Assalamu'alaikum. Saleum Rakan Gaminong!
Alhamdulillah telah dapat hadir ke hadapan Rakan Gaminong blog komunitas Gaminong Blogger (GIB). Blog komunitas ini merupakan wahana kreativitas para blogger yang tergabung dalam GIB untuk mewujudkan visinya yaitu "positifkan Aceh lewat tulisan."
Bagi Rakan Gaminong yang telah bergabung dengan komunitas Gam Inong Blogger, dapat mengunjungi grup facebook Gam Inong Blogger di sini serta daftar bloglist-nya Gaminong Blogger di sini.
Saran-saran dari Rakan-rakan Gaminong selalu kami nantikan.
Wassalam.
Admin.
Selasa, 18 Maret 2014
Museum Probolinggo : Wahana Pengenalan Sejarah Kota Probolinggo
Malam pun semakin larut, namun acara penjelajahan museum di Kota Probolinggo pun belum berakhir. Kali ini para peserta diajak berkeliling ke sebuah gedung tua di kawasan Jalan Suroyo. Dari bagian depan nampak pesawat udara kuno, lokomotif tua, serta tank yang dipajang di halaman. Inilah Museum Probolinggo, salah satu wahana pengenalan sejarah Kota Probolinggo.
Museum Probolinggo merupakan salah satu wahana wisata yang cukup baru di Kota Probolinggo. Museum ini diresmikan pada tahun 2009 dengan menempati sebuah gedung tua yang dahulu bernama Gedung Panti Budaya. Dahulu bangunan ini merupakan sebuah gedung serba guna, kemudian dialihfungsikan sebagai museum sebagai wahana untuk memperkenalkan perkembangan sejarah Kota Probolinggo.
Museum Probolinggo memiliki koleksi yang cukup menarik di dalamnya. Di bagian pertama ruangan Museum Probolinggo ini kita akan menemui beberapa replika arca yang biasa kita temui di candi. Penemuan arca-arca ini barangkali mengacu pada bangunan Candi Jabung yang terletak di daerah Paiton barangkali. Entahlah, koleksi arca-arca tersebut mengacu pada penemuan arca di candi mana saya kurang paham.
Pada ruangan berikutnya kita akan melihat beberapa koleksi barang-barang kuno yang ditemukan di sekitaran Kota Probolinggo. Ada beberapa senjata yang digunakan oleh masyarakat Tengger di masa silam, ada pula beberapa peninggalan seperti guci dan keramik dari Tiongkok, alat musik kecapi, KWH meter di jaman perusahaan listrik yang dikelola oleh Belanda, sepatu dari China yang khusus digunakan oleh kaum perempuan agar memiliki bentuk kaki yang ramping, ada pula naskah-naskah kuno tersimpan rapi di dalam Museum Probolinggo ini.
Di bagian ruang berikutnya, kita akan melihat koleksi mata uang kuno dan bangku sekolah kuno peninggalan jaman Belanda yang sekilas bentuknya mirip seperti bangku yang digunakan untuk tempat duduk jamaat di gereja. Menurut penuturan pemandu museum, dahulu Kota Probolinggo akan dijadikan sebagai kota pendidikan di daerah Jawa Timur oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun, setelah ada beberapa pertimbangan, akhirnya Belanda memindahkan pusat pendidikan di Kota Malang. Mungkin karena Malang memiliki udara yang cukup sejuk menjadikan pertimbangan bagi Belanda untuk memindahkan pusat pendidikan ke kota tersebut.
Pada ruangan berikutnya lebih banyak ditampilkan diorama dan patung-patung yang menggambarkan kebudayaan yang ada di Kota Probolinggo. Ada kendaraan tradisional yang digunakan oleh masyakarat Probolinggo yang mungkin sampai sekarang masih digunakan, misalnya saja dokar (semacam delman yang ditarik oleh seekor kuda) dan ciker (gerobak kayu yang ditarik oleh dua ekor sapi). Ada pula patung yang menggambarkan kebudayaan tradisional dari Kota Probolinggo, di antaranya adalah Jaran Bodhak/Jaran Kencak atau bisa disebut dengan kuda menari, yaitu kuda yang diberi hiasan kemudian diberi iringan musik agar kuda tersebut berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik. Diperlukan latihan khusus memang begi kuda-kuda yang dipersiapkan sebagai kuda kencak ini. Budaya tradisional lain yang tak kalah menarik adalah karapan kambing yang biasa dilakukan oleh masyarakat Probolinggo.
Selain itu, di ruangan ini juga ditampilkan batik Tenggeran, beberapa patung yang menggambarkan kebudayaan Arab dam kebudayaan China. Sebagai sebuah kota yang terletak di pesisir utara Jawa, tak heran jika penduduk Kota Probolinggo cukup multikultural. Selain suku Jawa, Kota Probolinggo juga dihuni berbagai suku dan ras, di antaranya Madura, Arab, dan China.
