Kamis, 28 Juli 2011

Dicurigai Komplotan Penembak Cagee, Warga Paya Bakong Diamankan

Seorang warga asal Paya Bakong, Aceh Utara, diamankan polisi karena dicurigai bagian dari komplotan penembak Saiful Husen alias Pon Cagee. Namun, sejauh ini polisi belum menemui titik terang terkait insiden yang menewaskan mantan Ketua KPA Wilayah Bate Iliek itu.

Informasi yang diperoleh Harian Aceh, warga Gampong Tanjong Beuridi, Kecamatan Peusangan Selatan, pada Senin (25/7) malam sekitar pukul 23.00 WIB, menangkap seorang lelaki mencurigakan. Lelaki yang diketahui warga Paya Bakong, Aceh Utara, ditangkap masyarakat setelah melompat dari sebuah mobil Kijang Kapsul. Setelah ditangkap, orang yang dicurigai itu langsung diserahkan ke pihak keamanan terdekat.

“Memang ada orang yang ditangkap warga dan telah diamamkan karena dicurigai. Tapi sejauh ini belum ada laporan secara resmi dari lapangan,” kata Kapolres Bireuen AKBP HR Dadik Junaedi SH kepada Harian Aceh usai menghadiri lepas sambut Dandim Bireuen, Rabu (27/8) malam.

Menurut Dadik, sejauh ini pihaknya masih mengumpulkan sejumlah barang bukti. “Handphone milik korban yang hilang saat kejadian juga belum ditemukan. Sedangkan handphone yang ada di keluarganya, sejauh ini masih pada kami guna penyelidikan,” katanya.

Dari sejumlah saksi yang dimintai keterangan terkait penembakan Pon Cagee, lanjut dia, sejauh ini belum ada yang mengaku mengenali pelaku termasuk saat diperlihatkan sketsa wajah yang dicurigai. “Seksa wajah sudah didapatkan, namun para saksi yang dipanggil belum berani mengatakan. Mereka masih bimbang dan trauma, sehingga butuh waktu,” katanya.

Untuk itu, Kapolres meminta masyarakat dapat berperan memberikan informasi bila ditemukan orang-orang mencurigakan. “Kami tetap akan merahasiakan setiap informasi warga,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Saiful Husen alias Pon Cagee tewas ditembak, Jumat (22/7) sekitar pukul 22.30 WIB. Mantan Ketua KPA Wilayah Batee Iliek itu ditembak di depan warung kopi Gurkha miliknya di Jalan Medan-Banda Aceh, Matangglumpangdua, Kecamatan Peusangan, Bireuen.(job)

Sumber : Harian Aceh

Pengakuan Istri Cagee Sesaat Sebelum Penembakan Pon Cagee

"Abang Sempat Telpon Saya"

Kabut tebal terus menyelimuti kasus almarhum Saiful alias Cage (42), yang tewas ditembak OTK. Polisi pun seakan tak berdaya, untuk menyibak tabir gelap tersebut. Sementara istri korban menyatakan, Eks Ketua KPA Batee Iliek itu sempat menelpon dirinya, sebelum peristiwa berlangsung. Apa gerangan?

Saat ditemui Metro Aceh di kediamannya, Selasa (26/7) siang di Desa Lueng Danun, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Nurmasyitah (35) mengaku masih diliputi kesedihan teramat dalam. Apalagi istri mendiang Cage ini harus mengurus anak-anaknya seorang diri, tanpa kehadiran suami tercinta di sisinya. Ia berharap agar pembantai orang yang dicintai keluarga, harus segera ditangkap dan dihukum berat.

"Supaya tidak terus-menerus jadi tanda tanya kami. Keluarga mengharapkan polisi dapat mengusut tuntas. Apabila pelakunya sudah ditemukan, kami juga berharap dapat diproses sesuai hukum,” ungkap Nurmasyitah didampinggi Nurjannah (50) orang tuanya dan Muhajir (27) berserta anggota keluarga lainnya.Nurjannah menambahkan, selama dua tahun terakhir mereka menempati rumah sendiri di kawasan Lueng Danun, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Atas kesepakatan pihak keluarga, jenazah almarhum suaminya dikebumikan dipemakaman Desa Ule Jalan, Kecamatan Peusangan Selatan tak jauh dari rumah orang tua dari suami.

