Tampilkan postingan dengan label Udin Pelor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Udin Pelor. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2011

Udin Pelor : Sepotong Hikayat Penjual Obat

Foto-foto lama masih tersimpan di album lusuh. Tergeletak begitu saja di atas meja kerjanya, berbaur dengan buku-buku dan kertas-kertas. Selalu dibawa kemana-mana, puluhan potret dirinya dulu terekam di sana, saat Mahyuddin masih muda dan melakoni penjual obat keliling.



Meja kerjanya hanya seperti meja siswa di sekolah, mengisi sudut ruangan sebuah rumah yang dikontraknya di kawasan Peuniti, Banda Aceh. Di situ dia tinggal sendiri, tidur beralaskan kasur kapuk yang ditaruh begitu saja di lantai. Baju-baju bergantung tak teratur, tripleks sekat kamar dipenuhi poster-poster pameran budaya, juga foto bersama istri lagi-lagi fotonya di masa muda. “Istri saya tinggal di kampung, di Bireuen,” sebutnya.



Mahyuddin mengaku kerap pulang kampung, saat ini aktivitasnya di Banda Aceh adalah untuk budaya, bersama seniman yang lain dia tergabung dalam pengurus Dewan Kesenian Aceh (DKA) yang bermarkas di Taman Budaya, Banda Aceh.



Nama Mahyuddin mungkin tak banyak dikenal orang. Tapi kalau menyebut nama gelarnya, ‘Udin Pelor’ semua di Aceh pernah tahu. Orang akan langsung terbayang kepada rambutnya yang panjang, tubuh tinggi kurus dan vokalnya yang khas. Sanggup berbicara berjam-jam dan muncul dimana saja dia suka untuk menjajakan obat. Tentunya, saat dia masih muda.



Kini, tubuh lelaki kelahiran 6 Juni 1945 itu makin ringkih. Kulitnya tak seketat dulu lagi, sepertinya lemak tak ada lagi yang menyembunyikan tulangnya. Tapi, tenaganya masih kuat, semangatnya tinggi, bicaranya keras, kerap dengan canda-canda. Udin tak pernah memilih lawan bicaranya, semuanya dilayani dengan akrab.



Kehidupan Udin Pelor tak bisa dipisahkan dengan aktivitas penjual obat keliling, kendati sudah berbilang belasan tahun tak dilakoninya lagi. “Saya berhenti pada tahun 1990, memilih menjadi seniman murni,” sebutnya tersenyum memperlihatkan gusinya yang tak bergigi.



Kenangannya memutar jauh ke tahun 1970. saat Udin Pelor muda mulai berprofesi sebagai penjual obat, berkeliling dari satu daerah ke daerah yang lain. Obat yang biasa dijualnya empat macam, bedak kecantikan, obat batu ginjal, obat cacing dan obat saraf.



Metodenya menjual obat terbilang baru kala itu. Menggunakan hikayat-hikayat lama sambil melucu dengan memasukkan idiom-idiom baru, untuk menarik pengujung memenuhi lapaknya. Obatnya laku berlimpah, kendati si pembali sadar hanya membeli obat untuk menghargai lelucon-leluconnya. “Saya tahu, orang kadang membeli hanya karena omongan saya, bukan karena obatnya,” sebut Udin.



Jarang Udin Pelor memasukkan unsur sulap dalam aksinya. Hanya melakonkan cerita-cerita seru yang beredar menghampiri zaman. Kadang dia berperan sebagai koboy dengan menirukan suara kuda dan senapan, kadang suara kakek tua yang menasehati cucunya. Seringkali juga hikayat kancil dan hikayat manusia bodoh, yang dimodifikasi dari manuskrip lama.



Hampir seluruh pelosok Aceh pernah disinggahi, bahkan sampai sebagian Sumatera Utara. Nama Udin Pelor kian berkibar sebagai penjual obat. Terbukti dengan caranya menghibur, usahanya laku keras dimanapun.



Seiring namanya berkibar, pekerjaan baru pun kerap menghampiri. Tak jarang, dia mendapat undangan sebagai pembawa acara pada sebuah sandiwara atau teater budaya di kota-kota. Perlahan-lahan berjualan obat kian ditinggalkan.



