Jumat, 01 Maret 2013

TINGGI RAJA, AKU DATANG !!

Sumber Artikel : http://diarykarim.blogspot.com/2012/10/tinggi-raja-aku-datang.html
Profil Penulis    : https://www.facebook.com/karimabdul91


Sumatera Utara memiliki ratusan atraksi alam yang unik, mengagumkan dan tentu saja memiliki potensi pariwisata yang baik. Untuk menelanjangi satu persatu objek wisata yang terhidden itu bukanlah perkara yang mudah. Jika kita hanya memandang sumut di balik jangkungnya gedung jw.mariot atau megahnya cambridge building ,anda hanya akan membodohi diri sendiri , tidak ada atraksi alam yang ditampilkan. Untuk menemukan objek-objekterhidden itu tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali membelah dinding-dinding hijau pegunungan bukit barisan yang tersusun manis dan elok, 14 Oktober lalu komunitas telapak sumut mencoba mengintip satu objek wisata yang tidak tersisip dari promosi paket tour & travel. Objek itu bernama Tinggi Raja, terletak di Cagar Alam Bukit Tinggi Raja , kab. Simalungun.
Secara Administratif Cagar Alam Tinggi Raja terletak di Kecamatan Silau Kahean kabupaten Simalungun , Untuk Mencapai nya kita harus melewati jarak 110 Km Dari Medan yang ditempuh selama 3-4 jam. Ada dua rute untuk mencapai tinggi raja yang pertama kita melewati lubuk Pakam- Galang-Dolok Masihul- Nagori Dolok- Dolok Tinggi Raja dan yang kedua kita melewati jalur tebing tinggi –dolok merawan –dolok tinggi raja, dan berita buruk bagi anda yang benci dengan jalan ‘terrible’ karena akses menuju cagar alam ini jauh dari infrastruktur yang memadai bahkan cenderung buruk dan kacau. Dan itu tidak menghalangi niat kami untuk memecah kebuntuan. Foto yang di upload dari internet membuat pay dan kawan-kawan menjadi terangsang akan penasaran, bermodalkan jiwa penjelajah kami berjalan tanpa mengetahui dimana letak pasti tinggi raja, karena diantara kami belum ada satupun yang pernah mencium tanah tinggi raja. What a Strange Man ...
Kami berangkat lebih ‘karet’ dibanding waktu yang telah disepakati , pukul 09.30 , 6 sepeda motor sudah menunggu di disimpang timbangan kecamatan lubuk pakam . Mentari Yang semakin menggigit memacu kami untuk membanting stir kearah kecamatan galang , lokasi yang mulai masuk di perkebunan PTPN IV menjadi gerbang alam yang yang pertama . Beberapa tikungan patah membuat salah satu rekan kami tergelincir hingga terjatuh , luka kecil yang dialami tidak menyurutkan niat untuk melanjutkan perjalanan. Setelah melewati simpang Dolok Masihul , kami melanjutkan perjalanan di sekitar perkebunan silau dunia , kecamatan bintang bayu serdang bedagai. Pemandangan kanan kiri kami masih di selimuti perkebunan sawit dan karet , pukul 11.30 Para rombongan tersesat Setelah melewati Kecamatan Bandar Nagori , Walau kami sudah tiba dibibir SilauKahaen namun tetap saja kami kehilangan arah jalan dan terpaksa menepi untuk bertanya pada penduduk sekitar .Dan dengan terpaksa kami membanting stir 180 derajat menuju bandar nagori.
Mentari Yang terus membakar kulit, Siang sudah mulai terik dan Waktu terus berhimpit hingga menjelang zuhur , semangat kami belum surut dengan modal bertanya sana sini kami menemukan akses jalan menuju Tinggi Raja , Tepatnya di palang gerbang Desa Sarang Tangkahan , Kec. Bintang Bayu , keadaan jalan mulai membaik. hingga waktu zuhur kami hanya bisa sampai di negeri dolok . Setelah menapakkan kaki tak jauh dari Polsek Silau Kahaen akhirnya akses terakhir menuju tinggi raja di temukan . Sejauh 10 Km kami menempuh Jalan yang kecil dan berbatu cadas , tentu menjadi masalah jika mengoyak ban sepeda motor kami, Tanjakan dan turunan yang tak wajar ditemukan dibeberapa sisi jalan, Tepat 13.30 WIB akhirnya kami tiba digerbang Cagar Alam Tinggi Raja.
 Disana telah berjejer sepeda motor khusus offroad yang sudah tiba dahulu . Pukul 14.00 wib hujan pun perlahan mulai turun, alam sepertinya sudah menguji kemauan kami untuk menapaki tinggi raja.S Kami tidak peduli,dan terus trekking setengah kilometer menuju hutan cagar alam dan tiba di tepian sungai tinggi raja.Pohon Pandan raksasa dan kayu hutan lain menjadi bagian penting dari cagar alam ini . Sejak tahun 1990 Dolok Tinggi Raja menjadi Cagar alam yang dilindungi pemerintah . Cagar ini memiliki luas 167 Ha berdasarkan Surat Keputusan Zelfbestuur Besluit ZB tanggal 18 April 1924 No. 24 .menyimpan potensi flora yang baik. Berbagai tanaman hutan seperti Meranti Bunga (Shorea parvifolia), Kenari (Canarium) dan Malu Tua (Tristia sp) Rotan (Calamus Manau) Anggrek (Bulbophylum), Kantong Semar (Nephenthes sp) serta Pandan (Pandanus sp) menyelimuti cagar ini. Berbagai satwa liar juga menyemarakkan cagar alam ini , dari hewan penunggu hutan umum hingga yang dilindungi mengisi ekosistem yang diukir oleh tuhan.
Setelah menepaki 120 anak tangga , kami tiba di ‘taman vulkanisir’ tinggi raja. satu pemandangan yang disuguhkan tuhan memang luar biasa , fenomena alam tinggi raja begitu memukau. Potensi Sumber air panas seluas 35 Ha yang ada dihutan ini telah membentuk kawah-kawah kecil yang memancar air panas bersama belerang-belerang putih . Aliran air panas yang menyatu dengan belerang membentuk teras-teras kapur kebawah dengan kombinasi berbagai warna indah . gua-gua kecil yang berisi stalaktit biru menunjukkan besarnya kuasa tuhan yang belum kita sadari . Kawah air panas tinggi raja tidak sama dengan kawah pada gunung merapi , meski memiliki aktivitas vulkanik , kawah tinggi raja memiliki keunikan tersendiri , airnya jernih dan tawar. Kerak ini terbentuk dari endapan belerang dan air yang berisi ganggang –ganggang tahan panas. Dan susunan kerak ini terbentuk petak-petak layaknya sawah tandah hujan khas pegunungan. Dalam ilmu speolelogi ( ilmu tentang gua dan lingkungannya ) petak-petak kerak yang terbentuk itu disebut dengan microgourdam atau macro guardam dan air itu mengalir langsung jatuh kesungai .
 