Dikatakan juga, buah perkawinannya dengan almarhum telah dikaruniai empat orang anak. Diantaranya Nur Safitri (10) masih duduk dikelas III Madrasah Ibtidayah Negeri setempat. Anak keduanya, Hayutullah Khamaini (5), ketiga Soraya Nuzula (3.5) dan terakhir Nazila Sahira sudah menjelang berusia 10 bulan.
Dikisahkan sebelum musibah terjadi, Amiruddin alias Saiful alias Cage Kamis malam (21/7) sekira pukul 20.00 WIB, tiba di rumah sepulang dari Banda Aceh.

Kondisi suaminya saat itu biasa-biasa saja, tidak ada menyampaikan keluh kesah berkaitan hal apapun. Bahkan Nur pun tak merasakan firasat apa-apa. Sedangkan kejadian di Jumat malam (22/7), dari rumah Cage pergi ke doorsmer mencuci mobil.Masih sebagaimana kebiasaannya, almarhum setiap pergi dan sebelum kembali ke rumah sering membeli makanan seperti nasi dan buah-buahan, untuk isteri dan anak-anaknya.

Cage juga sempat menelpon dirinya untuk menanyakan makanan, yang akan dibawa pulang ke kediaman mereka. Namun selang 15 menit kemudian, malah sudah menerima kabar penembakan. Terkait kejadian ini, Kapolres Bireuen AKBP H.R Dadik Junaedi S.H melalui Kasat Reskrim Iptu Novi Edyanto dikonfiormasi metro aceh mengatakan, pihaknya masih terus melakukan pengembangan di lapangan dan pengejaran terhadap pelaku.

“Saya berharap kepada masyarakat untuk melaksanakan aktifitas sebagaimana biasa. Jangan merasa khawatir dan takut, karena situasi keamanan di Bireuen masih kondusif. Untuk mengungkap kasus penembakan ini, kami juga mengharapkan adanya dukungan dan peran serta masyarakat untuk dapat memberikan informasi sekecil apapun yang bisa disampaikan,” ujar Kasat Reskrim.(rah)

Sumber :Rakyat Aceh Online

Rabu, 27 Juli 2011

Irwandi Setuju Penataan Ulang Regulasi Pemilukada

Tim dari Departemen Dalam Negeri (Depdagri) menyampaikan hasil diskusi yang telah dilakukannya dengan berbagai pihak tentang penataan kemabali regulasi Pemilukada. Ternyata Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, setuju untuk ditata ulang regulasi tahapan Pemilukada Aceh.

Demikian disampaikan Tim Depdagri, Djohermansyah Djohar, usai rapat tertutup dengan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, di kantor Gubernur Aceh, Rabu (27/7).

“Beliau (Irwandi) setuju penataan regulasi, Muspida juga setuju. apa-apa regulasi yang belum sinkron dan yang tidak harmonis, kita serasikan kembali,”kata Djohermansyah.

Setelah bertemu dengan Gubernur Aceh, pihak Depdagri akan menemui lagi DPR Aceh dan partai politik untuk membicarakan apakah ada pendataan lain yang perlu ditambahkan. Kalau memang nantinya setelah diskusi semua pihak sudah cocok, baru pihaknya menyusun suatu kesepakatan. Kemudian akan membahas lagi poin-poin dari qanun yang telah di buat beberapa waktu lalu oleh DPR Aceh.

“Seperti kemarin misalnya qanun tidak ada calon perorangan, mari kita bawa ke sidang berikutnya diupayakan akan diakomodasi,” kata Djohermansyah.

Namun katanya jadwal Pemilukada tetap jalan, tetapi tahapannya yang akan dijadwalkan kembali kalau DPR Aceh menyetujuinya nanti, 1-8 Agustus merupakan pendaftaran calon dari Parpol dan gabungan Parpol.

“Kalau memang kita harus melakukan penataan regulasi, dan seandainya disepakati bersama, diundurkan sedikit, ini penjadwalan (ulang) namanya,”ujarnya.