Museum Probolinggo memang memiliki koleksi-koleksi yang terkesan sederhana. Walaupun memiliki display yang sedikit kaku, namun museum ini memiliki nilai edukasi yang cukup tinggi, terutama bagi mereka yang ingin mengenal sejarah Kota Probolinggo secara singkat. Bagi Anda yang menyukai wisata museum dan sejarah, tak ada salahnya mengunjungi museum ini ketika Anda sedang plesir di Kota Probolinggo :)
keterangan :
Museum Probolinggo buka setiap hari dari pukul 08-00 - 15.00 WIB
tiket masuk gratis
Museum Probolinggo merupakan salah satu wahana wisata yang cukup baru di Kota Probolinggo. Museum ini diresmikan pada tahun 2009 dengan menempati sebuah gedung tua yang dahulu bernama Gedung Panti Budaya. Dahulu bangunan ini merupakan sebuah gedung serba guna, kemudian dialihfungsikan sebagai museum sebagai wahana untuk memperkenalkan perkembangan sejarah Kota Probolinggo.
Museum Probolinggo memiliki koleksi yang cukup menarik di dalamnya. Di bagian pertama ruangan Museum Probolinggo ini kita akan menemui beberapa replika arca yang biasa kita temui di candi. Penemuan arca-arca ini barangkali mengacu pada bangunan Candi Jabung yang terletak di daerah Paiton barangkali. Entahlah, koleksi arca-arca tersebut mengacu pada penemuan arca di candi mana saya kurang paham.
Pada ruangan berikutnya kita akan melihat beberapa koleksi barang-barang kuno yang ditemukan di sekitaran Kota Probolinggo. Ada beberapa senjata yang digunakan oleh masyarakat Tengger di masa silam, ada pula beberapa peninggalan seperti guci dan keramik dari Tiongkok, alat musik kecapi, KWH meter di jaman perusahaan listrik yang dikelola oleh Belanda, sepatu dari China yang khusus digunakan oleh kaum perempuan agar memiliki bentuk kaki yang ramping, ada pula naskah-naskah kuno tersimpan rapi di dalam Museum Probolinggo ini.
Di bagian ruang berikutnya, kita akan melihat koleksi mata uang kuno dan bangku sekolah kuno peninggalan jaman Belanda yang sekilas bentuknya mirip seperti bangku yang digunakan untuk tempat duduk jamaat di gereja. Menurut penuturan pemandu museum, dahulu Kota Probolinggo akan dijadikan sebagai kota pendidikan di daerah Jawa Timur oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun, setelah ada beberapa pertimbangan, akhirnya Belanda memindahkan pusat pendidikan di Kota Malang. Mungkin karena Malang memiliki udara yang cukup sejuk menjadikan pertimbangan bagi Belanda untuk memindahkan pusat pendidikan ke kota tersebut.
Pada ruangan berikutnya lebih banyak ditampilkan diorama dan patung-patung yang menggambarkan kebudayaan yang ada di Kota Probolinggo. Ada kendaraan tradisional yang digunakan oleh masyakarat Probolinggo yang mungkin sampai sekarang masih digunakan, misalnya saja dokar (semacam delman yang ditarik oleh seekor kuda) dan ciker (gerobak kayu yang ditarik oleh dua ekor sapi). Ada pula patung yang menggambarkan kebudayaan tradisional dari Kota Probolinggo, di antaranya adalah Jaran Bodhak/Jaran Kencak atau bisa disebut dengan kuda menari, yaitu kuda yang diberi hiasan kemudian diberi iringan musik agar kuda tersebut berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik. Diperlukan latihan khusus memang begi kuda-kuda yang dipersiapkan sebagai kuda kencak ini. Budaya tradisional lain yang tak kalah menarik adalah karapan kambing yang biasa dilakukan oleh masyarakat Probolinggo.
Selain itu, di ruangan ini juga ditampilkan batik Tenggeran, beberapa patung yang menggambarkan kebudayaan Arab dam kebudayaan China. Sebagai sebuah kota yang terletak di pesisir utara Jawa, tak heran jika penduduk Kota Probolinggo cukup multikultural. Selain suku Jawa, Kota Probolinggo juga dihuni berbagai suku dan ras, di antaranya Madura, Arab, dan China.
Museum Probolinggo memang memiliki koleksi-koleksi yang terkesan sederhana. Walaupun memiliki display yang sedikit kaku, namun museum ini memiliki nilai edukasi yang cukup tinggi, terutama bagi mereka yang ingin mengenal sejarah Kota Probolinggo secara singkat. Bagi Anda yang menyukai wisata museum dan sejarah, tak ada salahnya mengunjungi museum ini ketika Anda sedang plesir di Kota Probolinggo :)
keterangan :
Museum Probolinggo buka setiap hari dari pukul 08-00 - 15.00 WIB
tiket masuk gratis
Minggu, 16 Maret 2014
Nite at The Museum : Museum Dr Moh Saleh Probolinggo
Bukan Tour De Probolinggo namanya jika tidak ada kejutan di dalam acaranya. Usai meletakkan barang-barang di tenda yang berada di dekat pelabuhan, kami semua diajak untuk berkeliling mengunjungi museum yang ada di Kota Probolinggo. Biasanya museum hanya buka dari pagi sampai sore, kali ini panitia mempersiapkan acara yang menarik, lain dari biasanya. Yap, night at the museum ! Apa? berkunjung ke museum di malam hari? Iya ! Kami semua diajak berkunjung ke museum di malam hari oleh panitia Tour De Probolinggo !
