Minggu, 03 Juli 2011

UDIN PELOR - Sang Maestro Penebar Pesona

Dengan berperawakan Ala Coboy, Udin Pelor menyerigai penonton dengan suara-suara desing peluru dan dentuman bom begitulah aksi Udin Pelor setiap kali dia menjadi Master Ceremony (MC) di berbagai acara. Lelaki gaek yang lahir di Matang Geulumpang Dua, 6 Juni 1945 masih saja berpenampilan perlente dengan rambut dikuncir ke belakang dan celana jeans belel, namun inilah Sang Maestro penebar pesona, yang lahir sebagai bagian dari alam Aceh yang di naungi budaya yang serba specifik, dia adalah karakter yang sulit di cari ganti.



Mengenalnya bagaikan mengenal angin yang berlalu, datang dan pergi sesuai suara hati. Pengembara yang satu ini terlihat tak pernah kenal henti untuk berkiprah di dunia kesenian, meski umurnya sudah terbilang tidak muda lagi, udin tetap menjalankan aktifitasnya sebagai insan seni yang konsisten.

Udin pelor tidak pernah merasakan bagaimana nikmatnya hidup di gaji pemerintah, biaya hidupnya hanya tertumpu pada berbagai usaha mandiri yang dilakukannya sejak berusia 16 tahun, dari mulai bisnis durian, buku bacaan pengarang-pengarang zaman Balai Pustaka, hingga berkesenian semua dijajakinya.

Dalam berkesenian Udin Pelor adalah pendobrak komposisi musik Aceh untuk pertama kali, di mengubah tone dan ritmik musik Aceh. Keberaniannya meletakkan pondamen dasar musik berbahasa Aceh yang lain dari yang pernah ada, merupakan sumbangan besar bagi perkembangan musik Aceh pada saat ini.

Coboy Aceh yang satu ini memiliki mental yang terasah oleh pengalaman berpuluh-puluh tahun menjadi tukang obat. Pengembaraannya dari kota ke kota, dari kampung ke kampung sebagai Gypsi Aceh menjadikannya maestro yang belum bisa dicari gantinya, sikapnya yang tenang mencerminkan kedalaman pengetahuan yang tidak bisa dinilai dengan materi. Vigur ini sudah sepantasnya di beri penghargaan setinggi-tingginya atas jasa-jasanya menghidupkan kesenian tradisional baik itu Susastra Aceh maupun Teater Tradisi Aceh, Geulanggang Labu atau dapat juga disebut Teater Arena di zaman sekarang.

Menurut pengakuannya, Nama Udin Pelor diberikan oleh kepala pabean yang bernama Ramli, saat gawat-gawatnya DI/TII. Udin Pelor yang bernama asli Mahyuddin Ismail memiliki perahu bot yang cukup memadai untuk menelusuri kuala langsa. Dalam situasi sedemikian Udin bersikukuh untuk ikut dalam pencarian meski sudah di larang oleh salah satu tentara yang saat itu ikut patroli. “saya katakan pada mereka saat itu kalau takut mati, di tempat tidurpun kita bisa mati, Kalau Allah berkehendak apapun bisa terjadi, termasuk mati di tembak.” ujarnya

“Saat kami di serang, cuma saya yang tidak mati, mungkin orang-orang DI/TII tahu bot saya dan saya ada di dalam bot itu, makanya saya selamat. Lantas saya membawa pulang mereka yang sudah tidak bernyawa lagi menuju pangkalan, nah dari situlah Ramli memberikan julukan saya Udin Tse Pelor, yang artinya Udin sisa pelor, namun belakangan saya di panggil oleh kawan-kawan Udin Pelor, karena mereka tidak dengar perkataan Tse yang di lontarkan pertama kali oleh Ramli.” Kenangnya.

Mulai saat itulah Udin memiliki prinsip seperti pelor, jika ada pekerjaan harus tepat sasaran, dan menghasilkan. Istilah Udin memanfaatkan satu pelor untuk menembak sekaligus dua objek, paling tidak salah satunya pasti kena.

Kariernya dalam kesenian di mulai dari Gelanggang Labu, yaitu sandiwara rakyat yang formatnya sederhana dan sering pentas keliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Semula Udin Pelor berniat untuk menjadi anak buah kapal, namun salah pemilik kelompok Geulanggang Labu memanggilnya untuk ikut bergabung dan menjadi pelatih tari dalam sandiwara. Sejak itu Udin terus ikut kemanapun rombongan sandiwara Geulanggang Labu ini tampil.

Berada dalam kelompok Sandiwara ini, memberikan motifasi baru bagi Udin disaat remajanya, banyak hal yang dilewatinya bersama kelompok ini, baik susah maupun senang. Masyarakat yang menyaksikan setiap pertunjukannya juga sangat antusias, sebab di dalam sandiwara ini banyak disampaikan petuah adat, nasehat orang tua, hukum-hukum Islam hingga berbagai kontek sosial kemasyarakatan yang positif dilahirkan lewat sandiwara Geulanggang labu ini dan Udin menjadi salah satu tokoh yang sangat mentukan berhasil tidaknya pertunjukan Geulanggang Labu pada saat itu

Sandiwara Geulanggang Labu ibarat para pendakwah yang tidak kenal lelah, mereka terus saja menarik simpati masyarakat sebanyak-banyaknya kala itu, tentunya semakin banyak yang menonton makin banyak pula rezeki yang di dapat. Udin Pelor bersaksi untuk itu.

Kehidupan menjadi “Gypsi” bukanlah paksaan yang senantiasa harus berkeluh kesah, persoalan kesenian dan hidup kadang-kadang menjadi satu dan tidak ada ujung pangkalnya. Dari 30 orang anggota kelompok, kadang-kadang hasil yang didapatkan tidak dapat di bagi sama, bahkan ada beberapa anggota yang tidak kebagian jatah uang saat itu, hal ini menurut Udin Pelor sering terjadi dan ini sangat lumrah. Namun saat itu honor bukanlah tujuan, tetapi pertunjukanlah yang paling utama, masyarakat terhibur dan misi tersampaikan.

Dengan kondisi inilah Udin Pelor harus memutar otak dengan keras, sampai suatu ketika datanglah seseorang yang mengajaknya untuk berjualan obat. “Waktu itu saya tidak mengerti bagaimana berjualan obat, kata teman saya, tugas saya cuma mengumpulkan banyak orang sebelum jualan obat dimulai, saya pun faham maksud teman saya itu langsung saja saya mulai beryanyi dan melawak, sesekali saya bercerita mengenai kasiat obat yang akan kami jual pada penonton yang mengerubungi kami, kalau kata-kata sekarang petunjuk penggunaan obat, saudara-saudara, kalau anda terkena penyakit cacing maka pakailah ramuan kami ini, yang paling top dan ampuh membasmi cacing yang bersarang di perut anda, ingat saudara-saudara, cacing yang ada pada tubuh kita dan paling berbahaya bukanlah cacing gelang, tapi cacing yang kecil-kecil, alias cacing keremi, maka untuk membasminya minumlah ramuan ini secara teratur, di jamin sembuh seratus persen, kalau tidak uang kembali,” kenangnya

Menurutnya semua ini terjadi ketika gelanggang labunya tampil di Bireun, tepatnya Krukuh Aceh Utara,

Hiburan penjual obat menjadi trand pada masa itu, dan Udin Pelor adalah ujung tombak yang kerap dipakai sebelum jualan obat berlangsung, hiburan Udin Pelor yang semakin akrab di berbagai tempat membuat obatnya laku terjual padahal obat yang dijual Udin Pelor hanya obat cacing dan obat penyakit batu karang serta ramuan untuk kecantikan.

