Senin, 19 Oktober 2015

Indahnya Bawah Laut Wakatobi

WAKATOBI adalah ,salah satu dari 50 taman nasoinal di Indonesia, terletak dikabupaten Wakatobi – Sulawesi Tenggara. Taman nasional total area 1,39 juta ha, menyangkut keanekaragaman hayati laut, skala dan kondisi karang  menempati posisi prioritas tertinggi dari konservasi laut di Indonesia. Kedalaman air di taman nasional ini bervariasi, bagian terdalam mencapai 1 Kilo meter di bawah permukaan air laut, TN Wakatobi saat ini menjadi pusat penelitian bawah laut Dunia. Taman Nasional Wakatobi terdiri dari empat pulau besar, yaitu: Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko yang berada di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.Ke lokasi Taman Nasional Wakatobi, sebaiknya melalui Bau-bau, kemudian  ke Lasalimu menggunakan kendaraan roda empat dengan waktu tempuh sekitar dua jam. selanjunya ke Pulau Wangi wangi – Wanci (Ibu Kota Kabupaten Wakatobi) perjalanan ditempuh menggunakan kapal laut dengan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan.
Pulau Wangi-wangi ini adalah Pintu Gerbang Taman Nasional Wakatobi.
Ke Pulau Kaledupa, dari Wangi-Wangi, menuju Pulau Kaledupa dengan sebuah kapal pinisi.
Ke Pulau Hoga , dari Pulau Kaledupa menyeberang ke Pulau Hoga perjalanan sekitar 30 menit
Ke Pulau Tomia, dari Pulau Kaledupa ke Pulau Tomia perjalan sekitar 3 jam.
Ke Pulau Binongko , dari Pulau Tomia ke Pulau Binongko. dengan perahu cepat sekitar 1 jam 

Gugusan terumbu karang dapat dijumpai ratusan jenis dari puluhan famili yang terletak di sepanjang ratusan km garis pantai. Di beberapa tempat di sepanjang karang, terdapat beberapa gua bawah laut.
Memiliki hampir seratus spesies ikan yang berwarna warni. raja udang erasia dan beberapa jenis penyu yang sering bertelur di pantai.
Berbagai jenis burung laut yang bertengger di karang seperti: angsa-batu coklat dan cerek melayu terbang ke laut untuk berburu ikan.
Tampak surga” bawah laut. Karang warna-warni menggerombol di sana-sini. Anemon fish atau ikan badut bermain di sela-sela karang lembut anemon yang jadi rumah mereka.


Wisata Alam Pulau WEH Aceh

Pulau WEH adalah puau kecil yang terletak di barat laut pulau Sumatra.  Pulau ini terletak di Laut Andaman. Kota terbesar di pulau Weh, Sabang, adalah kota yang terletak paling barat di Indonesia.Pulau ini terkenal dengan ekosistemnya. Pemerintah Indonesia telah menetapkan wilayah sejauh 60 km² dari tepi pulau baik kedalam maupun keluar sebagai suaka alam. Hiu mulut besar dapat ditemukan di pantai pulau ini. Selain itu, pulau ini merupakan satu-satunya habitat katak yang statusnya terancam. Terumbu karang di sekitar pulau diketahui sebagai habitat berbagai spesies ikan.Di samping pemandangan alamnya yang indah serta kekayaan sumber daya alamnya yang beragam, di dalam kawasan Taman Wisata Alam Pulau Weh terdapat Tugu Kilometer Nol yang terletak di penghujung Pulau Weh, juga terdapat peninggalan perang dunia ke II yaitu berupa gua-gua alam bekas pertahanan tentara Jepang tersusun, serta Pulau Weh juga merupakan pulau legenda di mana di dalam buku-buku tua disebut sebagai "Golden Island".
Pantai di pulau Weh sangat beragam dan sangat menarik untuk dikunjungi. Pantai Kasih adalah pantai yang paling dekat dengan kota Sabang. Sekitar dua km ke arah Barat Daya terdapat pantai berbatu dengan banyak pepohonan kelapa sepanjang semenanjung. Di sepanjang semenanjung ini juga dapat ditemui beberapa peninggalan Perang Dunia II berupa benteng-benteng tempat senjata berat seperti meriam.


