Kamis, 20 Maret 2014

Pingin Nulis Tapi Mualeees Pooool

"Jangkriiiiiiikk, puingiiin nulis tapi yo kok muales pol, hati bernafsu tapi keadaan gak mampuu, Njengkelin Hati, daaah bodoh amat ini ada tulisan tapi aku gak ngerti, yang penting ngeblog..... go go go blog."

年鑛燩䋨즺끒礮瓻쐘㹊뽄귧䋴ާ㕲笢ꬷ䐲僑㖐쓵卛锭꽻䌳ﮗ졻�夕璟あ妗⾚ヱ⮠᚞밇屏멆ሚ얣龜Ý鄩删諎㤅揍ꖮ팬מּ2騖㽊篚뭍
艢⌄뼱뛹≨켷닼닪讋樽뤪뙥쉹설׎俗╆웊⒄⒦껦짱澬꺑萗䇨ᑁᗩꚵ谢楌ܼ凿竚툪ਖ਼ᡆꞑዓ丑僅袐嗔㛡䘳館疀旎೺螔罴鱊뙊͘퓼溶�麹憷⑴ꀈવ揶擰攐僺擰Ἕ젷傚甬꠲纻뙓ࠧ械놴轭窼阩⽑ꉜ⺛㜶ꯢ�໸蹇↔ᗌ얏㵍ߜ텘䃫찍ꗈꬪ蜪輷纟⢁䕖㒋ų锓굆蒺를怙鴮覴럫땹䏎ᬅ�㷎ꈐ皬ﴔ랟錹㪝ꆓ社쁍罟櫋ᆍ똪駵䖭᫿쟈걡琮럊莰啋ꏉ坌량字ࡅ⯑ハ䍰쬗␯椮舐媹꣰埛ᯚ࢈蠄㉞泅ꂷ錓鏰⻧˵꟯〉㎇࠽�蟭샎賏⌀�Ğ�流⏰踞ᇸ�샻群脴髦뒿-撕䟨鐏췐຾ඟ坙Ӧ皛츣㡸댯睍註迋畆䎊ꕞ䳻ꢦ鴜쵉줦룰タΕ㸸萛ꫤᄀ⪷⎸㖜㙏ㅢ落裲旕쉞ξ䓺��窼羋嘠줄楏䝵쥦졫ǘ㗧㰋鷉栵ॅ興胡㦰ꅝဪ얾㴏闁矰甙嫴㻑ﱵﮰ垊뎸㈠ោ隷廫皂˟䲿蔴쌲嫴㻑ﱵﮰ垊뎸㈠Ḯ،攳ﲻᄮ褻ⴕ鈅偬峾쪚躼蹜몤ᶘˏ綯擾䒤�їﹲȄ⾿犿蓁嘐㤿ṇᲉ᳦箜麯꽴⋒䧪䲃亁撜疕綯擾䒤�їﹲȄ⾿犿잂⹙�꘬Ᲊ᳦箜㮣Ủ淚㱅添ꬣ㰹�㱼励쯕똑硼踎�锓◎閷淚㱅添ꬣ耥꘺�墶✿�횄融ษᖎ쥦졫ǘ㗧㰋鷉栵뺶۟ꐶ꽤ꅝဪ얾㴏岌劦췂淚펞⛪䮃샂즰ə궱Ꜹᴐ釹㐼珴郹