Rabu, 16 Januari 2013

Menemukan Jajanan Tempo Doeloe di Pasar Malam Perayaan Sekaten 2013

Pasar Malam Perayaan Sekaten merupakan salah satu hiburan rakyat tahunan yang kehadirannya selalu dinantikan masyarakat Yogyakarta. Acara yang diselenggarakan rutin setiap tahun ini selalu menyuguhkan kejutan-kejutan menjelang peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW.


Pasar Malam Perayaan Sekaten merupakan salah satu acara budaya yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya. Bertempat di alun-alun utara Keraton Yogyakarta acara ini selalu ramai dimeriahkan dengan beberapa atraksi dan juga berbagai macam permainan, serta tak ketinggalan lapak-lapak pedagang serta stan-stan pameran UMKM di wilayah Yogyakarta yang menawarkan aneka macam barang. Pasar Malam Perayaan Sekaten ini merupakan salah satu event yang cukup saya nanti-nantikan kehadirannya setiap tahun. Kenapa? Karena saya akan menjumpai hal-hal yang jarang saya jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal-hal unik yang menarik akan saya jumpai di acara budaya yang satu ini.



Pasar Malam Perayaan Sekaten kali ini dimulai pada 21 Desember 2012 dan berakhir pada tanggal 24 Januari 2013. Tapi saya biasanya datang berkunjung ke pasar malam ini ketika menjelang akhir acara, di mana gamelan milik Kraton Yogyakarta mulai dikeluarkan dan dimainkan di pelataran masjid agung. Ditabuhnya gamelan milik kraton di pelataran masjid agung inilah menandakan bahwa acara Sekaten sudah dimulai, jika gamelan belum dikeluarkan dan ditabuh, masih acara yang berlangsung disebut dengan pasar malam.


Kemarin (15/01) berkesempatan untuk mengunjungi Pasar Malam Perayaan Sekaten bersama beberapa kawan. Kalau pergi bersama dengan teman-teman ini biasanya lebih banyak dihabiskan untuk berkeliling menikmati suasana pasar malam sambil mencoba beberapa permainan atau sekedar mencicipi beberapa kuliner musiman yang hanya ada pas acara yang diadakan setahun sekali ini. Teman saya pun mengajak masuk ke dalam stan UMKM Kabupaten Sleman yang ada di Perayaan Pasar Malam Sekaten ini. Apa yang membuatnya unik? Ada jajanan pasar tempo dulu yang mungkin sekarang sudah jarang kita temukan.



Ya, di stand UMKM Kabupaten Sleman ini terdapat seorang penjual makanan yang menjajakan makanan tempo dulu yang mungkin cukup asing di telinga orang zaman sekarang. Beberapa jenis makanan dengan bahan dasar jagung dan beberapa macam umbi-umbian seperti ketela rambat maupun ketela pohon siap memanjakan lidah dan seolah mengajak kita untuk bernostalgia mencicipi kuliner rakyat dari masa silam. Sebut saja makanan tradisional seperti gathot, tiwul, cenil, sawot, gronthol, slondok, klepon, gethuk, lupis, cluwo, ketan srondeng, hawuk-hawuk, gedhang godhok, dan mendhut disajikan di stan makanan yang satu ini. Ada beberapa jenis makanan yang memang cukup saya kenal, namun beberapa masih lumayan asing juga di telinga saya. Saya memang penyuka kuliner-kuliner yang boleh dikatakan cukup jadul maupun legendaris. Ya, kuliner legendaris adalah kuliner yang tetap eksis walaupun mereka sudah ditempa oleh perkembangan jaman, namun masih dapat bertahan. Tak diragukan lagi jika kuliner legendaris memiliki cita rasa yang menarik dan tetap memiliki penggemar setia dari masa ke masa.


Bicara soal kuliner tradisional seperti jajanan pasar tempo dulu yang semakin sulit saya temui, menemukan makanan semacam ini merupakan sesuatu yang sangat amazing bagi saya. Sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata. Saya selalu merindukan rasa-rasa makanan tradisional seperti ini. Makanan dari olahan bahan-bahan tradisional namun memiliki cita rasa yang beragam. Dengan bermodalkan uang tak lebih dari Rp 10.000,00 kami dapat membeli beberapa jenis makanan dan yang pasti cukup membuat perut kami berempat merasa kenyang. Makanan tradisional yang disajikan memang berbahan dasar umbi-umbian yang kaya akan karbohidrat.


