiliki pesona keindahan alam yang mempesona, beberapa Taman Nasional di Jawa Timur pun memiliki pemandangan yang tak kalah elok juga. Salah satunya adalah Taman Nasional Baluran di Situbondo yang menawarkan secuil suasana Afrika di tanah Jawa.




Sepiring nasi campur dan es teh manis pun menjadi pengisi tenaga sebelum memulai penjelajahan di Taman Nasional Baluran pagi ini. Tak lupa kami memesan sebungkus nasi beserta lauk sebagai bekal makan siang selama menjelajahi Taman Nasional nanti. Sedikit repot memang, namun tidak lucu saja rasanya jika nanti kelaparan di tengah penjelajahan. Belum lagi informasi dari pemilik homestay yang mengatakan bahwa warung makan di Pantai Bama sedang tutup karena menunggu perpanjangan izin dari pusat yang entah kapan akan datang. Keputusan yang tepat jika kami memilih untuk menyiapkan perbekalan guna berjaga-jaga.
Kaki pun kembali melangkah melanjutkan perjalanan menuju pintu gerbang Taman Nasional Baluran. Si penjaga gerbang dengan ramah mempersilahkan kami menuju bagian informasi untuk mengisi buku tamu dan membayar retribusi. Beliau juga menawarkan untuk menitipkan barang bawaan kami di pos jaga agar kami lebih leluasa. Ah, sepertinya beliau mengerti dengan beban barang yang kami bawa. Namun dengan halus saya menolaknya. Bukan karena takut terjadi apa-apa, namun saya sudah terlalu malas jika harus mengemasi ulang isi barang bawaan yang sudah tertata.

Pepohonan yang tumbuh dengan rindang di sekitar pintu masuk Taman Nasional Baluran memberikan udara yang segar. Kawanan monyet liar dengan lincah bermain-main di sekitar pos informasi seolah menyambut kami pagi ini. Pos informasi masih cukup sepi, hanya terlihat beberapa penduduk setempat yang siap menawarkan jasa ojek untuk menyusuri Taman Nasional Baluran. Usai mengisi buku tamu dan uang retribusi, saya pun sedikit berbasa-basi dengan petugas untuk mencari beberapa informasi. Dari beliaulah saya mengetahui bahwa jika pada malam hari terkadang ada kawanan kerbau liar yang sedang berkubang di belakang bangunan pos informasi ini, pun demikian dengan monyet-monyet liar yang selalu berkeliaran setiap saat. Ternyata kompleks bangunan di sini sudah berada di dalam area hutan !

Dari pos informasi saya melanjutkan penyusuran dengan jasa ojek motor. Tampa basa-basi saya menyewa dua buah sepeda motor untuk mengantarkan kami. Seolah sang empunya kendaraan sudah membaca tabiat kami. Mereka menyerahkan satu buah sepeda motor untuk kami kendarai bersama, sedangkan beliau berboncengan membawakan tas ransel kami dan segera meluncur ke padang savana. Sepertinya beliau paham, jika kami akan sedikit manja, meminta berhenti di sembarang tempat untuk mengambil gambar. Maka dari itu beliau menyerahkan sepeda motornya agar kami leluasa berhenti di mana saja untuk mengambil gambar di mana pun kami suka.

Evergreen Area
Dari pos informasi perjalanan kami lanjutkan memasuki hutan melewati jalan aspal yang sudah mulai usang. Jalanan yang mulai usang ini memberikan sensasi tersendiri dalam mengendalikan kendaraan. Jalanan offroad memasuki area hutan. Saya ingat pesan penjaga pos gerbang tadi malam. Kita bisa membawa mobil untuk menyusuri Taman Nasional, tapi tidak disarankan menggunakan mobil sedan karena akan kandas jika dipaksa melewati jalanan. Sekitar sepuluh menit perjalanan kami memasuki hutan yang dinamai evergreen area. Di area ini nampak pepohonan begitu rindang dengan vegeasi hutan yang cukup rapat. Evergreen area merupakan kawasan hutan yang sepanjang tahun tidak pernah mengalami kekeringan. Daun-daun di area ini nampak selalu berwarna hijau walaupun memasuki musim kemarau. Dedaunan yang rindang membuat nyaman berkendara di kawasan evergreen area ini.