Nama Dr Moh Saleh mungkin saja kurang kita kenal di dalam sejarah pahlawan nasional Indonesia. Nama beliau memang kurang banyak dibahas di pelajaran sejarah selama saya duduk di bangku sekolah dulu. Merujuk dari beberapa artikel yang saya baca di internet, beliau merupakan lulusan STOVIA, sekolah kedokteran di jaman penjajahan Belanda. Beliau juga seangkatan dengan Dr Sutomo, salah satu tokoh pendiri organisasi Budi Utomo.
Beliau dikenal dengan sering berpindah-pindah tempat tinggal di berbagai kota sebelum akhirnya menetap di Kota Probolinggo. Beliau membaktikan diri dan mendarmakan ilmunya di bidang kesehatan kepada masyarakat. Praktik kesehatan yang dijalankan oleh beliau dapat dilihat dari kediaman rumahnya yang kini difungsikan sebagai museum oleh pemerintah kota setempat. Di rumah dengan arsitektur Belanda yang cukup kental ini terdapat ruang yang digunakan untuk membuka praktik kesehatan. Ada ruang kerja dokter, apotek, ruang rawat inap, hingga kamar mayat lengkap tersedia bak rumah sakit.
Museum ini memiliki koleksi yang tampak sederhana namun memiliki nilai sejarah di dalamnya. Lihat saja buku-buku kedokteran milik beliau yang berbahasa Belanda yang mungkin sudah langka, catatan medical record pasien beliau, kliping koran, serta catatan-catatan lainnya masih tersimpan rapi di lemari milik beliau. Ada pula alat-alat kesehatan, seragam yang digunakan untuk beliau praktik, catatan resep, hingga obat-obat untuk pasien masih tersimpan rapi di ruang kerja milik beliau.
Di antara beberapa ruang di museum ini, ada sebuah ruang yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Ruangan tersebut disebut dengan "kamar petheng" alias kamar gelap. Kamar gelap bukan berarti ruangan tersebut gelap tidak ada cahaya. Kamar tersebut merupakan kamar tempat beristirahat Dr Moh Saleh. Kamar tersebut diberi garis pembatas agar pengunjung tidak masuk ke dalam ruangan tersebut. Mengapa demikian? Menurut penuturan petugas museum, sudah beberapa kali ada kejadian pengunjung yang kerasukan setelah memasuki ruangan tersebut. Seram kan? Tidak kok, asal kita sopan dan menaati peraturan tidak akan ada kejadian yang aneh-aneh.
Terlepas dari cerita seram yang beredar, tak ada salahnya menjadikan Museum Dr Moh Saleh sebagai agenda kunjungan ketika bertandang di Kota Probolinggo. Obyek wisata Museum Dr Moh Saleh memang masih tergolong obyek wisata baru di Kota Probolinggo. Penasaran ini mengenal lebih dalam sosok Dr Moh Saleh yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit di Kota Probolinggo? Silahkan mampir ke museum ini :)
Museum Dr Moh. Saleh
hari Senin : tutup
hari Selasa - Minggu mulai buka dari pukul 08.00 - 14.00 WIB
Libur pada hari besar nasional dan keagamaan
Jumat, 14 Maret 2014
Kecantikan Gereja Merah Probolinggo
Senja pun berjalan perlahan menuju peraduan. Hari pun hampir gelap ketika truk yang kami tumpangi berhenti di kawasan Jalan Suroyo, tak jauh dari alun-alun Kota Probolinggo. Ada sebuah bangunan unik dengan warna yang cukup mencolok dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya. Ternyata, kami semua diajak untuk masuk ke dalam sebuah gereja, yang dikenal dengan sebutan Gereja Merah. Segenap pengurus gereja dan ibu pendeta pun sudah menantikan kedatangan kami, menyambut dengan senyum ramah dan penuh suka cita.
Setelah sesi perkenalan diri, ibu pendeta pun menceritakan sejarah singkat mengenai Gereja Merah yang unik ini. Gereja Merah merupakan salah satu bangunan peninggalan jaman Kolonialisme Belanda yang hingga kini masih dapat kita nikmati keberadaannya. Gereja Merah dibangun pada tahun 1862 oleh Pemerintah Belanda. Selain dari warnanya, keunikan bangunan Gereja Merah juga dapat dilihat dari struktur bangunannya. Struktur bangunan Gereja Merah ini terbuat dari baja, termasuk hingga ke dinding dan atapnya. Gereja ini konon dibangun dengan sistem knock down, di mana seluruh rangka baja bangunan dibuat di Belanda, kemudian dibongkar, lalu dibawa dengan kapal menuju ke Probolinggo untuk dipasang kembali. Hingga kini, bangunan yang sudah ditetapkan menjadi cagar budaya tersebut tetap dipertahankan seperti bentuk aslinya. Hanya saja ada sedikit renovasi di bagian dalam bangunan, yaitu penambahan lapisan triplek yang diberi warna kuning untuk lapisan di bagian dinding.
