Jumat, 08 November 2013

Sekilas Sejarah Pariwisata Indonesia





Sekilas Sejarah
Pariwisata Indonesia
Sejarah pariwisata Indonesia lebih panjang daripada usia Republik. Ketika Indonesia diproklamasikan, 17 Agustus 1945, beberapa destinasi wisata sudah relatif dikenal luas. Ini berkat didirikannya semacam dewan perjalanan wisata, Vereeniging Toeristenverkeer (VT) pada 1910 di Batavia (lihat Dieny Ferbianty, Sejarah Pariwisata Indonesia, Program Magister, ITB, Bandung, 2007). Dan VT membuat buku panduan wisata India-Belanda pertama kali, dalam bahasa Inggris, isinya tentang daerah wisata di Jawa, Bali, Lombok, Sumatra, Toraja (Sulawesi Selatan). Pariwisata Hindia-Belanda makin popular (di kalangan orang Eropa, memang) setelah terbit koran mingguan tentang pariwisata, Java Tourist Guide, 1923. Selain artikel tentang daerah wisata, koran ini juga menginformasikan perjalanan kereta api, tentang hotel, dan ada juga semacam pelajaran praktis bahasa lokal. Beberapa hotel pun menerbitkan panduan wisata untuk satu situs, misalnya, panduan wisata Pegunungan Dieng, panduan wisata Jawa Barat, dan lain-lainnya. Boleh dikata prasarana wisata ketika itu lengkap sudah: ada dewan wisata tingkat “nasional” yang memiliki cabang di sejumlah daerah, ada media wisata, hotel, asosiasi turis --misalnya Asosiasi Turis Garut, Asosiasi Turis Magelang (lihat Dieny Ferbianty: 2007) Biro perjalanan yang menawarkan tour pun bermunculan sejak itu. Namun semua itu berantakan begitu Jepang menjajah Indonesia. Penjajah dari Asia ini seperti hanya memiliki satu tujuan: memenangkan Perang Pasifik. Karena itu segala sesuatu dimanfaatkan untuk prasarana perang, termasuk kesenian yang dijadikan proganda Asia Timur Raya, termasuk dunia wisata dengan antara lain mengubah hotel menjadi rumah sakit bahkan asrama tentara. Zaman bergerak dan Republik Indonesia berdiri. Meski ketika itu di republik baru ini penuh perjuangan sehubungan agresi Belanda yang ingin menjajah Indonesia kembali dengan cara menumpang Sekutu, pemerintah tak melupakan pariwisata. Pelanpelan semuanya dipulihkan –dari perhotelan sampai transportasi, dari organisasi sampai sekolah wisata.Sebuah peristiwa MICE, khususnya conference, bisa dibilang langsung atau tak langsung merangsang perkembangan dunia wisata Indonesia: Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Paling tidak panitia konferensi ini mestinya membawa delegasi-delegasi ke beberapa situs wisata di sekitar Bandung. Yang jelas, setelah Konferensi ini berdirilah Yayasan Tourisme Indonesia, lembaga nirlaba yang bertujuan menggairahkan dunia wisata Indonesia lewat segala jalan:kerjasama dengan pers, dengan lembaga wisata Negara lain, dengan pihak imigrasi dan beacukai, dengan kementerian luar negeri. Semua kerja sama bertujuan mempermudah hal-hal yang berkaitan dengan turisme, misalnya urusan visa. Sewindu kemudian, 1963, urusan wisata dimasukkan ke dalam lembaga struktural, menjadi bagian dari kementerian perhubungan darat, pos, telekomunikasi, dan pariwisata. Pada tahun inilah Indonesia pertamakali menjadi tuan rumah PATA (Pacific Asia Travel Association). Selanjutnya dunia wisata diurus oleh pejabat struktural, dengan atau tidak dicantumkan kata “pariwisata” dalam kementerian. Pada 1988 pariwisata berada di depan dalam kementerian pariwisata, pos, dan telekomunikasi. Dan pada 2000 pariwisata disatukan dengan kebudayaan menjadi kementerian kebudayaan dan pariwisata.Perlu dicatat, meski destinasi wisata terkait dengan geografi, kebijakan dalam perwisataan tak terpengaruh oleh pembagian provinsi yang berubahubah. Pada 1945 Indonesia hanya dibagi dalam delapan provinsi (Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Kalimantan, Sulawesi, Maluku).Kemudian provinsi dimekarkan dari tahun ke tahun. Pada 1950 ada 11 provinsi; pada 1956, 15; pada 1957, 17; pada 1958,20; pada 1959, 20; pada 1960, 21; pada 1967, 25; pada 1969, 26; pada 1976, 27; pada 1999, tetap 27 provinsi (Timor Timur merdeka, dan Provinsi Maluku dimekarkan menjadi Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara); pada 2000, 32; dan pada 2002, 33 provinsi. 
Lalu apa tantangan wisata di Negara kepulauan terbesar di dunia ini? Indonesia terdiri dari lebih 17.500 pulau, dengan panjang pantai total lebih dari 6.360 km. dari Sabang sampai Merauke adalah lebih dari 1.120 suku bangsa. Ini sebuah kekayaan tak terkira sehubungan dengan wisata bahari dan budaya. Ditambah bukit dan pegunungan, wisata alam pun tertebar luas. Dengan harta seperti itu sesungguhnya tinggal masalah manajemen dan kerja keras untuk menjaga, mengatur, mengembangkan, dan mempromosikan pariwisata Indonesia ke segala penjuru. Sehingga hal yang dirumuskan oleh Dewan Pariwisata Nasional pada 1969 bisa dicapai. Dewan Pariwisata merumuskan antara lain, pariwisata untuk “menghasilkan devisa dan pendapatan masyarakat, kesempatan berusaha dan kesempatan kerja, dan mendorong usaha industri lainnya,” juga untuk “meningkatkan persahabatan dan persaudaraan nasional dan internasional.”