Kawah Ijen


Kawah Ijen, adalah salah satu gunung yang masih aktif sampai sekarang. Memiliki ketinggian 2.443 m dari atas permukaan laut, berdinding kaldera setinggi 300-500 mdpl . Bagi kalian yang suka akan petualangan, untuk mencapai Gunung Ijen bisa di akses dari dua arah yaitu, dari utara dan dari selatan. Dari utara, bisa di tempuh melalui Situbondo menuju Sempol (Bondowoso) lewat Wonosari dan dilajutkan ke Paltuding. Jaral Situbondo ke Paltuding sekitar 93 Km dan dapat ditemput sekitar 2,5 jam.
Dari arah selatan, bisa dilalui dari Banyuwangi menuju Licin yang berjarak 15 Km. Dari Licin menuju Paltuding berjarak 18 Km dan diteruskan menggunakan Jeep atau mobil berat lainnya sekitar 6 Km sebelum ke Paltuding. Ini dikarenakan jalan yang berkelok dan menanjak.

Menggapai Sunrise di Sikunir

Cahaya bulan purnama menjadi teman setia selama kami melakukan perjalanan menuju Desa Sembungan. Dinginnya udara menjelang fajar terasa menusuk tulang seolah tak kami perdulikan. Diiringi pekatnya kabut pagi yang menyambut kedatangan kami, membuat kami semakin semangat untuk  mengejar terbitnya sang mentari di atas bukit nanti.

Suara alarm yang berbunyi nyaring memecah keheningan di salah satu kamar kecil di Losmen Bu Djono. Saya, Ajeng, dan Bang Ari pun segera terbangun, beranjak dari hangatnya selimut yang menepis dinginnya udara Dieng di kala dini hari. Kami segera bergegas, menyiapkan diri untuk memulai pendakian ke Bukit Sikunir. Suasana di depan losmen ternyata cukup riuh oleh pengunjung yang bersiap menuju Desa Sembungan. Tampak beberapa mobil dan motor yang sudah bersiap menuju ke sana, seolah tak satupun orang ingin ketinggalan momen matahari terbit dari atas bukit pagi itu.


Bukit Sikunir merupakan sebuah bukit yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng dengan ketinggian sekitar 2.463 meter di atas permukaan laut. Dengan mobil pick up sayur yang kami sewa, petualangan menuju Bukit Sikunir pun dimulai. Saya dan Bang Ari duduk di bagian bak pick up, satu kawan lagi, Ajeng, duduk di bagian depan di samping pak sopir. Dinginnya udara Dieng membuai lembut ke sekujur tubuh. ditemani sinar rembulan pun tampak malu-malu mengiringi perjalanan kami menuju Desa Sembungan semakin membuat perjalanan ke Dieng kali ini terasa begitu berkesan. Dua puluh menit perjalanan akhirnya kami memasuki area Desa Sembungan. Jalan aspal yang mulai rusak menjadi teman setia sepanjang perjalanan menuju kemari. Guncangan dari jalan aspal yang sudah banyak berlubang seolah membangunkan kami dari kantuk dan rasa malas akibat udara dingin yang menusuk.


