Bagi kebanyakan kaum perempuan asal Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, mandi balimau untuk membersihkan diri memasuki bulan Ramadhan merupakan bagian tidak terpisahkan dari rangkaian hari saat berniat untuk menjalankan ibadah puasa.
Banyak wanita Singkil yang mengaku kurang afdhol jika tidak menjalani mandi balimau.
Tradisi itu hingga kini tetap hidup dan berkembang dalam budaya kaum hawa di wilayah pesisir barat selatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), termasuk saat menyambut puasa Ramadhan 1429 H.
Mandi balimau dengan meramu puluhan jenis bunga, termasuk daun serai pulau pinang serta dicampur daun pandan, disiapkan secara khusus. Ramuan itu kemudian ditumbuk, disaring untuk mendapatkan air bersih antara satu sampai dua liter yang akan digunakan untuk keramas.
Ny. Juliwaty (38), warga Desa Pulau Sarok, mengatakan, mandi kembang, sebutan lain bagi balimau dikalangan etnis jawa, dilakukan pada petang hari.
Air bunga tersebut dipakai untuk membilas, setelah para perempuan itu mandi dan keramsa dengan air biasa. Maka, wangi air bilasan tersebut tetap menempel di tubuh.
Mandi balimau dilakukan beramai-ramai dengan berdiri secara berderet di sungai Elsoraya, ibukota Aceh Singkil. Pada kesempatan itu, kesemarakkan tercipta dengan terdengarnya derai tawa para perempuan yang sedang menyiapkan diri memasuki bulan suci Ramadhan.
"Itu tradisi kami di Singkil, sedangkan bagi mereka di perantauan, mandi balimau dilakukan di rumahnya masing-masing," kata perempuan dua anak itu.
Kebanyakan perempuan Singkil mengaku, walau pun mereka tidak sedang berada di kampung halamannya, mereka pasti menyempatkan diri mandi balimau menjelang puasa. Itu dilakukan, tak terkecuali, oleh anak-anak, remaja, dan nenek-nenek.
"Entahlah, saya tidak tahu, mandi balimau itu budaya atau sunnah Rasul, yang jelas bagi kaum perempuan asal Singkil tetap melestarikannya hinggi puasa Ramadhan ini," kata Juliwaty sambil tersenyum saat membeli aneka bunga sebuah pasar, di Pulau Sarok Singkil, beberapa hari menjelang Ramadhan 2008.
Sama halnya bagi perempuan asal Singkil di Banda Aceh, tradisi mandi balimau sulit dilupakan pada setiap mereka menyambut bulan suci Ramadhan.
Walaupun disibuki dengan pekerjaan lain sebagai ibu rumahtangga, namun bagi kebanyakan perempuan asal pesisir barat selatan Aceh itu, tradisi itu harus tetap dilaksanakan.
Raziani Umayuddin, perempuan asal Desa Pulau Sarok, Singkil, yang mengaku sudah belasan tahun berada di Banda Aceh, mengatakan, tradisi mandi balimau menyambut bulan suci Ramadhan juga dikenal luas di kalangan kaum perempuan yang bermukim di daerah pesisir Sumatera Barat.
Bagi mereka yang di perantauan, melakukan mandi kembang tersebut dilakukan sekembalinya berziarah ke makam orangtuannya, namun jadwalnya tetap pada petang hari, menjelang matahari terbenam. Tidak namun tidak ada larangan bagi mereka yang mandi balimau pada pagi atau siang harinya, walau itu tidak lazim dilakukan.
Tradisi itu berbeda dengan kebanyakan masyarakat di Aceh. Kalau kaum perempuan di Singkil dengan cara mandi balimau, sementara kebanyakan masyarakat Aceh melakukan rekreasi ke lokasi wisata, baik laut maupun wisata alam bersama sanak keluarga.
Antara masyarakat pesisir barat selatan Aceh dan Sumatera Barat sebetulnya memiliki banyak kesamaan dalam kehidupan sehari-hari, selain sebagai pemuluk Islam yang taat juga dalam adat-istiadat, termasuk bahasa yang digunakan sehari-hari.
Mereka hanya berbeda dalam dialek, walau mereka kebanyakan saling mengerti.
"Kegiatan wisata, atau meramin dalam bahasa Aceh, dilakukan khusus hari libur atau juga dikenal sebagai minggu terakhir karena setelah itu mereka mulai memasuki bulan suci Ramadhan sehingga mereka lebih memfokuskan diri untuk beribadah," kata Raziani.
Bagi kebanyakan masyarakat Aceh di pedesaan, kata Irmiwaty Syamsuddin, warga Aceh Besar, bulan suci Ramadhan dimanfaatkan sebagai bulan beribadah sehingga kegiatan rutin lainnya, seperti bekerja di sawah dan kebun dikurangi.
Selama bulan suci Ramadhan, mereka lebih banyak memanfaatkan waktu malam hari untuk beribadah, baik shalat terawih atau tadarus (mengaji Al-quran), sedangkan di siang harinya lebih banyak istirahat dengan berdiam diri di rumah, termasuk bagi anak-anak mereka yang lebih banyak berada di mushalla.
"Anak-anak remaja, setelah makan malam mereka sudah berada di mushalla dan baru kembali ke rumah pada saat makan sahur. Selama di mushalla atau masjid mereka membaca al-Quran secara bergiliran bersama teman-teman, namun di siang hari kebanyakan tertidur dan baru saat shalat dhuhur baru kembali," katanya menambahkan. (ant)
sumber :Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
Kamis, 21 Juli 2011
Muhammad Nazar : Selamatkan Aceh!
Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar mengajak semua elemen masyarakat untuk menyelamatkan Aceh dari pergolakan politik yang tidak sehat. Jika kisruh Pemilukada terus berlarut-larut, dikhawatirkan akan mengancam masa depan Aceh.Meskipun Pemilukada bagian kecil dari kehidupan, tetapi sangat mempengaruhi kondisi Aceh lima hingga puluhan tahun ke depan,” kata Wagub Nazar di Banda Aceh, Kamis (21/7).
Maka itu, Wagub mengajak para pimpinan partai dan calon independen untuk mengutamakan dialog dan duduk bersama demi menyelamatkan Aceh. “Saya sebagai wakil gubernur Aceh dan atas nama pribadi menyerukan dan mengharapkan pada seluruh rakyat Aceh, kepada seluruh kandidat, kawan-kawan independen, kawan-kawan partai, kawan-kawan legislatif, mari kita selamatkan Aceh. Pikirkan dulu penyelamatan Aceh,” kata Muhammad Nazar
Wagub melihat kondisi politik Aceh kekinian sudah jauh melenceng dari kepatutan. Karenanya, kata dia, diperlukan adanya kesamaan persepsi di antara para pihak yang terlibat di dalamnya. “Mari sama-sama kita mencari solusi terbaik untuk mengakhiri beragam polemik terkait pelaksanaan Pemilukada,” ajaknya. “Ini semata-mata demi masa depan Aceh yang lebih baik.”
Nazar mengingatkan, hakikat politik yang sesungguhnya adalah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan mandat rakyat. “Pelaku politik harus benar-benar mengabdi kepada kepentingan rakyat, utamanya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, bukan sebaliknya. Jadi jangan hanya menjadikan politik sebagai alat untuk kepentingan kelompok atau kepentingan tertentu saja,” katanya.
Untuk itu, lanjut Wagub, tidak perlu ada kekhawatiran terhadap siapa saja yang nantinya menang dalam Pemilukada 2011. “Yang penting, pemenang itu harus siap membangun dan yang kalah harus mendukung yang menang. Terpenting lagi, habis masa jabatan kami sudah ada gubernur yang definitif,” katanya.
Namun, jika berbagai polemik Pemilukada terus digulirkan maka bisa memicu konflik politik yang lebih besar. “Kapan kita bisa selesaikan kultur konflik dan mentalitas perang? Kapan kita bisa selesaikan masa transisi ini jika permasalahan politik terus dibiarkan berlarut-larut?” tuturnya.
Wagub mengharapkan Pemilukada 2011 berlangsung secara sehat dan damai. “Para pelaku politik juga semakin dewasa dalam menyikapi berbagai gejolak di masyarakat. Para pemimpin Aceh yang terpilih lewat Pemilukada nanti kita harapkan bisa fokus bekerja untuk memajukan daerah demi meningkatkan kesejahteraan rakyat, tanpa harus disibukkan oleh urusan-urusan di luar kepentingan rakyat,” harapnya.(bay)
Sumber : Harian Aceh
Rabu, 20 Juli 2011
Koalisi Partai Mengarah ke Calon Gubernur Aceh Tarmizi A Karim
Titik terang siapa bakal calon Gubernur Aceh yang akan diusung koalisi Partai Demokrat (PD) dan Partai Golongan Karya (Golkar) akhirnya mulai mendapat titik terang. Hal tersebut disampaikan salah seorang pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Aceh, dari Partai Demokrat yang tidak ingin ditulis namanya, Rabu (20/07).Politisi Demokrat ini mengatakan bahwa pengajuan calon Gubernur Aceh yang maju melalui jalur dua partai (Koalisi PD-Golkar) kini lebih mengarah ke Tarmizi A Karim. Hal itu menurutnya karena sosok mantan Bupati Aceh Utara ini lebih tepat sebagai figur seorang pemimpin.
“Pengajuan calon gubernur dari PD dan Golkar mengarah ke Tarmizi A Karim,” katanya.
Begitupun, terkait belum diumumkannya nama Tarmizi ke publik, sebut sumber tadi, karena Partai Golongan Karya belum mengaku bahwa Tarmizi A Karim adalah kader Golkar.
Namun, jika Golkar sudah mengakui Tarmizi A Karim sebagai kader Golkar, maka dalam waktu dekat, calon gubernur dari koalisi partai itu akan segera diumumkan ke publik. “Persoalannya sekarang karena partai Golkar belum mengaku bahwa Tarmizi A Karim adalah kader mereka,” jelasnya.
Menurutnya, terkait “digantungnya” status Tarmizi tersebut, dikarenakan Ketua DPD Partai Golkar, Sulaiman Abda juga ingin mencalonkan diri sebagai wakil gubernur dari koalisi partai tersebut. “Golkar belum mengaku Tarmizi A Karim adalah kader mereka, karena Sulaiman Abda minta pada posis kedua,” sebutnya.