AiR TeRJuN PaNToN CuT KuaLa BaTee aCeH BaRaT DaYa


aiR TeRJuN PaNToN CuT TeRLeTaK Di DeSa JeuMPa PaNToN Mue KeCaMaTaN KuaLa BaTee KaBuPaTeN aCeH BaRaT DaYa, aiR TeRJuN YaNG BeRaDa Di LoKaSi WiSaTa YaNG LuaSNYa 35 Ha iNi MeMPuNYai KeTiNGGiaN LeBiH KuRaNG 5 MeTeR DaRi aLuR SuNGai PaNToN CuT.uNTuK MeNuJu LoKaSi JaRaKNYa SeKiTaR 20 KM DaRi KoTa BLaNG PiDie  iBuKoTa KaBuPaTeN aCeH BaRaT DaYa DaN SeKiTaR 11 KM DaRi iBuKoTa KeCaMaTaN KuaLa BaTee.


iNDaHNYa PeMaNDaNGaN  DaN SeGaRNYa uDaRa aLaM  DiTaMBaH LaGi DeNGaN MeRDuNYa SuaRa KiCauaN BuRuNG YaNG MaSiH BaNYaK MeLoMPaTi BaTu BaTu BeSaR DaN MeLiNTaSi aRuS SuNGai SeRTa TeDuHNYa LoKaSi YaNG DiKeLiLiNGi PePoHoNaN YaNG TiNGGi DiLoKaSi WiSaTa TeRSeBuT MeNJaDi TuJuaN MaSYaRaKaT uNTuK BeRWiSaTa. BeLuM BaNYaK YaNG Tau KaLau aiR TeRJuN PaNToN CuT iNi aDaLaH TeMPaT WiSaTa YaNG SaNGaT iNDaH,MuNGKiN KaReNa JaRaK TeMPuH DaN JaLaN YaNG DiLaLui uNTuK MeNuJu KeLoKaSi TeRLaLu JauH DaN eKSTRiM,YaNG LeBiH PaRaHNYa SePeDa MoToR SaJa TiDa BiSa SaMPai KeTuJuaN,SeBaB iTuLaH PaRa WiSaTaWaN LuaR DaeRaH BaNYaK YaNG BeLuM MeNGeTaHui KeBeRaDaaN aiR TeRJuN iNi..

SuMBeR : YaRiTSu - aCeh DiGiTaL DaN BeRBaGai SuMBeR

Kamis, 07 November 2013

TeNTaNG SaYa

SaYa HaNYa SeoRaNG KeTuRuNaN aCeH SeJaTi YaNG iNGiN BeLaJaR DaN MeNGuMPuLKaN SeJaRaH TeNTaNG NeGeRiNYa aGaR TaK MuSNaH DiTeLaH ZaMaN.KaReNa TiDaK aDa PReSTaSi DaN KeBaNGGaaN YaNG BiSa SaYa PeRSeMBaHKaN uNTuK NeGeRi iNi MaKaNYa SaYa MeNCoBa MeNGuMPuLKaN SeJaRaH NeGeRi SaYa DaRi BeRBaGai SuMBeR MuNGKIN BeRGuNa BaGi GeNeRaSi SeKaRaNG DaN GeNeRaSi MeNDaTaNG,PaLiNG TiDaK MeReKa SuDaH aDa GaMBaRaN BaGaiMaNa RuPa NeGeRiNYa SePaNJaNG SeJaRaH SePaNJaNG aBaD.

"
GeNeRaSi YaNG CeMeRLaNG aDaLaH GeNeRaSi YaNG MaMPu MeNYuMBaNGKaN TeNaGa DaN PeMiKiRaN uNTuK KeMaJuaN NeGeRiNYa,RaKYaT YaNG PiNTaR aDaLaH RaKYaT YaNG PaLiNG TiDaK MeNGeTaHui SeJaRaH BaNGSaNYa,BaNGSa YaNG BeSaR aDaLaH BaNGSa YaNG PaLiNG TiDaK,MaMPu MeMPeRTaHaNKaN KeBeSaRaN SeJaRaH NeGeRiNYa DaN MaMPu MeNYeLaMaTKaN BuKTi BuKTi KeBeSaRaN SeJaRaH BaNGSaNYa,PeMiMPiN YaNG HeBaT aDaLaH PeMiMPiN YaNG  MaMPu MeMaKMuRKKaN RaKYaT DaN NeGeRiNYa DaN MaMPu MeMBaWa NeGeRiNYa Ke PuNCaK KeJaYaaN " ( SaNG PeNuNGGu iSTaNa DaRuDDuNia )

