Rabu, 03 April 2013

Hargo Dumilah, Puncak Tertinggi Gunung Lawu

Gemuruh angin gunung yang terdengar samar sambil sesekali menghembuskan udara dingin khas daerah pegunungan seolah memaksa saya untuk tetap bermanja-manja mencari kehangatan di dalam balutan sleeping bag yang sudah saya tata. Pondokan sederhana milik Mbok Yem memang cukup nyaman untuk ditinggali untuk memulihkan tenaga sebelum melanjutkan pendakian hingga ke puncak Gunung Lawu. Suara kokokan ayam jantan akhirnya memaksa kami semua untuk meninggalkan kehangatan sleeping bag dan segera bersiap untuk memulai hari. Pagi itu masih sedikit gelap, tak kuasa gigi ini bergemelutuk menahan dinginnya hawa pegunungan yang menerpa badan ketika saya keluar dari dalam pondokan.


Semburat warna orange muncul dari ufuk timur menyambut saya ketika keluar dari gubug. Udara dingin yang menusuk di badan seolah tak begitu saya hiraukan ketika melihat indahnya sang surya yang muncul dari peraduannya.

"Wah sayang masnya udah kesiangan, coba tadi keluar lebih pagi lagi, matahari terbitnya lebih cantik", kata bapak-bapak pondokan mengawali pembicaraan pagi itu. 
"Wah saya ga kuat pak sama hawa dinginnya kalau keluar pondokan pagi-pagi gitu", jawab saya menimpali di bapak.
Puas menikmati matahari terbit, saya pun kembali masuk ke dalam pondokan dan memesan segelas teh manis hangat untuk menghangatkan badan. Rencana hari ini adalah menyelesaikan perjalanan menuju puncak dan kemudian kembali turun ke bawah. Segelas teh hangat pun habis kami seruput, saatnya untuk bersiap menuju puncak Hargo Dumilah. Barang-barang memang sengaja kami titipkan di dalam pondokan agar tidak terlalu membebani kami saat berjalanan menuju puncak. Perjalanan dari pondok Mbok Yem menuju puncak memang tidak begitu jauh, namun medan yang harus dilalui memiliki kemiringan yang cukup tajam. Jika kata orang setempat perjalanan hanya menempuh waktu sekitar 15 menit, namun bagi pemula seperti saya waktu tempuh dapat menjadi 30-45 menit perjalanan. Sempat terbersit pikiran untuk membatalkan pendakian menuju puncak karena medan yang harus dilalui cukup berat bagi saya. Namun berkat dorongan dari teman-teman saya, akhirnya saya pun dapat sampai hingga tugu Hargo Dumilah, puncak tertinggi Gunung Lawu di ketinggian 3.265 MDPL.



Emosi memang tidak dapat terbendung lagi. Seketika saya dan kawan-kawan berteriak sekencang yang kami bisa karena akhirnya kami berhasil mencapai puncak Gunung Lawu setelah dua hari menempuh perjalanan. Ya, kami sudah menginjakkan kaki di puncak Hargo Dumilah ! Bagi saya pemandangan di puncak memang tidak terlalu seberapa indahnya. Namun, di sini saya belajar beberapa hal, belajar untuk menghargai dan menikmati sebuah proses dari sebuah perjalanan. Beruntung pagi itu cuaca di puncak sangat cerah. Terlihat sebuah padang rumput membentang jauh di bawah. Awan-awan putih yang terlihat pun seolah berada nan jauh di bawah sana pula. Sungguh saya sangat mensyukuri anugerah Sang Kuasa yang menciptakan alam semesta yang begitu indahnya. Bersyukur saya dapat menikmati sebagian kecil dari ciptaan-Nya yang begitu indah.




Sekitar 1,5 jam kami menikmati keindahan pemandangan di puncak Hargo Dumilah. Kabut tipis pun perlahan turun menyelimuti puncak yang menandakan kami harus segera turun. Sesampainya di pondokan kami pun segera memesan sarapan, nasi pecel dengan lauk telur ceplok. Seusai berkemas dan membayar seluruh pesanan makanan kami pun segera melanjutkan perjalanan pulang. Rasa lelah yang mendera badan pun seolah tak kami hiraukan. Perjalanan hingga puncak Hargo Dumilah pun seolah memberikan energi tersendiri bagi semangat kami.

keterangan :
satu porsi nasi pecel dengan lauk telur di warung Mbok Yem dihargai Rp 7.000,00 dan segelas teh hangat dihargai Rp 2.000,00. Harga yang cukup murah menurut saya mengingat sulitnya medan menuju puncak dan sangat sulit untuk menemukan warung makan di atas gunung. 