㨠饼葋�➸햿സ뇻輟顰ᴄ�땟桹ݻ籞䤄ꇞ櫣ꂓ캫鶕툷꼀୆턟䇣郹㨠饼葋�➸햿സ뇻輟悪᠑꽽鹥Ổ牫쁬䶪�헩蕩뤤ऊ闌俙�䩉巳暤쳽ꠡ眄采鳛㷹郹㨠饼葋�➸햿സ뇻輟슠쇞ⱪ忇筡澏眔ᘟ㣪랔㮐䌖龌笉와鄘냑島鹑⻮墴욳ؐヒ즚ﶚ쥦졫ǘ㗧㰋鷉栵뺶۟ꐶ꽤ꅝဪ얾㴏岌劦췂淚펞⛪䮃샂즰뭑諛᭑ᖆ㌷謎ꡀ痕駗ꝍ멷饚廓墛笳븲섍ꈥ﨤⟥脖싊즴򤶆ꏥ虮궯脮㵋ῦ橫휗벆償ﱟ࿪鍇㣻౛蚬䁹乂잸혋滋ᥖ鐏甾잵ك掯㴤ঞ䙾䔥틋棖�ରᡰّ◜⾹ᖆ㌷謎ꡀ痕駗ꝍ멷滧Ḯ廬븲섍ꈥ栰ꮿ욄ሼ饲Ɐ씅�䍛傑䖜베۵諂㮋誷杫纊흈ꮳ郹㨠饼葋�➸햿സ뇻輟Ă劌郾ヿ睋ퟚ⾥捴㣪랔㮐䌖ܞ쒴釡ﵨᵱ⦚噝閭綯擾䒤�їﹲȄ⾿犿숅䁰㺜Ᲊ᳦箜㫏ꑕ繨˟䲿蔴쌲嫴㻑ﱵﮰ垊뎸㈠Ḯ،攳崫쩄綯擾䒤�їﹲȄ⾿犿氜ॎ분Ᲊ᳦箜�ݕ钘淚㱅添ꬣ㰹�㱼励쯕똑硼踎�锓◎閷淚㱅添ꬣ耥꘺�墶隢慆얬ş㙙騹肜홻㡂䩢ᔡ⓮V㮲璁䁶夝᣹⽽ꥆ驴球磒З줸቟婛ꨁᓅ쥉老鲿挾嗙얺᭪橡㾎諳焣惦鵭໺ꗯ옇瑞⳽紃஦姩堶됢㷖꘎ꄄ᪱꧕驤ꃠ೉퓚聚꼜怢鸿농뻱㣔䨢농뻱㣔䨢䯍�ꄪ戔ಕ芄㚏鼠㮔筵ၾ괒遲蹞ꁾ渼苤䲇氺띸뿴ꂨ堶됢㷖絎몄蝤鼊ꤸ訁䢝糕鵩ת좥鈔ᰔ枧ă᪠䏡�䈕З줸቟婛꤉㛾爿농뻱㣔䨢농뻱㣔䨢镞硉츎꿒멠蹅➥ⲍ꣒鲓鿾⪵㼷櫧牀ㆫꋌ훺䎡穗ࠋ⽀梏ﭸ焣惦鵭໺З줸቟婛鼊ꤸ訁䢝堶됢㷖�䖓罹麘�䖓罹麘�䖓罹麘농뻱㣔䨢농뻱㣔䨢농뻱㣔䨢�䖓罹麘搧浒孔ڄే荂ୟ憵롮起流⏰踞ᇸ
"Maaf pembaca, saya lagi gendeng, pingin jambak-jambak rambut sendiri, dan saya tidak mengerti sama sekali dengan tulisan asing di atas, silahkan diartikan sesuka hati masing-masing"

