Rabu, 13 Maret 2013

Menutup Akhir Tahun 2012 di Gunung Sinabung

Gunung SinabungGunung sinabung terletak di daerah dataran tinggi karo, kabupaten karo, sumatera utara. Dengan ketinggian 2.451 mdpl. Gunung ini merupakan gunung  tertinggi kedua setelah Gunung Sibuaten dengan ketinggian 2.457 mdpl. Disisi pintu gerbang pendakian terdapat sebuah Danau Lau Kawar yang biasa digunakan sebagai area camping dan sering digunakan sebagai tempat berkumpulnya para pendaki setelah lelah dalam pendakian ke  Gunung Sinabung.
Pada tanggal 23-25 desember 2012 bertepatan dengan hari libur, kami dari komunitas Telapak Sumut berniat mendaki Gunung Sinabung dan Gunung Sipiso-Piso

Hari pertama,  Titik kumpul kali ini di rumah saya sendiri, di sekitar daerah deli tua. jam 09.00 wib kami pun berangkat menuju menuju Danau Lau Kawar. Saya, radit, heri dan vivi, sehari sebelumnya sudah ada teman kami yang berangkat dan menunggu kami disana. Abay, edo, andika, dan susi yang sudah mendirikan tenda di sebuah lapangan rumput tepat di depan danau lau kawar yang biasa dijadikan tempat buat mendirikan tenda buat para pendaki.
Tiga jam berkendara, kami pun sampai di danau lau kawar dan menjumpai mereka di tendanya. Cuaca semakin panas dan tanpa berlama-lama kami pun kembali menyiapkan packingan tas, karena sebagian yang tidak di perlukan akan kami tinggal di bawah. Setelah semua barang siap di packing, kami  pun melanjutkan  kembali berkendara sedikit menanjak ke atas. Sampailah kami di salah satu rumah warga, dan akhirnya kami pun menitipkan kendaraan kami dan sebagian tas di rumahnya.Tepat jam 14.01 wib, setelah selesai berdoa bersama dan mengambil photo bersama kami pun bergegas buat mendaki gunung sinabung. Dengan mengikuti semua petunjuk jalan.

Gunung Sinabung mempunyai  4 shelter (5 km) dengan jarak tempuh sekitar 4 jam buat mencapai puncaknya. Di shelter 1 dan 2 jalan masih normal dengan sesekali menanjak. Setelah itu baru lah kita menemukan jalan dengan kemiringan 80 sampai 90 derajat, dan terkadang di butuhkan keahlian untuk  memanjat. Isi semua tempat botol-botol minum, ungkapku setelah sampai didaerah pohon pandan raksasa (sekitar 15 menit dari shelter 3). Karena disinilah sumber mata air terakhir yang dapat di jumpai sebelum tiba di puncak. Tiga jam mendaki sampailah kami di jalur batu cadas dengan berbagai pohonan perdu di sekelilingnya, berarti sudah semakin dekat kami dari puncak.

Memang sebuah anugerah dan keberuntungan kami  karena cuaca yang cerah, danau lau kawar terlihat dari sini. Tanpa berlama-lama aku pun langsung mengambil kamera dari tas dan mengabadikannya di kamera. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 17.34 wib,

Kami pun melanjutkan perjalanan kami karena hari sudah mulai gelap. Jam 18.06 sampailah kami di puncak, ku lihat temanku si susi langsung bersujud dan mencium tanah, karena selama ini puncak sinabung adalah salah satu yang di impikan nya. Hari semakin larut dan udara menjadi semakin dingin. Tanpa berlama-lama heri pun mengeluarkan tenda dari dalam tasnya. Tali plastiknya mana ungkap radit, Ternyata tali plastik kami tertinggal di bawah. Abay dan andika segera mendatangi  tenda tetangga kami yang dekat pintu puncak untuk meminjam tali. Barulah kami dirikan tenda, karena tenda yang satu lagi kami tinggal di bawah kami pun menggabungkan semua ponco/mantel kami untuk memperbesar ukuran tenda.