BLoG SaYa : 

=======

ACEH DALAM SEJARAH ( ACEH )
http://acehdalamsejarah.blogspot.com/
ACEH SEINDAH LUKISAN DALAM SEJARAH SEPANJANG ABAD
ACEH AS BEAUTIFUL AS A PAINTING IN HISTORY THROUGHOUT THE CENTURIES 
KUMPULAN SEJARAH ACEH DARI MASA KE MASA

ACEH DALAM GALLERY SEJARAH
http://acehdalamgallerysejarah.blogspot.com/
KOLEKSI PHOTO PHOTO SEJARAH ACEH SEPANJANG ABAD

ACEH DALAM LAGU
http://acehdalamlagu.blogspot.com/
KUMPULAN LAGU LAGU ACEH SEPANJANG JAMAN

ACEH MOVIE,VIDEO DAN VIDEO CLIPS
KUMPULAN FILM FILM ACEH,VIDEO SERTA VIDEO CLIPS ACEH

KoNTaK SaYa :
============
LaKSaNa DiWa SWaRNaDWiPa
https://www.facebook.com/LaksanaDiwaSwarnadwipa

ACEH DALAM SEJARAH
https://www.facebook.com/acehdalamsejarah

SeLaMaT MeNGeMBaRa Ke MaSa LaLu
SaLaM aNeuK NaNGGRoe Keu aNeuK BaNGSa aCeH BaN SiGoeM DoNYa
SaLaM aNaK BaNGSa uNTuK PuTRa PuTRi iNDoNeSia Di SeLuRuH DuNia


WaSSaLaM :
SaNG PeNuNGGu iSTaNa DaRuDDuNia






Rabu, 06 November 2013

Jejak Sejarah Aceh di Kota Salem, Amerika Serikat (1653 M)

"...Seperti tersembunyi dibalik debu sejarah, tidak banyak yang tahu bahwa Aceh dan Kota Salem, Massachusetts, Amerika Serikat mempunyai hubungan yang sangat erat di masa lampau..."

Terkhusus dalam hal perdagangan lada. Sanking eratnya, hingga logo Kota Salem pun menggunakan simbol-simbol Aceh. Benarlah Aceh punya sejarah gilang gemilang di masa lalu.

“Pada tahun 1654 ( Masa pemerintahan Sultanah Safiatu'ddin ), Elihu Yale mengirim dua karyawannya ke Kerajaan Aceh Darussalam, kerajaan merdeka termegah di Sumatera, untuk menjalankan perdagangan lada. Muatan lada terakhir memasuki Salem, Massachusetts dari Sumatera pada 6 November 1846 (Masa pemerintahan Sultan Sulaiman Syah), diangkut oleh kapal Lucilla. Salem telah memegang peranan utama dalam perdagangan lada sejak Pemimpin Salem memulai bisnis ini. Begitu pentingnya posisi Salem saat itu, seratus tahun (se-abad) kemudian, orang-orang di Australia masih menyebut biji merica dengan panggilan “lada Salem”.Kenyataannya, Jika kita menelisik kembali lambang kota Salem, kita akan menemukan gambaran seorang Aceh.


Pada puncak perdagangan lada, Dewan Kota memerintahkan untuk menciptakan sebuah segel yang menggambarkan “Sebuah kapal yang sedang berlayar, mendekati pantai yang digambarkan dengan seseorang yang berdiri di antara pepohonan di mana kostumnya menunjukkan wilayah tersebut adalah bagian dari Hindia Timur", motto ‘Divitis Indiae usque ad ultimum sinum’ … yang berarti “Menuju pelabuhan terjauh di Timur yang kaya…

George Peabody, anak dari pedagang lada yang disegani, dan dia sendiri juga memiliki kapal pengangkut lada, melukis desain seorang pria memakai serban merah rata, celana panjang merah dan ikat pinggang merah, jubah kuning sebatas lutut dan baju luar warna biru. Tidak ada masyarakat lain di Hindia Timur yang memiliki pakaian semirip ini yang lebih mendekati selain masyarakat Aceh, dan mungkin itulah maksudnya.

Hanya dokumen resmi kota Salem yang dibenarkan memakai Lambang kota tersebut. Adalah termasuk pelanggaran hukum Negara dan Peraturan Lokal, jika memakai lambang ini pada hal-hal yang tidak berhubungan dengan urusan resmi Kota Salem. Pegawai Kota adalah penjaga Emblem Kota.

Perdagangan, bisnis, di manapun dan kapanpun ternyata menyimpan intrik-intrik yang bisa menghancurkan hubungan yang terbina baik sejak lama. Keinginan untuk mengeruk keuntungan pribadi dan politik dagang telah membuat hubungan Kerajaan Aceh Darussalam dan Amerika Serikat retak.


