Banyaknya anggaran digelontorkan pemerintah untuk bidang pendidikan belum mampu mengangkat kualitas pendidikan di Aceh. Pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2011 misalnya, siswa Aceh menduduki peringkat terendah di Indonesia.
“Saya terkejut mendengarkan prestasi siswa Aceh di SNMPTN terendah di Indonesia,” kata Dr. Hetifah, anggota Komisi X DPR-RI asal Aceh di Banda Aceh, Selasa (26/7).
Menurutnya, prestasi yang dicapai siswa Aceh sekarang menjadi bahan evaluasi bagi semua elemen yang terlibat dalam dunia pendidikan di Aceh. Tolak ukur itu dinilai penting dalam membangun arah pendidikan lebih baik di masa mendatang, termasuk kelemahan selama ini.
Hetifah dan sejumlah anggota Komisi X DPR melakukan kunjungan kerja ke Aceh selama tiga hari, sejak 25 hingga 27 Juli. Pada hari pertama, pihaknya sudah bertemu dengan pimpinan universitas se-Aceh serta Kopertis Wilayah 1 Aceh-Sumut.
Dalam kesempatan tersebut, Pembantu Rektor (PR) Bidang Akademik Unsyiah Syamsul Rizal mengatakan, prestasi siswa Aceh bidang IPS pada SNMPTN 2011 menduduki peringkat 25 di Indonesia. Fakta ini bertolak belakang dengan anggaran besar yang dimiliki Aceh saat ini.
”Universitas perlu melakukan survei untuk mengetahui kinerja mereka, seperti persentase alumni yang sudah mendapatkan kerja atau belum. Jika perlu, kita bisa mengusulkan anggaran nantinya,” saran Hetifah.
Sementara itu, Raihan Iskandar, anggota Komisi X DPR RI asal Aceh lainnya secara terpisah mengatakan carut-marut pendidikan Aceh selama ini karena kurangnya komunikasi antara Pemerintah Aceh dengan akademisi.
”Komunikasi antara akademisi dengan Pemerintahan Aceh belum padu. Mungkin hal inilah yang harus dibina ke depan,” kata politisi PKS itu.mrd
Sumber : Harian Aceh
Selasa, 26 Juli 2011
Senin, 25 Juli 2011
MEUGANG ( MAKMEUGANG ATAU MAKMUEGANG )
Makmeugang atau Makmuegang atau Meugang adalah salah satu tradisi yang ada dalam masyarakat Aceh yang telah ada sejak berabad yang lalu yaitu acara membeli daging, memasak daging dan menikmatinya bersama-sama baik dengan keluarga bahkan ada yang mengundang anak yatim untuk menikmati kebersamaan hari meugang ini.
Sejumlah warga memadati pusat pasar meugang tradisional Inpres Lhokseumawe, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Selasa (10/8). Perayaaan meugang yang dilakukan tiga kali dalam setahun yakni meugang menghadapi bulan suci Ramadhan, meugang Hari Raya Idul Fitri dan meugang Idul Adha.(*rahmad/ant/z-Matanews)
Tradisi ini dilakukan tiga kali dalam setahun :
1. Menjelang bulan Puasa atau bulan Ramadhan
2. Menjelang Hari Raya Idul Fitri
3. Menjelang Hari Raya Idul Adha

Hari Makmuegang telah ada sejak berabad yang lalu dan biasanya dilakukan sehari sebelum bulan puasa,hari raya idul fitri dan hari raya idul adha, namun di zaman moderen ini bahkan hari makmeugang secara tidak langsung sudah menjadi 2 hari,ada meugang ubit (meugang kecil) pada hari pertama dan meugang rayeuk (meugang besar) pada hari kedua. Namun, tidak semua wilayah atau juga kabupaten di Aceh menerapkan hari meugangnya selama dua hari, ada juga hanya sehari saja.
Yang membedakan meugang kecil dan meugang besar, hanya jumlah daging yang dipasarkan atau dengan kata lain banyaknya penjual yang turun ke pasar dan biasa ini meugang ubit ini khusus untuk pegawai negeri. Jika pada hari kedua, yakni meugang besar sudah bisa dipastikan tempat yang dijadikan pasar dadakan akan sangat ramai sekali.
Perputaran ekonomi masyarakat di hari meugang memang sangat luar biasa, banting harga, kualitas daging serta jenis daging juga mempengaruhi para pembeli yang notabennya juga warga setempat.

Hari meugang ini biasanya mulai beroperasi dari pagi hari–setelah shalat shubuh–sampai siang hari sebelum waktu shalat zuhur. Walaupun, ditemukan masih ada yang berjualan sekitar siang kita bisa menghitung pakai jari jumlahnya, karena pengaruh waktu juga akan mempengaruhi harga.
