Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya Aceh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juli 2011

L.K. Ara Penyair Aceh

Lesik Keti Ara atau lebih dikenal dengan L.K. Ara (lahir di Takengon Aceh, 12 November 1937; umur 73 tahun) adalah penyair asal Aceh. Setelah menamatkan sekolah dasar dan menengah di kota Takengon, Aceh Tengah, dia kemudian menetap di Medan dan bekerja di beberapa media cetak. Penyair yang telah melahirkan lebih 20 judul buku dan diterbitkan oleh berbagai penerbit di Indonesia ini, sekarang bermukim di Jakarta.

Lewat Yayasan Nusantara bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Aceh dia mengeditori (dengan Taufiq Ismail dan Hasyim.KS) terbitnya antologi sastra budayawan Aceh Seulawah (1995). Dia juga menjadi penyunting buku antologi puisi penyair Aceh Jabal Ghafur 86 dan Aceh dalam puisi (2003) serta dua judul lagi yang masih dalam penyelesaian. Pembaca puisi berkarakter ini, banyak terlibat dalam pembuatan buku-buku budaya di berbagai daerah. terakhir ia menggarap puisi-puisi penyair pulau Bangka-Belitung

KARYA SASTRA

Karyanya yang sudah terbit:

Angin Laut Tawar (Balai Pustaka, 1969)
Namaku Bunga (Balai Pustaka, 1980)
Kur Lak Lak (Balai Pustaka, 1982)
Pohon Pohon Sahabat Kita (Balai Pustaka, 1984)
Catatan Pada Daun (BP, 1986)
Dalam Mawar (BP, 1988)
Perjalanan Arafah (1994)
Si Karmin jadi Ulama
Cerita Rakyat dari Aceh I, (Grasindo, 1995)
Cerita Rakyat Aceh II, (Grasindo, 1995)
Belajar Berpuisi (Syaamil Bandung 12 Berkenalan Dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh (997)
Langit Senja Negeri Timah (YN 2004)
Seulawah; Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (ed. YN, 1995)
Aceh Dalam Puisi (ed. Syaamil, 2003), 16. Pangkal Pinang Berpantun (ed. DKKP, YN, 2004)
Pantun Melayu Bangka Selatan (ed. YN, 2004)
Pucuk Pauh (ed YN 2004)
Syair Tsunami (Balai Pustaka 2006)
Puisi Didong Gayo (Balai Pustaka 2006)
Tanoh Gayo Dalam Puisi ( YMA, 2006)
Kemilau Bener Meriah (YMA, 2006)
Ekspressi Puitis Aceh Menghadapi Musibah (BRR 2006)

Puisinya dapat juga ditemukan dalam:

Tonggak, (1995)
Horison Sastra Indonesia 1 (2002)
Sajadah Kata (Syaamil, 2003)

PERJALANAN

Mengikuti Kongres Bahasa Melayu Dunia, Kuala Lumpur (1995)
Pertemuan Sastrawan Nusantara IX di Kayutanam, Sumatra Barat (1997)
Pertemuan Dunia Melayu Dunia Islam, Pangkalpinang, Bangka (2003)
Pertemuan Dunia Melayu Islam, Malaka, Malaysia (2004)
Mengikuti Festival Kesenian Nasional (Sastra Nusantara) di Mataram NTB (2007)

Sumber : Wikipedia

Jumat, 15 Juli 2011

PALEH

Paleh raja geuboh keurajeun
Paleh ureung geuboh bangsa
Paleh sagoe meuleuhob gampong
Paleh jurong hana meupeutua

Paleh inong hana lakoe
Paleh nanggroe zalem raja
Paleh gasien hana hareukat
Paleh kaya hana himat

Paleh bruek u hanjeut keu aweuk
Paleh situek hanjeut keu tima
Paleh awee hanjeut keu taloe
Paleh lakoe han sakon guna

Paleh krong hana asoe
Paleh peutoe keumeukab ija
Paleh umong hana ateung
Paleh ureung hana agama

Paleh on hana meupureh
Paleh wareh hana meuhaba
Paleh dike galak teumuleh
Paleh rakan hana dimakna

Paleh tuha geuboh tungkat
Paleh tukang geuboh seunipat
Paleh teungku geuboh ayat
Paleh meukat geuboh keunira