Padahal, sumber tadi mengatakan, Tarmizi A Karim murni kader Golkar, bukan kader Partai Demokrat. “Perihal selama ini Tarmizi A Karim dekat dengan pengurus Partai Demokrat, itu benar. Namun, bukan berarti Tarmizi A Karim itu kader Partai Demokrat, yang jelas, Tarmizi A Karim itu kader Golkar,” ujarnya.***
Sumber : Tabloid Modus Aceh
Partai Aceh : Kami Tidak Berpendidikan
Ketua Departemen Pendidikan Partai Aceh, Nur Zahri, saat menyampaikan pendapatnya dalam diskusi Strategi Komunikasi Politik Jelang Pilkada Aceh 2011 didepan puluhan peserta diskusi mengakui bahwa orang-orang Partai Aceh tidak berpendidikan. “Kami punya komunikasi yang sangat sederhana,” kata dia.Awal penyampaian pendapat itu, Nur Zahri mengatakan PA berbasis orang yang tidak berpendidikan. Bisa saja basis ini tidak paham atau ada yang pura-pura tidak paham terhadap pesan-pesan yang disampaikan jelang Pilkada Aceh. Diskusi yang berlangsung di Cafe Pustaka, Rabu (20/7) sore itu digagas oleh Forum Kajian Aneuk Politik (FKAP) dengan The Aceh Institute dan Liga Inong Acheh (LINA).
Ada tiga yang menurutnya kisruh politik jelang Pilkada Aceh nanti, yaitu ada konflik antar Aceh dan Jakarta, konflik antar elite politik dan konflik di level basis. Menurut dia, permasalahan di Aceh belum selesai, namun ada yang menganggap persoalan di Aceh sudah selesai dengan adanya damai di Aceh. “Sebenarnya proses transisi kepentingan yang paling besar adalah kepentingan Aceh,” kata Zahri sapaan akrabnya.
Terkait soal latar belakang pendidikan anggota PA, diakuinya ada yang berpendidikan rendah dan ada juga yang berpendidikan tinggi. Ada juga anggota yang memiliki pendidikan yang berbeda-beda. Partai Aceh melihat komunikasi politik yang dibangun oleh pakar hukum dan tokoh politik lain dianggapnya seperti “Aliran Sesat”. “kami hanya melihat praktis saja ketika UUPA di utak-atik dengan pasal 256 oleh Mahkamah Konstitusi (MK), justru itu yang ditentang,” kata Zahri yang mengakui bukan persoalan independen atau tidak independen yang jadi masalah.
Sehingga Partai Aceh sangat fokus harus luruskan dan harus mempertahankan UUPA ini. Dia menganggap persoalan hukum di Indonesia tidak pernah sempurna dan paling banyak berubah serta tidak konsisten. Terkait adanya calon independen atau tidak ada, ini yang harus disikapi dalam ranah Aceh bukan ranah Jakarta. Demikian Nur Zahri dari Partai Aceh.
Sumber : Firman Hidayat - The Globe Journal
Kanji rumbi menu buka puasa khas Aceh
Kanji rumbi ini terbuat dari campuran repah-rempah yang sudah di giling sebagai bumbu utama (bumbunya..ini sudah dicampur semua, ada merica, jahe,kunyit, dan banyak lagi campuran bumbu dapur lainnya), beras, sayur-sayuran (seperti wortel, kentang) dan sejumlah daun-dedaunan, Agar kanji rumbi lebih nikmat, masukkan daging ayam yang sudah di cincang kecil-kecil atau udang .
Kanji rumbi juga di percaya berkhasiat sebagai obat untuk menghilangkan angin dalam tubuh.
Untuk anda yang ingin mencicipinya datanglah ke Aceh ke mesjid-mesjid yang mengadakan acara buka puasa bersama.
Ratu Nurillah - Ratu Terkenal Dari Kerajaan Samudera Pasai
Ratu Nur Ilah merupakan salah satu penguasa perempuan yang terkenal dalam sejarah Kerajaan Pasai. Ia mangkat pada tahun 1380 Masehi. Ia diangkat menjadi ratu setelah Pasai diserang oleh Majapahit.
Mengenai sejarah perempuan perkasa ini sudah banyak ditulis oleh para ahli sejarah, diantara Dr Hoesein Djajaninggrat, yang langsung meneliti pahatan tulisan beraksara Arab di makanya. Kemudian Dr Othman M Yatim pakar arkeologi Islam Malaysi bersama Abdul Halim Nasir.
Menurut mereka, inskripsi yang terdapat pada nisan yang bertulisan Arab menyebutkan angka tahun mangkat sang Ratu yaitu Jumat 14 Zulhijah tahun 791 Hijrah, sedangkan yang tertera pada nisan yang berhuruf Jawa Kuno terpahat tahun 781 Hijrah. Jadi, antara kedua nisan itu terdapat selisih 10 tahun.
Menurut Dr W F Stutterheim, hal itu terjadi karena kesilapan pemahat sehingga, baginya, tahun yang tertera pada nisan yang bertulisan Jawa Kuno, yang bertepatan dengan tahun 1380 Masehi tersebut, merupakan tahun mangkatnya Ratu itu. Tulisan Jawa Kuno yang terpahat pada nisan yang sebuah lagi telah diteliti oleh Stutterheim dan dimuat dalam Acta Orientalia, Leiden, tahun 1936.
Hooykaas menerjemahkan syair di nisan itu sebagai berikut : “Setelah hijrah Nabi, kekasih, yang telah wafat, tujuh ratus delapan puluh satu tahun, bulan Zulhijah , 14, hari Jumat, Ratu iman Werda rahmat Allah bagi Baginda, dari suku Barubasa [di Gujarat], mempunyai hak atas Kedah dan Pasai, menaruk di laut dan darat semesta, ya Allah, ya Tuhan semesta, taruhlah Baginda dalam swarga Tuhan.’’