Makmuegang berasal dari kata :
1. Makmue artinya makmur ( Semua elemen masyarakat Aceh pada hari inilah dari segala elemen masyarakat dapat menikmati daging tanpa kecuali , benar-benar satu hari yang benar-benar makmur yang dinikamati dan dirasakan semua masyarakat Aceh baik pejabat maupun rakyat jelata,baik yang kaya maupun yang miskin,Janda miskin maupun anak yatim, bahkan di hari makmuegang ini anak yatim kalau mendapat undangan dari tuan rumah yang ingin berbagi malah mendapat amplop yang berisi uang yang diberikan oleh yang empunya rumah…inilah yang dinamakan makmue…semua elemen masyarakat menikmatinya
2. Gang artinya Gang di dekat Pasar ( Kumpulan para penjual daging yang berjualan di gang-gang pasar,biasanya satu gang ini terapat puluhan bahkan ratusan lapak,tiap lapak para pedagang seluas ukuran meja,di atas meja inilah daging sapi dipajang sementara diatasnya dipajang bamboo tempat gantungan daging masi utuh dengan pahanya)
Tradisi hari makmuegang ini muncul bersamaan dengan penyebaran agam Islam di Aceh sekitar abad ke 14 Masehi, sesuai dengan ajaran Islam, datang hari-hari besar Islam yaitu bulan suci Ramadhan,Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha sebaiknya disambut secara meriah
Jika pada hari-hari biasa masyarakat Aceh terbiasa menikmati makanan dari darat ,sungai maupun laut, maka menyambut hari istimewa hari makmuegang ini masyarakat Aceh merasa daging sapi atau lembulah yang terbaik untuk dihidangkan.
Zaman dahulu, pada hari Meugang, para pembesar kerajaan dan orang-orang kaya membagikan daging sapi kepada fakir miskin. Hal ini merupakan salah satu cara memberikan sedekah dan membagi kenikmatan kepada masyarakat dari kalangan yang tidak mampu. Dan tradisi masih juga dilakuakn oleh sebagian orang-orang kaya sementara orang yang berpenghasilan pas-pasan paling tiding mengundang anak yatim kerumahnya.
Sebuah pepatah Aceh yang tidak dapat dipisahkan di hari makmuegang bahkan sudah berlaku berabad-abad yang lalu cukup tepat untuk menggambarkan betapa hari makmuegang bagi masyarakat Aceh merupakan hari yang sangat penting dan istimewa, di mana kebahagiaan dapat diwujudkan dengan cara menikmati daging secara bersama-samajuga sebagai wujud mensyukuri nikmat rezeki selama setahun itu,
“ SI THOEN TAMITA, SI UROE TA PAJOH ”
Artinya : Setahun kita mencari rezeki/nafkah,sehari kita makan/nikmati
Yang menjadi momok masyarakat untuk meugang seperti yang saya kutip dari Kompasiana memang tidak lain dan tidak bukan adalah masalah harga yang terus melambung tinggi, saat pagi pasar dadakan meugang dibuka harga sejumlah daging bisa melonjak cukup tinggi di atas 100 ribu per kilo.
Namun, tidak semua penjual daging memiliki harga yang sama, disinilah kadang terjadi perang harga antara penjual dalam menarik minat pembeli. Dalam sehari meugang, untuk wilayah tertentu banyak sapi yang dihabiskan bisa mencapai seratus lebih, sangat beda dengan hari-hari biasa yang cuma membutuhkan 3 atau 4 sapi untuk penjualan biasa.
Memang meugang telah menjadi sebuah kebutuhan masyarakat Aceh dalam meneruskan tradisi nenek moyangnya, kebiasaan meugang biasanya akan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat baik mereka keluarga miskin yang tidak sanggup membeli atau juga masyarakat menengah ke atas yang nantinya membagi-bagikan hasil olahan dari daging tersebut untuk dibagi ala kadarnya.
Kembali pada soal harga, jika penjual sudah mulai merasa bahwa yang tinggal lapak untuk berjualan daging hanya tinggal beberapa, terutama saat sudah mulai siang atau akan kelihatan sore. Harga yang ditawarkan akan drastis turun sampai 50 ribu per kilo bisa dilepasnya untuk menghabiskan sisa daging yang dimiliki oleh penjual.
Seperti yang saya kutip dari Bulletin Lamuri Online Perayaan Meugang memiliki beberapa dimensi nilai yang berpulang pada ajaran Islam dan adat istiadat masyarakat Aceh:
1.Nilai Religius
Meugang yang dilaksanakan sebelum puasa merupakan upaya untuk mensyukuri datangnya bulan Ramdhan yang penuh berkah.
Meugang pada Hari Raya Idul Fitri adalah sebentuk perayaan setelah sebulan penuh menyucikan diri pada bulan Ramadhan.
Sementara Meugang menjelang Idul Adha adalah bentuk terima kasih karena masyarakat Aceh dapat melaksanakan Qurban.
2.Nilai Sedekah atau Nilai berbagi sesame
Sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, perayaan Meugang telah menjadi salah satu momen berharga bagi para dermawan dan petinggi istana untuk membagikan sedekah kepada masyarakat fakir miskin. Kebiasaan berbagi daging Meugang ini hingga kini tetap dilakukan oleh para dermawan di Aceh. Tak hanya para dermawan, momen datangnya hari Meugang juga telah dimanfaatkan sebagai ajang kampanye oleh calon-calon wakil rakyat, calon pemimpin daerah, maupun partai-partai di kala menjelang Pemilu. Selain dimanfaatkan oleh para dermawan untuk berbagi rejeki, perayaan Meugang juga menjadi hari yang tepat bagi para pengemis untuk meminta-minta di pasar maupun pusat penjualan daging sapi.

Para pengemis ini meminta sepotong atau beberapa potong daging kepada para pedagang. Ini berkaitan dengan terbangunnya nilai sosial atau kebersamaan.

