Minggu, 24 Juli 2011

Polisi Buat Sketsa Wajah Pelaku Penembakan Pon Cagee

Pihak aparat keamanan dari Polres Bireuen sudah membuat sketsa wajah pelaku penembakan Pon Cage berdasarkan kesaksian dan bukti-bukti yang dikumpulkan. Namun sketsa wajah tersebut belum final, sebab masih dibutuhkan berbagai informasi lain agar menjadi sempurna. Hal ini dikatakan oleh Kapolres Bireuen AKBP. HR. Dadik Junaidi yang dihubungi khusus oleh The Globe Journal, Minggu (24/7) sekitar pukul 16:30 WIB.

Kapolres menyebutkan pihaknya sudah memanggil 3 orang saksi yang berada di TKP saat peristiwa itu terjadi. Berdasarkan informasi dari para saksi itulah, pihak keamanan membuat sketsa wajah pelaku.

"Pihak kepolisian sudah membuat sketsa wajah pelaku sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh para saksi. Namun karena masih terbatasnya informasi maka sketsa tersebut belum bisa menjawab siapa pelaku secara tepat sekali. Kita sekarang masih dalam tahap pendalaman informasi," Kata Kapolres Bireuen.

Dalam kesempatan ini Kapolres juga mengatakan bahwa sampai sekarang pihaknya belum berhasil menangkap pelaku penembakan yang menewaskan mantan Ketua KPA wilayah Bate Ilik Amiruddin Husen alias Saiful Husen alias Pon Cage.

Kapolres membantah isu yang beredar dari mulut ke mulut bahwa pelaku sudah berhasil diidentifikasi dan menangkap pelaku. "Sampai sekarang Polisi terus mengembangkan kasus tersebut. Namun kita belum berhasil mengidentifikasi dan menangkap pelaku. Nanti kalau memang sudah teridentifikasi dengan tepat dan sudah kita tangkap, pasti akan kita umumkan," sebut Kapolres.

Kapolres juga berharap kepada masyarakat yang mengetahui dan mempunyai informasi penting terkait kasus tersebut, agar mau melaporkan kepihak aparat keamanan demi terkuaknya kebenaran dan tegaknya keadilan di Bireuen.

Sumber : The Globe Journal

Sabtu, 23 Juli 2011

KRONOLOGI TRAGEDI BERDARAH SIMPANG KKA

Tanggal 3 Mei punya banyak makna bagi warga Aceh Utara, dan juga bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Tanggal tersebut selain bermakna resistensi atau perlawanan rakyat melawan negara, juga sebuah kenangan buruk, betapa negara begitu semena-mena terhadap rakyatnya. Karenanya, saban tahun—meski tak rutin karena kondisi Aceh tak selalu kondusif untuk mengenang tragedi—warga Aceh Utara khususnya para korban tragedi Simpang KKA memperingatinya.



Sekedar merawat ingatan, Senin, 3 Mei 1999 atau sebelas tahun silam, banyak darah berceceran di sekitar simpang PT KKA. Jeritan dan tangisan para korban memecah telinga siapa saja yang pernah mendengar. Saat itu, harga peluru tentara begitu murahnya, karena bisa dihambur-hamburkan dengan sangat mudah. Setelah itu, puluhan mayat dan ratusan korban tergelatak, ada yang sudah kaku, banyak juga yang masih bernyawa sambil merintih, yang lainnya berlarian seperti dikejar air tsunami, mencari tempat yang bisa dijadikan tempat berlindung.



Saat tragedi itu, korban luka-luka tak terhitung. Hanya data yang dikumpulkan oleh Tim Pencari Fakta (TPF) Aceh Utara menyebutkan 115 orang mengalami luka parah, sementara 40 orang lainnya meninggal dunia. Dari jumlah itu, ada 6 orang masih sangat kanak-kanak, termasuk Saddam Husein (7 tahun) menjadi korban kebuasan aparat negara.

Sementara data yang dikeluarkan Koalisi NGO HAM Aceh, menyebutkan sekitar 46 orangmeninggal (dua orang meninggal ketika menjalani perawatan di RSUZA Banda Aceh), sebanyak 156 mengalami luka tembak, dan 10 orang hilang dalam insiden tersebut.