Rabu, 19 Maret 2014

Pulau Gili Ketapang - Miniatur Madura di Utara Probolinggo

Tak ada jembatan penghubung antar pulau yang kokoh, pun demikian dengan kapal-kapal besar yang mengangkut penumpang, barang bahkan kendaraan untuk menyeberang. Hanya ada perahu motor sebagai sarana transportasi yang mengantarkan penumpang dan barang menuju ke pulau seberang. Suasana Pelabuhan Tanjung Tembaga pagi itu masih cukup lengang. Hanya terlihat beberapa kapal nelayan yang bersandar dan bongkar muatan.


Di hari ketiga ini, panitia Tour De Probolinggo mengajak para peserta menyeberang ke Pulau Gili Ketapang, sebuah pulau kecil dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam perjalanan dari Pelabuhan Tanjung Tembaga. Usai berkemas dan membereskan tenda, dengan penuh semangat kami berjalan kaki menuju pelabuhan untuk kemudian naik ke atas perahu dan bersiap untuk menyeberang. Cuaca pagi ini pun cukup bersahabat. Ombak laut cukup tenang, pun demikian dengan sinar matahari yang tidak terlalu terik membakar kulit.



Sayang, ketika kami akan bersandar, perahu yang kami tumpangi tidak dapat sampai ke tepian karena air laut yang surut. Sebuah perahu sederhana yang terbuat dari rangkaian gabus datang menjemput. Ada seorang bapak-bapak yang mendorong perahu sederhana tersebut, sembari membatu kami untuk naik ke atas dan menata barang. Ada yang memilih untuk menumpang perahu, ada pula yang memilih nekat menceburkan diri dan berjalan kaki menuju tepi pantai.


Pulau Gili Ketapang memiliki keunikan tersendiri bagi saya. Pulau ini terkenal dengan penduduknya yang hampir keseluruhan adalah masyarakat keturunan Madura dengan mata pencaharian sebagian besar sebagai nelayan. Walaupun mereka adalah Suku Madura, namun sebagian besar dari mereka belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Madura. Keramahan masyarakatnya sangat terasa di saat kami tiba. Masyarakat di sini cukup murah senyum dan ramah kepada para pendatang. Namun perlu diingat, sebagian besar masyarakat di Gili Ketapang hanya bisa berbahasa Madura, mereka tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia, walaupun mengerti artinya. Jadilah kami sering menggunakan bahasa isyarat ketika berkomunikasi. Kami memakai bahasa Indonesia ketika berbincang, sedangkan mereka akan menjawab dengan bahasa Madura yang memiliki logat yang khas. Di antara keterbatasan bahasa untuk berkomunikasi, ada sebuah bahasa universal yang kami gunakan, yaitu senyuman dan sapaan.

Masalah Sampah, Kambing, dan Abrasi
Pulau Gili Ketapang memang bukan sebuah lokasi wisata dan saya berharap pulau ini tidak dilacurkan menjadi sebuah destinasi wisata. Di balik pasir putih dan ombak lautnya yang biru jernih, Pulau Gili Ketapang menyimpan sebuah kisah yang cukup memilukan. Sampah berserakan di mana-mana ! Entah di lingkungan sekitar tempat tinggal, bahkan sampai di tepi pantai. Berbagai macam sampah pun dapat ditemui di tepian pantai, mulai sampah organik, sampah anorganik, bahkan bangkai binatang pun ada di sini. Menurut penuturan penduduk setempat, memang kesadaran masyarakat masih kurang dalam mengelola sampah. Selain sampah rumah tangga dari penduduk setempat, banyak sampah yang berserakan di tepi pantai juga berasal dari sampah di Pulau Jawa yang terbawa oleh ombak. Saya berharap terdapat manajemen pengelolaan sampah yang lebih baik lagi di pulau ini agar sampah-sampah tidak menumpuk di sekeliling Pulau Gili Ketapang lagi.


Selain dihuni oleh manusia, Pulau Gili Ketapang juga dihuni oleh kambing. Jumlahnya cukup banyak dan mereka seperti hidup dengan cara diliarkan, tak ada seorang pun yang menggembalakan kambing-kambing tersebut. Jangan heran jika Anda akan menemui kambing-kambing yang berkeliaran di tepi pantai, di jalan kampung, dan di manapun. Tak ada satu sudut pulau yang tidak ada kambing. Banyaknya populasi kambing yang dibiarkan liar tentu saja memberikan efek yang kurang nyaman bagi lingkungan. Banyak kotoran kambing berceceran di mana-mana. Bahkan di tepi pantai pun akan terasa bau kambing, terlebih setelah kita bermain-main di air.


Kambing-kambing di Pulau Gili Ketapang juga memiliki keunikan tersendiri. Jika Anda pernah mendengar kambing yang doyan makan kertas, kain, maupun sampah, Anda akan dengan mudah menemui kambing-kambing tersebut di pulau ini. Mungkin karena kurang tersedianya rumput hijau dan banyaknya sampah di pulau ini, menjadikan kambing-kambing yang menghuni Pulau Gili Ketapang kemudian beradaptasi. Sudah bukan rahasia umum lagi jika kambing-kambing di sini doyan memakan sampah-sampah yang berserakan di tepi pantai. Untuk membuktikannya, berilah uang kertas, maka kambing-kambing tersebut akan memakannya. Seingat saya, dulu pernah ada sebuah stasiun televisi swasta yang pernah melakukan liputan di Pulau Gili Ketapang ini.