Jika di telisik lebih jauh, Udin Pelor bukanlah seorang penjual obat jalanan yang tulen, tetapi dia adalah seniman yang ikut dalam proses penjualan obat. Banyak orang salah tanggap dengan keberadaan seniman gaek yang satu ini, Udin memang benar meracik obat cacing, obat batu karang dan ramuan kecantikan, tetapi perfomancenya tidak layak dikatagorikan sebagai penjual obat yang benar-benar serius, seperti teman-temannya karena vorsi yang di tampakan Udin pelor lebih banyak berkesenian dari pada menjual obat yang meski diraciknya sendiri. Hal ini senada dengan pengakuannya, “Sebenarnya orang-orang membeli obat saya bukan gara-gara obat itu manjur, tetapi karena mereka menghargai kesenian yang saya tampilkan,” ungkapnya

Kakek dua cucu ini juga mengakui, selama berjualan obat dia banyak ruginya, karena komposisi berjualan obat dengan hiburan lebih banyak hiburannya, masyarakat kita waktu itu sangat haus akan hiburan, mereka maunya dihibur terus hingga kadang-kadang lupa beli obat, padahal maksud Udin, kesenian adalah alat untuk menggiriring masyarakat yang ada di tempat itu agar membeli obatnya. Melihat kondisi ini teman-teman Udin memberikan nasehat, agar Udin lebih memfokuskan kesenian dari pada berjualan obat, sebab akan terus mengalami kerugian jika udin terus berjualan obat.

Aksi tebar pesona Udin terikut saat dia menjadi MC di berbagai acara. Udin Pelor acap kali mengeluarkan jurus-jurus andalannya sebagai bumbu pengikat agar audiens tidak beranjak dan tidak riuh dalam acara yang sedang berlangsung, dia juga sangat ahli membuat perhatian penonton sebuah acara jadi terfokus, sehingga Acara yang sedang berlangsung sukses tanpa cela.

Udin Pelor yang kini seumur dengan Republik Indonesia; 64 tahun, memiliki keluarga yang sangat sederhana, dia dikarunia satu orang anak dari seorang istri bernama Halimah dan kini sudah memiliki dua orang cucu.

Perjalanan sang maestro ternyata belum semua tercatat, terutama kisah cintanya dengan sang istri yang di boyongnya darai Lueng Putu Pidie 1972, dalam mencari jodoh Udin sangat selektif, dan banyak berguru pada orang tua. Dia juga sempat disarankan agar mencari gadis yang bernama Siti Hawa, “ Coba bayangkan nama Siti hawa itu sangat jarang ada di Aceh, saya sampai bingung mencarinya, namun saya terus mencoba mencarinya. Untuk mendapatkan jodoh saya menjual tanah di paya maneng, uangnya saya sewa satu kelompok drama dari Medan untuk berkeliling bermain sandiwara di Aceh. Di dalam kelompok sandiwara ini ada tiga orang gadis yang lumayan cantik, lantas saya mengetesnya, ternyata ketiganya tidak memenuhi syarat bagi saya, alasannya cuma sepele, dia tidak bisa masak. Akhirnya ini pun gagal. Tapi saat saya berada di Pidie, saya tertarik dengan seorang gadis yang kini menjadi Istri saya. Satu yang cuma saya langgar saat saya memperistrikan Halimah, dinamanya tidak ada kata yang berbunyi wa tapi yang dapat akhiran mah” ujarnya sambil tertawa.

Dari sisi penciptaan lagu, Udin Pelor sempat menelurkan satu buah album Trio bersama Istri dan anaknya, lagu ini berformat musik gaya baru berbau country dan India, kekhasan tone yang di pilih Udin dalam Album ini menjadi penomenal saat itu, namun nama besar Udin Pelor mengalahkan segalanya. Inilah yang dikatakan pembaharu dalam musik Aceh, mulanya selalu di cerca kemudian generasi berikutnya mengambilnya sebagai bahan rujukan terhadap musik yang dimainkan saat ini.

Salah satu syair Udin Pelor yang sempat di berikanya beberapa waktu yang lalu pada Sipil berjudul Taba Peusuna; “Ingat-ingat wahe rakan droe/ Bak tatiek duro bak jalan raya/ Han binasa ta jak binasa ta wo/ Peunyakit tablo utang tapeuna//Tameututo bek leupah-leupah/ Peukara lidah yoe cok binasa/ Seubab lidah juwah ban rimoung/ Keumeunan neukheun le ureung tuha//Taba peusuna keugob tapeugah/ Narit fitnah asai bak gata/Di yaumil masya kateusuet lidah/ Panyang meuleumpah meuribe deupa//Gunteng neuraka meu yue koh lidah/Teumpat keuneubah dalam neuraka.”

“Saat ini di umur saya yang sudah tidak muda lagi ini, karya yang saya buat semakin banyak. Inilah kekayaan saya yang sesungguhnya. Dulunya saya pernah mengecap bagaiman rasanya kaya materi dan tinggal di hotel selama bertahun-tahun, dan saya berhenti menginap di hotel itupun gara-gara hotelnya harus di gusur, kalaulah hotel itu masih ada saya mungkin masih menikmati kemewahan tersebut. Tapi yang lebih penting bagi saya saat ini, adalah semangat untuk terus berkiprah di dunia kesenian dan saya tidak akan hentikan itu hingga saya tidak lagi punya umur, dan kepada istri saya juga saya sudah katakan, cuma syair-syair inilah harta paling berharga saya, biasanya kalau penciptanya sudah tidak ada, syair-syair ini akan di cari orang,” kelakarnya

Seperti yang dikatakan Udin Pelor memang terjadi di Aceh, ketika PMTOH, Toet masih ada, tidak pernah sekalipun ada penghargaan berharga bagi mereka, padahal mereka yang hidupnya hanya berkesenian adalah penjaga budaya dan identitas daerah ini. Terbukti ketika kedua tokoh seni dan budaya ini tiada, ratusan karyanya sama sekali tidak terdokumentasi dengan baik, sementara bangsa asing sudah lebih dahulu memajangnya sebagai aset berharga miliknya.

Udin Pelor juga sangat menyesalkan ketidak pedulian daerah ini kepada kesenian dan pelaku-pelaku seni lainnya, seolah-olah seniman adalah beban yang memberatkan bagi Aceh.

“ Saya tidak memiliki muka untuk mengemis pada mereka yang punya banyak dana, apalagi pemda. Bagi saya adanya kesadaran berbudaya saja sudah cukup bagi kita para seniman. Tidak perlu bantu saya, saya Cuma minta mereka-mereka itu menyadari akan adanya budaya di sekitar dia dan pelakunya adalah seniman, ini kadang-kadang salah cerna, seniman yang punya karya kenapa pejabat yang punya nama. Tidak jauh lah, kita diundang ke luar negeri aja pejabat yang dapat nama sementara seniman hanya pelengkap pelaku saja.” Kelunya.