c. Nilai Kerbersamaan
Tradisi Meugang yang melibatkan sektor pasar, keluarga inti maupun luas, dan sosial menjadikan suasana kantor-kantor pemerintahan, perusahaan-perusahaan swasta, serta lembaga pendidikan biasanya akan sepi sebab para karyawannya lebih memilih berkumpul di rumah. Orang-orang yang merantau pun bakal pulang untuk berkumpul menyantap daging sapi bersama keluarga. Perayaan Meugang menjadi penting karena pada hari itu akan berlangsung pertemuan silaturrahmi di antara saudara yang ada di rumah dan yang baru pulang dari perantauan.
Pentingnya tradisi Meugang, menjadikan perayaan ini seolah telah menjadi kewajiban budaya bagi masyarakat Aceh. Betapa pun mahal harga daging yang harus dibayar, namun masyarakat Aceh tetap akan mengupayakannya (baik dengan cara menabung atau bahkan terpaksa harus berhutang), sebab dengan cara ini masyarakat Aceh dapat merayakan kebersamaan dalam keluarga. Dengan kata lain, melalui tradisi Meugang masyarakat Aceh selalu memupuk rasa persaudaraan di antara keluarga mereka.
d. Menghormati Orang Tua
Tradisi yang telah kita diskusikan di atas tak hanya merepresentasikan kebersamaan dalam keluarga, namun juga menjadi ajang bagi para menantu untuk menaruh hormat kepada mertuanya. Seorang pria, terutama yang baru menikah, secara moril akan dituntut untuk menyediakan beberapa kilogram daging untuk keluarga dan mertuanya. Hal ini sebagai simbol bahwa pria tersebut telah mampu memberi nafkah keluarga serta menghormati mertuanya. Tak hanya para menantu, pada hari Meugang para santri (murid-murid yang belajar agama) pun biasanya akan mendatangi rumah para guru ngaji dan para teungku untuk mengantarkan masakan dari daging sapi sebagai bentuk penghormatan. Begitu pentingnya nilai penghormatan terhadap orang tua telah mengkondisikan tradisi tersebut tidak mungkin untuk ditinggalkan. Jika ditinggalkan hidup menjadi terasa tidak lengkap dan dan muncul perasaan terkucil.
Pelaksanaan tradisi Meugang secara jelas telah menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh mengapresiasi datangnya hari-hari besar Islam. Tradisi ini secara signifikan juga telah mempererat relasi sosial dan kekerabatan di antara warga, sehingga secara faktual masyarakat Aceh pada hari itu disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk memperoleh daging, memasak, dan menikmatinya secara bersama-sama. Selain dampak penguatan ikatan sosial warga di tingkatan gampong dan tempat kerja (kantor), nampak pula dampak signifikan dari tradisi ini di ranah pasar, yaitu aktivitas jual-beli daging yang meningkat tajam.
Selamat hari makmeugang..selamat menikamati hari kebersaman saat memakan daging sapi yang terbaik bersama keluarga dan warga.
Sejumlah warga memadati pusat pasar meugang tradisional Inpres Lhokseumawe, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Selasa (10/8). Perayaaan meugang yang dilakukan tiga kali dalam setahun yakni meugang menghadapi bulan suci Ramadhan, meugang Hari Raya Idul Fitri dan meugang Idul Adha.(*rahmad/ant/z-Matanews)Tradisi ini dilakukan tiga kali dalam setahun :
1. Menjelang bulan Puasa atau bulan Ramadhan
2. Menjelang Hari Raya Idul Fitri
3. Menjelang Hari Raya Idul Adha

Hari Makmuegang telah ada sejak berabad yang lalu dan biasanya dilakukan sehari sebelum bulan puasa,hari raya idul fitri dan hari raya idul adha, namun di zaman moderen ini bahkan hari makmeugang secara tidak langsung sudah menjadi 2 hari,ada meugang ubit (meugang kecil) pada hari pertama dan meugang rayeuk (meugang besar) pada hari kedua. Namun, tidak semua wilayah atau juga kabupaten di Aceh menerapkan hari meugangnya selama dua hari, ada juga hanya sehari saja.
Yang membedakan meugang kecil dan meugang besar, hanya jumlah daging yang dipasarkan atau dengan kata lain banyaknya penjual yang turun ke pasar dan biasa ini meugang ubit ini khusus untuk pegawai negeri. Jika pada hari kedua, yakni meugang besar sudah bisa dipastikan tempat yang dijadikan pasar dadakan akan sangat ramai sekali.
Perputaran ekonomi masyarakat di hari meugang memang sangat luar biasa, banting harga, kualitas daging serta jenis daging juga mempengaruhi para pembeli yang notabennya juga warga setempat.

Hari meugang ini biasanya mulai beroperasi dari pagi hari–setelah shalat shubuh–sampai siang hari sebelum waktu shalat zuhur. Walaupun, ditemukan masih ada yang berjualan sekitar siang kita bisa menghitung pakai jari jumlahnya, karena pengaruh waktu juga akan mempengaruhi harga.