Kami pun tiba di sekitar Telaga Cebong, tempat parkir kendaraan sebelum melanjutkan pendakian menuju Bukit Sikunir. Suasana di pos pendakian Bukit Sikunir kini terasa lebih semarak. Beberapa fasilitas pendukung wisata sudah dibangun seperti mushola, toilet umum, serta camping ground pun juga disediakan di sekitar Telaga Cebong. Kondisi yang terasa cukup kontras ketika pertama kali saya datang kemari pada tahun 2012 yang lalu. Sekarang sudah ada larangan untuk mendirikan tenda di puncak Bukit Sikunir, sehingga disediakan fasilitas arena camping ground di sekitar Telaga Cebong bagi pengunjung yang ingin berkemah di Bukit Sikunir ini. Deretan kios-kios semi permanen milik penduduk setempat pun ikut menyemarakkan suasana di area pos awal pendakian ini. Kios-kios tersebut menjajakan makanan dan minuman hangat serta beberapa souvenir untuk dibawa pulang. Souvenir yang paling banyak dijajakan adalah sarung tangan, syal, dan topi hangat dengan tulisan Dieng.

Bang Ari mengajak kami untuk mampir sejenak di salah satu warung untuk memesan segelas minuman hangat agar perut tidak kembung. Seperti biasa, saya memesan segelas teh hangat. Suasana pun semakin akrab saat kami terlibat obrolan hangat dengan sang pemilik warung. Kami mengobrol ngalor-ngidul tentang lokasi wisata yang menarik Dieng, termasuk beberapa obyek wisata baru yang kini sedang dalam tahap pembukaan dan perbaikan jalur untuk menuju lokasi. Sebenarnya obyek-obyek wisata tersebut sudah ada di Dieng, namun karena minimnya fasilitas serta akses jalan membuat lokasi tersebut jarang dikunjungi. Air terjun Sikarim misalnya, air terjun yang berada di sekitar Desa Sembungan ini sudah dikenal beberapa orang, namun akses jalan ke sana masih belum baik, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang menyambangi lokasi tersebut. Usai menghabiskan satu gelas minuman hangat, kami pun segera membayar dan berpamitan untuk memulai pendakian.


Jalur pendakian Bukit Sikunir kini juga sudah diperbaiki. Beberapa jalur sudah dibuat seperti tatanan anak tangga yang terbuat dari batu-batu yang ditata sedemikian rupa sehingga memudahkan pendaki untuk berjalan. Bagian kiri jalur pendakian pun sudah diberi kayu dan besi pembatas agar pendaki lebih aman dan tidak tergelincir ke jurang saat melakukan perjalanan. Selebihnya, medan pendakian masih terasa seperti dulu, tanjakan demi tanjakan harus kami lalui. Jalur pendakian menuju Sikunir memang tidak memberikan bonus jalan datar, isinya lebih banyak tanjakan-tanjakan. Beberapa kali saya meminta untuk berhenti sekedar untuk mengatur nafas yang mulai tersengal. Kesalahan terbesar saya adalah tidak pernah berolahraga, jarang mengolah fisik sehingga stamina saya lemah ketika menghadapi tanjakan demi tanjakan.

Kesalahan kedua saya adalah tidak membawa senter untuk penerangan selama pendakian. Kurangnya penerangan memang cukup menghambat laju pendakian karena saya harus berjalan perlahan agar dapat memijak jalur yang tepat. Untung saja ada beberapa rombongan di belakang saya yang siap sedia membawa senter sehingga sorot sinarnya cukup menerangi selama pendakian. Kontur tanah di Bukit Sikunir terdiri dari bebatuan dan juga tanah dengan tekstur yang halus. Tekstur tanah halus inilah yang menyebabkan jalur pendakian menjadi sedikit licin, apabila tidak berhati-hati dan salah memijak dapat menyebabkan kita tergelincir. Maka dari itu dibutuhkan kewaspadaan selama melakukan pendakian.