Di tengah-tengah perjalanan di kawasan evergreen area ini kami berhenti sejenak untuk mengamati beberapa jenis kupu-kupu yang sedang berkumpul mengerumuni buah yang jatuh di tengah jalan. Cantik sekali mengamati kupu-kupu ini. Sesekali mereka beterbangan menjauhi buah yang ada di jalan karena ada kendaraan yang melintas. Imajinasi saya melayang membayangkan salah satu tokoh drama Asia yaitu Return of The Condor Heroes yang memiliki kemampuan memanggil kupu-kupu kemudian menari bersama mereka. Menurut penuturan petugas Taman Nasional Baluran, di kawasan evergreen area ini terkadang masih ditemui macan tutul yang berkeliaran di malam hari. Walupun liar, namun macam tutul di Baluran tidak agresif terhadap manusia. Mereka cenderung pemalu dan memilih untuk berlari menghindar ketika bertemu dengan manusia. Makanan utama macan tutul di Baluran adalah lutung hitam yang masih banyak berkeliaran di dalam hutan.



Menara Pandang dan Savanna Bekol
Pesona Taman Nasional Baluran tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan padang rumput yang menjadi salah satu daya tarik tempat ini. Ikon savanna Bekol ini adalah keberadaan kerangka kepala banteng yang di pajang di salah satu sudut savanna. Banyak orang yang mengabadikan foto di kumpulan kerangka banteng ini sebagai bukti bahwa mereka pernah berkunjung di Baluran. Suasana savanna Bekol akan lebih menarik jika memasuki musim kemarau di mana rerumputan sudah mulai mengering, daun-daun di pepohonan sudah menguning, dipadu dengan latar belakang Gunung Baluran yang berselimut awan biru, memberikan nuansa seolah-olah kita sedang berada di Afrika. Maka tak heran, banyak orang menjuluki Baluran sebagai Africa van Java !





Ada cara lain untuk menikmati savanna Bekol ini, yaitu dengan naik ke menara pandang untuk menikmati pemandangan dari ketinggian. Kami harus mendaki sebuah bukit yang tak terlalu terjal melewati beberapa anak tangga yang sudah dibangun permanen. Kita dapat melihat sepertiga dari keseluruhan luas Taman Nasional Baluran ini yang mencapai total sekitar 25.000 hektar dari atas menara pandang ini. Di sini kita dapat melihat pemandangan hutan yang rapat, padang savanna yang luas serta pemandangan Gunung Baluran di sisi barat. Di menara pandang ini pula Anda dapat mendengarkan suara-suara burung dan satwa penghuni Baluran yang sedang berada di dalam hutan. Ada suara berbagai macam burung serta monyet yang seolah saling bersahutan. Sungguh sebuah harmonisasi alam yang begitu menenangkan pikiran sejenak keluar dari hingar-bingar bising perkotaan. 



Ketika berada di menara pandang, saya bertemu dengan dua orang siswa SMK Kehutanan yang sedang melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Dari merekalah saya mengetahui kapan hewan-hewan di Baluran ini berkumpul di savanna Bekol. Kawanan hewan ini biasa merumput dan mencari minum pada pagi dan sore hari, yaitu mulai pukul lima sampai tujuh pagi serta pukul tiga sampai lima sore. Jika sedang beruntung, kita dapat melihat kawanan rusa dan kerbau hutan yang berjumlah ratusan sedang merumput dan mencari minum di savanna. Selain itu ada pula burung merak yang berkeliaran di tempat yang sama. Sayang, saya datang sudah terlalu siang, hanya nampak seekor kerbau hutan yang berkeliaran mencari makan dari kejauhan. Mungkin sore nanti saya akan beruntung melihat kawanan hewan penguni Baluran seusai menikmati Pantai Bama yang mencari incaran wisatawan.