Suatu hari, Ahmad CB, seniman teater di Aceh menasehatinya. “Kau ini seniman atau penjual obat,” sebut Udin mengenang nasehat itu.



Asal bunyi, Udin menjawab, “seniman penjual obat”. Nasehat pun meluncur dari Ahmad yang disegani Udin, memintanya harus melakoni salah satu profesi. Sejak saat itu, penghujung tahun 1990, Udin Pelor resmi meninggalkan aktivitas jual obat.



Kehidupannya kemudian menjelma sebagai seniman murni, mengarang cerita teater, bermain teater, menulis lagu, sampai bernyanyi mengeluarkan album. Tapi, hanya satu album yang baru berhasil ditetaskan, sepanjang hidupnya.



Udin Pelor juga pernah menjadi pemain film Tjut Nyak Dhien karya Eros Djarot pada tahun 1994. Perannya adalah pengkhianat terhadap Tjut Nyak Dhien yang diperankan dengan baik oleh Cristine Hakim. “Saya sampai dibenci orang karena peran itu,” Udin tertawa.



***

Udin Pelor adalah karib (alm) Adnan PMTOH. Pengakuan Udin, mereka pernah sama-sama menjalankan aktivistas berjualan obat dulunya. Pola yang diperagakan juga sama, mensyairkan hikayat-hikayat lama dengan memainkan alat-alat apapun, dari kaleng, tong, sapu, topi sampai kursi.



Perbedaannya, Adnan selalu menjajakan minyak cengkeh. Udin menjual obat cacing dan obat batu ginjal. “Kadang, jika kami bertemu di suatu daerah selalu menjual bersama,” sebutnya.



Kalau mereka sudah bertemu dan bersekutu, orang akan lupa beranjak dari lapak mereka. Tanpa sulap, mereka penghibur yang ulung, penguasa hikayat-hikayat lama, memadu kata untuk menjadi syair yang santun.



Sering juga mereka bertemu di sebuah teater. Kisah Malem Diwa pernah diangkat cerita oleh mereka berdua dan mementaskannya. Saat Adnan melakoni pemain tunggal PMTOH –penutur hikayat- secara utuh, Udin juga kerap mendampingi sebagai pembawa acara.



Tahun berbilang tahun, Adnan dan Udin terus beranjak tua. Hanya saja itu tak pernah disadari mereka saat bertemu. “Kalau kami jumpa, kami adalah anak muda, bukan orang tua. Kami selalu bersemangat,” sebut Udin Pelor.



Pertemuan terakhir dengan Adnan masih diingatnya sampai kini. Saat itu, Udin Pelor keliling Aceh mendampingi Rafli, penyanyi Aceh, sebagai pembawa acara dalam konser Aceh Damai ke-2. Pada 18 Maret 2006, mereka mendapat jatah menghibur warga Blang Pidie, Aceh Barat Daya, tempat Adnan tinggal bersama istri keduannya.



Sore hari, Udin Pelor bersama Muda Belia, seniman PMTOH Aceh yang lain, mengunjungi rumah sang teman. Adnan sudah banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur. “Dia sudah sakit-sakitan, dan hanya berbaring,” kisah Udin.



Begitu tahu tamu yang datang adalah Udin, jiwa Adnan langsung melecut seperti muda kembali. Adnan memaksa tubuh lemahnya untuk bangkit menyapa tamu. Tertatih-tatih, lalu tawa dan tawa hiasi rumah itu, lelucon mengalir segar seperti dulunya. “Saya sudah tahu, kalau saya sudah tua,” Udin menirukan pengakuan Adnan saat itu.



Beberapa bulan kemudian, Adnan meninggal dunia. Udin Pelor sedih, lebih menyedihkan lagi jika memikirkan siapa yang akan menggantikan Adnan dalam memelihara tradisi tutur PMTOH di Aceh. Dia khawatir suatu saat hikayat-hikayat Aceh tak ada lagi yang membacanya.



Dalam pantauan Udin, ada beberapa calon pengganti beliau yang sudah teruji dan sempat berguru kepada Adnan; Agus Nuramal dan Muda Belia. “Kalau banyak yang peduli, pasti banyak orang yang bisa menggantikan Adnan. Dia Aceh Selatan masih banyak yang mewariskan keahlian bertutur, budaya itu masih kuat di sana,” jelasnya.