Selain masalah sampah dan kambing, Pulau Gili Ketapang juga menghadapi sebuah masalah yang cukup serius. Ketika kami tiba di pulau ini dan iseng untuk berjalan-jalan, banyak warga setempat sedang sibuk memasukkan pasir ke dalam karung untuk kemudian dijadikan tanggul. Menurut penuturan warga setempat, abrasi yang terjadi di pulau ini sudah berlangsung beberapa bulan terakhir. Angin yang kencang berpadu dengan gelombang air laut yang cukup besar telah mengakibatkan beberapa sudut di pulau ini terkikis. Hal yang paling parah adalah abrasi yang terjadi di pulau ini sudah cukup dekat dengan pemukiman penduduk yang ada ditepi pantai. Jika hal ini terus-menerus dibiarkan maka akan ditakutkan rumah penduduk tersebut akan hanyut diterjang ombak. Ketika saya berjalan ke arah timur pulau ini, banyak bangunan jalan setapak yang amblas terkena terjangan ombak. Cukup disayangkan jika banyak infrastruktur yang rusak tergerus oleh abrasi ombak air laut.

Goa Kucing yang Dikeramatkan
Selain memiliki pasir putih dan air laut yang jernih, Pulau Gili Ketapang juga memiliki sebuah tempat yang dikeramatkan. Namanya Goa Kucing, yang konon dihuni oleh seekor kucing gaib bertubuh besar dari rata-rata kucing biasa. Goa Kucing merupakan petilasan Syech Maulana Ishaq, seorang ulama penyebar agama Islam. Lokasi Goa Kucing terletak di sebelah timur pulau, berdekatan dengan sebuah masjid. Goa Kucing memiliki bentuk seperti lubang sumur yang bisa dimasuki oleh satu orang. Di dalam goa tersebut terdapat mata air tawar. Menurut penuturan sang juru kunci, konon hingga saat ini lokasi Gua Kucing ini masih digunakan untuk tirakat bagi orang yang mencari berkat di malam-malam tertentu.

Kisah Guru di Pulau Gili Ketapang
Jika sedang di pulau-pulau kecil seperti ini ada satu hal yang selalu menjadi pertanyaan bagi saya. Bagaimanakah akses pendidikan dan kesehatan masyarakat di pulau kecil semacam ini? Mungkin keberuntungan sedang berpihak kepada saya siang itu. Sambil bermain dan melihat pemandangan di dermaga, saya berjumpa dengan seorang guru yang mengajar di salah satu sekolah di Pulau Gili Ketapang tersebut.


Saya salut dengan perjuangan dan pengabdian guru-guru tersebut. Setiap hari mereka menyeberang ke Pulau Gili Ketapang dengan perahu. Saya tidak bisa membayangkan jika setiap hari mereka harus terombang-ambing oleh gelombang untuk berangkat ke sekolah demi menyalurkan ilmu kepada anak didik mereka. Di Pulau Gili Ketapang sudah ada sekolah dasar hingga sekolah menengah tingkat pertama. Menurut penuturan guru yang saya temui tersebut, beberapa tahun silam sempat dibuka sekolah setingkat SMA. Namun, murid yang masuk di SMA tersebut hanya sedikit, tidak lebih dari lima orang. Maka dari itu dibuatklah kebijakan untuk menutup sekolah SMA tersebut. Jadi, jika ada anak-anak dari Gili Ketapang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMA, mereka harus melanjutkannya ke Kota Probolinggo.


Pulau Gili Ketapang memang memiliki cerita tersendiri bagi saya. Pulau yang konon selalu bergerak menjauhi Kota Probolinggo ini memiliki pemandangan alam yang cukup menarik. Perlu diingat jika Pulau Gili Ketapang bukan merupakan sebuah destinasi wisata. Anda tidak akan menemukan penginapan dan fasilitas penunjang pariwisata lainnya. Pulau Gili Ketapang merupakan sebuah kampung nelayan dengan kondisi yang cukup menyenangkan. Keramahan masyarakatnya akan selalu saya ingat, walaupun ada sedikit hambatan ketika berkomunikasi.


keterangan :
Untuk menyeberang ke Pulau Gili Ketapang, Anda dapat menggunakan jasa perahu motor dari Pelabuhan Tanjung Tembaga. Tarif untuk menyeberang adalah Rp 5.000,00 per-orang (data Februari 2014)