Senin, 01 April 2013

Trip Jelajah 7 April 2013

Telapak Sumut

Salam Petualang..

Telapak Sumut kembali lagi melakukan perjalanan menjelajah alam yang ada di Sumatera Utara. Adapun  Trip jelajah pada Minggu, 7 April 2013 adalah sebagai berikut :

Trip Jelajah       : - SAMPUREN EDELWEISS (Deleng Gerat, Lau Gumuh)
                          - Expedisi GOA RUMAH LIANG ARSI (Bah Buntu)
Waktu              : Jam 07.30 Wib (ontime)
Dana                : 10.000 /orang.
Contact Person : Abay (083197992764)
Titik Kumpul     : Rumah Abay (Jl. Deli Tua Komp. Ardagusema no.57)

Deskripsi : Di sepanjang jalur tracking anda akan di suguhkan pemandangan bukit barisan yang berlapis-lapis dan kawasan hutan lindung yang masih alami. Air sungai bisa langsung di minum, menurut warga sekitar air sungai ini lebih bagus dari pada air mineral kemasan yang di jual-jual.

Peralatan/Perlengkapan :
  • Pakaian Ganti
  • Headlamp/Senter
  • Ponco/Mantel
  • Pisau/Belati
  • Ban dalam motor cadangan
  • Makanan
  • Obat-Obatan
  • dsb

Tunggu apa lagi, Segera bergabung yang pasti gak bakalan nyesel bagi rekan-rekan yang ikut serta didalamnya. Dan Lihat cerita perjalanan kami ini DISINI

Come join us....

Lestari !!!

Kamis, 28 Maret 2013

Hargo Dumilah - Perjalanan Menuju 3265 MDPL yang Penuh Hikmah (Part III)

Tanjakan demi tanjakan sepanjang jalan setapak pun kami lalui disertai dengan hujan gerimis dan jatuhnya senja yang setia menemani. Udara dingin yang menyelimuti seolah tidak terlalu kami hiraukan sama sekali. Hingga pada akhirnya senja pun berganti dengan gelapnya malam yang kini menemani. Kami putuskan untuk mendirikan tenda di pos kedua. Sembari mengistirahatkan badan untuk kemudian melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya. Hangatnya mie rebus, kopi hitam, dan beberapa cemilan seolah semakin melengkapi obrolan hangat dalam pendakian gunung kali ini. Hari pun semakin larut, kami pun mulai terlelap tidur di dalam tenda yang beralaskan sleeping bag yang kami bawa.


Kamis, 31 Januari 2013
Suara gemuruh dan bau belerang yang sedikit menyengat yang berasal dari aktivitas sumur vulkanik pegunungan pun membangunkan saya dari tidur singkat semalam. Udara pegunungan yang segar, suasana hening diselingi dengan kicuan burung liar seolah menyambut pagi saya ketika keluar dari dalam tenda. Sesekali terlihat buurung-burung liar yang berlarian melompat-lompat di atas rerumputan seolah-olah mengajak untuk berkenalan. Selesai mengisi perut dan merapikan tenda, kami pun kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan setapak untuk mencapai puncak.

Perjalanan menuju pos puncak kali ini memakan waktu seharian, dari pagi hingga sore menjelang. Maklum, sebagian dari kami merupakan pendaki pemula, dan waktu pendakian bukanlah target utama. Jalan yang semula cukup datar kemudian berganti dengan jalan setapak yang cukup terjal. Beberapa kali saya harus berhenti untuk mengatur nafas sebelum menaiki jalanan terjal tersebut. Di dalam setiap tempat peristirahatan, saya melihat pemandangan alam yang cantik dengan latar perbukitan yang menjulang. Awan-awan putih yang berjalan perlahan seolah berada di bawah kaki kita. Sayang, saya tak sempat mengabadikan karena terlalu sibuk mengatur nafas yang sedikit tersengal. Langkah demi langkah pun kami lalui hingga pada akhirnya tiba di pos ketiga. Di pos ini pun kami bertemu dengan rombongan pendaki dan tak lupa kami pun bertegur sapa, serasa seperti keluarga.

