Tampilkan postingan dengan label Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banten. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2015

Pesona Citerjun Banten

Citerjun yang misterius, dalam kejauhan engkau menyapa dengan kerindangan pepohonan serta segumpal pantai pasir putih.
 Citerjun, Masih di kawasanTaman Nasional Ujung Kulon Banten, entah nama Pulau atau nama Air Terjunnya, yang jelas saya belum tau banyak dan bodohnya lagi, saya tidak menanyakannya pada waktu itu kepada Nakoda  kapal yang menunjukkan kepada saya destinasi ini. Sang Nakoda kapal hanya memberitahukan “selain air terjun di Cimayang, perjalanan berikutnya menuju Citerjun”.
Didalam sebuah Pulau yang saya yakin amat sangat jarang dikunjungi wisatawan inilah ada sebuah airterjun tersembunyi. Sekilas hanya kelihatan pepohonan yang rimbun dan beberapa bidang pasir putih yang menjorok keluar, ternyata tidak jauh dari bibir pantai tersebut terdapat sebuah air terjun, mungkin nama Citerjun adalah nama Air Terjun ini atau orang-orang terbiasa menyebutnya dengan curug. Mengapa asumsi saya mengenai Citerjun adalah nama Air Terjun dan bukan nama Pulau?, karena Citerjun sendiri mempunyai arti Ci adalah Air dan Terjun adalah Terjun itu sendiri, sehingga Citerjun juga mempunyai makna sebuah Air Terjun juga.
Seperti biasa, kali ini kapal kami menurunkan jangkarnya berjarak kurang lebih 40 meter sampai dengan 50 meter dari bibir pantai sehingga kami harus bersenorkeling ria untuk menjangkau bibir pantai. Air lautnya sungguh biru dan jernih, ketika saya bersenorkeling, hanya beberapa ikan yang bisa saya temui, entah mengapa, semakin dekat dengan bibir pantai, kualitas dari terumbu karangnya semakin kurang bagus. Setelah kami mendarat di tepian pantai pasir putih itu, kami melihat banyak pecahan karang yang bercampur pasir putihnya sehingga harus hati hati menginjakkan kaki. Melihat pepohonan dan dan suasananya, kami yakin tempat ini jarang dikunjungi. Kurang lebih saya berjalan dua puluh meteran untuk menemukan air terjun mungil itu. Dengan berjalan berhati-hati karena takut menginjak pecahan batu terumbu karang yang bisa melukai kaki, saya sedikit masuk kedalam rerimbunan di pepohonan pulau itu dan barulah menemukan air terjun yang kami maksud.
Airnya mengalir dan terjun begitu tenang ke dalam subuah kolaman, sehingga menghidupkan rasa penasaran saya untuk mandi di kolaman itu sekaligus mencicipi rasa airnya, hehehehe. Entah mengapa, setelah beberapa pijakan kaki saya masuk kolaman air itu, tiba-tiba saya kehilangan semangat untuk mencoba mandi di kolaman air terjun mungil itu, mungkin karena suasananya yang agak kurang oke barang kali. Kolaman dari air terjun itu tidak seperti kolaman pada air terjun sebelum belumnya, yang biasanya terdiri pasir atau bebatuan. Kolaman di air terjun ini agak bercampur lumpur dan sepertinya lumpur di kolaman ini akibat dari endapan dedaunnan yang rontok dan tertimbun beberapa lama, sehingga bila kita menapakkan kaki kita di kolaman tersebut maka kaki kita akan sedikit masuk atau ambles beberapa centi meter kedalam tanah kolaman tersebut itu.




Tak lama kemudian datanglah teman teman saya sekapal dan kami bersama-sama sedikit menjelajah pulau tersebut, sebenarnya pulau ini asik juga dengan pepohonan yang rindang dan air yang jernih, hanya saja yang membuat saya agak kurang nyaman adalah pecahan-pecahan batu karang yang menutupi hampir semua pesisir pantai pasir putih tersebut. Andai saja suatu saat diterjunkan beberapa orang untuk membersihkan pecahan-pecahan batu karang tersebut, mungkin lain sudah ceritanya.