Makmuegang berasal dari kata :
1. Makmue artinya makmur ( Semua elemen masyarakat Aceh pada hari inilah dari segala elemen masyarakat dapat menikmati daging tanpa kecuali , benar-benar satu hari yang benar-benar makmur yang dinikamati dan dirasakan semua masyarakat Aceh baik pejabat maupun rakyat jelata,baik yang kaya maupun yang miskin,Janda miskin maupun anak yatim, bahkan di hari makmuegang ini anak yatim kalau mendapat undangan dari tuan rumah yang ingin berbagi malah mendapat amplop yang berisi uang yang diberikan oleh yang empunya rumah…inilah yang dinamakan makmue…semua elemen masyarakat menikmatinya
2. Gang artinya Gang di dekat Pasar ( Kumpulan para penjual daging yang berjualan di gang-gang pasar,biasanya satu gang ini terapat puluhan bahkan ratusan lapak,tiap lapak para pedagang seluas ukuran meja,di atas meja inilah daging sapi dipajang sementara diatasnya dipajang bamboo tempat gantungan daging masi utuh dengan pahanya)
Tradisi hari makmuegang ini muncul bersamaan dengan penyebaran agam Islam di Aceh sekitar abad ke 14 Masehi, sesuai dengan ajaran Islam, datang hari-hari besar Islam yaitu bulan suci Ramadhan,Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha sebaiknya disambut secara meriah
Jika pada hari-hari biasa masyarakat Aceh terbiasa menikmati makanan dari darat ,sungai maupun laut, maka menyambut hari istimewa hari makmuegang ini masyarakat Aceh merasa daging sapi atau lembulah yang terbaik untuk dihidangkan.
Zaman dahulu, pada hari Meugang, para pembesar kerajaan dan orang-orang kaya membagikan daging sapi kepada fakir miskin. Hal ini merupakan salah satu cara memberikan sedekah dan membagi kenikmatan kepada masyarakat dari kalangan yang tidak mampu. Dan tradisi masih juga dilakuakn oleh sebagian orang-orang kaya sementara orang yang berpenghasilan pas-pasan paling tiding mengundang anak yatim kerumahnya.
Sebuah pepatah Aceh yang tidak dapat dipisahkan di hari makmuegang bahkan sudah berlaku berabad-abad yang lalu cukup tepat untuk menggambarkan betapa hari makmuegang bagi masyarakat Aceh merupakan hari yang sangat penting dan istimewa, di mana kebahagiaan dapat diwujudkan dengan cara menikmati daging secara bersama-samajuga sebagai wujud mensyukuri nikmat rezeki selama setahun itu,
“ SI THOEN TAMITA, SI UROE TA PAJOH ”
Artinya : Setahun kita mencari rezeki/nafkah,sehari kita makan/nikmati
Yang menjadi momok masyarakat untuk meugang seperti yang saya kutip dari Kompasiana memang tidak lain dan tidak bukan adalah masalah harga yang terus melambung tinggi, saat pagi pasar dadakan meugang dibuka harga sejumlah daging bisa melonjak cukup tinggi di atas 100 ribu per kilo.
Namun, tidak semua penjual daging memiliki harga yang sama, disinilah kadang terjadi perang harga antara penjual dalam menarik minat pembeli. Dalam sehari meugang, untuk wilayah tertentu banyak sapi yang dihabiskan bisa mencapai seratus lebih, sangat beda dengan hari-hari biasa yang cuma membutuhkan 3 atau 4 sapi untuk penjualan biasa.
Memang meugang telah menjadi sebuah kebutuhan masyarakat Aceh dalam meneruskan tradisi nenek moyangnya, kebiasaan meugang biasanya akan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat baik mereka keluarga miskin yang tidak sanggup membeli atau juga masyarakat menengah ke atas yang nantinya membagi-bagikan hasil olahan dari daging tersebut untuk dibagi ala kadarnya.
Kembali pada soal harga, jika penjual sudah mulai merasa bahwa yang tinggal lapak untuk berjualan daging hanya tinggal beberapa, terutama saat sudah mulai siang atau akan kelihatan sore. Harga yang ditawarkan akan drastis turun sampai 50 ribu per kilo bisa dilepasnya untuk menghabiskan sisa daging yang dimiliki oleh penjual.
Seperti yang saya kutip dari Bulletin Lamuri Online Perayaan Meugang memiliki beberapa dimensi nilai yang berpulang pada ajaran Islam dan adat istiadat masyarakat Aceh:
1.Nilai Religius
Meugang yang dilaksanakan sebelum puasa merupakan upaya untuk mensyukuri datangnya bulan Ramdhan yang penuh berkah.
Meugang pada Hari Raya Idul Fitri adalah sebentuk perayaan setelah sebulan penuh menyucikan diri pada bulan Ramadhan.
Sementara Meugang menjelang Idul Adha adalah bentuk terima kasih karena masyarakat Aceh dapat melaksanakan Qurban.
2.Nilai Sedekah atau Nilai berbagi sesame
Sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, perayaan Meugang telah menjadi salah satu momen berharga bagi para dermawan dan petinggi istana untuk membagikan sedekah kepada masyarakat fakir miskin. Kebiasaan berbagi daging Meugang ini hingga kini tetap dilakukan oleh para dermawan di Aceh. Tak hanya para dermawan, momen datangnya hari Meugang juga telah dimanfaatkan sebagai ajang kampanye oleh calon-calon wakil rakyat, calon pemimpin daerah, maupun partai-partai di kala menjelang Pemilu. Selain dimanfaatkan oleh para dermawan untuk berbagi rejeki, perayaan Meugang juga menjadi hari yang tepat bagi para pengemis untuk meminta-minta di pasar maupun pusat penjualan daging sapi.

Para pengemis ini meminta sepotong atau beberapa potong daging kepada para pedagang. Ini berkaitan dengan terbangunnya nilai sosial atau kebersamaan.