Meskipun banyak pihak melupakan peristiwa itu, tidak bagi para korban. Jamaluddin, misalnya, sampai sekarang masih terkenang dengan tragedi paling kejam dalam hidupnya. Jamal, kelahiran Sawang, Aceh Utara mengisahkan, bahwa saat peristiwa itu terjadi, dirinya melihat banyak sekali korban tembakan yang rubuh. Jamal juga mendengar jeritan tangis dari para ibu dan bapak yang melihat warga tertembak.

Jamal sendiri mengaku, saat tragedi itu, tubuh-tubuh warga yang kena tembakan jatuh menindihnya. Dengan sisa tenaga yang ada, mayat-mayat diambil dan diletakkan di tempat yang layak. Jamal mengaku, tak tahu harus berkata apa saat itu. Jamal, sendiri luput dari maut.Jamal berharap Pemerintah Aceh tidak melupakan peristiwa itu. Kalau memang ini pelanggaran HAM, pelakunya harus diadili. Karena itulah keadilan bagi korban.


Kronologi Peristiwa

Sebelum Kejadian

Jumat malam, 30 April 1999, Sekitar jam 20.30 WIB masyarakat Desa Cot Murong, Kecamatan Dewantara, mengadakan rapat akbar untuk memperingati 1 Muharram yang bertepatan dengan 30 April 1999. Oleh pihak keamanan, peringatan 1 Muharram yang biasa diselenggarakan oleh masyarakat Islam di manapun di seluruh Propinsi Aceh, disebut sebagai ceramah Gerakan Aceh Merdeka (GAM).



Lalu muncul kabar bahwa seorang anggota TNI dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berpangkat Sersan, bernama Adityawarman, hilang saat melakukan penyusupan di tengah kegiatan ceramah (Keterangan Kapuspen TNI, nama anggotanya yang hilang itu adalah Sersan Kepala Edi, dari Den Rudal 001/Pulo Rungkom, Aceh Utara).

Tidak jelas apakah anggota TNI itu benar hilang atau terjadi berbagai kemungkinan lainnya, tetapi yang pasti tidak satupun dari penduduk yang mengetahui keberadaannya. Dan yang pasti lagi, malam itu tidak terjadi apa-apa yang berarti di Desa Cot Murong.

Sabtu malam, 1 Mei 1999

Sebuah truk militer dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berputar-putar dikawasan Desa Cot Murong dengan aktivitas yang tidak jelas, tetapi hari itu tidak terjadi apa-apa.

Minggu pagi, 2 Mei 1999



Mulai pukul 05.00 WIB pasukan Den Rudal 001/Pulo Rungkom mulai melakukan operasi di kawasan Desa Cot Murong. Pada minggu pagi itu masyarakat sedang melakukan persiapan pelaksanaan kenduri memberi makan untuk anak-anak yatim sehubungan dengan pringatan 1 Muharram yang dilaksanakan sejak Jumat malam sebelumnya. Masyarakat memotong 4 ekor lembu di halaman Masjid Al-Abror, Cot Murong.

Pada saaat itulah, sekitar jam 11.00 WIB datang pasukan Den Rudal ke tempat kenduri dan dengan dalih menanyakan anggotanya yang hilang sehari sebelumnya mulai memuli warga setempat. Dilaporkan, waktu itu ada tidak kurang 20 orang yang dianiaya oleh anggota TNI tersebut. Praktek kekerasan dan penganiayaan dengan bertindak kasar, menampar dan memukuli hingga cedera, telah terjadi.
Ketika sedang melancarkan aksinya, penduduk sempat mencatat kata-kata yang dikeluarkan para anggota TNI yaitu "AKAN KAMI TEMBAK SEMUA ORANG ACEH APABILA SEORANG ANGGOTA KAMI TIDAK DITEMUKAN".