Cimayang Pesona Banten

Pulau Cimayang, Pulau dengan air terjun mungil dan pantai pasir putih yang sangat bersih. Pepohonan besar tumbuh gagah perkasa diselingi pepohonan kecil dan hamparan perdu sebagai isyarat bahwa kawasan ini masih perawan.
Setelah terpampang di depan kami pemandangan pepohonan hijau dihiasi air laut yang biru maka segera  jangkar diturunkan, entah kenapa hati saya meledak ledak tidak karuan, seolah-olah tidak sabar ingin menyusuri pantai pasir putih  dan mencari air terjun mungil yang diceritakan awak kapal ketika dalam perjalanan.
Setelah kapal turun jangkar, saya segera bergegas menggunakan alat senorkling dan segera berenang menuju pulau Cimayang  Jarak antara kapal yang diparkir dengan pulau kurang lebih lima puluh meter, tanpa berfikir panjang, kami menjangkau bibir pantai dengan senorkling. Ayunan ombak yang menuju pulau membuat pergerakan saya jadi lebih cepat sampai di Pulau Cimayang.
Cimayang, tak saya hiraukan apakah ini nama pulaunya atau nama air terjunnya, yang jelas setelah mendaratkan kaki di bibir pantai yang putih bersih ini, saya terperangah dengan melihat pepohonan yang rindang dan pantai yang bersih dan semoga selamanya pantai ini bersih dan rindang…..Aamiiin.
Pepohonan besar menutupi permukaan pasir dari sengatan sinar matahari dan sinar matahari seolah hanya menerobos bagian terkecil dari rindangnya dedaunan pohon-pohon yang besar itu, sehingga, terasalah keasrian pulau Cimayang dan keteduhan alam yang aduhai di pulau ini. Kami  menyusuri pantai pasir putih yang bersih di bawah naungan pepohonan rindang dan ranting-ranting perkasa yang menjorok menghadap lautan, kami segera menjelajah tepian pantai untuk menemukan air terjun yang airnya langsung jatuh ke tepian pantai.
Tak lebih dari lima menit kami segera menemukan Air Terjun yang mungil nan menggemaskan itu, segeralah kami mandi dan membersihkan diri dari air laut yang lengket, beuuuh airnya sungguh suegeeerrr!!!!! Dan tak lama kemudian kami mencoba meminumnya…..cegluk….cegluk… airnya bersih sejuk dan seugerrrr!!!!!, sungguh benar-benar dasyat. Ini judulnya sambil mandi minum air, sambil bersantai menikmati pemandangan serta lautan, sungguh benar-benar semua panca indra dimanjakan dan gak mau rugi.
Rasa penasaran akan airterjun mungil yang menggemaskan sudah terobati dan saatnya kembali ke kapal. Tapiiiii semua itu tertunda gara-gara melihat sapuan ombak yang begitu tenang namun kuat sehingga bisa menyeret kita ketepian sampai kurang lebih sepuluh meter, wuuuiiihhh dasyaaat. Keinginan kembali ke kapal kami urungkan sejenak dan kami putuskan untuk bermain-main dengan ombak yang lucu ini. Siap-siap pasang badan menungguh ombak yang besar, dan ketika ombak datang segera kami meloncat untuk sengaja dihantam menuju ketepian, wuuueess sampailah kita ketepian kurang lebih sepuluh meter dan terseret lagi oleh ombak -+ 3 meter, kegiatan ini kami ulangi sambil ketawa-tawa dan supeeer asyik banget.coba bayangkan, anda terhempas diatas pasir yang datar sepanjang sepuluh meter dan terseret lagi, hadeeh, sepertinya kata-kata saya tak cukup untuk menggambarkan kegilaan dan keasyikan ini. Tiba – tiba saya tersadar seperti anak kecil saja bermain-main ombak, tapi seumur umur baru kali ini ombak yang membuat saya sungguh aduhai sehingga permainan ombak ini bisa saya kasih judul “dalam buaian timangan ombak Cimayang” halah opoooo iku.
Badan sudah terasa capek dan akhirnya harus kembali ke kapal, dan baru sadar ada beberapa kapal yang sudah menurunkan jangkar, pantesan orangnya kok jadi banyak. Jaket pelampung, sepatu katak dan senorkel sudah terpasang serta drybag sudah terselempang, mulailah saya menuju kapal bersama-sama. Dalam perjalanan menuju kapal, tiba-tiba ada sepasang lelaki yang mendekati saya dengan keadaan yang satu tidak pake pelampung tapi menggunakan sepatu katak dan yang satunya teman sekapal saya yang cuman pakai pelampung dan tidak memakai sepatu katak dan saya pun langsung tanggap mendekati mereka untuk memberi pertolongan karena sudah terlihat bahwa si tidak berpelampung sangat pucat dan kecapean dan si berpelampung sangat kesusahan bergerak karena tidak memakai sepatu katak serta menopang si tidak berpelampung. Entah alasan apa yang membuat anak ini tidak memakai pelampung dan hanya memakai sepatu katak, pakah dia ingin menguji ketangkasannya dalam berenang?, apakah dia ingin menguji kekuatannya bertahan di air? Atau dia ingin unjuk diri supaya tersohor? (halah, itu mah benak kita sendiri, belum tentu orang lain berfikir seperti apa yang kita fikirkan) atauuu bisa jadi dia kehabisan pelampung di kapalnya (kalo ini menurut saya malah tidak mungkin). yang jelas, kita kembali ketujuan kita masing-masing, tujuan kita untuk uji nyali atau untuk senang-senang? Ini alam yang luas loh, tidak bisa kita prediksi dan semua bisa terjadi, mending persiapkan diri sebaik-baiknya. Meneruskan cerita yang tadi, akhirnya, saya pegang pelampung rekan sekapal saya pas bagian bahu dan saya seret sembari si tidak berpelampung menunggangi tangan saya yang menyeret si berpelampung, saya ajak canda-canda mereka untuk menghilangkan kepanikan yang terjadi sebelumnya itupun setelah saya merasa benar-benar aman, secara perlahan mengikuti arus ke kapal, mereka saya ajak canda dan ngobrol untuk membuat mereka lebih rilex dan gak panic, karena semakin panic seseorang akan semakin sulit dikendalikan dan akan berontak, ingat, kita bermain dengan alam, jangan sekali kali melawan alam tapi mencobala untuk tenang dan bersatu dengannya. Setelah tenang si berpelampung cerita kalo tadi melihat sitidak berpelampung kecapean dan akhirnya dia tolong dan memcoba cari pertolongan lainnya, hihihihi geli sekaligus keren, berbeda kapal dan sekali ketemu tapi rasa tolong menolongnya serta ikatan batin sesama pejalan sangat kuat, tapi entahlah, siapa tau mereka homoan yang lagi tengkar dan pisah kapal yang sebetulnya sudah punya ikatan batin yang sudah kuat. Tanpa disadari sudah dekat dengan kapal dan si tidak berpelampungpun langsung bilang “sudah mas, sampai sini saja, itu kapal saya” sambil berpisah dengan kami dan berenang menuju kapalnya dengan “sok sok” gagah, dalam hati saya, cie-cieeee udah segeran niih hehehehe, tau gitu, gw tinggal lw di Pulau Cimayang.
Tak disangka, teman teman dari atas kapal memperhatikan saya waktu saya menyeret dua orang sekaligus tadi. Mereka bertanya-tanya, “kenapa orang tadi?” “kenapa tadi?” “dia tadi gak kuat balik ke kapal ya?”. Dengan sok sombong saya berdiri tegap dan bilang “ gak tau tuh, dia tuh (sambil menunjuk si berpelampung) yang tadi nolongin anak tadi (si tidak pakai pelampung)” jawab saya sambil berjalan dengan gagah, padahal saya nahan betis saya yang kram dan berasa mau meledak nih betis, hadeeeh.


Note: Kenali Kekuatanmu dan Kenali Alammu, Bersahabatlah dengan alam dan jangan menguji atau menantangnya karena kita tidak akan tahu takaran alam sebenarnya.

Selasa, 18 Agustus 2015

Pulau Badul Banten

Pulau Badul, Untuk menuju Pulau Badul ini, kita bisa menyebrang menggunakan perahu dari Desa Sumur atau Desa Taman Jaya di Ujung Kulon. Dari kedua desa ini perjalanan akan memakan waktu mencapai sekitar 30 menit. Pulau Badul merupakan Pulau mungil lucu dengan hamparan pasir putih yang bersih ditambah perairan laut yang biru dan bening membuat semakin gemas. Pagi itu awak kapal memberitahukan bahwasannya sekramg kita Snorkeling di sekitar Pulau Badul, sayapun langsung bertanya-tanya "mana sih Pulaunya Kang?" maka sang awak kapal menunjuk sebuah pulau mungil dengan pasir putih dan tumbuhan rindang hijau di belakangnya "itu Pulaunya, Pulau Badul", Wuih imut banget.
Pake alat snorkeling langsung JEBUUUR. selain air lautnya yang biru bening, terumbu karangnya lumayan bagus bervariatif, ikan-ikannyapun beragam dari yang gede sampai yang kecil, Wuih, hamparan terumbu karang  tersaji indah mengelilingi pulau ini. Karang-karang dan ikan-ikan cantik bewarna-warni menjadi hiasan saat berenang di permukaan air Pulau Badul ini. Terumbu karang di Pulau Badul terlihan masih sangat alami, begitu juga dengan ikan-ikan cantik yang ada di dalamnya, kemungkinan karena wilayahnya yang masih masuk dalam Taman Nasional Ujung Kulon sehingga kelestariannya masih tetap terjaga dengan baik.