Untuk mencapai puncak Bukit Sikunir diperlukan waktu tempuh sekitar 30-45 menit pendakian, tergantung kondisi fisik masing-masing orang. Bagi penduduk setempat, biasanya mereka dapat mencapai puncak Bukit Sikunir hanya dalam waktu 15 menit pendakian saja. Ada hal yang sedikit berbeda yang saya temui ketika berada di puncak bukit. Di bagian puncak Bukit Sikunir kini terdapat bangunan gubug sederhana dan beberapa potongan batang pohon yang berfungsi untuk tempat duduk. Di sekitar puncak juga terdapat lapak penjual makanan dan minuman serta fasilitas toilet umum. Mungkin juga fasilitas-fasilitas ini ada karena jumlah kunjungan wisatawan yang semakin meningkat ke Bukit Sikunir ini.


Setibanya di puncak, saya mengambil posisi duduk untuk mengistirahatkan badan dan meluruskan kaki. Pemandangan Gunung Sindoro nampak begitu jelas di depan kami. Banyak pengunjung langsung menyiapkan kamera dan ponsel mereka untuk mengabadikan momen pagi itu. Semburat warna orange tampak membelah cakrawala di ufuk timur. Seolah tak mau ketinggalan momen, pengunjung pun sibuk memainkan gadget mereka. Ada yang mengambil gambar pemandangan alam, tak sedikit pula yang mengabadikan diri dengan berbagai macam pose dengan latar belakang pemandangan matahari terbit.


Usai menikmati pemadangan matahari pagi, saya mengajak kawan-kawan saya menuju sisi lain Bukit Sikunir, tepatnya di sebelah belakang puncak. Tujuan saja adalah untuk melihat pemandangan Telaga Cebong dari atas ketinggian. Kami duduk di salah satu batu yang langsung menghadap ke Telaga Cebong. Sambil meluruskan kaki, kami menikmati bekal yang sudah kami sediakan sebelumnya, yaitu sebatang cokelat dan air mineral. Cokelat batangan yang kami bawa teksturnya menjadi keras, hampir mirip seperti dimasukkan ke dalam lemari es. Ada pemandangan yang sedikit membuat risih di Sikunir sekarang ini, apalagi kalau bukan ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab yang membuang bungkus makanan sembarangan. Belum lagi saya melihat banyak bungkus permen yang dibuang begitu saja. Sangat disayangkan bukan, jika tempat dengan pemandangan yang cantik seperti ini banyak sekali sampah bungkus makanan yang berserakan ! Saya dan kawan-kawan mencoba memungut beberapa sampah bungkus makanan tersebut untuk dibawa ke bawah agar tidak mengotori puncak Bukit Sikunir ini.


Usai puas menikmati pemandangan pagi di Bukit Sikunir, kami pun memutuskan untuk turun menuju basecamp. Dalam perjalanan turun kami menyempatkan untuk mengambil beberapa foto sambil menikmati indahnya pemandangan perbukitan yang masih terlihat begitu menghijau di puncak musim kemarau. Kami pun harus lebih ekstra hati-hati dengan jalanan yang menurun selama pulang. Entah mengapa, perjalanan pulang itu terasa lebih cepat daripada perjalanan berangkat ke tujuan bukan?