Puas memanjakan lidah dengan kuliner-kuliner jadul khas tempo dulu, saya dan kawan-kawan pun beranjak sejenak menikmati sajian kesenian tradisional di Panggung Kesenian Sekaten yang berlokasi tidak jauh dari stan UMKM Kabupaten Sleman. Lengkap rasanya menikmati kuliner tradisional khas tempo dulu dipadukan dengan tontonan kesenian tradisional, seolah-olah serasa menikmati suasana tradisional pada masa lampau. Ya, setidaknya jajanan tempo dulu ini dapat mengobati rasa rindu mencicipi kuliner khas yang kini semakin susah untuk ditemukan. 

Minggu, 13 Januari 2013

Museum Wayang Kekayon - Wahana Mengenal Seluk-Beluk Jenis Wayang

Di antara hamparan halaman depan yang luas serta arsitektur bangunan yang unik, tempat ini menyimpan koleksi berbagai jenis wayang yang memiliki nilai seni, budaya, sejarah serta filosofi  hidup yang tak ternilai harganya.



Banyak acara di televisi yang mengangkat tema seni dan budaya nusantara sekarang ini memang seolah kembali mengingatkan kepada generasi muda kita untuk kembali mencintai dan juga mempelajari seni dan budaya daerah kita yang beragam. Salah satu acara yang cukup menyita perhatian saya adalah World of Wayang yang ditayangkan oleh Kompas TV setiap hari Minggu pukul 11.30 siang. Acara tersebut memang mengupas dunia pewayangan secara mendalam, baik wayang klasik dengan pakem yang paten, maupun wayang kreasi dengan sentuhan modifikasi baik dalam tokoh, jalan cerita, cara penyampaian, maupun tampilan pagelarannya sehingga menarik minat dan perhatian penonton, khususnya kawula muda untuk kembali mengenal budayanya.



Yogyakarta memiliki sebuah museum yang menyimpan koleksi tentang seni dan budaya tradisional khusunya mengenai kesenian wayang. Museum Wayang Kekayon, sebuah museum milik perseorangan dengan tujuan untuk preservasi kebudayaan tradisional. Museum ini cukup mudah ditemukan, terletak tepat di pinggir jalan raya Wonosari yang merupakan jalur utama yang menghubungkan Yogyakarta dengan daerah Gunung Kidul.   Museum ini mulai didirikan pada tahun 1990 oleh Prof. Soejono Prawirohadikusumo, seorang dokter spesalis kesehatan jiwa. Setahun kemudian, tepatnya pada 5 Januari 1991, museum ini diresmikan oleh Gubernur DIY dan kemudian resmi dibuka untuk umum. Hingga kini, pengelolaan Museum Wayang Kekayon ini dibawah naungan RM Doni Megananda, putra dari Prof. Soejono.


Memasuki kompleks Museum Wayang Kekayon ini kita akan disambut dengan halaman depan yang cukup luas dengan pepohonan yang rindang. Di antara halaman yang luas tersebut terdapat sebuah bangunan joglo dengan ornamen Jawa klasik yang unik. Awalnya saya mengira jika letak museum wayang di bangunan unik ini, namun ternyata saya salah. Bangunan klasik dengan ornamen unik ini merupakan gedung yang disewakan untuk pertemuan seperti acara resepsi pernikahan, dan juga digunakan sebagai tempat untuk pagelaran wayang.



Memasuki area berikutnya yaitu di bagian taman, kita akan disambut dengan beberapa bangunan yang merepresentasikan sejarah perkembangan zaman, khususnya di Indonesia. Kita akan menjumpai miniatur bangunan-bangunan yang cukup terkenal di Indonesia, seperti miniatur bangunan tempat pemujaan warga Tionghoa, miniatur Menara Kudus, hingga miniatur kompleks pancuran bidadari. Semua bangunan miniatur tersebut erat kaitannya dengan sejarah peradaban Indonesia. Miniatur Menara Kudus misalnya menandakan masuknya kejayaan Islam di Nusantara setelah runtuhnya peradaban Hindu-Budha. Lain halnya dengan kompleks pancuran bidadari yang melambangkan masuknya zaman Kolonialisme Belanda menjajah wilayah Indonesia