c. Nilai Kerbersamaan
Tradisi Meugang yang melibatkan sektor pasar, keluarga inti maupun luas, dan sosial menjadikan suasana kantor-kantor pemerintahan, perusahaan-perusahaan swasta, serta lembaga pendidikan biasanya akan sepi sebab para karyawannya lebih memilih berkumpul di rumah. Orang-orang yang merantau pun bakal pulang untuk berkumpul menyantap daging sapi bersama keluarga. Perayaan Meugang menjadi penting karena pada hari itu akan berlangsung pertemuan silaturrahmi di antara saudara yang ada di rumah dan yang baru pulang dari perantauan.
Pentingnya tradisi Meugang, menjadikan perayaan ini seolah telah menjadi kewajiban budaya bagi masyarakat Aceh. Betapa pun mahal harga daging yang harus dibayar, namun masyarakat Aceh tetap akan mengupayakannya (baik dengan cara menabung atau bahkan terpaksa harus berhutang), sebab dengan cara ini masyarakat Aceh dapat merayakan kebersamaan dalam keluarga. Dengan kata lain, melalui tradisi Meugang masyarakat Aceh selalu memupuk rasa persaudaraan di antara keluarga mereka.
d. Menghormati Orang Tua
Tradisi yang telah kita diskusikan di atas tak hanya merepresentasikan kebersamaan dalam keluarga, namun juga menjadi ajang bagi para menantu untuk menaruh hormat kepada mertuanya. Seorang pria, terutama yang baru menikah, secara moril akan dituntut untuk menyediakan beberapa kilogram daging untuk keluarga dan mertuanya. Hal ini sebagai simbol bahwa pria tersebut telah mampu memberi nafkah keluarga serta menghormati mertuanya. Tak hanya para menantu, pada hari Meugang para santri (murid-murid yang belajar agama) pun biasanya akan mendatangi rumah para guru ngaji dan para teungku untuk mengantarkan masakan dari daging sapi sebagai bentuk penghormatan. Begitu pentingnya nilai penghormatan terhadap orang tua telah mengkondisikan tradisi tersebut tidak mungkin untuk ditinggalkan. Jika ditinggalkan hidup menjadi terasa tidak lengkap dan dan muncul perasaan terkucil.
Pelaksanaan tradisi Meugang secara jelas telah menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh mengapresiasi datangnya hari-hari besar Islam. Tradisi ini secara signifikan juga telah mempererat relasi sosial dan kekerabatan di antara warga, sehingga secara faktual masyarakat Aceh pada hari itu disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk memperoleh daging, memasak, dan menikmatinya secara bersama-sama. Selain dampak penguatan ikatan sosial warga di tingkatan gampong dan tempat kerja (kantor), nampak pula dampak signifikan dari tradisi ini di ranah pasar, yaitu aktivitas jual-beli daging yang meningkat tajam.
Selamat hari makmeugang..selamat menikamati hari kebersaman saat memakan daging sapi yang terbaik bersama keluarga dan warga.
Orang Kepercayaan Saiful Cagee Dikejar OTK
Yusnaidi alias Mirik mantan komandan pasukan GAM regu Singa Bate yang juga merupakan orang kepercayaan Saiful Husen alias Cage, Senin (25/7) sekitar pukul 10.00 WIB sempat diburu oleh Orang Tak Dikenal (OTK) dikawasan Uteun Gathom Peusangan Selatan.
Menurut pengakuan Mirik kepada The Globe Journal, saat itu dia hendak keluar menuju rumah orang tua Cage yang menggelar acara peringatan meninggalnya Cage di gampong Ule Jalan. Saat keluar dari simpang Geulanggang Labu, sekitar 15 meter, Mirik melihat sebuah mobil Avanza hitam dengan warna kaca yang hitam pula parkir mengarah ke selatan tepat di seberang jalan. Mirik berhenti untuk memastikan. Namun tiba-tiba kaca pintu belakang Avanza itu diturunkan, sesosok orang mengintip dari balik kaca.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, Mirik kemudian menggeber Suzuki Trail yang dia kendarai kearah timur. Dengan cepat Avanza tersebut berbalik dan tidak lama sudah berada dibelakang Mirik. Mirik berusaha menggeber sepeda motor sekuatnya dengan niat hendak mencari perlindungan ke Pos Polisi yang berada di Geulanggang Labu. Namun belum sempat dia tiba kesana, mobil itu semakin dekat, melihat ada lorong gampong, Yusnaidi kemudian berbelok dengan cepat dia melewati lorong-lorong kecil.
"Mereka dengan cepat memutar mobil di simpang itu. Karena power mobil lebih kuat, dalam waktu singkat mereka langsung berhasil membututi saya. untung ada lorong kecil, saya langsung berbelok," kata Mirik dengan wajah serius. Melihat Mirik berhasil lolos, Avanza misterius itu kembali balik arah dan mengejar melalui jalan kecamatan dengan tujuan menunggu Mirik di simpang yang lain, namun beruntung bagi Mirik, dia berhasil lolos dan langsung menuju kerumah orang tua almarhum Cage.
Setelah memastikan keadaan aman, dia langsung melapor ke Pospol Geulanggang Labu Kecamatan Peusangan Selatan. Menurut saksi mata yang enggan namanya disebutkan, dia sempat melihat sebuah Avanza berlari kencang dan berhenti di depan Simpang Ule Jalan sebelah barat yang merupakan arah rumah orang tua Cage. Kemudian dengan cepat kembali berangkat kearah selatan. Namun diseberang sungai mereka kembali berbalik dan menuju ke timur.