Sambung Djohermansyah, landasan peraturan Pemilkada tetap diupayakan rujukannya kepada qanun-qanun, supaya memudahkan dalam pelaksanaan, karena qanun mengatur segalanya. Seperti penyampaian visi, misi sampai pelantikan, semuanya melalui DPR Aceh.

Sumber :The Globe Journal

Kapolda Aceh : Penembakan Pon Cagee tak Terkait Politik

Kepala Kepolisian Daerah Aceh Inspektur Jenderal Iskandar Hasan menyebutkan penembakan Saiful Husein alias Cagee di Matang Geulumpang Dua beberapa waktu lalu, tidak terkait dengan kasus politik menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah.

“Tidak ada kaitan dengan politik. Kami belum melihat ke situ (politik),” kata Iskandar Hasan usai rapat bersama Gubernur dan Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Djohermansyah Djohan di Kantor Gubernur Aceh, Rabu (27/7).

Menurut Iskandar Hasan, berdasarkan pemeriksaan di lokasi kejadian, penembakan Saiful Cagee diduga dilakukan kelompok kriminal. “Ada informasi juga pelaku terkait dengan kelompok narkoba. Ada kaitan seperti itu,” ujar Kapolda.

Namun, ia belum bisa memastikan motif penembakan itu. “Kita belum tahu persis, apakah ada background dengan narkoba atau persaingan bisnis. Kita masih mendalami,” lanjut Iskandar Hasan.

Saiful Cagee tewas ditembak orang yang belum diketahui identitasnya di depan warung Gurkha di Matang Geuleumpang Dua, Bireuen, Jumat (22/7) sekitar pukul 23.15 WIB. Ia ditembak tiga kali di bagian kepala dan kaki. Pelaku diduga menggunakan senjata laras panjang jenis AK-56. Di lokasi kejadian, polisi menemukan dua proyektil peluru dan dua butir amunisi yang tidak sempat meledak. Usai menembak Cagee, pelaku melarikan diri ke arah Lhokseumawe menggunakan mobil Avanza bernomor polisi BK.

Polisi membentuk tim khusus untuk memburu pelaku penembakan Saiful Cagee. “Beberapa informasi yang kita kembangkan di TKP, terhadap ciri-ciri pelaku. Ini sedang kita kembangkan, mudah-mudahan ada perkembangan positif,” kata Kapolda Iskandar Hasan. []

Sumber : Aceh Kita

HMI Tolak Pencalonan Muhammad Nazar Sebagai Gubernur Aceh

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Nusantara mendatangi Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat di Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu, berunjukrasa menolak rencana pencalonan M Nazar sebagai kandidat dalam Pilgub Aceh periode 2011-2016.

Koordinator Aksi Sulaiman mengatakan, kedatangannya dimaksudkan menolak rencana pencalonan M Nazar sebagai bakal calon gubernur Aceh yang diusung Partai Demokrat itu karena ia diduga terlibat korupsi selama periode jabatannya sebagai wakil Gubernur Aceh periode 2006-2011.

Berdasarkan catatan HMI, diduga kandidat itu terlibat dalam kasus korupsi dengan kerugian negara sekitar Rp1,3 miliar - Rp220 miliar, kata Sulaiman.

Pada kesempatan itu, Sulaiman juga menyayangkan ketika mahasiswa hendak melakukan shalat mayat, mendapat larangan dari perwakilan Demokrat.

Menanggapi aksi protes HMI itu, Kepala Rumah Tangga Sekretariat DPP Partai Demokrat (PD) Agung Budiarto menyatakan, partainya masih melakukan pembahasan di internal.

"Kemarin memang ada pertemuan pimpinan PD yang mengagendakan pembahasan pilkada Aceh. Tapi saya tidak tau persis apakah agenda rapat kemarin juga membahas persoalan figur calon yang diusung, termasuk masalah tudingan dugaan praktik korupsi yang dilakukan M Nazar. Sebab saya tidak ikut dalam pertemuan itu," ujar Agung. | Antara

Sumber : The Aceh Traffic

Selasa, 26 Juli 2011

Buru Penembak Pon Cagee, Polda Aceh-Poldasu Berkoordinasi

Polda Aceh berkoordinasi dengan Polda Sumatera Utara (Poldasu) dalam memburu komplotan penembak mantan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Batee Iliek Saiful Husen alias Pon Cagee.