Oke, selesai menikmati bagian luar museum, saatnya memasuki ruangan tempat menyimpan berbagai koleksi wayang. Koleksi wayang di museum ini dibagi ke dalam beberapa ruangan. Masing-masing ruangan menyuguhkan koleksi yang beragam dan sudah dibagi ke dalam kluster-kluster. Ruangan 1 misalnya digunakan untuk menyimpan koleksi wayang purwo dengan gaya Yogyakarta. Ruangan 2 digunakan untuk menyimpan koleksi wayang purwo gaya Surakarta. Selain jenis wayang tersebut, museum ini juga menyimpan aneka macam koleksi seperti wayang madya dan wayang gedog, wayang klitik, wayang krucil, wayang beber, wayang Bali, wayang golek dan sebagainya. Menurut saya, ada beberapa koleksi wayang yang unik di museum ini. Adanya wayang kancil yang menceritakan cerita anak paling fenomenal sepanjang masa yaitu kancil mencuri timun. Ada pula wayang yang menceritakan tentang kisah Nabi Isa yang disebut dengan wayang kerasul. Ada pula wayang yang diadopsi dari negara tetangga, seperti wayang potehi yang berasal dari kebudayaan China.




Selain koleksi wayang-wayang klasik yang menceritakan kisah Mahabarata dan juga wayang kontemporer yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari, Museum Wayang Kekayon juga memiliki koleksi yang tak kalah menarik seperti berbagai macam topeng dari daerah. Selain itu ada juga beberapa koleksi patung wayang yang merepresentasikan wayang wong, seperti tokoh Rama,  Dewi Sinta, dan Rahwana. Satu hal yang menjadi favorit saya selama mengunjungi museum ini adalah miniatur pagelaran wayang kulit lengkap dengan kelompok karawitan yang mengiringi jalannya pagelaran pewayangan.




Dari segi koleksi, Museum Wayang Kekayon ini memiliki koleksi yang cukup beragam dan boleh dikatakan cukup lengkap. Kita dapat menggali ilmu mengenai dunia pewayangan di Indonesia, mengenal berbagai jenis wayang, hingga proses pembuatannya. Banyak pengetahuan mengenai kebudayaan yang kita dapatkan setelah menjelajahi museum ini. Hanya satu hal yang mungkin cukup disayangkan, museum ini belum memiliki pemandu yang memberikan informasi langsung kepada pengunjung yang datang. Ya, menurut saya dengan adanya interaksi langsung yang baik dengan pengunjung, akan memberikan kesan tersendiri bagi siapa pun yang pernah mengunjunginya. Selain itu media promosi yang baik juga diharapkan akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke museum ini. Sangat disayangkan jika museum yang memiliki koleksi yang bagus serta memiliki nilai historis serta edukasi yang tinggi ini dibiarkan begitu saja.

keterangan :
harga tiket Museum Wayang Kekayon
pelajar/umum : Rp   7.000,00
WNA            : Rp 10.000,00
kamera          : Rp 10.000,00

kontak : 0274 2672900 / 0811255151
jam buka :
dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu mulai pukul 09.00 sampai dengan pukul 14.00 WIB

Senin, 07 Januari 2013

Soto Triwindu - Soto Legendaris yang Selalu Membuat Rindu

Selain terkenal dengan kraton dan batiknya, Solo juga terkenal dengan sajian kuliner khasnya yang menggugah selera. Soto Triwindu, salah satu sajian kuliner legendaris yang hingga kini tetap mempertahankan cita rasanya.


Bagi orang asli Solo atau setidaknya lama tinggal di kota ini tentu saja tidak akan asing dengan warung Soto Triwindu. Warung soto yang didirikan sejak tahun 1939 ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Seingat saya, dahulu warung Soto Triwindu ini terletak di sebuah gang kecil di belakang Pasar Triwindu sebelum dilakukan revitalisasi seperti sekarang ini. Dahulu perlu sedikit perjuangan untuk dapat menemukan warung soto ini. Kita harus menyusuri gang yang sempit di antara kios-kios yang menjajakan barang-barang bekas. Jalan setapak di gang tersebut cukup becek jika musim penghujan tiba. Namun siapa sangka, di antara gang-gang sempit dan terkesan kumuh tersebut terdapat sebuah warung soto yang tidak pernah sepi oleh pembeli.
 