Hanya satu malam ini saja kami menghabiskan waktu di puncak sinabung. sangat di sayangkan, kali ini kami kurang beruntung karena sunrise yang kami nanti-nantikan tidak muncul akibat tebalnya kabut yang menyelimuti puncak gunung sinabung.

Hanya tinggal satu liter air yang yang tersisa, kami gunakan untuk membuat teh di pagi ini. Setelah selesai mengambil beberapa photo, tepat jam 10.15 wib kami pun turun dari puncak. Hanya butuh sekitar 2 jam untuk sampai ke bawah,tapi kali ini kami turun sekitar 3,5 jam. itu pun karena menunggu teman kami vivi yang terlalu lama berjalan, maklum lah ini adalah perdana buatnya mendaki gunung.
Setelah sampai dibawah, kami pun bergantian mandi di sebuah toilet umum. Heri dan susi kali ini bertugas memasak di rumah seorang warga tempat kami menitipkan kendaraan semalam. memang beda dengan warga yang hidup di kota, kami di terima dengan ramah oleh keluarga ibu ini yang suku karo. Pakai saja kompor ibu supaya cepat masaknya, ungkap ibu itulah. setelah semuanya masak, kami hidangkan masakan di sebuah cakruk tepat di depan rumahnya yang menghadap dengan Danau Lau Kawar.

Tujuan kami bukan hanya sampai disini saja, setelah siap makan kami pun kembali membahas kemana tujuan kami selanjutnya. Akhirnya kami pun memutuskan buat mendaki Gunung Sipiso-Piso. Kami pun permisi pamitan kepada ibu itu, suaminya terlihat dari kejauhan dengan membawa sekantong plastik yang berisi jeruk sunkist sipiso-piso dan 2 buah labu. Ini oleh-olehnya nak dengan memberikan kantongan plastik tadi kepada kami. Tepat jam 15.00 wib kami pun pergi meninggalkan desa itu menuju Kecamatan Merek dimana Gunung Sipiso-Piso terletak.


Pingin Tahu Perjalanan Telapak Sumut Selanjutnya di Gunung Sipiso-Piso, Silahkan Baca Selengkapnya DISINI

Ingin Lihat Foto lainnya Klik DISINI

Lestari.....!!!!!

By : Pay

Hargo Dumilah - Perjalanan Menuju 3265 MDPL yang Penuh Hikmah (Part I)

Tak ada bayangan di benak sebelumnya jika pada akhirnya kaki ini pernah menyusuri jalan-jalan setapak yang terkadang datar, namun tak jarang pula memiliki kontur yang terjal. Berjalan kaki dengan beban yang dipanggul di pundak, melawan tipisnya udara yang ada, namun setiap perjalanan selalu memiliki beragam makna.

Entah ada angin apa tiba-tiba saja saya meng-iya-kan ajakan teman saya untuk melakukan ekspedisi pendakian ke Gunung Lawu. Jujur saya tidak punya pegalaman sebelumnya untuk melakukan sebuah pendakian. Mungkin hanya sedikit pengalaman mendaki Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Bromo, dan terakhir adalah Bukit Sikunir ketika saya sedang melakukan KKN di kawasan Dieng. Lokasi-lokasi tersebut boleh dikatakan trek pendakian gunung "bukan sebenarnya", karena medan yang ditempuh masih tergolong mudah. Perburuan sunrise di Bukit Sikunir inilah yang seolah menimbulkan rasa "ketagihan" untuk kembali menikmati suasana pagi dari atas pegunungan. Tanpa ada sebuah persiapan fisik sebelumnya, hanya membawa bekal seadanya, mengandalkan pengalaman dari dua orang yang pernah melakukan pendakian sebelumnya, dengan bermodalkan nekat dan tekat, akhirnya enam anak manusia berkelana memulai perjalanan untuk melakukan pendakian menuju puncak Gunung Lawu.