Menyadari kondisi yang mulai mencemaskan tersebut kemudian para warga dari Desa Murong dan desa-desa tentangga seperti Desa Lancang Barat, Kecamatan Nisam dan Paloh Lada, yang terdiri dari pemuda, wanita, orang tua serta anak-anak berkumpul untuk mencegah kemungkinan penganiayaan lebih lanjut, apalagi aparat militer telah mengeluarkan ancaman yang cukup menakutkan.

Tiba-tiba, pada pukul 13.00 WIB datang lagi pasukan tambahan yang terdiri dari 7 truk anggota TNI ke lokasi kenduri. Melihat itu, masyarakat yang telah berkumpul dari berbagai penjuru Kecamatan mencoba menghadang.

Tepat pukul 14.00 WIB terjadi negosiasi (membuat perjanjian) antara masyarakat Kecamatan Dewantara dengan Danramil Kecamatan Dewantara yang diketahui pihak MUI Kecamatan, yang isinya: "TNI tidak akan datang lagi ke Desa Cot Murong dengan alasan apapun".

Saat Kejadian

Minggu malam, 2 Mei 1999. Masyarakat desa mengetahui adanya penyusupan anggota TNI antara jam 20.00 WIB sampai dinihari ke Desa Cot Murong dan Desa Lancang Barat. Bahkan penduduk pun mengetahui adanya sebuah boat yang diperkirakan milik militer berupaya untuk melakukan pendaratan di pantai Desa Cot Murong, namun batal karena terlanjur diketahui oleh warga setempat. Sampai waktu itu tidak terjadi apa-apa, namun kecemasan penduduk semakin memuncak, dan sejak saat itu mereka semua mulai berkumpul sampai Senin pagi.



Senin pagi, 3 mei 1999.

Tepat pada pukul 09.00 WIB, 4 truk pasukan TNI datang lagi memasuki Desa Lancang Barat, desa tentangga Cot Murong. Massa rakyat yang berkumpul merasa cemas dan mulai mempersenjatai diri dengan kayu dan parang (tanpa senjata api). Lalu datang Camat Dewantara, Drs. Marzuki Amin ke Simpang KKA dan mulai melakukan negosiasi dengan aparat TNI. Aparat berkeras dan negosiasi mentok. Camat tetap berpegang kepada perjanjian terdahulu yang telah disepakati oleh masyarakat dengan Koramil Dewantara yang intinya pihak TNI tidak lagi melakukan kegiatan operasi di daerah mereka. Negosiasi itu beralangsung cukup lama. Waktu sudaah menunjukkan hampir jam 12.00 WIB.

Untuk menunjukkan kesungguhan hati dan permohonan yang sangat besar agar pasukan segera ditarik dan pihak TNI menghormati perjanjian yang telah dibuat, Camat Marzuki Amin sempat mencopot tanda jabatan dari dadanya. Tetapi malah sang Camat kemudian dipukuli oleh tentara.

Pada saat itu tiba-tiba satu truk milik TNI bergerak dan sambil berlalu, dari atas truk para tentara melempari batu ke arah masyarakat, dan masyarakat yang terpancing balas melempari batu ke atas truk. Pada saat yang hampir bersamaan juga seorang anggota tentara berlari kearah semak-semak dan masyarakat yang terpancing mengejarnya. Tiba-tiba dari arah semak itu terdengar satu letusan senjata. Letusan senjata itulah yang seperti sebuah "komando" disusul oleh rentetan serangan. Pembantaian segera dimulai. Tepat jam 12.30 WIB.
Saat Kejadian.

Pukul 12.30 WIB, Suara gemuruh dan teriakan manusia memenuhi Simpang KKA. Ribuan orang berlarian menghindari serangan dari TNI. Dua wartawan RCTI (Umar HN dan Said Kaban) yang kebetulan sudah berada di tempat itu sempat merekam moment-moment penting yang terjadi baik dengan foto atau video. Dapat dikatakan, hasil rekamannya itu menjadi salah-satu bukti yang paling akurat dan tidak mungkin dapat dipungkiri tentang bagaimana peristiwa yang sebenarnya.