Namun setelah dilakukan revitalisasi di Pasar Triwindu di bilangan Ngarsopuro seperti sekarang ini, warung soto ini pun ikut tergusur. Saya sempat kehilangan informasi mengenai keberadaan warung soto yang satu ini. Terakhir mencicipi Soto Triwindu hampir sekitar 12 tahun yang lalu, waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Orang tua saya memang gemar mengajak saya makan di warung soto ini ketika bertandang di Kota Solo, bahkan boleh dibilang sudah menjadi pelanggan di sini. Barulah kemarin secara tidak sengaja karena naik bus kota secara random, saya menemukan lokasi baru warung Soto Triwindu ini. Warung Soto Triwindu yang baru terletak di Jalan Teuku Umar nomor 50, Keprabon, Solo. Lokasinya sekarang pun cukup strategis, berada di pinggir jalan raya persis, sehingga cukup mudah ditemukan. 


Tampilan warung Soto Triwindu memang tergolong cukup sederhana. Satu hal yang dipertahankan dari furniture warung ini dari sejak saya kecil hingga sekarang ini adalah deretan kursi-kursi kecil yang menghadap meja panjang. Apa yang membuatnya unik? Di bagian tengah meja panjang tersebut seperti memiliki sebuah etalase mini di mana di dalamnya diletakkan piring-piring berisi aneka macam lauk pauk untuk menemani menyantap soto.  Etalase ini pula yang memberikan kesan pemisah antara satu sisi dengan sisi yang lain. Keunikan lain adalah stoples-stoples kaca dengan ukuran besar berisi kerupuk maupun rempeyek tak lupa diletakkan di bagian atas etalase ini. Ya, benda ini semakin memberikan kesan klasik dan juga unik dari warung Soto Triwindu ini.


Apa keistimewaan soto di warung ini? Menurut saya cita rasa soto Triwindu tidak pernah berubah sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar hingga sekarang. Racikan bumbu dan cita rasanya masih sama seperti dulu, hampir tidak ada yang berubah. Soto Triwindu terdiri dari campuran nasi putih yang diletakkan di dalam mangkuk, diberi kecambah, irisan daging sapi, kemudian disiram dengan kuah soto yang bening, lalu ditaburi dengan irisan daun seledri dan bawang goreng. Soto dari daerah Solo memang memiliki kuah yang bening dibandingkan dengan soto-soto dari daerah lain. Namun cita rasanya jangan ditanya, walau kuahnya terlihat bening namun bumbu rempah dicampur dengan air rebusan daging sangat nendang rasanya. Rasa gurihnya sangat terasa. Irisan daging sapinya pun juga cukup empuk, dan dapat dipastikan daging sapi yang digunakan adalah daging yang segar. Hal ini terlihat dari warna serta aroma daging sapi yang masih khas walaupun sudah melalui proses pemasakan. Untuk menambah cita rasa, Anda dapat menambahkan perasan jeruk nipis dan juga kecap sesuai selera. Satu hal yang membuat warung soto ini istimewa adalah kuah soto yang dimasak menggunakan kuali yang terbuat dari tanah liat kemudian dipanaskan menggunakan arang sebagai bahan bakar.


Untuk pilihan lauk pauk sendiri cukup beragam disediakan di warung ini. Anda dapat memilih lauk standar seperti tahu, tempe, iso, babat, dan sebagainya. Di warung ini pun disediakan lauk yang mungkin cukup asing bagi Anda, terutama jika bukan berasal dari daerah Solo. Namanya lentho, mirip seperti perkedel tapi terbuat dari campuran bahan dasar singkong dengan kacang tolo, kemudian dibentuk lonjong lalu digoreng. Rasanya gurih, cukup kenyal saat digigit, karena serat dari singkong sangat terasa dan cukup mendominasi rasa. Lentho ini cukup pas dijadikan lauk untuk menemani menyantap Soto Triwindu ini.