Aceh pernah digempur Amerika Serikat akibat politik dagang dan provokasi Belanda. Pelabuhan Kuala Batu di Susoh, Aceh Selatan rata dengan tanah. Menurut M Nur El Ibrahimy dalam buku Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, setiap tahun diangkut sekitar 42.000 pikul atau sekitar 3.000 ton. Pusat perdagangan itu di Pelabuhan Kuala Batee, Susoh.

Sejak tahun 1829, karena harga lada di pasaran internasional merosot, jumlah kapal Amerika yang datang ke pelabuhan Kerajaan Aceh Darussalam mulai menurun. Di antara kapal yang datang dalam masa kemerosotan ekonomi itu adalah kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan nakhoda Charles Moore Endicot, seorang mualim yang sering membawa kapalnya ke Kerajaan Aceh Darussalam.

Pada 7 Februari 1831 kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan nakhoda Charles Moore Endicot, seorang mualim yang sering membawa kapalnya ke Aceh, berlabuh di pelabuhan Kuala Batee, Aceh Selatan.

Ketika Endicot dan anak huahnya berada di daratan, tiba-tiba kapal tersebut dibajak oleh sekelompok penduduk Kuala Batee. Akan tetapi, dapat dirampas kembali oleh kapal-kapal Amerika yang kebetulan saat itu berada di perairan Kuala dengan kerugian sebesar US $ 50.000 dan tiga anak buahnya terbunuh.

Peristiwa itu kemudian menimbulkan sejumlah tanda tanya. Pasalnya, selama setengah abad menjalin hubungan dagang belum pernah terjadi perompakan seperti itu. Menurut M Nur El Ibrahimy, ada beberapa penyebab terjadinya peristiwa tersebut.


Pertama, peristiwa itu dipicu oleh kekecewaan orang Aceh yang selalu ditipu oleh Amerika dalam perdagangan lada.


Itu hanya satu faktor. Penyebab lain, Belanda berhasil memprovokasi orang Aceh untuk menyerang kapal-kapal Amerika. Tujuannya, Belanda ingin merusak nama baik Kerajaan Aceh Darussalam sehingga terkesan tidak mampu melindungi kapal asing yang berlabuh di Kerajaan Aceh Darussalam.

Tentu saja Kerajaan Aceh Darussalam sibuk memberi klarifikasi. Belakangan, diketahui Belanda yang membayar dan mempersenjatai kapal Kerajaan Aceh Darussalam yang dinakhodai Lahuda Langkap untuk menyerang kapal Amerika dengan menggunakan bendera Kerajaan Aceh Darussalam.

Kejadian ini membuat kerugian besar di pihak Amerika Serikat dan beberap kru kapal tewas di tangan perompak. Hal ini menyebabkan kemarahan besar di pihak Amerika.

Senator Nathanian Silsbee, salah seorang pemilik kapal Friendship dan Partai Whip (Partai Republiken) yang beroposisi terhadap pemerintahan Presiden Jackson, sekaligus seorang politikus yang sangat berpengaruh pada masa itu, langsung menyurati Presiden Jackson pada tanggal 20 Juli 1831.
Subuh 6 Februari 1832, sebanyak 260 orang marinir Amerika di bawah pimpinan Shubrick, komandan kapal perang terbaik Amerika saat itu, Potomac, membumihanguskan pelabuhan Kuala Batee, Susoh, Aceh Barat dibawah perintah langsung Presiden Amerika Serikat, Andrew Jackson.

Bagaimanapun, hubungan Kerajaan Aceh Darussalam dengan Amerika Serikat sudah terbina sejak lama. Dan bukti nyata hubungan tersebut terpatri dalam logo Kota Salem, Massachusetts. Akankah sejarah kejayaan “lada” Aceh kembali terulang.

Sumber : Ttd Hendy Hy - Sejarah Aceh

Ketika Kerajaan Aceh Darussalam di gempur Amerika, Pelabuhan Kuala Batee di Susoh Rata dengan tanah

"...Kerajaan Aceh  Darussalam pernah digempur Amerika Serikat akibat politik dagang dan provokasi Belanda. Pelabuhan Kuala Batee di SusohSusoh Sekarang Salah satu kecamatan di Kabupatenm Aceh Barat Daya ) pun rata dengan tanah...."


Sejak tahun 1789 Kerajaan Aceh Darussalam sudah menjalin hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Kapal-kapal dari Amerika datang untuk memuat lada yang kemudia diangkut ke Amerika Serikat, Eropa dan Cina. Menurut M Nur El Ibrahimy dalam buku Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, setiap tahun diangkut sekitar 42.00 pikul atau sekitar 3.000 ton. Pusat perdagangan itu dilakukan di Pelabuhan Kuala Batee, Susoh.

Sejak tahun 1829, karena harga lada di pasaran internasional merosot, jumlah kapal Amerika yang datang ke pelabuhan Kerajaan Aceh Darussalam mulai menurun. Di antara kapal yang datang dalam masa kemerosotan ekonomi itu adalah kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan nakhoda Charles Moore Endicot, seorang mualim yang sering membawa kapalnya ke Kerajaan Aceh Darussalam.