Prof Dr T Ibrahim Alfian adalam tulisannya dimuat dalam buku Wanita-wanita Perkasa di Nusantara, data lain yang berkaitan dengan sang Ratu, maupun yang berhubungan dengan takluknya Kedah kepada Pasai, sampai sejauh ini belumlah ditemukan, kecuali informasi dari nisan Ratu Nurilah yang tersebut di atas.
Meskipun demikian, pertalian kebudayaan antara Pasai dan Kedah telah terjalin lama seperti yang terlihat, antara lain, dari persamaan istilah untuk menyukat hasil-hasil pertanian, misalnya padi dan beras. “Stutterheim juga menganggap penyebutan dua kerajaan itu sangat menarik karena antara Pasai dan Kedah di waktu kemudian terdapat hubungan dagang, mengingat, di Selat Malaka, letaknya berseberangan. Mungkin hubungan inilah yang masih tersisa dari kesatuan Kerajaan Sriwijaya dan Kadara masa lalu, yaitu Sumatra dan Malaya,” jelasnya.
Namun yang menjadi pertanyaan baginya adalah mengapa di antara nisan Ratu Nur Ilah ini terdapat tulisan Jawa Kuno? Ratu Nurilah, sebagaimana disebutkan di atas, mangkat pada tahun 1380, masa Kerajaan Majapahit diperintah oleh Prabu Hayam Wuruk. “Patut dicatat bahwa Majapahit berada dalam puncak kejayaan pada pertengahan abad XIV berkat pimpinan Mahapatih Gadjah Mada. Dalam kitab Negarakrtagama yang digubah oleh Prapanca pada tahun 1365 disebutkan bahwa Samudra, tepatnya Samudra Pasai, adalah salah satu daerah yang ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit,” ungkapnya dalam tulisan tersebut.
Kemudian ia melanjutkan, sumber lain mengenai adanya serangan Majapahit terhadap Pasai terdapat dalam Kronika Pasai atau Hikayat Raja-raja Pasai. Meskipun tidak menyebutkan angka tahun penyerangan itu, hikayat ini masih memberikan indikasi waktu, yaitu dengan menceritakan nama raja yang berkuasa pada waktu serangan itu terjadi, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Ahmad.
Hikayat Raja-raja Pasai mengisahkan bahwa setelah tiga hari tiga malam berperang, kalahlah Pasai sehingga rakyat lari cerai berai. Laskar Majapahit masuk ke dalam kota Pasai dan menduduki istana Sultan Ahmad. Banyak rampasan dan tawanan yang mereka peroleh. Sultan Ahmad meninggalkan istana, melarikan diri ke suatu tempat kira-kira lima belas hari perjalanan dari negeri Pasai.
Setelah beberapa lama di Pasai, segala menteri punggawa dan rakyat Jawa dikerahkan oleh Senapati mereka naik ke bahteranya masing-masing, kembali ke Jawa, dengan memuat segala harta rampasan yang begitu banyak. Setelah sampai ke Majapahit, menurut Hikayat Raja-raja Pasai, Sang Nata bertitah, ‘’Akan segala tawanan orang Pasai itu, suruhlah ia duduk di tanah Jawa ini, maka kesukaan hatinya’’. Titah itulah, kata Hikayat Raja-raja Pasai selanjutnya, yang menyebabkan ‘’maka banyak keramat di Tanah Jawa tatkala Pasai kalah oleh Majapahit itu’’.
Dalam kaitan ini P De Roo de la Faille, dalam tulisannya ‘’Bij de Terreinschets van de Heilige Begraafplaats Goenoeng Djati’’, 1920, mengemukakan bahwa ditemukannya cungkub Puteri Cermen di desa Leran dengan candrasengkala 1313 atau 1308 Saka bertepatan dengan tahun 1391 atau 1386 Masehi menunjukkan telah adanya makam Islam di Gresik pada waktu itu. Hal itu, sesuai dengan dugaan de Roo de la Faile, bahwa koloni orang-orang Islam Gresik pada masa itu sesungguhnya berasal dari tawanan orang-orang Islam Pasai yang dibawa ke Majapahit.
Masih menurut Ibrahim Alfian, Dalam sebuah naskah Jawa, Tapel Adam, nama Pasai tercantum dalam sejarah pendakwah-pendakwah Islam pertama. Didalamnya diceritakan bahwa Syaikh Jumadilkubra adalah keturunan Zainul Abidin, sedangkan putera Jumadilkubra yang tertua adalah Maulana Ishak. ‘’wontening pase negeri, anyelammaken taiya, manjing Islam Nate Pase’’, dan puteranya yang kedua, Ibrahim Asmara, ‘’lumampah dateng Cempa’’.
Di dalam naskah Tapel Adam juga dikisahkan tentang Batara Majapahit yang memperisterikan puteri Raja Pasai dan saudara puteri itu datang ke Majapahit serta kemudian oleh Batara Majapahit dihadiahkan tanah Ampel-denta sebagai tempat kediamannya. Cerita seumpama ini terdapat pula dalam Hikayat Banjar yang juga akan dikemukakan di bawah ini.
Kemudian lanjut Ibrahim Alfian, pada akhir naskah Hikayat Raja-raja Pasai diceritakan sebagai berikut. ‘’Bahwa ini negeri yang takluk kepada Ratu [Raja] Negeri Majapahit kepada zaman pecahnya [kalahnya] Negeri Pasai, ratunya [rajanya] bernama Ahmad.’’