Sipil juga merncatat, Udin Pelor belum pernah dianggap sebagai bagian dari kesenian Aceh, hal ini terbukti dengan tidak adanya respon pemerintah daerah Aceh terhadap seniman, generasi Udin Pelor sebagai aktor Geulanggang Labu atau Seniman si Tukang obat sudah berakhir, namun namanya sangat populer di berbagai tempat dan masyarakat kita mengklimnya sebagai seniman yang multi telent.

Banyak seniman muda yang saat ini tenar namanya lewat lawakan yang belajar kepadanya, kemampuannya mengartifisialkan pengalaman individunya kepada generasi saat ini sungguh tidak dapat diukur dengan anugerah seni yang hanya berjumlah 10 juta, tetapi dia wajar di beri anugerah yang setimpal dengan hasil kerja kerasnya untuk membangun seni budaya hingga saat ini.

“Di negeri jiran, para penyair itu di biayai hidupnya oleh negara, mereka memiliki gaji tiap bulannya, selain itu negara mereka juga menghormati seniman sebagai satu kelompok tempat berdiskusi persoalan negara, sebab senimanlah yang paling cepat tahu bagaimana kondisi masyarakat beserta pemecahan persoalannya, dapat anda bayangkan betapa berharganya seniman di mata para pejabat negara di Malaysia, sementara di Aceh apa yang kita dapat, paling cuma menambah-nambah jumlah pengangguran, padahal syair dan nasehatnya lewat karya yang di buatnya dapat menterjemahkan daerah ini secara menyeluruh, ini cuma harapan saya bagi setiap yang berkuasa, baik hari ini, esok dan masa mendatang.” Urainya.

Yang Pasti Udin Pelor yang kini bukan bertopi Koboy lagi menginginkan perubahan penanganan seni dan budaya secara baik dan bermutu, kesenian yang mampu melangutkan perasaan sebab menurutnya ada dua bagian dalam hati manusia jika di belah, yang sebelah kanan adalah keimanan dan sebelah kiri adalah kesenian dan budaya, jika keduanya terisi dengan sempurna kita akan tahu siapa diri kita, untuk apa kita dan bagaimana kita akan menyongsong kehidupan yang lebih baik sebagai persiapan mati nanti, tambah Udin Pelor.

Udin Pelor yang masih saja menebar pesona di setiap acara-acara serimonial merupakan pelaku seni yang tidak pernah usai memikirkan seni dan budaya, semangat ini perlu di teladani bagi generasi muda saat ini, karena seni budaya Aceh juga terbentuk dari keseriusan dan pandangan yang jauh ke depan, tidak mengada-ada dan sangat memiliki prosfek cerah di masa yang akan datang. Maestro itu masih tersenyum meski dalam gamang berlangitkan tanda tanya tentang kesenian kita.

Sumber : Rahmad Sanjaya

Pernyataan Gubernur Aceh Petunjuk Baru Pengungkapan Kematian Safwan Idris’

Pos Bantuan Hukum dan Pengaduan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (PB-HAM) Aceh Utara menilai pernyataan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf bahwa banyak tokoh Aceh yang diperintahkan untuk ‘dihilangkan’ di massa konflik, bisa menjadi petunjuk baru bagi aparat penegak hukum untuk mengungkap kasus pembunuhan Rektor IAIN Ar-Raniry Prof Dr Safwan Idris.

“Pernyataan Irwandi Yusuf itu harus dilihat sebagai petunjuk baru bagi proses hukum dalam rangka pengungkapan kasus pembunuhan Safwan Idris. Kami yakin bahwa pernyataan Irwandi bukan sekadar ‘isapan jempol’ yang tanpa dasar,” kata Direktur Eksekutif PB-HAM Aceh Utara Zulfikar Muhammad melalui siaran persnya kepada Harian Aceh, Minggu (3/7).

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, saat berbicara dalam Raker Partai Rakyat Aceh (PRA) di Hotel Hermes Palace, Kamis (30/6), Irwandi Yusuf menyebutkan, tugas yang diberikan pada anggota GAM dilaksanakan 120 persen. “Tapi apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku pemimpin-pemimpin GAM di luar negeri, tak mencapai 50 persen,” bebernya. “Itulah sebabnya, menjadi sia-sia banyak tokoh masyarakat Aceh yang diperintahkan untuk ‘dihilangkan’ di massa konflik, jika pada akhirnya seperti ini.”

Dia mencontohkan, Muhammad Jafar Sidiq adalah korban yang dihilangkan secara sia-sia. Kemudian, Tengku Muhammad Nazrudin Daud, Ismail Saputra. “Ini pun dilenyapkan,” katanya. Lalu ada nama Profesor Safwan Idris, Profesor Dayan Dawood, Teuku Johan (mantan Pangdam). “Ini juga dikorbankan karena perintah pimpinan,” kata Irwandi.

Zulfikar Muhammad menyatakan pihaknya terus melakukan monitoring khususnya terhadap pengungkapan kasus pembunuhan Safwan Idris sejak tahun 2000. “Maka pernyataan Irwandi Yusuf yang notabene adalah kalangan internal aktif Gerakan Aceh Merdeka, sangat penting menjadi petunjuk baru bagi polisi untuk menemukan ‘singa’ yang telah ‘memangsa’ nyawa Safwan Idris,” katanya.

Proses Pengungkapan

Menurut Zulfikar Muhammad, upaya pengungkapan kasus pembunuhan Safwan Idris telah dilakukan polisi sejak tahun 2000 mulai dari olah TKP sampai uji balistik terhadap proyektil yang menembus tubuh Rektor IAIN Ar-Raniry itu. Kepada media massa pada saat itu, kata Zulfikar, Kapolda Aceh Brigjen Pol Drs Dody Sumantyawan usai melantik tiga Kadit baru di lingkungan Polda Aceh tanggal 28 September 2000, mengatakan, dari uji balistik yang dilakukan pusat laboratorium Mabes Polri, diketahui jenis senjata yang digunakan menembak Prof Safwan adalah pistol kaliber 380 buatan Amerika.

Kutipan pernyataan Kapolda Dody Sumantyawan pada saat itu, kata Zulfikar, antara lain, “Itu bukan senjata standard TNI dan Polri. Sedangkan visum korban juga sudah ada”. Menurut Kapolda Dody lagi, kata Zulfikar, senjata pistol kaliber 380 buatan Amerika tersebut, setelah diteliti tidak pernah terdaftar di Polda Aceh maupun pada Perbakin. Di samping itu, kata Zulfikar, Polda Aceh mengeluarkan sketsa wajah pembunuh Safwan Idris berdasarkan keterangan para saksi mata termasuk keterangan istri korban.

Menurut catatan Zulfikar, usaha menemukan pembunuh Safwan Idris tidak hanya dilakukan oleh polisi saja pada saat itu, tapi GAM juga melakukan hal yang sama. Panglima GAM wilayah Aceh Besar Ayah Muni kepada media berbahasa Inggris pada saat itu, kata Zulfikar, menyatakan telah memerintahkan seluruh intelijen GAM untuk mencari pembunuh Safwan Idris. Sampai Ayah Muni meninggal, kata Zulfikar, tidak ada informasi sudah sejauh mana perkembangan upaya yang dilakukan GAM. Ketika itu, lanjut Zulfikar, pernyataan belasungkawa dan rasa kehilangan yang sangat dalam hanya disampaikan oleh dua Panglima Wilayah GAM, yaitu Ayah Muni (Panglima Aceh Rayek) dan Darwis Jeunib (Panglima Prang Wilayah Batee Iliek), yang waktu itu baru saja diangkat sebagai panglima wilayah.