Tembakan yang dilakukan tanpa peringatan terlebih dahulu dan dengan posisi siap tempur. Tentara yang dibagian depan jongkok dan yang berada pada barisan belakang berdiri. Selain itu, tentara yang berada di atas truk juga terus melakukan tembakan sambil melakukan gerakan-gerakan tempur. Saat itu penduduk yang tidak lagi sempat lari melakukan tiarap tapi terus diberondong.

Selain melakukan tembakan kearah masa, TNI juga mengarahkan tembakan ke rumah-rumah penduduk, sehingga banyak warga yang sedang di dalam rumah juga menjadi korban. Bahkan mereka mengejar dan memasuki rumah-rumah penduduk dan melakukan pembantaian di sana.

Ketika melakukan tembakan para anggota tentara itu juga berteriak-teriak. Kalimat yang paling sering diucapkan adalah "Akan kubunuh semua orang Aceh". Dalam aksi pembantaian tersebut, 45 jiwa Tewas di tempat, 156 lainnya Luka-luka kebanyakan karena luka tembak, dan 10 diantaranya Hilang sampai saat ini tidak tahu keberadaannya. Banyak penduduk yang sudah tertembak dan tidak bisa lari lagi masih terus diberondong oleh tentara dari belakang. Mereka benar-benar melakukan pembantaian seperti sebuah pesta.

Sumber: Koalisi NGO HAM Aceh - Atjeh Cyber Warrior

Jenazah Pon Cagee Tak Sempat Divisum

Jenazah Pon Cage alias Saiful yang ditembak oleh OTK di depan warung Gurkha Matangglumpangdua Sabtu malam (22/7) sekitar pukul 23.00 WIB tidak sempat dilakukan visum oleh pihak Rumah Sakit Umum Dr. Fauziah Bireuen. Hal ini disebabkan ada larangan dari pihak pengantar jenazah sehingga para medis yang berada di bagian unit Gawat Darurat (UGD) tidak berani melakukan visum.

Saiful Husen alias Pon Cagee saat berada di ruang UGD RSUD Fauziah Bireuen. Korban meninggal dunia setelah ditembaki dari jarak dekat. (Harian Aceh/Joniful Bahri)

Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala bagian UGD RSU Dr. Fauziah Bireuen, Dr. Mukhtar kepada The Globe Journal, Sabtu (23/7) melalui hubungan telepon. Menurut Mukhtar saat dibawa ke UGD rumah sakit tersebut, pihak medis sebenarnya langsung hendak melakukan visum, namun para pengantar jenazah dengan nada tegas meminta agar visum tidak dilakukan. Berkisar selama 5 menit dirumah sakit, jenazah kemudian dibawa pulang kerumah duka di Kecamatan Peusangan Selatan.

"Menurut Informasi yang saya terima dari tenaga medis di UGD, jenazah Cage sempat dibawa kerumah sakit, namun saat hendak dilakukan visum oleh pihak medis, ada yang melarang dengan nada tegas. Sehingga diputuskan tidak dilakukan visum. 5 menit kemudian, jenazah dibawa pulang," jelas Dokter Mukhtar dari seberang telepon.

Kapolres Bireuen AKBOP HR. Dadik J kepada The Globe Journal secara terpisah mengatakan bahwa sebenarnya visum dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian seseorang. Namun bila jelas dan nyata penyebab kematian, maka hal tersebut bila tidak dilakukan pun tidak apa-apa.

"Sebenarnya visum kan untuk mengetahui penyebab kematian. Itu sama dengan otopsi. namun karena penyebab kematian sudah jelas, maka bilapun tidak dilakukan visum tidak menjadi masalah," terang Kapolres Bireuen.

Sumber : The Globe Journal

Jumat, 22 Juli 2011

Irwandi Yusuf : Investasi Aceh Terganggu Aksi Perampokan

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan aksi perampokan sebuah bank di Kabupaten Aceh Timur bisa mengganggu dunia investasi di daerah itu.

"Aksi kejahatan ini cukup mengganggu iklim investasi. Investor akan takut datang ke Aceh, kalau ini terus berlangsung," katanya di Aceh Besar, Rabu (20/10).

Pernyataan itu disampaikannya ketika menanggapi aksi empat perampok bersenjata api yang menyatroni Bank BRI di Gampong (desa) Desa Lhok Nibong, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, Selasa (19/10).

