Jumat, 18 Januari 2013

Kora-Kora dan Ombak Asmara yang Membuat Jantung Berdebar Kencang

Mengunjungi pasar malam tak lengkap rasanya jika tidak mencoba beberapa permainan yang tersedia. Selain membuat hati riang gembira, permainan rakyat ini juga tidak akan menguras isi kantong Anda.


Usai mencicipi jajanan tempo dulu yang cukup mengenyangkan perut, agenda selanjutnya di Pasar Malam Perayaan Sekaten ini adalah mencoba beberapa permainan. Hiburan rakyat yang satu ini memang kurang lengkap rasanya jika tidak dibarengi dengan kehadiran permainan-permaian yang seperti tersaji di taman hiburan. Sebut saja bianglala, komedi putar, ombak asmara, kora-kora, bom bom car, dan sebagainya selalu memeriahkan kehadiran Pasar Malam Perayaan Sekaten ini.
 



Setelah berkeliling melihat-lihat pasar malam yang cukup meriah, saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk mencoba beberapa permainan, walaupun sempat sedikit terjadi perdebatan untuk memutuskan permainan apa yang akan kami coba. Dan akhirnya kami mencoba permaianan ombak asmara sebagai "pemanasan" sebelum mencoba permainan yang menjadi klimaks selanjutnya. Cukup membayar Rp 5.000,00 saja per-orang kita dapat menikmati ayunan ombak asmara ditambah dengan atraksi dari si mas-mas operatornya plus disuguhi musik-musik house ala musik-musik di tempat dugem. Kata mas-mas operator yang bertindak sebagai "VJ" sih, enakan mainan ombak asmara daripada masuk ke Boshe yang bayarnya lumayan mahal itu -_-

Sebagai permaianan untuk "pemanasan", ombak asmara ini memang tidak begitu menyeramkan seperti yang telihat dari luar. Saya cukup menikmati putaran ombak asmara yang terkadang naik turun, kadang putarannya cukup kencang, dibarengi dengan musik yang lumayan menghentak dan lighting yang menarik, tak ketinggalan atraksi-atraksi akrobatik dari mas-mas operator yang terkadang membuat jantung lumayan berdesir melihat aksi mereka. Salut dengan keberanian dan nyali mereka yang menyuguhkan atraksi-atraksi yang menarik. 

Puas menikmati ayunan ombak asmara, permainan selanjutnya yang kami coba adalah kora-kora. Sempat timbul keraguan di antara kami untuk menaiki wahana permainan yang satu ini. Dibutuhkan persiapan fisik maupun mental untuk mencoba wahana ini. Kemudian teman saya langsung berinisiatif membeli tiket untuk kami berempat. Oke, mau tak mau kami harus menaiki wahana yang satu ini, walau sedikit ada pemaksaan. Tiket untuk wahana kora-kora ini dibandrol dengan harga Rp 5.000,00 per-orang. Di awal permainan, saya masih cukup menikmati ayunan kora-kora yang lumayan membuat jantung berdesir. Kami berempat masih dapat tertawa lepas menikmati ayunan kora-kora yang berputar bolak-balik hampir 180 derajat. Di depan kami terdapat mbak-mbak yang cukup ketakutan dengan ayunan kora-kora. Dia terlihat ingin menangis dan meminta mas-mas operator menghentikan laju kora-kora. Antara lucu dan kasihan menlihat ekspresinya. Awalnya saya mengira jika ayunan kora-kora ini tidak terlalu menakutkan, karena tidak terasa kencang. Namun, setelah bunyi semacam klakson dinyalakan, laju kora-kora pun semakin dipercepat. Kali ini putarannya benar-benar 180 derajat ! Putaran setengah lingkaran sempurna ! Rasanya? Antara ingin terlempar dari kursi, mual, ingin muntah, pusing, jantung berdebar kencang, kulit muka serasa mau lepas saat si kora-kora turun, apa lagi ya? Sulit saya berkata-kata, sebaiknya Anda coba sendiri menikmati ayunan kora-kora yang super gila ini ! Sekedar tips, lebih baik Anda pejamkan mata saat putaran kora-kora mulai menggila, hal ini untuk menghindari efek pusing jika mata Anda terbuka melihat ayunan si kora-kora.