Hujan deras yang terus mengucur , menetralisir suhu air panas ini, dengan leluasa kami menginjak-injak microguardam yang putih layaknya salju panas. Setelah menikmati suasana ini kami sedikit naik keatas , disana terdapat sumber ladang dan jejak taman vulkanisir yang telah ditinggal oleh air panas. Lokasi ini semakin lama semakin luas karena sifat sumber air panas bumi itu hidup dan nomaden ( berpindah-pindah) . Retakan-retakan bukit kapur ini mengeluarkan suara gemercik dan gemuruh air panas yang mendesing di telinga. Kawah kecil yang telah mati dilihat oleh pay dengan seksama , tidak jauh dari bukit kapur terdapat air hijau sumber air panas yang indah dan eksotis.
3 menit dari gerbang cagar alam terdapat satu sumber air panas yang cukup menggelegar dan berwarna hijau ke hitam-hitaman , suhunya cukup untuk merebus telur dan tentu kita berfikir dua kali untuk menyelam kedalam. Sebelum berangkat pulang kami sempatkan berpose sejenak , meninggalkan kenangan . diantara endapan-endapan vulkanisir ini .
Waktu semakin senja, kami terlalu dibuai nafsu untuk menjalar ke bukit kapur, telapak sumut kembali menuju jalur alternatif yang kedua , kali ini kami benar-benar merasa sinting dibuat rute pulang yang ganas. Walau hanya sepanjang 8 km, jalan ini ditempuh selama hampir tiga jam. Tanah Liat perkebunan yang begitu lembab dan becek melumasi rombongan dengan lumpur-lumpur jalan. Tak terhitung berapa banyak ketek banjir yang hampir merusak kendaraan kami . Di beberapa sisi jalan bahkan terdapat jurang-jurang terjal, dan jembatan tanpa pembatas kiri kanan. Tidak ada rumah penduduk , hanya hutan rimba yang menjadi dinding pemandangan ini . Waktu mulai senja , jalan tetap saja hancur. Semua pakaian telah rata di belai lumpur. Tanjakan dan turunan tajam telah memacu adrenalin , kesalahan sedikit saja bisa menjadi masalah fatal bagi kami semua. Hujan kembali turun , walau hanya gerimis manis, namun ini cukup menyiksa dengan keadaan hari yang semakin gelap.Doa mulai kupanjat, Tuhan memang maha pemurah , walau keadaan jalan yang begitu ekstrim ..
Alhamdulillah kami tidak memiliki masalah fisiologis , tidak ada kendaraan yang rusak ,a tau rekan yang pingsan dan kerasukan para penghuni tinggi raja. Para rombongan saling membantu rekan-rekan yang terjebak lumpur atau banjir. Setelah melewati fase jalan yang kritis akhirnya kami tiba di persimpangan jalan . Tak jauh dari Kecamatan Gunung meriah, kami pun bertanya pada penduduk setempat dan langsung membanting ‘stang’ kearah kanan di Jl. Besar Bangun Purba selama 2.5 jam kami tiba di simpang jalan lintas sumatera , dan kembali ke pos istirahat masing –masing . Ada kejadian lucu, menegangkan, dan yang pasti penuh dengan pengalaman. Mungkin sebagian menilai kami kurang ‘waras’. Tapi namanya pengalaman terbaik sering muncul dari lubang-lubang yang kurang ‘waras’ . Kalau Christoper Colombus tidak memberanikan diri menelusuri Samudra dia mungkin tidak akan pernah jadi penjelajah pertama yang menepakkan di tanah amerika . Begitu juga pengalaman ini , mungkin dengan ‘berdisko’ pada jalan yang buruk kita bisa menceritakan kepada rekan-rekan yang hendak ke tinggi raja.
Mataku sudah cukup lelah, ya ..sudah cukup sampai disini saja kawan sampai jumpa di penjelajahan selanjutnya . see you arround telapak sumut..