Kutukan Pohon Akasia dan Keberadaan Banteng Jawa
Jika Anda amati di bagian gerbang pintu masuk Taman Nasional Baluran, akan Anda temui seekor hewan yang menjadi maskot taman nasional ini. Hewan tersebut adalah banteng jawa, yang kini jumlahnya sudah mengalami ambang kepunahan di alam liar sana. Menurut penuturan anak SMK Kehutanan yang kami temui, jumlah banteng jawa liar di Taman Nasional Baluran tinggal 26 ekor saja yang sudah teridentifikasi. Sedangkan menurut penuturan bapak tukang ojek yang mengantarkan kami, jumlah banteng jawa yang ada di Baluran tinggal berjumlah sekitar 50 ekor saja yang ada di alam lepas. Sungguh ironis memang, hewan yang menjadi maskot Taman Nasional Baluran kini nasibnya sudah diambang kepunahan.



Punahnya populasi banteng jawa di Baluran tidak bisa dilepaskan oleh keberadaan pohon akasia yang kini menjelma menjadi tanaman hama. Sekitar 20 tahun yang lalu, penanaman pohon akasia bertujuan sebagai pagar pembatas agar hewan-hewan yang berada di Taman Nasional Baluran ini tidak lepas ke perkampungan penduduk. Namun, lambat laun pohon akasia ini berubah menjadi tanaman hama karena pertumbuhannya yang cukup cepat. Banyak banteng jawa yang mati karena memakan pohon akasia ini. Pohon akasia memiliki duri-duri yang cukup tajam sehingga menganggu pencernakan hewan yang memakan dedaunan dari pohon tersebut. Selain membunuh hewan yang memakan daunnya, pohon akasia juga menghambat pertumbuhan tanaman yang berada di bawahnya. Bahkan saking cepat pertumbuhannya, banyak padang savanna yang sekarang tertutup oleh keberadaan pohon akasia.



Sudah banyak usaha yang dilakukan petugas Taman Nasional Baluran untuk memusnahkan pohon akasia yang tumbuh sebagai hama. Cara yang paling aman untuk memusnahkan pohon akasia adalah dengan cara menebang kemudian mengolesi racun pada batangnya. Cara ini dianggap lebih aman daripada membakar maupun menyebarkan racun melalui udara karena dapat menganggu kelangsungan kehidupan hewan yang ada di Taman Nasional Baluran ini. Namun, cara menebang dan mengoles racun dirasa kurang efektif karena luasnya cakupan pertumbuhan pohon akasia di kawasan Baluran ini. Banyaknya duri yang tumbuh di pohon akasia juga menyulitkan petugas ketika akan menebang pohon tersebut. Bahkan duri-durinya mampu menembus sepatu boots yang dikenakan oleh petugas. Mengolesi racun pada batang jika tidak merata dan dilakukan dengan benar juga malah akan mempercepat pertumbuhan pohon akasia ini. Biasanya akan muncul cabang baru jika pengolesan racun tidak dilakukan dengan benar. Sungguh pohon yang cukup tahan banting akasia ini.



Untuk melestarikan jumlah populasi banteng jawa, pihak Taman Nasional Baluran membuat sebuah kandang khusus untuk tempat penangkaran dan konservasi semi alami bagi banteng jawa. Kandang tersebut dikelilingi oleh pagar besi yang diberi aliran listrik agar banteng-banteng tersebut tidak kabur. Ada empat ekor banteng di penangkaran ini, terdiri dari satu ekor banteng jantan dan tiga ekor banteng betina. Banteng-banteng ini bukan asli penghuni Taman Nasional Baluran, melainkan didatangkan dari Taman Safari Indonesia untuk ditangkarkan. Ketika kami datang, sudah ada satu ekor banteng sedang hamil dan menurut siswa SMK Kehutanan yang menemani kami berkeliling, banteng tersebut sebentar lagi akan melahirkan.