Satu porsi soto Triwindu ini dihargai Rp 9.000,00 untuk dimakan di tempat, sedangkan jika dibawa pulang dihargai Rp 10.000,00 per-porsinya. Warung Soto Triwindu ini mulai buka dari pukul 05.30 pagi sampai dengan pukul 16.30 sore. Tapi, terkadang pada siang hari sekitar pukul 14.00 soto di warung ini kerap kali sudah habis. Soto Triwindu cocok disantap baik untuk sarapan maupun untuk makan siang. Bagi Anda yang bertandang di Kota Solo dan ingin mencicipi kuliner yang berkuah, tak ada salahnya untuk mampir ke warung Soto Triwindu ini.

keterangan :
Letak warung Soto Triwindu ini cukup mudah ditemukan. Jika Anda menggunakan kendaraan umum, silahkan turun di bilangan Ngarsopuro, lalu berjalan kaki menuju jalan kecil yang berada di sebelah timur Ngarsopuro sampai menemukan optik kacamata di pojok jalan. Masuklah jalan kecil tersebut, susuri saja, warung Soto Triwindu berada di ujung jalan tersebut.

Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, Anda harus berjalan menuju timur sampai menemukan lampu merah (traffic light) lalu belok ke kiri, lurus lalu belok ke kiri lagi. Sampai di perempatan beloklah ke kiri, warung soto ini tidak jauh dari perempatan tersebut. Warung ini tepatnya berada di jalan Keprabon Kulon, satu deretan dengan warung nasi liwet Wongso Bu Lemu yang terkenal itu.

Selasa, 01 Januari 2013

Toko Djoen - Toko Roti Legendaris di Kawasan Malioboro

Selain menjadi salah satu landmark pariwisata Yogyakarta, Malioboro juga menyimpan beberapa kuliner legendaris yang bertahan dari masa ke masa. Toko Djoen, salah satu toko roti yang tetap setia bertahan di tengah gerusan toko roti modern saat ini.



Malioboro memang terkenal sebagai salah satu landmark pariwisata di Kota Yogyakarta. Tempat ini menjadi tempat wajib bagi siapa saja yang berkunjung di kota ini. Selain sebagai surga berbelanja batik dan berbagai macam pernak-pernik serta aksesoris, Malioboro juga menyimpan beberapa kuliner khas yang siap memanjakan lidah. Salah satu toko yang cukup lama berdiri di antara deretan toko di sepanjang Malioboro adalah Toko Djoen. Toko ini terletak
di sebelah selatan toko Batik Terang Bulan, sebelum toko Ramayana. Konon toko ini sudah berdiri sekitar kurang lebih seratus tahun. Salah satu hal yang dapat dijadikan saksi bisu tuanya toko ini adalah pemberian nama toko yang tertulis menempel di bagian tembok. Plakat tersebut bertuliskan "Perusahaan Roti Kuwe Makanan & Minuman Djoen" lengkap dengan alamat dan nomor telepon. Kemungkinan nomor telepon yang tertera sudah tidak aktif lagi karena hanya terdiri dari empat digit nomor. Plakat ini dapat kita saksikan dengan jelas jika kita berdiri di seberang jalan. Pemberian nama toko yang ditempalkan pada tembok semacam ini merupakan ciri khas dari pertokoan pada masa lalu.



Toko Djoen menjual beraneka macam kue basah dan juga beberapa jenis kue kering. Roti-roti yang dijual di toko ini adalah roti buatan sendiri (home made) menggunakan resep turun temurun dan sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet di dalam proses pembuatan adonannya. Salah satu resep yang masih laris diburu oleh pembeli adalah roti bantal, yaitu roti tawar utuh dengan taburan wijen pada bagian atasnya dan berbentuk pipih oval. Keistimewaan roti bantal ini adalah teksturnya yang padat namun lembut saat dikunyah, rasa manis yang pas dan tidak terlalu dominan, dipadu dengan rasa gurih dari margarin, aroma roti yang cukup khas, dan  juga ukurannya yang memang cukup jumbo untuk ukuran roti tawar sejenisnya. Roti bantal di toko ini biasanya dijual dalam bentuk utuhan, namun Anda dapat meminta tolong kepada penjaga toko untuk memotongkan roti yang Anda beli. Satu buah roti bantal ini dijual dengan harga Rp 12.000,00 (data Oktober - Desember 2012). Roti ini memiliki ketahanan hingga kurang lebih 5-6 hari. Tapi bisa-bisa dalam waktu 2 hari saja roti ini bisa habis Anda lahap, hehehe.