Cerita itu disertai dengan daftar nama-nama 35 buah negeri yang takluk kepada Majapahit, antara lain, untuk menyebutkan beberapa, Tiuman, Riau, Bangka, Sambas, Jambi, Kutai, Bima, Sumbawa, dan Seram. Hikayat Banjar juga menyebutkan bahwa yang takluk kepada Majapahit adalah Banten, Jambi, Palembang, Makasar, Pahang, Patani, Bali, Pasai, Campa, dan Minangkabau.
Nur Ilah Diangkat Jadi Ratu
Masih menurut Ibrahim Alfian, sebelum bala tentara Majapahit meninggalkan Pasai, kembali ke Jawa, rupanya pembesar-pembesar Majapahit telah mengangkat seorang raja, bangsawan Pasai, yang dapat dipercaya untuk memerintah Kerajaan Pasai. Raja ini tiada lain adalah Ratu Nur Ilah, keturunan Sultan Malikuzzahir, yang nisannya ditatah dengan huruf Jawa Kuno atas arahan yang diberikan oleh pembesar-pembesar Majapahit, tentunya.
Antara Kerajaan Majapahit dan Pasai terdapat hubungan persahabatan dan perdagangan yang sangat erat. Malaka yang mulai berkembang sebagai bandar dagang yang besar sekitar tahun 1400 Masehi mengakui peranan Pasai dan Majapahit dalam bidang perdagangan di Selat Malaka.
Tome Pires, yang menulis catatannya di Malaka dan India antara tahun-tahun 1512-1515 dalam Bahasa Portugis, dengan judul Suma Oriental, mengemukakan sebagai berikut. Malaka mengirim dutanya ke Majapahit untuk merayu Raja Jawa agar pedagang-pedagang Jawa mau melakukan kegiatan perdagangannya di Bandar Malaka. Raja Jawa mengemukakan kepada utusan Malaka itu, bahwa jung-jungnya telah lama sekali berlayar ke Pasai untuk berniaga dan ia mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Pasai.
Di pelabuhan Pasai pedagang-pedagang Jawa memperoleh kedudukan istimewa dalam bentuk pembebasan dari keharusan membayar cukai impor serta ekspor dan perolehan barang dagangan yang baik dang menguntungkan. Raja Majapahit menambahkan, meskipun Raja Pasai menjadi vasal Majapahit, penentuan kebijaksanaannya dalam bidang perdagangan terserah kepada Raja Pasai sendiri. Ia sendiri tidak hendak menghapuskan kebiasaan yang telah lama ada dan telah disepakati sejak lama antara kedua kerajaan itu.
Setelah dutanya kembali ke Malaka, Raja Malaka mengirimkan pesan kepada Raja Pasai, mengharapkan kebaikannya agar menyetujui dan tidak berkecil hati jika Jawa berhubungan dagang dengan Malaka, serta memohon kebaikan Raja Pasai untuk megirimkan pedagang-pedagangnya beserta barang-barang dagangannya ke Malaka.
Raja Malaka juga menyampaikan bahwa ia telah mendapat jawaban dari Raja Majapahit, bahwa jika Raja Pasai bersetuju, Raja Majapahit akan berbesar hati. Raja Pasai kemudian mengirimkan utusannya ke Malaka untuk menyampaikan pesan bahwa Pasai tidak keberatan memenuhi permintaan Raja Malaka apabila Raja tersebut bersedia memeluk agama Islam. Akhirnya, Raja Malaka beserta segenap rakyatnya beriman akan Allah dan rasul-Nya dan sesudah itu banyak sekali pedagang Islam dari Pasai pindah berdagang ke Malaka, terutama bangsa Arab, Parsi dan Bengal.
Tautan antara Pasai dan Majapahit juga diungkapkan oleh Dr J J Ras dalam desertasinya yang dipertahankan pada tahun 1968 di Rijksuniversiteit Leiden, yaitu Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography. Di dalamnya dikisahkan tentang Raja Majapahit yang belum Islam, yang mengirim utusannya untuk meminang putri Pasai. Meskipun raja Pasai itu beragama Islam, ia tidak kuasa menolaknya, takut diserang oleh Majapahit. Ia hendak memelihara rakyat dan negerinya dari kebinasaan. Di Majapahit puteri Pasai itu diberi tempat tinggal yang terpisah, tiada bercampur dengan gundik-gundiknya yang lain, agar tiada memakan makanan yang haram.
Selang beberapa waktu datanglah saudara Puteri Pasai, Raja Bungsu namanya. Setelah beberapa lamanya ia di Majapahit, ia ingin kembali ke Pasai. Puteri Pasai itu tiada sekali-kali ingin saudaranya pulang ke Pasai, karena ia tidak mempunyai sanak saudara di Majapahit. Oleh karena Raja Bungsu berkeras hendak pulang juga ke Pasai maka puteri itu merasa sangat sedih. Karena Raja Majapahit sangat sayang kepada Puteri Pasai itu, dimintanya kepada Raja Bungsu agar tinggal saja di Majapahit, agar Puteri itu tidak sampai jatuh sakit. Raja Majapahit bertitah jika Raja Bungsu bersedia tinggal di Majapahit, ia dapat mendirikan rumah ditempat mana saja yang disukainya.
Akhirnya Raja Bungsu memilih Ampel sebagai tempat kediamannya dan Raja Majapahit berkenan meluluskan permohonan Raja Bungsu itu. Ketika menebas hutan di dukuh Ampel itu, Raja Bungsu menemukan kayu gading yang kemudian dijadikan tongkat. Sejak itu, dukuh itu terkenal dengan nama Ampelgading hingga sekarang ini. Karena desa Ampel hendak memeluk agama Islam, Raja Bungsu mengirim utusannya untuk menyampaikan hasrat tersebut kepada saudaranya, Puteri Pasai, yang kemudian meneruskannya kepada suaminya, Raja Majapahit.