Selain itu, kata Zulfikar lagi, gelombang demonstrasi ulama, cendekiawan serta mahasiswa yang meminta polisi segera menemukan pembunuh Safwan Idris terus bergulir, sampai lahirnya Ikrar Darussalam pada tanggal 12 Oktober 2000, dengan deklaratornya antara lain Ketua MUI Aceh Dr Tgk H Muslim Ibrahim MA, Tgk Imam Syuja’, Drs Tgk Djailani Idris (abang kandung Safwan Idris), Dr Daniel Djuned MA, H Badruzzaman Ismail, kalangan aktivis, dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

Berita tentang ‘dugaan’ kelompok pelaku pembunuhan Safwan Idris, lanjut Zulfikar, kembali tersiar pada tahun 2003, tepatnya Minggu tanggal 22 Juni 2003 dalam acara ikrar kesetiaan NKRI di Abdya dengan Inspektur Upacara Pj Bupati Abdya Baharuddin, yang diikuti 23 ribu peserta upacara.

“Kini, pada Juni 2011, Irwandi Yusuf yang merupakan Gubernur Aceh kembali membuka tabir tragedi pembunuhan Safwan Idris. Dengan demikian lengkap sudah bagi PB-HAM dalam mengumpulkan berbagai pernyataan terkait dugaan konspirasi pembunuhan Safwan Idris. Kelompok-kelompok yang bertikai di Aceh pada saat itu semua sudah angkat bicara, jadi tidak ada alasan bagi pihak kepolisian untuk tidak memerintahkan seluruh jajarannya segera mengejar pelaku pembunuh Rektor IAIN Ar-Raniry,” kata Zulfikar.

Desak Polisi

PB-HAM Aceh Utara meminta Kapolda Aceh segera memanggil Irwandi Yusuf untuk dimintai keterangan terkait pernyataannya di muka publik tentang pelaku pembunuhan Safwan Idris. Ini penting, kata Zulfikar, agar tidak terjadi fitnah dan saling tuduh. PB-HAM juga minta Kapolda memanggil pimpinan GAM pada tahun 2000 yang hingga saat ini masih hidup. Hal ini, kata Zulfikar, guna mengkonfrontir argumen dan keterangan terkait kasus pembunuhan Safwan Idris sebagaimana pernyataan Irwandi Yusuf.

“Kapolda Aceh kami harapkan juga segera memanggil Baharuddin (Pj Bupati Abdy tahun 2003) untuk dimintai keterangan terkait penyataannya pada tahun 2003 tentang ‘dugaan’ kelompok pembunuhan Safwan Idris. Dan, Kapolda perlu memanggil perwakilan mantan kombatan GAM Aceh Rayek untuk dimintai keterangan terkait hasil dari upaya intelijen GAM sebagaimana yang diperintahkan (alm) Ayah Muni tentang pembunuhan Safwan Idris,” kata Zulfikar.

Sedangkan kepada Komnas HAM, lanjut Zulfikar, PB-HAM Aceh Utara minta segera membentuk Tim Investigasi khusus untuk melakukan penelusuran tentang pelaku penghilangan paksa tokoh-tokoh Aceh sebagaimana pernyataan Irwandi Yusuf. “Dan, memasukkan Irwandi Yusuf serta Baharuddin dalam daftar perlindungan saksi bersama 11 saksi lainnya yang telah diperiksa Polda Aceh pada tahun 2000,” kata Zulfikar.

Di sisi lain, Zulfikar mendesak seluruh deklarator Ikrar Darussalam untuk menyurati Presiden RI dan seluruh pihak terkait untuk kembali melakukan kerja-kerja pengungkapan kebenaran terhadap kasus pembunuhan Safwan Idris. Meminta Kolisi NGO HAM Aceh sebagai pemilik data terbaik untuk kasus-kasus penghilangan tokoh Aceh, kata dia, untuk serius mendampingi terkait pernyataan Irwandi Yusuf. “Kami juga menghimbau masyarakat Aceh tetap tenang dan membiarkan proses hukum berjalan dengan baik demi terungkapnya fakta tragedi pembunuhan Safwan Idris,” katanya.

Kronologis Pembunuhan

Menurut catatan Zulfikar, penembakan yang menewaskan Safwan Idris terjadi pada Sabtu tanggal 16 September 2000, sekitar pukul 06.00 WIB di kediamannya, Jalan Al-Kindi atau persisnya di samping Pustaka IAIN Ar-Raniry. Rektor IAIN Ar-Raniry itu, kata Zulfikar, ditembak oleh orang tidak dikenal, dan korban menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Zainal Abidin. “Meninggalnya Prof Dr Safwan Idris bertepatan dengan tanggal lahir cucu pertamanya dari putrinya Kausari,” demikian Zulfikar.(nsy)

Sumber : Harian Aceh

Udin Pelor Ingin Jadi Gubernur Aceh

Penyanyi dan pelawak kawakan Aceh, Udin Pelor menyatakan dirinya akan mencalonkan diri menjadi Gubernur Aceh periode 2012-2017. Udin akan berpasangan dengan Tgk Amad Leleh dan maju menggunakan jalur perseorangan.

Udin juga sudah menyebarkan undangan pada sejumlah media di Aceh untuk meliput prosesi pengambilan formulir pendaftaran dan form dukungan calon perseorangan/independen di Kantor KIP Aceh, Senin (4/7) hari ini.

“Kami mohon dukungan rekan-rekan wartawan untuk meliput prosesi pengambilan formulir pendaftaran dan form dukungan,” tulis Udin dalam surat undangan resminya yang diterima Harian Aceh, kemarin.http://www.blogger.com/img/blank.gif

Saat ini, sejumlah persiapan untuk nyalon jadi gubernur sudah dilakukan Udin Pelor. Dia sudah menyiapkan kantor sekretariat hingga mencari slogan untuk kampanye. Kantor sekretariat Udin Pelor beralamat di Jalan Amelia Nomor 1 Lampaseh, Banda Aceh. Sedangkan slogan kampanye pasangan ini adalah Dari Rakyat Untuk Rakyat.

Udin Pelor bernama asli Mahyuddin adalah warga Peuniti, Banda Aceh. Kakek kelahiran Matanggeulumpangdua, Bireuen, 6 Juni 1945 ini pernah mengawali karirnya sebagai penjual obat keliling, berhenti pada tahun 1990, kemudian dia memilih menjadi seniman. Dengan berperawakan Ala Coboy, Udin Pelor sering membuat penonton terhibur, baik dengan suara-suara desing peluru dan dentuman setiap kali dia menjadi Master Ceremony (MC), atau saat membawakan lagu-lagu kocak. (dad)

Sumber : Harian Aceh

Korban Konflik Aceh Mengadu ke Gubernur Aceh Irwandi Yusuf

Eks pengungsi korban konflik Aceh yang bermukim di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat, Sumatera Utara mengadu ke Gubernur Aceh Irwandi Yusuf berharap bisa menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.

"Kami berharap gubernur Aceh bisa menyelesaikan masalah sengketa lahan yang telah kami tempati sejak 1999. Pihak TNGL menuduh kami menempati kawasan lindung," kata seorang pengungsi korban konflik Suyatno di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Senin dini hari.

Hal itu disampaikan seusai bertemu langsung dengan gubernur Aceh setelah pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat provinsi di Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang.