Wisata Air Terjun Dwi Warna, Sibolangit – Sumatera Utara

Sumber Artikel : http://apeace.web.id/wisata-air-terjun-dwi-warna-sibolangit-sumatera-utara/
Profil Penulis    : http://apeace.web.id/contact/

Penat dikepala sudah tak tertahankan, jenuh bercampur lelah pun telah lama mengalir deras dalam tubuh, akhirnya aku melangkahkan kaki untuk mendapatkan sedikit hembusan udara segar.
Perjalanan ini awalnya hanya sekedar memenuhi undangan sharing ilmu di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang berada di kota Medan, Sumatera Utara, akan tetapi sesampainya disana aku ditawarkan untuk ikut dalam kegiatan camping mingguan salah satu komunitas pencinta alam sumatera utara, Telapak Sumut. Pilihan tempat untuk camping mereka kali ini sebenarnya merupakan tempat yang sudah tidak asing lagi yaitu di area bumi perkemahan Sibolangit. Akan tetapi yang menjadi titik puncak tujuan dari camping ini adalah sebuah lokasi wisata yang belum lama ditemukan yang diberi nama Air Terjun Dwi Warna.
Sebelum aku bercerita lebih jauh mengenai lokasi wisata Air Terjun Dwi Warna, aku akan memperkenalkan sebuah komunitas yang gemar beraktifitas di alam bebas. Mereka menamakan komunitasnya dengan nama Telapak Sumut. Komunitas ini berpusat di kabupaten Deli Serdang, tepatnya dikecamatan Deli Tua. Sudah lebih dari satu tahun mereka beraktifitas di arena liar dengan modal keberanian demi mendapatkan kepuasan batin dari sejuknya udara pengunungan.Komunitas ini awalnya dibentuk oleh seorang pemuda yang memiliki nama panggilan Pay. Kemudian merekrut beberapa sahabatnya untuk ikut bergabung dalam kepengurusan. Saat ini komunitas pencinta alam Telapak Sumut ini telah memiliki anggota sebanyak 320 orang, walaupun tidak semuanya aktif dalam aktifitas mingguan yang mereka adakan.