Kapolda Aceh Irjen Pol Iskandar Hasan mengatakan berdasarkan hasil olah TKP, penembak Cagee diperkirakan berjumlah dua atau tiga orang. Mereka lari ke arah timur yang bisa saja ke luar Aceh atau ke Medan, Sumut. “Jadi kami sudah berkoordinasi dengan pihak Poldasu untuk menangkapnya. Ini dikuatkan lagi dengan informasi bahwa pelaku menggunakan mobil bernomor polisi BK (plat Sumut),” kata Iskandar.

Namun, kata dia, sejauh ini polisi belum tahu pasti apakah plat mobil tersebut palsu atau asli. Untuk mengungkapkan hal itu, polisi masih terus menggali informasi di lapangan, termasuk terus-terusan berkoordinasi dengan jajaran kepolisian di luar Aceh.

Sementara pihak Mapolres Bireuen telah memintai keterangan beberapa saksi. Dari keterangan orang-orang di sekitar lokasi kejadian itu, polisi mencoba membuat sketsa wajah pelaku. Namun sketsa tersebut belum menggambarkan wajah pelaku dengan tepat.

Sebagaimana diketahui, Pon Cagee, 45, yang juga disebut-sebut timses Cagub Irwandi Yusuf ditembak hingga tewas oleh pria tak dikenal, Jumat (22/7) sekitar pukul 22.45WIB di depan Warkop Gurkha miliknya di Matangglumpangdua, Peusangan, Bireuen. “Almarhum ditembaki dengan AK. Tetapi belum dapat dipastikan apakah AK 56 atau AK 47,” kata Kapolres Bireuen AKBP HR Dadik Junaedi SH, Sabtu (23/7).

Kapolres menyebutkan, dari penyisiran yang dilakukan anggotanya di lokasi kejadian, polisi menemukan dua peluru AK aktif dan dua selongsong peluru. “Satu yang masih aktif itu sudah digunakan tetapi tidak meledak,” terang Kapolres Bireuen.

Kapolres mengatakan korban meninggal di lokasi kejadian setelah mengalami luka tembak di bahu kiri dan di bagian kepala. “Korban ditembak dari jarak dekat sehingga ada peluru yang menembus kepalanya,” ujar Dadik. Polisi masih melakukan penyelidikan motif penembakan dan identitas pelaku.(bay)

Sumber : Harian Aceh

Selesaian Polemik Pemilukada Aceh, Pusat Tawarkan Jalan Tengah

Pemerintah Pusat menawarkan jalan tengah untuk menyelesaikan polemik seputar pelaksanaan Pemilukada Aceh 2011. Di antaranya, wacana jeda Pemilukada tapi tidak menggugurkan tahapan yang sudah berjalan.

Dirjen Otonomi Khusus Kementerian Dalam Negeri, Djohermansyah Djohan didampingi Ketua Desk Aceh Menkopolhukam, Mayjen (Pur) Amiruddin Usman menggelar konferensi pers di salah satu warung kopi di Banda Aceh, Selasa (26/7).(Harian Aceh/Junaidi Hanafiah)

Tim yang diutus Pemerintah Pusat ke Aceh itu berasal dari Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam). Tim tersebut diketuai Dirjen Otda Kemendagri Prof Dr Djohermansyah Djohan dan beranggotakan Safrijal dari Kemendagri, Mayjen (purn) Amiruddin Usman dari Kemenko Polhukam Desk Aceh, dan Brigen TNI Sumardi (Asisten I Deputi Bidang Otsus Kemenko Polhukam). Sepanjang Selasa (26/7), mereka melakukan serangkaian pertemuan di Banda Aceh.

