Jalan setapak merupakan jalan untuk orang berjalan kaki. Disamping untuk tempat berjalan, jalan setapak juga bisa untuk dinikmati sebagai tempat wisata jalan kaki. Indonesia memiliki jalan-jalan setapak unik yang bisa dikunjungi untuk wisata.
Berikut beberapa jalan setapak unik di Indonesia:
Jenjang Koto Gadang
Jalan setapak ini bernama Janjang Koto Gadang. Letaknya berada di Bukittinggi, Sumatera Barat. Panjang Janjang Koto Gadang ini adalah 1 km menghubungkan kawasan Bukittinggi dan Agam. Keunikan jalan setapak ini yaitu berbentuk tembok besar yang membentang seperti layaknya tembok Cina.
Canopy Bridge Bukit Bangkirai
Jalan setapak ini berbentuk Canopy Bridge. Canopy Bridge ini terletak di Bukit Bangkirai, Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Canopy Bridge merupakan jembatan gantung atau jembatan tajuk dengan tinggi 30 M yang terbentang dari pohon Bangkirai yang satu ke pohon Bangkirai yang lain. Dari atas jembatan, kita bisa menikmati pemandangan hutan Kalimantan yang luas.
Jembatan Pulau Kojadoi
Jalan setapak ini menghubungkan Pulau Kojadoi dengan Pulau Kojagete. Kojadoi terletak di kawasan pulau-pulau kecil di sebelah utara Laut Flores. Jalan setapak ini sangat unik karena merupakan jembatan yang melintasi laut dari tumpukan batu dengan panjang sekitar 500 meter. Jembatan ini akan tenggelam apabila air laut pasang.
Trotoar merdeka utara
Jalan setapak ini merupakan trotoar yang terletak di tepi Jalan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat. Keunikan dari trotoar ini terdapat tapak kaki presiden yang pernah memerintah Indonesia. Pada trotoar ini terdapat cetakan-cetakan kaki milik enam orang yang pernah memimpin bangsa Indonesia yaitu Sukarno, Suharto, Habibie, Gusdur, Megawati dan SBY. Khusus untuk Presiden Sukarno hanya tampak cetakan sepatunya saja bukan telapak kakinya. Lokasi trotoar ini berseberangan dengan Istana Negara yang sejak dulu menjadi tempat para Presiden itu menjalankan tugas kenegaraan.
Jalan setapak Bromo
Jalan setapak ini terletak di tepi kawah gunung Bromo, Jatim. Pada Jalan setapak ini terdapat tangga beton untuk menuju ke tepi kawah gunung Bromo. Jumlahnya sekitar 250 anak tangga. Anak tangga dipenuhi debu pasir yang cukup licin, membuat pengunjung harus ekstra hati-hati untuk menaikinya.
Jalan setapak kota Agats
Jalan setapak ini dari papan kayu ini terletak di Agats, Papua. Jalan setapak ini berdiri di atas hamparan papan-papan kayu. Semua jalan setapak di kota Agats memang berada di atas papan kayu bahkan semua bangunan termasuk rumah di kota ini memang berada di atas papan kayu.
Selasa, 08 Oktober 2013
Sabtu, 05 Oktober 2013
Jalan Unik di Indonesia
Indonesia memiliki jalan-jalan raya yang tersebar di berbagai pulau di Indonesia. Ada beberapa jalan yang bisa disebut paling unik di Indonesia. Berikut jalan unik yang terdapat di Indonesia:
Jalan Kelok Sembilan Sumatera Barat
Jalan Kelok 9 merupakan salah satu jalan yang unik yang terdapat di Sumatera Barat. Kelok 9 adalah nama untuk ruas jalan nasional yang menghubungkan Sumatera Barat dengan Riau. Jalan ini dinamakan kelok 9 karena jumlahnya 9 tikungan. Tikungan di jalan ini tajam dan sangat ekstrim. Jalan ini juga berbatasan dengan jurang, dan diapit oleh dua perbukitan di antara dua cagar alam yaitu Cagar Alam Air Putih dan Cagar Alam Harau. Pada lokasi ini juga dibangun jembatan layang yang diapit dua bukit. Fly Over Kelok 9 berbentuk melengkung panjang dan tajam, berdiri di atas pilar-pilar setinggi 50 – 80 meter, serta memiliki 6 jembatan layang.
Jalan tol di atas laut Bali
Jalan tol di atas laut Bali merupakan tol yang menghubungkan Denpasar-Bandara Ngurah Rai-Nusa Dua. Keunikan Jalan tol ini karena jalan ini melintas di atas permukaan laut yang berada di Teluk Benoa. Jalan tol ini juga memiliki jalur sepeda motor di bagian bawahnya. Jalan tol yang membentang di atas laut ini diberi nama "Bali Mandara", yang berarti Bali yang agung, maju, aman, damai, dan sejahtera. Tol Laut Bali ini merupakan jalan tol pertama di Indonesia yang melintas di atas laut. Jalan tol atas laut di Bali ini juga diklaim sebagai jalan tol terindah di Dunia.
Jalan Heat di Penambangan PT Freeport tembagapura Papua
Heat Road (HEAT (Heavy Equipment Access Trail) road) merupakan jalur jalan yang menuju area pertambangan Grasberg di wilayah pertambangan PT. Freeport Indonesia. Grasberg berada di ketinggian 4.285 meter, salah satu gugusan pegunungan Jayawijaya. Jalan ini berkelok-kelok, dengan kanan kirinya perbukitan, tebing dan jurang yang curam. Jalan HEAT (HEAT Road) diperuntukan bagi kendaraan besar yang mengangkut suku cadang alat-alat berat ke wilayah Grasberg.
Jalan Slamet Riyadi Solo
Jalan di Kota Solo memiliki keunikan karena disamping jalan itu dilintasi kendaraan bermotor juga dilintasi kereta api. Rel Kereta Api tepat di sebelah badan jalan Slamet Riyadi Solo. Rel itu dilewati kereta api jurusan Solo-Wonogiri. Keunikan ini hanya terdapat di Kota Solo dimana rel kereta api berada di badan jalan utama kota.