Selepas pos ketiga kami menemukan sebuah mata air yang sangat jernih. Kami pun berhenti untuk mengambil air yang sudah mulai habis untuk perbekalan selama perjalanan nanti. Jujur, perjalanan menuju pos keempat merupakan perjalanan yang paling berat menurut saya, apalagi jika sudah melalui daerah Pasar Setan, tempat yang konon ketika malam sering terdengar suara kegaduhan. Lokasi Pasar Setan ini berupa jalan setapak kecil yang penuh dengan bebatuan dengan tanjakan-tanjakan yang cukup curam serta diapit oleh jurang di salah satu sisinya. Cuaca di kawasan ini juga cukup labil, kadang cerah, namun tiba-tiba kabut tebal turun seketika. Untuk menghemat waktu beberapa teman saya memilih melewati jalur short cut dengan kemiringan yang cukup curam. Hal ini semakin menguras tenaga kami dalam perjalanan pendakian ini.



Rasa lelah dengan medan yang curam seolah hilang setelah kami melihat sebuah gubug sederhana, gubug yang dijadikan sebagai pos peristirahatan yang diberi nama pos keempat. Di sini kami merasa kegirangan karena menemukan sebuah padang rumput dengan tanah yang cukup lapang. Di bagian ini juga terdapat monumen peringatan pendaki yang menjadi korban dan meregang nyawa di Gunung Lawu ini. Satu hal yang saya petik dari tugu monumen tersebut, kita harus selalu waspada dan berhati-hati selama melakukan pendakian. Dari pos empat perjalanan pun kami lanjutkan menuju Hargo Dalem, sebuah warung makan sederhana sekaligus sebagai tempat peristirahatan para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak tertinggi Gunung Lawu ini.


Tak terasa senja pun hampir tiba ketika kami tiba di Hargo Dalem. Sebuah gubug sederhana seolah menyambut kedatangan kami yang ingin segera merebahkan kaki. Ah, akhirnya kami juga di warung makan sederhana miliki Mbok Yem ini. Kami pun segera masuk ke dalam warung untuk meletakkan barang sambil memesan nasi pecel untuk memberi jatah makan perut kami yang semenjak tadi sudah tidak dapat diajak kompromi.

Jumat, 22 Maret 2013

Mengexplore Desa Penen, Peria ria, dan Desa Cinta Rakyat

Telapak Sumut
Salam Petualang... 

Telapak Sumut kembali lagi melakukan perjalanan menjelajah alam yang ada di Sumatera Utara. Adapun  Trip jelajah pada Minggu, 24 Maret 2013 adalah sebagai berikut :

Lokasi              : Desa Penen, Peria Ria, dan Desa Cinta Rakyat. 
Waktu              : Jam 07.00 Wib (ontime)
Dana                : 10.000 /orang.
Tujuan              : Mencari Tau tentang Situs Alam, Budaya, dan Sejarah di ketiga Desa tersebut
Contact Person : Abay (083197992764)
Titik Kumpul     : Rumah Abay (Jl. Deli Tua Komp. Ardagusema no.57)

Peralatan/Perlengkapan :
  • Pakaian Ganti
  • Headlamp/Senter
  • Ponco/Mantel
  • Obat-Obatan
  • dsb

Tunggu apa lagi, Segera bergabung yang pasti gak bakalan nyesel bagi rekan-rekan yang ikut serta didalamnya.

Come join us....

dan Nantikan kisah perjalanannya DISINI

Lestari !!!

Jumat, 15 Maret 2013

Heritage Cafe - Hidangan Mewah dengan Harga Relatif Murah

Variasi menu dengan bahan dasar tempe, saya selalu teringat dengan Heritage Cafe !


Perjalanan menjelajahi kuliner unik saya kali ini kembali ingin mereview beberapa menu yang ada di Heritage Cafe. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya mereview beberapa menu yang tergolong sebagai cemilan, bukan main course dari cafe ini. Heritage Cafe merupakan sebuah cafe mungil yang berada di Jalan Surokarsan 24, tepatnya di sebelah selatan Lembaga Permasyarakatan Wirogunan. Menempati sebuah rumah yang mungil dengan gaya bangunan tempo dulu, membuat Heritage Cafe ini memiliki atmosfer jadul yang elegan. Cafe ini memang tidak terlalu besar, meja dan kursi tamu ditata di bagian teras depan sehingga memberikan nuansa semi outdoor  yang menyenangkan. Jika Anda ingin suasana yang lebih privat, Anda dapat memilih ruangan yang berada di bagian dalam bangunan. 