Selain roti bantal, Toko Djoen juga menyediakan berbagai roti basah seperti roti isi cokelat, roti isi daging, roti isi pisang, roti isi parutan kelapa, dan sebagainya. Roti-roti tersebut dijual dengan harga yang cukup terjangkau, yaitu mulai dari Rp 3.000,00 sampai dengan Rp 7.000,00. Selain itu ada roti kering yang diberi isi remahan kacang dan ditaburi dengan gula pasir di bagian atasnya. Kalau di daerah Solo disebutnya roti tarcis, soal rasa tidak kalah juara dengan roti-roti basah lainnya. Soal rasa jangan ditanya, resep roti yang digunakan secara turun-temurun ini memiliki rasa yang tidak kalah kok  dengan bake shop yang sudah ternama. Walaupun resep yang digunakan cukup sederhana, namun soal rasa masih selalu dijaga kualitasnya.



Toko Djoen biasa mulai buka dari pukul 10.00 pagi sampai menjelang malam hari. Sekedar tips, datanglah ke toko ini sekitar pukul 13.00 WIB, karena biasanya beberapa roti baru selesai dikeluarkan dari panggangan. Tentu saja Anda akan mendapatkan roti yang fresh from the oven dengan aroma semerbak yang khas. Bagi Anda yang berkunjung ke Malioboro, tak ada salahnya mampir ke toko roti yang satu ini untuk merasakan cita rasa roti dengan resep tradisional yang sudah turun-temurun. 

Senin, 31 Desember 2012

HUNIAN HOTEL DI SABANG PENUH

Mesjid Babussalam Kota Sabang

Malam ini seharusnya bisa jalan-jalan sambil melihat dan mengamati pola tingkah warga dan wisatawan yang banyak berdatangan ke Kota Sabang,namun kondisi hujan gerimis jadi ya terpaksa di rumah saja. Akhir pekan plus Akhir tahun begini, kunjungan wisatawan ke kota sabang cukup meningkat. 

Beberapa Hotel/Losmen dan Bunggalow di sepanjang pantai wisata mulai dari Pantai Iboh, Pantai Gapang, Pusat Kota, Pantai Kasih, Pantai Sumur Tiga, Pantai Anoi Itam dan beberapa tempat lainnya habis dibooking, kondisi ini menyebabkan banyak wisatawan terpaksa numpang di rumah warga atau saudaranya. Bahkan seperti yang sempat penulis pantau tahun lalu, banyak wisatawan luar daerah khususnya yang muda-muda (cowok) terpaksa menginap di emperan Mesjid terutama Mesjid Agung Babussalam yang letaknya cukup mudah diakses.

Es Dawet Telasih - Es Dawet Legendaris ala Pasar Gede Solo

Pasar Gede, sebuah pasar tradisional di salah satu sudut kota Solo yang cukup terkenal. Selain menyediakan barang kebutuhan harian, pasar ini juga menyimpan berbagai pilihan kuliner yang fenomenal.



Udara yang panas menyengat menyelimuti Kota Solo siang itu. Dahaga pun menyergap tenggorokan menuntut untuk segera dituntaskan. Pasar Gede, merupakan salah satu pasar tradisional yang menjadi landmark Kota Solo memiliki beberapa kuliner legendaris yang patut Anda jadikan agenda wisata untuk memanjakan lidah. Salah satu kuliner khas dan cukup legendaris di Pasar Gede adalah dawet telasih, minuman tradisional yang cocok untuk menuntaskan dahaga di tengah teriknya
sinar matahari yang menyengat.


Es dawet telasih ala Pasar Gede ini memiliki racikan yang terdiri dari bahan-bahan seperti ketan hitam, bubur sumsum, dawet, telasih, diberi campuran santan lalu disiram dengan sirup yang berasal dari bahan gula cair ditambah dengan pecahan es batu. Untuk tambahan, Anda dapat meminta campuran tape ketan pada campuran es dawet telasih yang Anda pesan untuk menambah aroma sekaligus rasa. Campuran bahan-bahan tersebut kemudian diletakkan di dalam sebuah mangkuk porselin kecil. Bagaimana soal rasa? Perpaduan rasa manis dari gula cair serta gurih dari bubur sumsum dan santan sangat pas terasa di mulut.   Rasa manisnya tidak terlalu mendominasi seperti pada es dawet kebanyakan yang pernah saya rasakan. Tambahan es batu memberikan sensasi yang menyegarkan di mulut sekaligus menuntaskan dahaga.