Saat ini, Udin Pelor yang aktif di DKA mengakui sedang berusaha sekuat tenaga mengembalikan kejayaan budaya Aceh, khususnya hikayat-hikayat lama. Caranya, terus mengumpulkan syair-syair dari manuskrip lama. Selain itu, juga menciptakan syair-syair baru, yang mewakili kisah-kisah lama.



***

Kini, Aceh kian sepi dari penjual obat seperti Udin Pelor. Tempo mengamatinya selama sepekan di Banda Aceh, tak ada lagi hikayat yang dilantunkan dengan syair indah, atau seniman penjual obat. “Tak ada lagi yang seperti Udin Pelor dulu,” sebut Effendi, warga Banda Aceh.



Dia menyebutkan, penjual obat saat ini hanya melakukan metode sulap murahan. Bukan menghibur pembeli dengan syair-syair Aceh dan lelucon. Ya... hanya sulap murahan dengan memakai tong besar dan mengikat anak-anak, yang katanya akan menjadi harimau atau binatang lainnya.http://www.blogger.com/img/blank.gif



Udin Pelor bukan tidak tahu. “Ingin rasanya saya turun gunung, menyamar kembali sebagai penjual obat,” sebutnya, sambil membuka kembali album-album di masa jayanya sebagai penjual obat keliling. Saat menggelitik pembeli dengan syair-syair yang hampir punah.



Bersama zaman, seni tutur hikayat Aceh kian jarang dijumpai bersama penjual obat. Yang ada hanya sulap murahan. ***

Sumber : Adi Warsidi

UDIN PELOR - Sang Maestro Penebar Pesona

Dengan berperawakan Ala Coboy, Udin Pelor menyerigai penonton dengan suara-suara desing peluru dan dentuman bom begitulah aksi Udin Pelor setiap kali dia menjadi Master Ceremony (MC) di berbagai acara. Lelaki gaek yang lahir di Matang Geulumpang Dua, 6 Juni 1945 masih saja berpenampilan perlente dengan rambut dikuncir ke belakang dan celana jeans belel, namun inilah Sang Maestro penebar pesona, yang lahir sebagai bagian dari alam Aceh yang di naungi budaya yang serba specifik, dia adalah karakter yang sulit di cari ganti.



Mengenalnya bagaikan mengenal angin yang berlalu, datang dan pergi sesuai suara hati. Pengembara yang satu ini terlihat tak pernah kenal henti untuk berkiprah di dunia kesenian, meski umurnya sudah terbilang tidak muda lagi, udin tetap menjalankan aktifitasnya sebagai insan seni yang konsisten.

Udin pelor tidak pernah merasakan bagaimana nikmatnya hidup di gaji pemerintah, biaya hidupnya hanya tertumpu pada berbagai usaha mandiri yang dilakukannya sejak berusia 16 tahun, dari mulai bisnis durian, buku bacaan pengarang-pengarang zaman Balai Pustaka, hingga berkesenian semua dijajakinya.

Dalam berkesenian Udin Pelor adalah pendobrak komposisi musik Aceh untuk pertama kali, di mengubah tone dan ritmik musik Aceh. Keberaniannya meletakkan pondamen dasar musik berbahasa Aceh yang lain dari yang pernah ada, merupakan sumbangan besar bagi perkembangan musik Aceh pada saat ini.

Coboy Aceh yang satu ini memiliki mental yang terasah oleh pengalaman berpuluh-puluh tahun menjadi tukang obat. Pengembaraannya dari kota ke kota, dari kampung ke kampung sebagai Gypsi Aceh menjadikannya maestro yang belum bisa dicari gantinya, sikapnya yang tenang mencerminkan kedalaman pengetahuan yang tidak bisa dinilai dengan materi. Vigur ini sudah sepantasnya di beri penghargaan setinggi-tingginya atas jasa-jasanya menghidupkan kesenian tradisional baik itu Susastra Aceh maupun Teater Tradisi Aceh, Geulanggang Labu atau dapat juga disebut Teater Arena di zaman sekarang.