Jika dilihat dari bentuk fisiknya, banteng jawa memiliki kemiripan seperti sapi bali yang sama-sama memiliki warna kulit kecokelatan. Namun, ada pembeda antara banteng jawa dan sapi bali, yaitu adanya warna putih di bagian kaki dan di bagian pantat, serta bentuk tanduk yang menghadap ke depan. Banteng betina biasanya berwarna cokelat, sedangkan banteng jantan memiliki warna hitam. Tubuh banteng jawa bantuan dari Taman Safari ini lebih kecil dibandingkan dengan banteng jawa endemik Taman Nasional Baluran. Pihak petugas Taman Nasional Baluran sudah melakukan usaha untuk memancing banteng endemik tersebut dengan menempatkan banteng betina agar banteng-banteng liar tersebut terpikat dan kemudian masuk ke dalam kandang. Namun, sampai sekarang usaha tersebut belum membuahkan hasil. Ah, semoga banteng jawa yang menjadi maskot Taman Nasional Baluran ini tidak benar-benar punah dan terjaga jumlah populasinya.



Sebagai sebuah Taman Nasional, Baluran bagi saya menjadi salah satu wisata minat khusus dan juga wisata edukasi. Selain menikmati keindahan alam berupa hutan dan padang savanna dengan latar belakang pegunungan, Taman Nasional Baluran juga bisa menjadi tempat untuk menimba ilmu, terutama mengenai hutan, hewan, dan lingkungan. Sayang rasanya jika datang jauh-jauh ke Taman Nasional Baluran hanya sekedar mencari gambar saja, coba sedikit bertanya kepada petugas di sana untuk menggali informasi serta belajar mengenali alam dan lingkungan. Ah, saatnya kembali melanjutkan perjalanan menuju Pantai Bama melewati hamparan padang savana yang tampak sudah mengering memasuki musim kemarau ini !

keterangan :

  • Untuk berkeliling di Taman Nasional Baluran, Anda dapat menggunakan jasa ojek motor yang disediakan oleh penduduk setempat. Tarif ojek motor untuk rute Savanna Bekol-Pantai Bama pulang-pergi adalah Rp 80.000,00 per-motor. Jasa ojek motor dapat Anda temui di pos informasi dan retribusi.
  • Untuk yang dapat berombongan, Anda dapat menyewa mobil untuk berkeleliling, silahkan menghubungi pegawai Taman Nasional Baluran untuk informasi lebih lanjut.
  • Tarif masuk Taman Nasional Baluran adalah Rp 2.500,00 per-orang (data bulan Mei 2014). Ada kemungkinan tarif masuk tersebut akan naik dengan adanya surat edaran dari pemerintah pusat mengenai tarif baru untuk beberapa Taman Nasional di Indonesia.
  • Ada beberapa wisma penginapan yang disewakan di daerah Bekol dan Bama, namun sampai bulan Mei ini masih menunggu surat keputusan dari pemerintah pusat yang sedang melakukan monitoring dan evaluasi guna memberikan perpanjangan izin. Sampai sekarang pun masih belum jelas kapan wisma-wisma tersebut dibuka kembali untuk umum.
  • Saat ini sudah disediakan homestay yang dikelola oleh penduduk setempat. Lokasi homestay tidak jauh dari pintu masuk Taman Nasional Baluran. Tarif sewa homestay adalah Rp 75.000,00/orang/malam. Untuk menyewa homestay yang dikelola oleh penduduk setempat, silahkan meminta informasi kepada petugas yang berjaga di pos gerbang masuk Baluran, dengan senang hati mereka akan mengantarkan Anda sampai homestay.

Selasa, 13 Mei 2014

Perjalanan dari Jogja Menuju Taman Nasional Baluran

Jika Anda mempunyai mimpi mengunjungi padang sabana di Afrika, tak ada salahnya mencicipi suasana Little Africa yang ada di negeri Indonesia tercinta. Tak salah memang jika Taman Nasional Baluran yang berada di Kabupaten Situbondo memiliki julukan sebagai little Africa atau Africa van Java karena suasana taman nasional tersebut memiliki kesamaan suasana alam seperti di Afrika sana.