Ombak disekitar Pulau Badul sangat kencang dan berarus membuat saya harus sangat berhati-hati saat berenang menikmati keindahan bawah laut. Karang-karang disekitar pulau Badul sangat banyak sehingga menjalar sampai tepi pulau dan seolah-olah sebagai benteng pertahanan yang mengelilingi pulau. Sebenarnya saya ingin mendaratkan kaki di pulau Badul, sehingga saya harus Snorkeling sekitar 30 meter karena Kapal tidak bisa berlabuh di tepi pantai tapi niatan itu saya batalkan karena cukup melelahkan dan membahayakan karena angin dan arus di pantai ini cukup kencang sehingga membuat saya terombang ambing di atas permukaan karang yang hanya beberapa jengkal. Saya tidak mau ambil resiko terbaret karang karena keegoisan saya yang ingin mencapai Pulau Badul karena saya ingat bahwasannya ini adalah acara bersenang-senang dan bukan sok-sok an untuk harus mencapai pulau.

Andai saja saya sampai di daratan Pulau Badulpun, pasti banyak terumbu karang yang hancul karena terinjak-injak oleh saya dan itu sangat mungkin karena mengingat arus yang deras dan angin yang sangat kencang. Saya rasa bermain-main di sekitar Pulau Badulpun sudah lebih dari cukup, melihat banyaknya terumbu karang dan ikan-ikan.

Taklukkan dirimu sendiri sebelum menaklukkan alam

Senin, 10 Agustus 2015

Banten, Pulau Oar / Ora yaa?

Ternyata Pulau Oar namanya. Sebelumnya sempat terbalik balik menyebut nama pulau Oar dengan Pulau Ora, pantesan banya teman-teman yang bingung ketika saya tanyak letak Pulau Ora yang ada di Banten, kebanyakan mereka bilang tidak ada dan adanya pulau Oar, kalo Pulau Ora di Maluku (itu saya juga tau). Setelah searching dengan Paman google akirnya ketemu dengan berbagai foto dan artikel mengenai Pulau Ora di Provinsi Banten serta hebohnya lagi, tidak selang berapa lama, saya diajak trip ke Taman Nasional Ujung Kulon (trip gratis asyiik #doaterkabul)

Pulau Oar berdekatan dengan Pulau Umang termasuk kawasan Taman Nasional Unjung Kulon. Letaknya di Desa Sumur, sekitar 183 kilometer dari Jakarta. Untuk mencapainya, ada dua rute jalur darat yang bisa dilalui, yaitu untuk rute pertama lewat Tol Kebun Jeruk-Merak, keluar di Serang Timur (km 71), lantas mengikuti jalan Pandeglang sampai Labuan, kemudian menuju Taragong-Citeurup-Cigeulis-Cibaliung-Cimanggu dan akhirnya sampai di Sumur. Rute kedua Anda bisa melalui Tol Kebun Jeruk-Merak, keluar di Cilegon Barat, lantas mengikuti Anyer-Carita sampai bertemu lagi dengan Labuan, kemudian mengikuti jalur yang sama dengan rute pertama sampai ke Sumur. Waktu tempuh sekitar 5 sampai dengan 7 jam tergantung situasi dan kondisi, dari dua jalur darat tersebut, kedua-duanya sampai pada Desa Sumur dan dari Sumur, Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan menyeberang laut menuju Pulau Oar.


Kapten kapal menghentikan kapalnya tak jauh dari bibir pantai Pulau Oar sekitar 40 metera. Kamipun langsung bersiap dan terjun menuju Pulau Oar sembari bersnorkeling ria sambil melihat berbagai biota laut yang cantik nan indah, seperti ikan-ikan dan terumbu karang berbagai bentuk. Tak lama bersnorkeling, kami sudah sampai bibir pantai Pulau Oar yang berpasir putih kemudian ada tanaman merambat dengan daun yang hijau dan bunga berwarna ungu menghiasi pasir putih yang halus tersebut, tapi sempat sih ketika keindahan itu bercampur dengan serpihan karang mati. Karang-karang yang mati ini menandakan karang-karang disekitar Pulau Oar sudah kritis, selain terinjak-injak oleh wisatawan ataupun terkena jangkar kapal,  bisa jadi karena kesuburan disekitar sudah tercemar berbagai limbah rumah tangga maupun lainnya.
Wuuuih, suasananya lumayan keren meskipun sudah tidak sama dengan gambaran yang berada di internet, setidaknya masih ada saung-saung, tempat duduk untuk bersantai, kamar mandi dan air mancur untuk bilasan. Ingin rasanya hati untuk membersikan serpihan karang dan beberapa sampah yang belum terurus tapi apala daya fisik sudah tidak kuat dengan hasil waktu perjalanan pulang badan saya ngilu dan panas menggigil (sebelumnya sudah mbersiin bibir pantai Pulau Panaitan yg super kotornya). Tapi tak masalah, pemandangan kotor itu hanya secuil bila dibanding dengan kesejukan Pulau Oar, apalagi bila memandang ke atas beuuuh, banyak kelapa muda, Segeer.
Adanya fasilitas-fasilitas umum yang sederhana menandakan bahwa masih ada kemauan secara bersama membuat Pulau Oar lebih nyaman, maka dari itu dihimbau kepada para pengunjung untuk buang sampah pada tempatnya (kasiankan penjaganya, kualahan)

Sedikit menjelajah bagian pulau Oar dan belum sempat menjelajah secara keseluruhan dan eeeeh ternyata nemuin bebatuan yang menurutku keren, meskipun dikelilingi pecahan batu karang yang gak keren. Saya menyusuri sebagian bibir pantai Pulau Oar dan menemukan susunan batu-butu yang membuat saya heran, terlebih-lebih saya menemukan sebuah batu yang mirip Gong (salah satu perangkat musik gamelan) dan saya dekati beberapa saat ternyata bentuknya benar-benar mirip "Gong" sehingga terbesit apakah batu ini salah satu fosil peninggalan alat musik jaman dahulu (hayalan tingkat dewa) tapi bisa jadi batu ini tidak tercipta dari kejadian alam dan sepertinya ada campur tangan manusia, kalo gak kercaya silahkan kepulau Oar, batu itu sempat saya foto (gambar di  pojok bawah tulisan ini)

Setelah melihat batu tersebut (sebut saja batu gong), saya berkeinginan mendapatkan batu akik atau batu cincin Pulau Oar hehehe #ngarep yang ada serpihan batu karang. Tapi jujur terkadang saya kepikiran mengenai batu itu, apakah itu batu sisa-sisa dari kerajaan bawah laut Pulau Oar (makin nglantur) atau memang batu biasa seperti batu-batu lainnya.