"Kami sengaja datang untuk menemui gubernur Aceh guna menyampaikan masalah yang sedang menimpa ratusan eks pengungsi korban konflik Aceh itu. Situasi sempat tegang beberapa waktu lalu saat kami digusur paksa oleh petugas," katanya.

Suyatno menyebutkan pihak TNGL menuding eks pengungsi korban konflik Aceh menempati kawasan ekosistem dari TNGL. Di kawasan tersebut saat ini terdapat sekitar 609 KK eks pengungsi korban konflik.

"Mayoritas kami adalah warga transmigrasi yang sebelum pecahnya konflik Aceh bermukim di kawasan Aceh Timur. Namun, karena situasi Aceh saat itu sedang konflik, maka kami terpaksa meninggalkan pemukiman di Aceh Timur,"katanya menambahkan.

Sementara itu, Ketua LSM Lembah Tari Said Zainal menilai klaim TNGL yang menyebutkan pemukiman eks pengungsi korban konflik Aceh sebagai kawasan lindung tersebut tidak beralasan.

"Dikawasan itu saat ini telah menjadi desa dengan dilengkapi berbagai fasilitas publik yang dibangun pemerintah seperti sekolah, rumah ibadah dan pos kesehatan. Jadi kami melihat tudingan TNGL sebagai kawasan lindung itu tidak beralasan," katanya.

Selain itu, masyarakat tidak mungkin direlokasi ke tempat lain sebab mereka sudah bermukim belasan tahun selain kebun-kebun yang sudah berproduksi, kata dia menambahkan.
http://www.blogger.com/img/blank.gif
Warga eks pengungsi korban konflik itu saat ini sedang menikmati hasil perkebunan seperti karet dan kakao.

Dalam insiden pengusuran beberapa waktu lalu, kata Said, telah menelan korban luka-luka yakni sejumlah warga terkena tembakan aparat keamanan.

Sementara itu, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menyatakan pihaknya tidak bisa mencampuri masalah yang sedang dihadapi warga eks pengungsi korban konflik tersebut karena wilayahnya berada di Provinsi Sumatera Utara.

"Sebaiknya dilaporkan ke gubernur Sumut atau langsung ke Pemerintah Pusat karena lokasinya bukan berada di wilayah Aceh," katanya menjelaskan. (A042/K004)

Sumber : B Kunto Wibisono - Antara

P.RAMLEE PERMATA ACEH DI NEGERI JIRAN

Siapa sangka, P. Ramlee alias Teuku Zakaria Teuku Nyak Puteh yang merupakan seorang penyanyi, musisi, aktor kawakan, dan sutradara film Malaysia adalah seorang bangsawan yang di dalam dirinya mengalir ‘darah biru’ seorang pelaut kawakan Aceh, Teuku Nyak Puteh Teuku Karim.
***



Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh atau lebih populer P. Ramlee (seniman) dilahirkan pada hari Rabu 22 Maret 1929 (lahir waktu pagi hari lebaran-red) di Pulau Pinang, Malaysia. Bapaknya, Teuku Nyak Puteh adalah seorang ahli pelayaran yang berasal dari Lhokseumawe. Ibunya bernama Che Mah Hussin berasal dari Kubang Buaya, Butterworth, Malaysia. Penggunaan inisial "P" pada awal namanya diambil dari nama bapaknya Puteh, ketika ia mengikuti lomba menyanyi di Pulau Pinang pada tahun 1947. Sejak saat itu, inisial "P" terus melekat pada namanya hingga akhir hayat. Bakat P. Ramlee di bidang seni, khususnya seni peran dan seni suara sudah ada pada dirinya sejak ia masih kecil.


Ayah P. Ramlee, Teuku Nyak Puteh Teuku Karim yang berasal dari Lhokseumawe ini merupakan seorang pelaut kawakan Aceh yang merantau ke Malaysia dan menetap di Pulau Penang. Hingga pada tahun 1925, di Kubang Buaya, Butterwort, Malaysia, pelaut Aceh yang gagah perkasa itu menikahi Che Mah Hussein, dara jelita yang bermukim di Kubang Buaya, Butterwort (tempat penyeberangan ferry ke Pulau Penang dari Kedah Darulaman, Malaysia-red).

Pencipta dan pelantun lagu berirama rancak ini menjadi yatim setelah sang ayah, Teuku Nyak Puteh meninggal dunia pada tahun 1955 dan menjadi piatu 12 tahun kemudian sang bunda, Che Mah Hussein juga menyusul sang ayah, setelah sebelumnya ‘menghadiahkan’ P. Ramlee seorang adik tiri (lain ayah dan seibu) yang bernama Syeikh Ali.

Lima tahun sebelum ayahnya meninggal, pelakon film Pendekar Bujang Lapok ini menikahi Junaidah Daeng Harris yang juga berdarah Aceh pada tahun 1950. Dari buah perkawinannya yang hanya berusia 4 tahun itu, pria berkulit hitam manis dan perokok berat ini dianugerahkan dua orang putra yaitu Mohd. Nasir P. Ramlee dan Arfan P. Ramlee kedua putranya itu terpaut usia satu tahun (Mohd. Nasir lahir 1953, Arfan lahir pada tahun 1954).

Pria penyayang ini mempunyai 10 orang anak, 2 orang anak kandung (dari perkawinannya dengan Junaidah), 3 orang anak tiri dari 3 istrinya yaitu Junaidah, Noorizan, dan Saloma, serta 4 orang anak angkat. Delapan orang anaknya yang lain selain Mohd. Nasir dan Arfan yaitu Sazali, Abdul Rahman, Norma, Armali, Betty, Zakiah, Sabaruddin dan Dian.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh P. Ramlee dimulai dari Sekolah Melayu Kampung Jawa, kemudian meneruskan ke sekolah Francis Light sampai kelas lima. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke Penang Free School hingga kelas tujuh. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia juga pernah masuk di sekolah Kaigun (sekolah tentara laut Jepang).

Kecintaan P. Ramlee pada seni musik dan seni suara (penyanyi) mendorongnya untuk giat belajar musik. Berawal dari bermain ukelele, kemudian ia beralih belajar gitar dan biola pada Encik Kamaruddin (pemimpin Brass Band di Penang Free School). Kemudian, untuk mengembangkan bakatnya, ia bergabung dalam orkes Teruna Bintang dan Sinaran Bintang Sore. Sejak itu, ia sering memenangi berbagai lomba tarik suara, di antaranya Juara III (1945) dan Juara II sekaligus terpilih sebagai Bintang Penyanyi Utama Malaya (1947) dalam lomba tarik suara yang diselenggarakan oleh Radio Pulau Pinang

Keterlibatan P. Ramlee dalam seni peran berawal, ketika ia diundang untuk memeriahkan sebuah Pesta Pertanian Ria di Bukit Mertajam pada tanggal 1 Juni 1948. Dalam pesta itu, ia menyanyikan sebuah lagu ciptaannya sendiri berjudul Azizah. B.S. Rajhans, seorang pengarah film dari Shaw Brothers Singapura juga hadir dalam acara tersebut, dan kebetulan sedang mencari penyanyi berbakat. Setelah mendengar lagu persembahan P. Ramlee, Rajhans menawarkan padanya untuk menjadi penyanyi latar dalam film-film yang akan diarahkannya. Kemudian, pada tanggal 8 Agustus 1948, P. Ramlee pun berangkat ke Singapura dengan menumpang kereta api. Di Singapura, ia belajar dan mengembangkan bakatnya di bidang seni peran dan seni suara di Studio Malay Film Productions.