Itulah sedikit cerita tentang Komunitas Pencinta Alam Telapak Sumut dan sekarang kita beralih ke Objek Wisatanya Air Terjun Dwi Warna, Sibolangit. Alkisah objek Wisata ini belum lama dan secara tidak sengaja ditemukan. Menurut beberapa informasi dari anggota Telapak Sumut, Objek wisata ini ditemukan oleh organisani pencinta alam dari salah satu universitas di kota Medan. Awalnya beberapa anggota dari organisasi mahasiswa yang gemar menjelajah ala ini melakukan aktifitas penjelajahan ke area yang masih 

belum terjamah, Akan tetapi sebuah kejadian tragis menimpa salah satu anggota yang terjatuh ke sebuah jurang. Akhirnya anggota tim lainnya memutuskan untuk menelusuri daerah jurang tersebut serta membuka jalur penelusuran untuk mencarinya. Alhasil, Jasad salah seorang sang pemberani ini pun ditemukan bersama dengan tangisan air yang melunjur deras dari ketinggian 8 Meter lebih. Sebuah keindahan alam baru dengan udara sejuk disekitarnya mendekap hangat kepergiaan sang penemu. Ya.. secara tidak langsung, Almarhum lah yang telah menuntun teman-temannya untuk menemukan objek ini.
 
Inilah sedikit kisah tragis dibalik penemuan objek wisata air terjun Dwi Warna, Sibolangit. Tak jauh dari air terjun Dwi Warna ini juga terdapat sebuah monumen yang mengabadikan kenangan pada penemuan bersejarah ini diserta dengan nama dari Sang Pejuang yang telah tenang di alam sana.
(maaf saya lupa nama almarhum dan nama organisani mahasiswa pencinta alamnya…)

Kembali ke cerita perjalananku bersama Komunitas Telapak Sumut. Objek wisata Air terjun Dwi Warna ini berada dipegunungan Sibolangit Sumatera Utara. Akses masuknya melalui Bumi perkemahan pramuka Sibolangit. Dari kota medan, hanya membutuhkan waktu lebih kurang 1 Jam 45 Menit jika menggunakan Sepeda Motor. Saat itu kami beranggotakan 15 orang dengan mengendari sepeda motor berangkat sore hari sekitar pukul 16.30 WIB dan tiba sekitar pukul 18.30 WIB, akan tetapi kami tidak melalui jalan utama, melainkan melalui jalan-jalan pedesaan agar dapat menikmati keindahan alam dipedesaan setempat. Setibanya di Bumi Perkemahan Sibolangit kami menginap satu malam di daerah yang biasa disebut DAM. Keesokan paginya baru kami memulai perjalanan menuju ke air terjun Dwi Warna. Untuk dapat mencapai objek, kami harus mendaki selama lebih kurang 2 jam perjalanan. Akan tetapi, lelah dari perjalanan hilang begitu saja saat tiba dilokasi.
Hmmmm…. Indahnya, Sejuknya dan……


Yang jelas, saat ini objek wisata Air Terjun Dwi Warna telah mulai ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal karena keindahan alamnya yang menakjubkan diiringi kisah penemuannya yang mengharukan.
BTW,,, PEACE… LOVE And RESPECT…!!!!.

Kirim Artikel Menarik

Kirim Artikel Menarik

Hay sobat Telapak Sumut Semua, Buat kalian yang hobby Bercerita dan Menulis, Mari kirimkan artikel atau tulisan yang menarik untuk blog ini.. Tulisan dapat berupa Cerpen, Puisi, Pantun ataupun menuliskan pengalaman perjalanan ketempat-tempat wisata alam bersama Telapak Sumut.

Nah, Buat Sobat yangbersedia mengirimkan tulisannya, Silahkan Kirim ke :
  1. Melalui Email
    • Kirim ke : telapaksumut@gmail.com 
    • subjek     : Artikel menarik (Judul tulisan)
    • Jika didalam tulisan terdapat gambar jangan lupa di upload / dilampirkan ataupun kirimkan link gambarnya.
  2. Melalui Grup Telapak Sumut
    • Silahkan Sobat tulis artikel menarik didalam dokumen grup ataupun upload file kedalam grup.
    • Setelah itu konfirmasi admin DISINI
  3. Melalui Blog
    • Jika anda seorang blogger juga dan ingin menulis di blog ini, silahkan kirimkan email anda untuk bisa diundang menulis di blog ini.
 Jika Perlu info lebih lanjut tentang Mengirimkan artikel Hubungi admin DISINI

Terima kasih untuk Partisipasinya..semoga Telapak Sumut semakin Jaya...^_^

    Kamis, 28 Februari 2013

    Pendaftaran Anggota

    Pendaftaran Anggota
    Buat Sobat-sobat semua yang ingin menjadi Anggota Resmi Telapak Sumut, Silahkan Isi Formulir Pendaftaran di Sekretariat Telapak Sumut. Dan jangan Lupa Join di Grup  dan Fanspage Facebook Telapak Sumut, serta Twitternya, untuk mengetahui info terbaru.