Sabda Raja Majapahit menurut Hikayat Banjar, berbunyi demikian: ‘’Katakan arah Bungsu, barang siapa handak masuk Islam itu terima masukkan Islam itu. Jangankan desa itu, maski orang dalam nageri Majapahit ini, namun ia hendak masuk Islam itu, masukkan’’. Setelah suruhan Bungsu kembali ke Ampel, seluruh penduduk Ampel memeluk agama Islam
Sumber: Iskandar Norman - Harian Aceh
Mengenai sejarah perempuan perkasa ini sudah banyak ditulis oleh para ahli sejarah, diantara Dr Hoesein Djajaninggrat, yang langsung meneliti pahatan tulisan beraksara Arab di makanya. Kemudian Dr Othman M Yatim pakar arkeologi Islam Malaysi bersama Abdul Halim Nasir.
Menurut mereka, inskripsi yang terdapat pada nisan yang bertulisan Arab menyebutkan angka tahun mangkat sang Ratu yaitu Jumat 14 Zulhijah tahun 791 Hijrah, sedangkan yang tertera pada nisan yang berhuruf Jawa Kuno terpahat tahun 781 Hijrah. Jadi, antara kedua nisan itu terdapat selisih 10 tahun.
Menurut Dr W F Stutterheim, hal itu terjadi karena kesilapan pemahat sehingga, baginya, tahun yang tertera pada nisan yang bertulisan Jawa Kuno, yang bertepatan dengan tahun 1380 Masehi tersebut, merupakan tahun mangkatnya Ratu itu. Tulisan Jawa Kuno yang terpahat pada nisan yang sebuah lagi telah diteliti oleh Stutterheim dan dimuat dalam Acta Orientalia, Leiden, tahun 1936.
Hooykaas menerjemahkan syair di nisan itu sebagai berikut : “Setelah hijrah Nabi, kekasih, yang telah wafat, tujuh ratus delapan puluh satu tahun, bulan Zulhijah , 14, hari Jumat, Ratu iman Werda rahmat Allah bagi Baginda, dari suku Barubasa [di Gujarat], mempunyai hak atas Kedah dan Pasai, menaruk di laut dan darat semesta, ya Allah, ya Tuhan semesta, taruhlah Baginda dalam swarga Tuhan.’’
Prof Dr T Ibrahim Alfian adalam tulisannya dimuat dalam buku Wanita-wanita Perkasa di Nusantara, data lain yang berkaitan dengan sang Ratu, maupun yang berhubungan dengan takluknya Kedah kepada Pasai, sampai sejauh ini belumlah ditemukan, kecuali informasi dari nisan Ratu Nurilah yang tersebut di atas.
Meskipun demikian, pertalian kebudayaan antara Pasai dan Kedah telah terjalin lama seperti yang terlihat, antara lain, dari persamaan istilah untuk menyukat hasil-hasil pertanian, misalnya padi dan beras. “Stutterheim juga menganggap penyebutan dua kerajaan itu sangat menarik karena antara Pasai dan Kedah di waktu kemudian terdapat hubungan dagang, mengingat, di Selat Malaka, letaknya berseberangan. Mungkin hubungan inilah yang masih tersisa dari kesatuan Kerajaan Sriwijaya dan Kadara masa lalu, yaitu Sumatra dan Malaya,” jelasnya.
Namun yang menjadi pertanyaan baginya adalah mengapa di antara nisan Ratu Nur Ilah ini terdapat tulisan Jawa Kuno? Ratu Nurilah, sebagaimana disebutkan di atas, mangkat pada tahun 1380, masa Kerajaan Majapahit diperintah oleh Prabu Hayam Wuruk. “Patut dicatat bahwa Majapahit berada dalam puncak kejayaan pada pertengahan abad XIV berkat pimpinan Mahapatih Gadjah Mada. Dalam kitab Negarakrtagama yang digubah oleh Prapanca pada tahun 1365 disebutkan bahwa Samudra, tepatnya Samudra Pasai, adalah salah satu daerah yang ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit,” ungkapnya dalam tulisan tersebut.
Kemudian ia melanjutkan, sumber lain mengenai adanya serangan Majapahit terhadap Pasai terdapat dalam Kronika Pasai atau Hikayat Raja-raja Pasai. Meskipun tidak menyebutkan angka tahun penyerangan itu, hikayat ini masih memberikan indikasi waktu, yaitu dengan menceritakan nama raja yang berkuasa pada waktu serangan itu terjadi, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Ahmad.
Hikayat Raja-raja Pasai mengisahkan bahwa setelah tiga hari tiga malam berperang, kalahlah Pasai sehingga rakyat lari cerai berai. Laskar Majapahit masuk ke dalam kota Pasai dan menduduki istana Sultan Ahmad. Banyak rampasan dan tawanan yang mereka peroleh. Sultan Ahmad meninggalkan istana, melarikan diri ke suatu tempat kira-kira lima belas hari perjalanan dari negeri Pasai.
Setelah beberapa lama di Pasai, segala menteri punggawa dan rakyat Jawa dikerahkan oleh Senapati mereka naik ke bahteranya masing-masing, kembali ke Jawa, dengan memuat segala harta rampasan yang begitu banyak. Setelah sampai ke Majapahit, menurut Hikayat Raja-raja Pasai, Sang Nata bertitah, ‘’Akan segala tawanan orang Pasai itu, suruhlah ia duduk di tanah Jawa ini, maka kesukaan hatinya’’. Titah itulah, kata Hikayat Raja-raja Pasai selanjutnya, yang menyebabkan ‘’maka banyak keramat di Tanah Jawa tatkala Pasai kalah oleh Majapahit itu’’.