Setelah putaran kora-kora berangsur-angsur normal dan mulai pelan, saya pun memberanikan diri untuk kembali membuka mata. Kora-kora pun berhenti dan langsung saja saya dan teman-teman ngacir keluar dari arena permainan. Bagaimana kesan naik kora-kora? GILA ! Kami puas tertawa terbahak-bahak, teriak-teriak sesuka hati, menertawakan kekonyolan yang terjadi di atas kora-kora, dan akhirnya keringat pun mengucur deras dari sekujur tubuh, jantung berdetak kencang, dan membuat kami sukses gemeratan ! Tapi kami puas dengan atraksi kora-kora ini. Ada satu hal yang unik dari kora-kora yang kami naiki. Ada mas-mas operator dengan santainya berdiri sambil berjoget di salah satu sisi ujung kora-kora yang terus berputar. Si mas ini seolah tanpa memiliki rasa takut sama sekali, sedangkan para penumpang yang lain sudah tampak cemas ketakutan dengan gerakan si kora-kora. Salut deh untuk si mas-mas operator !


Selesai menikmati ayunan kora-kora yang sukses membuat kami gemetaran, wahana berikutnya yang kami coba adalah  . . . . ombak asmara ! Yak, kami berempat memang sedang absurd -_- Kriteria yang kami cari kali ini adalah wahana ombak asmara yang tidak terlalu ramai dan dentuman musiknya membahana. Dan akhirnya kami pun mendapatkan wahana yang sesuai dengan kriteria kami ! Kali ini aksi akrobatis mas-mas operator memang tidak terlalu menarik seperti sebelumnya. Namun, putaran si ombak asmara lebih menantang. Entah mungkin masih terpengaruh efek kora-kora, setiap si ombak asmara putarannya naik-turun, tiba-tiba saja jantung saya langsung berdesir, membayangkan si kora-kora dari atas kemudian bergerak turun ke bawah, dan ujung-ujungnya merasa sedikit mual -_-

Pasar Malam Perayaan Sekaten memang penuh dengan wahana permainan yang menarik yang patut untuk Anda coba. Event budaya tahunan ini memang salah satu acara yang cukup dinanti-nanti masyarakat Jogja setiap tahunnya.

Kamis, 17 Januari 2013

Peacock Coffee - Cafe Mungil dengan Konsep Self Serving


Menjamurnya cafe-cafe di daerah perkotaan memang cukup pesat seiring perkembangan jaman sekarang ini. Cafe dijadikan sebagai semacam public space area untuk ajang bersosialisasi, berkumpul bersama teman dan kolega, atau mungkin hanya sekedar melepas penat dari segala rutinitas harian. Ngomong-omong soal cafe, di Jogja sendiri cukup banyak pilihan cafe untuk nongkrong dengan berbagai pilihan tempat, fasilitas, serta menu makanan yang disediakan. Tentu saja, budget juga menjadi pertimbangan untuk memilih tempat yang tepat untuk nongkrong bareng. Di Jogja sendiri banyak pilihan cafe untuk sekedar kongkow bersama teman, mulai dari cafe dengan harga mahasiswa sampai cafe yang merogoh kocek cukup dalam.





Salah satu cafe favorit saya untuk sekedar menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama teman maupun tempat untuk menuangkan ide melalui tulisan adalah Peacock Coffee di dibilangan Jalan AM Sangaji nomor 72, Yogyakarta. Cafe yang tergolong mungil dengan tampilan sederhana ini menempati bagian depan dari lobi Hotel Mustkoweni. Untuk pilihan tempat duduk sendiri, Anda dapat memilih indoor maupun outdoor. Di area indoor disediakan sekitar sembilan buah meja kecil berbetuk bundar lengkap dengan kursi yang mampu memuat 18-22 orang. Perpaduan nuansa modern dan tradisional pun cukup terasa. Nuansa modern terlihat dari aksesoris interior ruangan, dipadukan dengan nuansa tradisional yang berasal dari lantai yang menggunakan tegel motif khas Jogja. Untuk area outdoor sendiri menempati sebuah taman kecil yang sederhana namun cukup asri dan rindang. Kalau ditanya di mana tempat favorit saya adalah meja yang dekat dengan pintu masuk yang langsung menghadap jendela kaca. Tempat ini memang paling pewe, saya dapat melihat keadaan luar di balik kaca, apalagi jika hujan turun, suasananya semakin membuat saya betah berlama-lama di sini.