Pada perjalanan kali ini saya berkesempatan mengunjungi Taman Nasional Baluran yang berada di ujung timur Pulau Jawa. Perjalanan menuju Taman Nasional Baluran memang memakan waktu yang cukup panjang namun sebanding dengan pengalaman berada di tengah-tengah alam liar yang ditawarkan. Pemandangan hamparan sabana yang luas dengan latar belakang pegunungan seolah menjadi pelepas lelah setelah menempuh perjalanan darat yang memakan waktu seharian. Belum lagi vegetasi hutan yang masih cukup rapat dengan pemandangan kawanan satwa liar berkeliaran di padang rumput untuk mencari makan menjadi pelepas lelah di sore hari. Sungguh sebuah pengalaman menarik bagi Anda penikmat pemandangan alam dan kawanan satwa liar

Ada beberapa alternatif moda transportasi untuk menuju Taman Nasional Baluran. Dalam tulisan ini saya akan membuat sedikit ulasan mengenai perjalanan menuju Taman Nasional Baluran yang saya lakukan awal bulan Mei ini dengan titik awal keberangkatan dari Kota Jogja. Here's the story !

Perjalanan Jogja-Banyuwangi dengan Kereta Api
Pada perjalanan kali ini saya memilih moda transportasi kereta api guna menghemat biaya perjalanan menuju Kota Banyuwangi. Untuk keberangkatan dari kota Jogja, Anda dapat menggunakan kereta ekonomi AC Sritanjung dengan tiket seharga Rp 50.000,00 per-orang (data bulan Mei 2014). Kereta Sritanjung berangkat dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta pada pukul 07.45 pagi dan dijadwalkan tiba di stasiun Banyuwangibaru (Ketapang) pada pukul 20.40 malam. Namun, seperti biasa, untuk kereta dengan "kasta" ekonomi selalu mengalah jika harus bersimpangan dengan kereta yang lain selama perjalanan, terutama dengan kereta kelas bisnis dan eksekutif. Jadilah jadwal kedatangan kereta Sritanjung di Stasiun Banyuwangi mengalami keterlambatan. Kereta yang saya tumpangi kemarin tiba di Stasiun Banyuwangi sekitar pukul 21.30 WIB. Jadi, silahkan persiapkan diri jika menggunakan jasa kereta api ini karena perjalanan dari Jogja menuju Banyuwangi memakan waktu sekitar 13-14 jam perjalanan. Satu lagi, walaupun sudah diberi tambahan fasilitas pendingin ruangan, tetap saja suasana gerbong cukup gerah ketika siang tiba.

Ada baiknya jika Anda melakukan reservasi tiket kereta beberapa hari sebelum keberangkatan. Reservasi tiket kereta api sekarang cukup mudah. Tak perlu lagi repot-repot antri di stasiun untuk mendapatkan tiket. Tinggal reservasi saja via online melalui website KAI atau melalui merchant-merchant yang sudah bekerja sama dengan KAI, seperti Indomart, Alfamart, Kantor Pos, Pegadaian, dan sebagainya. Namun perlu diingat, jika Anda memesan tiket kereta melalui website maupun merchant, Anda akan dikenai biaya tambahan sebesar Rp 7.500,00 untuk sekali pemesanan.

Tips tambahan jika Anda menggunakan jasa kereta api ekonomi, jangan masuk ke dalam gerbong mepet dengan jam keberangkatan. Seperti pengalaman saya kemarin yang masuk ke dalam gerbong sekitar 5 menit sebelum kereta berangkat, alhasil saya tidak memperoleh rak untuk meletakkan barang bawaan yang berada di atas kursi penumpang. Mau tidak mau saya harus memangku barang bawaan karena jika diletakkan di bagian bawah cukup menggangu gerak kaki penumpang. Satu hal lagi, bagi Anda yang akan bepergian ke Banyuwangi menggunakan kereta Sritanjung ini, jangan lupa membawa perbekalan logistik secukupnya selama perjalanan. Silahkan membawa air minum dan makanan secukupnya. Pengalaman saya kemarin, selama perjalanan agak susah ditemui pedagang asongan yang menjual makanan berat selama berhenti di stasiun yang berada di daerah Jawa Timur. Menurut saya, harga makanan yang dijual oleh pedagang asongan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan makanan yang dijual oleh pihak kereta. Dengan membawa logistik dan perbekalan yang cukup akan menghemat biaya pengeluaran makan Anda selama perjalanan.