Jalan layang tol simpang susun Tomang, Jakarta
Jalan layang tol simpang susun Tomang dari arah Grogol menuju Kebon Jeruk merupakan Jalan Bertingkat atau bersusun. Keunikan jalan ini disamping berkelok juga menanjak. Kondisi lalu lintas di jalan Layang Tomang terbilang padat dan jika ada kendaraan mogok di atas jembatan maka akan terjadi kemacetan parah. Sering terjadi kendaraan truk yang tidak kuat menanjak melintasi jalan layang Tomang, akhirnya berhenti di tengah-tengah jalan sehingga menghambat lalu lintas.
Jalan Kelok Sembilan Sumatera Barat
Jalan Kelok 9 merupakan salah satu jalan yang unik yang terdapat di Sumatera Barat. Kelok 9 adalah nama untuk ruas jalan nasional yang menghubungkan Sumatera Barat dengan Riau. Jalan ini dinamakan kelok 9 karena jumlahnya 9 tikungan. Tikungan di jalan ini tajam dan sangat ekstrim. Jalan ini juga berbatasan dengan jurang, dan diapit oleh dua perbukitan di antara dua cagar alam yaitu Cagar Alam Air Putih dan Cagar Alam Harau. Pada lokasi ini juga dibangun jembatan layang yang diapit dua bukit. Fly Over Kelok 9 berbentuk melengkung panjang dan tajam, berdiri di atas pilar-pilar setinggi 50 – 80 meter, serta memiliki 6 jembatan layang.
Jalan tol di atas laut Bali
Jalan tol di atas laut Bali merupakan tol yang menghubungkan Denpasar-Bandara Ngurah Rai-Nusa Dua. Keunikan Jalan tol ini karena jalan ini melintas di atas permukaan laut yang berada di Teluk Benoa. Jalan tol ini juga memiliki jalur sepeda motor di bagian bawahnya. Jalan tol yang membentang di atas laut ini diberi nama "Bali Mandara", yang berarti Bali yang agung, maju, aman, damai, dan sejahtera. Tol Laut Bali ini merupakan jalan tol pertama di Indonesia yang melintas di atas laut. Jalan tol atas laut di Bali ini juga diklaim sebagai jalan tol terindah di Dunia.
Jalan Heat di Penambangan PT Freeport tembagapura Papua
Heat Road (HEAT (Heavy Equipment Access Trail) road) merupakan jalur jalan yang menuju area pertambangan Grasberg di wilayah pertambangan PT. Freeport Indonesia. Grasberg berada di ketinggian 4.285 meter, salah satu gugusan pegunungan Jayawijaya. Jalan ini berkelok-kelok, dengan kanan kirinya perbukitan, tebing dan jurang yang curam. Jalan HEAT (HEAT Road) diperuntukan bagi kendaraan besar yang mengangkut suku cadang alat-alat berat ke wilayah Grasberg.
Jalan Slamet Riyadi Solo
Jalan di Kota Solo memiliki keunikan karena disamping jalan itu dilintasi kendaraan bermotor juga dilintasi kereta api. Rel Kereta Api tepat di sebelah badan jalan Slamet Riyadi Solo. Rel itu dilewati kereta api jurusan Solo-Wonogiri. Keunikan ini hanya terdapat di Kota Solo dimana rel kereta api berada di badan jalan utama kota.
Jalan layang tol simpang susun Tomang, Jakarta
Jalan layang tol simpang susun Tomang dari arah Grogol menuju Kebon Jeruk merupakan Jalan Bertingkat atau bersusun. Keunikan jalan ini disamping berkelok juga menanjak. Kondisi lalu lintas di jalan Layang Tomang terbilang padat dan jika ada kendaraan mogok di atas jembatan maka akan terjadi kemacetan parah. Sering terjadi kendaraan truk yang tidak kuat menanjak melintasi jalan layang Tomang, akhirnya berhenti di tengah-tengah jalan sehingga menghambat lalu lintas.
Jumat, 04 Oktober 2013
Pantai Depok - Menikmati Seafood Ditemani Pemandangan Laut
Semilir angin beradu dengan birunya langit menyapa kedatangan saya pagi ini di Pantai Depok, sebuah pantai yang berada satu deret dengan Pantai Parangtritis yang terkenal dengan berbagai cerita mistis. Satu jam perjalanan dari Kota Jogja seperti tidak terasa karena pemandangan deretan persawahan yang setia menemani sepanjang perjalanan. Langkah saya pun tertuju pada pasar ikan segar yang tidak jauh dari lokasi pantai ini. Pantai Depok memang terkenal dengan kuliner laut atau seafood-nya yang segar. Beberapa jenis ikan dan beberapa jenis kerang dapat kita temukan di pasar ikan ini dengan harga yang cukup terjangkau.
Usai berbelanja ikan segar, saya pun segera bergegas menuju warung-warung sederhana milik warga yang terletak di sepanjang pinggir Pantai Depok ini. Warung-warung sederhana ini memang menjajakan jasa untuk memasakkan ikan-ikan segar yang kita beli dari pasar. Warung ini memiliki konsep lesehan, menggunakan tikar sebagai alas duduk disertai meja-meja kecil untuk menyajikan masakan. Bangunan warung makan ini langsung menghadap ke laut. Jadi, sembari menikmati hidangan seafood yang kita pesan, mata pun dimanjakan dengan pemandangan deburan ombak laut selatan disertai dengan semilir angin yang sesekali menerpa badan.