Keunikan dari cafe ini adalah pola self service yang diterapkan. Jadi jangan harap jika Anda datang ke cafe ini, Anda akan duduk manis kemudian server datang menghampiri memberikan list menu dan mencatat menu yang Anda pesan, kemudian mengantarkan pesanan ke meja Anda. Jika Anda datang ke cafe ini langsung saja hampiri si barista di bagian kasir, kemudian pesan menu yang Anda pilih, langsung bayar, kemudian ketika pesanan Anda sudah selesai dibuatkan oleh si barista, si barista akan memanggil Anda sesuai dengan nama menu yang Anda pesan, dan jangan lupa ambil sendiri pesanan Anda di bagian kasir. Sekilas konsepnya mirip dengan sistem kerja yang diterapkan di restoran cepat saji. Bagi Anda yang masih merasa kurang manis, silahkan tambah sendiri gula sesuai dengan selera. Di bagian kasir sudah disediakan gula, baik gula cair maupun gula pasir untuk menambah rasa manis sesuai selera Anda.



Keunikan lain dari cafe ini adalah list menu yang ditulis dengan kapur di sebuah papan hitam yang ditempel pada sudut tembok dekat dengan kasir. Tapi, sepertinya mulai awal tahun 2013 ini menu yang semula ditulis dengan kapur di papan hitam tersebut sudah diganti dengan tulisan yang permanen. Another uniquely thing is from the price. Ya, patokan harga di cafe ini cukup unik, yaitu Rp 16.900,00 untuk semua varian minuman, baik panas maupun dingin. Untuk minumannya sendiri tersedia beberapa menu dengan bahan dasar kopi seperti americano, cappucino, carmelito, cafe aulait. mocachino, vanila latte, cinnamon latte, dan juga papermint latte. Ada juga minuman berbahan non-kopi seperti chocolate, cheesecake, nuttie orame, white menthol, bubblegum, pineapple mint, fresh juice, milk tea, green tea latte dan mojito.


Minuman yang biasa saya pesan di Peacock Coffee ini adalah ice cappucino. Menurut saya sih komposisi cappucino di sini cukup pas di mulut saya, walaupun notabennya saya bukan seorang penikmat kopi yang addict. Hanya saja terkadang ada bahan racikan yang saya kurang tahu apa namanya yang sedikit memberikan sensasi "keras" di tenggorokan, semacam ketika kita minum soda. Aroma dari cappucino di Peacock Coffee ini juga cukup khas. Manisnya pun juga pas, jika kurang manis, silahkan tambahkan gula sendiri.


Menu lain yang pernah saya pesan adalah ice bubblegum. Minuman yang satu ini sih sepertinya campuran dari sirup orange dipadukan dengan sirup berwarna merah (mungkin saja sirup cocopandan). Rasanya sih kecut-kecut segar, pas jika diminum pada siang hari dengan cuaca yang panas. Namun, jujur saya kurang menyukai minuman yang satu ini sih.


Satu varian minuman yang paling saya suka di cafe ini adalah ice green tea latte. Perpaduan antara green tea dan susunya pas. Taste serta aroma dari si green tea masih terasa dan rasa dari campuran susu  yang cukup kental tidak terlalu mendominasi. Rasa manisnya pun juga sudah pas. Menurut saya menu ice green tea latte di sini paling juara di antara menu-menu yang lain yang pernah saya coba.



Untuk pilihan menu makanan, Peacock Coffee menyediakan beberapa varian makanan seperti apple pie, chicken lasagna, macaruni schotel, pasta chicken, calzone, banana cake, dan juga black forest. Semua menu makanan di sini dijual dengan harga yang tak kalah unik yaitu Rp 9.900,00 untuk semua varian menu. Menu makanan di sini tergolong kecil dan menurut saya termasuk dalam kategori cemilan. Menu yang jadi favorit saya di cafe ini adalah chicken lasagna dan black forest. Hanya sayang menu ini tidak setiap saat tersedia.


Selayaknya cafe-cafe kebanyakan, Peacock Coffee juga dilengkapi dengan koneksi internet wireless yang siap memanjakan pengunjungnya untuk bebas berselancar di dunia maya. Jangan khawatir jika baterai laptop habis, cafe ini sudah dilengkapi dengan colokan power listrik sehingga semakin memanjakan pengunjung untuk berselancar ria di dunia maya. Bagi Anda yang datang sendirian tak perlu khawatir kesepian maupun jadi pusat perhatian pengunjung lain, cafe ini tergolong kecil kok jadi tidak terlalu crowded oleh pengunjung. Saya sendiri pun sering sekali datang ke cafe ini sendirian sekedar mencari suasana baru untuk menulis maupun mengerjakan tugas. Cafe ini pun buka 24 jam, jadi kapan saja Anda butuh tempat untuk ngopi atau sekedar menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang membutuhkan koneksi internet, tak ada salahnya untuk menyambangi tempat ngopi yang satu ini.


keterangan :
Peacock Coffee with a new concept sekarang pindah di bilangan Jalan Palagan, arah menuju Hotel Hyatt

Rabu, 16 Januari 2013

Menemukan Jajanan Tempo Doeloe di Pasar Malam Perayaan Sekaten 2013

Pasar Malam Perayaan Sekaten merupakan salah satu hiburan rakyat tahunan yang kehadirannya selalu dinantikan masyarakat Yogyakarta. Acara yang diselenggarakan rutin setiap tahun ini selalu menyuguhkan kejutan-kejutan menjelang peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW.