Hal yang membedakan es dawet ala Pasar Gede dengan es dawet yang biasa dijual yang berasal dari daerah Banjarnegara adalah pada campuran telasih dan juga bahan gula yang digunakan. Es dawet telasih menggunakan campuran bahan biji telasih atau ada pula yang menyebutnya selasih, memiliki bentuk sekilas seperti telur katak. Perbedaan kedua adalah sirup gula yang digunakan. Jika dawet ayu yang berasal dari Banjarnegara menggunakan gula jawa sebagai bahan pemanisnya, berbeda dengan dawet telasih yang menggunakan campuran sirup gula cair sebagai pemberi rasa manis pada racikan.

Di Pasar Gede sendiri terdapat beberapa pedagang yang menjual es dawet telasih ini. Salah satu kios yang terkenal adalah es dawet telasih Bu Dermi. Es dawet Bu Dermi ini merupakan salah satu warung es dawet yang legendaris di Pasar Gede. Tempat ini sudah mulai berjualan es dawet telasih sejak tahun 1930-an dan hingga kini pengelolaannya sudah diwariskan kepada keturunannya. Satu mangkuk es dawet telasih dengan komposisi komplit di tempat ini dijual dengan harga Rp 5.000,00 per-mangkuknya. Jangan heran jika pada jam-jam tertentu tempat ini rampai dikunjungi oleh para pembeli dan Anda harus rela berdiri untuk dapat menikmati sajian es dawet telasih di sini.


Warung berikutnya adalah warung es dawet telasih milik Bu Haji Siswo. Dari sisi tempat, warung ini lebih mudah dicari karena letaknya tidak jauh dari pintu masuk pasar, tinggal lurus saja, nanti Anda akan menemukan warungnya berada di deretan lapak pedagang bagian kanan. Dari segi harga, es dawet telasih di tempat ini dibandrol dengan harga yang lebih murah, yaitu Rp 3.000,00 per-mangkuknya untuk sajian es dawet telasih komplit dengan tape ketan. Dari segi rasa menurut saya kedua warung ini menyajikan es dawet telasih dengan rasa yang hampir sama, sama-sama enak ketika meluncur ke dalam mulut. Jika saya disuruh memilih warung mana yang lebih enak, saya lebih memilih warung milik Bu Haji Siswo ini. Mengapa? Karena menurut saya dari segi pelayanan si ibu penjual di sini lebih ramah dibandingkan dengan tempat yang satunya. Menurut saya, kriteria sebuah tempat makan yang enak itu selain dari sajian menu masakan, juga poin yang tak kalah penting adalah keramaham si penjual sehingga membuat si pembeli merasa nyaman dan betah ketika menyambangi tempatnya. Menurut saya penjual es dawet telasih milik Bu Haji Siswo ini orangnya murah senyum dan ramah kepada semua pengunjung. Bahkan si ibu tidak pelit membagi ilmu tentang racikan es dawet telasih kepada saya dan juga selalu menjawab setiap pertanyaan saya dengan senyumnya yang khas. Setiap orang memang punya penilaian masing-masing mengenai sebuah tempat makan bukan?


Yap, bagi Anda yang sedang menyambangi Kota Solo tak ada salahnya mampir ke Pasar Gede untuk berburu es dawet telasih ini. Jangan khawatir dengan image pasar tradisional yang memiliki kesan kotor dan kumuh, Pasar Gede sudah direvitalisasi dan cukup bersih kok  untuk dijelajahi. Selain mencicipi es dawet telasih, tentu Anda juga dapat berburu kuliner yang beraneka ragam dan tentu saja dengan harga yang murah meriah !

Minggu, 30 Desember 2012

Pantai Goa Watu Lawang - Pantai dengan Celah Bebatuan yang Memanjang

Menemukan hamparan pantai berpasir putih di antara bukit karang yang menjulang bagai menemukan sebuah surga yang tersembunyi di antara hiruk-pikuk pengunjung. Pantai Goa Watu Lawang, menyajikan pemandangan pantai yang sepi dengan nuansa yang asri.