Menurut pengakuannya, Nama Udin Pelor diberikan oleh kepala pabean yang bernama Ramli, saat gawat-gawatnya DI/TII. Udin Pelor yang bernama asli Mahyuddin Ismail memiliki perahu bot yang cukup memadai untuk menelusuri kuala langsa. Dalam situasi sedemikian Udin bersikukuh untuk ikut dalam pencarian meski sudah di larang oleh salah satu tentara yang saat itu ikut patroli. “saya katakan pada mereka saat itu kalau takut mati, di tempat tidurpun kita bisa mati, Kalau Allah berkehendak apapun bisa terjadi, termasuk mati di tembak.” ujarnya

“Saat kami di serang, cuma saya yang tidak mati, mungkin orang-orang DI/TII tahu bot saya dan saya ada di dalam bot itu, makanya saya selamat. Lantas saya membawa pulang mereka yang sudah tidak bernyawa lagi menuju pangkalan, nah dari situlah Ramli memberikan julukan saya Udin Tse Pelor, yang artinya Udin sisa pelor, namun belakangan saya di panggil oleh kawan-kawan Udin Pelor, karena mereka tidak dengar perkataan Tse yang di lontarkan pertama kali oleh Ramli.” Kenangnya.

Mulai saat itulah Udin memiliki prinsip seperti pelor, jika ada pekerjaan harus tepat sasaran, dan menghasilkan. Istilah Udin memanfaatkan satu pelor untuk menembak sekaligus dua objek, paling tidak salah satunya pasti kena.

Kariernya dalam kesenian di mulai dari Gelanggang Labu, yaitu sandiwara rakyat yang formatnya sederhana dan sering pentas keliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Semula Udin Pelor berniat untuk menjadi anak buah kapal, namun salah pemilik kelompok Geulanggang Labu memanggilnya untuk ikut bergabung dan menjadi pelatih tari dalam sandiwara. Sejak itu Udin terus ikut kemanapun rombongan sandiwara Geulanggang Labu ini tampil.

Berada dalam kelompok Sandiwara ini, memberikan motifasi baru bagi Udin disaat remajanya, banyak hal yang dilewatinya bersama kelompok ini, baik susah maupun senang. Masyarakat yang menyaksikan setiap pertunjukannya juga sangat antusias, sebab di dalam sandiwara ini banyak disampaikan petuah adat, nasehat orang tua, hukum-hukum Islam hingga berbagai kontek sosial kemasyarakatan yang positif dilahirkan lewat sandiwara Geulanggang labu ini dan Udin menjadi salah satu tokoh yang sangat mentukan berhasil tidaknya pertunjukan Geulanggang Labu pada saat itu

Sandiwara Geulanggang Labu ibarat para pendakwah yang tidak kenal lelah, mereka terus saja menarik simpati masyarakat sebanyak-banyaknya kala itu, tentunya semakin banyak yang menonton makin banyak pula rezeki yang di dapat. Udin Pelor bersaksi untuk itu.

Kehidupan menjadi “Gypsi” bukanlah paksaan yang senantiasa harus berkeluh kesah, persoalan kesenian dan hidup kadang-kadang menjadi satu dan tidak ada ujung pangkalnya. Dari 30 orang anggota kelompok, kadang-kadang hasil yang didapatkan tidak dapat di bagi sama, bahkan ada beberapa anggota yang tidak kebagian jatah uang saat itu, hal ini menurut Udin Pelor sering terjadi dan ini sangat lumrah. Namun saat itu honor bukanlah tujuan, tetapi pertunjukanlah yang paling utama, masyarakat terhibur dan misi tersampaikan.

Dengan kondisi inilah Udin Pelor harus memutar otak dengan keras, sampai suatu ketika datanglah seseorang yang mengajaknya untuk berjualan obat. “Waktu itu saya tidak mengerti bagaimana berjualan obat, kata teman saya, tugas saya cuma mengumpulkan banyak orang sebelum jualan obat dimulai, saya pun faham maksud teman saya itu langsung saja saya mulai beryanyi dan melawak, sesekali saya bercerita mengenai kasiat obat yang akan kami jual pada penonton yang mengerubungi kami, kalau kata-kata sekarang petunjuk penggunaan obat, saudara-saudara, kalau anda terkena penyakit cacing maka pakailah ramuan kami ini, yang paling top dan ampuh membasmi cacing yang bersarang di perut anda, ingat saudara-saudara, cacing yang ada pada tubuh kita dan paling berbahaya bukanlah cacing gelang, tapi cacing yang kecil-kecil, alias cacing keremi, maka untuk membasminya minumlah ramuan ini secara teratur, di jamin sembuh seratus persen, kalau tidak uang kembali,” kenangnya