"Saya sempat melihat sebuah Avanza warna hitam yang sedang melaju kencang berhenti mendadak di depan simpang Ule Jalan. Tak lama kemudian mobil itu menuju ke arah selatan, namun di seberang sungai mereka berbalik arah dan kembali ke timur," kata saksi mata.
Kapolres Bireuen AKBP. HR. Dadik Junaidi melalui Kepala Bagian Operasi Polres Bireuen AKP. Mulyadi yang dihubungi The Globe Journal sekitar pukul 17.00 WIB membenarkan pihaknya melalui Kapospol Peusangan Selatan telah menerima laporan dari Yusnaidi. Namun saat dilakukan pengejaran, mobil tersebut sudah tidak ada lagi.
"Benar sekali bahwa Yusnaidi sudah membuat laporan terkait kejadian itu, pihak polisi melalui Kapospol Peusangan Selatan sudah menyisir ke lokasi. Namun tidak menemukan pelakunya karena sudah duluan kabur," terang AKP. Mulyadi.
Sumber :The Globe Journal
Menurut pengakuan Mirik kepada The Globe Journal, saat itu dia hendak keluar menuju rumah orang tua Cage yang menggelar acara peringatan meninggalnya Cage di gampong Ule Jalan. Saat keluar dari simpang Geulanggang Labu, sekitar 15 meter, Mirik melihat sebuah mobil Avanza hitam dengan warna kaca yang hitam pula parkir mengarah ke selatan tepat di seberang jalan. Mirik berhenti untuk memastikan. Namun tiba-tiba kaca pintu belakang Avanza itu diturunkan, sesosok orang mengintip dari balik kaca.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, Mirik kemudian menggeber Suzuki Trail yang dia kendarai kearah timur. Dengan cepat Avanza tersebut berbalik dan tidak lama sudah berada dibelakang Mirik. Mirik berusaha menggeber sepeda motor sekuatnya dengan niat hendak mencari perlindungan ke Pos Polisi yang berada di Geulanggang Labu. Namun belum sempat dia tiba kesana, mobil itu semakin dekat, melihat ada lorong gampong, Yusnaidi kemudian berbelok dengan cepat dia melewati lorong-lorong kecil.
"Mereka dengan cepat memutar mobil di simpang itu. Karena power mobil lebih kuat, dalam waktu singkat mereka langsung berhasil membututi saya. untung ada lorong kecil, saya langsung berbelok," kata Mirik dengan wajah serius. Melihat Mirik berhasil lolos, Avanza misterius itu kembali balik arah dan mengejar melalui jalan kecamatan dengan tujuan menunggu Mirik di simpang yang lain, namun beruntung bagi Mirik, dia berhasil lolos dan langsung menuju kerumah orang tua almarhum Cage.
Setelah memastikan keadaan aman, dia langsung melapor ke Pospol Geulanggang Labu Kecamatan Peusangan Selatan. Menurut saksi mata yang enggan namanya disebutkan, dia sempat melihat sebuah Avanza berlari kencang dan berhenti di depan Simpang Ule Jalan sebelah barat yang merupakan arah rumah orang tua Cage. Kemudian dengan cepat kembali berangkat kearah selatan. Namun diseberang sungai mereka kembali berbalik dan menuju ke timur.
"Saya sempat melihat sebuah Avanza warna hitam yang sedang melaju kencang berhenti mendadak di depan simpang Ule Jalan. Tak lama kemudian mobil itu menuju ke arah selatan, namun di seberang sungai mereka berbalik arah dan kembali ke timur," kata saksi mata.
Kapolres Bireuen AKBP. HR. Dadik Junaidi melalui Kepala Bagian Operasi Polres Bireuen AKP. Mulyadi yang dihubungi The Globe Journal sekitar pukul 17.00 WIB membenarkan pihaknya melalui Kapospol Peusangan Selatan telah menerima laporan dari Yusnaidi. Namun saat dilakukan pengejaran, mobil tersebut sudah tidak ada lagi.
"Benar sekali bahwa Yusnaidi sudah membuat laporan terkait kejadian itu, pihak polisi melalui Kapospol Peusangan Selatan sudah menyisir ke lokasi. Namun tidak menemukan pelakunya karena sudah duluan kabur," terang AKP. Mulyadi.
Sumber :The Globe Journal
Kepala Almarhum Pon Cagee Dihargai 1 Milyar
Sebelum menghembuskan nafas terakhir setelah ditembak oleh OTK sekitar jam 23.00 WIB di depan warung kopi Gurkha Matangglumpangdua, Saiful Husen alias Pn Cage sempat menelepon orang kepercayaannya yang bernama Yusnaidi alias Mirik. Kepada Mirik melalui hubungan telepon pada hari Jumat sekitar pukul 16.00 WIB (22/7) Cage mengatakan bahwa kepalanya sudah dihargai Rp 1 milyar. Hal ini dikatakan oleh Mirik kepada The Globe Journal, Senin siang (25/7).Menurutnya menjelang Ashar Saiful menelpon dirinya dan mengatakan bahwa kepalanya sudah dibeli seharga 1 milyar. Selain itu dia juga mengingatkan Mirik agar tidak keluar sendiri, kalaupun keluar harus ajak kawan, sebab keadaan semakin tidak kondusif bagi Cage dan rekan-rekan.