Dalam aksi tersebut, polisi menembak mati dua dari empat pelaku. Dua perampok yang tewas tersebut sebelumnya sempat mengambil uang Rp100 juta di berangkas bank tersebut.

Melihat rekannya ditembak, dua pelaku tersebut kabur dengan membawa lari senjata api AK-47 dari rekannya. Uang rampokan senilai Rp100 juta gagal dibawa dua perampok tersebut.

Menurut Irwandi, perampokan terjadi di mana-mana, tidak terkecuali di Provinsi Aceh. Namun, karena Aceh bekas daerah konflik, maka setiap kali terjadi kejahatan cukup mengganggu minat investor.

"Tapi, perlu diketahui, aksi kriminal di Provinsi Aceh tidak lebih tinggi dari rata-rata nasional. Cuma karena Aceh bekas daerah konflik, yang kecil menjadi besar," katanya.

Ia mengatakan, seharusnya setelah berakhirnya konflik selesai pula semua masalah, termasuk kriminalitas. Namun, persoalan ini tidak selesai karena faktor ekonomi masih belum membaik.

Selain itu, Irwandi juga mengkritiki peran media massa terkait pemberitaan aksi kejahatan tersebut. Sebab, media massa berperan penting menyampaikan kondisi riil di Provinsi Aceh.

"Peranan media massa juga penting. Jangan membesar-besarkan masalah, seolah di Aceh hanya ada perampokan, teroris dan lain sebagainya," tandas Irwandi.(ant)

Sumber : Harian Aceh

Pulau Bangkaru, Pulau seribu penyu

Kepulauan Banyak adalah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil.Untuk mencapai Pulau Bengkaru, setiap orang harus menuju Singkil terlebih dahulu. Perjalanan dari Medan bisa ditempuh dengan angkutan umum sekitar 8 jam. Ada juga Nusa Buana Air yang menyediakan penerbangan ke Singkil, tapi hanya 2 kali seminggu, Sabtu dan Senin pagi. Dan setiap pengunjung diwajibkan mengkonfirmasi terlebih dahulu ke Yayasan Pulau Banyak (YPB).



Tahun 2006, Maggie Muurmans, seorang ahli penyu dari Belanda dan Mahmud Bengkaru menghidupkan kembali Yayasan Pulau Banyak yang sempat mati suri akibat tsunami dan konflik berkepanjangan di bumi Aceh Darusalam. Dengan menggaet beberapa rekan kerja baru dan didukung LSM Yayasan Eko Lestari (YEL) yang berbasis di Medan dan Paneco –salah satu LSM berbasis di Swiss, mereka menggiatkan kembali kegiatan konservasi penyu dan ekowisata di pulau Bengkaru.



Tujuannya tidak lain untuk menjaga dan melestarikan kehidupan penyu hijau yang diambang kepunahan akibat terjaring nelayan, perdagangan telur penyu, para pengkonsumsi daging penyu, dan orang-orang yang menjadikan penyu sebagai hiasan/cinderamata. Belum lagi ulah manusia yang membuang sampah ke laut seperti gabus atau plastik yang mengakibatkan kematian bila termakan oleh tukik (anak penyu).

Untuk mencegah kepunahan tersebutlah, organisasi ini memberikan penyuluhan kepada masyarakat, mengadakan workshop, pertemuan dengan tokoh masyarakat hingga membuat program pendidikan di sekolah untuk melestarikan sumber daya alam sekitar. Selain itu mereka juga menyediakan tempat bagi mahasiswa lokal maupun internasional untuk melakukan penelitian di pulau tersebut sebagai sukarelawan.

Masuk ke pulau konservasi penyu ini dikenakan biaya karena termasuk wilayah konservasi. Biayanya biasanya per paket. Termasuk dalam paket ini menginap 3 hari 2 malam, makan 3 kali sehari, dan transportasi antar jemput. Kesempatan 3 hari 2 malam tersebut diberikan agar mendapat kesempatan melakukan patroli penyu di malam hari.