Pada 7 Februari 1831 kapal tersebut berlabuh di pelabuhan Kuala Batee, Aceh Selatan. Ketika Endicot dan anak huahnya berada di daratan, tiba-tiba kapal tersebut dibajak oleh sekelompok penduduk Kuala Batee. Akan tetapi, dapat dirampas kembali oleh kapal-kapal Amerika yang kebetulan saat itu berada di perairan Kuala dengan kerugian sebesar US $ 50.000 dan tiga anak buahnya terbunuh.

Peristiwa itu kemudian menimbulkan sejumlah tanda tanya. Pasalnya, selama setengah abat menjalin hubungan dagang belum pernah terjadi perompakan seperti itu. Menurut M Nur El Ibrahimy, ada beberapa penyebab terjadinya peristiwa tersebut.

Pertama, peristiwa itu dipicu oleh kekecawaan orang Aceh yang selalu ditipu oleh Amerika dalam perdagangan lada. Hal itu diketahui sustu ketika, berat lada yang dibeli dari Kerajaan Aceh Darussalam 3.986 pikul tapi ketika dijual kembali oleh Amerika beratnya menjadi 4.583 pikul. Hal itu dilakukan melalui pemalsuan takaran timbangan. “Caranya, melalui sebuah sekrup yang dapat dibuka di dasar timbangan yang berbohot 56 lbs., diisi 10 atau 15 pon timah sehingga dalam satu pikul lada orang Aceh dikecoh sebanyak 30 kati,” jelas M Nur El Ibrahimy.

Penyebab lainnya, perompakan itu terjadi akibat provokasi Belanda karena Amerika telah berhasil menguasai perdagangan lada dikawasan pantai barat-selatan Aceh. Belanda ingin merusak nama baik Kerajaan Aceh Darussalam dimata dunia dengan tuduhan bajak laut dan tidak mampu melindungi kapal-kapal asing yang berlabuh diperairannya.

Kerajaan Aceh Darussalam membantah hal itu, kepada para pedagang asing dan dunia internasional kerajaan Aceh Darussalam memberi penjelasan bahwa perompakan itu ditunggangi Belanda. Belanda sengaja mempersenjatai sebuah kapal Kerajaan Aceh Darussalam yang dirampasnya. Kapal itu dinahkodai oleh seorang suruhan Belanda yang bernama Lahuda Langkap.

Saat merompak kapal Friendship milik Amerika di Kuala Batee pada 7 Februari 1831, Lahuda Langkap dan anak buahnya yang dibayar Belanda dalam perampokan itu menggunakan bendera Kerajaan Aceh Darussalam.

Pembajakan kapal Friendship itu kemudian tersiar luas di Amerika Serikat menjadi jelas ketika kapal tersebut tiba kembali di pelabuhan Salem pada tanggal 16 Juli 1831. Senator Nathanian Silsbee, salah seorang pemilik kapal Friendship dan Partai Whip (Partai Republiken) yang beroposisi terhadap pemerintahan Presiden Jackson, sekaligus seorang politikus yang sangat berpengaruh pada masa itu, langsung menyurati Presiden Jackson pada tanggal 20 Juli 1831.

Silsbee meminta agar Pemerintah Amerika menuntut ganti rugi atas pelanggaran yang dilakukan oleh penduduk Kuala Batee terhadap kapal Friendship. Ia juga menyampaikan petisi yang ditandatangani oleh seluruh pedagang Salem kepada Pemerintah Amerika Serikat. Isinya, meminta agar dikirimkan kapal perang ke perairan Kerajaan Aceh Darussalam untuk menuntut ganti rugi dan penguasa yang bertanggung jawab atas Kota Pelabuhan Kuala Batee.

Di samping itu, salah seorang pemilik kapal Friendship yang lain. Robert Stones, bersarna dengan Andrew Dunlop dan salah seorang sahabatnya yang dekat dengan Presiden Jackson, meminta kepada Menteri Angkatan Laut, Levy Woodbury, agar mendesak Presiden Jackson mengirim kapal perang ke Kuala Batee. Silsbee sendiri secara pribadi menulis surat kepada Woodbury, menggambarkan betapa besar keresahan yang ditimbulkan oleh peristiwa Kuala Batee di kalangan pedagang-pedagang Salem.

Pemerintah Amerika sebelum menerima imbauan dari Senator Silsbee telah memutuskan akan mengambil tindakan terhadap pelanggaran atas kapal Friendship di Kuala Baree itu. Setelah membaca peristiwa itu dalam surat-surat kabar, Woodbury segera memerintahkan agar disiapkan segala keperluan untuk menuntut ganti rugi atas pelanggaran tersebut.

Sebelum menerima surat dan Silsbee, dia telab mengadakan konsultasi dengan Presiden Jackson pada tanggal 21 Juli 1831. Tujuannya, mendapatkan persetujuan Presiden atas surat yang akan dikirim kepada Silsbee. Isi surat ini meminta informasi mengenai peristiwa Kuala Batee. Selain itu, juga dalam rangka memberi tahu Presiden bahwa dia sedang mempersiapkan eskader Pasifik untuk melaksanakan suatu tugas di Sumatra.