Berbagai pilihan menu seperti masak asam pedas, masak asam manis, masak saus tiram, dan masak saus padang pun siap mereka sajikan. Untuk santap siang kali ini, saya pun menjatuhkan pilihan pada lobster, kepiting saus tiram, kakap merah bakar, dan udang goreng tepung. Tidak perlu menunggu lama, sajian yang saya pesan pun terhidang di atas meja makan, lengkap dengan nasi, sambal serta lalapan. Kesegaran ikan yang ada di Pantai Depok ini semakin menambah kenikmatan cita rasa pada masakan, selain penambahan bumbu masak yang pas tentu saja. Pantai Depok memang menjadi salah satu tempat yang pas untuk berkumpul menghabiskan waktu bersama teman maupun keluarga sambil menikmati hidangan laut yang segar ditemani dengan pemandangan laut yang menyenangkan.
Di balik keindahan pemandangan pantai serta nikmatnya hidangan seafood yang disajikan, ada sebuah cerita yang sedikit memilikan dari Pantai Depok ini. Pantai ini sudah mengalami abrasi sehingga sedikit demi sedikit ombak laut pun semakin mendekat dengan bangunan-bangunan warung milik warga. Bahkan ketika saya datang, sudah ada beberapa bangunan yang sudah mulai erlihat "kritis" karena terjangan ombak lautan selatan ini. Bahkan perahi-perahu milik nelayan pun sekarang disandarkan di sebelah timur pantai karena lokasi semula untuk bersandar pun juga sudah terkena abrasi. Ah semoga abrasi di Pantai Depok ini tidak semakin parah :)
keterangan :
Usai berbelanja ikan segar, saya pun segera bergegas menuju warung-warung sederhana milik warga yang terletak di sepanjang pinggir Pantai Depok ini. Warung-warung sederhana ini memang menjajakan jasa untuk memasakkan ikan-ikan segar yang kita beli dari pasar. Warung ini memiliki konsep lesehan, menggunakan tikar sebagai alas duduk disertai meja-meja kecil untuk menyajikan masakan. Bangunan warung makan ini langsung menghadap ke laut. Jadi, sembari menikmati hidangan seafood yang kita pesan, mata pun dimanjakan dengan pemandangan deburan ombak laut selatan disertai dengan semilir angin yang sesekali menerpa badan.
Berbagai pilihan menu seperti masak asam pedas, masak asam manis, masak saus tiram, dan masak saus padang pun siap mereka sajikan. Untuk santap siang kali ini, saya pun menjatuhkan pilihan pada lobster, kepiting saus tiram, kakap merah bakar, dan udang goreng tepung. Tidak perlu menunggu lama, sajian yang saya pesan pun terhidang di atas meja makan, lengkap dengan nasi, sambal serta lalapan. Kesegaran ikan yang ada di Pantai Depok ini semakin menambah kenikmatan cita rasa pada masakan, selain penambahan bumbu masak yang pas tentu saja. Pantai Depok memang menjadi salah satu tempat yang pas untuk berkumpul menghabiskan waktu bersama teman maupun keluarga sambil menikmati hidangan laut yang segar ditemani dengan pemandangan laut yang menyenangkan.
Di balik keindahan pemandangan pantai serta nikmatnya hidangan seafood yang disajikan, ada sebuah cerita yang sedikit memilikan dari Pantai Depok ini. Pantai ini sudah mengalami abrasi sehingga sedikit demi sedikit ombak laut pun semakin mendekat dengan bangunan-bangunan warung milik warga. Bahkan ketika saya datang, sudah ada beberapa bangunan yang sudah mulai erlihat "kritis" karena terjangan ombak lautan selatan ini. Bahkan perahi-perahu milik nelayan pun sekarang disandarkan di sebelah timur pantai karena lokasi semula untuk bersandar pun juga sudah terkena abrasi. Ah semoga abrasi di Pantai Depok ini tidak semakin parah :)
keterangan :
- Lokasi pasar ikan yang baru bukan lagi di dekat pantai. Lokasinya dipindah di dekat parkiran bus. Dari arah retribusi lurus saja sampai menemukan gapura masuk Pantai Depok. Sebelum masuk gapura belok saja ke kanan, ke arah lapangan luas yang biasa digunakan untuk parkir bus pariwisata. Letak pasar ikan di bangunan baru yang terletak di bagian paling ujung.
- Lobster di pasar ikan ini tidak setiap saat ada. Satu kilogram lobster dihargai Rp 150.000,00, namun Anda dapat membelinya per-biji, nanti akan ditimbang beratnya. Kemarin saya mendapatkan dua ekor lobster dengan harga Rp 45.000,00 (belum termasuk jasa memasak)
- Untuk harga udang berkisar Rp 40.000,00 per kilo, namun Anda dapat membelinya per-100 gram atau kelipatannya.
- Harga kakap merah berkisar Rp 25.000,00 sampai dengan Rp 40.000,00 tergantung besar kecilnya ukuran (biasanya sudah ada standar harga per-kilogramnya)
- Untuk jasa memasak biasanya disesuaikan dengan ukuran ikan yang kita beli.
Misteri dan Keindahan Alam Simolap
Senin, 09 september 2013, tim Telapak Sumut kembali melakukan eksplorasi Penjelajahan Alam Sumatera Utara di Kabupaten Langkat. Tujuan tepatnya yaitu ke Wisata Alam Simolap Marike. Hari ini tim hanya beranggotakan 6 orang yaitu Saya (Pay), Anis, Heri, Edo, Kemal dan Amel. Tepat pukul 2 siang, kami memulai perjalanan menggunakan sepeda motor serta berniat camping atau bermalam di tempat yang akan kami tuju nantinya.
Wisata alam Simolap Marike adalah nama yang di tetapkan untuk memperjelas sebutan pada batas kawasan pengembangan Desa konservasi yang dikembangkan oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Dimana letak kawasan Wisata lam simolap berada di Dusun l Kinangkong Kelurahan Kuta Gajah Kecamatan Kutambaru Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Di lokasi ini terdapat objek wisata Air panas, Goa terang – Goa gelap serta Air terjun Sampuran Ganjang. Menurut informasi dari Seorang pemilik warung yang kami tanya, Goa di kawasan Wisata Alam Simolap berjumlah sekitar 57 Goa dengan berbagai tempat yang berbeda. Berikut ini rute yang akan kami lalui :
RUTE : MEDAN – BINJAI – SELESAI – KUALA – T.LANGKAT – SALAPIAN – MARIKE – DESA KUTA GAJAH dengan jarak tempuh sekitar 3 jam dari kota Medan.