Pasar Malam Perayaan Sekaten merupakan salah satu acara budaya yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya. Bertempat di alun-alun utara Keraton Yogyakarta acara ini selalu ramai dimeriahkan dengan beberapa atraksi dan juga berbagai macam permainan, serta tak ketinggalan lapak-lapak pedagang serta stan-stan pameran UMKM di wilayah Yogyakarta yang menawarkan aneka macam barang. Pasar Malam Perayaan Sekaten ini merupakan salah satu event yang cukup saya nanti-nantikan kehadirannya setiap tahun. Kenapa? Karena saya akan menjumpai hal-hal yang jarang saya jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal-hal unik yang menarik akan saya jumpai di acara budaya yang satu ini.



Pasar Malam Perayaan Sekaten kali ini dimulai pada 21 Desember 2012 dan berakhir pada tanggal 24 Januari 2013. Tapi saya biasanya datang berkunjung ke pasar malam ini ketika menjelang akhir acara, di mana gamelan milik Kraton Yogyakarta mulai dikeluarkan dan dimainkan di pelataran masjid agung. Ditabuhnya gamelan milik kraton di pelataran masjid agung inilah menandakan bahwa acara Sekaten sudah dimulai, jika gamelan belum dikeluarkan dan ditabuh, masih acara yang berlangsung disebut dengan pasar malam.


Kemarin (15/01) berkesempatan untuk mengunjungi Pasar Malam Perayaan Sekaten bersama beberapa kawan. Kalau pergi bersama dengan teman-teman ini biasanya lebih banyak dihabiskan untuk berkeliling menikmati suasana pasar malam sambil mencoba beberapa permainan atau sekedar mencicipi beberapa kuliner musiman yang hanya ada pas acara yang diadakan setahun sekali ini. Teman saya pun mengajak masuk ke dalam stan UMKM Kabupaten Sleman yang ada di Perayaan Pasar Malam Sekaten ini. Apa yang membuatnya unik? Ada jajanan pasar tempo dulu yang mungkin sekarang sudah jarang kita temukan.



Ya, di stand UMKM Kabupaten Sleman ini terdapat seorang penjual makanan yang menjajakan makanan tempo dulu yang mungkin cukup asing di telinga orang zaman sekarang. Beberapa jenis makanan dengan bahan dasar jagung dan beberapa macam umbi-umbian seperti ketela rambat maupun ketela pohon siap memanjakan lidah dan seolah mengajak kita untuk bernostalgia mencicipi kuliner rakyat dari masa silam. Sebut saja makanan tradisional seperti gathot, tiwul, cenil, sawot, gronthol, slondok, klepon, gethuk, lupis, cluwo, ketan srondeng, hawuk-hawuk, gedhang godhok, dan mendhut disajikan di stan makanan yang satu ini. Ada beberapa jenis makanan yang memang cukup saya kenal, namun beberapa masih lumayan asing juga di telinga saya. Saya memang penyuka kuliner-kuliner yang boleh dikatakan cukup jadul maupun legendaris. Ya, kuliner legendaris adalah kuliner yang tetap eksis walaupun mereka sudah ditempa oleh perkembangan jaman, namun masih dapat bertahan. Tak diragukan lagi jika kuliner legendaris memiliki cita rasa yang menarik dan tetap memiliki penggemar setia dari masa ke masa.


Bicara soal kuliner tradisional seperti jajanan pasar tempo dulu yang semakin sulit saya temui, menemukan makanan semacam ini merupakan sesuatu yang sangat amazing bagi saya. Sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata. Saya selalu merindukan rasa-rasa makanan tradisional seperti ini. Makanan dari olahan bahan-bahan tradisional namun memiliki cita rasa yang beragam. Dengan bermodalkan uang tak lebih dari Rp 10.000,00 kami dapat membeli beberapa jenis makanan dan yang pasti cukup membuat perut kami berempat merasa kenyang. Makanan tradisional yang disajikan memang berbahan dasar umbi-umbian yang kaya akan karbohidrat.