Silahkan coba datang ke Pulau Oar, apakah anda orang yang termasuk beruntung dapat melihat batu "Gong" seperti yang saya maksud atau anda malah lebih beruntung dapat melihat batu unik lainnya.

Tapi Ingat, jangan usik batu-batu itu!!!

Senin, 23 Februari 2015

Museum Benteng Heritage

Museum Benteng Heritage
Museum Benteng Heritage, sebuah lentera penerang Jejak Etnis Tionghoa di Pinggir Sungai Cisadane, betapa tidak, hampir seluruh koleksi dan cerita di dalam museum benteng ini menggambarkan kehidupan etnis Tionghoa yang bermukim di daerah Benteng atau pinggir sungai Cisadane waktu dahulu dan ada juga budaya yang masih lestari sampai sekarang seperti adat pernikahan masyarakat Tionghoa,  

Sekitar jam sembilan kami sampai di Pasar Lama di Jalan Cilame, Tangerang, ketika itu saya belum tau bahwa di Pasar lama ada museum, menurut saya, letak museumnya juga tidak terlalu mencolok karena bisa dkatakan di tengah pemukinan pasar yang dikelilingi ruko-ruko serta lapak para pedagang, sehingga kamipun blusukan ke pasar sampai tembus ke Klenteng Boen Tek Bio, dan tidak sadar kalo Museum itu sudah kami lewati, setelah bertanya-tanya ternyata Museum yang kami cari tidak jauh dari situ hanya saja bukanya jam 10.00 pagi dan kami memang terlalu bersemangat sehingga kepagian. Waktu menunggu tidak kami sia-siakan, kami blusukan sampai dermaga kecil sungai Cisadane yang juga tidak terlalu jauh dari pasar lama tersebut, di dermaga itu ada beberapa kapal yang bertengger sebagai alat penyeberangan masyarakat sekitar sekaligus disewakan untuk orang-orang yang ingin menyusuri sungai Cisadane ataupun orang-orang yang melaksanakan ritual ibadah pembebasan mahluk hidup dengan melepaskan ikan lele atau kura-kura ke tengah sungai. Singkat cerita, sambil menungguh Museum buka, kami berempat menyewa kapal menyususuri sungai Cisadane. 

Setelah menyusuri sungai, kami kembali ke museum Benteng yang katanya tidak jauh dari Klenteng Boen Tek Bio, ternyata benar, museum Benteng tidak jauh dari klenteng Boen tek bio. Terlihat beberapa orang yang sudah menunggu di meja depan. Museum sudah dibuka bagian bawahnya, kamipun masuk dan medaftarkan diri serta membayar sekitar Rp.20.000 (dua puluh ribu rupiah per orang) dan menungguh sebentar untuk diantar oleh pemandunya secara bersama-sama dan dijelaskan mengenai isi dari Museum Benteng heritage

Tidak Boleh Berfoto

Sebelum memasuki Museum Benteng Heritage bagian dalam, pemandu menginformasikan bahwa ada larangan berfoto di bagian dalam yaitu tempat koleksi-koleksi di pajang. Sehinga kami hanya bisa berfoto-foto dibagian luar museum Padahal ingin sekali memfoto pernak-pernik dan barang-barang unik yang juga merupakan barang-barang sejarah tersebut. Pengunjung hanya boleh berfoto di lantai satu museum dan itupun yang bagian depan dan yang bagian dalam juga tetap tidak boleh.

Museum Benteng Heritage buka mulai hari selasa s/d minggu dan kusus hari senin libur dan buka pukul 10.00 sampai 15.00. Untuk bisa menyaksikan koleksi museum dan cerita bersejarahnya, pengunjung dikenakan tarif. Untuk umum Rp 20.000, pelajar Rp 10.000, mahasiswa Rp 15.000, foreigner Rp 50.000, dan heritage walk Rp 50.000 untuk rombongan lebih dari 10 orang.




Di ruangan tungguh terpampang lukisan-lukisan yang menggambarkan kegiatan dan kondisi waktu lampau, kondisi masyarakat dan bangunan serta gambaran pasar lama waktu dahulu


Waktu sudah menunjukkan jam 11.00 tepat, pemandu mengajak kita masuk keruangan tengah, disana terdapat meja-meja dan bangkuh yang kokoh serta pemandu menjelaskan dengan memperlihatkan dokumentasi-dokumentasi asal usul museum dan kegiatan-kegiatan yang dimulai dari membersikan sampai dengan saat merestorasi bangunan tersebut.

Walaupun direstorasi tetapi  tidak merubah struktur bangunan yang ada dan tetap mempertahankan bentuk serta bahan asli bangunan.tersebut, kegiatan restorasi hanya berupaya mengembalikan seperti keadaan semula, kegiatan restorasi tidak dilakukan sembarangan, bahkan dilakukan kajian serta melibatkan orang yang ahli pada bidang tersebut yang kebetulan mau berpartisipasi dan restorasi ini memerlukan waktu hampir dua tahun sehingga akhirnya  pada 11 November 2011 pukul 20.11, Museum Benteng Heritage pun diresmikan.

Museum Benteng heritage Ini adalah museum peranakan Tionghoa pertama sekaligus satu-satunya di Indonesia dan sudah mendapatkan beberapa penghargaan baik nasional maupun internasional

Museum ini, memiliki dua lantai. Lantai satu museum ini dijadikan ruangan tungguh dan tiket dibagian depannya sedangkan dibagian dalam sebagai restoran, tempat gathering, dapur, penjualan suvenir, buku-buku lama dan sebagai tempat menceritakan sejarah museum benteng tersebut serta dibagian belakang ada sedikit tanah dan taman sederhana dan toilet. 