Paleh umong cot teungoh geuboh asoe
Paleh inong geuteumanyoeng ban woe lakoe
Paleh agam sipat kuwah bileueng asoe
Paleh raja geupeucaya barang gasoe

Paleh rakyat geumeu upat rata sagoe
paleh dikee meuen fesbuk malam ngoen uroe

Sumber : Laksamana - Aceh Forum Community

Lima Penyair Aceh ke Palembang

Lima penyair Aceh akan hadir bersama 300 penyair dari 6 negara pada Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) di Palembang, Sumatera Selatan, 16-19 Juli mendatang. 6 negara yang ikut mengirimkan utusan adalah Brunai Darussalam, Singapura, Malaysia, Thailand, Sri Lanka, dan Swedia.



Kelima penyair Aceh yang akan ikut menggelar karya di Palembang antara lain :

1. Fikar W Eda,
2. Salman Yoga,
3. D Keumalawati,
4. LK Ara, dan
5. Doel Cp.

Rencananya kelima penyair akan beranjak ke Palembang, Jum’at (15/7), sementara pemenang Novel Lampuki tingkat nasional Arafat Nur, belum membari kepastian keberangkatan.

Menurut Salman Yoga, kehadirannya ke Palembang sekaligus untuk mensosialisasi pertemuan Pertemuan Penyair Nusantara ke depan harus dilaksanakan diAceh.

“Even besar penyair perlu dilakukan di Aceh,mengingat Aceh memiliki penyair-penyair yang hebat di seluruh wilayah Aceh,” kata Salman.

Pertemuan penyair yang dibuka Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin, dan akan digelar dialog, pembacaan puisi, dan kegiatan kesusastraan.

“Berbeda dengan perhelatan terdahulu, kali ini akan ada peluncuran buku kumpulan puisi Akulah Musi,” kata Zulkair Ali, Ketua Dewan Kesenian Sumatea Selatan, Kamis 14 Juli 2011.

Sumber : The Atjeh Post

Fikar W. Eda : Penyair Dan Jurnalis Aceh asal Takengon

FIKAR W. EDA Lahir di Takengon 1966. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah, Banda Aceh. Menggeluti sastra dan teater. Tampil dalam berbagai kegiatan baca puisi di sejumlah kota di Indonesia dan Malaysia, seperti Jakarta, Jogjakarta, Solo, Surabaya, Bandung, Kuala Lumpur dalam Pengucapan Puisi Dunia Ke-9 2002, Banda Aceh dan lain-lain. Menghadiri Forum Puisi Indonesia '87 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Refleksi Peringatan 50 Tahun Indonesia Merdeka di Solo, Pertemuan Penyair Sumatera di Lampung, Medan, Batam dan sebagainya. Bersama grup musikalisasi puisi Deavies Sanggar Matahari, menggelar acara “Tour Salam Damai” di sejumlah kota terpenting Indonesia dalam rangka Kampanye Hak Asasi Manusia Aceh.

Menyusun antologi sastra “Aceh Mendesah Dalam Nafasku” bersama Lian Sahar dan Abdul Wachid BS (Kasuha, 1999), dan buku “Aceh Menggugat” (Pustaka Sinar Harapan, 1999) bersama S Sastya Dharma.

Menulis buku “FORBES dan Jejak Lahirnya Undang Undang Pemerintahan Aceh” (Forbes, 2008), “SABANG, Menyusur Jejak Pelabuhan Bebas” (BPKS, 2008) bersama Reza Idria..


KARYA SASTRA

Kumpulan puisinya RENCONG ditulis dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia diterbitkan dalam edisi khusus (special edition) pada November 2008. Sebelumnya RENCONG diterbitkan pada 2003 dan 2005, diluncurkan di Universitas Indonesia (UI Depok), 17 Oktober 2003.

Buku itu ‘dibedah' secara khusus oleh dua sastrawan Malaysia, Prof Siti Zainon Ismail dan DR Ahmad Kamal Abdullah atau Kemala, penyair dan pengamat sastra Oyos Saroso HN, Gola Gong dari Komunitas Rumah Dunia, DR Tommy Christomi dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia, dan penyair ternama Indonesia, Rendra serta sejumlah essei yang dipublikasikan di berbagai surat kabar..

Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar, membubuhkan catatannya pada halaman pembuka RENCONG.

Sejak 1989 Fikar W. Eda bekerja sebagai jurnalis pada surat kabar Serambi Indonesia yang terbit di Banda Aceh. Ia juga menjabat Sekjen Perhimpunan Jurnalis Indonesia atau PJI dan Komunitas musikalisasi Puisi Indonesia atau Kompi

PUISI-PUISINYA JUGA TERHIMPUN DALAM :

1. Antologi Forum Puisi Indonesia (Dewan Kesenian Jakarta, 1987),
2. Antologi Sastra Aceh Seulawah (1995),
3. Dari Bumi Lada (Dewan Kesenian Lampung, 1996),
4. Aceh Mendesah Dalam Nafasku (Kasuha,1999),
5. Antologi Puisi Indonesia Jilid I (KSI, 1997),
6. Maha Duka Aceh (PDS HB Jassin, 2005),
7. Syair Tsunami (PN Balai Pustaka, 2005),
8. Lagu Kelu (Asa-JapanNet, 2005),
9. Ziarah Ombak (Institute for Culture and Sociaty, 2005,
10.Antologia de Poeticas (Gramedia, 2008)
11.Dan lain-lain.

SAJAK/PUISI FIKAR W.EDA

1. TAKENGON 29 RIBU KAKI
2. RENCONG
3. SALAM DAMAI
4. SEPERTI BELANDA
5. NYALA ACEH
6. BIARKAN KAMI
7. RUMAH
8. BUNGA DAN PELURU
9. KEMANA
10. CAHAYA SUCI MATAHARI
11. JERIT BUKIT
12. DARI BALIK KACA SEBUAH MENARA
13. AKULAH SYAIR ITU
14. ACEH SATU (Lady’s Night)
15. MARI
16. KABUT TIPIS KACA JENDELA
17. RINDU EMAK
18. KUTIKAM ACEH
19. AKU TAK BISA BERFIKIR
20. KITA BERDUA
21. LALU KITA
22. SYAIR CENDRAWASIH
23. RAJAH
24. KE LANGIT TAK BERBATAS
25. NURLAPAN
26. ASALKU DARI HULU

Sumber :
Wikipedia - Kumpulan Puisi Fikar W. Eda "RENCONG"

Rabu, 06 Juli 2011

Festival Tarian Rakyat di Aceh diikuti 18 Negara

Sebanyak 18 negara tampil dalam festival Tarian Rakyat Internasional (Aceh International Folklore Festival) pada 23 hingga 29 Juli 2011 di Banda Aceh. Aceh menjadi tuan rumah setelah meraih juara dalam festival tarian rakyat yang digelar sebelumnya di Turki pada Juli 2010.



Sekretaris Panitia Pelaksana Aceh International Folklore Festival, M Adli Abdullah menyatakan pihak International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts (CIOFF) memilih Aceh Indonesia, karena memiliki tarian yang sangat khas dan mampu memikat perhatian bangsa lain.

“Dengan diakuinya Tari Saman, sudah semakin banyak karya budaya bangsa Indonesia yang telah diakui UNESCO, termasuk sebelumnya wayang, keris, batik, dan angklung,” kata Adli, Rabu (6/7).

Didampingi Wakil Sekretaris Panitia Aidi Kamal, Adli menambahkan festival Tarian Rakyat Internasional nantinya digelar di Banda Aceh, Sigli dan Sabang.

“Mereka akan melihat dan mempelajari tarian tradisional Aceh di daerah-daerah yang dianggap punya tarian tradisional yang mampu diperlihatkan secara baik” ujarnya.

Adli mengharapkan dengan festival ini menjadi hiburan bagi masyarakat serta pembelajaran budaya antar bangsa. Pihaknya ingin mengenalkan Aceh yang sudah mulai aman dan nyaman untuk disinggahi.

Beberapa negara yang menyatakan berhadir dalam International Folklore Festival antara lain, Italia, Polandia, Estonia, Ekuador, Venezuela, Senegal, Malaysia, Nigeria, Latvia, Lithuania, India, Turki, Pakistan, Afrika Selatan, Korea, Kanada, dan Indonesia.(mar)