Menurutnya semua ini terjadi ketika gelanggang labunya tampil di Bireun, tepatnya Krukuh Aceh Utara,

Hiburan penjual obat menjadi trand pada masa itu, dan Udin Pelor adalah ujung tombak yang kerap dipakai sebelum jualan obat berlangsung, hiburan Udin Pelor yang semakin akrab di berbagai tempat membuat obatnya laku terjual padahal obat yang dijual Udin Pelor hanya obat cacing dan obat penyakit batu karang serta ramuan untuk kecantikan.

Jika di telisik lebih jauh, Udin Pelor bukanlah seorang penjual obat jalanan yang tulen, tetapi dia adalah seniman yang ikut dalam proses penjualan obat. Banyak orang salah tanggap dengan keberadaan seniman gaek yang satu ini, Udin memang benar meracik obat cacing, obat batu karang dan ramuan kecantikan, tetapi perfomancenya tidak layak dikatagorikan sebagai penjual obat yang benar-benar serius, seperti teman-temannya karena vorsi yang di tampakan Udin pelor lebih banyak berkesenian dari pada menjual obat yang meski diraciknya sendiri. Hal ini senada dengan pengakuannya, “Sebenarnya orang-orang membeli obat saya bukan gara-gara obat itu manjur, tetapi karena mereka menghargai kesenian yang saya tampilkan,” ungkapnya

Kakek dua cucu ini juga mengakui, selama berjualan obat dia banyak ruginya, karena komposisi berjualan obat dengan hiburan lebih banyak hiburannya, masyarakat kita waktu itu sangat haus akan hiburan, mereka maunya dihibur terus hingga kadang-kadang lupa beli obat, padahal maksud Udin, kesenian adalah alat untuk menggiriring masyarakat yang ada di tempat itu agar membeli obatnya. Melihat kondisi ini teman-teman Udin memberikan nasehat, agar Udin lebih memfokuskan kesenian dari pada berjualan obat, sebab akan terus mengalami kerugian jika udin terus berjualan obat.

Aksi tebar pesona Udin terikut saat dia menjadi MC di berbagai acara. Udin Pelor acap kali mengeluarkan jurus-jurus andalannya sebagai bumbu pengikat agar audiens tidak beranjak dan tidak riuh dalam acara yang sedang berlangsung, dia juga sangat ahli membuat perhatian penonton sebuah acara jadi terfokus, sehingga Acara yang sedang berlangsung sukses tanpa cela.

Udin Pelor yang kini seumur dengan Republik Indonesia; 64 tahun, memiliki keluarga yang sangat sederhana, dia dikarunia satu orang anak dari seorang istri bernama Halimah dan kini sudah memiliki dua orang cucu.

Perjalanan sang maestro ternyata belum semua tercatat, terutama kisah cintanya dengan sang istri yang di boyongnya darai Lueng Putu Pidie 1972, dalam mencari jodoh Udin sangat selektif, dan banyak berguru pada orang tua. Dia juga sempat disarankan agar mencari gadis yang bernama Siti Hawa, “ Coba bayangkan nama Siti hawa itu sangat jarang ada di Aceh, saya sampai bingung mencarinya, namun saya terus mencoba mencarinya. Untuk mendapatkan jodoh saya menjual tanah di paya maneng, uangnya saya sewa satu kelompok drama dari Medan untuk berkeliling bermain sandiwara di Aceh. Di dalam kelompok sandiwara ini ada tiga orang gadis yang lumayan cantik, lantas saya mengetesnya, ternyata ketiganya tidak memenuhi syarat bagi saya, alasannya cuma sepele, dia tidak bisa masak. Akhirnya ini pun gagal. Tapi saat saya berada di Pidie, saya tertarik dengan seorang gadis yang kini menjadi Istri saya. Satu yang cuma saya langgar saat saya memperistrikan Halimah, dinamanya tidak ada kata yang berbunyi wa tapi yang dapat akhiran mah” ujarnya sambil tertawa.