Puas memanjakan lidah dengan kuliner-kuliner jadul khas tempo dulu, saya dan kawan-kawan pun beranjak sejenak menikmati sajian kesenian tradisional di Panggung Kesenian Sekaten yang berlokasi tidak jauh dari stan UMKM Kabupaten Sleman. Lengkap rasanya menikmati kuliner tradisional khas tempo dulu dipadukan dengan tontonan kesenian tradisional, seolah-olah serasa menikmati suasana tradisional pada masa lampau. Ya, setidaknya jajanan tempo dulu ini dapat mengobati rasa rindu mencicipi kuliner khas yang kini semakin susah untuk ditemukan. 

Minggu, 13 Januari 2013

Museum Wayang Kekayon - Wahana Mengenal Seluk-Beluk Jenis Wayang

Di antara hamparan halaman depan yang luas serta arsitektur bangunan yang unik, tempat ini menyimpan koleksi berbagai jenis wayang yang memiliki nilai seni, budaya, sejarah serta filosofi  hidup yang tak ternilai harganya.



Banyak acara di televisi yang mengangkat tema seni dan budaya nusantara sekarang ini memang seolah kembali mengingatkan kepada generasi muda kita untuk kembali mencintai dan juga mempelajari seni dan budaya daerah kita yang beragam. Salah satu acara yang cukup menyita perhatian saya adalah World of Wayang yang ditayangkan oleh Kompas TV setiap hari Minggu pukul 11.30 siang. Acara tersebut memang mengupas dunia pewayangan secara mendalam, baik wayang klasik dengan pakem yang paten, maupun wayang kreasi dengan sentuhan modifikasi baik dalam tokoh, jalan cerita, cara penyampaian, maupun tampilan pagelarannya sehingga menarik minat dan perhatian penonton, khususnya kawula muda untuk kembali mengenal budayanya.



Yogyakarta memiliki sebuah museum yang menyimpan koleksi tentang seni dan budaya tradisional khusunya mengenai kesenian wayang. Museum Wayang Kekayon, sebuah museum milik perseorangan dengan tujuan untuk preservasi kebudayaan tradisional. Museum ini cukup mudah ditemukan, terletak tepat di pinggir jalan raya Wonosari yang merupakan jalur utama yang menghubungkan Yogyakarta dengan daerah Gunung Kidul.   Museum ini mulai didirikan pada tahun 1990 oleh Prof. Soejono Prawirohadikusumo, seorang dokter spesalis kesehatan jiwa. Setahun kemudian, tepatnya pada 5 Januari 1991, museum ini diresmikan oleh Gubernur DIY dan kemudian resmi dibuka untuk umum. Hingga kini, pengelolaan Museum Wayang Kekayon ini dibawah naungan RM Doni Megananda, putra dari Prof. Soejono.


Memasuki kompleks Museum Wayang Kekayon ini kita akan disambut dengan halaman depan yang cukup luas dengan pepohonan yang rindang. Di antara halaman yang luas tersebut terdapat sebuah bangunan joglo dengan ornamen Jawa klasik yang unik. Awalnya saya mengira jika letak museum wayang di bangunan unik ini, namun ternyata saya salah. Bangunan klasik dengan ornamen unik ini merupakan gedung yang disewakan untuk pertemuan seperti acara resepsi pernikahan, dan juga digunakan sebagai tempat untuk pagelaran wayang.



Memasuki area berikutnya yaitu di bagian taman, kita akan disambut dengan beberapa bangunan yang merepresentasikan sejarah perkembangan zaman, khususnya di Indonesia. Kita akan menjumpai miniatur bangunan-bangunan yang cukup terkenal di Indonesia, seperti miniatur bangunan tempat pemujaan warga Tionghoa, miniatur Menara Kudus, hingga miniatur kompleks pancuran bidadari. Semua bangunan miniatur tersebut erat kaitannya dengan sejarah peradaban Indonesia. Miniatur Menara Kudus misalnya menandakan masuknya kejayaan Islam di Nusantara setelah runtuhnya peradaban Hindu-Budha. Lain halnya dengan kompleks pancuran bidadari yang melambangkan masuknya zaman Kolonialisme Belanda menjajah wilayah Indonesia