Ketika Presiden Jackson menerima imbauan Silsbee, tanpa ragu-ragu segera mendukung dengan membubuhi disposisi singkat dalam surat tersebut, isinya, meminta agar kasus Kuala Batu menjadi perhatian, serta kalau diangap perlu pemerintah Amerika melalui Menteri Angkatan Laut harus mengeluarkan surat perintah kepada Kapten kapal Potomac.

Potomac merupakan kapal perang terbaik dalam armada Amerika Serikat waktu itu. Ketika kasus Kuala Batee jadi pembicaraan di Amerika, kapal tersebut sedang dalam persiapan membawa Menteri Luar Negeri Amerika Van Buren ke Inggris. Akan tetapi atas perintah Presiden Jackson kapal itu dialihtugaskan untuk berangkat ke Kerajaan Aceh Darussalam.

Pada tanggal 9 Agustus 1831, Komodor John Downes, selaku kapten Potomac diberi instruksi yang lengkap mengenai segala tindakan yang harus dilakukan sesampainya di Kuala Batee. Pertama-tama dia harus mencari informasi lebih dahulu mengenai insiden di Kuala Batee.

Apabila informasi yang diperoleh sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh kapten kapal Friendship di Washington maka dia harus menuntut ganti rugi atas kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang Aceh terhadap kapal Friendship. Kalau tuntutan itu tidak dipenuhi, dia harus menangkap pelaku-pelaku kejahatan tersebut dan inembawa mereka ke Amerika Serikat untuk diadili sebagai bajak laut.

Perintah lainnya, benteng-benteng di Kuala Batee harus dimusnahkan. Sebaliknya, bila informasi yang diperoleh di Kuala Batee berbeda dengan keterangan Kapten Kapal Friendship, maka Amerika hanya meminta ganti rugi serta menghukum pelakunya.

Pada 29 Agustus 1831, kapal Potomac berangka dari New York ke Kerajaan Aceh Darussalam dengan membawa 260 marinir. Sebelum sampai di Kuala Batee Komodor John Downes kapten kapal tersebut melakukan penyimpangan terhadap instruksi Menteri Angkatan Laut Amerika yang diterimanya.

Ia terpengaruh dengan cerita yang didengarnya dan kapten kapal Friendship, Endicot, dan orang-orang Inggris yang dijumpainya di Tanjung Harapan dalam pelayarannya ke Kuala Batee, yaitu bahwa harapan untuk mendapat ganti rugi dan penguasa Kuala Batee tidak mungkin terpenuhi.

Ia mengirim Letnan Marinir Shubrick untuk mengamat-amati keadaan di darat, tapi penduduk Kuala Batee tidak terkecob oleh penyamaran yang dilakukan Downes. Mereka lalu berkumpul di pantai untuk menghadapi sesuatu kemungkinan. Mendengar laporan yang demikian dan Shubrick, Downes memerintahkan untuk mendarat dengan kekuatan seluruh anak buah Potomac dan mengepung benteng-benteng yang berada di pantai Kuala Batee serta menangkap pemimpin-pemimpinnya.

Subuh 6 Februari 1832, sebanyak 260 orang marinir Amerika di bawah pimpinan Shubrick mendarat di Kuala Batee dan mengepung benteng-benteng yang ada di sana. Namun, karena ada perlawanan maka marinir Amerika membunuh semua yang berada di dalam benteng-benteng, termasuk wanita dan anak-anak serta merampas segala sesuaru yang berharga.

Setelah melakukan pembunuhan itu, mariner Amerika mengundurkan diri dengan dua orang diantara mereka tewas dan sembilan luka-luka. Downes kemudian memerintahkan menembaki kota pelahuhan Kuala Batee melalui meriam-meriam dari kapal Potomac. Seketika Pelabuhan Kuala batee pun jadi abu.

Tindakan Downes itu dikecam oleh sebagian politikus Amerika, diantaranta George Bencroft, yang pada waktu penembakan Kuala Batee berada di atas kapal Potomac. Sebagian harian Amerika yang terbit di Washington, seperti harian dagang yang sangat berpengaruh, Nile’s Weekly Register, kuga mengecam tindakan tersebut.

Pada tanggal 23 Juli 1832 seorang anggota DPR Amerika, Henry A.S. Dearborn dan Partai Republik Massachusetts yang beroposisi, mengajukan sebuah mosi yang meminta agar Presiden Jackson menyampaikan kepada Kongres mengenai Instruksi Downes untuk menggempur Kuala Batee, dan laporan tentang peristiwa tersebut. Mosi ini diterima oleh sidang. Pada hari itu juga, Presiden Jackson memenuhi permintaan kongres, tetapi minta agar hal tersebut jangan dipublikasikan sebelum laporan lebih lanjut diterima.

Dalam sidang Sabtu malam, tanggal 24 Juli 1832, permintaan Presiden itu diperdebatkan. Anggota Dearborn berpendapat bahwa hal tersebut harus dipublikasikan karena bila menutup-nutupi peristiwa tersebut, Downes akan mendapatkan sorotan jelek dari khalayak ramai. Sebaliknya, Ketua Komisi Urusan Angkatan Laut, Michael Hoffman dan Partai Dernokrat New York, menentang pendapat Dearborn dengan suatu amandemen bahwa peristiwa tersebut dapat dipublikasikan, tetapi harus menunggu laporan lebih lanjut.