Dari sisi penciptaan lagu, Udin Pelor sempat menelurkan satu buah album Trio bersama Istri dan anaknya, lagu ini berformat musik gaya baru berbau country dan India, kekhasan tone yang di pilih Udin dalam Album ini menjadi penomenal saat itu, namun nama besar Udin Pelor mengalahkan segalanya. Inilah yang dikatakan pembaharu dalam musik Aceh, mulanya selalu di cerca kemudian generasi berikutnya mengambilnya sebagai bahan rujukan terhadap musik yang dimainkan saat ini.

Salah satu syair Udin Pelor yang sempat di berikanya beberapa waktu yang lalu pada Sipil berjudul Taba Peusuna; “Ingat-ingat wahe rakan droe/ Bak tatiek duro bak jalan raya/ Han binasa ta jak binasa ta wo/ Peunyakit tablo utang tapeuna//Tameututo bek leupah-leupah/ Peukara lidah yoe cok binasa/ Seubab lidah juwah ban rimoung/ Keumeunan neukheun le ureung tuha//Taba peusuna keugob tapeugah/ Narit fitnah asai bak gata/Di yaumil masya kateusuet lidah/ Panyang meuleumpah meuribe deupa//Gunteng neuraka meu yue koh lidah/Teumpat keuneubah dalam neuraka.”

“Saat ini di umur saya yang sudah tidak muda lagi ini, karya yang saya buat semakin banyak. Inilah kekayaan saya yang sesungguhnya. Dulunya saya pernah mengecap bagaiman rasanya kaya materi dan tinggal di hotel selama bertahun-tahun, dan saya berhenti menginap di hotel itupun gara-gara hotelnya harus di gusur, kalaulah hotel itu masih ada saya mungkin masih menikmati kemewahan tersebut. Tapi yang lebih penting bagi saya saat ini, adalah semangat untuk terus berkiprah di dunia kesenian dan saya tidak akan hentikan itu hingga saya tidak lagi punya umur, dan kepada istri saya juga saya sudah katakan, cuma syair-syair inilah harta paling berharga saya, biasanya kalau penciptanya sudah tidak ada, syair-syair ini akan di cari orang,” kelakarnya

Seperti yang dikatakan Udin Pelor memang terjadi di Aceh, ketika PMTOH, Toet masih ada, tidak pernah sekalipun ada penghargaan berharga bagi mereka, padahal mereka yang hidupnya hanya berkesenian adalah penjaga budaya dan identitas daerah ini. Terbukti ketika kedua tokoh seni dan budaya ini tiada, ratusan karyanya sama sekali tidak terdokumentasi dengan baik, sementara bangsa asing sudah lebih dahulu memajangnya sebagai aset berharga miliknya.

Udin Pelor juga sangat menyesalkan ketidak pedulian daerah ini kepada kesenian dan pelaku-pelaku seni lainnya, seolah-olah seniman adalah beban yang memberatkan bagi Aceh.

“ Saya tidak memiliki muka untuk mengemis pada mereka yang punya banyak dana, apalagi pemda. Bagi saya adanya kesadaran berbudaya saja sudah cukup bagi kita para seniman. Tidak perlu bantu saya, saya Cuma minta mereka-mereka itu menyadari akan adanya budaya di sekitar dia dan pelakunya adalah seniman, ini kadang-kadang salah cerna, seniman yang punya karya kenapa pejabat yang punya nama. Tidak jauh lah, kita diundang ke luar negeri aja pejabat yang dapat nama sementara seniman hanya pelengkap pelaku saja.” Kelunya.

Sipil juga merncatat, Udin Pelor belum pernah dianggap sebagai bagian dari kesenian Aceh, hal ini terbukti dengan tidak adanya respon pemerintah daerah Aceh terhadap seniman, generasi Udin Pelor sebagai aktor Geulanggang Labu atau Seniman si Tukang obat sudah berakhir, namun namanya sangat populer di berbagai tempat dan masyarakat kita mengklimnya sebagai seniman yang multi telent.