Oke, selesai menikmati bagian luar museum, saatnya memasuki ruangan tempat menyimpan berbagai koleksi wayang. Koleksi wayang di museum ini dibagi ke dalam beberapa ruangan. Masing-masing ruangan menyuguhkan koleksi yang beragam dan sudah dibagi ke dalam kluster-kluster. Ruangan 1 misalnya digunakan untuk menyimpan koleksi wayang purwo dengan gaya Yogyakarta. Ruangan 2 digunakan untuk menyimpan koleksi wayang purwo gaya Surakarta. Selain jenis wayang tersebut, museum ini juga menyimpan aneka macam koleksi seperti wayang madya dan wayang gedog, wayang klitik, wayang krucil, wayang beber, wayang Bali, wayang golek dan sebagainya. Menurut saya, ada beberapa koleksi wayang yang unik di museum ini. Adanya wayang kancil yang menceritakan cerita anak paling fenomenal sepanjang masa yaitu kancil mencuri timun. Ada pula wayang yang menceritakan tentang kisah Nabi Isa yang disebut dengan wayang kerasul. Ada pula wayang yang diadopsi dari negara tetangga, seperti wayang potehi yang berasal dari kebudayaan China.




Selain koleksi wayang-wayang klasik yang menceritakan kisah Mahabarata dan juga wayang kontemporer yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari, Museum Wayang Kekayon juga memiliki koleksi yang tak kalah menarik seperti berbagai macam topeng dari daerah. Selain itu ada juga beberapa koleksi patung wayang yang merepresentasikan wayang wong, seperti tokoh Rama,  Dewi Sinta, dan Rahwana. Satu hal yang menjadi favorit saya selama mengunjungi museum ini adalah miniatur pagelaran wayang kulit lengkap dengan kelompok karawitan yang mengiringi jalannya pagelaran pewayangan.




Dari segi koleksi, Museum Wayang Kekayon ini memiliki koleksi yang cukup beragam dan boleh dikatakan cukup lengkap. Kita dapat menggali ilmu mengenai dunia pewayangan di Indonesia, mengenal berbagai jenis wayang, hingga proses pembuatannya. Banyak pengetahuan mengenai kebudayaan yang kita dapatkan setelah menjelajahi museum ini. Hanya satu hal yang mungkin cukup disayangkan, museum ini belum memiliki pemandu yang memberikan informasi langsung kepada pengunjung yang datang. Ya, menurut saya dengan adanya interaksi langsung yang baik dengan pengunjung, akan memberikan kesan tersendiri bagi siapa pun yang pernah mengunjunginya. Selain itu media promosi yang baik juga diharapkan akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke museum ini. Sangat disayangkan jika museum yang memiliki koleksi yang bagus serta memiliki nilai historis serta edukasi yang tinggi ini dibiarkan begitu saja.

keterangan :
harga tiket Museum Wayang Kekayon
pelajar/umum : Rp   7.000,00
WNA            : Rp 10.000,00
kamera          : Rp 10.000,00

kontak : 0274 2672900 / 0811255151
jam buka :
dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu mulai pukul 09.00 sampai dengan pukul 14.00 WIB

Senin, 07 Januari 2013

Soto Triwindu - Soto Legendaris yang Selalu Membuat Rindu

Selain terkenal dengan kraton dan batiknya, Solo juga terkenal dengan sajian kuliner khasnya yang menggugah selera. Soto Triwindu, salah satu sajian kuliner legendaris yang hingga kini tetap mempertahankan cita rasanya.


Bagi orang asli Solo atau setidaknya lama tinggal di kota ini tentu saja tidak akan asing dengan warung Soto Triwindu. Warung soto yang didirikan sejak tahun 1939 ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Seingat saya, dahulu warung Soto Triwindu ini terletak di sebuah gang kecil di belakang Pasar Triwindu sebelum dilakukan revitalisasi seperti sekarang ini. Dahulu perlu sedikit perjuangan untuk dapat menemukan warung soto ini. Kita harus menyusuri gang yang sempit di antara kios-kios yang menjajakan barang-barang bekas. Jalan setapak di gang tersebut cukup becek jika musim penghujan tiba. Namun siapa sangka, di antara gang-gang sempit dan terkesan kumuh tersebut terdapat sebuah warung soto yang tidak pernah sepi oleh pembeli.
 


Namun setelah dilakukan revitalisasi di Pasar Triwindu di bilangan Ngarsopuro seperti sekarang ini, warung soto ini pun ikut tergusur. Saya sempat kehilangan informasi mengenai keberadaan warung soto yang satu ini. Terakhir mencicipi Soto Triwindu hampir sekitar 12 tahun yang lalu, waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Orang tua saya memang gemar mengajak saya makan di warung soto ini ketika bertandang di Kota Solo, bahkan boleh dibilang sudah menjadi pelanggan di sini. Barulah kemarin secara tidak sengaja karena naik bus kota secara random, saya menemukan lokasi baru warung Soto Triwindu ini. Warung Soto Triwindu yang baru terletak di Jalan Teuku Umar nomor 50, Keprabon, Solo. Lokasinya sekarang pun cukup strategis, berada di pinggir jalan raya persis, sehingga cukup mudah ditemukan. 