Di bagian dalam gereja pun tak kalah unik. Terdapat mimbar yang berbentuk cawan yang digunakan oleh pendeta untuk menyampaikan khotbah kepada jemaat gereja. Ada pula cawan yang terbuat dari baja untuk menampung air suci yang digunakan dalam prosesi pembabtisan umat. Ada pula tangga dengan bentuk melingkar untuk menuju bagian balkon. Balkon tersebut dahulu digunakan untuk tempat paduan suara, namun sekarang bagian balkon tersebut sudah jarang digunakan untuk paduan suara lagi. Gereja Merah juga menyimpan sebuah alkitab kuno berbahasa Holand serta kursi kayu untuk duduk jemaat yang asli peninggalan Belanda. Barang-barang tersebut disimpan di bagian belakang gereja.
Ketika masa penjajahan Jepang, bangunan gereja ini sempat dialihfungsikan sebagai gudang untuk penyimpanan senjata. Kemudian pasca kemerdekaan, bangunan ini dikembalikan lagi fungsinya sebagai tempat ibadah. Gereja ini memiliki nama resmi Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel, hingga kini masih aktif digunakan untuk beribadah umat Kristiani. Selain digunakan sebagai tempat beribadah, Gereja Merah ini dapat dikunjungi oleh siapapun. Silahkan meminta izin kepada pengurus gereja untuk berkeliling di kompleks Gereja Merah ini.
Bangunan Gereja Merah ini konon hanya terdapat dua buah di dunia. Satu di Den Haag, Belanda, dan satunya ada di Kota Probolinggo. Maka tak heran jika Gereja Merah ini sering mendapatkan kunjungan turis dari negeri Belanda yang ingin bernostalgia. Penasaran dengan keunikan bangunan Gereja Merah ini? Monggo silahkan mampir ke Kota Probolinggo.
Kamis, 13 Maret 2014
Batik Tenggeran Khas Probolinggo
Saya sudah beberapa kali berkunjung ke Kota Probolinggo, namun belum sempat untuk menjelajahi keunikan yang disajikan di kota yang terkenal dengan mangganya tersebut. Probolinggo bagi saya menjadi semacam kota transit, sebelum menuju Kawasan Bromo maupun melanjutkan perjalanan ke Kota Jember. Tapi siapa sangka, kota yang terletak di pesisir utara Jawa ini memiliki tempat wisata yang tak kalah menarik untuk dijelajahi.
Usai menikmati keindahan Air Terjun Madakaripura, seluruh peserta Tour De Probolinggo diajak untuk berkeliling kota sembari mengenalkan potensi wisatanya. Perjalanan menuju Kota Probolinggo pun tak kalah memberikan kesan. Dan lagi-lagi, truk TNI lah menjadi kendaraan yang mengantarkan para peserta keliling Kota Probolinggo. Saya ingat ada kejadian lucu ketika truk yang kami tumpangi memasuki Kota Probolinggo. Ada sebuah mobil yang berhenti tepat di belakang truk kami ketika di lampu merah. Seketika seluruh penumpang di dalam mobil tersebut memandang kami semua dengan ekspresi terheran-heran. Tak hanya penumpang yang ada di dalam mobil tersebut saja, hampir semua masyarakat yang berpapasan dengan truk kami memandang seluruh isi penumpang dengan ekspresi terheran-heran. Sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan.
Probolinggo bagi saya merupakan sebuah kota kecil yang sangat menyenangkan. Tata ruang kotanya pun cukup rapi dan yang saya rasakan adalah lalu lintas kendaraannya tidak terkesan padat, tidak seperti yang saya rasakan di Jogja akhir-akhir ini. Truk pun melaju ke kawasan Jalan KH. Wahid Hasyim Delima III. Seluruh peserta Tour De Probolinggo kemudian diajak untuk memasuki rumah sekaligus showroom milik pengrajin batik Tenggeran yang dikelola oleh Ibu Sawali dan keluarga.
Batik Tenggeran juga disebut dengan nama batik manggur, singkatan dari mangga dan anggur. Mangga dan anggur merupakan ikon Kota Probolinggo, karena daerah ini memang terkenal dengan hasil pertanian buah mangga dan anggur. Bahkan varietas mangga Probolinggo pun cukup terkenal karena rasa manisnya yang khas. Bahkan karena rasa manis dari mangga tersebut ada pula yang menyebutnya sebagai mangga madu.
Selain diperkenalkan tentang proses pembuatan batik, para peserta Tour De Probolinggo juga dijelaskan secara langsung motif-motif batik Tenggeran ini langsung oleh Ibu Sawali. Batik yang dijual pun ada yang berupa batik tulis maupun batik cap. Proses pewarnaan batiknya pun selain menggunakan pewarna tekstil ada pula yang menggunakan pewarna alami sesuai dengan pesanan. Sebagian besar motif batik Tenggeran memiliki corak mangga dan anggur sebagai inspirasinya. Tak hanya motif mangga dan anggur, batik Tenggeran juga memiliki motif-motif yang cukup beragam. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah motif yang menggambarkan Gunung Bromo dan cerita rakyat masyarakat Tengger.
Harga batik yang ditawarkan di gerai ini cukup beragam. Mulai dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tak heran jika batik dihargai dengan nominal yang cukup mahal, karena proses pengerjaannya yang cukup rumit dan memakan waktu yang lama. Bahkan ada satu lembar batik yang sudah pernah ditawar oleh pembeli dengan harga puluhan juta, namun tidak diberikan oleh Ibu Sawali. Menurut beliau batik tersebut merupakan buah karya perdana beliau ketika terjun ke dunia batik. Bagi beliau, batik tersebut bukan hanya selember kain, namun memiliki makna yang mendalam karena batik tersebut dibuat dengan sepenuh hati dan mengandung sebuah filosofi bagi beliau.