Berawal dari bahan dasar tempe dapat dibuat berbagai macam hidangan mewah dengan harga yang relatif murah. Dari sekian main course yang terpasang di daftar menu, pilihan saya tertuju pada menu tempe cordon bleu dan juga steak tempe. Unik memang, karena kedua menu ini lazimnya menggunakan ayam sebagai bahan utama dalam masakan. Dibutuhkan sedikit kesabaran untuk menunggu pesanan menu ini datang tersaji di atas meja makan. Menu pertama yang saya cicipi adalah tempe cordon bleu yang tersaji manis di atas piring bulat berwarna putih. Menu tempe cordon bleu ini terdiri dari tempe yang digoreng dengan tepung panir, disiram dengan saus khusus, dipadukan dengan mashed potatoes, brokoli dan wortel yang di-steam. Rasa dari si tempe ini cukup gurih, terasa renyah dengan balutan tepung panir. Mashed potatoes-nya juga cukup terasa gurih dan sedikit creamy dari campuran susu. Brokoli dan wortelnya dimasak dengan medium well-cooked sehingga tekstur dari sayur segar masih terasa "renyah" saat berada di dalam lidah. Rasa gurih dari siraman saus (yang kemungkinan berasal dari mashed potatoes) yang diencerkan, akan lebih imbang jika dicampur dengan saus sambal. Rasa gurih bercampur pedas menjadikan menu tempe cordon bleu ini memiliki rasa yang pas. Seporsi tempe cordon bleu ini dihargai Rp 12.000,00 saja, cukup terjangkau bukan?


Menu selanjutnya yang saya pesan adalah steak tempe. Ya, menu ini adalah menu yang menjadi andalan dari Heritage Cafe. And in my opinion this is the best menu which presented by this cafe ! Steak tempe  terdiri dari campuran tempe yang disajikan dengan french fries, serta brokoli dan wortel yang di-steam. Menu ini terasa istimewa karena campuran steak sauce yang disiramkan di atas tempe memiliki rasa yang sangat juara. Campuran french fries cukup banyak dengan tekstur yang cukup renyah dan rasa yang gurih. Steak sauce-nya memiliki campuran rasa manis dan juga rasa spicy dari merica. Sayur yang di-steam memang sengaja tidak dimasak terlalu matang sehingga masih memiliki tekstur yang renyah seperti sayuran yang masih segar. Tempe yang disajikan memiliki tektur yang sedikit keras namun cukup renyah saat dikunyah. Satu porsi steak tempe ini dihargai Rp 11.500,00 saja. Yak, berawal dari bahan yang murah dapat disulap menjadi hidangan mewah.  



Untuk minuman, saya memilih untuk memesan ice rosela tea double. Minuman ini disajikan di dalam teko kecil berbentuk bulat yang unik. Tak ada rasa yang istimewa memang, namun memiliki sisi unik di dalam penyajian.  Ice rosela tea double ini dihargai Rp 5.500,00 saja, porsi yang cukup besar memang pas bagi saya yang gampang merasa haus. Heritage Cafe memang boleh dikatakan sebagai salah satu cafe yang menyediakan menu-menu makanan yang cocok bagi Anda yang termasuk kaum vegetarian. Beragam menu kreasi dari bahan dasar tempe dapat Anda temui di sini. Cafe yang memiliki nuansa lighting yang sedikit remang-remang ini memang cocok dijadikan sebagai tempat untuk berkumpul sambil menikmati hidangan. Ada pula fasilitas free-wifi yang sangat membantu Anda untuk mengerjakan tugas-tugas dan pekerjaan sambil berinternet ria. Cafe yang buka mulai pukul 16.00 sampai dengan 23.00 ini cocok dijadikan sebagai salah satu alternatif tempat untuk bersantap malam sambil melepas penat dari rutinitas harian Anda.