Karena kecintaannya dalam dunia film, P. Ramlee mampu melakukan berbagai macam pekerjaan maupun peran. Ia pernah menjadi clepper boy, pembantu jurukamera, menjaga continuity, dan sebagai penyanyi latar. Khusus dalam seni peran, ia mampu memerankan berbagai watak (karakter) misalnya, dalam film pertamanya yang berjudul Cinta, memerankan karakter penjahat (1948); dalam film Nur Asmara dan Nasib bersama D. Harris memerankan karakter lucu (komedi); dan dalam film Bakti memerankan karakter hero (pahlawan). Selain itu, ia adalah bintang film pertama yang bisa menyanyi tanpa menggunakan penyanyi latar.

Sejak tahun 1948 hingga 1955, keaktoran P. Ramlee di dunia perfilman terus berkembang dan telah membintangi 27 buah judul film. Datuk L. Krishnan (pengarah/sutradara film Melayu terkenal pada tahun 50-an dan 60-an) adalah salah seorang guru P. Ramlee yang senantiasa memberikan motivasi agar selalu belajar berakting. Selain Krishnan, ia juga banyak dipengaruhi oleh karya sutradara-sutradara asing, seperti Akira Kurosawa dari Jepang dan Satyajit Rai dari India. Sementara gaya lakon (akting) P. Ramlee banyak terinspirasi dari dua aktor terkenal India Selatan, yaitu MGR dan Sivaji Ganesan. Kepiawaiannya dalam berakting juga banyak dipengaruhi teman mainnya sesama aktor handal, seperti Nordin Ahmad, Saadiah, A.Rahim, Daeng Idris, Normadiah dan lain-lain.



Setelah membintangi film terakhirnya yang berjudul Hang Tuah tahun 1955, P. Ramlee beralih menjadi pengarah atau sutradara film. Film pertama yang disutradarai berjudul Penarik Becak (1955), dan setahun kemudian (1956), ia menyutradarai lagi filmnya yang kedua berjudul Semerah Padi. Film-film arahannya tersebut senantiasa menuai sukses, disamping karena teknik pengambilan gambar (trick-short) dan drama yang baik, juga karena penuh dengan unsur-unsur budaya dan agama. Selain itu, P. Ramlee juga telah melakukan berbagai pembaharuan, baik dari segi teknik, arahan, maupun seni aktingnya.

Setelah sukses membintangi dan mengarah beberapa film di Singapura, P. Ramlee pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia, untuk bekerja di Studio Merdeka di Ulu Kelang. Selama 9 tahun di studio tersebut, ia berhasil mengeluarkan 18 buah film, menciptakan serta menyanyikan lagu-lagu dalam film sebanyak 60 buah. Dalam proses penciptaan lagu, ia banyak dibantu oleh rekan-rekannya, seperti S. Sudarji, Jamil Sulong, H. M. Rohizad, Ainol dan sebagainya. Tidak diketahui secara tepat, berapa jumlah lagu yang telah diciptakannya, yang pasti dikenali masyarakat seniman kira-kira berjumlah 250 buah.

Selain sebagai aktor dan pengarah film, P. Ramlee juga aktif dalam berbagai bidang organisasi, di antaranya Persatuan Artis-artis Malaya (PERSAMA), Kumpulan Musik PANCA SITARA, Pasukan Badminton (SEKAWAN BINTANG), dan Sepak Takraw (SANGGA BUANA). Disamping itu, ia juga pernah mengadu nasib di bidang perdagangan dengan menerbitkan majalah hiburan Bintang dan majalah Gelanggang Films. Bersama rekan-rekannya, ia pernah mendirikan dua buah perkumpulan film, yaitu Perusahaan Film Malaysia (PERFIMA) dan SAZARA Film Company. P. Ramlee juga sering diundang dalam forum-forum penting, di antaranya dalam Kongres Bahasa dan Persuratan Melayu Ketiga di Singapura dan di Johor Bahru (1956), dan Kongres Kebudayaan Kebangsaan di Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1971). Semasa hidupnya, ia pernah berkunjung ke beberapa negara, di antaranya Indonesia, Hong Kong, Manila dan Tokyo. Film terakhir yang dibintangi sebelum ia menghembuskan nafas terakhir berjudul Laksamana Do Re Mi tahun 1972, sedangkan lagu dan lirik terakhirnya berjudul Ayer Mata di Kuala Lumpur pada tahun 1973.

P. Ramlee meninggal dunia pada tanggal 29 Mei 1973 dalam usia 44 tahun, akibat serangan jantung. Jenazahnya dimakamkan di Tanah Perkuburan Islam, Jalan Ampang Kuala Lumpur, Malaysia. Ia meninggalkan sebuah rumah yang berada di jalan Depap yang telah dijadikan Pustaka Peringatan P.Ramlee pada tahun 1986. Selain itu, namanya telah diabadikan sebagai nama jalan di Pusat Bandar Raya Kuala Lumpur menjadi Jalan P. Ramlee (yang dulunya bernama Jalan Parry) pada tahun 1982. Sepanjang hidupnya, ia telah tiga kali menikah, yaitu Junaidah anak pelawak D. Harris (istri pertama, 1948), Norizan bekas isteri Sultan Perak (istri kedua, 1955), dan Salmah Ismail atau Saloma (istri ketiga, 1961).