Puas menyusuri keindahan Pantai Indrayanti, saya pun beranjak untuk meninggalkan lokasi. Sebelum menuju parkiran motor, saya tertarik melihat sebuah papan plang yang bertuliskan "Pantai Watu Lawang, 500 meter". Saya pun kemudian memutuskan menyusuri jalan setapak bebatuan yang berada di sebelah timur Pantai Indrayanti ini. Sepanjang jalan setapak ini kita akan
disuguhi pemandangan pohon cemara laut, kolam penangkaran dan pemeliharaan ikan, deretan rumah dinas kelautan, serta lahan pertanian milik penduduk setempat. Suara deburan ombak pesisir selatan selalu setia menemani sepanjang perjalanan menuju Pantai Goa Watu Lawang ini.


Setelah berjalan kaki sekitar 7 menit dari Pantai Indrayanti, sampailah kita di lokasi Pantai Goa Watu Lawang ini. Kesan sekilas mengenai pantai ini adalah sebuah pantai kecil di antara celah bebatuan karang yang kokoh berdiri. Namun coba susuri saja bukit yang ada di sebelah kiri Anda, sebuah hamparan pantai dengan pasir putih yang cukup luas siap memanjakan mata seolah membayar lunas lelah perjalanan. Pantai Goa Watu Lawang masih relatif sepi dari wisatawan. Banyak wisatawan yang memilih menghabiskan waktu mereka di Pantai Indrayanti. Pantai ini masih tergolong masih baru dan belum banyak orang yang mengetahui keberadaannya. Walaupun tergolong masih obyek yang baru, namun pantai ini sudah dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti sebuah warung makan sederhana yang dikelola oleh penduduk setempat dan juga fasilitas toilet umum yang terlihat baru saja dibangun.


Pantai Goa Watu Lawang menurut saya memiliki keistimewaan tersendiri. Pantai ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian barat dan bagian timur yang terpisah oleh bebatuan karang yang membentuk seperti mulut gua yang langsung menghadap ke laut. Konon menurut mitos yang berkembang di masyarakat setempat, mulut goa inilah yang dijadikan sebagai petilasan Prabu Brawijaya VI. Menurut cerita dan mitos yang saya dengar dari penuturan seorang kawan, ada sebuah ritual khusus yang dilakukan agar mulut goa yang tertutup oleh pasir dan ombak tersebut dapat terbuka. Setelah mulut gua terbuka, maka si calon petapa tersebut masuk ke dalam goa. Setelah sang petapa masuk ke dalam goa, mulut goa tersebut akan kembali lagi tertutup oleh pasir dan deburan ombak. Versi lain pemberian nama Goa Watu Lawang adalah terkait dengan kontur bebatuan karang yang berhimpitan membentuk celah memanjang seperti sebuah pintu yang terletak dekat dengan mulut goa.



Karena masih tergolong sepi oleh kunjungan wisatawan, pantai ini memang memiliki nuansa selayaknya pantai milik pribadi. Pantai Goa Watu Lawang di sisi timur memiliki pantai yang cukup luas dengan hamparan pasir putih yang sangat lembut. Menurut saya hal ini menjadi keistimewaan sekaligus pembeda antara Pantai Goa Watu Lawang dengan pantai-pantai lain di pesisir Gunung Kidul. Rata-rata pantai di pesisir Gunung Kidul memang memiliki pantai dengan pasir putih namun pasirnya cukup kasar. Karena menawarkan suasana sepi dan masih nampak alami, pantai ini menjadi salah satu tujuan untuk berkemah menikmati suasana alam bebas. Ketika saya datang ke pantai ini terlihat rombongan pecinta alam dan juga mahasiswa baru yang melakukan makrab di pantai ini.



Tak ada salahnya memang jika Anda sejenak menyempatkan waktu luang mengkesplorasi keindahan Pantai Goa Watu Lawang ini setelah Anda puas menyusuri keindahan Pantai Indrayanti pesisir selatan daerah Gunung Kidul. Selain memberikan pemandangan pantai dengan pasir putih dan ombak yang jernih, Anda pun dapat puas menikmati suasana pantai yang seolah terkesan menyendiri ini.