Apa saja yang saya bawa? Saya tak punya tas carrier, cari pinjaman pun tak sempat, akhirnya saya "hanya" membawa daypack berukuran 20 liter yang setia menemani saya ketika sedang berkelana. Hanya membawa sleeping bag, mie instan 2 bungkus, air minum 2 botol besar, beberapa bungkus cemilan, pakaian 3 potong, satu buah celana pendek, rain cover, jas hujan, uang seperlunya dan juga kamera. Sial, sleeping bag yang saya punya ternyata terlalu memakan tempat dan memiliki bobot yang lumayan berat, ditambah bantalan pada pundak tas daypack yang cukup tipis sehingga cukup membuat pundak terasa sakit jika mengangkat beban yang cukup berat di dalam tas. Untung saja rasa sakit ini bisa diakali dengan menggunakan jaket, sehingga bagian pundak tidak terlalu terasa sakit.


Rabu, 30 Januari 2013
Sesuai kesepakatan dua hari sebelumnya, kami memutuskan Stasiun Lempuyangan sebagai meeting point pemberangkatan. Kami sepakat pukul 9 pagi seluruh anggota berkumpul untuk melanjutkan perjalanan menuju Kota Solo menggunakan jasa kereta Prameks, kereta komuter kebanggaan warga Jogja maupun Solo untuk melakukan mobilitas dari dan menuju kedua kota tersebut. Sekitar pukul 09.10 terlihat beberapa orang menggendong tas carrier dengan ukuran hampir setinggi anak usia balita. "Ah, akhirnya mereka datang juga !", tapi entah apa yang mereka bawa, sepertinya barang bawaan saja terlalu simpel jika dibandingkan mereka. Pukul 09.36 pun kereta datang. Sial, pagi itu si kuning sudah cukup sesak dengan penumpang, namun saya beruntung masih mendapatkan tempat duduk di antara deretan panjang kursi yang terpasang. Estimasi waktu keberangkatan satu jam seperti jadwal yang terpajang pada tiket harus molor gara-gara si Prameks "ngambek", berhenti di tengah-tengah perjalanan beberapa kali. Ah, mungkin saja rangkaian besi bermesin ini seharusnya sudah memasuki masa perawatan barangkali.

Hampir pukul 11 siang akhirnya kami tiba di Stasiun Balapan, stasiun terbesar di Kota Solo yang melegenda karena pernah dijadikan sebagai judul sebuah tembang. Tujuan berikutnya adalah Terminal Tirtonadi, untuk mencari bus dengan tujuan daerah Tawangmangu. Kami berenam berjalan kaki menyusuri perkampungan yang terletak di antara stasiun dan terminal. Terik matahari yang menyengat seolah tak kami hiraukan, hanya candaan di sepanjang perjalanan seolah melupakan beban yang kami bawa. Tak selang berapa lama kami berjalan akhirnya masuk juga di area terminal. Tanpa ragu sang petugas pun memberitahukan letak bus yang kami tuju. Sebuah bus ekonomi pun siap membawa kami menuju daerah Tawangmangu, sebuah sudut di lereng Gunung Lawu. Sang kernet cukup cekatan menata barang-barang yang kami bawa, sepertinya dia sudah terbiasa menata barang-barang bawaan miliki pendaki yang menumpang bus mereka. Perjalanan Solo-Tawangmangu pun terasa cukup menyengat. Bus ekonomi ini harus beberapa kali "nge-time" berhenti untuk mencari penumpang. 

Solo-Tawangmangu sepuluh ribu, satu jam perjalanan memakan waktu. Seolah saya berada di dalam sebuah mesin waktu, melihat anak-anak sekolah berseragam pulang bersama dalam satu bus yang saya tumpangi. Sepertinya baru saja kemarin saya memakai seragam seperti yang mereka kenakan, namun sekarang tak terasa saya sudah memasuki angkatan tua pada jurusan saya. Dalam sebuah pemberhentian nampak seorang bapak tua yang berjuang menjajakan buku-buku "usangnya". Usang dalam artian entah tahun kapan buku-buku tersebut sudah diterbitkan. Para penjaja asongan beserta musisi jalanan datang silih berganti dan kadang tak saya hiraukan. Ah sepertinya lebih nyaman jika memejamkan mata sejenak sekedar untuk menghemat tenaga.