Setelah 3 jam perjalan kami pun tiba di sebuah titik pemberhentian dimana kami harus menitipkan kendaraan pada sebuah rumah warga sekitar, karena jalur selanjutnya harus kami lalui dengan berjalan kaki. Namun apa daya, kami pun harus menunda sementara perjalanan kami, karena hujan yang turun begitu derasnya. Saya dan rekan yang lainnya saling kelihatan kecewa, kami pun bergegas untuk menghidupkan kompor dan membuat kopi. Sekitar jam 21.00 wib hujan pun mulai mereda, saya langsung mengajak Kemal untuk melihat kondisi sungai, karena kalau sungai banjir, pasti kami tidak bisa mengarunginya. Beruntung, karena sungai pada saat itu dalam keadaan normal.
Tepat pukul 22.00 wib, kami pun berjalan menelusuri sungai dan hutan menuju ke sebuah Goa alam yang akan kami jadikan tempat berkemah kami malam itu. Bicara tentang Goa, pastinya ini bukan Goa yang pertama kami telesuri, karena sebelumnya saya dan Tim Telapak Sumut pernah mengeksplor Goa Kembang Sepatu, serta Goa Saman Jawa dan Goa Manupak. Baru seperempat perjalanan hujan pun turun kembali, walau begitu kami pun tetap melanjutkan perjalanan tanpa istirahat sedikit pun. Beberapa kali kami bingung mencari jalan di dalam hutan karena gelap nya malam yang membatasi pandangan mata. Saya pun terus mencari jalan menuju ke goa, karena cuma Saya yang pernah kesana di antara anggota tim yang ada saat ini. Derasnya hujan dan dingin sudah tidak di rasakan lagi, hanya rasa ingin sampai ke tujuan dengan cepat yang ada di benak kami masing-masing.
Sekitar 1 jam perjalanan sampailah kami di Goa Terang. Sebagian dari kami langsung memasang tenda dan sebagian lainnya mengambil air di sungai. Setelah tenda terpasang, kompor pun kami nyalakan untuk memasak buat makan malam saat itu. setelah selesai makan, semuanya bersiap-siap untuk tidur. Disinilah, awal mula terjadinya sebuah misteri yang menghantui semua kawan-kawan ku. Sekitar pukul 03.00 dini hari suara-suara aneh mulai terdengar di luar tenda kami. Seperti suara anak-anak yang sedang bermain dan bayangan seperti anak kecil terlihat berkeliling di luar tenda. Sebagian dari kawan ku tidak bisa tidur dengan tenang karena suara-suara aneh tersebut. Kami hanya bisa berdoa agar tidak terjadi sesuatu pun pada kami semua.
Akhirnya, alarm jam pun berbunyi tepat pukul 06.00 wib, rintik-rintik hujan belum juga berhenti. Kami pun segera membagi tugas yaitu wanita bertugas memasak, Saya serta teman laki-laki lainnya mencari kayu bakar serta air. Setelah api unggun sudah hidup kami pun mengeringkan pakaian kami yang basah karena hujan tadi malam di dekat api unggun. Selesai sarapan bersama, tim pun menuju ke tempat berikutnya yaitu Goa Gelap dan Air Terjun Sampuran Ganjang.
Sunguh luar biasa ciptaan tuhan, Goa yang panjangnya sekitar 200 m itu mengalir sebuah sungai di dalamnya dengan keadaan yang sangat gelap. Goa tersebut merupakan sebuah jalan menuju ke Air terjun, Kami pun melanjutkan perjalanan menelusuri aliran sungai untuk sampai ke Air terjun. Sekitar 1 jam berjalan kami pun sampai di tujuan terakhir kami yaitu Air Terjun Sampuren Ganjang.
Air terjun tiga tingkat ini sangat indah dan airnya yang sejuk. Saya pun langsung menuju ke bawah air terjun yang seperti kolam dan mandi dibawah air terjun tersebut. Sebagian kawan-kawan yang lainnya berfoto di bawah air terjun, Saya melihat ada jalan setapak di sisi kiri air terjun. Saya penasaran dengan arah jalan tersebut, saya pun langsung menaiki bukit itu dan sampai ke suatu tempat di mana ada sisi lain di atas air terjun, Ternyata ada air terjun lagi yang sangat indah, air terjun tersebut kembar dengan ketinggian sekitar 7 meter.
Terdengar suara dari balik pepohonan ternyata itu suara langkah teman saya, Heri. Saya pun langsung mengajak Heri menuruni pepohonan dan akar-akar kayu menuju ke bawah air terjun kembar tersebut. Dan terdapat 1 air terjun lagi di bawah air terjun kembar, jadi keselurahan air terjun tersebut mempunyai 5 tingkat dengan air terjun kembar di tingkat ke lima. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa.
Sekitar tengah hari kami pun kembali menuju Goa Terang tempat kami mendirikan tenda sebelumnya, mempacking kembali semua barang bawaan kami dan menuju tempat kami menitipkan kendaraan kami. Setelah berpamitan dengan pemilik rumah tempat kami menitipkan kendaraan, Kami pun bergegas pulang menuju ke Medan.
Demikianlah cerita singkat tentang pengalaman saya dan tim Telapak Sumut saat berada di Wisata Alam Simolap, dimana ada sebuah misteri yang menjadi sebuah tanda tanya di sekitar tepat kami bermalam, Namun semua itu terbalasakan dengan keindahan Alam yang ada disini. semua itu pastinya tidak akan pernah terlupakan.