Peminat batik Tenggeran pun cukup beragam. Tak hanya masyarakat lokal yang berasal dari daerah Probolinggo dan sekitarnya, pembeli dari manca negara seperti Australia dan Jerman pun banyak yang tertarik membeli batik Tenggeran ini untuk dijadikan koleksi. So, sebagai generasi muda, kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan warisan budaya nenek moyang yang sudah diakui sebagai warisan dunia ini?
Gerai Batik Tenggeran Bu Sawali
Jalan KH. Wahid Hasyim Delima III No. 5 Probolinggo
telp 085234382111 / 081249552211
10 hal Yang Pamali Saat Traveling ala Bedul Panjul
Sore yang kelabu kumpullah sahabat karib bernama Bedul dan Panjul yang lagi leye-leye di kasurnya Panjul sehingga terjadilah sebuah percakapan sebagai berikut:
"Dul, dari sekian banyak hal yang pernah kita lakukan saat traveling pasti ada beberapa hal yang terasa pamali atau saru yang pernah kita lakukan," Panjul memulai pembicaraan
"Bukan hanya pamali, tapi juga ngeselin"Jawab Bedul
"Laaah gimana Dul kalo kita koreksi bareng-bareng supaya kita tau kekurangan satu sama lain, supaya kita saling memahami, kelakuanku apa saja yang kamu sebelin dan kelakuanmu apa saja yang aku sebelin, kan bisa klop."
"Wah boleh juga tuh, terus gimana caranya?"Tanya Bedul
"Caranya begini, ini ada dua pensil dan dua kertas, tuliskan kebiasaanku yang kamu gak suka dan aku nanti menuliskan kebiasaanmu yang gak aku suka."
"Wah Boleh-boleh-boleh, kalo bisa ditulis seperti artikel dan dikasih contoh kejadiannya ya Njul, supaya lebih kongkrit dan intelek tual."
"Halah, gayamu, udah tulis seperti gayamu saja dan sebisamu saja, lagian nulis baru bisa kemaren saja" jawab Panjul
Tak lama kemudian Panjul sudah menyelesaikan tulisannya.
"Sudah belum Dul, ini aku sudah selesai" Kata Panjul
"Belum, masih banyak yang oerlu aku tulis" Jawab Bedul
"Ya sudah, sembari menulis dengarkan aku, Ini dia tulisanku buat ngoreksi kamu .....Jreng jrengggggg, Simak ya Dul" Suruh Panjul dan panjul membaca hasil tulisannya........ Sebagai berikut:
"Dul, dari sekian banyak hal yang pernah kita lakukan saat traveling pasti ada beberapa hal yang terasa pamali atau saru yang pernah kita lakukan," Panjul memulai pembicaraan
"Bukan hanya pamali, tapi juga ngeselin"Jawab Bedul
"Laaah gimana Dul kalo kita koreksi bareng-bareng supaya kita tau kekurangan satu sama lain, supaya kita saling memahami, kelakuanku apa saja yang kamu sebelin dan kelakuanmu apa saja yang aku sebelin, kan bisa klop."
"Wah boleh juga tuh, terus gimana caranya?"Tanya Bedul
"Caranya begini, ini ada dua pensil dan dua kertas, tuliskan kebiasaanku yang kamu gak suka dan aku nanti menuliskan kebiasaanmu yang gak aku suka."
"Wah Boleh-boleh-boleh, kalo bisa ditulis seperti artikel dan dikasih contoh kejadiannya ya Njul, supaya lebih kongkrit dan intelek tual."
"Halah, gayamu, udah tulis seperti gayamu saja dan sebisamu saja, lagian nulis baru bisa kemaren saja" jawab Panjul
Tak lama kemudian Panjul sudah menyelesaikan tulisannya.
"Sudah belum Dul, ini aku sudah selesai" Kata Panjul
"Belum, masih banyak yang oerlu aku tulis" Jawab Bedul
"Ya sudah, sembari menulis dengarkan aku, Ini dia tulisanku buat ngoreksi kamu .....Jreng jrengggggg, Simak ya Dul" Suruh Panjul dan panjul membaca hasil tulisannya........ Sebagai berikut:
Kentut
"Kentut merupakan suatu hal yang wajar bahkan ini adalah anugrah yang tiada banding, bayangkan kalo anda gak bisa kentut. Namun sebuah anugrah yang bernama kentut akan menjadi pamali atau saru dan lebih-lebih akan menjadi petaka bila anda tidak bisa memilih tempat yang aman dan sempurna, contohnya anda kentut ditempat umum, restoran, angkutan, bus atau bahkan di pesawat" kata Panjul dengan penuh semangat "Kejadian kentut sembarangan ini pernah terjangkit kepada Bedul teman saya, ketika itu berada di bus jurusan bandung, busnya berAC, aman, nyaman dan tenang karena semua penumpang menikmati perjalanan, namun rasa aman, nyaman dan tenang itu berubah menjadikan saya tegang ketika teman saya Bedul kentut dengan suara kentut yang ditahan, mendadak wajah saya merah padam karena malu mengakui Bedul gendeng sebagai teman saya, dan suasana bus jadi tidak setenang sebelumnya, ada sedikit kegaduhan dan suara ketawa yang ditahan, langsung saya lontarkan pertanyaan ke Bedul dengan nada sedikit berbisik "Gendeng kamu itu Dul, kentut sembarangan di tempat umum." dan Bedulpun menjawab dengan sedikit tegang dan bercampur malu "Lah gimana lagi Njul, dah aku tahan tapi gak kuat."