Sesudah memaparkan seluk beluk museum maka kami diajak ke lantai dua yangmana kita bisa menemukan berbagai barang-barang antik dan artefak koleksi museum yang berkaitan dengan sejarah etnis Tionghoa di Indonesia serta sepintas sejarah asal usul perkembangan masyarakat Tionghua yang berada di Tangerang serta kaitannya denga cerita Laksmana Besar Cheng Ho pada waktu itu.

Selain koleksi pribadi dan peninggalan dari bangunan tersebut, benda-benda yang berada di Museum Benteng Heritage juga sebagian sumbangan orang-orang Cina Benteng, dari generasi ke generasi. Dikumpulkan juga berbagai barang berusia ratusan tahun seperti serpihan kapal besar milik Cheng Ho 

Koleksi-koleksi Museum Benteng diantaranya adalah perangkat atau alat-alat perjudian jaman dahulu, timbangan opium dan timbangan-timbangan antik lainnya, jadi ringkas kata, bahwa koleksi dimuseum ini mulai dari perlengkapan kehidupan sehari-hari, pakaian yang meliputi sepatu mini jaman dahulu hingga motif kainnya, peralatan tidur dan gentong air waktu itu serta ada beberapa senjata dan patung para dewa-dewa.

Tidak ketinggalan juga ada koleksi kamera tua serta berbagai koleksi alat pemutar lagu mulai dari yang paling kuno juga ada dan diletakkan secara khusus diruanagn terpisah serta akan dibuka bila ada pemiliknya saja yaitu bapak Udaya Halim.

Museum ini bangunan tidak hanay untuk menyimpan barang-barang antik, namun juga untuk melestarikan kembali tradisi budaya tionghua yang unik. menurut pemandu Museum, pernah ada warga asli Tiongkok yang mengunjungi museum ini, setelah dijelaskan dan diputarkan video mengenai adat serta ritual yang masih berlangsung, orang tiongkok tersebut berkata bahwa di negaranya asli sana, budaya-budaya tersebut sudah mulai hilang.

Selain koleksi antik dan melestarikan budaya Tionghua, Museum Benteng Heritage juga sering digunakan untuk acara pertemuan masyarakat, pernikahan dan fashion show serta acara Festival lainnya yang menarik lainnya.

Semoga Museum Benteng Heritage semakin lama semakin berkembang dan menjadi rujukan bagi warha Tionghua dalam mempelajari nilai-nilai budaya dan jejak-jejak peradapan masa lalu

Jumat, 20 Februari 2015

Kuil Boen Tek Bio


Patung naga itu bertengger di atas bangunan klasik sebuah klenteng dan tidak tau mengapa tiba-tiba saya sangat tertarik dengan klenteng ini yaitu klenteng boen tek bio. Waktu itu saya hanya beniatan untuk menyusuri sungai Cisadane saja dan melwati pasar Tangeran lama, berkelak kelok dan berhimpitan dengan para pedagang dan pembeli. Tak jauh dari situ tepatnya di pertigaan jalan yang tidak terlalu besar, terdapat sebuah klenteng, tiba-tiba kami bertiga berembuk kalo kami ingin mengambil gambar dan ingin masuk ke klenteng tersebut, dengan santai kami meminta izin kepada satpam yang menjaga klenteng tersebut dan dengan rama beliau mempersilahkan kita untuk mengisi buku tamu dan memberitahukan area yang boleh dilintasi dan area yang tidak boleh dilintasi, sekaligus memberi arahan tanda-tanda serta bagian-bagian yang mana kita harus melepas alas kaki kita.
Dari bangunannya terlihat benar bahwa bangunan ini berumur sangatlah tua, alas-alas terakota yang kokoh berwarna merah menghampar sebagai jalan, sebagai keharusan dan adat, apabila ada salah satu terakota yang rusak atau barang apapun yang rusak, maka harus diganti sama persis sesuai dengan barang yang sebelumnya, sehingga bentuk dan keasliannya masih terjaga dari masa kemasa sampai saat ini. 

Setelah mengobrol santai dengan para penjaga di Klenteng Boen Tek Bio ternyata  klenteng tersebut salah satu klenteng tertua yang berada di wilayah Tangerang, jadi ketemu nih satu lagi destinasi Culture & heritagenya tangerang, yaitu Boen Tek Bio

Bangunan klasik ini menjadi penanda dari bukti bukti peradaban warga Tangerang saat itu. Bukti adanya keselarasan dan ada kerukunan yang harmonis  dalam kehidupan warga Tangerang. 

Boen Tek Bio, sebuah klenteng pertama di kota Tangerang yang dibangun kurang lebih pada abad 17an di kawasan yang kini dikenal dengan nama Pasar Lama. Para leluhur mereka membuka permukiman baru di tepian sungai Cisadane itu sekitar akhir abad ke-17.

Boen Tek Bio  namanya bisa diartikan sebagai klenteng kebajikan (Boen=Sastra, Tek=Kebajikan, dan Bio=Tempat Ibadah), Masyarakat pendiri Boen Tek Bio sangat sadar akan arti pentingnya klenteng, Selain sebagai tempat beribadah, klenteng juga mempunyai fungsi sosial sebagai tempat komunitas berkumpul guyup dan menyelesaikan masalah, sehinggah Klenteng merupakan sarana untuk menyatukan banyak komunitas, dan klenteng juga mempunyai peranan penting dalam stabilitas daerah itu.

Semakin terpelajar dan semakin terdidik sebuah bangsa, maka warganya tidak mempermasalahkan RAS, bukahkan sebuah perbedaan adalah anugra untuk saling mengenal dan memperkaya kazanah hidup, baik tatanan sosial maupun individu


Lokasi
Lokasi Klenteng Boen Tek Bio, berada di pasar lama tangerang selatan, tepatnya di persimpangan jalan bhakti dan jalan cilame, pasar lama Tangerang Banten


Tempat Makan
Untuk mencari makan, anda tidak perlu repot, karena kanan miri klenteng Boentek Bio ini banyak penjual makanan dan kebetulan Klenteng ini berdekatan dengan pasar, sehingga bisa sekalian berbelanja keperluan dapur


Tempat Wisata Terkait
Tempat wisata terkait dengan Klenteng Boen Tek Bio adalah Sungai Cisadane dan Museum Benteng Heritage, kedua tempat wisata ini sangat berdekatan dengan Klenteng Boen Tek Bio, anda tinggal berjalan kaki

Tips
Mohon memberi informasi atau laporan dulu kepada penjaga Klenteng jika anda ingin memasuki Klenteng Boen tek Bio dan mengambil gambar.