"Bang Saiful sempat telepon dan mengatakan bahwa kalau kepalanya itu sudah dibeli seharga 1 milyar, selain itu abang juga mengingatkan saya agar jangan keluar kalau lagi sendiri. kalau mau keluar ajak teman," kata Mirik mengulang kalimat terakhir Cage yang ditujukan padanya.
Menurut Mirik, Saiful sudah menjadi incaran bagi lawan politik. Namun dia beserta kawan-kawannya yang lain tidak mau berspekulasi tentang pembunuh yang telah merenggut hak hidup Cage dengan cara-cara yang tidak manusiawi. Dia berharap kepada aparat keamanan dapat menguak tabir misteri tersebut.
Sumber : The Globe Journal
WAA Turut Berduka Meninggalnya Saiful “Cagee”
World Achehnese Association (WAA) yang merupakan sebuah organisasi perkumpulan masyarakat Aceh di luar negeri, Denmark turut menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya saudara Saiful (Cage) 42 tahun yang pernah menjadi panglima GAM di Wilayah Batee Iliek, Bireuen.WAA menerima kabar terbunuh Cage karena di tembak oleh orang yang belum diketahui identitasnya, penembakan yang terjadi di depan Warung Kopi (Warkop) Gurkha Matangglumpangdua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, pada Jum’at (22/7) malam yang lalu.
Selain itu WAA, juga meminta kepada seluruh anggota GAM baik yang pernah aktif sebagai sipil GAM maupun tentara GAM, diharapkan untuk tidak mudah terpengaruh dan terprovokasi dengan ulah pembunuh yang di sebut masih dalam pengejaran pihak kepolisian tersebut, seperti tulis WAA dalam lansirannya kepada publik.
WAA melihat bahwa pembunuhan Saiful atau sering disapa dengan Cage ini merupakan proses transisi dan reintegrasi yang mengalami kemunduran dalam perdamaian Aceh, bahkan pembunuhan Cage lebih kepada upaya memperkeruh kondisi politik di Aceh.
Sebelumnya, menjelang Pemilu pada tahun 2009 yang lalu, Dedi Novandi alias Abu Karim (33), anggota KPA Bireuen (Wilayah Batee Iliek) juga ditembak mati oleh orang yang tidak di ketahui. “Kami mengimbau kepada seluruh rakyat Aceh untuk mempertahankan diri dari tindakan dan sikap yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan kita, perdamaian yang telah di raih dengan susah payah perlu kita pertahankan bersama,” tegas WAA dalam rilis yang kami terima.(*/af).
Sumber : Seputar Aceh
Minggu, 24 Juli 2011
Kata Irwandi Tentang Penembakan Pon Cagee
Meninggalnya mantan Ketua Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Batee Iliek Saiful Husein alias Cage yang ditembak orang yang belum terindentifikasi, pada Jumat (22/7) malam, menyebabkan duka besar bagi Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. Inilah reaksi Irwandi terhadap penembakan Cage.

Menurut Irwandi, Cage adalah sahabat sejatinya. Di matanya, Cage adalah tentara GAM yang sangat mendukung proses perdamaian di Aceh. Dan di masa peperangan dulu, kata Irwandi, dia adalah prajurit tangguh, yang setia kepada atasan dan yang disegani oleh kawan maupun lawan. "Dia adalah sahabat sejati saya," ungkap Irwandi dalam acara peresmian kantor Pusat Jalur Partisipasi Masyarakat (JPM), Minggu (24/7) di Lampeuneurut, Aceh Besar.
Kata Irwandi, selain taat kepada atasan ketika konflik, Cage yang bernama asli Amiruddin Husen, juga tunduk kepada aturan yang berlaku dalam penandatanganan MOU di Helsinki. "Beliau adalah pendukung demokrasi sejati. Ketika ada upaya pembungkaman terhadap aspirasi dan demokrasi, yang bersangkutan tampil di muka menentang," kata Irwandi. "Ketika Aceh masih dilanda konflik, Cage-lah yang mempertahankan tempat persembunyian panglima tertinggi GAM Muzakir Manaf. " Sekarang Muzakir Manaf adalah ketua Partai Aceh dan Komite Peralihan Aceh.
Terkait pilkada ke depan, Irwandi menyerukan kepada seluruh masyarakat Aceh dan kepada pasangan-pasangan yang terancam dengan kehadirannya, ia meminta rakyat agar memilih pemimpin yang terbaik. "Siapapun dia," kata Irwandi.
Kepada pasangan lain, Irwandi meminta jangan pernah merasa minder untuk ikut pilkada dan tidak menghalalkan segala cara supaya dirinya tidak bisa ikut ke dalam pesta demokrasi. "Jangan terpengaruh dengan hasil survei. Tahun 2006 saya mendapat rangking terbawah. Tapi jangan takut, karena hasil survei bukanlah kenyataan yang terjadi. Walaupun sekarang saya mendapatkan hasil survei teratas, tapi belum tentu juga saya akan terpilih lagi sebagai gubernur," ujarnya.

Menurut Irwandi, Cage adalah sahabat sejatinya. Di matanya, Cage adalah tentara GAM yang sangat mendukung proses perdamaian di Aceh. Dan di masa peperangan dulu, kata Irwandi, dia adalah prajurit tangguh, yang setia kepada atasan dan yang disegani oleh kawan maupun lawan. "Dia adalah sahabat sejati saya," ungkap Irwandi dalam acara peresmian kantor Pusat Jalur Partisipasi Masyarakat (JPM), Minggu (24/7) di Lampeuneurut, Aceh Besar.