Trip to Tarunggang Waterfall

Trip to Tarunggang WaterfallAir Terjun Tarunggang berada di Desa Rumah Lengo, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hulu (STM Hulu), Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Dengan ketinggian air terjun sekitar 15 m. Tepat di balik jatuhnya air terjun terdapat sebuah goa kecil. Dan sekitar 20 m di samping kanan air terjun terdapat air terjun kecil serta sebuah jalan dengan memanjat tebing yang dapat mengantarkan kita di atas aliran air terjun.
Tepat di bawah jatuhnya air terjun terbentuk semacam kolam yang lebar dengan bebatuan dan pasir putih di bibir airnya. Tempat ini juga sering digunakan para warga sekitar sebagai tempat memancing. Tidak ada rencana sebelumnya, setelah mengabari teman-teman yang lain akhirnya ada 10 orang yang tertarik ikut pergi. Ini untuk ke 4 kalinya kami mengunjungi air terjun tarunggang.

Perjalanan kami mulai jam 13.30 wib. Karena semuanya pria, laju kendaraan pun sudah seperti di kejar setan. Memasuki daerah Talun Kenas mata kami seakan-akan dimanjakan dengan panorama alam yang mulai berbukit-bukit dan pepohonan rimbun dikiri kanan jalan, yang sudah sangat langka di jumpai di kota-kota.

RUTE : DELI TUA - PATUMBAK - TALUN KENAS – SIGUCI – KUTA JURUNG – RUMAH LENGO (STM HULU)
Dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam.
Di lanjutkan dengan jalan setapak sekitar 20 menit.

Sampai di Desa Rumah Lengo, ada sebuah SMP NEGERI – 1 STM HULU tepat di sebelah kiri jalan. Dari sini sekitar 100 m kedepan sebelum tikungan jalan aspal, disini lah kami berhenti. Tepat di samping kanan jalan ada jalan setapak yang di tanami pohon sawit dan pohon karet. Tiba-tiba hujan pun turun dari langit dan mambasahi kami semua, Dari sini lah kami berkendara menggunakan sepeda motor dengan jalur tanah yang licin serta berlumpur dan sesekali  kendaraan kami pun terjatuh.
SMP NEGERI 1 STM HULU
Setelah 10 menit menelusuri ladang warga sampailah kami di sebuah titik di mana yang mengharuskan kami untuk berjalan. Setelah menuruni akar-akar pohon dan jalan menurun ke bawah, sampailah kami tepat di depan air terjun. Yang lain hanya terdiam karena air terjun tidak seperti biasanya. Karena hujan aliran air terjun menjadi besar dan berwarna coklat.

Tanpa berpikir panjang, Aku langsung menyusuri bebatuan di samping-samping jatuhan air terjun dan sampai ke goa kecil di balik jatuhnya air terjun. Sungguh menguji adrenaline ku, percikan dari jatuhan air terjun membasahi semua badanku. Hanya 4 orang dari kami yang sampai ke goa kecil tersebut. Langsung saja ku ambil kamera dan mengabadikan moment tersebut. Tidak lama kemudian, terdengar jeritan teman-temanku dari sudut sana yang memanggil kami supaya keluar dari goa tersebut. Karena jatuhan air yang semakin lama semakin melebar, dan ranting-ranting pun mulai terbawa air.

Akhirnya kami pun memutuskan untuk keluar dari dalam goa tersebut dan mendatangi mereka. Sambil memandang air terjun yang semakin mengerikan, jalan ke goa pun tertutup dengan jatuhan air. Untung saja kalian sudah keluar, ungkap temanku yang memanggil kami waktu kami berada di dalam goa.

Karena masih penasaran, akhirnya kami pun berjalan dari tempat dimana kami memarkirkan kendaraan kami menuju ke atas air terjun. Hentakan air sangat kuat disini, karena lebar jalan air hanya sekitar 2 meteran saja yang di kiri kanannya adalah bebatuan. Setelah itu kami putuskan untuk kembali pulang, mengingat faktor cuaca yang kurang mendukung. Tepat jam 16.09 wib, kami pun meninggalkan lokasi tersebut. Sungguh Perjalanan dan Pengalaman yang takkan Terlupakan..
By : Pay

Selasa, 12 Maret 2013

Nge-camp Dalam Birthday Tim Telapak Sumut Hery n Khairul


Nge-camp Dalam Birthday Tim Telapak Sumut Hery n Khairul


Salam Petualang...