Lonceng Raksasa
Lonceng Raksasa tua yang elok di halaman Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang ini konon berasal dari negeri Tionghoa dan dibuat kurang lebih tahun 1835.

Jumat, 12 September 2014

Angkringan Sego Kucing


Sudah lama mas-mas angkringan langganan saya tidak jualan lagi, terkadang kalau malam saya sering nongkrong di Angkringan Sego Kucing ini, tepatnya di kota Tangerang Selatan yang masuk wilayah Propinsi Banten dan boleh juga dibilang perbatasan antara Banten dan Jakarta Selatan karena saking dekatnya, yaaaa kira-kira selemparan kancut sudah sampai, bahkan kalo kesandungpun langsung masuk wilayah Jakarta selatan. Dengan beberapa bangku dan lesehan khas angkringan, saya nongkrong untuk menikmati wedang jahe, yaa selain wedang jahe juga msih banyak menu camilan lainnya seperti sate daging, sate telor puyuh, sate kikil, tempe bacem, tahu bacem, uli bakar, tahu isi, dan banyak lagi macamnya.

Angkringan ini terasa menyenangkan bagi saya, dengan lampu yang temaram, masakan yang enak dan susu jahe dengan aroma segar serta tempatnya nyaman.

Oh iya, satu lagi... sambelnyaa maknyus banget. 

Senin, 08 September 2014

Pulau Tunda

Pagi itu terasa salah tingkah dan andrenealin terpacu bersemangat di Pelabuhan Karang Antu Banten, menunggu persiapan kapal yang akan berlayar menuju Pulau Tunda, pulau yang sudah saya idam-idamkan, sembari menunggu persiapan kapal selesai, saya menyempatkan diri memotret kapal-kapal yang merapat ke pelabuhan Karangantu sambil bercakap-cakap dengan penduduk lokal yang ramah-ramah dan baik hati. Penduduk lokal setempat menceritakan mengenai pelabuhan Karangantu dan tempat-tempat bersejarah di Banten, wow keren juga ni bapak, sayang saya sudah lupa dengan nama beliau hehehe.

Tidak terasa sudah berapa lama kita di atas kapal, kami bercanda tertawa satu sama lainnya, sambil makan cemilan yang sudah disiapkan dari awal, salah satunya adalah rujak manis, heem baru kali ini rasanya makan rujak diatas kapal, terasa pedas, asam, asin dan manis beserta tiupan angin bercampur dengan guncangan-guncangan pelan akibat sensasi diatas laut huuuuuhhhff sexi sekaliii hehehe.

Tidak berapa lama kamipun berhenti kurang lebih 20 meter dari bibir pantai pulau Tunda, dengan wajah dan muka bego saya bertanya-tanya "ooh kita berhenti disini yaa? kita mau snorkling disini ya?" hehehe padahal dalam hati sudah melonjak kegirangan karena melihat terumbu karang dari atas kapal sangat cantik-cantik dan terhampar air biru yang jernih serta pemandangan pulau yang tampak hijau di sekitarnya

susah diungkapkan untuk keindahan bawah laut Pulau tunda, banyak ikan bergerombol dan terumbuh karang dengan segala bentuk, mulai dari yang besar maupun yang kecil, dari yang sehat maupun yang mati.
Namun masih saya acungi jempol bahwa terumbu karang didaerah sekitar Pulau tunda masih terawat, ini merupakan sebuah pertanda bahwa dedikasi masyarakat setempat dalam merawat kekayaan alam laut masih tinggi, saya juga tidak melihat sampah di laut, jadi baiklah, ini snorkling yang sangat menyenangkan. Saya merasa gemes dengan ikan-ikan yang ada,
Kebanyakan dari ikan-ikan yang ada masih malu-malu, jarang ada yang mau mendekat dengan kita meskipun sudah kita kasih makan, tapi giliran kita sudah pergi, mereka pada ngerubutin #makanannya, ini merupakan sebuah tanda baik, berarti ikan-ikan disini belum terbiasa dengan pendatang yang berarti tingkat kunjungan pendatang yang bercengkramah dengan si ikan masih sedang-sedang saja atau bisa jadi sih ikan trauma dengan orang-orang yang snorkling dan menginjak-injak terumbu karangnya hehehe "#gak #penting".
Oh iya, katanya kalo pas bulan-bulan antara Juli hingga September banyak lumba-lumba yang terlihat diarea perairan Pulau Tunda, ikan lumbah-lumbah itu seolah-olah mengitari pulau.


Pulau Tunda  yang secara administratif merupakan sebuah pulau yang masuk dalam wilayah Kabupaten Serang, Propinsi Banten dan terletak di Laut Jawa, sebalah Utara Banten. Di pulau Tunda ini hanya terdapat satu Desa yakni Desa Wargasara yang terdiri dari dua kampung, Kampung Barat dan Kampung Timur, lumayan juga kalo kita mau menjelajah dua kampung tersebut.

Berikut hidangan makanan di Pulau Tunda, masakannya enak dan didominasi oleh ikan-ikan segar, setiba kami setelah snorkeling langsung disambut oleh kelapa muda yang rasanya manis dan airnya segar sambil di temani jajanan khas Pulau Tunda, kalo gak salah ingat nama makanannya adalah kue Bontot, kue yang gurih ditambah cocolan sambal kacang sehingga tambah nikmat, heem muantap. Istimewanya lagi, meskipun lokasi kampung dekat dengan pantai, sumur-sumur di pulau ini memiliki air yang tidak asin, kemungkinan karena banyak tumbuhan dan pohon bakau sehingga bisa menetralisir air laut, sehingga bermanfaat untuk konsumsi sehari-hari dan lebih asiknya, anda tak perlu repot untuk berbilas sehabis senorkeling

Selain snorkeling Pulau Tunda juga menjadi tempat yang keren untuk memancing, suatau hari nanti kao saya kepulau Tunda lagi akan diajak mancing sama bang Ocid, penduduk asli Pulau Tunda yang keren abis. kata beliau Ikannya gede-gede dan masih segar serta hasil tangkapan bisa langsung dibakar dan nikmati langsung.

Setelah makan dan sedikit berkeliling-keliling Pulau, saya menemukan beberap anak yang asyik main main di pesisir pantai, riang gembira berloncatan dari atas kapal
Akomodasi
Saat berkeliling, saya belum belum menemukan adanya penginapan atau hotel di Pulau Tunda namun setelah bertanya-tanya ternyata ada homestay milik penduduk lokal yang bisa disewa dan dengan maraknya wisata Pulau Tunda, maka sudah bermunculan beberapa penginapan sederhana yang cukup nyaman. Harga penginapan untuk per malam adalah Rp300-500 ribu. Satu penginapan dapat menampung hingga 25 orang. Makanan dapat disediakan juga oleh penduduk setempat dengan biaya tambahan.