Karya-karya

Sebagai seniman film dan musik, P.Ramlee telah melahirkan banyak karya film dan lagu, di antaranya:
Film-film yang dibintangi P. Ramlee:
1. Abu Hassan Penchuri (1955)
2. Ahmad Albab (1968)
3. Ali Baba Bujang Lapok (1961)
4. Aloha (1950)
5. Anak Bapak (1968)
6. Anak-ku Sazali (1956)
7. Anjoran Nasib (1952)
8. Antara Dua Darjat (1960)
9. Antara Senyum Dan Tangis (1952)
10. Bakti (1950)
11. Bujang Lapok (1957)
12. Bukan Salah Ibu Mengandung (1969)
13. Chinta, film pertama (1948)
14. Dajal Suchi (1965)
15. Di Belakang Tabir (1969)
16. Do Re Mi (1966)
17. Doktor Rushdi (1970)
18. Enam Jahanam (1969)
19. Gelora (1970)
20. Gerimis (1968)
21. Hang Tuah (1956)
22. Hujan Panas (1953)
23. Ibu / Mother (1953)
24. Ibu Mertua Ku (1962)
25. Jangan Tinggal Daku (1971)
26. Juwita (1951)
27. Kanchan Tirana (1969)
28. Keluarga 69 (1967)
29. Labu Dan Labi (1962)
30. Laksemana Do Re Mi, film terakhir (1972)
31. Love Parade (1963)
32. Madu Tiga (1964)
33. Masam Masam Manis (1965)
34. Melanchong Ke Tokyo (1964)
35. Merana (1954)
36. Miskin (1952)
37. Musang Berjanggut (1959)
38. Nasib (1949)
39. Nasib Do Re Mi (1966)
40. Nasib Si Labu Labi (1963)
41. Nilam (1949)
42. Noor Asmara (1949)
43. Nujum Pak Belalang (1959)
44. Pancha Delima (1957)
45. Panggilan Pulau (1954)
46. Patah Hati (1952)
47. Penarek Becha (1955)
48. Pendekar Bujang Lapok (1959)
49. Penghidupan (1951)
50. Perjodohan (1954)
51. Putus Harapan (1953)
52. Putus Sudah Kaseh Sayang (1971)
53. Rachun Dunia (1950)
54. Ragam P Ramlee & Damaq (1964)
55. Sabarudin Tukang Kasut (1966)
56. Se Merah Padi (1956)
57. Sedarah (1952)
58. Sejoli (1951)
59. Seniman Bujang Lapok (1961)
60. Sergeant Hassan (1958)
61. Sesudah Suboh (1967)
62. Siapa Salah (1953)
63. Sitora Harimau Jadian (1964)
64. Sumpah Orang Minyak (1958)
65. Takdir Illahi (1950)
66. Tiga Abdul (1964)
Lagu-lagu P. Ramlee bersama Saloma:
1. Aci Aci Buka Pintu
2. Aduh Sayang
3. Aduhai Sayang
4. Ahmad Albab
5. Ai Ai Twist
6. Aku Bermimpi
7. Aku Debuk
8. Aku Menangis
9. Aku Tak Berdaya
10. Aku Terpesona
11. Ala Payong
12. Alam
13. Alam Di Tiup Bayu
14. Alam Maya
15. Alangkah Indah Di Waktu Pagi
16. Alhamdulillah
17. Ali Baba Rock
18. Alunan Biola
19. Anak-ku Sazali
20. Aneka Ragam
21. Angin Malam
22. Apa Guna Berjanji
23. Apabila Kau Tersenyum
24. Apek Dan Marjina
25. Asmara Bergelora
26. Asmara Datang Bersama Sang Bulan
27. Asmara Murni
28. Assalamualaikum
29. Awan Mendung Telah Tiba
30. Awas-awas Jangan Tertawan
31. Ayam Ayam
32. Ayer Mata
33. Ayer Mata Di Kuala Lumpur
34. Azizah
35. Bahagia
36. Bahtera Karam
37. Baidah
38. Barang Yang Lepas Jangan Di Kenang
39. Bawah Rumpunan Bambu
40. Bayangan Wajahmu
41. Beginilah Nasib
42. Belantara
43. Berdendang Ria
44. Berhati Lara
45. Berkorban Apa Saja
46. Bermandi-manda
47. Berpedati
48. Bersama
49. Bertamasha
50. Betapa Riangnya
51. Biarlah Aku Pergi
52. Bila
53. Bila Mama Pakai Chelana
54. Bila Tiba Masa
55. Bintang Hati
56. Bintang Sore
57. Bubor Sagu
58. Budi Dibawa Mati
59. Bujang Merempat
60. Bulan Dan Juga Angin
61. Bulan Jatuh Ke Riba
62. Bulan Mengambang
63. Bumiku Ini
64. Bunga Mekar
65. Bunga Melor
66. Bunyi Gitar
67. Burung Pungok
68. Chemara Jingga
69. Chemburu
70. Chinta
71. Chinta Abadi
72. Choraknya Dunia
73. Cik Cik Keboom
74. Dalam Air Terbayang Wajah
75. Dari Hati Ke Hati
76. Dari Masa Hingga Masa
77. Debaran Jiwa
78. Dendang Perantau
79. Dengar Ini Cherita
80. Dengarlah Kemala Hati
81. Dengarlah Rayuanku
82. Dengarlah Sang Ombak Berdesir
83. Derita
84. Dewi Ilhamku
85. Dewi Puspitaku
86. Di Bibir Mu Terlukis Kata
87. Di Mana Kan Ku Chari Ganti
88. Di Mana Suara Burong Kenari
89. Di Pinggiran
90. Di Pulau
91. Dia Dan Aku
92. Di Renjis-renjis Di Pilis
93. Di Telan Pahit Di Buang Sayang
94. Do Re Mi
95. Duka Berganti Suka
96. Dunia Hanya Pinjaman
97. Dunia Ini Hanya Palsu
98. Embun Menitik
99. Engkau Laksana Bulan
100. Enjit Enjit Semut
101. Dll.
4. Penghargaan
Atas karya dan jasa-jasanya bagi dunia seni, P. Ramlee telah menerima sejumlah penghargaan, di antaranya:
1. Aktor Pria Terbaik, dalam film Anak-ku Sazali pada Festival Film Asia ke-4 di Tokyo (tahun 1957)
2. Award Fotografi Hitam Putih Terbaik pada Festival Film Asia.
3. Gelar Sargeant Titular dari Askar Melayu.
4. Film Komedi Terbaik, dalam film Bujang Lapuk pada http://www.blogger.com/img/blank.gifFestival Film Asia di Kuala Lumpur (tahun 1959).
5. Film Komedi Terbaik, dalam Film Nujum Pak Belalang pada Festival Film Asia ke-7 di Tokyo (tahun 1960).
6. Bintang Ahli Mangku Negara (AMN) dari DYMM Seri Paduka Baginda di Pertuan Agung Ketiga di Malaysia (tahun 1962).
7. Award Khas The Most Versatile Talent, dalam film Ibu Mertua Ku pada Festival Film Asia ke-10 di Tokyo (tahun 1963).
8. Film Komedi Terbaik, dalam film Madu Tiga pada Festival Film Asia ke-11 di Taipei (tahun 1964).
9. Pengubah Lagu Terbaik Se Asia pada Festival Film Asia di Hong Kong (1956).
10. Bintang Kebesaran Darjah Panglima Setia Mahkota dengan gelar Tan Sri dari Seri Paduka Baginda Yang di Pertuan Agung di Malaysia (tahun 1990).
Sumber : Atjeh Cyber Warrior

Komite Peralihan Aceh Bantah Bunuh Tokoh Aceh

Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat wadah mantan sayap militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM) membantah pernyataan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dalam rapat kerja Partai Rakyat Aceh (PRA) yang menyatakan bahwa Pimpinan Politik GAM pada masa konflik pernah memerintahkan untuk menghilangkan dan mengorbankan para intelektual, aktivis, politisi dan mantan Juru Bicara GAM, seperti Muhammad Jafar Sidiq,Tengku Muhammad Nazarudin Daud, Ismail Syahputra, Profesor Safwan Idris, Profesor Dayan Dawood, Teuku Johan (mantan Wakil Gubernur Aceh).

“Kami sangat menyesali pernyataan tersebut sebagai upaya menciptakan konflik baru di tengah rasa damai yang sedang di nikmati oleh rakyat hasil dari kesepakatan bersama MoU Helsinki yang ditandatangani oleh Pimpinan GAM, Malik Mahmud dan Wakil Permerintah RI, Hamid Awaludin,” sebutk Wakil Ketua KPA Pusat Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak kepada The Globe Journal, Ahad (3/7).

Abu Razak mengutip pernyataan Irwandi Yusuf ini dimuat pada Harian Aceh, edisi Jumat 1 Juli 2011 — Judulnya “ Irwandi Tak Akui Pimpinan GAM Selain Hasan Tiro” menyatakan pernyataan tersebut, merupakan pernyataan yang keliru dan sangat menyesatkan serta dapat membangkitkan kembali konflik baru di Aceh. Pernyataan yang tidak bertanggung jawab itu sangat meresahkan rakyat Aceh. Ini adalah sebuah niat jahat dan keji untuk mengganggu kestabilan politik di Aceh. Disamping itu tujuan dari manuver ini adalah untuk memenuhi nafsu politik pribadinya agar tetap berkuasa di masa mendatang.