Apakah anda tertarik dan ingin merasakan sensasi petualangan seperti kami? Segera Bergabung bersama Telapak Sumut Adventure dan tunggu perjalanan kami selanjutnya.
Salam Lestari...!!
By :Pay
Wisata alam Simolap Marike adalah nama yang di tetapkan untuk memperjelas sebutan pada batas kawasan pengembangan Desa konservasi yang dikembangkan oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Dimana letak kawasan Wisata lam simolap berada di Dusun l Kinangkong Kelurahan Kuta Gajah Kecamatan Kutambaru Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Di lokasi ini terdapat objek wisata Air panas, Goa terang – Goa gelap serta Air terjun Sampuran Ganjang. Menurut informasi dari Seorang pemilik warung yang kami tanya, Goa di kawasan Wisata Alam Simolap berjumlah sekitar 57 Goa dengan berbagai tempat yang berbeda. Berikut ini rute yang akan kami lalui :
RUTE : MEDAN – BINJAI – SELESAI – KUALA – T.LANGKAT – SALAPIAN – MARIKE – DESA KUTA GAJAH dengan jarak tempuh sekitar 3 jam dari kota Medan.
Setelah 3 jam perjalan kami pun tiba di sebuah titik pemberhentian dimana kami harus menitipkan kendaraan pada sebuah rumah warga sekitar, karena jalur selanjutnya harus kami lalui dengan berjalan kaki. Namun apa daya, kami pun harus menunda sementara perjalanan kami, karena hujan yang turun begitu derasnya. Saya dan rekan yang lainnya saling kelihatan kecewa, kami pun bergegas untuk menghidupkan kompor dan membuat kopi. Sekitar jam 21.00 wib hujan pun mulai mereda, saya langsung mengajak Kemal untuk melihat kondisi sungai, karena kalau sungai banjir, pasti kami tidak bisa mengarunginya. Beruntung, karena sungai pada saat itu dalam keadaan normal.
Tepat pukul 22.00 wib, kami pun berjalan menelusuri sungai dan hutan menuju ke sebuah Goa alam yang akan kami jadikan tempat berkemah kami malam itu. Bicara tentang Goa, pastinya ini bukan Goa yang pertama kami telesuri, karena sebelumnya saya dan Tim Telapak Sumut pernah mengeksplor Goa Kembang Sepatu, serta Goa Saman Jawa dan Goa Manupak. Baru seperempat perjalanan hujan pun turun kembali, walau begitu kami pun tetap melanjutkan perjalanan tanpa istirahat sedikit pun. Beberapa kali kami bingung mencari jalan di dalam hutan karena gelap nya malam yang membatasi pandangan mata. Saya pun terus mencari jalan menuju ke goa, karena cuma Saya yang pernah kesana di antara anggota tim yang ada saat ini. Derasnya hujan dan dingin sudah tidak di rasakan lagi, hanya rasa ingin sampai ke tujuan dengan cepat yang ada di benak kami masing-masing.
Sekitar 1 jam perjalanan sampailah kami di Goa Terang. Sebagian dari kami langsung memasang tenda dan sebagian lainnya mengambil air di sungai. Setelah tenda terpasang, kompor pun kami nyalakan untuk memasak buat makan malam saat itu. setelah selesai makan, semuanya bersiap-siap untuk tidur. Disinilah, awal mula terjadinya sebuah misteri yang menghantui semua kawan-kawan ku. Sekitar pukul 03.00 dini hari suara-suara aneh mulai terdengar di luar tenda kami. Seperti suara anak-anak yang sedang bermain dan bayangan seperti anak kecil terlihat berkeliling di luar tenda. Sebagian dari kawan ku tidak bisa tidur dengan tenang karena suara-suara aneh tersebut. Kami hanya bisa berdoa agar tidak terjadi sesuatu pun pada kami semua.
Akhirnya, alarm jam pun berbunyi tepat pukul 06.00 wib, rintik-rintik hujan belum juga berhenti. Kami pun segera membagi tugas yaitu wanita bertugas memasak, Saya serta teman laki-laki lainnya mencari kayu bakar serta air. Setelah api unggun sudah hidup kami pun mengeringkan pakaian kami yang basah karena hujan tadi malam di dekat api unggun. Selesai sarapan bersama, tim pun menuju ke tempat berikutnya yaitu Goa Gelap dan Air Terjun Sampuran Ganjang.
Sunguh luar biasa ciptaan tuhan, Goa yang panjangnya sekitar 200 m itu mengalir sebuah sungai di dalamnya dengan keadaan yang sangat gelap. Goa tersebut merupakan sebuah jalan menuju ke Air terjun, Kami pun melanjutkan perjalanan menelusuri aliran sungai untuk sampai ke Air terjun. Sekitar 1 jam berjalan kami pun sampai di tujuan terakhir kami yaitu Air Terjun Sampuren Ganjang.
Air terjun tiga tingkat ini sangat indah dan airnya yang sejuk. Saya pun langsung menuju ke bawah air terjun yang seperti kolam dan mandi dibawah air terjun tersebut. Sebagian kawan-kawan yang lainnya berfoto di bawah air terjun, Saya melihat ada jalan setapak di sisi kiri air terjun. Saya penasaran dengan arah jalan tersebut, saya pun langsung menaiki bukit itu dan sampai ke suatu tempat di mana ada sisi lain di atas air terjun, Ternyata ada air terjun lagi yang sangat indah, air terjun tersebut kembar dengan ketinggian sekitar 7 meter.
Terdengar suara dari balik pepohonan ternyata itu suara langkah teman saya, Heri. Saya pun langsung mengajak Heri menuruni pepohonan dan akar-akar kayu menuju ke bawah air terjun kembar tersebut. Dan terdapat 1 air terjun lagi di bawah air terjun kembar, jadi keselurahan air terjun tersebut mempunyai 5 tingkat dengan air terjun kembar di tingkat ke lima. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa.