Uniknya lagi, di Pulau Tunda ada pengrajin pembuat kapalnya juga lhoo, kapal kapal itu terbuat dari kayu, dan pengrajin pada saat itu sedang membuat dua sampai dengan tiga kapal kayu yang ada di pulau Tunda
Pulau Tunda, Meskipun sebuah daerah terpencil, Pulau ini memiliki keindahan alam yang sangat luar biasa, baik lingkungan maupun alamnya. Oleh karena itu, Pulau Tunda ini layak dimasukan kedalam tujuan wisata yang harus anda kunjungi di Banten.
Transportasi
Dari Jakarta dengan perjalanan darat Anda dapat mengarahkan perjalanan melalui Tol Kebon Jeruk-Merak untuk kemudian keluar di pintu Tol Serang Timur dan dilanjutkan perjalanan ke dermaga Karangantu. DI sana Anda dapat menyewa perahu dari Palabuhan Karangantu. Perahu berkapasitas maksimal 25 penumpang itu tarifnya Rp2,5-3 juta untuk perjalanan pulang pergi.

Tak terasa sudah sore, dan waktunya kembali pulang, dengan cukup puas, perjalanan pulang kami ke dermaga Karangantu ditemani senja dan berpapasan dengan dengan kapal-kapal yang lain

PULAU TUNDAAAAA, AKU KAN KEMBALI LAGIIII

Minggu, 17 Agustus 2014

Cisadane


"Sungai Cisadane, pada masanya pernah menjadi urat nadi transportasi dan Kehidupan, memberi ruang dan kemudahan dalam berpindah maupun bernafkah"

Pagi itu suasana cerah ditemani matahari yang sedikit malu-malu tersenyum, dengan berbincang ringan dan bercanda tawa sayapun mengobrol dengan dua blogger kawakan yaitu mas Wira Nurmansya dan mas Tekno Bolang sembari sarapan soto yang dijual di samping jalan sungai Cisadane, sotonya enak banget.

Acara kita hari ini adalah mau jalan-jalan menyusuri Sungai Cisadane dan sekitarnya, sambil menunggu teman kita satunya lagi yaitu kakak Indri, seorang blogger perempuan yang masih dalam perjalanan dari Depok menuju Tangerang

Tak terasa suasana sarapanpun berlalu, soto dan minumannya sudah habis kita lahap, tak lama kemudian datanglah kak Indri dengan setelan serba Hijau cantik hehehe. setelah beberapa menit berkenalan dan mengobrol ringan, maka kami putuskan untuk naik kapal, kebetulan kami juga didampingi bapak-bapak yang dari tadi sudah ngobrol dengan kami waktu sarapan sambil bapak-bapak itu menawarkan sewa Kapal perahu, setelah kita berempat ngobrol-ngobrol ringan, maka kami putuskan untuk susur sungai Cisadane dengan kapal perahu. 

Satu-persatu kami masuk ke perahu dengan sedikit mengimbangi goncangan yang terjadi, karena kami mulai menaiki perahu dan sontak perahunya pun berguncang, mungkin karena badan kita yang besar-besar. Dengan tenang  kami duduk manis secara perlahan-lahan dan Si bapak pengayuh kapal mulai mengayuh dengan dayung perahunya. 

Kapal perahu ini bukan merupakan perahu wisata, hanya sebagai sarana transportasi penyebrang penduduk setempat dan sebagai sarana ibadah bagi warga Tionghoa yang ingin beribadah dengan melepaskan hewan hidup ke sungai seperti ikan lele atau kura-kura, sehingga wisatawan merupakan rejeki tambahan bagi bapak-bapak yang nyewain kapal. Meskipun saya tidak melihat adanya pelampung dan alat keselamatan lainnya tapi sekilas terlihat secara keseluruhan aman, toh kalo kapal tenggelampun saya kira akan banyak yang menolong, dikarenakan suasana di pinggir dan di tepi-tepi dungai cisadane tergolong rame.

Oh iya, waktu itu kapal yang kita naikin bocor, meskipun kita semua bisa berenang, tapi bagaimana dengan kamera dan barang-barang kami lainnya? tapi berbeda dengan bapak yang mengendalikan kapalnya, beliau bilang bahwa kapalnya bocor dengan nada santai seolah tidak terjadi apa-apa, sedikit kami kaget tapi melihat suasana yang biasa-biasa saja, sayapun juga santai.

Dengan mengayuh dayungnya, si bapak bilang "kapalnya bocor jadi kita menepi ganti kapal dulu yaaa" kata si bapak dengan wajah santai kayak ditepi pantai hehehe

Tidak lama kemudian kami ganti kapal sembari melihat bapak-bapak lainnya yang lagi ngerumpi dan aktifitas ibu-ibu di samping sungai 
susur sungai Cisadane kita, bisa dibilang sebagian dan tidak menyeluruh, tapi sudah banyak hal yang kita dapatkan.  Mulai dari sekelumit kegiatan dari warga kampung bantaran Sungai Cisadane maupun alam dan mahluk hidup lainnya.

sekelompok anak bermain di tepi sungai dan ada ibu-ibu yang memberi makan ternak ayam-ayamnya. Di sudut lain terlihat gadis remaja yang mencuci pakaiannya meskipun boleh dibilang kualitas air sungai Cisadane kurang bagus, tapi mungkin itulah yang bisa mereka hadapi.

disisi lain ada beberapa kelompok bapak-bapak yang sedang memancing ikan dan ketepatan pula ada yang dapat ikan, sontak saya bilang "itu ada yang dapat" dan sih bapak pengayuh kapal bilang "sepertinya ikan lele"

perlahan kapal kami menyusuri sungai dan disekitar kapal kita beberapa kali ada ikan yang meloncat serta banyak terlihat ikan sapu-sapu serta di tepian sungai tadi juga banyak terlihat kecebong dan juga kata bapak pengayuh kapal juga masih banyak ikan gabus, jadi menandakan bahwa nilai ekologi sungai Cisadane ini masih lumayan cukup bagus dan semoga semakin bagus apalagi melihat sungainya yang tenang dan tidak terlalu banyak sampah sehingga memberi gambaran taraf kesadaran hidup masyarakat di bantaran sungai sungai Cisadane sudah mulai bagus. 
Akhirnya kami harus menepi ke dermaga pertama kali kami naik yaitu dermaga di sisi timur dengan bangunan yang tersusun rapi dan bantaran kali dengan tanggul beton pas disisih jalan raya. ketika mendarat saya melihat lagi aliran sungai yang kita susuri, terlihat sisi barat sungai dengan perpaduan rumah dan tumbuh-tumbuhan yang masih tampak hijau serta air sungai pun langsung bertemu dengan tepian tanah merah daratan warga bantaran sungai Cisadane sebelah timur

Setelah mendarat didermaga, kami melanjutkan untuk jalan jalan ke Kuil Boen Tek Bio dan museum sekalian belanja karena dekat pasar. 
Dalam perjalanan pulang saya hanya terngiang, seandainya Cisadane bisa dikembangkan lagi menjadi area wisata, kama akan banyak warga secara ekonomi akan terangkat.