"Hehehehehe, itu masa lalu" Jawab Bedul dengan senyum.
"Hehehehehe, itu masa lalu" Jawab Bedul dengan senyum.
Ngupil
"Begitu juga ngupil merupakan hal yang mengasikkan bahkan tidak jarang kita reflek dan gak sadar obok-obok lubang hidung alias ngupil, lebih-lebih ketika dalam mengais Kotoran diluang hidung alias ngupil, kita mendapatkan upil yang gede banget, rasa-rasanya semakin seru kita mengulek-ulek atau mengobok obok lubang hidung kita untuk ngupil. Ngupil boleh-boleh saja asalkan ditempat dan waktu yang pas contoh ngupil ditempat dan waktu yang kurang pas adalah mengupil di tempat makan atau warung makanan, lebih-lebih ngupil sambil pesen makanan dan kalo dapet upil yang gede langsung digulung-gulung sambil diplintir-plintir sama ibu jari dan jari telunjuk sampai bunder, dan setelah bunder lalu disentilin.". Ini kebiasaan temanku Bedul juga, sampai suatu saat saya pingin nampol tangan plus hidungnya yang lagi ngupil di depan kalayak umum yang lagi makan sesama traveller, Malu-maluin punya temen edan seperti Bedul"
"Hahahahaha kwkwkwkw." Bedul tertawa puas mendengarkan Panjul berceloteh
"Hahahahaha kwkwkwkw." Bedul tertawa puas mendengarkan Panjul berceloteh
Ngiler
"Kebiasaan menggambar pulau tanpa pena alias ngiler satu ini juga sebenarnya wajar karena di luar kesadaran kita, Tapi mbok yaa oo, kebiasaan yang satu ini bisa dilakukan di kamar sendiri dan pakek bantal guling pribadi, mending yang ngiler itu anak bayi, masih lucu-lucunya, lah kalo yang ngiler orangnya da gede bandotan, terus ilernya sebantal penuh, apa gak kepingin ngejambak sama mencakar-cakar wajahnya. ini juga kegiatan Bedul semprul, yang suka ngiler kalo tidur. kalo ngiler di kasurku aku masih gak kaget, lebih-lebih kalo ngiler di hotel atau losmen juga gak masalah, yang jadi masalah kalo bepergian dan nginep dirumah temen atau sesasama traveller, apalagi tidurnya sering kentut lagi, beuuuuuhhh kepingin nendang pake tumit pantatnya sajah"
Nahan Kencing
"Saya yakin setiap orang pasti perna ngalami nahan kencing, dan menurut aku, itu adalah deritamu dan masalahmu, lain lagi kalo yang nahan kencing itu si Bedul edan temanku yang satu ini, pasti jadi masalah buat orang terdekatnya juga, Contoh saja kalo lagi nahan kencing di dalam bus umum kelas ekonomi yang gak ada toiletnya, cuman ada dua pilihan, pertama turun dari bus dan yang kedua kencing pake botol aqua, yang jelas dua-duanya mengandung resiko. sebelnya lagi waktu pulang dari Curug 1000 Bogor, waktu itu hujan dan bawa motor, tak lama kemudian Bedul bilang kalo dia lagi nahan kencing, saya bilang tahan sebentar lagi buat nyari Mushollah atau Masjid, ternyata sebelum selesai ngomong, tiba-tiba air hujan di belakang pantatku kok terasa hangat, kurangajar!!, Bedul kencing diatas motor sambil hujan-hujan, saya langsung jimprak-jimprak."
Ngelamun jorok
"Saya anggap melamun itu sah-sah saja apapun yang dilamunkan, toh hanya sekedar melamun, tapi saya paling gak suka kalo ngeliat bedul ngelamun, lebih-lebih melamun jorok, da mukanya keliatan mesum sama hidung kelihatan kembang kempis." Celoteh Panjul membaca hasil tulisannya sambil melirik Bedul.
"Saya yang ngelamun kok kamu yang gak suka, itu aneh toh, lagi pulakan belum ada undang-undang yang mengatur orang melamun, jadi sah-sah sajakan mau melamun jorok, bersih, bening dan apapun."jawab Bedul dengan sewot.