    Terima Kasih..Selamat Bergabung.^_^

    Lestari.....!!!

    Rabu, 27 Februari 2013

    Welcome To Telapak Sumut

    Welcome Telapak Sumut
    Jangan cuma hanya bisa terdiam sendiri. tunjukkan aksimu bersama Telapak Sumut, Berpetualangan melibas medan cadas dan mengexplore tempat-tempat yang belum terjamah di Sumatera Utara

    Walau panas membakar kulit, dingin menembus tulang. Bersama TELAPAK SUMUT, kami siap melibas medan cadas. TELAPAK SUMUT is always in the heart. 

    LESTARI !!!

    Selasa, 26 Februari 2013

    Jadah Tempe - "Sandwich" Tradisional ala Kaliurang

    Apa yang terlintas di pikiran Anda mengenai Kaliurang? Pastilah sebuah tempat wisata yang terletak di lereng Gunung Merapi dengan pemandangan yang cantik serta hawa sejuk khas pegunungan. Kaliurang merupakan salah satu ikon pariwisata yang terletak di sebelah utara Kota Jogja. Tempat wisata ini menyuguhkan panorama alam dengan hawa yang cukup sejuk. Berbagai pilihan wisata pun cukup lengkap di kawasan Kaliurang ini, mulai dari wisata alam, wisata bencana, wisata petualangan, hingga wisata edukasi dan sejarah.


    Namun tahukan Anda, ada satu panganan khas yang ada di Kaliurang ini?
    Jadah tempe, sebuah perpaduan rasa yang "nabrak" namun justru terasa nikmat saat di santap. Jadah merupakan panganan tradisional khas Jawa yang terbuat dari olahan ketan, memiliki rasa yang gurih karena dalam proses pembuatannya diberi campuran parutan kelapa yang menambah rasa. Tempe dalam racikan jadah tempe ini merupakan tempe yang diolah secara bacem, yaitu tempe yang dimasak dengan campuran bumbu rempah, santan, dan gula jawa. Tempe bacem memiliki rasa khas yaitu rasa manis yang mendominasi serta warna cokelat yang berasal dari campuran gula jawa. Cara memakan jadah tempe ini cukup unik, yaitu jadah dan tempe disatukan (ditumpuk menjadi satu) kemudian dimakan bersama-sama. Rasa manis dari tempe bacem bercampur dengan rasa gurih dari jadah terasa cukup lumer di dalam mulut.



    Warung jadah tempe yang terkenal di kawasan Kaliurang adalah warung milik mbah Carik yang sudah mulai berjualan jadah tempe ini sejak tahun 1950-an. Menurut artikel dari gudeg.net yang saya baca, jadah tempe ini merupakan salah satu panganan kegemaran Sri Sultan Hamengku Buwono IX lho ! Hingga saat ini jadah tempe menjadi salah satu panganan yang cukup dicari dan diminati oleh wisatawan, terutama bagi mereka yang berkunjung di kawasan Kaliurang ini.



    Sayang, ketika saya berkunjung ke Kaliurang saya tidak menemukan warung milik mbah Carik yang terkenal itu karena saya harus buru-buru kembali ke Kota Jogja. Sebagai gantinya, saya pun membeli jadah tempe yang dijual oleh simbah-simbah di sebuah lapak sederhana yang terletak di sekitar taman Kaliurang. Satu paket jadah tempe dihargai Rp 8.000,00 terdiri dari lima buah jadah, dan lima buah tempe bacem. Jadah ketan dari Kaliurang memang memiliki ciri khas dibandingkan dengan jadah ketan yang sering saya temukan. Jadah ketan di sini memiliki tekstur yang sangat halus, memiliki bentuk pipih lonjong. Rasa jadahnya gurih dan lembut ketika dikunyah. Memakan jadah tempe dua sampai tiga potong saja dijamin sudah cukup mengenyangkan. Jadi, jika Anda berkunjung ke daerah Kaliurang, jangan lupa untuk mampir dan mencicipi kuliner khas jadah tempe yang hanya ada di kawasan ini.