Dalam menyambut acara ultah rekan kita Heri & Khairul yang kebetulan pada tanggal yg bersamaan, untuk itu akan kita adakan acara nge-camp cantik...
Untuk Susunan acara mungkin nanti kita akan duduk manis aja di lokasi yg udah di tentukan, dari perolehan suara terbanyak untuk pilihan lokasi yaitu di "Bumi Perkemahan Sibolangit"
gak ada acara jelajah atau berpetualang capek2... :) yang penting kebersamaan dugem (duduk gembira)

di harapkan bagi rekan2 berkenan turut serta meramaikan camp cantik untuk perayaan ultah rekan kita tersebut... :D

Tanggal Acara : 16 Maret Pukul 17.00 sampai 17 Maret pukul 15.00
Lokasi             : Bumi Perkemahan Sibolangit

Peace Love Unity and Respect...!!!

Info lebih lanjut lihat DISINI
atau Hubungi : Abay Slenge'an dan Jamel 

Jumat, 08 Maret 2013

Pantai-pantai unik yang dimiliki Indonesia

Pantai adalah sebuah wilayah yang menjadi batas antara lautan dan daratan. Banyak sekali pantai yang bisa ditemukan di muka bumi ini. Indonesia sendiri memiliki garis pantai terpanjang di dunia dengan panjang 81.000 kilometer atau sekitar 25% dari garis pantai di seluruh dunia. Pantai-pantai di Indonesia sangat indah bahkan beberapa diantaranya merupakan pantai yang unik.

Berikut beberapa pantai-pantai terunik di Indonesia

Pantai Sulamadaha



Pantai Sulamadaha terletak di Ternate Propinsi Maluku Utara. Keunikan Pantai Sulamadaha ini ada pada air lautnya yang jernih bagaikan kaca. Pantai ini memang tidak berpasir putih seperti pantai-pantai di tempat lain, namun kawasan ini memiliki pemandangan yang sangat indah baik di permukaan maupun di bawah air nya.

Pantai Pink



Pantai Pink terletak di Pulau Komodo, provinsi Nusa Tenggara Timur. Keunikan pantai ini bisa dilihat dari warna pasirnya yang berwarna pink. Pasir berwarna pink di pantai ini terbentuk dari pecahan karang berwarna merah. Penduduk setempat menamakannya Pantai Merah, namun pantai ini lebih dikenal wisatawan sebagai Pink Beach.

Pantai Ngurbloat



Pantai Ngurbloat terletak di Desa Ngilngof di bagian barat Pulau Kei Kecil dan berjarak sekitar 20 kilometer dari Tual, ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Keunikan Pantai Ngurbloat adalah pasir pantainya. Selain bentangan pasir pantai yang sangat luas, warna pasir pantai Ngurbloat putih cerah dan memiliki tekstur yang sangat lembut dan halus. Kelembutan pasir yang ada di Pantai Ngurbloat ini hanya dapat ditandingi oleh kelembutan tepung.

Pantai Lehi



Pantai Lehi terletak di Kecamatan Siau Barat, Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara. Pantai ini memang unik, karena di sepanjang garis pantainya, airnya terasa panas. Uap air laut yang panas menyembul ke udara menandakan derajat panasnya air tersebut. Air laut yang panas di pantai ini disebabkan karena Pantai Lehi tepat berada di kaki Gunung Api Karengetang yang super aktif.

Pantai Moli Sahatu



Pantai Moli Sahatu terletak di Desa Patuno, Kecamatan Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Pantai ini punya keunikan berupa mata air tawar, padahal ada di pinggir laut yang asin. Uniknya mata airnya tidak hanya satu, tapi ada ratusan mata air. Pantai Mata Air Seratus itulah nama lain dari Pantai Moli Sahatu ini.