Penyu yang singgah di pulau ini biasanya penyu hijau, tapi bila sedang musim, penyu sisik dan penyu belimbing, yang disebut 'nenek moyangnya penyu' juga kerap mampir. Satu keberuntungan yang luar biasa bila Anda bisa bertemu dengan penyu belimbing ini.

Biasanya, patroli dilakukan setelah makan malam, sekitar pukul 8 malam. Sepatu, senter, dan jaket merupakan peralatan yang wajib dibawa. Dan yang tidak boleh lupa, snack dan air minum tentunya. Kalau sampai lupa membawanya, dijamin waktu menunggu terasa semakin lama karena yang bisa dilakukan disana hanyalah menunggu dan menunggu.

Saat tiba di Pantai Penyu/pantai Amandangan pun senter harus dimatikan, karena penyu sangat sensitif terhadap cahaya. Mereka bisa mengurungkan niatnya untuk mampir jika melihat cahaya dari arah pantai. Kalau cukup beruntung, kita bisa melihat hingga 5 ekor penyu hijau dari 7 penyu yang singgah. Jika sedang musim (November- Maret) patroli bisa dilakukan 2 shift hingga pagi.

Di sini pula petugas berkesempatan memberi tagging. Tag ini bertuliskan nomor sehingga memudahkan pendataan apabila penyu ini kembali ke pantai Amandangan. Tagging ini juga memberi informasi batas terendah dari populasinya. Informasi ini akan menolong melindungi penyu. Selain diberi tagging, penyu ini juga didata, diukur panjang lebarnya, penyu yang ke berapa singgah ke pantai, apa yang ia lakukan, dan jumlah telurnya. Bagi penyu belimbing, micro chip diimplant agar memudahkan pengidentifikasian di negara-negara lain yang disinggahinya seperti Madagaskar dan India.

Seekor penyu hijau bisa mencapai panjang 80-90 cm dengan lebar 70-80 cm. Lain halnya dengan penyu belimbing yang bisa mencapai panjang hampir 2 meter. Penyu dalam 1 periode ( 2 minggu) bisa singgah di pantai 4 sampai 6 kali. Tidak di setiap persinggahan penyu-penyu ini bertelur, biasa hanya 2 kali persinggahan. Penyu bertelur setelah usia 25 tahun dan sekali bertelur bisa menelurkan 100-150 butir telur. Dari sekian banyak telur yang menetas, tidak semua bertahan hidup. Biasa hanya 2-3 ekor yang bertahan.



Banyak faktor yang mengakibatkan tukik- tukik ini tidak bisa bertahan. Faktor tangan manusia, faktor alam, seperti biawak yang memakan tukik ketika berjalan menuju pantai, kepiting yang membunuh di pinggiran pantai, ikan kerapu dan ikan hiu yang menjadi predator di laut, dan juga faktor alam menjadi penyebabnya. Nah, fungsi petugas YPB inilah menjaga tukik-tukik yang menuju ke pantai dari serangan biawak, elang ataupun kepiting.

Biasanya tukik menetas di pagi hari. Di Bengkaru ini Anda bisa melihat tukik-tukik keluar dari sarangnya, berjalan berlomba menuju laut lepas. Menariknya, anak- anak penyu ini adalah penyu- penyu liar, bukan dari penangkaran. Sungguh pemandangan luar biasa.

Sumber/Editor: Fazaris Tanti - Pulau Banyak

Kantor Partai Aceh Peusangan Bireuen Dibakar

Kantor Dewan Pimpinan Sagoe Partai Aceh (DPS-PA) Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen, yang berkonstruksi kayu disinyalir dibhttp://www.blogger.com/img/blank.gifakar Orang Tak Dikenal (OTK) Jumat pada dini hari tadi (22/7). Api hanya melalap dinding bagian depan kantor itu.

Polisi dan TNI sedang berjaga-jaga di depan Kantor DPS-PA Kecamatan Peusangan Selatan.Modus Aceh

Ketua DPS-PA Peusangan Selatan, Amat Sabon mengatakan, kebakaran itu hanya pada bagian depan kantor yang terbuat dari triplek selebar 80 centimeter dan panjang 1 meter. Di depan kantor ditemukan sebuah jerigen bensin serta kain yang telah dilumuri minyak.