Kamis, 14 Maret 2013

Hargo Dumilah - Perjalanan Menuju 3265 MDPL yang Penuh Hikmah (Part II)

Goncangan dari kendaraan yang melaju cukup kencang tiba-tiba saja membangunkan saya dari tidur singkat siang itu. Jalanan yang semula datar kini mulai naik-turun dengan kelokan-kelokan yang cukup tajam di beberapa sudut jalan. Sejuknya hawa lereng pegunungan kini sudah mulai terasa. Pemandangan sawah-sawah dengan kontur terasiring mulai terlihat di kanan-kiri jalan. Ah, akhirnya sudah memasuki kawasan lereng Gunung Lawu juga. Siang itu mata saya cukup tercengang dengan pemandangan anak sekolah yang naik angkot berdiri di bagian belakang. Badan mereka memeluk bagian kaca belakang mobil bak spyderman  yang merangkak di sebuah gedung yang tinggi. Miris juga melihat keadaan mereka yang harus berjuang sedemikian rupa untuk dapat pulang-pergi ke sekolah. Minimnya akses kendaraan umum memaksa mereka harus berjuang sedemikian rupa untuk dapat terangkut oleh angkot, entahlah, apakah mereka tidak terlalu memperdulikan nyawa mereka, yang penting segera sampai di rumah tercinta barangkali.

Pandangan mata saya kemudian disibukkan dengan pemandangan perbukitan yang cantik di sepanjang jalan. Tak berapa lama kemudian bus yang saya tumpangi pun memasuki terminal Tawangmangu. Terminal ini berada tepat di depan pasar Tawangmangu. Walaupun masih berupa pasar tradisional, namun pasar ini sudah mengalami revitalisasi sehingga nyaman untuk dikunjungi. Pasar ini terkenal dengan dagangan hasil bumi yang beraneka ragam dan juga masih sangat segar. Anda dapat berburu barang-barang hasil pertanian seperti sayur mayur, buah-buahan, aneka macam olahan keripik sebagai buah tangan. Saya jadi ingat, dulu setiap kali ke Tawangmangu bersama keluarga, oleh-oleh yang tak boleh terlewat ketika menyambangi pasar ini adalah pisang, jeruk Tawangmangu yang memiliki rasa kecut segar, ketela ungu, dan juga keripik ketela. Selain hasil bumi, pasar ini juga menyediakan kuliner dengan harga yang murah meriah, serta tempat yang cukup bersih.


Walau siang itu perut kami sudah kelabakan minta jatah, namun kami memilih untuk segera meneruskan perjalanan agar tidak terlalu sore tiba di pos awal pendakian. Turun dari bus, kami sudah ditawari oleh bapak-bapak sopir angkot yang mangkal di dekat pasar. Angkot di daerah Tawangmangu berupa Mitsubishi Colt karena memiliki bodi yang lumayan besar dan kekuatan mesin yang tahan untuk medan naik turun. Ah, Tawangmangu sekarang hawanya tidak sedingin dulu. Tujuan kami selanjutnya adalah pos pendakian di   Cemoro Kandang untuk titik awal pendakian. Siang itu lalu lintas cukup lengang, begitu pula dengan penumpang di angkot. Sepanjang jalan mata akan dimanjakan dengan pemandangan vila-vila yang bertebaran. Satu hal yang saya ingat selalu mengenai bangunan rumah di daerah Tawangmangu ini adalah atap rumah yang dibangun cukup pendek, hal ini berguna agar ruangan menjadi lebih hangat.

Tiga puluh menit perjalanan dengan menggunakan angkot pun berlalu, tibalah kami di pos awal pendakian di Cemoro Lawang. Jalur ini sengaja dipilih oleh teman saya karena jalur ini memiliki pemandangan yang cukup cantik selama pendakian nanti. Selesai berbenah, barang-barang kami titipkan di pos awal pendakian, saatnya untuk mengisi perut yang sedari tadi sudah meminta jatah. Warung makan yang berjajar di pinggir jalan pun kami jadikan pilihan untuk mengisi perut yang sudah kelaparan. Banyak pilihan menu yang disediakan di warung-warung yang berjajar ini. Menu andalan di sini tentu saja adalah sate kelinci. Namun, saya dan teman-teman memilih menu yang lebih sederhana untuk mengisi perut. Pecel dan rawon pun menjadi menu pilihan kami siang itu. Satu tips untuk makan di warung yang berjajar di sepanjang jalan ini, lebih baik tanyakan dulu harga dari menu yang Anda pesan karena rata-rata warung di sini tidak mencantumkan harga makanan. Namun tenang, harga makanan di warung-warung ini masih cukup bersahabat dengan kantong. Nasi pecel misalnya, dijual dengan harga Rp 5.000,00 saja per-porsinya. Masakannya pun cukup enak, ditambah dengan pemandangan perbukitan di belakang warung siap menemani santap siang di warung-warung kaki lima ini.