Banyak seniman muda yang saat ini tenar namanya lewat lawakan yang belajar kepadanya, kemampuannya mengartifisialkan pengalaman individunya kepada generasi saat ini sungguh tidak dapat diukur dengan anugerah seni yang hanya berjumlah 10 juta, tetapi dia wajar di beri anugerah yang setimpal dengan hasil kerja kerasnya untuk membangun seni budaya hingga saat ini.

“Di negeri jiran, para penyair itu di biayai hidupnya oleh negara, mereka memiliki gaji tiap bulannya, selain itu negara mereka juga menghormati seniman sebagai satu kelompok tempat berdiskusi persoalan negara, sebab senimanlah yang paling cepat tahu bagaimana kondisi masyarakat beserta pemecahan persoalannya, dapat anda bayangkan betapa berharganya seniman di mata para pejabat negara di Malaysia, sementara di Aceh apa yang kita dapat, paling cuma menambah-nambah jumlah pengangguran, padahal syair dan nasehatnya lewat karya yang di buatnya dapat menterjemahkan daerah ini secara menyeluruh, ini cuma harapan saya bagi setiap yang berkuasa, baik hari ini, esok dan masa mendatang.” Urainya.

Yang Pasti Udin Pelor yang kini bukan bertopi Koboy lagi menginginkan perubahan penanganan seni dan budaya secara baik dan bermutu, kesenian yang mampu melangutkan perasaan sebab menurutnya ada dua bagian dalam hati manusia jika di belah, yang sebelah kanan adalah keimanan dan sebelah kiri adalah kesenian dan budaya, jika keduanya terisi dengan sempurna kita akan tahu siapa diri kita, untuk apa kita dan bagaimana kita akan menyongsong kehidupan yang lebih baik sebagai persiapan mati nanti, tambah Udin Pelor.

Udin Pelor yang masih saja menebar pesona di setiap acara-acara serimonial merupakan pelaku seni yang tidak pernah usai memikirkan seni dan budaya, semangat ini perlu di teladani bagi generasi muda saat ini, karena seni budaya Aceh juga terbentuk dari keseriusan dan pandangan yang jauh ke depan, tidak mengada-ada dan sangat memiliki prosfek cerah di masa yang akan datang. Maestro itu masih tersenyum meski dalam gamang berlangitkan tanda tanya tentang kesenian kita.

Sumber : Rahmad Sanjaya

Udin Pelor Ingin Jadi Gubernur Aceh

Penyanyi dan pelawak kawakan Aceh, Udin Pelor menyatakan dirinya akan mencalonkan diri menjadi Gubernur Aceh periode 2012-2017. Udin akan berpasangan dengan Tgk Amad Leleh dan maju menggunakan jalur perseorangan.

Udin juga sudah menyebarkan undangan pada sejumlah media di Aceh untuk meliput prosesi pengambilan formulir pendaftaran dan form dukungan calon perseorangan/independen di Kantor KIP Aceh, Senin (4/7) hari ini.

“Kami mohon dukungan rekan-rekan wartawan untuk meliput prosesi pengambilan formulir pendaftaran dan form dukungan,” tulis Udin dalam surat undangan resminya yang diterima Harian Aceh, kemarin.http://www.blogger.com/img/blank.gif

Saat ini, sejumlah persiapan untuk nyalon jadi gubernur sudah dilakukan Udin Pelor. Dia sudah menyiapkan kantor sekretariat hingga mencari slogan untuk kampanye. Kantor sekretariat Udin Pelor beralamat di Jalan Amelia Nomor 1 Lampaseh, Banda Aceh. Sedangkan slogan kampanye pasangan ini adalah Dari Rakyat Untuk Rakyat.

Udin Pelor bernama asli Mahyuddin adalah warga Peuniti, Banda Aceh. Kakek kelahiran Matanggeulumpangdua, Bireuen, 6 Juni 1945 ini pernah mengawali karirnya sebagai penjual obat keliling, berhenti pada tahun 1990, kemudian dia memilih menjadi seniman. Dengan berperawakan Ala Coboy, Udin Pelor sering membuat penonton terhibur, baik dengan suara-suara desing peluru dan dentuman setiap kali dia menjadi Master Ceremony (MC), atau saat membawakan lagu-lagu kocak. (dad)

Sumber : Harian Aceh