Pertemuan pertama dilakukan dengan pimpinan DPRA, Komisi A, Pansus III dan pimpinan partai politik di ruang serbaguna DPRA. Hadir dalam pertemuan itu, di antaranya Wakil Ketua DPRA Sulaiman Abda, Ketua Komisi A DPRA Adnan Beuransyah, anggota Pansus III DPRA Abdullah Saleh, Ketua DPD Demokrat Aceh Mawardy Nudrin (Juru Bicara Kaukus Parpol), Ketua DPW PAN Anwar Ahmad, Ketua DPW PKS Aceh Ghufron Zainal Abiddin.

Sore hari kemarin, tim dari pusat mengadakan pertemuan tertutup dengan Muspida Aceh di ruang rapat Gubernur Aceh yang dihadiri Asisten I Pemerintah Aceh Marwan Sufi, Pangdam Iskandar Muda Mayjen Adi Mulyono, Kapolda Aceh Irjen Iskandar Hasan, dan unsur KIP Aceh.

Hasil pertemuan itu, Djohermansyah Djohan mengatakan pihaknya sudah menyerap berbagai masukan dari masing-masing pihak yang berbeda cara pandang terkait Pemilukada. Itulah sebabnya, perlu diambil jalan tengah melalui pertemuan puncak yang direncanakan akan dihadiri semua pihak, seperti Gubernur Aceh, DPRA, Kaukus Parpol, KIP Aceh, Kapolda, Pangdam dan elemen sipil. “Kami akan menjembataninya, mungkin dalam dua hari ini,” kata Djohermansyah Djohan dalam konferensi pers di Tower Kafe, kemarin.

Menurut Djohermansyah, hasil dari rapat puncak nanti, akan menjadi rekomendasi pemerintah pusat dalam mengambil kebijakan. “Kebijakan pemerintah (pusat) yang akan diambil nantinya sangat bergantung dari hasil pertemuan para pihak di Aceh,” sebut dia.

Djohermansyah mengatakan konflik regulasi yang bermuara pada deadlock politik saat ini terjadi karena perbedaan cara menafsirkan landasan hukum pelaksanaan Pemilukada Aceh, khususnya antara DPRA dan Gubernur Aceh. Tapi, tentu hal ini masih bisa diurai asalkan para pihak memiliki satu semangat yang sama, yakni semangat untuk menyelesaikan konflik regulasi tersebut dengan cara-cara yang bermarwah. “Dari serangkaian pertemuan, saya merasakan semua pihak memiliki keinginan untuk menyelesaikan ini,” katanya.

Jalan tengah yang diharapkan pihaknya, lanjut dia, Pemilukada di Aceh dapat tetap mengakomodir jalur perseorangan. Sedangkan tahapan-tahapan Pemilukada yang sudah dijalankan KIP, bisa reschedule atau dijadwal ulang tapi bukan membatalkan secara keseluruhan. “Tentu ini belum final, nanti akan diputuskan dalam rapat puncak itu,” katanya.

Sebelumnya, saat pertemuan di ruang serbaguna DPRA, Djohermansyah Djohan mengatakan Pemerintah Pusat sangat menginginkan para pihak di Aceh dapat sepaham dalam menetapkan apa yang menjadi tujuan bersama rakyat Aceh. “Saya pikir semua sepakat, goal bersama itu adalah Aceh damai dan sejahtera,” katanya. Selanjutnya, menentukan bagaimana untuk menggapai goal itu. “Tentunya melalui Pemilukada yang berkualitas maka akan didapat pemimpin yang berkualitas, sehingga tercipta pembangunan yang berkualitas pula,” katanya.

Terkait kontroversi tahapan Pemilukada, kata Djohermansyah, masih memungkinkan untuk dikoreksi. “Untuk goal bersama tadi, itu sudah final. Yang bisa dikoreksi hanya cara-cara untuk menggapai goal itu,” katanya. Menurut Djohermansyah, jika pun nanti Pemilukada ditunda, tentu diambil berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang arif dan bijak. “Untuk jalan tengah, penundaan sebagian tahapan Pemilukada harap bisa diakomodir,” katanya.

Hal tersebut dianggap penting agar tahapan yang sudah berjalan menggunakan anggaran publik itu tak mubazir. “Harap tak perlu menggunakan harga mati membatalkan tahapan,” katanya.(dad)

Sumber :Harian Aceh