"Saya baru tahu tadi pagi, kejadiannya pun belum diketahui pukul berapa, karena di kantor tidak ada orang," kata Amat Sabon kepada sejumlah wartawan di lokasi kejadian.

Dijelaskan Amat Sabon, selama ini tidak ada orang yang bertugas menjaga kantor itu. Di dalam kantor juga hanya terdapat beberapa meja dan kursi serta atribut partai. "Kantor itu hanya kami gunakan kalau rapat partai, jadi tidak ada orang di kantor. Sementara toko yang bersebelahan dengan kantor kami juga tidak ada yang tempati,"ungkapnya.

Sementara ditempat terpisah Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang Partai Aceh (DPW PA) Kabupaten Bireuen, Muzakkir Zulkifli, yang dikonfirmasi tadi siang, membenarkan telah terjadi percobaan pembakaran Kantor DPS PA Kecamatan Peusangan Selatan.

Meskipun demikian, sebut Muzakkir, dirinya belum mengetahui persis peristiwea itu. "Info yang saya terima, kejadiannya tadi malam. Tapi saya belum mengecek langsung ke lokasi," ujar Muzakkir.

Kejadian itu telah dilaporkan ke Polsek Peusangan pagi tadi. Aparat kepolisian setempat telah turun ke lokasi untuk mengumpulkan barang bukti dan mengembangkan kasus tersebut.

Sumber : The Globe Journal 22 Juli 2011

Mantan Panglima III Batee Ilik Tewas Ditembak

Saiful alias Pon Cage yang juga mantan Panglima III Komite Peralihan Aceh (KPA) wilayah Batee Ilik tewas ditembak, Jumat (22/7) sekitar pukul 23.00 WIB. Penembakan itu terjadi depan warung kopi Gurkha milik korban yang terletak di jalan Medan-Banda Aceh Matangglumpangdua Bireuen.



Kejadian penembakan yang menewaskan mantan kombatan sontak mengundang perhatian warga. Sehingga sesaat setelah penembakan, warga langsung berhamburan ke tempat kejadian perkara (TKP).

Salah seorang saksi mata yang namanya enggan disebutkan mengatakan bahwa kejadian tersebut terjadi begitu cepat sekali. Saat itu, Pon Cage keluar dari warung kopi Gurkha hendak pulang, tiba-tiba sebuah Toyota Avanza berhenti di depan warung tersebut. Seorang pelaku turun dari mobil dan langsung mengacungkan senjata laras panjang ke arah sang panglima.

Kemudian sebutir peluru meledak, Saiful rubuh. Saat berusaha bangkit kembali tiga suara ledakan senjata laras panjang kembali terdengar. Setelah itu, si penembak langsung naik ke mobil dan tancap gas ke arah timur. Kemudian saksi mata yang saat kejadian berada di sekitar TKP langsung berlari kearah Cage yang sudah rubuh ketanah.

Saksi mata melihat dua buah lubang dikepala, namun belum sempat memastikan dimana lagi ada peluru menembus badan sang mantan panglima, orang-orang sudah ramai berdatangan.

"Saat itu saya melihat bang Pon Cage keluar dari warung kopi Gurkha. Sejenak kemudian sebuah Avanza berhenti dan seseorang keluar dan langsung mengarahkan senjata laras panjang kearahnya. Saya mendengar empat kali letusan senjata dan setelah menembak pelaku langsung melarikan diri ke arah timur," kata saksi mata.

Saat The Globe Journal sampai ke lokasi kejadian, jenazah Cage sudah dievakuasi kerumah sakit. Pihak aparat kepolisian memasang police line di lokasi. Pihak penegak keamanan menemukan bekas selongsong peluru dan satu proyektil. Perkirakan sementara senjata yang digunakan adalah AK-46.

Sampai berita ini diturunkan, Kapolres Bireuen AKBP. HR. Dadik J belum berhasil dikonfirmasi.Saat ini jenazah sudah dibawa pulang kerumah duka di kawasan Peusangan Selatan.

Sumber : The Globe Journal