Stasiun Banyuwangibaru ke Terminal Sri Tanjung Ketapang
Stasiun Banyuwangibaru merupakan pemberhentian terakhir kereta Sritanjung dengan rute Jogja-Banyuwangi. Tidak usah panik dengan penumpang-penumpang yang turun di stasiun sebelumnya, karena untuk menuju Baluran, Anda cukup turun di stasiun ini yang notabennya menjadi pemberhentian terakhir kereta api Sritanjung yang Anda tumpangi.

Dari arah stasiun, silahkan menuju pintu keluar dan berjalanan kaki sampai menemukan jalan besar. Jalan tersebut merupakan jalur utama yang menghubungkan ke arah Pelabuhan Penyeberangan Ketapang yang melayani penyeberangan ke pulau Dewata. Di daerah Ketapang ini silahkan membeli kebutuhan logistik dan perbekalan seperti air minum dan cemilan karena di sekitar sini terdapat minimarket yang beroperasi 24 jam sebelum Anda melanjutkan perjalanan.

Dari Stasiun Banyuwangibaru, perjalanan selanjutnya adalah menuju Terminal Sri Tanjung Ketapang. Dari jalan besar tadi silahkan mencari angkot yang jalan ke arah kiri (jangan menyeberang jalan dari arah stasiun tadi). Angkot di sini biasa beroperasi hampir 24 jam. Angkot yang melayani trayek ke terminal memiliki warna kuning dan biru. Jika Anda takut salah naik angkot, tinggal tanya saja kepada penduduk setempat mengenai angkot yang arah terminal bus tujuan Situbondo atau Surabaya.

Saya lebih menyarankan untuk naik angkot karena jarak dari stasiun ke terminal menurut saya cukup jauh jika harus ditempuh dengan jalan kaki. Ada blog yang mengatakan bahwa jarak stasiun ke terminal sekitar satu kilometer. Namun, dalam perhitungan saya, jarak stasiun ke terminal lebih dari satu kilometer, terlebih lagi jalannya naik-turun serta gelap. Lebih baik Anda menggunakan jasa angkot agar cepat sampai ke terminal. Untuk tarif angkot sendiri berkisar Rp 7.000,00 per-orang dengan jarak tempuh sekitar 10 menit perjalanan.

Ketapang - Baluran dengan Bus Antar Kota Arah ke Surabaya
Sesampainya di Terminal Sri Tanjung, silahkan melanjutkan perjalanan menggunakan bus antar kota yang menuju Surabaya. Biasanya bus yang tersedia adalah bus dengan kelas ekonomi. Silahkan bilang kepada sang kernet jika Anda turun di Baluran, pasti mereka sudah paham tujuan Anda. Tarif tiket bus dari Ketapang menuju Baluran adalah Rp 8.000,00 per-orang (data bulan Mei 2014). Perjalanan dari Ketapang menuju Baluran memakan waktu sekitar satu jam perjalanan dengan medan jalan naik turun tapi cukup menyenangkan. Pak sopir bus akan menurunkan Anda tepat di depan gerbang masuk Taman Nasional Baluran. Jangan heran jika gerbang masuk Taman Nasional Baluran itu terletak di dekat perkampungan penduduk yang jauh dari kesan hutan belantara seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Jujur, ketika sang kernet menyuruh saya turun dari bus, rasanya otak saya mendadak menjadi blank sejenak karena diturunkan di dekat perkampungan penduduk. Sempat terbersit pikiran yang macam-macam ketika saya disuruh turun dari bus karena waktu itu sudah menginjak tengah malam. Sungguh sebuah perjalanan panjang yang cukup melelahkan sekaligus menyenangkan tiba di Taman Nasional Baluran ini.