"Aku gak suka ngeliat kamu ngelamunkan juga suka-sukaku toh Dul, toh itu jugakan gak diatur di undang-undang, sudah ayo ke warung cari kopi, kepalaku da pusing pingingin ngopi." ajak Panjul sambil ngambil uang di lemari
"Looh, nanti dulu, kan kamu tadi bilang sepuluh hal, ini masih lima hal dan masih kurang lima hal lagi"
"Sudah bersambung dulu, untuk sementara lima dulu, sisanya menyusul, sembari melihat respon pembaca, kira-kira dari lima diatas ada yang pernah mengalami semua atau salah satunya saja atau gak pernah sama sekali, tolong jawab di kolom komentar ya agan-agan, saya pingin ngopi dulu, otak saya lagi mampet". Jawab Panjul sambil menggelendeng Bedul untuk beli kopi
"Saya yang ngelamun kok kamu yang gak suka, itu aneh toh, lagi pulakan belum ada undang-undang yang mengatur orang melamun, jadi sah-sah sajakan mau melamun jorok, bersih, bening dan apapun."jawab Bedul dengan sewot.
"Aku gak suka ngeliat kamu ngelamunkan juga suka-sukaku toh Dul, toh itu jugakan gak diatur di undang-undang, sudah ayo ke warung cari kopi, kepalaku da pusing pingingin ngopi." ajak Panjul sambil ngambil uang di lemari
"Looh, nanti dulu, kan kamu tadi bilang sepuluh hal, ini masih lima hal dan masih kurang lima hal lagi"
"Sudah bersambung dulu, untuk sementara lima dulu, sisanya menyusul, sembari melihat respon pembaca, kira-kira dari lima diatas ada yang pernah mengalami semua atau salah satunya saja atau gak pernah sama sekali, tolong jawab di kolom komentar ya agan-agan, saya pingin ngopi dulu, otak saya lagi mampet". Jawab Panjul sambil menggelendeng Bedul untuk beli kopi
Rabu, 12 Maret 2014
Air Terjun Madakaripura - Keindahan Persemedian Maha Patih Gadjah Mada dan Ironi Masyarakatnya
Jalan yang berkelok dengan kontur yang naik turun memaksa kami semua untuk sering membenarkan posisi duduk di atas truk TNI yang berguncang-guncang selama perjalanan. Belum lagi rasa kurang nyaman karena kursi kayu yang saling berhadapan, sekilas mirip seperti tatanan kursi di dalam kereta komuter. Begitulah sedikit gambaran perjalanan para peserta Tour De Probolinggo menuju Air Terjun Madakaripura. Kebersamaan di antara kesederhanaan. Namun, mungkin seperti itulah perjalanan menuju surga, penuh dengan jalan yang terjal dan berliku sebelum akhirnya kita bisa menikmati keindahan di balik perjuangan.
Saya melihat ada beberapa pos retribusi yang harus dilalui sebelum menuju pintu parkir Air Terjun Madakaripura ini. Mungkin karena banyaknya pos retribusi yang harus dilalui inilah menyebabkan banyak tulisan di blog yang menyebutkan bahwa banyak pungutan liar untuk menuju Air Terjun Madakaripura. Minimnya akses transportasi umum juga menjadi cerita lain yang membuat para wisatawan mengurungkan niat mereka untuk berkunjung ke Air Terjun Madakaripura usai puas menjelajahi Kawasan Bromo. Padahal air terjun ini memiliki potensi yang menarik sebagai wisata minat khusus.
Tiba di area parkir kita akan melihat banyak pemuda setempat yang hilir-mudik membawa ember dan kain lap. Mereka menjajakan jasa untuk mencuci kendaraan milik pengunjung yang terparkir di area pintu masuk Air Terjun Madakaripura. Jangan ditanya apakah mereka mencuci kendaraan sesuai dengan perintah si empunya kendaraan. Kebanyakan dari mereka memang langsung mencuci kendaraan yang sudah terparkir kemudian meminta imbal jasa kepada si pemilik kendaraan setelah selesai jalan-jalan dari air terjun. Kejadian seperti inilah yang menjadikan si empunya kendaraan merasa mendapatkan aksi palak.
Tiba di area parkir kita akan melihat banyak pemuda setempat yang hilir-mudik membawa ember dan kain lap. Mereka menjajakan jasa untuk mencuci kendaraan milik pengunjung yang terparkir di area pintu masuk Air Terjun Madakaripura. Jangan ditanya apakah mereka mencuci kendaraan sesuai dengan perintah si empunya kendaraan. Kebanyakan dari mereka memang langsung mencuci kendaraan yang sudah terparkir kemudian meminta imbal jasa kepada si pemilik kendaraan setelah selesai jalan-jalan dari air terjun. Kejadian seperti inilah yang menjadikan si empunya kendaraan merasa mendapatkan aksi palak.
Dari area parkir kendaraan, pengunjung masih harus berjalan kaki menyusuri aliran sungai dan hutan belantara sebelum akhirnya menuju ke kawasan Air Terjun Madakaripura. Patung Maha Patih Gadjah Mada yang sedang dalam posisi seolah sedang bersemedi menjadi pintu masuk menuju jalur tracking. Banyak warga setempat yang menjajakan jasa menjadi guide untuk menemani sampai ke lokasi. Namun, ada satu hal yang cukup disayangkan, mereka menjajakan jasa menjadi pemandu dengan setengah memaksa kepada pengunjung.