Dalam kaitan ini P De Roo de la Faille, dalam tulisannya ‘’Bij de Terreinschets van de Heilige Begraafplaats Goenoeng Djati’’, 1920, mengemukakan bahwa ditemukannya cungkub Puteri Cermen di desa Leran dengan candrasengkala 1313 atau 1308 Saka bertepatan dengan tahun 1391 atau 1386 Masehi menunjukkan telah adanya makam Islam di Gresik pada waktu itu. Hal itu, sesuai dengan dugaan de Roo de la Faile, bahwa koloni orang-orang Islam Gresik pada masa itu sesungguhnya berasal dari tawanan orang-orang Islam Pasai yang dibawa ke Majapahit.
Masih menurut Ibrahim Alfian, Dalam sebuah naskah Jawa, Tapel Adam, nama Pasai tercantum dalam sejarah pendakwah-pendakwah Islam pertama. Didalamnya diceritakan bahwa Syaikh Jumadilkubra adalah keturunan Zainul Abidin, sedangkan putera Jumadilkubra yang tertua adalah Maulana Ishak. ‘’wontening pase negeri, anyelammaken taiya, manjing Islam Nate Pase’’, dan puteranya yang kedua, Ibrahim Asmara, ‘’lumampah dateng Cempa’’.
Di dalam naskah Tapel Adam juga dikisahkan tentang Batara Majapahit yang memperisterikan puteri Raja Pasai dan saudara puteri itu datang ke Majapahit serta kemudian oleh Batara Majapahit dihadiahkan tanah Ampel-denta sebagai tempat kediamannya. Cerita seumpama ini terdapat pula dalam Hikayat Banjar yang juga akan dikemukakan di bawah ini.
Kemudian lanjut Ibrahim Alfian, pada akhir naskah Hikayat Raja-raja Pasai diceritakan sebagai berikut. ‘’Bahwa ini negeri yang takluk kepada Ratu [Raja] Negeri Majapahit kepada zaman pecahnya [kalahnya] Negeri Pasai, ratunya [rajanya] bernama Ahmad.’’
Cerita itu disertai dengan daftar nama-nama 35 buah negeri yang takluk kepada Majapahit, antara lain, untuk menyebutkan beberapa, Tiuman, Riau, Bangka, Sambas, Jambi, Kutai, Bima, Sumbawa, dan Seram. Hikayat Banjar juga menyebutkan bahwa yang takluk kepada Majapahit adalah Banten, Jambi, Palembang, Makasar, Pahang, Patani, Bali, Pasai, Campa, dan Minangkabau.
Nur Ilah Diangkat Jadi Ratu
Masih menurut Ibrahim Alfian, sebelum bala tentara Majapahit meninggalkan Pasai, kembali ke Jawa, rupanya pembesar-pembesar Majapahit telah mengangkat seorang raja, bangsawan Pasai, yang dapat dipercaya untuk memerintah Kerajaan Pasai. Raja ini tiada lain adalah Ratu Nur Ilah, keturunan Sultan Malikuzzahir, yang nisannya ditatah dengan huruf Jawa Kuno atas arahan yang diberikan oleh pembesar-pembesar Majapahit, tentunya.
Antara Kerajaan Majapahit dan Pasai terdapat hubungan persahabatan dan perdagangan yang sangat erat. Malaka yang mulai berkembang sebagai bandar dagang yang besar sekitar tahun 1400 Masehi mengakui peranan Pasai dan Majapahit dalam bidang perdagangan di Selat Malaka.
Tome Pires, yang menulis catatannya di Malaka dan India antara tahun-tahun 1512-1515 dalam Bahasa Portugis, dengan judul Suma Oriental, mengemukakan sebagai berikut. Malaka mengirim dutanya ke Majapahit untuk merayu Raja Jawa agar pedagang-pedagang Jawa mau melakukan kegiatan perdagangannya di Bandar Malaka. Raja Jawa mengemukakan kepada utusan Malaka itu, bahwa jung-jungnya telah lama sekali berlayar ke Pasai untuk berniaga dan ia mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Pasai.
Di pelabuhan Pasai pedagang-pedagang Jawa memperoleh kedudukan istimewa dalam bentuk pembebasan dari keharusan membayar cukai impor serta ekspor dan perolehan barang dagangan yang baik dang menguntungkan. Raja Majapahit menambahkan, meskipun Raja Pasai menjadi vasal Majapahit, penentuan kebijaksanaannya dalam bidang perdagangan terserah kepada Raja Pasai sendiri. Ia sendiri tidak hendak menghapuskan kebiasaan yang telah lama ada dan telah disepakati sejak lama antara kedua kerajaan itu.
Setelah dutanya kembali ke Malaka, Raja Malaka mengirimkan pesan kepada Raja Pasai, mengharapkan kebaikannya agar menyetujui dan tidak berkecil hati jika Jawa berhubungan dagang dengan Malaka, serta memohon kebaikan Raja Pasai untuk megirimkan pedagang-pedagangnya beserta barang-barang dagangannya ke Malaka.