Dalam amanat tahunannya, Presiden Jackson tidak menyinggung sama sekali peristiwa penggempuran Kuala Batee oleh Potomac yang dipimpin Downes. “Hal mi menunjukkan bahwa peristiwa pembakaran Kuala Batee dan pernbantaian penduduknya oleh marinir Amerika telah dipeti-es'kan (dibekukan),” tulis M Nur El Ibrahimy.

Oleh : Iskandar Norman
Sumber : Atjeh Cyber

Minggu, 03 November 2013

Jejak Bangsa Aceh Di Maluku

Orang Aceh yang bawa Islam ke sini. Orang Maluku yang kulit hitam ini merupakan salah satu keturunan Aceh.” Sepenggal kalimat ini mengejutkan saya pada pagi akhir Januari lalu. Dalam perjalanan dari Bandara Pattimura ke Kota Ambon sekitar 45 menit, dia bernostalgia 10 tahun lalu, jalan di sini penuh barikade. Mau aman dari penembak gelap, naik speedboat ke Ambon padahal masih satu pulau. “Bagaimana Aceh, sudah damai?” tanyanya dengan logat Ambon..


Saya terperanjat dengan klaim orang Aceh yang bawa Islam ke daerah seribu raja ini. Jika yang dimaksud Islam di Nusantara bersumber dari Aceh, tidak diragukan lagi. Boleh jadi, penjemput itu ingin menyenangkan saya atau memang itu sumber yang shahih yang tidak saya tahu. Saya menyakini, Islam di Maluku berasal dari Makassar, Jawa Timur atau langsung dari jazirah Arab yang menyebar melalui jalur perniagaan. Penuturan bapak setengaha abad ini perihal Ambon Manise membongkar memori saya pada konflik Aceh. Pasalnya, apa yang terjadi di negeri seribu pulau (Ambon) telah terjadi di negeri seribu konflik (Aceh). Misalnya, tumpukan karung pasir bertamburan di depan-depan pos militer atau barikade dari drum aspal, kayu, batu di jalan-jalan dipasang di jalan negara.

Menginjak kaki di Ambon, maka terpencarlah serpihan-serpihan daerah bekas konflik sosial. Beberapa gedung pemerintah yang dibakar baik oleh umat Islam atau Nasrani dibiarkan teronggok. Di seputar Simpang Trikora ? tempat favorit berdemo seperti di Simpang Limong Banda Aceh- saya menyaksikan dinding sebuah toko berlantai tiga penuh dengan bekas tembakan. Inilah tragedi kemanusiaan terbesar di Indonesia yang menyebabkan paling kurang sekitar 6 ribu orang Islam atau Nasrani terbunuh atau dibunuh. Pela Gandong yang menjadi benteng berpuluh tahun hancur berkeping-keping karena mahirnya provokator yang dikendalikan dari Jakarta.

Raja Aceh Dibuang ke Maluku

Konflik yang membara pada 19 Januari 1999 dianggap selesai pasca diadakan dialog antara umat Islam Vs umat Nasrani. Perjanjian yang diprakasai oleh Jusuf Kalla ini disebut Perjanjian Malino II yang diadakan pada 11-12 Februari 2002 di kawasan dingin Malino Sulawesi Selatan. Proses menuju damai terus berlanjut hingga kondusif pada tahun 2004. Pada akhirnya, warga yang berbeda agama itu sadar kalau selama ini mereka menjadi korban adu domba. Sepintas lalu, proses damai ini mengingatkan pada aksi Jusuf Kalla yang berperan besar mengiring RI-GAM ke meja perundingan di Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Menulusri kota Ambon, ada beberapa hal yang lumrah terjadi di Aceh. Misalnya, kebiasaan minum kopi di kedai kupi yang disebut rumah kopi. Pasca kerusuhan yang saling membantai sesama manusia, rumah kopi menjadi salah satu wadah pertemuan informal antara umat Islam dan Nasrani. Mereka yang dulu bertetangga, tiba-tiba bisa asah parang tanpa sebab jelas, maka tegur sapa diayunkan sambil meneguk beberapa cangkir kopi di rumah kopi. Dari segi karakter, orang Maluku sama keras dengan orang Aceh. Menghadapi watak ini dengan sikap tegas oleh para pemimpin. Mungkin karena pertimbangan itu, Kapolri menetapkan Kapolda Ambon Adityawarman (2004-2006) menjadi Kapolda Aceh yang sudah terlatih menghadapi watak penduduk yang sama-sama keras dan baru usai konflik horizontal (di Ambon) dan konflik vertikal (di Aceh).