Tampilan warung Soto Triwindu memang tergolong cukup sederhana. Satu hal yang dipertahankan dari furniture warung ini dari sejak saya kecil hingga sekarang ini adalah deretan kursi-kursi kecil yang menghadap meja panjang. Apa yang membuatnya unik? Di bagian tengah meja panjang tersebut seperti memiliki sebuah etalase mini di mana di dalamnya diletakkan piring-piring berisi aneka macam lauk pauk untuk menemani menyantap soto.  Etalase ini pula yang memberikan kesan pemisah antara satu sisi dengan sisi yang lain. Keunikan lain adalah stoples-stoples kaca dengan ukuran besar berisi kerupuk maupun rempeyek tak lupa diletakkan di bagian atas etalase ini. Ya, benda ini semakin memberikan kesan klasik dan juga unik dari warung Soto Triwindu ini.


Apa keistimewaan soto di warung ini? Menurut saya cita rasa soto Triwindu tidak pernah berubah sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar hingga sekarang. Racikan bumbu dan cita rasanya masih sama seperti dulu, hampir tidak ada yang berubah. Soto Triwindu terdiri dari campuran nasi putih yang diletakkan di dalam mangkuk, diberi kecambah, irisan daging sapi, kemudian disiram dengan kuah soto yang bening, lalu ditaburi dengan irisan daun seledri dan bawang goreng. Soto dari daerah Solo memang memiliki kuah yang bening dibandingkan dengan soto-soto dari daerah lain. Namun cita rasanya jangan ditanya, walau kuahnya terlihat bening namun bumbu rempah dicampur dengan air rebusan daging sangat nendang rasanya. Rasa gurihnya sangat terasa. Irisan daging sapinya pun juga cukup empuk, dan dapat dipastikan daging sapi yang digunakan adalah daging yang segar. Hal ini terlihat dari warna serta aroma daging sapi yang masih khas walaupun sudah melalui proses pemasakan. Untuk menambah cita rasa, Anda dapat menambahkan perasan jeruk nipis dan juga kecap sesuai selera. Satu hal yang membuat warung soto ini istimewa adalah kuah soto yang dimasak menggunakan kuali yang terbuat dari tanah liat kemudian dipanaskan menggunakan arang sebagai bahan bakar.


Untuk pilihan lauk pauk sendiri cukup beragam disediakan di warung ini. Anda dapat memilih lauk standar seperti tahu, tempe, iso, babat, dan sebagainya. Di warung ini pun disediakan lauk yang mungkin cukup asing bagi Anda, terutama jika bukan berasal dari daerah Solo. Namanya lentho, mirip seperti perkedel tapi terbuat dari campuran bahan dasar singkong dengan kacang tolo, kemudian dibentuk lonjong lalu digoreng. Rasanya gurih, cukup kenyal saat digigit, karena serat dari singkong sangat terasa dan cukup mendominasi rasa. Lentho ini cukup pas dijadikan lauk untuk menemani menyantap Soto Triwindu ini.


Satu porsi soto Triwindu ini dihargai Rp 9.000,00 untuk dimakan di tempat, sedangkan jika dibawa pulang dihargai Rp 10.000,00 per-porsinya. Warung Soto Triwindu ini mulai buka dari pukul 05.30 pagi sampai dengan pukul 16.30 sore. Tapi, terkadang pada siang hari sekitar pukul 14.00 soto di warung ini kerap kali sudah habis. Soto Triwindu cocok disantap baik untuk sarapan maupun untuk makan siang. Bagi Anda yang bertandang di Kota Solo dan ingin mencicipi kuliner yang berkuah, tak ada salahnya untuk mampir ke warung Soto Triwindu ini.

keterangan :
Letak warung Soto Triwindu ini cukup mudah ditemukan. Jika Anda menggunakan kendaraan umum, silahkan turun di bilangan Ngarsopuro, lalu berjalan kaki menuju jalan kecil yang berada di sebelah timur Ngarsopuro sampai menemukan optik kacamata di pojok jalan. Masuklah jalan kecil tersebut, susuri saja, warung Soto Triwindu berada di ujung jalan tersebut.

Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, Anda harus berjalan menuju timur sampai menemukan lampu merah (traffic light) lalu belok ke kiri, lurus lalu belok ke kiri lagi. Sampai di perempatan beloklah ke kiri, warung soto ini tidak jauh dari perempatan tersebut. Warung ini tepatnya berada di jalan Keprabon Kulon, satu deretan dengan warung nasi liwet Wongso Bu Lemu yang terkenal itu.