Ada yang berminat susur Sungai Cisadane? Kalau ada waktu dan sempat Ayuuuuk ajak saya dan bareng-bareng lagi! Siapa tahu banyak hal-hal yang bisa kita temukan. 




Senin, 08 April 2013

Karangantu Sebagai Pelabuhan Besar Di Jawa

Sebelum datangnya kolonial Belanda. Pelabuhan Karangantu merupakan pelabuhan utama Kesultanan Banten yang pernah didatangi kapal-kapal dagang dari Cina, Arab, Turki Portugis, Inggris bahkan Belanda datang pertama kali ke pulau Jawa pada tahun 1596 melalui pelabuhan ini juga dan Pada abad XVI-XVII Banten merupakan pusat perdagangan rempah-rempah yang cukup besar di Asia Tenggara sehingga menjadikan Karangantu sebagai pelabuhan besar di Jawa pada saat-saat itu.

Dalam buku "Mengenal Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kota Banten Lama" oleh Uka Tjandrasasmita, Hasan M Ambary, dan Hawany Michrob tercatat bahwa Tom Pires, seorang pedagang yang juga ahli obat-obatan dari Portugal mengemukakan bahwa Pelabuhan Karangantu merupakan pelabuhan terbesar kedua setelah Pelabuhan Sunda Kelapa di Jayakarta, begitu juga menurut Cornelis de Houtman asal Belanda pada tahun 1596 Banten disebut Kota Pelabuhan dan Perdagangan yang sama besar dengan Kota di Amsterdam saat itu, sama pula yang diungkapkan oleh Vincent Leblanc asal Perancis waktu tiba di Banten pada abad 16.

Ada beberapa mitos mengenai nama Karangantu sendiri, mitos pertama menyebutkan tatkala itu pihak Belanda memberikan peti-peti berisi hadia kepada Sultan sehingga peti-peti tersebut dibawa di hadapan sultan, sebelum dibuka, sultan mempunyai firasat dan keahlian mengetahui sebelum hal-hal yang belum terjadi atau weruh sak jeruning winarak bahwa peti-peti tersebut berisi penyakit atau antu dalam bahasa keseharian masyarakat sekitar, sehingga sultan memerintahkan untuk membuang peti-peti tersebut diantara karang-karang dekat pelabuhan sehingga bernama pelabuhan Karangantu. Begitu juga dengan mitos lainnya yang menyebutkan pada waktu itu ada seorang Belanda yang membawa guci berisikan hantu. Hingga suatu hari guci itu pecah dan hantu yang di dalamnya keluar. Mulai saat itulah pelabuhan yang telah berganti menjadi kampung nelayan ini diberi nama Pelabuhan Karangantu. Namun bila mitos ini benar-benar kita percayai, berarti pelabuhan tersebut mempunyai nama tersendiri sebelum pelabuhan tersebut terkenal dengan nama Karangantu.
Ada juga mitos yang menyebutkan bahwa sebelumnya Pelabuhan tersebut adalah pelabuhan yang sangat besar dan Belanda sudah menimbun pelabuhan tersebut untuk dialihkan ke pelabuhan yang baru dibuat oleh Belanda, akan tetapi pelabuhan tersebut masih saja rame dan suatu ketika terjadilah wabah penyakit di sekitar pelabuhan tersebut dan pihak Belanda memerintahkan agar masyarakat sekitar Pelabuhan untuk berpinda karena diperkirakan antu atau penyakit yang menyerang ada diantara karang-karang yang berada dipelabuhan sehingga sisa-sisa pelabuhan yang ada sekarang disebut Pelabuhan Karangantu

Pada tahun 1991 pelabuhan ini pernah dikeruk agar kapal-kapal yang bertonase besar dapat masuk dan sampai sekarang pelabuhan ini masih dimanfaatkan untuk pelabuhan dan pusat perdagangan ikan, khususnya untuk daerah Serang sendiri, namun masih jauh bila dibilang bahwa pelabuhan Karangantu saat ini merupakan Pelabuhan yang selayaknya. 
Meskipun kondisi Pelabuhan Karangantu ini belum terasa optimal, akan tetapi Pelabuhan ini memiliki kharisma tersendiri, selain menjadi saksi sejarah bahwa Pelabuhan Karangantu adalah salah satu pelabuhan yang sangat terkenal pada zamannya, Pelabuhan ini juga menjadi tempat awal para bangsa Barat pertama kali menginjakkan kaki di Nusantara ini Sehingga Pelabuhan Karangantu dapat dibilang sebagai salah satu titik awal perkembangan peradaban di Indonesia serta dilihat dari sudut geografi dan ekonomi, Banten merupakan kota pelabuhan yang penting karena letaknya yang strategis dalam penguasaan Selat Sunda. 

Pelabuhan Karangantu sekarang sudah diresmikan menjadi peninggalan sejarah dan sebagai tujuan wisata, mengingat lokasinya  yang  cukup strategis karena terletak tidak jauh dari objek-objek wisata di Banten seperti Masjid Agung Banten, Keraton Kaibon, dan lain-lain di Kecamatan Kasemen, Serang – Banten. Pelabuhan Karangantu ini pada setiap Bulan Oktober atau November setiap tahunnya diselenggarakan kegiatan Pesta Ruat Laut sehingga menjadi daya tarik wisatawan. Selain itu pelabuhan Karangantu menjadi Pelabuhan para wisatawan untuk mengunjungi pulau-pulau yang letaknya tak jauh dari sana seperti Pulau Burung, Lima, Pisang dan Pulau Tunda yang terkenal serta Pulau-Pulau lainnya.  Selain pulau-pulau tersebut memiliki keindahan pantai, pulau-pulau tersebut memiliki keindahan pemandangan bawah lautnya.