Sekitar tengah hari kami pun kembali menuju Goa Terang tempat kami mendirikan tenda sebelumnya, mempacking kembali semua barang bawaan kami dan menuju tempat kami menitipkan kendaraan kami. Setelah berpamitan dengan pemilik rumah tempat kami menitipkan kendaraan, Kami pun bergegas pulang menuju ke Medan.
Demikianlah cerita singkat tentang pengalaman saya dan tim Telapak Sumut saat berada di Wisata Alam Simolap, dimana ada sebuah misteri yang menjadi sebuah tanda tanya di sekitar tepat kami bermalam, Namun semua itu terbalasakan dengan keindahan Alam yang ada disini. semua itu pastinya tidak akan pernah terlupakan.
Apakah anda tertarik dan ingin merasakan sensasi petualangan seperti kami? Segera Bergabung bersama Telapak Sumut Adventure dan tunggu perjalanan kami selanjutnya.
Salam Lestari...!!
By :Pay
Kamis, 03 Oktober 2013
Menelusuri Gua Kembang Sepatu
Salam Petualang..
Tim Telapak Sumut kembali melakukan eksplorasi penjelajahan alam Sumatera Utara. Kali ini tujuan penjelajahan tim adalah Sebuah Gua yang dikenal dengan nama Gua Kembang Sepatu. Kami mendapatkan informasi gua tersebut dari seorang ibu yang tinggal di dekat Jembatan Gantung Luhung, yang akrab kami panggil Mak Sawiyah. Beliau lah yang memberikan informasi goa tersebut kepada kami. Seperti diketahui, bahwa gua tersebut belum banyak orang yang mengetahuinya, karena itu lah kami penasaran ingin mengetahuinya.
19 Mei 2013, Tim Telapak Sumut bergerak menuju Gua tersebut. Tim yang ikut penjelajahan hari ini beranggotakan 12 orang. yaitu Saya (Pay), Andika, Heri, Didi, Abay, Suci, Ipur, Muis, Lusi, Miftah, Obi, dan Riky. Sekitar pukul 11.20 Wib. Seperti biasa, perjalanan kami pun menggunakan Sepeda Motor. Goa Kembang Sepatu tersebut berada di kawasan perkebunan Kembang Sepatu Desa Namo Linting, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) HULU, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Berikut ini adalah rute yang akan kami lalui :
RUTE : DELITUA – T.KENAS – SIMP. KAWAT – KUTA JURUNG – NAMO LINTING – KEMBANG SEPATU dengan jarak tempuh sekitar 2 jam dari Deli Tua.
Kami pun berangkat dari Deli Tua menuju Namo Linting, STM HULU. Setelah melewati Desa Talun Kenas Jalanan pun mulai berbelok-belok dengan rimbunan pepohonan disisi kanan dan kiri. Sekitar 1 jam berkendara sampailah kami di Desa Namo Linting, dari sini perjalanan masih di teruskan dengan melewati ladang-ladang penduduk dan harus menyeberangi sungai dangkal yang tidak ada jembatannya.
Dari Namo Linting ke lokasi memakan waktu sekitar 40 menit karena kondisi jalan yang kurang baik ditambah lagi jalanan disekitar kebun Sawit berlumpur karena baru diguyur hujan. Kawasan ini sangat terkenal dengan kawasan perkebunan sawit yang di beri nama Kembang Sepatu. Akhirnya, Kami sampai pada suatu tempat yang mengharuskan kami untuk meninggalkan kendaraan kami karena posisi jalan yang menurun dan tidak memungkinkan untuk kendaraan lalui, maka dengan terpaksa harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Hanya berjarak 100 m saja dari tempat memarkirkan sepeda motor, sampailah kami tepat di depan mulut Gua tersebut.
Karena terletak di perkebunan Sawit Kembang Sepatu, maka Gua tersebut pun diberi nama Gua Kembang Sepatu. Keunikan dari Gua ini yaitu memiliki bentuk seperti Masjid dengan 27 pintu Gua dan di pintu yang ke tujuh konon katanya di jaga oleh sesosok Ular besar penunggu Gua (makhluk gaib). Gua ini memiliki 4 ruangan besar yang terpisah, serta langit-langit gua yang berbentuk seperti kubah Masjid pada umumnya. Seperti pada gua-gua umumnya, gua ini pun menjadi tempat tinggal bagi ribuan kelelawar.
Selain itu terdapat aliran air atau sungai kecil di dalam Gua kembang Sepatu ini. Tidak disangka, ternyata di dalam aliran air tersebut banyak terdapat ikan-ikan. Maka tidak heran, jika masyarakat sekitar sering memancing ikan di gua ini.
Demikianlah cerita singkat tentang pengalaman tim Telapak Sumut dalam Menelusuri Gua Kembang Sepatu Ini. Semoga saja, gua ini selalu terjaga kelesatariannya.
Ingin merasakan sensasi petualangan seperti kami? Segera Bergabung bersama Telapak Sumut Adventure dan tunggu perjalanan kami selanjutnya.
Salam LESTARI..!!!
by : Pay.
Tim Telapak Sumut kembali melakukan eksplorasi penjelajahan alam Sumatera Utara. Kali ini tujuan penjelajahan tim adalah Sebuah Gua yang dikenal dengan nama Gua Kembang Sepatu. Kami mendapatkan informasi gua tersebut dari seorang ibu yang tinggal di dekat Jembatan Gantung Luhung, yang akrab kami panggil Mak Sawiyah. Beliau lah yang memberikan informasi goa tersebut kepada kami. Seperti diketahui, bahwa gua tersebut belum banyak orang yang mengetahuinya, karena itu lah kami penasaran ingin mengetahuinya.