Selasa, 01 Januari 2013

Toko Djoen - Toko Roti Legendaris di Kawasan Malioboro

Selain menjadi salah satu landmark pariwisata Yogyakarta, Malioboro juga menyimpan beberapa kuliner legendaris yang bertahan dari masa ke masa. Toko Djoen, salah satu toko roti yang tetap setia bertahan di tengah gerusan toko roti modern saat ini.



Malioboro memang terkenal sebagai salah satu landmark pariwisata di Kota Yogyakarta. Tempat ini menjadi tempat wajib bagi siapa saja yang berkunjung di kota ini. Selain sebagai surga berbelanja batik dan berbagai macam pernak-pernik serta aksesoris, Malioboro juga menyimpan beberapa kuliner khas yang siap memanjakan lidah. Salah satu toko yang cukup lama berdiri di antara deretan toko di sepanjang Malioboro adalah Toko Djoen. Toko ini terletak
di sebelah selatan toko Batik Terang Bulan, sebelum toko Ramayana. Konon toko ini sudah berdiri sekitar kurang lebih seratus tahun. Salah satu hal yang dapat dijadikan saksi bisu tuanya toko ini adalah pemberian nama toko yang tertulis menempel di bagian tembok. Plakat tersebut bertuliskan "Perusahaan Roti Kuwe Makanan & Minuman Djoen" lengkap dengan alamat dan nomor telepon. Kemungkinan nomor telepon yang tertera sudah tidak aktif lagi karena hanya terdiri dari empat digit nomor. Plakat ini dapat kita saksikan dengan jelas jika kita berdiri di seberang jalan. Pemberian nama toko yang ditempalkan pada tembok semacam ini merupakan ciri khas dari pertokoan pada masa lalu.



Toko Djoen menjual beraneka macam kue basah dan juga beberapa jenis kue kering. Roti-roti yang dijual di toko ini adalah roti buatan sendiri (home made) menggunakan resep turun temurun dan sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet di dalam proses pembuatan adonannya. Salah satu resep yang masih laris diburu oleh pembeli adalah roti bantal, yaitu roti tawar utuh dengan taburan wijen pada bagian atasnya dan berbentuk pipih oval. Keistimewaan roti bantal ini adalah teksturnya yang padat namun lembut saat dikunyah, rasa manis yang pas dan tidak terlalu dominan, dipadu dengan rasa gurih dari margarin, aroma roti yang cukup khas, dan  juga ukurannya yang memang cukup jumbo untuk ukuran roti tawar sejenisnya. Roti bantal di toko ini biasanya dijual dalam bentuk utuhan, namun Anda dapat meminta tolong kepada penjaga toko untuk memotongkan roti yang Anda beli. Satu buah roti bantal ini dijual dengan harga Rp 12.000,00 (data Oktober - Desember 2012). Roti ini memiliki ketahanan hingga kurang lebih 5-6 hari. Tapi bisa-bisa dalam waktu 2 hari saja roti ini bisa habis Anda lahap, hehehe.



Selain roti bantal, Toko Djoen juga menyediakan berbagai roti basah seperti roti isi cokelat, roti isi daging, roti isi pisang, roti isi parutan kelapa, dan sebagainya. Roti-roti tersebut dijual dengan harga yang cukup terjangkau, yaitu mulai dari Rp 3.000,00 sampai dengan Rp 7.000,00. Selain itu ada roti kering yang diberi isi remahan kacang dan ditaburi dengan gula pasir di bagian atasnya. Kalau di daerah Solo disebutnya roti tarcis, soal rasa tidak kalah juara dengan roti-roti basah lainnya. Soal rasa jangan ditanya, resep roti yang digunakan secara turun-temurun ini memiliki rasa yang tidak kalah kok  dengan bake shop yang sudah ternama. Walaupun resep yang digunakan cukup sederhana, namun soal rasa masih selalu dijaga kualitasnya.



Toko Djoen biasa mulai buka dari pukul 10.00 pagi sampai menjelang malam hari. Sekedar tips, datanglah ke toko ini sekitar pukul 13.00 WIB, karena biasanya beberapa roti baru selesai dikeluarkan dari panggangan. Tentu saja Anda akan mendapatkan roti yang fresh from the oven dengan aroma semerbak yang khas. Bagi Anda yang berkunjung ke Malioboro, tak ada salahnya mampir ke toko roti yang satu ini untuk merasakan cita rasa roti dengan resep tradisional yang sudah turun-temurun.