Pantai Tanjung Tinggi 



Pantai Tanjung Tinggi terletak di Kecamatan Sijuk,Belitung. Pantai Tanjung Tinggi merupakan pantai yang berada di sebuah teluk kecil nan cantik sepanjang 100 m.  Keunikan pantai ini yaitu adanya banyak batu-batu granit raksasa. Pantai Tanjung Tinggi memiliki batu-batu raksasa di sepanjang garis pantainya. Ukuran batu-batunya pun beragam dan berkali-kali lipat besarnya dari ukuran tubuh manusia. Pantai ini makin terkenal karena film Laskar Pelangi karena itu kadang disebut sebagai pantai Laskar Pelangi.

Pantai Raja Ampat



Pantai yang terletak di kepulauan Raja Ampat papua barat memiliki pantai-pantai pasir putih yang indah dan panorama gugusan pulau-pulau karang yang mempesona. Keunikan pantai raja Ampat karena di samping pantai yang indah juga dari pantai bisa dilihat pulau-pulau karst yang unik yang terlihat seperti jamur tumbuh keluar dari laut.

Pantai Parangtritis



Pantai Parangtritis terletak di sisi selatan Jogja. Keunikan pantai ini selain memiliki garis pantai yang panjang, pantai ini juga terkenal dengan gunung pasirnya. Pantai ini terdapat deretan gurun pasir yang menjulang tinggi dan luas menyerupai gurun pasir.

Pantai tanjung Api



Pada pantai yang terletak di Tanjung Api, Ampana, Sulawesi Tengah memiliki keunikan karena pasir pantainya bila dikorek akan mengeluarkan api. Cukup dengan menggali pasir, maka api akan menyembur seketika dari bawah pasir. Api ini akan menyala terus sampai kita menutupnya kembali dengan tanah.

Pantai Bayah



Pantai Bayah berada di Kabupaten Lebak - Banten. Pantai Bayah mengandung banyak emas dan kita bisa menemukan pendulang emas liar yang bekerja di bibir pantai.

Kamis, 07 Maret 2013

Soto Djiancuk - Kenikmatan di Balik Kata Umpatan

Mendengar kata "djiancuk" atau biasa diucapkan dengan sebutan "jancuk" mengingatkan kita pada sebuah kata umpatan khas daerah Jawa Timuran yang memiliki makna yang kasar. Namun apa jadinya jika kata "djiancuk" dijadikan sebagai salah satu branding tempat makan? Tentu saja pemberian embel-embel "djiancuk" ini akan menciptakan rasa penasaran bagi siapa saja yang mendengarnya. Ya, di salah satu sudut Kota Yogyakarta terdapat sebuah warung soto yang bernamakan "Soto Djiancuk". 



Warung Soto Djiancuk ini terletak di daerah Sonopakis, sebelah barat Universitas PGRI Yogyakarta.
Terletak di samping Kali Bayem serta berdampingan dengan deretan persawahan, menjadikan warung soto Djiancuk ini memiliki suasana khas pedesaan di daerah pinggiran perkotaan yang cukup kental. Selain memiliki branding yang unik, bangunan serta interior warung soto ini tergolong cukup menarik. Terlihat dari bagian luar, bangunan warung soto ini memiliki kesan asimetris dengan dinding yang sengaja dibiarkan tidak disemen halus sehingga terlihat tekstur tatanan batu batanya. Memasuki ruang utama, kita harus menuruni beberapa anak tangga karena kontur tanah di bagian dalam bangunan lebih rendah daripada bagian depan. Di ruang yang tak seberapa luas ini terlihat sebuah meja bundar yang cukup besar dengan aksesoris gantungan lampu hias sederhana di bagian tengahnya. Sama seperti bagian dinding di luar bangunan, bagian dinding di dalam bangunan pun sengaja tidak diberi semen halus. Bagian dinding-dinding ini diberi hiasan dengan beberapa poster dan juga foto Bung Karno dengan ukuran yang cukup besar. Dilihat dari desain interiornya, saya mengira pemilik warung ini adalah seorang seniman. Beliau dengan lihai memadu-padankan beberapa barang bekas dari mobil yang ditata sedemikian rupa sebagai penghias bangunan. Saya pun memilih tempat duduk di dekat meja bulat sembari mengamati keindahan interior bangunan warung soto ini yang terkesan "berantakan" namun memiliki unsur seni yang dominan.