Note :
Saya tiba di pintu gerbang Taman Nasional Baluran ini sekitar pukul 12 malam. Cukup lelah karena menempuh perjalanan dari pagi hingga tengah malam. Sejak turun dari kereta di Banyuwangi, sengaja saya tidak langsung melanjutkan perjalanan menuju Baluran karena mengisi perbekalan sekaligus mencari makan malam dan beristirahat. Jangan khawatir kena tipu di daerah Banyuwangi dan Baluran. Sepanjang perjalanan saya kemarin, semua orang yang saya temui termasuk orang-orang baik dan jujur. Saya tidak menemui calo dan sebagainya, pun demikian tarif kendaraan umum yang harus saya bayar termasuk tarif yang normal tanpa ada yang dimahalkan.

Walaupun saya tiba sudah larut malam, namun petugas penjaga gerbang Taman Nasional Baluran menyambut kami dengan ramah. Setelah bertanya beberapa hal, kami langsung ditawari homestay di rumah penduduk untuk beristirahat. Tarif homestay tersebut adalah Rp 75.000,00/orang/malam. Para pengunjung ditawari homestay yang dikelola oleh penduduk karena penginapan yang berada di dalam area Taman Nasional Baluran hingga bulan Mei ini belum dibuka untuk umum karena masih menunggu perpanjangan izin dari pemerintah pusat yang sedang melakukan monitoring dan evaluasi lokasi. Entah sampai kapan izin dari pemerintah pusat itu keluar, saya bertanya kepada pegawai Taman Nasional Baluran namun tidak ada satu orang pun yang bisa memastikan.

Cara Lain Menuju Taman Nasional Baluran
Taman Nasional Baluran termasuk salah satu tempat wisata yang cukup mudah dijangkau menggunakan moda transportasi umum maupun kendaraan pribadi. Lokasinya yang berada tepat di jalur lintas utara Surabaya-Banyuwangi memudahkan akses transportasi menuju ke tempat ini.

Ada alternatif lain menuju Baluran selain menggunakan kereta menuju Banyuwangi terlebih dahulu, yaitu dengan menggunakan jasa bus antar kota. Untuk menggunakan bus, saya sarankan dengan estafet saja, walaupun sedikit merepotkan di perjalanan.

Cara estafet menuju Baluran :
Dari Terminal Bungur (Purabaya) di Kota Surabaya, silahkan melanjutkan perjalanan menuju Kota Probolinggo. Tarif bus patas jurusan Surabaya-Probolinggo sekitar Rp 27.000,00 dengan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan. Dari Terminal Probolinggo, silahkan melanjutkan perjalanan menggunakan bus dengan rute Probolinggo-Ketapang. Bus trayek ini akan mengantarkan Anda langsung di depan gerbang masuk Taman Nasional Baluran. Saya tidak tahu berapa harga tiket bus yang harus dibayarkan karena saya belum pernah menggunakan rute ini sebelumnya.

Cara langsungan dari Surabaya :
Pilihan kedua adalah menggunakan bus dari Terminal Surabaya langsung menuju Ketapang. Untuk tarif bus ekonomi dari Surabaya menuju Ketapang sebesar Rp 48.000,00 (data Mei 2014). Tapi saya kurang tau jadwal keberangkatan bus ini dan berapa lama waktu tempuhnya. Harga tiket saya peroleh ketika saya pulang dari Baluran via Ketapang menuju Surabaya. Namun dalam perjalanan menuju Surabaya tersebut ternyata saya dioper dengan bus lain ketika memasuki terminal Probolinggo untuk selanjutnya kembali melanjutkan perjalanan menuju Surabaya.


Sekian review kendaraan umum dari Jogja menuju Taman Nasional Baluran, semoga bermanfaat :)