“Perlu kami tegaskan Pimpinan Politik GAM pada masa konflik tidak pernah memerintahkan untuk mengorbankan rakyat Aceh, apalagi rakyat Aceh yang mempunyai daya intelektual yang tinggi. Mereka menjadi sosok yang mempunyai kesetiaan tinggi untuk perdamaian dan kemajuan Aceh,” tambah Abu Razak.

Ditegaskan, Irwandi sebagai orang baru yang bergabung dengan GAM, pernyatan itu menunjukkan kedangkalan pemahamannya struktur perjuangan dan pembagian kerja dalam GAM. Irwandi bergabung dengan GAM pada tahun 2001 sebagai salah satu juru terjemah dan juru ketik Tengku Ilyas Abed, semasa CoHA (Cessation of Hostilities / Jeda Kemanusiaan).

“Kepada seluruh rakyat Aceh, untuk tetap menjaga perdamaian dan kestabilan politik di Aceh yang sedang dikacau balaukan oleh Irwandi Yusuf dan tidak terpengaruh menuver-manuver politik jahatnya,” ajaknya.[003]

Sumber : Zal - The Globe Journal

Sabtu, 02 Juli 2011

Partai Rakyat Aceh (PRA) Dianggap Langgar Komitmen

* GeMPAR: JKA bukan Program Irwandi

Sikap menyeberang Partai Rakyat Aceh (PRA) mendukung pencalonan Irwandi Yusuf dan kebijakan pemerintahannya mendapat kritikan dari berbagai pihak. PRA dianggap telah melanggar komitmen yang pernah disepakati dalam Kaukus Partai Politik untuk Demokrasi yang beranggotakan sekitar 11 parpol yang di dalamnya juga termasuk PRA.



Anggota Kaukus dari Partai Hanura, Mukhlis Muktar SH berpendapat, sikap PRA yang menyatakan dukungan kepada Irwandi dinilai sebagai sikap inkonsistensi dan tidak istiqamah. “Tapi itulah pulitek (politik, red). Lam geurupoh manok, na itek (dalam kandang ayam ada itik, red),” katanya menjawab Serambi di Banda Aceh, Sabtu kemarin.

Menurut Mukhlis, PRA juga dinilai telah melanggar komitmen dan tidak sehaluan lagi dengan visi dan misi yang semula telah disepakati dalam Kauskus Parpol, di mana Irwandi tidak masuk dalam daftar calon pemimpin Aceh masa depan yang digagas Kaukus Parpol, namun mendapat dukungan PRA. “Tidak ada nama Irwandi dalam bursa nama-nama balon gubernur Aceh versi Kaukus,” katanya.

Mukhlis menyebutkan, meskipun PRA telah menyeberang ke Irwandi dan SIRA yang cenderung mendukung Muhammad Nazar dan Koalisi Parnas (PD, PG, PAN dan PKS) akan mengusung calon sendiri, namun Kaukus Parpol untuk Demokrasi Aceh yang beranggotakan 11 parpol tetap konsisten akan mengusung calon alternatif.

“Kaukus komit akan mengusung calon yang patut, pantas dan mampu membawa Aceh keluar dari krisis multidimensi yang sedang mendera Aceh,” ujar advokad senior ini.

Bukan program Irwandi
Kritikan terhadap PRA juga dilayangkan oleh aktivis LSM Gerakan Masyarakat Partisipatif (GeMPAR) Aceh. Mereka menilai PRA telah melakukan satu upaya pembodohan rakyat dengan menyebut “mendukung Irwandi Yusuf sebagai gubernur Aceh berarti menyelamatkan JKA bagi seluruh rakyat Aceh.” Hal itu dituangkan dalam salah satu poin sikap PRA hasil Rakerpus II, sebagaimana dilansir harian ini Sabtu kemarin.

“Seolah tanpa Irwandi Aceh akan kehilangan program JKA. JKA itu program kolektif Pemerintah Aceh dan DPR Aceh. Bukan semata-mata program pribadi Irwandi Yusuf,” ujar Koordinator GeMPAR Aceh Auzir Fahlevi SH mengatakan statemen tersebut merupakan bentuk dari pembodohan masyarakat. Dia sebutkan, pihaknya mengapresiasi sikap PRA mendukung Irwandi sebagai satu sikap politik menjelang pilkada.

Namun, kata dia, sesuatu yang ironis jika dukungan tersebut, sampai menggiring ke arah pembodohan publik. PRA dinilai juga telah kehilangan daya kritisnya sebagai satu partai yang dimotori kalangan aktivis muda. “Semestinya Rakerpus mengangkat soal isu-isu ekonomi kerakyatan. Tapi kok justru mendukung Irwandi. Itu membuat PRA kehilangan daya kritis di masyarakat,” ujarnya.(sar)

Tanggapan Pimpinan PRA
Tarik Dukungan
MENYUSUL dikeluarkannya sikap politik mendukung Irwandi, PRA juga menyatakan menarik dukungan kepada calon tertentu yang akan diusung Kaukus Parpol untuk Demokrasi yang beranggotakan 11 parpol, di antaranya PRA, PBA, SIRA, PARA, PAAS, Gerindra, Hanura, PDIP. Berikut ini pernyataan Pj PRA Rahmat Djailani kepada Serambi di Banda Aceh Sabtu kemarin:

Kalau dalam soal dukungan untuk calon tertentu iya (PRA menarik dukungan, red). Tapi tujuan pendirian kaukus bukan hanya untuk mendukung calon tertentu. Akan tetapi juga sebagai partner proses demokratisasi di Aceh, melawan dominasi, serta mengembalikan politik Aceh sesuai rel yang diharapkan rakyat Aceh.

Sampai hari ini, di kaukus parpol belum menyepakati calon mana yang akan diusung. Bahkan dalam diskusi-diskusi di pertemuan kaukus banyak pandangan dari partai-partai yang mengatakan sangat sulit untuk mengkrucutkan kepada satu calon. Jadi kaukus kesulitan mengusung satu nama calon dikarenakan perbedaan.
http://www.blogger.com/img/blank.gif
Kebijakan Berani
Selama Republik ini berdiri dan setelah Aceh dipimpin Gubernur tidak ada program yang namanya kesehatan gratis. Belum ada (pemerintah, red) yang berani melakukan ini. JKA adalah satu terobosan berani yang dilakukan Irwandi Yusuf. Di tingkat pemerintah (nasional, red) juga belum ada, dan sekarang JKA bisa menjadi inspirasi bagi DPR. Kita tidak bisa jamin setelah Irwandi nanti tidak ada lagi, apakah JKA masih tetap lanjut. Maka, PRA melihat dalam konteks ini ada satu kesamaan pandangan. Jadi sebuah pernyataan salah jika ada yang menyebut mendukung JKA sebagai bentuk pembodohan publik. JKA itu programnya Irwandi invidual yang kemudian dikolektifkan setelah mendapat persetujuan dari DPRA. Memang tanpa DPRA, JKA juga tidak jalan karena anggarannya disahkan dewan. Tapi yang kita lihat adalah program ini merupakan inisiatif individual.

Sumber : Serambi Indonesia