    Senin, 25 Februari 2013

    Candi Plaosan - Menikmati Sunrise yang Mengesankan

    Saya selalu menikmati datangnya pagi, karena banyak hal menarik yang telah menanti untuk dinikmati !



    Bangun di pagi buta ketika orang-orang masih memejamkan mata menikmati peraduan sebelum kembali dengan padatanya ritunitas keseharian. Langit pun masih nampak gelap, diselimuti lampu-lampu di sepanjang pemukiman yang tampak gemerlapan. Udara dingin yang menusuk badan serta heningnya suasana sang fajar tak menghalangi niat saya dan teman-teman untuk menuju Candi Plaosan yang terletak di sebelah timur Kota Yogyakarta. Pukul 03.45 dini hari, saya bersama teman-teman pun berangkat menuju lokasi Candi Plaosan tersebut, berharap mendapatkan pemandangan matahari terbit seperti yang kami inginkan. Jalanan di Kota Jogja yang semula lengang, berubah cukup padat dengan lalu-lalang kendaraan ketika memasuki Jalan Solo, jalan utama yang menghubungkan Kota Jogja dengan Kota Solo.


    Semburat cahaya keemasan pun menyambut kami ketika memasuki kawasan Bugisan, sebuah perkampungan yang terletak di sebelah timur Kompleks Candi Prambanan. Motor pun kami pacu lebih cepat agar segera sampai ke tujuan, sayang jika sampai terlewat momen yang kami inginkan. Sesampainya di kompleks Candi Plaosan pun, terjadi "insiden" yang tidak seperti kami harapkan. Petugas keamanan yang berjaga di Candi Plaosan pun tidak memperbolehkan kami masuk ke dalam kompleks candi begitu saja. Lobi yang kami lakukan pun seolah tidak mempan. Si bapak petugas (sok) sibuk menelpon atasannya yang katanya sedang ada di Candi Prambanan untuk memberitahukan kedatangan kami. Singkat cerita, sebelum kami masuk ke candi sebelum jam buka yaitu jam 8 pagi, kami harus mengantongi izin terlebih dahulu dari sang atasan mereka. Ujung dari cerita tersebut adalah si bapak penjaga meminta sejumlah imbalan  (walaupun dengan nada halus) yang pas dibagi untuk 8 orang, sesuai jumlah petugas yang berjaga di Candi Plaosan pagi itu, barulah kami diizinkan untuk masuk berkeliling dan mengambil gambar di dalam area Candi Plaosan !

    Apakah kami memberikan imbalan yang dimaksud yang pantas dibagi sejumlah 8 orang sesuai permintaan si bapak? Tentu saja TIDAK ! Saya segera berinisiatif mengajak teman-teman saya meninggalkan pos penjagaan di pintu masuk candi, lalu mengajak mereka untuk mengambil gambar di luar kompleks candi, tepatnya di ladang milik penduduk. Ya, pengelolaan candi-candi marjinal di bawah naungan BP3 Jawa Tengah dan Yogyakarta memang memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Lihat saja, candi-candi marjinal di bawah naungan BP3 Yogyakarta sudah memiliki sistem retribusi tiket masuk yang jelas, berbeda dengan naungan BP3 Jawa Tengah (khususnya di sekitaran daerah Jogja) yang menerapkan sistem retribusi membayar secara suka rela yang cukup rentan terhadap "pemalakan" terhadap pengunjung karena tidak ada aturan yang jelas. Di satu sisi saya mencoba memahami permasalahan yang terjadi, di mana si petugas jaga memang memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk menjaga keamanan candi beserta isinya, walaupun (mungkin) di sisi lain gaji yang mereka peroleh tidak sepadan dengan tanggung jawab yang mereka emban, mungkin saja . . . . Kelakuan oknum-oknum semacam ini pun dapat mengurangi kenyamanan wisatawan, terutama yang ingin menikmati candi-candi marjinal.

    Walaupun agak sedikit ada rasa kecewa, namun kami cukup menikmati matahari terbit di kawasan Candi Plaosan ini, walaupun dari luar pagar. Panorama cantik karya Sang Pencipta seolah menghipnotis kami berlima pagi itu !






    Puas menikmati sunrise dengan latar belakang Candi Plaosan, kejutan demi kejutan pun kami dapatkan pagi itu, seolah mengobati kekecewaan kami arena tidak dapat mengambil gambar di dalam area kompleks candi. Pemandangan cantik Merapi di sisi utara, semakin menambah rasa syukur kami terhadap karya agung Sang Pencipta.