Kata Irwandi, selain taat kepada atasan ketika konflik, Cage yang bernama asli Amiruddin Husen, juga tunduk kepada aturan yang berlaku dalam penandatanganan MOU di Helsinki. "Beliau adalah pendukung demokrasi sejati. Ketika ada upaya pembungkaman terhadap aspirasi dan demokrasi, yang bersangkutan tampil di muka menentang," kata Irwandi. "Ketika Aceh masih dilanda konflik, Cage-lah yang mempertahankan tempat persembunyian panglima tertinggi GAM Muzakir Manaf. " Sekarang Muzakir Manaf adalah ketua Partai Aceh dan Komite Peralihan Aceh.
Terkait pilkada ke depan, Irwandi menyerukan kepada seluruh masyarakat Aceh dan kepada pasangan-pasangan yang terancam dengan kehadirannya, ia meminta rakyat agar memilih pemimpin yang terbaik. "Siapapun dia," kata Irwandi.
Kepada pasangan lain, Irwandi meminta jangan pernah merasa minder untuk ikut pilkada dan tidak menghalalkan segala cara supaya dirinya tidak bisa ikut ke dalam pesta demokrasi. "Jangan terpengaruh dengan hasil survei. Tahun 2006 saya mendapat rangking terbawah. Tapi jangan takut, karena hasil survei bukanlah kenyataan yang terjadi. Walaupun sekarang saya mendapatkan hasil survei teratas, tapi belum tentu juga saya akan terpilih lagi sebagai gubernur," ujarnya.
Pembunuhan Mantan Panglima GAM Wilayak Batee Iliek Sebuah Kemunduran
World Achehnese Association (WAA) sebuah organisasi perkumpulan Masyarakat Aceh di luar negeri, menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya Saiful (Pon Cage) yang juga merupakan mantan panglima GAM di Wilayah Batee Iliek, Bireuen.
Lokasi ceceran darah mantan Panglima III wilayah Batee Ilik Komite Peralihan Aceh (KPA) Pon Cage, ditutup dengan surat kabar bekas. Menurut informasi, Cage menghembuskan nafas terakhir di TKP dan jenazahnya sekarang sudah dikembalikan ke rumah duka di Peusangan Selatan. Foto direkam Jumat (22/7) sekitar pukul 23.48 WIB.(GRA)
Tarmizi Age yang akrab dipanggil Mukarram, Koordinator World Achehnese Association Kepada The Globe Jornal, Minggu (24/7) meminta kepada seluruh anggota GAM supaya tidak terpengaruh dengan ulah pembunuh,"Seluruh anggota GAM baik yang pernah aktif sebagai sipil GAM maupun tentara GAM, Kami meminta untuk tidak terpengaruh dan terprofokasi dengan ulah pembunuh yang di sebut masih dalam pengejaran pihak polisi,"pintanya.
WAA melihat bahwa pembunuhan Saiful (Cage) merupakan proses transisi dan reintegrasi yang mundur dalam perdamaian Aceh, bahkan pembunuhan Cage lebih kepada upaya memperkeruh kondisi politik di Aceh.
Sebelumnya menjelang pemilu pada tahun 2009, Dedi Novandi alias Abu Karim (33), anggota KPA Bireuen (Wilayah Batee Iliek) juga ditembak mati oleh orang yang tidak di ketahui.
"Kami mengimbau kepada seluruh rakyat Aceh untuk mempertahankan diri dari tindakan dan sikap yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan kita, perdamaian yang telah di raih dengan susah payah perlu kita pertahankan bersama,"tandasnya.
Sumber : The Globe Journal
Lokasi ceceran darah mantan Panglima III wilayah Batee Ilik Komite Peralihan Aceh (KPA) Pon Cage, ditutup dengan surat kabar bekas. Menurut informasi, Cage menghembuskan nafas terakhir di TKP dan jenazahnya sekarang sudah dikembalikan ke rumah duka di Peusangan Selatan. Foto direkam Jumat (22/7) sekitar pukul 23.48 WIB.(GRA)Tarmizi Age yang akrab dipanggil Mukarram, Koordinator World Achehnese Association Kepada The Globe Jornal, Minggu (24/7) meminta kepada seluruh anggota GAM supaya tidak terpengaruh dengan ulah pembunuh,"Seluruh anggota GAM baik yang pernah aktif sebagai sipil GAM maupun tentara GAM, Kami meminta untuk tidak terpengaruh dan terprofokasi dengan ulah pembunuh yang di sebut masih dalam pengejaran pihak polisi,"pintanya.
WAA melihat bahwa pembunuhan Saiful (Cage) merupakan proses transisi dan reintegrasi yang mundur dalam perdamaian Aceh, bahkan pembunuhan Cage lebih kepada upaya memperkeruh kondisi politik di Aceh.
Sebelumnya menjelang pemilu pada tahun 2009, Dedi Novandi alias Abu Karim (33), anggota KPA Bireuen (Wilayah Batee Iliek) juga ditembak mati oleh orang yang tidak di ketahui.
"Kami mengimbau kepada seluruh rakyat Aceh untuk mempertahankan diri dari tindakan dan sikap yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan kita, perdamaian yang telah di raih dengan susah payah perlu kita pertahankan bersama,"tandasnya.
Sumber : The Globe Journal
Langganan:
Postingan (Atom)