Tak berapa lama seorang ibu-ibu datang menghampiri saya untuk menanyakan pesanan. Tanpa pikir panjang saya pun memesan satu porsi soto dan satu gelas es teh manis sebagai pelepas dahaga di tengah teriknya sinar matahari yang cukup menyengat. Tak lama kemudian pesanan saya datang, semangkok kecil soto dengan kuah kecokelatan dicampur dengan irisan telur rebus di atasnya siap tersaji di atas meja. Dari aromanya saja soto Djiancuk ini sangat mengundang selera. Aroma rempah sangat terasa dari sajian soto dengan gaya Jawa Timuran ini. Soto Djiancuk ini berasal dari Kota Blitar, seperti asal-muasal dari pemilik warung yang memang asli orang sana. Mencicipi soto memang tak lengkap jika tidak diberi perasan jeruk nipis untuk menambah aroma dan cita rasa. "Wah, djiancuk, jan enak tenan soto iki rek  !" mungkin seperti itulah ungkapan orang-orang yang mencicipi cita rasa dari soto ini. Soto Djiancuk memiliki cita rasa yang gurih dengan balutan bumbu rempah yang cukup kuat. Irisan dagingnya pun cukup lembut, tidak alot, namun tekstur dari daging masih terasa di mulut. Campuran tauge segar serta irisan tomat segar semakin menambah kesegaran dari sajian soto Djiancuk ini. Campuran kentang goreng juga menambah tekstur kriuk pada hidangan soto. 


Satu porsi soto Djiancuk dibandrol dengan harga Rp 9.000,00 saja. Selain menikmati hidangan soto yang memang "djiancuk" cita rasanya, kita pun juga dimanjakan dengan semilir angin dari hamparan sawah serta gemericik air dari aliran Kali Bayem yang berada persis di samping bangunan warung.

Senin, 04 Maret 2013

Parangtritis dalam Balutan Lembayung Senja

Banyak rasa yang terpendam dan tak dapat terungkap dalam rangkaian kata. Dia mencoba berlari mengejar senja hingga ujung samudera. Mungkin hanya dengan senja beradu dengan ganasnya ombak samudera bisa sejenak melupakan segala beban pikiran yang sedang dirasa. Parangtritis, menjadi tempat pelarian untuk kesekian kalinya dengan pemandangan senja menjadi incarannya.


Tak perduli berapa banyak orang yang lalu lalang di sekelilingnya, toh tak seorang pun yang dikenalnya. Hanya sebuah kamera yang ada pada genggaman dan tak perduli bagaimana ia memainkan. Kesendirian membawanya hanyut dalam suasana pesisir pantai yang dia damba. Samar-samar dari kejauhan terlihat sosok nelayan berjalan menyusuri tepian pantai dengan jaring kecil di kedua tangannya. Sesekali gelombang besar menghantam dan seolah tak ada rasa ketakutan terpancar di antara raut wajah mereka. Apa yang mereka cari? Entahlah, mungkin saja undur-undur laut yang akan mereka jadikan keripik renyah kemudian mereka jajakan guna menyambung kehidupan.


Pandangannya pun kini beralih pada hamparan pasir kering yang tak tersentuh oleh ombak. Dia duduk termangu melihat luasnya hamparan laut berpadu dengan semilir angin angin laut yang membuat suasana makin syahdu. Matahari perlahan berjalan menuju peraduan. Namun sayang, apa yang dia nantikan tak kunjung datang. Sang mentari pergi meninggalkan bumi diiringi sekumpulan awan mendung yang berjalan perlahan. "Ah, sepertinya moment golden sunset tidak akan datang", gumamnya dengan sedikit menyiratkan raut muka kecewa. 



Perempuan dalam temaram senja,
Yogyakarta, Februari 2013