Raja Malaka juga menyampaikan bahwa ia telah mendapat jawaban dari Raja Majapahit, bahwa jika Raja Pasai bersetuju, Raja Majapahit akan berbesar hati. Raja Pasai kemudian mengirimkan utusannya ke Malaka untuk menyampaikan pesan bahwa Pasai tidak keberatan memenuhi permintaan Raja Malaka apabila Raja tersebut bersedia memeluk agama Islam. Akhirnya, Raja Malaka beserta segenap rakyatnya beriman akan Allah dan rasul-Nya dan sesudah itu banyak sekali pedagang Islam dari Pasai pindah berdagang ke Malaka, terutama bangsa Arab, Parsi dan Bengal.
Tautan antara Pasai dan Majapahit juga diungkapkan oleh Dr J J Ras dalam desertasinya yang dipertahankan pada tahun 1968 di Rijksuniversiteit Leiden, yaitu Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography. Di dalamnya dikisahkan tentang Raja Majapahit yang belum Islam, yang mengirim utusannya untuk meminang putri Pasai. Meskipun raja Pasai itu beragama Islam, ia tidak kuasa menolaknya, takut diserang oleh Majapahit. Ia hendak memelihara rakyat dan negerinya dari kebinasaan. Di Majapahit puteri Pasai itu diberi tempat tinggal yang terpisah, tiada bercampur dengan gundik-gundiknya yang lain, agar tiada memakan makanan yang haram.
Selang beberapa waktu datanglah saudara Puteri Pasai, Raja Bungsu namanya. Setelah beberapa lamanya ia di Majapahit, ia ingin kembali ke Pasai. Puteri Pasai itu tiada sekali-kali ingin saudaranya pulang ke Pasai, karena ia tidak mempunyai sanak saudara di Majapahit. Oleh karena Raja Bungsu berkeras hendak pulang juga ke Pasai maka puteri itu merasa sangat sedih. Karena Raja Majapahit sangat sayang kepada Puteri Pasai itu, dimintanya kepada Raja Bungsu agar tinggal saja di Majapahit, agar Puteri itu tidak sampai jatuh sakit. Raja Majapahit bertitah jika Raja Bungsu bersedia tinggal di Majapahit, ia dapat mendirikan rumah ditempat mana saja yang disukainya.
Akhirnya Raja Bungsu memilih Ampel sebagai tempat kediamannya dan Raja Majapahit berkenan meluluskan permohonan Raja Bungsu itu. Ketika menebas hutan di dukuh Ampel itu, Raja Bungsu menemukan kayu gading yang kemudian dijadikan tongkat. Sejak itu, dukuh itu terkenal dengan nama Ampelgading hingga sekarang ini. Karena desa Ampel hendak memeluk agama Islam, Raja Bungsu mengirim utusannya untuk menyampaikan hasrat tersebut kepada saudaranya, Puteri Pasai, yang kemudian meneruskannya kepada suaminya, Raja Majapahit.
Sabda Raja Majapahit menurut Hikayat Banjar, berbunyi demikian: ‘’Katakan arah Bungsu, barang siapa handak masuk Islam itu terima masukkan Islam itu. Jangankan desa itu, maski orang dalam nageri Majapahit ini, namun ia hendak masuk Islam itu, masukkan’’. Setelah suruhan Bungsu kembali ke Ampel, seluruh penduduk Ampel memeluk agama Islam
Sumber: Iskandar Norman - Harian Aceh
Partai Aceh tidak Akan Gunakan Kekerasan dalam Pilkada Aceh 2011
Ketua Departemen Pendidikan Partai Aceh, Nur Zahri, menyatakan Partai Aceh tidak akan menggunakan strategi kekerasan dalam pemilihan kepala daerah yang telah dijadwalkan KIP Aceh pada November 2011 mendatang.

Pernyataan itu dikatakan Nur Zahri dalam diskusi publik strategi komunikasi politik jelang pilkada 2011 di Cafe Pustaka Banda Aceh, Rabu sore.
Selain menyatakan strategi yang akan digunakan pada Pilkada 2011 itu, dia juga membeberkan strategi komunikasi politik yang telah diterapkan di tubuh Partai Aceh.
“Meski pendidikan kami umumnya kurang, tapi pesan yang disampaikan sampai ke basis kami,” ujar dia.
Pada Pilkada 2011, Partai Aceh mengusung pasangan Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf sebagai calon gubernur dan wakil gubernur.
“Partai Aceh juga membuka konvensi dalam menentukan calon yang diusungnya,” kata dia.
“Namun mekanisme konvensi dalam tubuh Partai Aceh dilakukan melalui sagoe-sagoe di seluruh Aceh,” sebut Nur Zahri. []
Sumber :Husaini - Aceh Kita

Pernyataan itu dikatakan Nur Zahri dalam diskusi publik strategi komunikasi politik jelang pilkada 2011 di Cafe Pustaka Banda Aceh, Rabu sore.
Selain menyatakan strategi yang akan digunakan pada Pilkada 2011 itu, dia juga membeberkan strategi komunikasi politik yang telah diterapkan di tubuh Partai Aceh.
“Meski pendidikan kami umumnya kurang, tapi pesan yang disampaikan sampai ke basis kami,” ujar dia.
Pada Pilkada 2011, Partai Aceh mengusung pasangan Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf sebagai calon gubernur dan wakil gubernur.
“Partai Aceh juga membuka konvensi dalam menentukan calon yang diusungnya,” kata dia.
“Namun mekanisme konvensi dalam tubuh Partai Aceh dilakukan melalui sagoe-sagoe di seluruh Aceh,” sebut Nur Zahri. []
Sumber :Husaini - Aceh Kita
Langganan:
Postingan (Atom)