Melihat Keindahan Danau Toba di Puncak Gunung Sipiso-Piso

Melihat Keindahan Danau Toba di Puncak Gunung Sipiso-Piso
Gunung Sipiso-Piso  Merupakan lanjutan perjalanan kami selanjutnya setelah semalam kami telah berhasil mendaki Gunung Sinabung. Silahkan Lihat perjalanan tim Telapak Sumut ke Gunung Sinabung DISINI. Gunung Sipiso-Piso berlokasi di Jalan Merek-Saribudolok, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Gunung ini mempunyai keunikan sendiri di bandingkan gunung lainnya. Pepohonan yang hanya tumbuh di bagian puncaknya saja. Hari ke dua, Senja pun telah berlalu, tidak terasa hari pun sudah menjadi gelap. Kendaraan kami masih melaju melewati sudut demi sudut kemacetan yang panjang . sekitar jam 21.00 wib sampailah kami di pintu gerbang masuk Air Terjun Sipiso-Piso.

Sudah tidak ada lagi penjaga, kami pun langsung saja masuk tanpa ada lapor dari warung-warung yang kami lewati. Tiba-tiba datang dari kejauhan 2 orang pria menjumpai kami, kenapa tidak ada laporan? Abay menjawab pertanyaan bapak itu, tadi kami lihat itu tempat bapak sudah tutup. Setelah itu kami pun membayar uang retribusi kepada bapak itu.
Kendaraan kalian letakkan saja di rumah saya, ungkap nya. Dan kami pun mengikutinya berjalan dan menitipkan kendaraan kami disana. Radit langsung mengangkat jerigen besar yang berisi air dari rumah bapak itu, kali ini kita gak akan kesusahan air lagi. Kami pun mendirikan tenda tepat di ujung, di depan aula yang sudah tidak terawat lagi sepertinya. Tepat di depan kami yang berhadapan langsung dengan Danau Toba.

Hari ketiga, setelah selesai sarapan dan mem-packing kembali barang-barang. Jam 10.57 wib, kami melanjutkan perjalanan kami menuju puncak sipiso-piso, hanya vivi yang tidak ikut karena sudah tidak sanggup lagi katanya. aku nunggu di sini saja, di rumah bapak yang kami titipkan kendaraan kami. akhirnya hanya kami bertujuh saja yang melanjutkan pendakian ke puncak sipiso-piso. Di sepanjang perjalanan dari pintu gerbang sipiso-piso sampai ke puncaknya, kami di suguhkan dengan pemandangan indah Danau Toba.

Ternyata, Pulau Samosir terlihat dari atas sini. Ini membuat stamina kami semakin bertambah dan semakin cepat laju kami untuk mencapai puncak. Tepat jam 12.42 sampailah kami di puncak sipiso-piso, ada sebuah tempat peristirahatan di atas puncak sipiso-piso yang di buat menyerupai sebuah pondok. 

Pulau Samosir yang tadinya kelihatan kini telah memudar di tutupi kabut tebal. Di atas puncak sipiso-piso terdapat juga sebuah toilet yang sudah tidak terawat lagi. Hanya sekitar setengah jam saja kami di atas puncak Sipiso-Piso.
  
Setelah mengambil beberapa photo kami pun kembali berjalan menuruni puncak. Karena seorang teman yang sudah lama menunggu kami di bawah. Sampai di bawah kami pun memesan teh manis panas dan gorengan di tempat bapak itu, yang kebetulan selain rumah tempat tinggal tempat itu juga di jadikan sebuah warung yang menjual makanan dan minuman.
Mengingat akan perjalanan kami yang masih sangat jauh untuk sampai ke rumah, sekitar jam 15.00 wib kami pun berpamitan dengan ibu yang punya rumah dan melanjutkan perjalan kami menuju menuju deli tua. Rute yang kami ambil adalah jalan dari saribu dolok yang tembus ke gunung meriah dan selanjutnya tebus ke tiga juhar. Tepat jam 20.34 sampailah kami di deli tua dimana tempat basecamp anak Telapak Sumut berada.

Ini lah salah satu kisah perjalanan dan pengalaman Tim Telapak Sumut dalam Menjelajah dan Mengexplore Wisata Alam Sumatera Utara. Nantikan Selalu Perjalanan Kami Selanjutnya......

LESTARI.......!!!! 


Ingin Lihat Foto Lainnya Klik saja DISINI 

by : Pay