19 Mei 2013, Tim Telapak Sumut bergerak menuju Gua tersebut. Tim yang ikut penjelajahan hari ini beranggotakan 12 orang. yaitu Saya (Pay), Andika, Heri, Didi, Abay, Suci, Ipur, Muis, Lusi, Miftah, Obi, dan Riky. Sekitar pukul 11.20 Wib. Seperti biasa, perjalanan kami pun menggunakan Sepeda Motor. Goa Kembang Sepatu tersebut berada di kawasan perkebunan Kembang Sepatu Desa Namo Linting, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) HULU, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Berikut ini adalah rute yang akan kami lalui :
RUTE : DELITUA – T.KENAS – SIMP. KAWAT – KUTA JURUNG – NAMO LINTING – KEMBANG SEPATU dengan jarak tempuh sekitar 2 jam dari Deli Tua.
Kami pun berangkat dari Deli Tua menuju Namo Linting, STM HULU. Setelah melewati Desa Talun Kenas Jalanan pun mulai berbelok-belok dengan rimbunan pepohonan disisi kanan dan kiri. Sekitar 1 jam berkendara sampailah kami di Desa Namo Linting, dari sini perjalanan masih di teruskan dengan melewati ladang-ladang penduduk dan harus menyeberangi sungai dangkal yang tidak ada jembatannya.
Dari Namo Linting ke lokasi memakan waktu sekitar 40 menit karena kondisi jalan yang kurang baik ditambah lagi jalanan disekitar kebun Sawit berlumpur karena baru diguyur hujan. Kawasan ini sangat terkenal dengan kawasan perkebunan sawit yang di beri nama Kembang Sepatu. Akhirnya, Kami sampai pada suatu tempat yang mengharuskan kami untuk meninggalkan kendaraan kami karena posisi jalan yang menurun dan tidak memungkinkan untuk kendaraan lalui, maka dengan terpaksa harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Hanya berjarak 100 m saja dari tempat memarkirkan sepeda motor, sampailah kami tepat di depan mulut Gua tersebut.
Karena terletak di perkebunan Sawit Kembang Sepatu, maka Gua tersebut pun diberi nama Gua Kembang Sepatu. Keunikan dari Gua ini yaitu memiliki bentuk seperti Masjid dengan 27 pintu Gua dan di pintu yang ke tujuh konon katanya di jaga oleh sesosok Ular besar penunggu Gua (makhluk gaib). Gua ini memiliki 4 ruangan besar yang terpisah, serta langit-langit gua yang berbentuk seperti kubah Masjid pada umumnya. Seperti pada gua-gua umumnya, gua ini pun menjadi tempat tinggal bagi ribuan kelelawar.
Selain itu terdapat aliran air atau sungai kecil di dalam Gua kembang Sepatu ini. Tidak disangka, ternyata di dalam aliran air tersebut banyak terdapat ikan-ikan. Maka tidak heran, jika masyarakat sekitar sering memancing ikan di gua ini.
Demikianlah cerita singkat tentang pengalaman tim Telapak Sumut dalam Menelusuri Gua Kembang Sepatu Ini. Semoga saja, gua ini selalu terjaga kelesatariannya.
Ingin merasakan sensasi petualangan seperti kami? Segera Bergabung bersama Telapak Sumut Adventure dan tunggu perjalanan kami selanjutnya.
Salam LESTARI..!!!
by : Pay.
Rabu, 02 Oktober 2013
Pesona Mistik di Situs Budaya Gua Kemang
Menurut cerita asal mula Gua Kemang yaitu Dahulu kala, terdapat sebuah kampung yang bernama Uruk Rambutan, begitulah masyarakat menyebutnya. Hiduplah seorang kakek yang pekerjaan sehari-harinya berladang. Ketika Dia melintasi hutan untuk membuka sebuah ladang baru, Kakek tersebut bertemu dengan sesosok makhluk bertubuh kecil dengan kakinya yang terbalik ke belakang. Orang-orang menyebutnya Umang. Menurut bahasa Karo Umang berarti Jin atau Roh. menurut warga yang pernah melihatnya seperti orang Bunian.
Umang bertanya kepada Kakek hendak kemana, Kakek menjawab “Saya ingin membuka ladang untuk menanam padi”. Umang pun menawarkan bantuan kepada Kakek tersebut dengan syarat Kakek tersebut tidak boleh membawa perempuan dan anak kecil. Kakek pun menyanggupi persyaratan tersebut. Akhirnya Umang dan kawan-kawan sejenisnya membantu Kakek itu membuka ladang. Dalam 1 hari lahan sekitar 3 hektar itu pun sudah siap untuk ditanami. Sebelum petang Kakek tersebut sudah kembali ke rumahnya. Dia pun menceritakan kepada Istrinya bahwa lahan tersebut sudah dapat di tanami. Sang istri pun terkejut, bagaimana lahan seluas itu bisa siap dalam 1 hari. Keesokan harinya, Kakek pun berjalan menuju lahan dengan membawa bibit padi. Umang pun marah terhadap Kakek karena sudah melanggar janjinya, lahan yang sudah siap di tanami kini berubah kembali menjadi semak belukar kembali. Kakek pun tidak mengerti mengapa Umang marah kepadanya. Ternyata Kakek di ikuti oleh istrinya dari belakang karena curiga bagaimana bisa lahan tersebut selesai dalam 1 hari. Kakek pun marah besar, tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur. Besoknya, Kakek kembali membuka hutan tersebut. Setelah berhari-hari akhirnya Kakek tersebut berhasil membersihkannya. Ketika itulah ditemukan batu besar yang disebut Gua Kemang. Dan sampai saat ini batu besar tersebut di yakini masyarakat sebagai rumah tempat tinggal Umang.
Gua Kemang terletak di Kampung Durintani Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Jalan untuk menuju Gua ini sudah tidak beraspal lagi, hanya jalan cor-coran dan di lanjutkan dengan jalan tanah dan bebatuan. Untuk sampai ke Goa tersebut kami harus melalui jalan menanjak dan melalui sekitar 63 anak tangga. Gua Kemang berbentuk kerucut dengan sebuah lubang kecil berukuran sekitar 50 x 50 cm. Di dalam nya terdapat ruangan sekitar 3 x 2 meter dengan ketinggian sekitar 60 cm. Suasana sepi di sekitar Gua menambah aroma mistik dan seram di tempat ini sehingga membuat tubuh sedikit merinding. Dulu pernah ada orang yang ingin memindahkan batu tersebut, tetapi dengan cara apapun tidak pernah berhasil.