Medan yang harus dilalui selama menyusuri aliran sungai menurut saya tidak terlalu berat. Jalannya pun masih cukup datar, walaupun ada beberapa medan yang naik turun namun jalannya tidak terlalu terjal. Satu hal yang perlu diwaspadai adalah ketika kita menyeberangi aliran sungai. Kita harus berhati-hati karena banyak bebatuan yang cukup licin untuk dilalui. Sebenarnya sudah dibangun jalur track khusus untuk menghubungkan ke area air terjun. Hanya saja beberapa jalur track tersebut rusak digerus oleh tanah longsor yang sering terjadi di kawasan Air Terjun Madakaripura ini. Jika hujan turun pun, pengunjung tidak diizinkan menuju area air terjun karena aliran air sungai cukup berbahaya bagi keselamatan pengunjung. Boleh dikata untuk mengunjungi Air Terjun Madakaripura ini diperlukan keberuntungan, terutama terkait dengan kondisi cuaca. Kalau teman saya berceletuk mungkin karena area ini termasuk lokasi yang wingit dan menjadi tempat bersemedi sekaligus muksanya Maha Patih Gadjah Mada, maka untuk menuju ke lokasi air terjun harus membutuhkan perjuangan, tidak bisa melakukannya dengan mudah.
Di sepanjang perjalanan menuju air terjun ini kita akan menemui beberapa lapak pedagang yang menjajakan jajanan untuk pengganjal perut. Harga makanan dan minuman yang dijajakan pun masih cukup normal, tidak dibandrol dengan harga yang terlalu mahal. Setelah berjalan kaki selama kurang lebih selama 30 menit, sampailah kita di area Air Terjun Madakaripura ini. Jangan heran jika sebelum memasuki kawasan air terjun kita akan diserbu oleh para pedagang yang menjajakan plastik dan jas hujan.
Sebelum memasuki air terjun utama, kita akan melewati guyuran air dari tirai-tirai dinding tebing yang berwarna hijau karena tertutup oleh tanaman. Guyuran air ini memiliki sensasi seolah kita sedang berjalan di bawah rintik hujan, mulai dari hujan gerimis hingga hujan deras. Sensasi melewati guyuran air inilah yang mengharuskan kita mengenakan mantel maupun payung agar tidak basah. Ada baiknya barang bawaan berupa dompet, handphone dan kamera diamankan di dalam kantong plastik agar tidak basah terkena guyuran air.
Usai melewati tirai air, tibalah kita di sebuah lembah yang berbentuk seperti tabung, saya menyebutnya lebih mirip seperti huruf U. Dari situlah kita dapat mengabadikan dinding yang dipenuhi tanaman yang membentuk seperti tirai, yang megalirkan air bak guyuran air hujan. Di titik situlah banyak fotografer mengabadikan gambar tirai air terjun Madakaripura. Saya menyebutnya spot sejuta umat, karena di titik situlah tempat yang cukup aman untuk mengeluarkan kamera.
Untuk menuju ke air terjun utama kita harus menaiki tebing bebatuan sempit dan cukup licin. Dibutuhkan nyali yang cukup untuk melewati tebing batu tersebut. Di bagian kiri tebing terdapat aliran sungai yang terlihat cukup dalam. Belum lagi jarak antara tebing batu dengan sungai tersebut terlihat cukup tinggi. Namun semua rasa ngeri tersebut terbayarkan dengan pemandangan aliran Air Terjun Madakaripura yang terlihat gagah. Aliran air terjun ini konon tak pernah mengenal musim. Baik di saat musim penghujan maupun musim kemarau masih ada debit air yang mengalir.
Konon, ketika turun hujan, air terjun ini mengalirkan lumpur dan bebatuan yang terbawa oleh arus aliran sungai di atas sana. Ketinggian debit air dan derasnya aliran sungai ketika hujan juga dapat membahayakan pengunjung. Apalagi jika tiba-tiba hujan turun dengan deras kemudian pengunjung terjebak di area air terjun tersebut. Sungguh mengerikan, saya pun tidak dapat membayangkan.
Air Terjun Madakaripura memang memiliki keindahan yang cukup tersohor. Medan tracking yang cukup menantang dan menguras tenaga rasanya pantaslah menjuluki Air Terjun Madakaripura ini termasuk ke dalam wisata minat khusus. Dibutuhkan stamina yang cukup prima serta alas kaki yang nyaman untuk berjalan di medan yang berbatu dan menyusuri aliran sungai. Pesona keindahan alam yang menawan menjadikan Air Terjun Madakaripura ini layak untuk Anda jadikan destinasi wisata selama berkunjung ke wilayah Probolinggo ini.
catatan :
Saya pernah bertanya kepada admin @GoProbolinggo untuk kendaraan umum menuju Air Terjun Madakaripura ini. Untuk menuju ke Madakaripura, Anda dapat menggunakan bus dari Terminal Bayuangga menuju ke daerah Lumbang. Sampai di Lumbang turun saja di pertigaan dekat dengan Pasar Lumbang. Dari pertigaan Pasar Lumbang tersebut perjalanan menuju Madakaripura bisa dilanjutkan dengan jasa ojek.
Perjalanan menjelajahi Air Terjun Madakaripura merupakan salah satu rangkaian kegiatan Tour De Probolinggo 2014 yang diselenggarakan oleh @imProses_ (Ikatan Mahasiswa Probolinggo se-ITS, PENS, PPNS)
Langganan:
Postingan (Atom)






