Serunya Cave Tubing Di Goa Pindul



Goa Pindul terletak di Wonosari , GunungKidul yogyakarta kali ini kita akan menyusuri sungai menggunakan perahu karet merupakan hal yang biasa, namun jika sungai itu mengalir di dalam gua tentu saja akan menjadi petualangan yang mengasyikkan sekaligus menegangkan. Gua Pindul, salah satu gua yang merupakan rangkaian dari 7 gua dengan aliran sungai bawah tanah yang ada di Desa Bejiharjo, Karangmojo, menawarkan sensasi petualangan tersebut. Selama kurang lebih 45 - 60 menit wisatawan akan diajak menyusuri sungai di gelapnya perut bumi sepanjang 300 m menggunakan ban pelampung. Petualangan yang memadukan aktivitas body rafting dan caving ini dikenal dengan istilah cave tubing.Tidak diperlukan persiapan khusus untuk melakukan cave tubing di Gua Pindul. Peralatan yang dibutuhkan hanyalah ban pelampung, life vest, serta head lamp yang semuanya sudah disediakan oleh pengelola . Waktu terbaik untuk cave tubing di Gua Pindul adalah pagi hari sekitar pukul 09.00 atau 10.00 WIB. Selain karena airnya tidak terlalu dingin, jika cuaca sedang cerah pada jam-jam tersebut akan muncul cahaya surga yang berasal dari sinar matahari yang menerobos masuk melewati celah besar di atap gua.Di gua ini terdapat beberapa ornamen cantik seperti batu kristal, moonmilk, serta stalaktit dan stalagmit yang indah. Sebuah pilar raksasa yang terbentuk dari proses pertemuan stalaktit dan stalagmit yang usianya mencapai ribuan tahun menghadang di depan. Di beberapa bagian atap gua juga terdapat lukisan alami yang diciptakan oleh kelelawar penghuni gua. Di tengah gua terdapat satu tempat yang menyerupai kolam besar dan biasanya dijadikan tempat beristirahat sejenak sehingga wisatawan dapat berenang atau terjun dari ketinggian.

Indah Nya BINTAN ISLAND


Pulau bintan Adalah pulau di Provinsi Kepulauan Riau, Pulau Bintan merupakan pulau terdekat dengan negara Singapore. Bintan merupakan tempat dimana orang bisa menemukan perpaduan dari dua budaya yaitu Singapore dan Indonesia.
Pulau Bintan memiliki daya pikat tersendiri, dengan Keindahan alamnya. Kemilau pasir putih, birunya air laut dan rimbunnya pepohonan akan memberikan perpaduan yang sangat cantik untuk pulau Bintan. bagi kalian yang berjiwa travler dan Suka berpetualang di bawah air, di kawasan ini kamu bisa menikmati keindahan bawah laut dengan diving maupun snorkelling, selain itu kamu juga bisa menikmati asyiknya memancing ataupun bermain, parasailing, banana boating, kayaking dan juga windsurfing.Tak hanya keindahan alam yang sangat cantik namun di pulau Bintan juga memiliki kekayaan flora dan fauna yang patut di banggakan. Pulau Bintan merupakan pulau yang berada di daerah tropis oleh sebab itu banyak kera, kunang-kungang, katak kadal berbagai jenis ular dan burung yang hidup dengan nyaman di pulau ini.

Indah nya Pulau GILI LABAK sumenep (Madura)


Bentangan pasir putih dan lautan biru dengan ombak yang landai menjadikan Pulau Gili Labak yang sangat layak untuk dikunjungi.Pulau Gili Labak secara teritori terletak di Kecamatan talang Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur . pasir putih gili labak sumenep Sekitar 50 meter sebelum berlabuh di bibir pantai akan disambut dengan beningya air laut membuat anda bisa menikmati gugusan terumbu karang yang sangat indah. Gili Labak menjadi salah satu tempat favorit bagi yang hobi snorkling ataupun diving karena Gili Labak mempunyai titik titik terumbu karang dan biota laut yang cukup beragam. Tetapi untuk menikmati hobi snorkling tersebut disarankan untuk membawa sendiri alatnya, karena disana belum ada yang menyewakan alat tersebut. mempunyai luas sekitar 5 hektar dan dapat dikelilingi dengan berjalan kaki kurang lebih 30 menit ini dihuni sekitar 35 kepala keluarga. Untuk penunjang fasilitas di Gili Labak masih tergolong kurang. Seperti keterbatasan air bersih yang memang belum ada sumber air tawar di pulau tersebut, listrik yang hanya menyala di malam hari, belum adanya penginapan ataupun warung makanan. Jadi kalau menginginkan menginap, anda bisa menginap di rumah warga atau berkemah dipinggir pantai dan bawalah kebutuhan makanan selama berada di Gili Labak. 
Bagi anda yang ingin merasakan sensasi pulau pribadi serta daerah pesisir pantai yang masih alami, Gili Labak merupakan lokasi yang tepat.