Gua Kemang merupakan Situs Budaya yang ada di Sumatera Utara. Namun, sayang tempat ini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Semoga saja situs budaya Gua Kemang ini selalu terjaga.
Seperti biasa, sebelum kami beranjak pulang, kami menyempatkan sejenak untuk mengabadikan tempat ini dengan sebuah kamera digital yang kami bawa untuk dijadikan sebuah kenangan dari perjalanan hari ini. Demikianlah artikel singkat ini mengenai Pesona Mistik di Situs Budaya Gua Kemang, semoga bermanfaat buat anda.
Buat Anda yang ingin mengunjugi tempat ini bersama Telapak Sumut, langsung saja bergabung bersama kami...:)
Salam Lestari..!
by: Pay.
Selasa, 01 Oktober 2013
Memandang Keindahan Alam Sibolangit dari Jembatan Gantung Derek
Salam Petualang...
Senin, 08 April 2013 tepat tengah hari dan cuaca yang sangat panas karena matahari tepat berada di atas kepala. Saya dan Anis yang waktu itu tidak ada kegiatan rutinitas dalam bekerja. Kami pun merencanakan perjalanan ke suatu tempat yang belum pernah kami kunjungi. Setelah berdiskusi akhirnya kami memutuskan untuk ke sebuah Desa Derek. Desa ini terletak di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Dengan teriknya matahari kami pun berkendara menggunakan sepeda motor melewati jalan Medan Tuntungan menuju ke arah Sibolangit. Menurut pengalaman dan penuturan beberapa warga setempat, jalan dari tuntungan bisa tembus sampai ke sibolangit.
Jembatan ini menghubungkan Desa Derek dengan Desa Suka Makmur. Dahulu, sebelum ada jembatan ini, para warga yang ingin menyebrang menggunakan sebuah katrol dan di derek. Dengan adanya peristiwa tersebut nama desa tersebut menjadi Desa Derek oleh warga setempat dan arti derek menurut warga setempat mayoritas suku karo adalah Tarik.
Sungguh pemandangan yang sangat indah saat anda berada di atas Jembatan Gantung Derek ini. Anda dapat Memandang Keindahan Alam Sibolangit, Seperti aliran Air sungai yang begitu jernih terlihat dari atas jembatan, disisi lain terlihat sebuah bukit yang tinggi dan ditengah bukit tersebut terlihat sebuah air terjun yang tampak dari kejauhan seperti jarum saja. Sebuah Pengalaman yang tidak dapat dilupakan. Dan tak lupa kami mengabadikan tempat ini dalam sebuah potret untuk menjadi kenangan.. :)
Setelah dari Jembatan Gantung Derek, dan sebelum pulang ke Medan, kami pun mampir sejenak menuju ke sebuah tempat yang sedikit berbau mistik. Silahkan anda Simak ceritanya di artikel yang berjudul Pesona Mistik di Situs Budaya Gua Kemang.
by : Pay
Kami pun terus berkendara melewati perkampungan demi perkampungan. Setelah tiada lagi perkampungan dalam arti sangat jarang ada rumah penduduk, kami melewati sebuah hutan lindung. Suasana pun mulai hening, hanya ada suara-suara burung yang menemani di perjalanan kami. Sampai pada suatu simpang, Saya dan Anis pun merasa bingung harus kearah kiri atau kanan. Tampak dari kejauhan seorang Ibu tua setengah baya yang membawa kayu bakar, Kami pun menghampirinya Ibu tersebut dan bertanya tentang persimpangan jalan tersebut, dan ibu itu pun menjawab, “ kalau ke kiri kalian akan ke Desa Derek dan dan kalau ke kanan kalian akan ke perkemahan Sibolangit”.
Akhirnya Kami pun memilih jalan ke kiri seperti yang dijelaskan si ibu tersebut. Setelah berkendara hampir 2 jam Kami pun sampai di Desa Derek. Terdapat sesuatu hal yang menarik dari sebuah desa ini dan inilah yang menjadi salah satu alasan kami mengunjungi Desa Derek ini, yaitu adanya sebuah Jembatan Gantung yang cukup menawan. Jembatan ini memiliki panjang sekitar 50 m dan memiliki ketinggian sekitar 100 m. Jembatan Gantung ini pun hanya bisa dilintasi oleh kendaraan Roda dua saja.
Jembatan ini menghubungkan Desa Derek dengan Desa Suka Makmur. Dahulu, sebelum ada jembatan ini, para warga yang ingin menyebrang menggunakan sebuah katrol dan di derek. Dengan adanya peristiwa tersebut nama desa tersebut menjadi Desa Derek oleh warga setempat dan arti derek menurut warga setempat mayoritas suku karo adalah Tarik.
Sungguh pemandangan yang sangat indah saat anda berada di atas Jembatan Gantung Derek ini. Anda dapat Memandang Keindahan Alam Sibolangit, Seperti aliran Air sungai yang begitu jernih terlihat dari atas jembatan, disisi lain terlihat sebuah bukit yang tinggi dan ditengah bukit tersebut terlihat sebuah air terjun yang tampak dari kejauhan seperti jarum saja. Sebuah Pengalaman yang tidak dapat dilupakan. Dan tak lupa kami mengabadikan tempat ini dalam sebuah potret untuk menjadi kenangan.. :)
Setelah dari Jembatan Gantung Derek, dan sebelum pulang ke Medan, kami pun mampir sejenak menuju ke sebuah tempat yang sedikit berbau mistik. Silahkan anda Simak ceritanya di artikel yang berjudul Pesona Mistik di Situs Budaya Gua Kemang.
by : Pay
Langganan:
Postingan (Atom)




