Sultan Muhammad Daud Syah (1878-1939) bersama iterinya Teungku Putroe Gambo Gadeng bin Tuanku Abdul Majid,anaknya Tuanku Raja Ibrahim,Tuanku Raja Ibrahim, Tuanku Husin, Tuanku Johan Lampaseh,Panglima Sagi Mukim XXVI, Keuchik Syekh dan Nyak Abas dibuang ke Ambon, Maluku pada 24 Desember 1907 dan pada tahun 1918 diungsikan ke Batavia (Jakarta) karena terlalu dekat dengan orang Bugis di Maluku. Kemudian dia mangkat pada 6 Februari 1939 di sana dan dikebumikn di pekuburan rakyat Rawamangun Jakarta. Kondisi kuburan tersebut tidak memperlihatkan makam raja Aceh layaknya makam raja-raja yang terawat bersih dan diketahui oleh masyarakat.

Muhammad Kasim Arifin

Jejak selanjutnya orang Aceh yang ?membuang? diri ke Maluku yakni Muhammad Kasim Arifin (alm). Putra Aceh Timur mengabdi di Waimital bagian selatan Pulau Seram Maluku selama 15 tahun. Saya ingat kala menjadi mahasiswa beliau di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh pada tahun 1990-an yakni disela-sela memberi kuliah, dia memperlihatkan papan nama Jalan Kasim Arifin di Waimital. Kisah pengabdian yang mengharu ini diawali ketika Kasim yang mahasiswa IPB Bogor pada tahun 1964 menjalani program “Pengerahan Tenaga Mahasiswa” (seperti Kuliah Kerja Nyata ) selama beberapa bulan dengan tugas memperkenalkan program Panca Usaha Tani. Kasim jatuh cinta dengan daerah itu dan lupa pulang kalau dia masih berstatus mahasiswa. Kasim yang cerdas, hidup sederhana dan lain-lain menikmati kerja di sana hingga dia disapa Antua, sebutan bagi yang dihormati di Maluku..

Saya melacak langkah-langkah orang Aceh yang berpengaruh di Maluku baik di masa lalu atau sekarang. Tersebutlah nama Dr. Abdul Gafur bin Tengku Idris. Pada tahun 1980-an, rakyat Aceh bertanya-tanya mengapa Gafur yang dikenal dari Maluku bisa membawa nama Aceh dalam kampanye politik di Aceh. Kala itu, mantan Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada masa Kabinet Pembangunan IV menyebutkan dirinya juga orang Aceh. Ayahnya Teungku Idris adalah seorang pejuang yang dibuang oleh Belanda ke Maluku. Agaknya, dia bisa pakai dua kaki tergantung kepentingan. Nama juga politikus.

Kata Ambon terus bersemedia di Aceh. Ada pria keturunan Ambon yang lebih populer dengan sebutan Bram Aceh. Kala itu ayahanya menjadi tentara Belanda di Banda Aceh. Bram Aceh adalah penyanyi keroncong terkenal yang lahir di Aceh pada 4 Maret 1913 dan meninggal dunia di Jakarta pada 8 Mei 2001. Bram Aceh merupakan kakek penyanyi masyhur yaitu Harvey Malaiholo

Nama-nama berbau Maluku tak pernah padam di Aceh. Ketika membezuk kuburan Kerkhof di Banda Aceh, di antara 1.200 kerangka serdadu Belanda termasuk pasukan elit Marsose di sana, terdapat ratusan nama-nama yang lazim dipakai di Maluku, Jawa, Menado dan lain-lain yang dikirm ke Aceh dengan ujung bayonet untuk memburu pejuang Aceh.

Oleh Murizal Hamzah, houseofaceh.org - http://kuartil.wordpress.com

Sabtu, 02 November 2013

Abu Kuta Krueng Ulama Kharismatik Aceh



Tgk H Usman bin Tgk Ali. yang lebih dikenal Abu Kuta Krueng lahir di Kuta Krueng Pidie Jaya pada tanggal 31 Desember 1940. Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR) Beliau langsung menggeluti pengetahuan Islam di Dayah Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamyyah (MUDI) Mesra Samalanga – Bireuen, semasa mengaji di Dayah MUDI Mesra Samalanga telah nampak terlihat kepribadian seorang ulama, mulai dari sifat, karakter hingga kemampuan menyerap berbagai ilmu pengetahuan dengan cepat.

Sebagai seorang murid, Tgk H Usman selalu menghormati gurunya, hingga ilmu yang beliau peroleh-pun mengandung keberkatan (bermanfaat), karena dalam keyakinan aneuk dayah memuliakan dan menghormati guru merupakan salah satu factor keberkatan pada ilmu. Dan hal ini dipraktekkan dalam keseharian Tgk H Usman, walhasil sepulang dari dayah MUDI Mesra Samalanga beliau mendirikan Dayah Darul Munawwar di Kuta Krueng, Bandar Dua yang dulunya tunduk ke kabupaten Pidie, namun sekarang masuk wilayah kabupaten Pidie Jaya setelah pemekaran pada tahun 2007 lalu.

Kehadiran Tgk H Usman yang akrab disapa Abu Kuta Kruengdalam kancah pendidikan di Aceh telah menoreh catatan sejarah Aceh sebagai bumi seribu dayah dan satu lagi bertambah lampu penerang di bumi Serambi Mekkah. Hari ini Abu Kuta dipandang sebagai seorang tokoh ulama karismatik Aceh yang selalu dihormati dan menjadi kebanggaan orang Aceh.

Sumber : Dayah Darul Munawwar